28 OctDari Merasa Pusing Sampai Menjadi Pintar (Karena Budaya)

Silatnas Beswan Djarum 25. So Indonesia

Silatnas Beswan Djarum 25. So Indonesia

Saya mendapat kalimat ini di www.djarumbeasiswaplus.org “Beswan Djarum mengekspresikan ragaman budaya Indonesia dalam kehidupan sehari-hari” untuk sub tema blog competition Beswan Djarum 2011. Nah loh, mau nulis apa.

Saya awali tulisan ini dengan kata “pusing”

Pusing karena ada sebuah “kata” yang selalu ada dipikiran saya dari mulai bangun sampai tidur lagi, setidaknya sampai akhir bulan Oktober ini. Sumpah. Kalau diibaratkan pikiran saya tentang kata itu adalah balon, nggak tau udah segede apa, GUEDDEEE BANGET. kata itu adalah B.U.D.A.Y.A. Terimakasih Tuhan dan terimakasih sebesar-besarnya buat seseorang yang menciptakan kata ini di negara manapun, kau telah membuat saya p***** (pusing, pintar).

Budaya itu mencakup pikiran, adat istiadat, kebudayaan yg sudah berkembang, dan sesuatu yg sudah menjadi kebiasaan yg sudah sukar diubah (KBBI, 2011) . Meskipun sudah dibatasi oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia, tapi budaya itu memiliki batas-batas yang samar, subyektif, dan semaunya sesuai tempat.

Kemudian saya mencerna lagi kata itu dengan menambah satu kata dibelakangnya menjadi “budaya Indonesia”.

  1. Budaya = pikiran. Luas juga. Akhirnya saya coret #takutnggakbisatidur
  2. Budaya = Adat Istiadat. Yang terbayang adalah tarian, nyanyian, alat musik, tata krama, norma sosial, upacara daerah-daerah Indonesia. Terbayang.
  3. Budaya = kebudayaan yang sudah berkembang. Masih bingung karena Korean-Pop dan Valentine Day juga ada di Indonesia.
  4. Budaya = sesuatu yg sudah menjadi kebiasaan yg sudah sukar diubah. Datang terlambat, buang sampah di sungai tar malah termasuk.

Oke, jadinya saya memakai definisi yang kedua aja (Budaya = Adat Istiadat). Selanjutnya, berpikir mengekspresikan ragam adat istiadat Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Mulai merhatiin tiap propinsi punya lagu daerah apa, bahasa apa, upacara apa, alat musik apa, dll yang berhubungan dengan wisata aja pokoknya. Lalu merhatiin bapak ibu saya dulu ngajari apa saja dari bangun sampai tidur. Terus mikirin saya punya salah apa sama orang sampai kadang dimarahin dan malu ditengah orang-orang. Apa ya apa ya ekspresi budaya, yang continuous, yang tadinya tak terasa, yang tidak tampak. Dan akhirnya saya menemukan tiga bahasan untuk diangkat.

Pertama adalah budaya yang sudah diterapkan yang paling lama dan bersumber paling dekat, yakni budaya makan. Saya ungkapkan bagaimana saya yang dibesarkan di lingkungan masyarakat Jawa diajarkan tatacara makan yang diterima. Ekspresi budaya yang sederhana tapi memegang peranan penting karena makan mengandung fungsi sosial yang beragam, that is, salah satu dasar penilaian kepribadian.

makan yang luar biasa sampai kebiasaan makan, seperti takir ini

makan yang luar biasa sampai kebiasaan makan, seperti takir ini

Tata cara makan Jawa ini mengantarkan saya untuk memahami perbedaan antar budaya. Dengan berkomunikasi yang lebih luas dengan orang-orang di luar sana akhirnya saya menyadari pentingnya identitas keberagaman. Sebuah pertanyaan yang saya temukan ketika saya menginjak usia dewasa, dan mungkin juga dirasakan oleh teman-teman saya yang lain. Di sinilah saya bertanya tentang siapa saya dan akhirnya menemukan sikap yang saya harus ambil dari kehidupan yang berada titik singgung dua sampai tiga budaya: Berbudaya Jawa-Lampung-Sunda. Tulisan ini saya kupas sebagai upaya memberikan stance apa yang bisa dilakukan.

Pikiranku berputar seperti mainan tradisional ini

Pikiranku berputar seperti mainan tradisional ini

Semakin luas budaya yang saya kenal akhirnya saya menengok ke warisan budaya yang sangat Indonesia yang sudah mendunia, yaitu batik. Namun budaya yang satu ini masih miris. Miris karena pasar telah membutakan masyarakat tentang batik asli dan saya kena imbasnya. Bangga berbatik dari mulai SMA tapi ternyata itu bukan batik, akhirnya benar-benar berbatik sejak satu tahun yang lalu, Oktober 2010, dari batik kasual sampai formal.Tulisan ini mencoba membuka fenomena yang tak kasat mata sebagai wujud kecintaan saya terhadap batik.

