Suci Lestari’s Blog

Just a systematic random thought

Life is along the way !

Beberapa waktu lalu, gue baca tweetnya @Sraksagati (Kakaknya temen gue ) tentang cita-cita yang di RT sama temen gue di Twitter, and I am 100% agree with his thought. Dari kecil kebanyakan dari kita sudah sering ditekankan oleh guru , orangtua ataupun siapa saja tentang pentingnya memiliki cita-cita. Waktu kecil, gue bisa dengan mantap menjawab pengen jadi dokter , menteri, dan lain sebagainya. Pokoknya kalau ditanya cita-cita, maka kebanyakan anak akan menjawab dengan profesi.

Semakin dewasa , gue mulai ngerasa kalu cita-cita berupa profesi itu agak absurd. Maksud gue, memang gak ada profesi yang absurd. Tapi kalau hanya berupa profesi saja, kesannya kurang menyeluruh. Misalnya seseorang yang bercita-cita menjadi dokter bedah syaraf, gue rasa dengan menjadi dokter syaraf saja hidupnya tidak akan serta-merta bahagia. Selain profesi, dia butuh orang-orang yang dia sayangi, lingkungan yang baik, pengakuan,pengalaman, kehidupan spiritual dsb. Cita-cita itu harusnya visi tentang bagaimana hidup yang ingin kita jalani dan ingin kita wujudkan. Tidak berhenti pada sebatas profesi saja. Cita-cita bukanlah tujuan hidup semata, tapi setiap langkahnya, setiap prosesnya. Semacam way of life.

Dan tweetnya Sanggi ini bener-bener tepat memvisualisasikan melalui kata-kata apa yang selama ini ada di pikiran gue (tapi gak bisa gue ungkapkan dengan benar) tentang bagaimana cita-cita itu seharusnya. Gue sangat sepakat pada poin tentang kita harus fleksibel dalam cita-cita, karena cita-cita kitasekarang ini hanyalah sebatas apa yang kita ketahui saat ini, sementara di luar sana banyak kemungkinan lain. Itulah pentingnya untuk menjadi fleksibel, dan berkecimpung dalam dunia yang memang kita sukai. Karena dengan berkecimpung di area yang kita sukai (Rene Suhardono sih nyebutnya passion ), maka kita akan enjoy dengan apa yang kita kerjakan, dan kalau kita enjoy dengan apa yang kita kerjakan, kita akan menjadi yang terbaik di bidanngnya. Dan dengan menjadi yang terbaik maka kita akan menjadi magnet bagi kesempatan-kesempatan lain. Yeahh, to be detail, gue tweetnya akan gue copas dibawah ini ;

#1Cita2 kita saat ini hanya sebatas pengetahuan kita, sedangkan kesempatan diluar sana tak terbatas..

#2 Waktu kecil kita pengen jadi insinyur/pilot/abri/presiden, waktu sma pengen jadi insinyur perminyakan, kuliah insinyur pemboran, dll dsb

#3 again, cita2 kita hanya sebatas ilmu kita saat ini.. Sedangkan kesempatan diluar sana yang bahkan kita tidak tau itu ada kita sangat luas

#4 jadi, kenapa kita harus terlalu terobsesi menjadi sesuatu dan membuat itu menjadi target yang fix..

#5 hal ini akan menutup kita untuk mengambil jalan menuju kesempatan yang jauh lebih baik, hanya semata2 telah mem”fix”kan cita2.

#6 be the best in what you do and enjoy your time and be flexible on your cita2.. Opportunities will open up along the way..

#7 be a magnet for opportunities and don’t say no to them just because you have “fixed” your cita2..

#8 to the extreme, kl bill gates mem fix kan cita2 dia.. Dia akan jadi pmbuat software handal saat ini, tp bukan jdi CEO.. He was flexible.

#9 important thing is enjoy the path along the way, if you don’t enjoy it, You’ll nver be the best, if ur not the best, ur not the magnet..

