Posts Tagged ‘rivalitas sepakbola’

Battle of Old Trafford : Lunturnya Sebuah Rivalitas

November 3rd, 2012

Arsenal dan Manchester United adalah dua klub besar Inggris, yang bersama Liverpool dan Chelsea membentuk kekuatan yang bernama The Big Four. Terbentuknya pola kekuatan empat tim tersebut dikarenakan pola distribusi gelar juara Liga Inggris yang bergilir antara keempat tim tersebut.

Liverpool mendominasi di era 1980 hingga 1990 awal, Manchester United bersama Arsenal mendominasi dari era 1990 akhir hingga 2000 awal  hingga terakhir Chelsea yang mendominasi dari pertengahah 2000 hingga awal 2010.

Menarik untuk disimak adalah Arsenal vs Manchester United (MU). Rivalitas yang terbentuk dari gesekan kedua klub murni urusan lapangan hijau – tidak seperti MU vs Liverpool yang mengedepankan ego kedaerahan – terlebih lagi ketika Arsene Wenger masuk ke Arsenal tahun 1997.

Arsenal menjadi satu-satunya pengganggu MU di Liga Inggris dari 1997-2005 dengan merebut liga Inggris 1998,2002,dan 2004. Dan dikala MU mendominasi Liga Inggris pun Arsenal masih bisa konsisten di posisi kedua.

Titik persaingan memuncak kala Arsenal menjuarai Liga Inggris 2002 dan 2004. Di tahun 2002, Arsenal yang tinggal menuai 1 poin saja untuk merebut juara Liga Inggris harus berkunjung ke Manchester United. Laga sulit, namun mereka berhasil membawa 3 poin slewat gol semata wayang Sylvain Wiltord. Hasil tersebut memastikan mereka menjuarai Liga Inggris 2002.

Di musim 2003-2004 adalah era tak terkalahkan Arsenal selama satu musim penuh sekaligus menjadi juara Inggris sehingga mereka dijuluki The Invicibles alias tak terkalahkan. Julukan tersebut diberi ketika mereka berhasil menahan MU di Old Trafford dengan skor 0-0 pada pekan keempat.

Laga yang dilangsungkan di Old Trafford tersebut diwarnai dengan beberapa insiden sehingga dijuluki The Battle of Old Trafford. Insiden dimulai dengan kartu merah kapten Arsenal Patrick Vieira di menit 80, lalu diikuti dengan dihadiahkannya penalti untuk MU setelah Martin Keown menjatuhkan Diego Forlan di menit-menit akhir laga.

Kemudian Ruud Van Nistelrooy gagal mengeksekusi penalti dipanas-panasi oleh Martin Keown. Lalu pemain-pemain lain yang ikut panas mulai terlibat baku hantam. Diantara mereka yang baku hantam terdapat nama-nama seperti Cristiano Ronaldo, Kolo Toure, dan Roy Keane. Hasil laga, 4 pemain MU mendapat kartu kuning dan dua kenai denda oleh FA. Satu pemain Arsenal mendapat kartu merah, 1 kartu kuning dan lima lainnya mendapat denda dari FA.

Final Piala FA 2004-2005 kembali mempertemukan Arsenal – MU di Cardiff. Bermain di tempat netral ternyata membuat MU kesetanan, selama 120 menit Arsenal digempur habis-habisan namun tak berhasil menjebol gawang Jens Lehmann.

Adu penalti memutuskan Arsenal berhak menjuarai Piala FA setelah penendang keempat MU, Paul Scholes gagal menaklukkan Lehmann. Sementara penendang terakhir Arsenal Patrick Vieira berhasil menjebol gawang Roy Carroll.

Mirisnya, Piala FA 2005 adalah gelar terakhir Arsenal hingga kini. Banyak juga yang beranggapan inilah rivalitas kompetitif Arsenal – MU terakhir. Kini Arsenal telah dianggap sebagai klub besar dengan ambisi juara seadanya semenjak mereka pindah dari stadion lama Higbury ke stadion baru Emirates.

