25 OctBenar-benar Berbatik

Batik Nusantara

Ragam Batik Indonesia

All objects, all phases of culture are alive. They have voices. They speak of their history and interrelatedness. And they are talking at once! – Camile Paglia.

Budaya itu bersuara. Mungkin sekarang ini di negeri kita banyak sekali budaya yang sedang berteriak “tolong gue” karena simpul pesan ke generasi berikutnya terputus di tengah jalan. Seperti halnya bahasa Latin yang sudah punah dan akhirnya terukir nama-nama ilmiah. Adapula yang budaya yang setiap harinya dihadapkan pada sisi redup dan sisi glamor pada saat yang bersamaan. Perumpamaan yang sepertinya sesuai dengan batik Indonesia. Maksudnya?

Tapi sebelumnya kit ke bahasan berikut ini dulu. Sekarang bukan zamannya lagi ikut-ikutan benci, anggaplah semuanya sudah beres tentang klaim negara tetangga. Anggap saja membuat sadar suatu bangsa memang butuh momen yang pahit, kadang-kadang. Sekarang saatnya melihat perkembangan 2 tahun setelah UNESCO mengakui batik sebagai warisan budaya dunia non bendawi Indonesia dan setelah pemerintah menetapkan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional. Euforia batik di mana-mana, kesadaran berbatik semakin hari semakin nyata dengan peraturan Senin berbatik atau Jumat berbatik di banyak instansi. Setidaknya tiap orang sudah punya satu batik di rumah. keep it well

Sepertinya, di batik sudah dianggap sebagai “no-problem culture” dengan indikasi semangat berbatik tadi. Tadinya saya juga berpikiran seperti itu. Dengan bangga saya memakai apa yang orang-orang sebut batik. Sampai suatu hari di bulan Oktober 2010 saya dipertemukan dengan salah seorang staff perusahaan Batik di sekitar Cigadung Raya Timur, Bandung. “Kamu tau nggak batik itu apa?” mbak itu mengetes saya. “Ya yang saya pakai sekarang mbak, yang ada motif-motif khas Indonesia gitu” saya menjawab dengan percaya diri namun di akhir terasa ragu-ragu karena mbak itu menyodorkan kain yang di bingkai yang masih ada lilinnya. “Yang dinamakan batik itu ini, pewarnaannya pakai lilin untuk merintangi warna. Batik itu teknik dan sebutan untuk kainnya.” Mbak itu menjelaskan. “Trus, yang saya pakai ini?” Saya mulai ragu, ragu banget. “Yang itu bukan batik. Itu namanya tekstil bermotif batik atau batik printing, dia pake sablon.” Oke, pernyataan yang cukup #tarakdungces. Sumpah banget, saya ditipu pasar. Again, menyadarkan sesuatu harus dengan momen yang pahit a.k.a saya merasakan momen malu.

img_5296

kiri ke kanan: batik tulis, batik cap, batik printing

Terus yang kebanyakan orang beli di pasar yang katanya batik itu apa? Terus kalau ini bukan batik, kenapa banyak orang yang masih beli dan menganggapnya batik? Oke, saya temukan jawabannya. Mungkin karena banyak orang yang belum tahu bedanya. Atau mereka lebih memprioritaskan ekonomi di atas apresiasi sebuah kesenian.

Sepertinya saya beri istilah saja batik printing ini sebagai budaya KW. Ya seperti sepatu dan sandal KEROKS kali ya, yang asli harganya 600.000 yang KW harganya 100.000. Tapi banyak orang masih memburu yang 100.000 karena mempertaruhkan alasan ekonomi. Namun, Kain batik tidak bisa diparalelkan dengan KEROKS ini. Meskipun bisnis batik printing ini sangat menjanjikan, karena harga murah yang pas untuk pasaran orang-orang menengah ke bawah, namun kehadirannya mengancam keberadaan kebudayaan, apalagi jika kebudayaan itu menjadi tulang punggung ekonomi seseorang. Batik menjadi tulang punggung para pengrajinnya yang saat ini terengah-engah ditengah himpitan ekonomi karena persaingan yang mematikan usaha. Beberapa hari yang lalu saya membaca artikel di web: sumedangkab.go.id:

“Namun pada tahun 2004, usaha Batik Sumedang mulai mengalami penyusutan dan juga kerugian. Terutama setelah populernya tekstil bercorak batik. Bagaimana tidak hal itu tidak terjadi, karena harga selembar batik cap tekstil lebih murah yaitu sekitar Rp 10.000, itu pun ada yang sudah jadi kemeja. ……. Masuknya tekstil bercorak batik mengubah konstelasi batik kesumedangan pun hilang dari pasaran.”