#10 sorry sotoy, people are too obsessed to be somthn to a scale they pass other good opportunities.. Including having good worklife balance

#11 don’t forget that anything you endup to, just fullfill your passion along the way…

#12 Once I want to be a pilot so I can travel and see new places & peoples.. I’m not a pilot for now..

#13 but my decisions are always based partly on increasing the probability of traveling.. I’m learning to be flexible.. I hope..

#14 and so far it works.. Alhamdulillah..

#15 skrng kl dtnya cita2 sya apa.. Ill jst say, gtau, ill do my best, seize any + opportunities & keep enjoying the path to whatever it is..

#17 ohya, mitos jika telah tercapai cita2 akan bahagia itu salah.. The time to be happy is NOW,,

Mumpung lagi ngomongin cita-cita nih ya, sekalian aja gue share apa mimpi-mimpi gue disini.

# Kuliah S2

Kalo ada yang ngikutin blog gue ini dari awal, pasti tahu kalau dulu pas jamannya skripsi, gue pernah nulis bahwa gue jera dengan publikasi ilmiah semacam skripsi, dan kalau gue sekolah lagi gue bakal ngambil yang by course, not by thesis. Well, I changed my mind. Sekarang gue pengen banget ngambil S2. Bukan karena gengsi-gengsian atau ikut-ikutan. Tapi gue pengen ngelunasin hutang sama diri gue sendiri. Dari kecil ketertarikan gue yang sebenarnya adalah hal-hal berkaitan dengan social and humanities, kayak psikologi, sosiologi, hubungan internasional, ekonomi, manajemen, dsb. Pokoknya hal-hal yang terkait dengan interaksi social. Kalau kalian pembaca setia blog gue, pasti lo bakal nyadar bahwa topic yang sering gue tulis gak jauh-jauh dari interaksi manusia dengan sesamanya, entah dalam bentuk cinta, konflik,dsb. Dan menurut gue, ekonomi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antar manusia itu. Idealis, pragmatis, ada semua disini. Tapi akhirnya gue memilih kuliah di jurusan akuntansi, yang sebenarnya gak gue sesali juga sih.

Gue menikmati kerjaan gue yang sekarang, tapi jauh didalam diri gue ada semacam hasrat yang tidak terlampiaskan (bahasanya kayak stensilan, hahaha ). Akuntan atau auditor, dalam kesehariannya pada intinya adalah mereview apakah perusahaan sudah mencatat transaksinya dengan benar. Tapi semakin hari gue menjalani profesi ini, gue sadar bahwa gue tuh lebih menikmati pekerjaan menganalisis dari segi bisnis dan ekonomi dibandingkan menganalisis compliance pada standar akuntansi atau peraturan lainnya. Makanya gue pengen kuliah S2 jurusan Banking , ekonomi, atau development studies.

Sebagian orang menganggap bahwa kuliah S2 yang keren itu kalo dapet beasiswa, syukur-syuur kalau di luar negeri dan di kampus top dunia. Tapi gue sendiri berpendapat bahwa yang keren itu kalau lo ngebiayain kuliah lo dengan duit lo sendiri. Gue suka heran sama orang yang gak sayang ngeluarin uang buat beli benda-benda mahal, nabung buat pesta pernikahan yang wah, nyicil mobil yang wah, tapi ngerasa sayang ngeluarin uang buat sekolah lagi. Waktu kecil sampai dewasa, tanggung jawab pendidikan anak memang ada pada orang tua. Tapi begitu dewasa, itu udah jadi tanggungjawab kita sendiri, bukan tanggung jawab lembaga donor internasional semacam USAID, ADS, dsb. Tapi tentu saja, gue juga harus realistis. Minimal gue harus 2 tahun nabung biar bisa kuliah di UI atau UGM, dannabungnya harus lebih lama lagi kalau kuliahnya mau di luar negeri. So this far, sambil nabung gue mau coba apply beasiswa. Pahit-pahitnya tahun 2014, kalau gak bisa kuliah master di luar negeri, ya sudah di UI atau UGM aja dengan biaya sendiri.