Melemahnya rivalitas kedua kubu diperkuat dengan pernyataan Alex Ferguson pada tahun 2010 yang meminta pendukung MU berhenti mengejek Arsenal sebagai tim yang sakit.

Logikanya, pelatih yang dulu tak berhenti memainkan perang urat syaraf dengan Arsene Wenger kenapa tiba-tiba mengasihani Arsenal?? Atau Ferguson melakukan itu karena tidak menganggap Arsenal sebagai rival lagi??. Benar saja, Arsenal memang tidak lagi menjadi rival utama MU dengan penegasan kekelahan terbesar Arsenal atas MU 8-2 di Old Trafford pada Agustus 2011.

Menatap Battle of Old Trafford jilid 21 sejak era Premier League, Arsenal masih dalam performa tidak meyakinkan. Lini belakang masih saja keropos, lini depan tumpul,dan  tidak ada lagi kapten inspirator seperti Vieira dan Parlour yang mau bertarung. Arsenal cenderung menjadi tim lamban dengan hanya mengandalkan permainan bola-bola pendek.

Sementara MU masih saja berbahaya, cepat, dan memiliki variasi permainan yang baik. Masih MU dan  Alex Ferguson seperti yang era mereka medominasi Liga Inggris dulu.

Jika sudah begini, akankan rivalitas MU-Arsenal semakin luntur?? Akankan MU kembali menang mudah atas Arsenal??. Mari kita lihat nanti malam.

Tentang Supercoppa Espana musim ini

August 25th, 2012

cristiano-ronaldo-544-and-lionel-messi-greeting-each-other-before-a-real-madrid-vs-barcelona-kickoff-in-2012

Setelah kemarin ada Community Shield Inggris, kini ada lagi hajatan Piala Super Spanyol.  Yeah, it’s Supercopa Espana!!. Sebenarnya tajuk turnamen home-away ini hanya sebagai tirai pembuka musim liga Spanyol, namun karena yang bertarung adalah Real Madrid vs Barcelona maka tajuk partai berubah menjadi Supercopa Espana El Clasico.

Sejatinya memang Piala Super Spanyol memang ditujukan untuk menandai pembuka musim liga Spanyol, namun kali ini Liga Spanyol telah bergulir. Jadilah ajang ini sebagai trofi pembuka musim 2012-2013 bagi Real Madrid atau Barcelona. Bagi pecinta sepakbola ini adalah dua kali kesempatan menyaksikan pertarungan fisik, skill, dan mental rivalitas abadi Spanyol.

Tidak seperti di Italia atau Inggris yang melangsungkan satu partai Piala Super, Spanyol menggelar dua partai memberlakukan sistem home-away. Dari situlah pecinta sepakbola dapat menyaksikan dua pertandingan El Classico di awal musim, masing-masing bertempat di Nou Camp dan Santiago Bernabeu.

Lalu kenapa biasanya dilakukan sebelum musim dimulai, sekarang dilangsungkan ketika musim telah berjalan?? simpel karena federasi sepakbola Spanyol memundurkan jadwal terkait hajatan nominasi pemain terbaik Eropa dimana pemain-pemain Real Madrid dan Barcelona mendominasi nomine penghargaan.

Lucunya, UEFA melalui presiden Michel Platini mengamuk karena partai ini diselenggarakan beberapa jam setelah partai Liga Eropa antara Luzern vs Genk. Siapa juga yang mau menyaksikan partai gurem Eropa daripada melewatkan duel seru El Classico Madrid-Barca?? begitu mungkin yang ada di benak Platini.

Dan seperti El Classico-El Classico sebelumnya yang patut ditunggu adalah reaksi Mourinho The Only One versus Tito Villanova sebagaimana mereka beradu di pinggir lapangan Nou Camp musim lalu.

