31 AugWajah-wajah Wisata Kediri

Yaeh, Finally Kediri. Sebenarnya mimpi mengunjungi Kediri sempat terkubur seiring raibnya Blackberry saya di acara tahun baruan 2012 lalu berikut kontak teman masa kecil saya yang tinggal di sana. Tapi, inilah berkah Ramadhan tahun ini. Sebuah sms masuk dari nomor tanpa nama tapi rasanya tak asing. Iya benar, sms itu dikirim dari teman kecil saya, Agung. “Aaaakk kenapa pas banget gini”, pas free, pas baru dapet rejeki. Obrolan berlanjut hingga akhirnya saya memenuhi janji saya semasa kuliah dulu – bertandang ke Kediri. Dengan segala persiapan, akhirnya izin orang rumah approved, tiket kereta booked, pakaian packed. Yes, I’m ready, menuju stasiun Bandung. Oya, itinerary juga sudah dibuat. Terimakasih Dinas Pariwisata Kediri, website panjenengan bisa diandalkan.

Bandung at 3 p.m.

Bandung at 3 p.m.

Kenikmatan sebuah travelling adalah “it forces you to trust stranger”, kata Cesare Pavese. Bertemu dengan seorang Ibu yang akan menjemput anaknya di Pesantren Gontor membawa saya pada obrolan ngalor-ngidul menyenangkan, terutama masalah agama, padahal saya baru bertemu dengan beliau. Dari sini saya percaya dalam niat baik perjalanan saya, akan dikelilingi pula dengan orang baik. Rasanya tiket seharga Rp 175.000,- ini memberi saya service yang lebih, service yang memberi saya pandangan baru tentang traveling.

Kediri 4 a.m.

Kediri 4 a.m.

Kereta Malabar Express ini berhenti di stasiun Kediri pukul empat pagi. Manusia-manusia di stasiun sangat bisa dihitung dengan jari. Lengang, bahkan saya tidak melihat petugas PT. KAI. Memasuki lorong penyambung antara stasiun dan tempat parkir, saya dihadang oleh sekawanan orang berbaju kuning, sekitar 10 orang, Oalah, ternyata tukang becak. “Ngapunten nggih Pak, kulo mpun dijemput” (Maaf ya Pak, saya sudah dijemput).

Welcome to my consecutive travelling. Dua teman baru saya, Lina dari Trenggalek dan Sulis dari Jombang sudah siap. Agung siap jadi pak sopir. Let’s go.

Pare, The Village of English

Sepanjang jalan Brawijaya ini, suasana kampung belajar sangat hidup dengan lalu lalang sepeda keranjang yang digowes para remaja, seperti nuansa kota pendidikan Jogja. Inilah Pare, sebuah kampung yang menyediakan banyak sekali lembaga belajar Bahasa Inggris, dari mulai conversation, grammar, TOEFL, public speaking sampai cruisship interview dengan harga yang sangat murah, kisaran 100 ribu/ dua minggu setiap hari. Untuk biaya hidup hitung-hitung saja, bayangkan di sana masih bisa makan Rp 5.000,00 per sekali makan. Menyewa camp sekitar Rp 170.000,00/ bulan dan untuk sepeda Rp 100.000/ bulan. “Murah banget kan!!.” Traveling and learning in one step.

Sepda Keranjang, ingat masa SD

Sepeda Keranjang, ingat masa SD

Ada puluhan Lembaga sejenis ini

Ada puluhan Lembaga sejenis ini di Pare

Saya sempat meng-update status BBM “@Pare, Village of English”, teman-teman Bandung banyak yang bertanya “Gi, beneran ya di situ orang-orangnya ngomong pake bahasa Inggris?” Perkenalan saya dengan salah seorang mentor bahasa Inggris bernama Citra menjawab semuanya. Citra bilang kalau Pare diisi remaja SMA dan anak kuliahan dari berbagai daerah di Indonesia yang memang ingin belajar dari dasar. Mereka bisa memilih camp/kosan yang memberlakukan English Zone setiap hari atau camp biasa. Jadi, tidak semuanya ngomong pake Bahasa inggris. Citra juga cerita kalau di salah satu camp hukuman terberat jika melanggar English Zone adalah dimandikan rame-rame di depan camp.” Apah, mau dong!! #eh”. Kalau lagi singgah di Pare, jangan lupa mencoba kuliner nasi tumpang dan pentol atau bakso tusuk.