Awalnya gue pengen banget kuliah MBA di Amerika, banyak pemikiran hebattentang entreupreunership berasal dari sana. Tapi belakangan ini ketertarikan gue lebih condong ke jurusan ilmu ekonomi disbanding MBA. Dan menurut gue negara yang tepat untuk belajar ekonomi adalah negara-negara skandinavia yang banyak menganut konsep welfare state. Di Indonesia, berharap tentang pendidikan dan kesehatan gratis bagi semua warga Negara adalah mimpi di siang bolong. But in some countries, it does works. Menurut yang gue baca di internet Norwegia, menggratiskan tuition fee universitas baik untuk warga Negara dan pelajar internasional. Finlandia, Swedia, dan Denmark menggratiskan tuition fee untuk warga Uni Eropa, tapi pelajar internasional harus tetap bayar. And I’m wondering how can they do that ? Gue rasa tujuan besar dari ilmu ekonomi adalah peciptaan kemakmuran dan pemerataannya. Dan di Negara-negara skandinavia, kemakmuran itu tidak hanya dalam teori saja, tapi dalam praktik mereka juga bisa mewujudkannya. Makanya, gue ngerasa udah paling bener belajar ekonomi disana.

# Mondok di Pesantren

Awalnya ini hanya semacam sepintas ide yang tersirat waktu gue lagi bikin random rants, yang biasa gue bikin kalau gue lagi frustasi dengan banyak pikiran yang terbesit di kepala. Terus gue post disini ( sebelumnya gue posting di blogspot, tapi akhirnya yang di blogspot gue hapus ). Terus ada Mas Bahtiar komen disitu, gue lupa sih dia bilang apa persisnya. Kalau gak salah semacam “ Widiiih seriusan lu mau mondok ? Ntar kalo lo jadi mondok kasih tahu gue ya, siapa tau gue terinspirasi kembali ke jalan yang benar. Soalnya gue dari dulu belajar agama gak masuk-masuk. Emang lu mau mondok dimana ? Udah di jawa timur aja, banyak pesantren disini ; tebuireng, gontor, dsb. Ntar gue bantu daftarin deh. Kapan emang ? Ntar aja abis lo lulus, kalo dah kerja pasti susah “. Agak aneh sih sebenarnya, dia bilang belajar agama gak masuk-masuk, padahal setahu gue dia jauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuhhhhhhhhhh lebih alim daripada gue. Gue mah emang gak ada alim-alimnya sih, hahaha. Yah intinya,setelah ngobrol sama Mas Bahtiar itu gue janji sama diri gue sendiri untuk nyobain mondok di pesantren. Mengisi hari dengan belajar agama. Kemarin gue sempet nyari-nyari alamat pesantrennya, dan ada sebuah pesantren di Malang yang gue rasa cocok. Pesantrennya bukan pesantren formal kayak Gontor sama Tebuireng gitu sih, tapi pesantren informal gitu. Di websitenya tertulis “ Saat ini kami belum menyelenggarakan pendidikan formal (kayak setara SD,SMP, SMA ), kebanyakan santri-santri yang menuntut ilmu disini adalah orang pribadi yang ingin menyelesaikan masalah-masalah pribadi dengan mendekatkan diri pada Tuhan “. Nah ! Gue banget gak sih ? Hahahahaa. Gue gak punya masalah pribadi sih, tapi gue pengen mencoba metode lain untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Karena seperti yang dialami Mas Bahtiar, gue dari dulu belajar agama gak masuk-masuk.

Sebenernya tahun depan, kalau Cuma sebulan gue bisa sih kayaknya, Cuma entahlah, gue harus minta ijin dulu sama orang tua yang entah akan setuju atau tidak akan ide ini. Soalnya di syarat pendaftarannya, gue harus pergi kesana dan dijemput dari sana sama muhrim gue, jadi gak bisa gue kucluk-kucluk datang kesana sendiri.