Kala itu Mourinho yang menang karena berhasil “moncolok” mata pelatih Barcelona sekarang, walau Real Madrid kalah agregat 4-5 dari Barcelona.

Nah kali ini di leg 1 Piala Super Spanyol, Villanova yang menang 3-2 atas Mourinho. Alhasil Mou – julukan Mourinho – cuma bisa mengeluh ke media atas kontroversi offside Pedro dan diving Iniesta. Semacam pembalasan pahit dari Villanova??

Belum bisa dipastikan, karena leg 2 masih berlangsung di Santiago Bernabeu, markas Madrid. Menang 1-0 saja pasukan putih-putih telah bisa membawa pulang Piala Super Spanyol, yang artinya dendam Villanova masih terus kesumat.

Kalau Barcelona bisa seri atau menang di leg 2,  dominasi Barcelona dipastikan terus berlanjut di era tiki-taka mereka sejak 2008. Kita nantikan tanggal 30 Agustus nanti.

Carut marut dan kematian di sepakbola

August 24th, 2012

Bagi para pecinta sepakbola, menonton sepakbola bukan sekedar menyaksikan 22 pemain berebut bola, lebih dari menonton sepakbola memberikan kesenangan tersendiri.

Ada sesuatu yang beda ketika mendukung suatu tim yang bertanding seakan terikat dalam satu emosi yang dalam, bahkan kadang-kadang emosi yang terlibat melebihi dari apa yang pernah diperkirakan orang-orang terdekat.

Seringkali menonton sepakbola menjadi obat mujarab keluar dari tekanan hidup. Seakan sepakbola menjadi sebuah penisilin dan rekan-rekan se-penonton (kadang rekan-rekan nobar satu komunitas) menjadi dokter-dokter dadakan.

Tidak masuk akal jika tiba-tiba ketika menonton sepakbola berbuah kematian – terlepas bahwa kematian bisa terjadi dimana saja.  Belgia menjadi saksi perihnya tragedi Heysel Belgia kala mempertemukan Juventus – Liverpool. Inggris menjadi tuan rumah tragedi suporter Hillsborough.

Russia Terkena dengan tragedi Luzhniki. Sedangkan di Mesir baru-baru ini kerusuhan sepakbola terjadi di dalam stadion ketika pertandingan Liga Mesir dilangsungkan.

Tragedi-tragedi diatas terjadi didalam lapangan, lebih tepatnya terjadi tanpa sengaja, secara tiba-tiba dan sangat populer di kalangan pecinta sepakbola. Namun disini akan diceritakan sebuah kisah pahit sepakbola yang menjadi sebuah hukuman mati yang disengaja dan jarang terdengar khalayak ramai.

——————————

gp_mog-slideshow16

Di Somalia, segala aspek sepakbola telah tereksekusi kekejaman para dewa perang. Selama bertahun-tahun, negeri yang telah mengalami krisis kelaparan,perpecahan,dan kemiskinan ini mencoba bangkit bersatu kembali  melalui sepakbola. Sepakbola seakan membantu melupakan sejenak penderitaan mereka.

Somalia telah terpengaruh oleh klan fundamentalis yang menggulingkan berbagai rezim pemerintahan sejak 1980. Semua aspek termasuk sepakbola tidak luput dari pengaruh para dewa-dewa perang fundamentalis ini. Salah satu klan kejahatan Somalia adalah Al Shabab.

Al Shabab melarang para pemuda menonton dan memainkan sepakbola. Bagi yang melanggar terancam akan dibunuh, dan itu bukan sekadar ancaman. Selama Piala Dunia 2010, dua pemuda Somalia terbunuh karena kedapatan menonton sepakbola di televisi. Lain itu, klan tersebut terlibat dalam bom mobil yang menewaskan Abdi Salaan (seorang pemain bola muda berbakat) bersama 10 lainnya.

Pembina klub-klub bola lokal juga ditangkap dan dituduh merusak generasi muda dengan sepkabola. Jurnalis juga kena getahnya. Seorang jurnalis terbunuh Maret lalu setelah meliput pertandingan sepakbola. Sebuah situasi yang sangat-sangat tidak kondusif bagi talenta-talenta lokal untuk berkembang.