Berawal dari sinilah, saya tidak mau setengah-setangah lagi. Setengah-setangah dalam arti cinta batik namun belum menggunakan batik yang asli. Start buy and wear the “real” batik. Karena dengan menggunakan batik asli, berarti kita benar-benar mengapresiasi usaha para penurun budaya ini (baca: pengrajin). Harga mahal batik bukan dilihat dari kain dasar dan pewarnanya namun kerja keras, kesabaran ketelitian, dan komitmen para pembatik ini. Harga yang masih bisa dijangkau untuk sebuah kain yang bercerita tentang kearifan lokal ini. Memang harganya sedikit lebih mahal, namun kita yang muda juga sering membeli baju dari FO dan distro kan? Kurang lebih, selembar kain batik sama dengan satu buah kaos distro. Affordable.

img_4895

Nyanting itu pengabdian

Setelah begitu banyak pembelajaran berharga dari Djarum Beasiswa Plus tentang softskill, kini saya paham tentang softskill apresiatif. Softskill apresiatif itu mahal dan muncul dengan stimulus dari luar, seperti mahasiswa yang harus digetok dengan nilai E saat ketahuan plagiat. Lumayan harsh

Setelah memakai batik asli, ada beberapa hal lagi yang saya lakukan:

Yang pertama adalah menyampaikan cerita di balik motif batik yang saya miliki. Misalnya cerita pada batik megamendung. Batik megamendung itu adalah simbol perjalanan hidup dari kecil, remaja, dewasa, tua, sampai kita meninggal dan cerita bahwa megamendung itu merupakan simbol akulturasi budaya China dan Islam tentang kehadiran Ong Tjien puteri kekaisaran China yang datang ke Cirebon menemui Gunung Jati. Cerita yang terbungkus dalam motif batik itulah yang membuat batik semakin bernilai.

Yang kedua adalah mengkreasikan desain pakaian. Oya, saya jadi ingat tagline “Yang muda yang berkarya”. Di tengah pandangan masyarakat tentang batik yang dianggap ketinggalan zaman, jadul atau bagaimana mereka mengistilahkan alasan ketidakmauan mereka memakai batik (yang pastinya membuat para perajin batik semakin migrain kayaknya karena beban paradigma kejadulan masih melekat ditambah fenomena batik printing). Ketika menerima selembar kain batik, mulailah mendesain pakaian sendiri. It will be cool, Man. Nggak sebatas buat kondangan dan seminar aja.

img_5299

hoodie batik saya

img_1573

Cardigan Batik buat maen :)

Ngampus time

Ngampus time

Batik touch di formal occassion

Batik touch di formal occassion

Yap, beginilah cara saya mengekspresikan kecintaan saya terhadap batik. Semoga cerita ini menginspirasi. Ceritakan pula kisah “batik dan pengrajin” ini kepada teman-temanmu di luar sana. Tidak hanya ngeblog yang harus dengan hati, tetapi juga berbatik. Melihat dengan mata yang (lebih) luas. My last words:

“Yang lain boleh KW tapi tidak untuk batik”

43 Responses so far.

  1. Sandi Juandi says:

    Kenapa kita baru berbatik ketika batik diresmikan milik Indonesia? :?

  2. fitrianindyasari says:

    Go batik !!!!