# Menulis, menulis dan menulis

Kalau ditanya aktivitas apa yang paling guesukai dan nikmati ? Maka dengan tegas,gue bakal menjawab menulis sebagai aktivitas favorit gue. Tapi gue gak berminat untuk berprofesi jadi jurnalis atau semacamnya, karena menurut gue, menjadikannya profesi akan menambah beban ke dalam kegiatan tersebut. I’m just writing for fun. Tapi belakangan ini, gue kepikiran buat ngedraft sebuah buku. Bukan karena ikut-ikutan, tapi karena memang ada yang pengen gue sampaikan. Ada beberapa hal yang bener-bener bikin gue prihatin belakangan ini. Dan gue pengen menyumbang sebuah pemikiran terkait hal itu.

Oh ya, selain ide diatas, gue juga lagi on going mengerjakan sebuah cerita. Cerita yang gue mulai ketika gue lagi sibuk ngerjain skripsi. Sebenernya biarpun gue suka menulis, tapi fiksi tuh bukan ranah gue. Tapi gue harus ngeberesin yang satu ini. Cerita ini pada awalnya adalah semacam suatu ungkapan untuk seseorang.Tapi yeaahh gue dan orang itu bermasalah sebelum ceritanya selesai. Dan semenjak itu gue meninggalkan cerita itu. Gue baru menengoknya lagi beberapa waktu yang lalu, dan menemukan beberapa ide untuk cerita tersebut. Tapi gue gak mau menyelesaikan ini dengan terburu-buru, diluar dugaan cerita ini membutuhkan banyak sumber yang bakal menyita waktu untuk menggalinya. Selain itu gue gak mau ‘bayi’ ini lahir premature , ‘bayi’ ini akan lahir tepat waktu saat suatu karya sudah bisa dibilang matang, setidaknya bagi penulisnya. Biarpun pada awalnya cerita ini adalah tentang orang itu, tapi pada perkembangannya bayangan seseorang itu malah nyaris hilang dalam cerita ini, karena pada akhirnya ini adalah tentang gue,orang-orang yang pernah gue kenal, dan dunia yang gue tinggali.

Well, sebenarnya masih ada beberapa point lainnya, namun berhubung mood gue sudah berkurang, dan daripada ngasal tulisnya, maka bersambung dulu yah. Oh ya, sebagai penutup gue mau ngepost, sebuah gambar yang gue temuin di katalognya Stockhom University (halaman terakhir)  buat tahun ajaran 2013 . Sejak awal ngelihat gambar ini, gue langsung jatuh cinta, bangunan di gambar ini adalah pusat penelitian Stockholm University yang berada nun jauh di kutub selatan sana. Dengan berlatarkan langit bertabur bintang, dan kata-katanya, gue selalu merasa tergetar setiap kali melihatnya #tsaaaaaah

ambitions

Some come seeking adventure

Others a new challenge

Few leave unfulfilled

None leave unaffected

All leave with sense of discovery

What’s your ambition ?

Protected: Deleted

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Twinkle- Twinkle Little Star !

Dari dulu aku sering membaca tulisan orang tentang ‘ dear my future husband .. ‘ Atau ‘dear my future wife..’ Atau ‘dear my future children.. ‘, dan tidak ada yg membuatku terkesan. Enek yang ada ngelihatnya. Cheesy banget gitu loh, cengeng. Tidak ada urgensinya kan menyampaikan pesan untuk seseorang di masa depan,sementara banyak persoalan di masa kini yg lebih butuh perhatian.

Tapi hari ini, hari yg (kata orang) diperingati sebagai hari surat menyurat sedunia, sebuah surat akhirnya ku tulis untukmu,sang bintang, dengan alasan yang akan segera kau ketahui.

Bintang ku, sejak kecil aku selalu terkesima bila melihat langit bertabur bintang. Bukan karena gemerlapnya, tapi karena membayangkan jarak yang ditempuh oleh bintang-bintang itu agar cahayanya bisa sampai ke bumi.