Tidak heran jika pemain-pemain muda lebih memilih hijrah ke luar negeri untuk menyelamatkan karir. Contohnya adalah Cisse Aadan Abshir. pemain ini adalah pencetak gol terbanyak sepanjangan sejarah timnas Somalia dengan 30 gol.

Kini ia bermain di klub Norwegia Eidsvold Turn. Pada 2011 kemarin ia dinobatkan sebagai pemain terbaik Somalia selama satu dekade.

Belum lagi kalau menyebut bakat-bakat muda lain yang memilih keluar negeri seperti :  Liba Habdi (Ferencvaros Hungaria), Ayub Daud (Juventus Italia), Abisalam Ibrahim (Manchester City Inggris). Abisalam konon menjadi pemain Somalia pertama yang bermain di Liga Inggris.

————————

Jauh dari Afrika, mari menengok Indonesia. Negeri kepulauan Hindia ini memiliki sisi pahit sepakbola berbeda dari Somalia. Di Indonesia lumrah terjadi yang namanya kekerasan antar suporter. Para basis suporter klub tertentu di Indoensia memang memiliki sensivitas tinggi terhadap basis suporter klub lain.

Kasus terkenal adalah ketika seorang suporter Persib Bandung tewas dikeroyok suporter Persija Jakarta kala Persib Bandung tandang ke stadion Gelora Bung Karno – yang diklaim sebagai kandang Persija. Persija-Persib dikenal memiliki rivalitas suporter yang panas.

Ditengarai perselisihan dikarenakan persaingan gengsi antar kota besar Indonesia. Bandung dengan kota mode, Jakarta dengan metropolitannya membuat kedua kubu enggan mengalah.

Situasi buruk sepakbola Indonesia tidak sekadar terjadi di level suporter, level atas turut terpengaruh – bahkan bisa dibilang bobrok level atas mempengaruhi bobrok keseluruhan sepakbola Indonesia. Jika di satu negara hanya memiliki satu federasi sepakbola, Indonesia punya dua : KPSI dan PSSI.  Namun yang diakui FIFA hanya PSSI.

Bagaimana bisa ada dua induk?? ceritanya kubu KPSI adalah pengurus PSSI era lama pimpinan Nurdin Halid yang terguling. Konon pihak yang menggulingkan adalah para pengurus PSSI sekarang sehingga pihak pengurus PSSI lama membentuk induk sepakbola tandingan, KPSI. Jelas rebutan kekuasaan terjadi karena ada banyak kepentingan.

Situasi sepakbola Indonesia tidak seperti Somalia. Penduduk Indonesia bebas menonton atau bermain sepakbola. Namun situasi sepakbola di Indonesia membunuh prestasi sepakbola Indonesia sendiri. Tidak ada bedanya dengan klan-klan kejahatan Somalia, namun objek terbunuhnya saja yang berbeda.

Nasib baik masih memayungi Indonesia karena biarpun sekarang seakan sepakbola terbunuh pelan-pelan, setidaknya negeri itu masih bisa merebut
medali-medali emas turnamen multicabang area regional atau ikut serta di kejuaraan level Piala Asia. Peringkat FIFA Indonesia masih di kisaran 150-an dunia.

Bandingkan dengan Somalia yang tidak pernah merebut prestasi apapun, bahkan ikut Piala Afrika saja tidak pernah. Peringkat FIFA SOmalia sendiri di kisaran 190-an kebawah.

—————————–

Tetapi segala sesuatunya diusahakan membaik di dua negara tersebut. Dengan kekuatan militer yang memaksa para fundamentalis keluar dari Mogadishu, sepakbola kembali memliki harapan.