  3. anggoro says:

    Batik,warisan kebudayaan Indonesia yang sangat indah dimana sulit bagi negara lain untuk menyainginya. Mari tetap lestarikan batik,mulai mencintai batik, mari kita hargai usaha para Diplomat Indonesia yang telah berjuang mengalahkan ratusan budaya dari beberapa negara lain untuk mendapatkan pengakuan dari UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan Untuk Kebudayaan Lisan dan Non Bendawi.
    Dan yakinlah kawan,bahwa:
    INDONESIA THE GLOBAL HOME OF BATIK

  4. suprayogi says:

    Anggoro: Iya, setuju goro kalau Indonesia is the global home of batik. Meskipun batik juga ada di negara-negara lain seperti Mesir, India, Jepang, motif dan kerumitan dari Indonesia yang paling beragam. Kalau Pekalongan brandnya the world city of batik, sekarang Indonesia yang menjadi global homenya. Saya juga bangga dengan Diplomat Indonesia yang telah berjuang untuk mendapatkan pengakuan Unesco. Oya, Goro bisa cerita nih pengalaman ikut World Batik Summit 2011 nya? hehe.. terimakasih sudah mampir….

  5. suprayogi says:

    Go go go… yo kita mulai menggunakan batik asli Go!!, makasih mbak fitri semangat paginya (soalnya baca komennya pagi-pagi :-))

  6. suprayogi says:

    Sandi: Ya, mungkin butuh waktu dan butuh momen kesadaran. Tapi yang penting sekarang sudah banyak orang-orang yang sadar berbatik. Tahap selanjtnya adalah bersama-sama kita mengenalkan ragam batik dan keaslian batiknya. thanks Sandi, sukses buat kamu. :-)

  7. Rheza Nur Rahman says:

    saya sudah pakai batik sejak kelas satu SD nih, apa termasuk dalam kategori pecinta batik bukan ya?

  8. suprayogi says:

    saya sudah pakai batik sejak kelas satu SD nih, apa termasuk dalam kategori pecinta batik bukan ya?

    Ya gimana ya, kalau kamu pakai pulang sekolah di gerbang seragam batikmu dilepas ya nggak cinta, hehe. This is about yourself, how much you appreciate it. hehe.

  9. astrivina says:

    buat batik tulis itu, selalu ada kisah di dalamnya ya mas. jd inget nenek yg dari tasik yg waktu final loh mas. sedih yah :(

  10. suprayogi says:

    buat batik tulis itu, selalu ada kisah di dalamnya ya mas. jd inget nenek yg dari tasik yg waktu final loh mas. sedih yah :(

    Iya, banyak orang-orang yang telah mengabdikan diri untuk membatik selama hidupnya, seperti nenek yang dapet penghargaan long life achievement perajin batik Jawa Barat.

  11. Ari Kurniati says:

    I Love batik… Real Indonesia..

  12. emilda says:

    thanks for the article…
    well…the cost is always become the big issue underlying this phenomenon. so, personal awareness is needed here :)

  13. Bellia says:

    Aku masih keingetan batik yg d Garut broo…
    Yg merah-item unyu-unyu itu..:D
    Lain kali kalo jalan2 k sentra batik lagi, ajak aku yaa…..heeee

  14. suprayogi says:

    I Love batik… Real Indonesia.

    Ya, it is really Indonesia ri.. apalagi Ari yang tinggal di Jogja, pastinya nggak asing lagi. hehe

  15. suprayogi says:

    Hai emilda, thank you… Ya, the cost becomes the higher consideration.. Know let us think how “cost” versus “appreciation”. Sure, awreness is highly needed.

  16. suprayogi says:

    Aku masih keingetan batik yg d Garut broo…
    Yg merah-item unyu-unyu itu..:D
    Lain kali kalo jalan2 k sentra batik lagi, ajak aku yaa…..heeee

    Ya…perjalanan panas2an nyari Batik yang kitanya aja nggak tau tempatnya, tapi akhirnya nemu banyak. Unforgotble. tar diajakin lagi ya, tapi yang k Cirebon, biar sekalian wisata kuliner sama ke keraton ya. Yang merah item motif batu itu belum di jahit lho, karena masih belum nemu desain pakaiannya, hehee…

  17. Alfonsus D. Johannes says:

    Yup, banyak yang salah kaprah tentang batik emang..

