Suci Lestari’s Blog

Just a systematic random thought

Indonesia, wanita, legenda, dan cecintaan

“ Museum tutup hingga waktu yang belum dapat ditentukan karena sedang ada renovasi “

Begitulah tulisan yang tertera pada kertas yang tertempel dipintu masuk Museum Tsunami Banda Aceh. saya tertegun, kecewa.

Terletak di daerah lapangan Blang Bintang dan tak jauh dari Mesjid raya Baiturrahman, Museum Tsunami ini adalah salah satu destinasi yang berada dalam daftar “ Must Visit “ saya selama di Banda Aceh. Museum yang menghabiskan dana Rp 70 miliar ini dibangun untuk mengenang tsunami yang terjadi di Aceh pada tahun 2004 silam. Sebuah sayembara desain diadakan untuk memilih arsitektur museum ini, dan terpilihlah M Ridwan Kamil dari ITB ( Institut Teknologi Bandung ) sebagai pemenang  dengan desainnya “ Rumoh Aceh as Escape Hill “ yang memadukan unsur modern, religius dan lokal . Lihat saja pola yang menyerupai anyaman pada eksterior Museum tsunami, pola tersebut terinspirasi dari koreografi tari Saman yang melambangkan kekompakan warga Aceh dalam menghadapi musibah tsunami. Sesuai namanya, Museum tsunami ini selain didesain untuk berfungsi sebagai museum juga berfungsi sebagai tempat evakuasi bilamana terjadi tsunami lagi di Aceh. Katanya, bila dilihat dari atas bentuknya sepeti kapal dengan cerobong yang besar, sedangkan bila dilihat dari bawah bentuknya menyerupai pusaran air. Sebenarnya penasaran dengan isinya, namun karena sedang direnovasi apa boleh buat, setidaknya saya bisa foto-foto di bagian luarnya.

Museum Tsunami

Museum Tsunami

Kalau lagi gak di renov, ini harusnya ada airnya

Kalau lagi gak di renov, ini harusnya ada airnya

Karena Museum Tsunami tutup, Reyhan (ini nama perempuan loh ), mahasiswi Universitas Syiah Kuala yang menemani saya,menawarkan untuk pergi ke Taman Putroe Phang yang terletak tak begitu jauh dari Museum Tsunami dan kemudian lanjut ke PLTD Apung. Saya pun mengiyakan.

Taman Putroe Phang merupakan tanda cinta Sultan Iskandar Muda kepada istrinya, Putroe Phang. Sebenarnya sekilas tak ada yang terlalu istimewa di Taman Putroe Phang ini, hanya taman dengan kolam dan ditengah kolam tersebut ada bangunan kecil berwarna putih yang dikenal dengan Pintu Khop. Menurut Reyhan, dulunya pintu ini berfungsi sebagai penghubung antara istana dan Taman Putroe Phang. Namun saya tertegun ketika membaca keterangan yang tertempel di sebuah papan tak jauh dari pintu gerbang.

sam_1312

Bangunan putih di tengah itu lah adalah pintu Khop

Information Board

Information Board

Disana tertulis :

Taman ini dibangun oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636) yang diperuntukkan bagi permaisurinya Putroe Phang ( yaitu seorang putrid Kerajaan Pahang, Malaysia ). Pada masa itu, pada tahun 1613 dan tahun 1615, tentara laut dan darat Sultan Iskandar Muda melakukan penyerangan dan berhasil menaklukan Kerajaan Johor dan Kerajaan Pahang di Semenanjung Utara Melayu.

Sebagai tradisi pada zaman dahulu, kerajaan yang kalah perang harus menyerahkan glondong pengareng-reng (rampasan perang), upeti dan pajak tahunan. Termasuk juga menyerahkan putri kerajaan untuk diboyong sebagai tanda takluk. Putri kerajaan yang diboyong ini biasanya diperistri oleh raja dengan tujuan untuk mempererat tali persaudaraan dari kerajaan yang ditaklukannya, sehingga kerajaan pemenang menjadi semakin besar dan semakin kuat kedudukannya.