Distro sejenis Cakcuk, Dagadu atau Joger

Distro sejenis Cakcuk, Dagadu atau Joger di Pare

Dengan penuh kesomombongan tadinya saya tidak percaya ada tempat seunik ini di Kediri, daerah yang saya pikir pedesaan dan penuh masyarakat penutur bahasa Jawa. Seketika sampai di sini, ego saya rontok, when you are travelling, there are lots of places challenge the world believes. Sebuah daerah yang terus bertahan dan menjaga identitas tak akan peduli dengan perbedaan tajam di lingkungannya, dan terus membuat orang ingin tahu di dalamnya. Mungkin seperti Baduy yang tetap mengakarkan budayanya dan bertahan di tengah pergolakan zaman.

Brantas dan Wisata Air

Sedan Hyundai ini melaju pelan melewati jembatan Lama. Beberapa detik saya berada di atas sungai Brantas yang lebar, tenang, bersih, biru. Rasanya pengen cari ban dan nyebur. Brantas adalah sungai terbesar kedua di Jawa yang melintasi pertengahan kota Kediri. Mirip seperti Citanduy, sungai yang melintasi Kota Banjar. Entah mengapa, Sungai selalu dikaitkan dengan sejarah kerajaan masa lalu. Kalau Citanduy menjadi saksi sejarah Kerajaan Galuh, Brantas menjadi saksi sejarah kerajaan agraris Kanjuruhan. Jadi berkhayal ingin menggali dasar kali, siapa tau ada harta karun, hehe. Kalau saja saya datang pertengahan Juli lalu, pasti bisa liat pesta Larung Sesaji- semacam pesta sedekah bumi gitu dengan acara berebut tumpeng raksasa di tengah-tengah sungai di hari jadi Kota Kediri. But this is more than enough.

Brantas kala sore

Brantas kala sore

Keindahan ini membuat pinggiran sungai Brantas dipenuhi oleh gubug-gubug bambu yang dibangun untuk tujuan rekreasi. Ketika matahari mulai terbenam, lampu di gubug-gubug mulai menyala, menerangi pengunjung yang semakin banyak berdatangan. Cocok kalau bawa pacar, haha. Kawasan ini diberi nama Wisata Air Panjalu Joyoboyo. Nama Panjalu Joyoboyo diambil dari sejarah kerajaan Kediri. Panjalu adalah nama pecahan kerajaan Kediri, sedangkan Joyoboyo adalah raja Kediri yang menulis kitab ramalan masa depan”Jongko Joyoboyo”. Terimakasih Pemerintah yang telah mengikat nama “Panjalu Joyoboyo” di pinggir sungai ini, agar wisatawan baru jadi bertanya “siapakah Panjalu Joyoboyo?”, lalu diceritakanlah kisah itu dan semakin abadi dikenang banyak orang akhirnya.

Brantas berlatar GG (Ups kompetitor)

Brantas berlatar GG (Ups kompetitor)

Sebuah Klenteng di tikungan Yos Sudarso

Sebenarnya tujuan saya melewati Jalan Yos Sudarso adalah untuk memenuhi rasa penasaran saya terhadap stick tahu, tahu Takwa dan tahu Pong, tapi begitu melewati tikungan, saya melihat Klenteng. Saya menyuruh Agung menepi, lalu mengajak Lina masuk Klenteng.

Gapura masuk

Gapura masuk

Klenteng ini bernama Tjoe Hwie Kiong, salah satu cagar budaya yang berada di bawah pengawasan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur. Klenteng ini termasuk Klenteng Tridarma – Klenteng untuk umat Tao, Budha, dan Konghucu. Dominasi warna merah-kuning, lampion, altar, dan mural-mural khas Cina membuat saya malu-malu untuk masuk rumah ibadah yang jarang sekali saya rambah. Rasanya tidak enak juga ya memandangi orang yang ibadah. Ada sebuah patung besar di tengah-tengah halaman Klenteng ini. Ternyata itu adalah patung dewa penolong dan welas asih Makco Thian Siang Sing Boo, yang didatangkan langsung dari Desa Buthien, Cina. Megah dan tertata. Ya, inilah yang membuat saya belajar tentang arti rumah ibadah, dibuat seindah mungkin untuk wujud terimakasih, dan berpakaian sebaik mungkin menghadap ketika menghadap Tuhan.