    udah sempet aku komen di blog wana juga sih…

    yang diakui unesco kan tekniknya… jadi kalo kita ga beli batik tulis, lama2 batik tulis kelindes sama batik impor, batik print… :(

    ni juga masih nabung biar bisa beli batik tulis sendiri…

    harus diakui juga harganya gak murah kan batik tulis… makanya banyak orang2 asal beli batik2 padahal ga tau itu batik print :(

    setauku batik tulis itu dilihat dari kedua sisi tetep sama kan ya?

    kalo batik print salah satu sisi pasti lebih gelap alias sama aja kayak pakean kita pada umumnya yg sablonan…

  18. Aeshapadma Ageng Anjani says:

    Wah.. kalo saya setengah nggak setuju nih..

    Dari awal saya setuju dengan tulisanmu, Yog.. Memang orang Indonesia dari jaman penjajahan kudu di GAPLOK dulu baru gerak.. Ibarat anak kecil punya mainan banyak, kalo nggak dimaenin di geletakin gitu aja, tapi pas disentuh orang dia langsung kelimpungan. Entah kapan Indonesia bergerak dewasa..

    Memang cukup #terekdungjess ketika kita dihadapkan dengan definisi asli batik plus keterangan biaya produksi sebagai sentuhan akhir. Dimana nasionalisme pada akhirnya bergulat dengan “ekonomi kerakyatan”.. mengingatkan saya dengan pergulatan SBY vs Mega.. well.. out of topic kayaknya..

    Kembali ke komen.. disinilah awal mula kesetengah-tidak-setujuan saya.. Selembar batik tidak hanya dilihat dari nilai produksi, tapi juga nilai makna dari batik itu sendiri. Seperti halnya kimono dan yukata di jepang, banyak kimono dan yukata “sablon-an” yang dijual murah, tetapi penrajin kimono tidak lantas gulung tikar. Kondisi seperti itulah yag sebenarnya saya harapkan. Dimana secarik batik dinilai lewat makna motif dan proses pembuatannya. Disaat dirimu memakai batik “asli” untuk kerja, saya bersikeras memakainya di acara formal, karena saya ingin menghormati setiap jengkal makna dari batik itu sendiri. secarik batik asli akan saya kenakan ketika saya wisuda, menikah, menghadiri pernikahan, dan sebagainya..

    Jangan turunkan “harga” batik dengan memaksa pengrajin membuat batik tulis “murah meriah”. Jadikan batik sesakral yang seharusnya. Biarkan sablonan menghiasi jum’at dan sabtu, namun setiap tetes keringat “cantrik” batik harus ditempatkan pada perhormatan yang seharusnya.

  19. luthfirahinal says:

    batik adalah teknik desain grafis tingkat tinggi…

  20. munira says:

    yay!! batik~

  21. Habibah says:

    Aku awalnya ga begitu suka batik loh, tapi ternyata di Indonesia corak batiknya banyak dan beda-beda, daan ternyata aku suka yang dari daerah-daerah Kalimantan. so when it comes to batik, no worries, so many styles, so many patterns, so many way to express yourself and to show your nationalism! :)

  22. suprayogi says:

    Yup, banyak yang salah kaprah tentang batik emang..

    udah sempet aku komen di blog wana juga sih…

    yang diakui unesco kan tekniknya… jadi kalo kita ga beli batik tulis, lama2 batik tulis kelindes sama batik impor, batik print… :(

    ni juga masih nabung biar bisa beli batik tulis sendiri…

    harus diakui juga harganya gak murah kan batik tulis… makanya banyak orang2 asal beli batik2 padahal ga tau itu batik print :(

    setauku batik tulis itu dilihat dari kedua sisi tetep sama kan ya?

    kalo batik print salah satu sisi pasti lebih gelap alias sama aja kayak pakean kita pada umumnya yg sablonan…

    Iya mas, UNESCO mengakui tekniknya karena BATIK ADALAH TEKNIK bukan motifnya. Nah, batik yang asli ada dua macam cap dan tulis. Memang batik tulis lebih mahal karna pengerjaannya sangat inticrate dan lama karena njlimet. dan biasanya dikerjakan bolak balik, makanya di dua sisinya tetap sama. Tetapi ada batik cap yang mencetak motif dan lilinnya menggunakan cap yang terbuat dari tembaga. yang itu harganya kisaran 50an sampai ya sekitar 100an. Affordable.