Apa yang lebih jauh dari setahun cahaya? Bila dalam sedetik cahaya bisa mencapai jarak 300.000 km, maka bisa bayangkan jarak yang dapat ditempuh cahaya dalam waktu 1 tahun. Menurut google, jaraknya hampir mencapai 10 trilyun kilometer. Katanya sinar matahari membutuhkan waktu 8 menit untuk sampai ke bumi, jadi begitu kita melihat matahari di suatu hari yang terik, maka yang kita lihat pada dasarnya adalah matahari pada saat 8 menit yang lalu. Sedangkan di jagat raya ini, ada jutaan bintang lain selain matahari yang jaraknya jauuh-jauuuhhh sekali. Bintang yang terdekat dengan matahari saja jaraknya 40 triliun kilometer dari matahari.Tapi saat langit malam cerah, kita bisa melihat sinar dari bintang-bintang itu dengan mata telanjang. Walaupun, karena saking jauhnya, bisa saja bintang yang terangnya kita lihat malam ini sebenarnya sudah menjadi bintang mati. Itulah sebabnya aku selalu takzim saat berjalan dibawah langit bertabur bintang. Langit malam adalah kumpulan artefak masa lalu.

Tapi itu dulu. Sekarang langit malam tak ku rasa seistimewa dulu. Artefak masa lalu, tidak hanya langit bertabur bintang. Kita hidup ditengah artefak masa lalu. Contoh kecilnya saja, saat kita membaca sms yang dikirim 30 menit yang lalu,bukankah itu artefak masa lalu juga ? Karena pesan itu membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai kepada kita. Jadi apa bedanya dengan saat melihat bintang yg saking jauhnya juga membutuhkan waktu 30 menit agar cahayanya bisa sampai ke bumi ? Sekarang aku merasa bintang dan sms sama2 istimewa. Begitu pula bentuk lainnya seperti BBM, surat, majalah dsb.

Aku tidak tahu berapa waktu yang dibutuhkan agar surat ini bisa sampai padamu ? 10 menit ? 10 jam ? 10 hari ? 10 bulan ? Atau tidak pernah sama sekali ? Entahlah. Tapi bila suatu hari nanti kamu membacanya, harap maklum saja bahwa yang menulis ini adalah aku di masa lalu,bukan aku di masa itu.

Bintang, ada yang pernah bilang padaku ” jodoh adalah misteri, bagi sebagian dia begitu mudah, bagi sebagian dia perlu berupaya keras, dan bagi sebagian lain dia hanyalah mitos belaka “. Aku tidak tahu jodohku itu termasuk yg mana, apakah kamu memang ada di masa depan nanti. Aku tidak tahu. Dan aku pun tidak cemas seandainya jodoh itu hanyalah mitos belaka.

Pesan ini aku tulis karena terinspirasi obrolanku dengan salah seorang teman. Dia bercerita bahwa sebentar lagi kakaknya akan menikah, padahal belum lama ini kakaknya itu baru putus dar mantan yang telah menjalin hubungan kasih cukup lama. Pasca putus dari mantannya itu, si kakak pacaran dengan gadis lain, dan baru beberapa bulan pacaran akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.

” Kok cepet amat ? ” Tanyaku pada sang teman.

” Kayaknya kakak gue dan pacarnya itu udah cape pacaran…ujung2nya putus, akhirnya mau langsung nikah saja ” jawab temanku.

Waktu itu, aku langsung terpikir,pada kondisi seperti apa waktu akan mempertemukan kita ? Apakah kita akan dipertemukan dalam keadaan yang mirip dengan kakak temanku itu ? Pria dan wanita yang telah exhausted dalam hubungan percintaan, dan akhirnya memutuskan tidak akan banyak melakukan elaborasi sebelum menikah a.k.a pacaran ? Apakah kita akan dipertemukan dalam kondisi masih luka akibat trauma dengan kegagalan cinta di masa lalu ? Ku harap tidak.

(Belum) Saatnya saya bercerita.

stop-talking11

Judul diatas sebenarnya terinspirasi dari judul bukunya Ibnu Sutowo (mantan direktur Pertamina) ; Saatnya saya bercerita. Buku yang belum pernah saya baca sebenarnya. Tapi tiba-tiba teringat judulnya saja. Karena kemarin dia mengatakannya lagi. Saya selalu tersinggung bin terganggu setiap dia mengatakan hal itu. Menyindir saya terkait hal yang satu itu. Tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan membela diri sekalipun. Karena ya, saya belum punya sesuatu untuk membuktikan bahwa dia keliru. Bahwa yang saya percaya ini memang benar adanya. Jadi sementara, biarlah seperti ini. Life is along the way. Jangan gegabah dan terburu-buru seperti yang lalu-lalu. Masa depan siapa yang tahu, tapi kita sedang menuju kesana selangkah demi selangkah. Dan bila sudah tiba saatnya, maka giliran saya yang akan bicara !

