BUKAN BERKAT SUSU FORMULA


Setelah lulus menjadi beswan djarum, yaitu penerima beasiswa pendidikan dari PT. Djarum pada tahun 2010 lalu. Aku berangkat ke Semarang untuk mengikuti latihan sebagai pengisi panggung untuk acara puncak Silaturrahmi Nasional (SILATNAS) yang diadakan oleh panitia beswan, acara ini merupakan acara rutin bagi para penerima beasiswa djarum, semua beswan dari seluruh Indonesia akan bertemu di Semarang untuk mengikuti berbagai acara yang telah dijadwalkan.

Sebagai tim pengisi panggung, tentu aku dan teman-teman beswan dari seluruh Indonesia lainnya akan menjalani latihan intensif selama tiga hari oleh tim koreografer kenamaan, Ari Tulang.

Pagi itu kami berkumpul di gedung PRPP Semarang untuk dibagikan tugas masing-masing. Kami berkumpul di dalam salah satu gedung berbentuk rumah panggung, duduk lesehan di lantai, dan mendengarkan pengarahan dari tim koreografer.

“Hari ini kita akan menentukan tugas masing-masing, akan ada beberapa tarian, kelompok tarik suara, dan perkusi. Kalian akan berlatih keras selama 3 hari, jadi siapkan diri kalian, serius mengikuti latihan, dan jaga kondisi kesehatan” ucap salah satu instruktur cewek berwajah sadis itu. Aku mulai memaki dalam hati, aku tidak menyukai satu bagianpun, aku hanya penikmat seni yang bahkan tak punya selera musik tertentu. Dari mulai ijazah SD, SMP, SMA, berikut nilai rapot di jaman sekolahan dulu, nilai kesenianku tak pernah mendapat angka lebih dari 7, pernah mendapat 8 sekali waktu pas SMP, itupun karena aku rajin membantu guru kesenianku yang kebetulan ketua perpustakaan mengurusi buku-buku yang baru masuk perpustakaan, dengan kata lain nilai 8 itu hasil nepotisme, sisanya? Miris.

Aku tak menyukai menari, tak mengerti perkusi, apalagi menyanyi, aku trauma dengan yang satu ini. Terakhir kali aku ujian praktek kesenian di SMA, kami disuruh menyanyi lagu-lagu modern dihadapan teman-teman. Aku tak bisa tidur semalaman, jelas aku tak punya kaset lagu, tak hapal lirik lagu, dan tak berminat untuk mempermalukan diri sendiri di hadapan teman-teman yang lain. Lalu di hari sebelum ujian aku melakukan negosiasi panjang lebar dengan guruku, memohon agar ujianku diganti dengan yang lain, membuat naskah drama, paper, menggambar, atau memahat ruang multimedia tempat ujian nanti menjadi kura-kura sekalipun akan kulakukan. Namun nihil, aku harus tetap menyanyi.

Di hari ujian, aku maju ke depan ruangan, memegang mic dan diam “Nyanyi trus Yuni, kok kamu diam aja?” kata guruku, “Ibuk, saya gak kuat, saya nyanyi dari belakang gorden aja boleh buk?” setengah mati aku menahan air mataku, harga diriku sebagai seorang murid yang sering mengaku sebagai calon Miss Universe 2014 sedang dipertaruhkan. Khawatir aku akan menggali tanah dan mengubur diriku di dalamnya sambil nyanyi-nyanyi, beliau pun mengizinkanku. Dan menyanyilah aku dibelakang gorden, diluar gorden teman-teman menertwaiku, suaraku, dan aksi panggungku yang kurang normal, dan si ibuk meluluskan aku dengan nilai standar kelulusan 65. Thanks buk.

“Untuk yang pertama, ini membutuhkan skill khusus, karena rumit, banyak gerakan, dan harus latihan sangat keras, tarian saman, siapa yang bersedia? Aku butuh 20 orang cewek” instruktur berwajah sadis itu kembali angkat bicara.

Aku diam saja, berharap ada tarian lain dimana aku hanya cukup melambai-lambaikan tangan dan orang-orang akan bersorak kagum. Mustahil! aku tahu itu. Beberapa teman mulai angkat tangan, dan aku belakangan tahu bahwa mereka memang penari saman di kampus masing-masing, lalu tak ada lagi yang angkat tangan, instruktur mulai menunjuk-nunjuk, teman-temanku mulai gaduh, “Yuni cepat lah, kan orang Aceh”, “Yuni, angkat tangan, jangan bikin malu anak Aceh” ucap Reja yang juga dari Aceh tanpa memirkan jiwaku yang sudah dari tadi memanggil-manggil nama bapak ku di Aceh keras-keras. Aku bukan penari yang baik, aku terlalu sulit menghapal gerakan. Tapi mereka terus menekanku, “cepat yuni, cepat tunjuk tangan”. “Aku mau coba tarian daerah lain, bosan ma saman” ucapku ngeles tak sadar diri. “Eh, cepat Yun, angkat tangan” mereka benar-benar menekanku, bermain-main dengan gengsiku. Aku terpojok, dan reflek mengangkat tangan.