  23. suprayogi says:

    Yup, banyak yang salah kaprah tentang batik emang..

    udah sempet aku komen di blog wana juga sih…

    yang diakui unesco kan tekniknya… jadi kalo kita ga beli batik tulis, lama2 batik tulis kelindes sama batik impor, batik print… :(

    ni juga masih nabung biar bisa beli batik tulis sendiri…

    harus diakui juga harganya gak murah kan batik tulis… makanya banyak orang2 asal beli batik2 padahal ga tau itu batik print :(

    setauku batik tulis itu dilihat dari kedua sisi tetep sama kan ya?

    kalo batik print salah satu sisi pasti lebih gelap alias sama aja kayak pakean kita pada umumnya yg sablonan…

    Iya mas, UNESCO mengakui tekniknya karena BATIK ADALAH TEKNIK bukan motifnya. Nah, batik yang asli ada dua macam cap dan tulis. Memang batik tulis lebih mahal karna pengerjaannya sangat inticrate dan lama karena njlimet. dan biasanya dikerjakan bolak balik, makanya di dua sisinya tetap sama. Tetapi ada batik cap yang mencetak motif dan lilinnya menggunakan cap yang terbuat dari tembaga. yang itu harganya kisaran 50an sampai ya sekitar 100an. Affordable.

  24. suprayogi says:

    Wah.. kalo saya setengah nggak setuju nih..

    Dari awal saya setuju dengan tulisanmu, Yog.. Memang orang Indonesia dari jaman penjajahan kudu di GAPLOK dulu baru gerak.. Ibarat anak kecil punya mainan banyak, kalo nggak dimaenin di geletakin gitu aja, tapi pas disentuh orang dia langsung kelimpungan. Entah kapan Indonesia bergerak dewasa..

    Memang cukup #terekdungjess ketika kita dihadapkan dengan definisi asli batik plus keterangan biaya produksi sebagai sentuhan akhir. Dimana nasionalisme pada akhirnya bergulat dengan “ekonomi kerakyatan”.. mengingatkan saya dengan pergulatan SBY vs Mega.. well.. out of topic kayaknya..

    Kembali ke komen.. disinilah awal mula kesetengah-tidak-setujuan saya.. Selembar batik tidak hanya dilihat dari nilai produksi, tapi juga nilai makna dari batik itu sendiri. Seperti halnya kimono dan yukata di jepang, banyak kimono dan yukata “sablon-an” yang dijual murah, tetapi penrajin kimono tidak lantas gulung tikar. Kondisi seperti itulah yag sebenarnya saya harapkan. Dimana secarik batik dinilai lewat makna motif dan proses pembuatannya. Disaat dirimu memakai batik “asli” untuk kerja, saya bersikeras memakainya di acara formal, karena saya ingin menghormati setiap jengkal makna dari batik itu sendiri. secarik batik asli akan saya kenakan ketika saya wisuda, menikah, menghadiri pernikahan, dan sebagainya..

    Jangan turunkan “harga” batik dengan memaksa pengrajin membuat batik tulis “murah meriah”. Jadikan batik sesakral yang seharusnya. Biarkan sablonan menghiasi jum’at dan sabtu, namun setiap tetes keringat “cantrik” batik harus ditempatkan pada perhormatan yang seharusnya.

    esa, I LOVE your constructive comment. Iya, setuju banget (1) kalau melihat batik tidak dari harganya, tapi dari maknanya. Benar banget karena batik pada dasarny adalah simbol filosofis kerja keras dan pengabdian. batik juga kain yang bercerita tentang kearifan lokal setempat. Seandainya ada cara yang sederhana yang kita semua bisa lakukan untuk lebih mengendorse nilai batik, yakni ketika kita mampu bercerita tentang kain batik yang kita beli.