Sumber gambar : http://www.realisticrelationships.com/relationship-advice/2009/09/stop-talking/

Jarak

Barangkali memang dibutuhkan jarak untuk mengagumi sesuatu, untuk mencintai sesuatu,seseorang, atau sekumpulan orang.

“ Guys, Arif sms gue ; ‘ Malem Ka, lagi ngapain ? Sibuk gak, aku lagi bingung nih, pengen cerita … ‘ , gue harus balas apa yah ? Gue masih sebel sama dia, gara kejadian di bandara tempo hari “ Kika meminta saran lewat sebuah conference chat di BBM yang isinya saya dan teman-teman se-genk.

Saya berpikir sejenak.

Arif, saya tidak mengenalnya, hanya sempat beberapa kali mendengar cerita Kika tentang pria ini. Dulu waktu masih kuliah di Bandung, Arif dan Kika adalah teman sekelas di tempat les bahasa Inggris. Kebersamaan tersebut gampang diterka, Arif menyukai Kika. Namun Kika saat itu (hingga sekarang ) sedang dekat dengan pria lain yang walaupun kehadirannya timbul-tenggelam, namun telah berhasil membuat Kika tak bisa berpindah ke lain hati, bahkan ke hati yang lebih berupaya sekalipun. Pernah suatu ketika, saat Kika berulang tahun, Arif yang (waktu itu ) adalah mahasiswa teknik mesin ITB, menghadiahkan Kika sebuah alat rakitan sendiri, warnanya merah muda, warna favorit Kika. Sebuah hadiah yang dititipkan ke Bibi kosan karena Kika sedang pergi entah kemana. Namun saat Kika hendak mengoperasikannya, alat itu tidak berfungsi, entah tak sengaja dirusak oleh Kika saat mencoba-coba atau entah memang alatnya belum sempurna. Kika pun tidak bertanya terkait hal itu pada Arif.

“ Freak banget gak sih Arif yang pernah gue cerita ke kalian itu, masa dia ngasih gue sesuatu tapi rusak gitu “ Cerita Kika saat itu.

“ Idiiih, bukan freak kali Ka, itu romantis namanya. Ngiri deh, gue belum pernah tuh dibikinin sesuatu sama cowok gitu, kalo dikasih hadiah yang dibeli di toko gitu kan gak aneh. Lagian kalo gak berfungsi wajar lah, namanya juga mahasiswa, masih belajar “ Bela saya.

Dari cerita singkat tersebut, dapat dibayangkan betapa niatnya Arif pada Kika. Perempuan jaman sekarang mungkin tahu betapa sulitnya membujuk sang kekasih membuat puisi atau menulis surat cinta. Membeli coklat yang di setiap tikungan ada, tentu saja lebih mudah dan praktis.

Tak berselang lama, Kika dan Arif lulus kuliah dan menempuh jalan yang berbeda. Kika tinggal di Jakarta, dan Arif tinggal di luar negeri.

Lebaran lalu, Arif mengabari Kika bahwa dirinya sedang berada di Jakarta, dan ingin memberi Kika oleh-oleh, sekalian bertemu. Sayang Kika, sudah mudik ke kampung halaman. Dan sepulangnya dari kampung halaman, Kika akan kembali disibukkan dengan rutinitas pekerjaan yang ampun-ampunan. Jadi entah kapan bisa bertemu.

“ Kamu kapan balik ke Jakarta lagi ? Biar aku jemput di Bandara “ Tawar Arif. Awalnya Kika menolak, tapi Arif bersikeras. Jadilah mereka sepakat untuk bertemu di Bandara.