Akhirnya, aku dan teman-teman calon penari saman lainnya mulai berlatih dengan Bang Ayub, pelatih kami yang juga orang Aceh. Pada awal-awal latihan, aku tidak bisa berkonsentrasi, kepalaku pusing menghapal banyak sekali gerakan. Puluhan kali aku dimarahi, tepatnya lagi dimaki, “Heh! Konsentrasi! Dari tadi kamu salah-salah terus tahu!”.

Ketika istirahat, Bang Ayub bertanya “ada yang dari Aceh?”, tahu akan kena damprat, aku angkat tangan saja, lagi pula tak semua orang Aceh harus bisa tarian saman, lagian tarian saman yang diajarkan di sini memang sangat berbeda dengan yang biasa aku nonton di Aceh. “Ureung Aceh tapi hanjeut saman, peuget malee mantong” seperti yang aku duga, dia langsung mendampratku dengan bahasa Aceh yang artinya “Orang Aceh tapi gak bisa nari Saman, malu-maluin aja!”, teman-teman tak ada yang mengerti ucapannya, lalu aku tersenyum saja agar terkesan baru disambut ramah “oh, orang Aceh, selamat datang adikku”.

Benar saja, berlatih saman selama tiga hari membuatku ibarat seekor cicak yang dimasukkan dalam botol sirup lalu dikocok-kocok tanpa henti. Aku harus berlatih keras agar tak dilempar dengan kotak nasi bekas oleh pelatih. Kami harus menghapal banyak gerakan, gerakan masuk, gerakan duduk, ritme, tempo, menyanyi, bersuara “its-uh” khas saman di gerakan-gerakan tertentu, gerak kepala, dan dalam waktu bersamaan harus tetap bisa tersenyum. Sudah tentu dengan segala kompleksitas saman itu, waktu istirahat, di hotel, di bus, di kamar mandi, dimanapun aku berada, aku berusaha keras untuk berlatih. Dan yang tersulit diantara itu semua adalah tersenyum. Bagaimana mungkin bisa aku tersenyum dengan perasaan yang begitu horor.

Perlahan aku mulai bisa menghapalnya, dan aku terus berusaha berlatih dengan keras, hingga hari tampil itu tiba. Aku berusaha berkonsentrasi, dan sebisa mungkin tak melakukan kesalahan gerakan yang bisa mempermalukan teman-teman dari DSO Aceh, dan tentunya mempermalukan diriku sendiri. Dan tetap tersenyum. Aku dan teman-teman menari dengan penuh percaya diri, aku sendiri bisa tampil maksimal, dan mendapat tepuk tangan yang sangat meriah dari penonton.

Dan untuk semua keberhasilan itu, aku akan MENGECAM produk susu Formula manapun yang berani mengklaim keberhasilanku itu adalah karena ketika kecil aku minum susu dari perusahaan mereka. Karena dulu di jaman aku kecil mereka tak mengadakan program sidik jari cerdas untuk mendeteksi bakat. Sampai-sampai aku mengira menari adalah salah satu dari sekian banyak jenis penyakit kulit seperti kadas dan kurap, tapi pada kenyataannya? aku bisa makkkk…!! icon biggrin BUKAN BERKAT SUSU FORMULA

upload1 300x224 BUKAN BERKAT SUSU FORMULAupload2 224x300 BUKAN BERKAT SUSU FORMULA

  1. #1 by ahmadzikra on July 11, 2011 - 6:48 am

    hihi…
    mantap2 tulisannya. calon penulis besar juga neh.
    kemana aja kemaren2 neng?
    :)

  2. #2 by tristyanto on July 16, 2011 - 9:13 pm

    wah baru kali ini nemu tulisan yg kocak dan khas d blog beswan…….. penuh dg analogi dan deskripsi pikiran tp saya suka…….. keep blogging yach…..

  3. #3 by tristyanto on July 16, 2011 - 9:14 pm

    wah baru kali ini nemu tulisan yg kocak dan khas d blog beswan…….. penuh dg analogi dan deskripsi pikiran tp saya suka…….. keep blogging yach…..

    kunjung balik

  4. #4 by sriyuniar on July 21, 2011 - 11:42 am

    amatir juga mau exist ini bang :D

(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

What is frozen water?