Putri boyongan dari Pahang itu terkenal dengan paras yang sangat cantik dan memiliki budi bahasa yang sangat halus, sehingga membuat Sultan Iskandar Muda jatuh cinta dan menjadikannya sebagai permaisuri.

Demi cintanya yang sangat besar kepada sang putri,Sultan Iskandar Muda bersedia memenuhi permintaan sang permaisuri untuk membangun sebuah taman sari yang sangat indah, lengkap dengan gunongan sebagai tempat untuk menghibur diri sang permaisuri agar kerinduan sang permaisuri pada suasana pegunungan di tempat asalnya bisa terpenuhi. Selain sebagai tempat bercengkrama, gunongan juga digunakan sebagai tempat berganti pakaian permaisuri setelah mansi di sungai yang mengalir di tengah-tengah istana.

Untuk menuju taman ini, Sultan membangun sebuah pintu gerbang sebagai penghubung antara istana dengan Taman Ghairah. Pintu ini dinamakan Pintu Khop ( Pintu Biram Indrabangsa atau secara bebas dapat diartikan pintu mutiara keindraan atau kedewaan/raja-raja ) yang berukuran panjang 2 m, lebar 3 m dan tinggi 3 m, yang terbuat dari bahan kapur. Hanya anggota keluarga istana kerajaan yang diizinkan melewati gerbang ini.

.

Seperti halnya taman Putroe Phang, Gunongan adalah salah satu peninggalan dari kesultanan Aceh. Letaknya tak jauh dari Taman Putroe Phang, karena memang dulunya dua-duanya merupakan bagian dari kompleks yang lebih luas, yaitu Taman Ghairah. Namun saya tak sempat mampir kesana, hanya sempat melihat dari pinggir jalan. Gunongan adalah bangunan bewarna putih yang bentuknya menyerupai Gunung sebagai simbol pegunungan yang merupakan daerah asal sang Putri, sehingga dinamakan Gunongan.

Gunongan. Sumber : http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2011/04/29/pertanda-cinta-dari-aceh/

Gunongan. Sumber : http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2011/04/29/pertanda-cinta-dari-aceh/

Dari pinggir kolam, saya memandangi sekitaran Taman Putroe Phang ini. Angan saya melayang pada masa ratusan tahun silam, di taman ini ketika Sang Putri masih hidup. Bahagiakah ia hidup sebagai rampasan perang di negeri orang, walaupun sang raja sedemikian cintanya sehingga menjadikannya permaisuri dan membuatkan sebuah taman khusus untuknya ? Mendadak saya jadi merasa iba dengan sang Putri. Perasaan yang sama pernah menghinggapi saya ketika saya mengunjungi Tamansari di Yogyakarta.

“ Rei, kamu pernah ke Yogya gak ? Disana ada tempat yang mirip gini, namanya Tamansari “ Ujar saya pada Reihan.

“ Aku belum pernah ke Yogya. Tamansari itu semacam tanda cinta juga ya Kak ? “ Tanyanya.

“ Hmmmm. Tanda cinta bukan yaaa…. “ Saya mencoba mengingat-ingat kunjungan saya kesana.

Akhir tahun lalu, saya melakukan Solo travelling ke Yogyakarta. Walaupun telah beberapa kali ke Yogya, tapi itu kali pertama saya ke Tamansari, sebelumnya saya tidak pernah berminat kesana. Saya baru penasaran untuk kesana setelah melihat sebuah kartu pos bergambar Tamansari di sebuah toko buku di Bandung.

Pagi itu saya berencana mengunjungi Taman Sari dan menjelang sore bertolak ke candi prambanan untuk menyaksikan Sendratari Ramayana dibawah bulan purnama, karena open theater sendratari Ramayana di candi Prambanan kabarnya hanya digelar pada malam bulan purnama. Supaya tidak kesorean ke Prambanan, pagi-pagi saya sudah berada di area Tamansari.