Di hari kepulangan yang telah dijanjikan, Arif tak kunjung datang untuk menjemput sementara Kika telah menunggu cukup lama. Kemudian Arif mengabarkan via telepon, bahwa dia tidak bisa datang menjemput seraya minta maaf. Kika langsung senewen, dia kembali ke Jakarta dengan penerbangan malam, dan harus pulang naik taxi sendirian.

“ Sebel banget deh gue, kalo emang gak bisa ya bilang sebelum-sebelumnya gitu, kan gue bisa minta jemput kakak gue . Kan dia sendiri yang awalnya keukeuh pengen jemput gue “ Gerutu Kika ketika itu. Singkatnya, begitulah ceritanya.

“ Bales aja smsnya, Ka. Tapi datar-datar aja jawabnya “ Saran salah seorang teman pada akhirnya.

“ Hmmmmm. Gimana kalau pas di bandara itu Arif gak dateng karena sengaja pengen ngebales gue, dulu kan gue sering cuekin dia ? “ Kembali Kika bertanya.

“ Niatan orang kita gak tahu Ka. Bales aja, seenggaknya demi kemanusiaan “ Saran saya yang langsung dihujani olok-olokan dari teman saya. .

“ Nista abis bahasa lo Cus, demi kemanusiaaan, hahahahaha “ Komentar seorang teman diikuti komentar dari teman-teman lain yang kurang lebih sama. Dikira nya saya bercanda tentang ‘ Demi Kemanusiaan ‘ ini.

Insiden bandara itu memang tidak menyenangkan, tapi saya yang berjiwa sinema ini langsung mikir “ gimana kalau dia gak jadi jemput karena Papanya sakit, atau dianya sakit, dsb. Belum lagi smsnya yang menyatakan bahwa Arif seang bingung, dan butuh teman bicara. Jangan-jangan Arif memang lagi ada masalah

Pernahkah kita merenung, seringkali kita merasa iba begitu mengetahui kisan-kisah tragis jauuh di luar sana. Penderitaan warga Palestina, orang-orang yang kelaparan di Afrika, TKI yang teraniaya di Arab, Warga korban konflik di Rohingya, ataupun warga korban penyerangan pada kaum Syiah di Sampang. Duka dan air mata itu tak henti-hentinya dipertontonkan di media masa, dan kita hanya mampu melihat, tanpa bisa berbuat apa. Tergerak untuk membantu, tapi entah bisa berbuat apa. Tapi pada saat yang sama kita abai, pada derita sejenis yang terjadi tepat di depan mata kita sendiri. Ini manusia, itu manusia, lalu kemanusiaan itu yang mana ?

Misalnya begitu membaca surat kabar yang memberitakan tentang penggusuran rumah warga di daerah rel kereta api, mungkin kita akan berkata “ Ya ampuuun kasihan banget ntar mereka tinggal dimana “. Namun apabila penggusuran itu terjadi di lingkungan kita, kita mungkin akan bilang ‘ salah sendiri bikin bangunan liar di tanah milik PT KAI, karena kita tahu rumah mereka memang berdiri diatas tanah yang bukan hak mereka.

Beberapa waktu lalu, Indonesia sempat dihebohkan dengan kasus penyerangan terhadap warga Syiah di Sampang. Beberapa preman berjubah berkoar-koar bahwa Syiah itu sesat dan harus direlokasi ke daerah lain, tapi di saat yang sama preman berjubah itu meminta pemerintah membantu warga Rohingya yang dianiaya di negerinya sendiri karena (diduga) masalah sentiment agama. Yang di Rohingya sana dianiaya karena isu agama, begitu pun yang disini. Lalu saat mereka mengklaim ‘ semua muslim itu bersaudara, maka atas nama kemanusiaan selamatkan warga Rohingya ‘, persaudaraan manakah yang sedang mereka bicarakan ? Kemanusiaan manakah yang mereka maksud ?