    (2) memakai batik untuk kerja versus formal. I like your way of choice untuk menempatkan kesakralan batik pada tataran “moment”2 paling indah manusia. Namun, dalam situasi kerja atau kuliah, saya menunjukan bahwa batik itu applicable. Menempatkan batik sebagai fashion yang bisa menyentuh momen-momen kehidupan manusia yang lain selain tujuan branding batik itu sendiri.

    (3) Tentang jangan turunkan harga. iya saya setuju. dari segi ekonomi sebenarnya upah pembatik itu juga masih belum sesuai dg kerja kerasnya. Dan biarkan harga batik tulis segitu..

  25. suprayogi says:

    batik adalah teknik desain grafis tingkat tinggi…

    Wah a good quote ini. boleh minta tolong dijelasin lagi kenapa batik menjadi teknin desain grafis tertinggi menurut kamu?

  26. Bayu Setyawan says:

    menarik temanya,,saya ga ngerti soal batik, tau dikit Pas diajak muter” di garut buat liat batik garutan,,saya suka batik dari dulu sebelum rame negara sebelah mengklaim (gagal juga). dari segi Ekonomi (background kulo), batik punya potensi besar untuk jadi bidang UKM (mikro) bahkan Makro asal pengelolaannya bener dan pola masyarakat stabil. pola konsumsi masyarakat yg saya maksd, selama ini masyarakat Indonesia saya perhatikan lebih konsumen Anget-anget mbele pete, mungkin kalo gada kasus yg super wah, batik tetap stag. saya mengucapkan terimakasih kepada Malaysia, karena telah menyadarkan Rakyat Indonesia kalo mereka itu punya harta, warisan leluhur yg gada duanya, walaupun caranya saya katakan nyeleneh (orang malaysia bisanya apa)???hehehhehe

  27. suprayogi says:

    munira suka batik juga?

  28. suprayogi says:

    Itu sebuah pilihan untuk suka batik mana. I agree that

    so many way to express yourself and to show your nationalism!

  29. Alfonsus D. Johannes says:

    @yogi

    Iya.. smoga masyarakat juga sadar untuk tidak membeli batik2 impor dan batik2 print.. agar budaya membatik tetap hidup :D

  30. suprayogi says:

    menarik temanya,,saya ga ngerti soal batik, tau dikit Pas diajak muter” di garut buat liat batik garutan,,saya suka batik dari dulu sebelum rame negara sebelah mengklaim (gagal juga). dari segi Ekonomi (background kulo), batik punya potensi besar untuk jadi bidang UKM (mikro) bahkan Makro asal pengelolaannya bener dan pola masyarakat stabil. pola konsumsi masyarakat yg saya maksd, selama ini masyarakat Indonesia saya perhatikan lebih konsumen Anget-anget mbele pete, mungkin kalo gada kasus yg super wah, batik tetap stag. saya mengucapkan terimakasih kepada Malaysia, karena telah menyadarkan Rakyat Indonesia kalo mereka itu punya harta, warisan leluhur yg gada duanya, walaupun caranya saya katakan nyeleneh (orang malaysia bisanya apa)???hehehhehe

    nanti aku ajak muter-muter lagi ya, tapi ke Tasik, hehe, atau ke Paoman Indramayu. Batik sekarang semakin dilirik untuk dijadikan usaha. Tapi harus tau pakem-pakemnya juga.

    “Anget-anget mbele pete” istilah ini bikin ngakak… :D

  31. suprayogi says:

    Iya.. smoga masyarakat juga sadar untuk tidak membeli batik2 impor dan batik2 print.. agar budaya membatik tetap hidup :D

    amin amin amin. Istilahnya sih batik impor, tapi ya gitu. Tapi pemerintah nggak bisa melarang juga ya mas, karena itu juga menjadi bidang ekonomi yang menggiurkan. Kalau mau ekstrim sih kayanya belum saat ini (untuk banning printed batik)

  32. irwansitinjak says:

    jadi benar-benar berbatik itu bukan cuman tekniknya doang ya? :D

    mampir sini dong mas e :D

  33. suprayogi says:

    benar. batik memiliki makna filosofisnya. Dan arti batik adalah kain atau teknik.

  34. Wana Darma says:

    daripada kita harus beli batik asli dan ga beli batik print bukannya mending beli batik print yah? At least si KW bakal tetep ada?

    aku setahun terakir gapernah beli baju, bahkan si distro itu..