Tamansari adalah istana air yang merupakan tempat rekreasi keluarga kesultanan Yogyakarta pada jaman dahulu. Komplek Tamansari terdiri atas beberapa bangunan yang sekarang lokasinya berada di tengah-tengah pemukiman para abdi dalem Keraton ,semisal bangunan yang berfungsi sebagai mesjid, tempat bersemedi, dan pemandian. Mas Agus, seorang abdi dalam keraton yang tak sengaja saya kenal, berbaik hati menemani saya mengunjungi bangunan-bangunan di Tamansari, dan menceritakan sejarahnya. Saya paling terkesan waktu kami mengunjungi pemandian, arsitekturnya indah sekali, warna air kolam yang biru berpadu indah dengan warna bangunan yang krem dan ukiran-ukiran bernuansa hindu. Terpesona, saya mengambil beberapa foto.

523162_2920227080365_1444402086_n1

Tamansari. Berhubung saya kehilangan foto2 di Yogya gambar diambil dari agendajogja.com

Tamansari. Berhubung saya kehilangan foto2 di Yogya gambar diambil dari agendajogja.com

“ Kalau pengen dapat foto yang bagus ngambilnya dari atas Mbak “ Saran Mas Agus. Saya pun mengikutinya menuju menara yang berada di samping kolam. Dan benar saja, dari sini seluruh komplek Tamansari terlihat jelas dan cantik.

“ Dulu, ini adalah tempat pemandian raja beserta selir-selirnya “ Ujar Mas Agus. “ Dari jendela ini raja memperhatikan selir-selirnya berendam di kolam di bawah itu, untuk memilih selir yang akan mendampinginya, Raja melempar bunga dari jendela ini ke kolam. Selir yang beruntung mendapatkan bunga maka boleh naik ke atas untuk bercengkrama dengan sang raja “ jelasnya lagi.

Saya kemudian membayangkan suasana ratusan tahun silam, seorang raja berdiri di jendela yang sama tempat saya berdiri, memandangi kolam tempat sekitar 20-an wanita sedang berendam ( Kata Mas Agus jumlah selirnya sekitar 20-an ). Kemudian dia melemparkan setangkai bunga, dan puluhan selir itu berebut untuk mendapatkannya agar bisa menghabiskan waktu berdua saja dengan sang raja.

Kemudian saya jadi merasa sedikit sendu. Bagaimana ya perasaan selir-selir itu ? Biarpun jaman dulu tiap raja pasti punya banyak selir, tapi tetap saja saya rasa sudah naluri dari sononya ketika kita mencintai seseorang, maka kita ingin menjadi satu-satunya. Kalau menuruti ego, inginnya kita memilikinya tanpa sedikitpun tersisa untuk yang lain. Yeah, katakanlah gue orang yang lebay dan terlalu penuh penghayatan. Tapi sepulang dari Tamansari, saya kehilangan mood dan  membatalkan rencana pergi ke candi prambanan untuk menonton sendratari Ramayana.  Menurut saya, cerita Ramayana jauh lebih sedih dari selir-selir di Tamansari, dan karena saya ke Yogya dalam rangka bersenang-senang, jadi lebih baik menghindari sesuatu yang sedih-sedih.

Pernah mendengar kisah Ramayana gak ? Singkatnya, menurut saya, ini adalah kisah cinta segitiga antara Rama, Shinta, dan Rahwana. Dikisahkan, dahulu kala hiduplah pasangan suami istri, Rama dan Shinta. Namun ada pria lain yang terpikat kepada Shinta, dia lah Rahwana. Dengan tipu-dayanya, Rahwana berhasil menculik Shinta dan menyanderanya di negeri Alengka. Disana dia tak henti-hentinya dibujuk untuk bersedia diperistri Rahwana. Namun tidak berhasil. Sementara itu, Rama pun tak tinggal diam, dia berusaha membebaskan Shinta. Singkat cerita, Rama berhasil mengalahkan Rahwana, dan Shinta pun bebas. Selesai sampai disitu ? tunggu dulu. Berikutnya dikisahkan, kalau Rama menolak Shinta, karena menduga Shinta telah ternoda.