Waktu SMA saya les di sebuah tempat tak jauh dari gedung sate. Berbagai macam demokrasi yang biasa berpusat di gedung sate, sudah menjadi makanan sehari-hari. Salah satu demo yang cukup rutin adalah demonya Hizbut Tahrir Indonesia, yang didemokan tak jauh-jauh dari Palestina, Palestina, dan Palestina. Agar umat Islam bersatu melawan Israel. Katakanlah, semua umat islam di muka bumi ini bersatu melawan Israel atau apapun itu, kekuatan yang menindas Palestina, akankah penderitaan warga Palestina berakhir ? Hmmmm, entahlah. Maret lalu, di Indigo Restaurant hotel Majapahit Surabaya, saya membaca sebuah majalah traveling, yang salah satu artikelya memuat tentang perjalanan ke Palestina.

Si Traveler yang penduduk Eropa mengunjungi Palestina untuk menghadiri pernikahan sahabatnya. Dia banyak berbicara dengan warga local. Dan di Palestina sana, selain konflik antara Israel dan palestana, konflik Hamas dan Fatah,  warga Palestina sendiri sibuk dengan konflik internal, Perang Suku. Dimana aturannya, mata dibalas mata, mulut dibalas mulut, dan nyawa dibalas nyawa. Dan anehnya lagi, mati demi membela suku dianggap sebagai suatu kehormatan. Sahabat si traveler itu kemudian bercerita bahwa belum lama ini sukunya berkonflik dengan suku lain dan menelan satu korban jiwa dari pihak lawan. Dan keluarga mereka harus berhati-hati karena keluarga si lawan pasti akan membalas dendam. Saya tidak tahu bagaimana situasi disana, tapi kalau ada warga palestina yang memprotes Israel yang haus darah, maka saya akan bertanya, orang yang membunuh demi suku belaka bukankah bisa juga disebut ‘ haus darah ?

Baiklah itu, contoh makro. Mari kita kembali ke hal-hal yang lebih praktis. Saat sedang berjalan, kita menjumpai seorang nenek yang tersesat dan minta diantar pulang. Kebanyakan dari kita barangkali akan menolong nenek itu, walaupun kita tidak pernah mengenalnya sama sekali. Tapi bayangkan bila suatu pagi, kamu menerima pesan menerima pesan dari mantan yang hubungan mu dengannya berakhir buruk, si mantan kebetulan sedang ditugaskan di kota yang kamu tinggali sekarang, dan minta ditemani karena takut nyasar. Bersediakah kamu untuk menemaninya ? Kebanyakan pasti mikir-mikir.

Atau kasus lain ; Bayangkan, ada seseorang yang menyukaimu padahal tahu dirimu tidak menyukainya, dia sering mengirimu pesan, dan sering mencoba mengajakmu bicara. Dia tidak pernah minta apa-apa, hanya minta ditemani bicara, entah itu via telepon, sms, BBM, tatap muka, dsb. Kamu tentu tahu bahwa membahagiakan orang lain itu perbuatan yang mulia, tapi bersedia kah kamu membahagiakan orang itu dengan cara yang paling sederhana sekaliapun seperti membalas pesannya atau meladeni teleponnya ? Kebanyakan pasti tidak. Saya juga.

Apa yang membuat kita dengan tulus rela menolong nenek-nenek yang tidak kita kenal sama sekali dan mengabaikan orang yang jelas-jelas kenal ? Mungkin karena kita berjarak dengan nenek-nenek itu dan tidak berjarak dengan yang lainnya. Mungkin seperti itulah juga suami istri yang waktu pacaran bisa akur bertahun-tahun, tapi begitu menikah cuma tahan 1 atau 2 tahun dan akhirnya memutuskan bercerai. Begitu pacaran jarak itu masih ada, sedangkan ketika sudah menikah jarak itu tak ada lagi. Intensitas perlahan-lahan menjadi rutinitas. Ah entahlah. Mungkin memang segala sesuatu itu membutuhkan jarak. Membutuhkan jeda. Membutuhkan ruang.

Rindu adalah jarak.

Ketidaktahuan adalah jarak.

Waktu adalah jarak.

Kilometer jelas-jelas adalah jarak.

Ruang adalah jarak.