Berbatik itu keren :)

Berbatik itu keren :)

Ekspresi budaya inipun sebenarnya sudah kita lakukan tanpa sadari karena sudah menjadi kebiasaan dari orang tua. Namun adapula ekspresi budaya yang kita temukan sendiri ketika kita melihat sambil berpikir. Dan adapula ekspresi budaya yang harus kita luruskan ketika banyak faktor berusaha menyimpangkannya demi kepentingan yang lain.

Beragam cara orang-orang mengekspresikan budaya yang mereka miliki yang mereka cintai dan yang mereka satu, tapi ada satu kunci untuk mengharmoniskan yang satu dengan yang lain, yakni dengan intercultural communication competence, yakni peka terhadap perbedaan dan paham cara menghadapinya.

So, it is done. Yeay… :)

Harmony in Diversity of Beswan Djarum

Harmony in Diversity Beswan Djarum

Saya akhiri tulisan ini dengan kata “pintar”

Pintar karena ada sebuah “kata” yang akan selalu membuat saya bangga dengan negeri sendiri dari bulan Oktober ini dan seterusnya. Sumpah. Kalau diibaratkan pikiran saya tentang kata itu adalah balon, nggak tau udah segede apa, GUEDDEEE BANGET. Pikiran dari keluarga, lalu kedaerahan, lintas daerah, nasional sampai mendunia. Kata itu adalah BUDAYA. Terimakasih Tuhan dan terimakasih sebesar-besarnya buat seseorang yang menciptakan kata ini di negara manapun, kau telah membuat saya p***** . PINTAR. Budaya membuat saya pintar.:-)

Post Tagged with ,

12 Responses so far.

  1. irwansitinjak says:

    kalau gitu mari kita ciptakan budaya PINTAR, atau budaya pusing juga boleh ;p

    mampir mari gan :D

  2. suprayogi says:

    kalau gitu mari kita ciptakan budaya PINTAR, atau budaya pusing juga boleh ;p

    budaya pintar oke, budaya pusing mah jangan banggg.. hhehee

  3. budiariyanto says:

    bahkan sehebat apapun seorang pakar dalam mendefinisikan makna budaya, tak akan ada yg mampu… karena budaya itu lengkap, bukan sepotong2…

  4. suprayogi says:

    bahkan sehebat apapun seorang pakar dalam mendefinisikan makna budaya, tak akan ada yg mampu… karena budaya itu lengkap, bukan sepotong2…

    Iyap. benar mas. Budaya itu nggak sepotong-sepotong. :)

  5. ahmadzikra says:

    agar jangan pusing-pusing dan semoga menjadi semakin pintar. mari lestarikan aja itu budaya.. :)

  6. Fikha Lutfi says:

    mari menjadi masyarakat yang berbudaya dan mencintai budaya :D

  7. deboraariani says:

    kalau Ebbie munculnya budaya pusing.. pusing mikirin ini dan itu.. galau ini dan itu..

    Kalau soal budaya kayanya lebih enak ke hal yang emang udah menjadi suatu kebiasaan dengan kita.. bener ga sih mas? hehe

  8. suprayogi says:

    agar jangan pusing-pusing dan semoga menjadi semakin pintar. mari lestarikan aja itu budaya..

    bener-bener mas, mari bantu lestarikan budaya (yang baik-baik)

  9. suprayogi says:

    mari menjadi masyarakat yang berbudaya dan mencintai budaya

    mariiiii :D

  10. suprayogi says:

    kalau Ebbie munculnya budaya pusing.. pusing mikirin ini dan itu.. galau ini dan itu..

    Kalau soal budaya kayanya lebih enak ke hal yang emang udah menjadi suatu kebiasaan dengan kita.. bener ga sih mas? hehe

    hahaha… galau juga Ebbie nih, jangan galau dong. Pusing belajar budaya koq galau, Iyap.. mngenal budaya baru bakal lebih cepat ke sesuatu yang udah dekat dengan kita. Makasih ebbie.

  11. Ferdinand Hidayat says:

    orang berbudaya pasti orang kreatif yang pintar. tapi orang pintar belum tentu berbudaya. :)

  12. suprayogi says:

    orang berbudaya pasti orang kreatif yang pintar. tapi orang pintar belum tentu berbudaya. :)

    Iya. aku setuju dengan kamu nand,,,harus seimbang kreatifitas dengan pemahaman budya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Before you post, please prove you are sentient.

what is 9 in addition to 4?