“ Bagaimana Aa Rama bisa percaya kalau Neng Shinta masih suci, sementara selama ini Neng Shinta disandera oleh Rahwana, pria penuh tipu-daya yang sangat menginginkan Neng Shinta. Bagaimana Aa Rama bisa percaya, kalau Neng Shinta gak di apa-apain sama dia ? “ Mungkin kalo versi pasangan jaman sekarang, begitulah yang dikatakan Rama pada Shinta :P

Akhirnya Rama meminta Shinta untuk melakukan bakar diri sebagai bukti kesuciannya. Kalau Shinta selamat dari api, maka dia masih suci. Shinta pun melakukannya, dan dia pun selamat dari api. Setelah itu, baru Rama mau menerima Shinta kembali.

Gimana ? Sedih kan ? Udah mah diculik, disandera, terus gilirannya bebas malah diminta membakar diri :(

Taman Putroe Phang dan Tamansari. Kalau dipikir-pikir, banyak sekali tempat wisata di nusantara ini yang mengandung unsur wanita yang nelangsa dalam legendanya. Seolah wanita itu dilanda galau dari masa ke masa. Gak percaya ? coba inget-inget lagi, legenda candi prambanan, danau toba, tangkuban perahu, Banyuwangi, dll. Masih ragu ? Saya kasih satu contoh lagi, mumpung baru-baru ini saya sempat kesana. Apa itu ? Coban Rondo !

Coban Rondo adalah air terjun yang terletak di kaki gunung kawi, kecamatan Pujon, kabupaten Malang, Jawa Timur. Maret lalu saya dan teman-teman pergi ke Malang. Dari kota Batu tempat kami menginap, kami nyarter angkot menuju coban Rondo dengan ongkos Rp 50.000. Pemandangannya menuju kesana sangat menyenangkan, pemandangan bukit, jurang, dan hutan yang masih asri sungguh memanjakan mata.

Hutan Pinus di Jalan menuju Coban ROndo

Hutan Pinus di Jalan menuju Coban ROndo

COban Rondo

COban Rondo

Coban Rondo berasal dari bahasa jawa, kata Coban (air terjun ) dan Rondo ( Janda ). Nama ini berasal dari legenda percintaan Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi dengan Raden Baron Kusumo dari gunung Anjasmoro. Suatu hari pasangan tersebut melakukan perjalanan ke Gunung Anjasmoro, tempat kediaman orang tua Raden Baron. Namun, di tengah jalan muncul Joko Lelono yang terpikat kecantikan Dewi Anjarwari. Joko Lelono ingin merebut Dewi dan harus berhadapan dengan Raden Baron. Sementara Joko Lelono dan Raden Baron berduel ( bayangkanlah duel diantara keduanya berlangsung hebat seperti di film kolosal dengan setting hutan yang dekat air terjun ), Dewi Anjarwati berlindung di sebuah air terjun. Duel antara Joko Lelono dan Raden Baron yang berlangsung imbang menyebabkan keduanya meninggal. Dan di air terjun itulah sang Dewi menjadi janda. Sehingga air terjun itu sekarang dikenal dengan Coban Rondo.

303448_3271862751037_1614442750_n

Saya, Maya, dan Salma

Maya, Fina, dan Saya

Maya, Fina, dan Saya

Gile, tempat seindah ini memiliki kisah yang tragis dibaliknya. Padahal kalau saya yang disuruh bikin legenda saya akan membuat legenda ; Dahulu kala ada Pasangan kekasih bernama dewi anjarwati dari gunung kawi dan raden Baron dari gunung anjasmoro. Di sebuah air terjun, raden baron melamar dewi anjarwati dan sejak itu air terjun ini dinamakan Coban Cinto, bukan coban rondo. Hahaha. Tapi mungkin ada bagusnya juga, kita jadi bisa mengambil hikmah bahwa dari kisah yang sedemikian sedihnya saja bisa melahirkan sesuatu yang indah. Dibalik Museum Tsunami yang megah itu ada duka ratusan ribu korban yang meninggal karena tsunami. Dibalik Taman Putro Phang itu ada duka sang putri yang rindu akan kampung halaman. Bukankah hal-hal macam itu, membuat kita percaya bahwa Pelangi akan terbit setelah hujan reda ? Walaupun pada kenyataannya tidak setiap hujan diwarnai oleh pelangi.

