23 AugYudha, Traveling Karena Tenun

Koleksi tenun Yudha

Yudha

Biasanya nih, saya mau traveling ke suatu tempat karena pengen banget ngerasain pantai yang biru, liat sunset, beli oleh-oleh, liat bangunan bersejarah dll. Nah, temen saya yang satu ini punya alasan yang lumayan beda dari kebanyakan orang, nggak mainstream kaya saya, hehe. Hobinya memang traveling, tapi ada satu tujuan yang harus dicapainya, yaitu mendapatkan kain tenun. Dia adalah Wahyu Perdana Saputra, yang kerap disapa Yudha. Menjadi mahasiswa desain membuat dia mengenal banyak tentang kain-kain nusantara, salah satunya tenun.

Saya: Dha, kenapa si suka banget sama tenun?

Yudha: Suka karena tiap jenis tenun itu punya karakter masing-masing.

Saya: Maksudnya?

Yudha: Iya gi, jadi ada tenun yang flat seperti sarung atau lurik, ada yang timbul seperti songket, dan bahkan ada yang tenunanya bolong-bolong seperti bentangan dari Bali. Teksturnya juga beragam, sesuai dengan tenunan yang dihasilkan.

Saya: Sekarang udah punya berapa tenun?

Yudha: Sekarang udah nyampe 20an. Tenun pertama saya dibeli di pameran di Bandung. Tenun harganya mahal gi, jadi untuk dapet lagi yang baru ya harus nabung dulu hehe.

Saya: (ikutan ber”hehe”) Dari mana aja itu, dha?

Yudha: ada yang dari Palembang (songket limar), dari Lampung (tapis), dari Baduy (aros), Jepara (tenun troso), Timor (tenun boti), tenun songket Lombok, Bali (Endek), sama dari Sumba (Pahikung).

Bagus banget

Bagus banget

Pengen beli

Pengen beli

Indonesia banget ya

keren

Saya: wow.. kalo boleh tau ada nggak si mimpi atau cita-cita dibalik ngumpulin tenun-tenun tadi?

Yudha: ada.. pengen bisa jalan-jalan keliling Indonesia dari Sabang sampai Merauke sambil hunting kain. Hehe

Saya: Arti atau filosofi tenun buat Yudha apa?

Yudha: Tenun mengajarkan kesabaran. Kebayangkan gi, ngebentangin benang satu persatu sampai jadi kain yang utuh dan cantik

Saya: hm… bener banget. Masih dilakukan secara tradisional ya dha, salut…

Yudha: nggak mau beli tenun machinal gi. Dengan beli tenun tradisional kita juga berkontribusi atas kesejahteraan pengrajin dan kelangsungan budaya dan kesejahteraan perajin.

Saya: Yap, pencerahan banget da. Rencnanya pengen kemana lagi?

Yudha: pengen ke Nusa Tenggara gi

Saya: aaa pengen, nabung heula

Yudha: Hayuk

The Philosphy

Mungkin dari sini kita bisa belajar menjadi traveler yang memahami originalitas dan kesejahteraan. Bahwa di setiap kita merasakan suatu kebudayaan, kita coba mengerti lebih dalam, membayangkan lebih jauh dari benda yang kita nikmati, flashback bagaimana benda itu ada dan kemudian menjadi sebuah maha karya. Seperti tenun ini, dimana masih ada orang-orang yang mempertahankan originalitas, dan mengandalkan hidupnya lewat originalitas itu, yang layaknya bisa dihargai oleh kita para traveler. Thanks Yudha buat sharing cerita-ceritanya. Dear readers, semoga bermanfaat ya.

note: Photo by Wahyu Perdana Saputra

Post Tagged with ,

3 Responses so far.

  1. tristyantoprabowo says:

    Yogi, mau koreksi dikit gapapa ya :) tenun yang dari Jepara itu namanya tenun Troso Gi, itu nama desa dimana banyak perajin tenun, Beswan Kudus juga ada yag dari daerah Troso Gi he…. aku punya satu tuch baju tenun Troso hehe…. (pamer) :P

  2. suprayogi says:

    Iya ya.. oke, nanti tak benerin. makasih ya mas :)

  3. tristyantoprabowo says:

    siiip :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Before you post, please prove you are sentient.

what is 2 + 4?