Federasi Somalia meluncurkan slogan “letakkan senjata,mari main sepakbola” untuk menyemangati para pemuda untuk bermain sepakbola dan meninggalkan senjata serta kekerasan.Turnamen sepakbola untuk kedamaian pun digelar di Mogadishu.

Dari sisi teknis Federasi Somalia menunjuk wakil di Eropa dan Amerika untuk mempromosikan sepakbola Somalia dan mengusahakan bantuan keuangan untuk federasi sepakbola Somalia. Disamping itu federasi juga mengadakan kursus kepelatihan untuk mencetak pelatih-pelatih muda.

Somalia juga akan mengikuti kualifikasi Piala Dunia 2014 Brazil dan mengikuti kejuaraan-kejuaraan persahabatan antar negara-negara Afrika Tengah.

Sedangkan Indonesia tengah bersiap menapaki Piala AFF 2012 di Malaysia-Thailand. Kisruh suporter disiasati dengan nota kesepahaman antar suporter dan menciptakan komunitas satu suporter Indonesia.

Jadi jika suporter di Palembang kedatangan tamu suporter dari Jakarta, maka akan disiapkan segala keperluan akomodasinya, dan nampaknya akan menular ke kelompok-kelompok suporter lainnya.

Kisruh kepengurusan induk federasi diusahakan dengan membentuk sebuah rekonsiliasi. Sekarang progres masih berjalan lambat karena kedua kubu induk federasi yang bertikai masih setia pada ego masing-masing. Mudah-mudahan jika juara Piala AFF, makin memperbaiki situasi sepakbola
Indonesia.

10 besar rivalitas sepakbola dunia (II)

December 6th, 2011

Menyambung posting sebelumnya, kali ini akan ditampilkan 10 rivalitas tersisa di sepakbola internasional. Sama seperti sebelumnya, rivalitas antar negara biasa dibumbui perseteruan sosial dan budaya masyarakat negara-negara bersangkutan.

Insiden Beckham vs Simeone, rivalitas lain Argentina-Inggris setelah perang Malvinas

Insiden Beckham vs Simeone, rivalitas lain Argentina-Inggris setelah perang Malvinas

Inggris mendapat porsi besar dalam posting ini dengan beberapa rivalitas – seperti sengaja mencipatakan rivalitas – dengan beberapa negara. Seiring waktu, rivalitas antar negara ada yang mulai mereda atau bahkan masih seperti perang dingin, tidak merencanakan pertemuan sebelum ada perjanjian.

Dan inilah sisa 10 besar rivalitas sepakbola di dunia. » Read more: 10 besar rivalitas sepakbola dunia (II)

10 besar rivalitas sepakbola dunia (I)

December 5th, 2011

Tulisan kemarin yang membahas tentang bermacam-macam rivalitas antar negara Eropa yang tergabung dalam satu grup Euro 2012, memberi inspirasi untuk terus melanjutkan pada bahasan rivalitas yang membumbui pertandingan sepakbola.

Rivalitas bisa datang dari mana saja. Ada datang dari pertengkaran sosial antar negara, persaingan menjadi yang terhebat antar regional, konflik sosial-budaya, hingga ketegangan pasca pecahnya negara besar.

Rivalitas luar lapangan antar negara yang membumbui partai sepakbola membuat ketegangan meningkat, partai menjadi seru, dan enak meningkat. Sisi buruknya kadang seperti sepakbola Indonesia, penonton rusuh hingga masuk lapangan. Kalau sudah begitu, tuan rumah biasanya yang rugi.

rivalitas di luar dan dalam lapangan selalu menjadi bumbu partai Yunani - Turki

rivalitas di luar dan dalam lapangan selalu menjadi bumbu partai Yunani - Turki

Berikut ini adalah 10 besar rivalitas antar negara yang membumbui pertarungan sepakbola di dunia. Tulisan ini bagian pertamadan tentunya ada bagian kedua karena pecayalah, terlalu panjang membahasa semua rivalitas negara dalam satu postingan. » Read more: 10 besar rivalitas sepakbola dunia (I)