Pelangi di Coban Rondo

Pelangi di Coban Rondo

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

16 Responses to “Indonesia, wanita, legenda, dan cecintaan”

  1. masyog says:

    Sumpah ini… how can you finally conclude that behind the beauty of Indonesian tourism, there’s sometimes tragic-women story? bagus, kadang kalo jalan2, kita fokus sama satu tempat, tapi lupa intertext dg yang lain. Feminism does roots in our legend.

    Jadi kesimpulannya, cantik itu butuh pengorbanan? :D

  2. Putu agnia says:

    Excellent! Inti dr sebuah perjalanan itu ga cuma seneng2, refreshing, hura2, dan sukacita lainnya. Suci berhasil banget ngebawa bayang2 gue kedalem cerita ttg legenda feminisme dan pemikiran modern, lengkap terangkum dalam sebuah perjalanan dan keindahan kultur budaya Indonesia. Salut! Lagi suciiiii, lagiiii…. :D

  3. sucilestari says:

    Haloo halooo Thank you Putu sama Yogi…

    First of all, lets define feminism, menurut gue sih feminism adalah isme yang memiliki semangat untuk mengencourage wanita untuk mengambil peran lebih, untuk berkontribusi lebih banyak, untuk memiliki kesempatan yang setara dengan pria.

    Pada cerita diatas menurut gue sih gak ada semangat feminismenya. Cewek2 yang gue ceritain diatas cenderung sebagai obyek yang pasif tanpa perlawanan. Dan menurut gue, feminisme emang gak berasal dari budaya nenek moyang kita. Wong Kartini yang terkenal sebagai pelopor kemajuan wanita indonesia aja hidupnya agak nelangsa gimana gitu…

    Justru dari cerita diatas bisa dilihat bahwa sebenernya dulunya pada masyarakat Indonesia, perempuan cenderung dianggap sebagai obyek, biarpun tetep ada unsur cinta kasihnya ( bahasanya, haha ) . Jadi beruntunglah kita wanita yang hidup di Indonesia jaman modern karena memiliki kesempatan untuk memilih apa yang terbaik bagi kita.

    Cantik butuh pengorbaban ? yes kayaknya, somepeople told that beauty is pain, right ? Hahahahaha

  4. lia says:

    Keren bgt chie..

  5. johantectona says:

    Entah apa ini namanya, tulisan ini telah mampu menuntun saya kembali kemasa lampau itu, mencoba membayangkan menjadi RAJA dengan begitu banyak selir #lhoh hahahahaha ngawur..

    memang benar tak semua pelangi bisa muncul setelah hujan, namun wanita tetaplah wanita yang akan selalu menjadi objek para lelaki *tambah ngawurrr

    tapi klo jaman sekarang sih kayaknya? haha silahkan memilih deh jd objek/subjek :D banyak juga toh suami” takut istri…

    suciii tulisan kamu kok keren sih, kamu makannya apa? #kapan nerbitin buku *gagal fokus

  6. sucilestari says:

    @ Lia : Halooo Lia, thank you ya Say, mau jalan bareng gak jadi mulu nih kita :(

    @ Mas jo : Hahahaha…..Mas jo siap2 mau lempar bunga nih #eh

    Yeah, kalo jaman sekarang ya terserah masing2 sih, tiap orang beda2,dan paradigma masyarakatnya sudah lebih terbukaa….

    Thank youu Kakak, gue tahu lo mikir nulis komennya. Hahaha. Rally appreaciate it :)

  7. johantectona says:

    ihh sok teu deh kamu… :p

    gimana ga mikir coba, tulisannya loh keren banget, kan ga seru klo komennya ngawur semua.. hahaha *padahal komen ku diatas itu APA? ngawurr kabehh
    wkwkwkwk

    masyarakatnya sudah lebih terbuka dengan wanita”nya yang bangga dengan pakaian minimnya :p *apasihh

  8. sucilestari says:

    Huehehe….