  35. suprayogi says:

    daripada kita harus beli batik asli dan ga beli batik print bukannya mending beli batik print yah? At least si KW bakal tetep ada?

    aku setahun terakir gapernah beli baju, bahkan si distro itu..

    kalau menurut saya itu pilihan pribadi mas, untuk beli yang mana. Kalau saya tetap beli batik yang asli. Karna ada beberapa tipe orang:1. orang yang suka batik tapi nggak punya uang cukup, jadi beli kain batik bermotif batik aja. 2. ada orang yang suka batik tapi belum tau mana yang batik dan yang bukan. Karena mekanisme pasar yang kurang mendidik, akhirnya mereka beli yang kain bermotif batik. 3. orang yang tahu batik dan membeli yang asli. Memang segala sesuatu bisa di KW, tapi menurut saya tidak bisa jadi paralel example buat batik. Ya, meskipun kenyataannya berbeda. masalah batik cukup complicated dari segi pengrajin sampai ke pasaran.

  36. KharisaHabibie says:

    Batik itu.. SESUATU.. :D

  37. Ihsan Nur Iman Faris says:

    Semoga makin banyak orang membatik , jadi batik yang berkualitas bisa gampang dicari n mungkin bisa jadi lebih murah . . .hehehe

  38. suprayogi says:

    Batik itu.. SESUATU.. :D

    alhamdulillah juga ya cha. yap sesuatu beud..

  39. suprayogi says:

    Semoga makin banyak orang membatik , jadi batik yang berkualitas bisa gampang dicari n mungkin bisa jadi lebih murah .

    amin amin. iya, biar harganya bisa bersaing. Kalau harga turun, mungkin agak tergantung bahan baku kali ya sa yan. :)

  40. Fikha Lutfi says:

    Batik…
    karena kita berfikir maka kita punya Batikly..
    (sedikit iklan :p)

  41. suprayogi says:

    Batik…
    karena kita berfikir maka kita punya Batikly..
    (sedikit iklan :p)

    hayooo… nggak masa numpang iklan di sini. this is non-comercial one fikha, hehehe

  42. Heriyanto says:

    to be honest kak, aku gx tw loh kak ttg ap itu batik?dan aku hnya follower aj untuk ikt memakai batik stlh aku lht2 batik it bgus jg untk dipakai tetapi memng aku jg sempat berpikir kain2 tenun itu koq jdina sprti in ya?
    dan kembli lgi pda budaya lampung akan kain tapis yg saat itu aku dgn mbak intan mengadakan survei usha terhdp kain tapis lampung dan kami bertnya mslh produksi kain tapis tsb dan ckup kaget dgn hrga kain tapis smpe jutaa rupiah dan pembelina memnk masyrakat kalangan kelas atas dan para turis .
    so bingung jg c kak gmn kita mke the real apbla kondisi ekonomi tdk mendukung?

  43. suprayogi says:

    to be honest kak, aku gx tw loh kak ttg ap itu batik?dan aku hnya follower aj untuk ikt memakai batik stlh aku lht2 batik it bgus jg untk dipakai tetapi memng aku jg sempat berpikir kain2 tenun itu koq jdina sprti in ya?
    dan kembli lgi pda budaya lampung akan kain tapis yg saat itu aku dgn mbak intan mengadakan survei usha terhdp kain tapis lampung dan kami bertnya mslh produksi kain tapis tsb dan ckup kaget dgn hrga kain tapis smpe jutaa rupiah dan pembelina memnk masyrakat kalangan kelas atas dan para turis .
    so bingung jg c kak gmn kita mke the real apbla kondisi ekonomi tdk mendukung?

    Kalau menurut aku gini her, agar tetap bisa kejual untuk menengah kebawah, leih baikkita modify tapisnya. Yang lebih applicable. Kita cari benda-benda yang bisa dikreaskan dengan tapis. Atau explor tapisnya ke arah yang lebih kontemporer tapi tidak meninggalkan kesan tapisnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Before you post, please prove you are sentient.

what is 7 in addition to 6?