    Wanita yang bangga dengan pakaian minimnya tidak lebih baik/lebih buruk dari wanita yang bangga dengan hijab/jilbabnya.

    Setiap orang memiliki preferensinya masing2. Selama itu tidak merugikan orang lain dan tidak melanggar hukum, mari kita hormati saja.

  9. johantectona says:

    setujuuuu… :)

    saling menghargai dan menghormati…

  10. dianratnasari says:

    HEBAT
    mbak suci
    cubit pipi kamu ahhhhh
    keren beneran keren
    gak cuma cerita perjalanan tapi ada legenda2nya
    bisa bikin kita mengulang masa dizamal cerita itu
    hmmmm bener kata masjo,,terbitkanlah buku mbak…
    lalu ajaklah daku berjalan2 ria

  11. dodod says:

    Wahhh…. Kayaknya suci lagi galau nih… Jadi bawaannya klo lagi traveling mellow mulu…. Tapi walaupun lagi mellow gini… Tapi tulisannya ayu tetep berkelas… Paling bisa deh si suci ini matchin srjarah2 di suatu tempat…. Klo dod sih selama ini klo traveling cuman fokus ma foto dan foto… Anyway… Beauty is pain… Klo ganteng pain juga gak ? Jadi khawatir nih… #maksudLoh

  12. sucilestari says:

    @ Dian : Halo..hai..hai..Dian …iiih cubit-cubit sakitt deh, hahaha. Terbitin buku ya ? Pengen sih, tapi gak tahu apa yang mau disampaikan, hahaha. Lulus duluuu di, baru jalan-jalan. Jeda antara kelulusan ma kerja itu pergunakanlah untuk jalan2, kalau dah kerja susah Di…Gak usah jauh2…Di jawa juga banyak tempat bagus, dan kereta api ekonomi harganya sangat murah meriah, dan beswan yang bisa ditumpangi bergelimangan di hampir seluruh penjuru Indonesia :)

    @ Dodod : Iyaa nih Dod, masa kata Mas Jo, gue disuruh memperkuat branding traveler galau, gendeng kan bukannya didorong buat cepet2 move on malah disuruh memperkuat kegalauan. Hahahaha. Gak apa-apa dod, tiap orang punya karakternya masing-masing, aku ajah ngiri sama foto2 di blog Dod, kayaknya pengen kehisep sama tuh foto terus tiba2 sampai disana, hahaha. Kalo ganteng pain gak ya ? Gak tau nih, …hahaha ..tapi Dod gak salonan juga dah ganteng kok, hihi #eh

  13. dodod says:

    Ahahaha…. Branding traveler galau ??? Emang terlalu tuh si jo…. Trus jadinya kapan nih suci mau ngeluncurin buku traveler galaunya? #lhoh….

    Mistis banget mah klo foto2 dod bisa gitu…. Langsung kukuhin diri sendiri jadi dukun….

    Ahahaha…. Salon ??? Oh… Nooooo….

  14. johantectona says:

    si johan itu siapa sih? kok kayaknya dia mucil banget gtu hahaha

    apa salah ku? apa yang membuat aku jadi bahan perbincangan inihhh? hahahahaaa

    suci tulisan galaunya mantep, dodd foto”nya suangarrr.. gmn klo kalian jadian terus buat buku bareng”? hahahha *lagii lagii ampunnnn :D

  15. sucilestari says:

    @ Dodod : Gak akan ada buku traveler galau, biarpun kesannya gue ini galauers tapi gue bukan penggalau kok, I’m just can’t stop questioning about life, hahahaha alibi,,,,kalo mas Dod dukun hubungin aku deh, aku pengen jadi time traveler, hahaha

    @ Johan : Si Johan itu siapa ? Yah elu, hahaha. Emang harus jadian dulu ya buat bikin buku bareng ? :P

  16. johantectona says:

    mungkin dengan kalian jadian dulu ceritanya bisa lebih seru MUNGKIN :p

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

Earth orbits the ...