Berdoa untuk yg terbaik

Berdoa untuk yg terbaik

Sore-sore di Aloon-aloon

Lina dan Sulis mengajak saya ngabuburit di Aloon-aloon (baca: Alun-alun). Biasanya, komplek alun-alun terdiri dari lapangan luas, masjid Agung, dan pusat jajanan tenda seperti yang saya lihat di Sumedang dan Garut. Tapi Alun-alun Kediri sedikit berbeda, zaman dahulu alun-alun ini memang berupa lapangan luas dengan beberapa pepohonan, tapi sekarang ditata ulang menjadi taman bermain permanen yang di tengahya terdapat patung pahlawan. Taman menjadi tempat rekreasi murah warga Kediri dan sekitarnya. Banyak juga kaula muda Kediri yang menghabiskan sorenya di spot alun-alun ini, ehem.. ya begitulah, kalo jomblo lihat pasti pengennya nyilet-nyilet tangan. Haha.

Di sisi utara alun-alun terdapat warung-warung tenda lesehan yang menawarkan makanan-makanan murah. Semakin menuju maghrib, tempat-tempat duduk di sini dipenuhi oleh rombongan keluarga, warung merakyat dengan suasana kesederhanaan ala Jawa Timuran. Yeay… bebek goreng, es soda gembira dan es kelapanya sudah siap. Slurrpp…

Kurang lengkap rasanya kalau saya tidak singgah ke Masjid Agung Kediri. Saya tidak mau kehilangan momen shalat maghrib di sini. Saya bisa khusuk sholat, suasanya adem, tenang, bahkan banyak yang sholat di teras, bukan di ruang utama masjidnya. Saya mengambil wudhu di lantai satu, lalu menaiki tangga di lantai 2. Serambi lantai 2nya cukup luas dan bukan lautan sandal, jadi masjid ini lebih bisa dinikmati keutuhannya. “Terimakasih Tuhan, saya bisa sholat di sini”

Kediri menunggu Maghrib

Kediri menunggu Maghrib

Gumul, France in Java

Saya memandangi monumen Gumul dari jauh. “Tuhan, ini Indonesia kan? Kali ini Sulis yang menemani saya menuju bangunan utama Gumul. Area parkiran dan monumen Gumul dihubungkan oleh terowongan kurang lebih 50 meter, jadi kita tidak perlu menyebrang jalan simpang lima– yang ramai kendaraan melintas. Sulis cerita kalau monumen ini cukup kontroversial karena menghabiskan dana milyaran rupiah APBD, pantesan, bagus dan terkonsep gini. Kata orang, Gumul terlihat lebih indah di malam hari. Memang benar. Lampu sorot yang ditembakkan dari berbagai sudut membuat menara ini terlihat mewah, bersejarah, dan ikonik.

Yeay.. France....

Yeay.. France....

Wow, bener-bener serasa di Perancis. Monumen ini mirip banget dengan Arch De Thriomphe Perancis, dari bentuk bangunan utamanya, cuma Gumul ini lebih pendek. Ada relief pada empat pilar Gumul yang ceritanya beda-beda. Beberapa yang saya lihat adalah kisah masyarakat bertani, kisah empat sekawan, gambaran kerukunan umat beragama, kisah kerajaan dan dewa langit.Pesan sejarah yang disampaikan dalam tempat yang tepat, akan banyak yang melihat, akan banyak yang meresapi, akan banyak pula yang mengenang masa lalu.

It's free of charge

It's free of charge

Bagi saya, Gumul bukan semata menjadi seonggok bangunan mewah yang berdiri di tengah-tengah simpang lima. Kediri menjadi semakin dikenal karena Gumul. Ke Kediri ya harus ke sini. Gumul selalu ramai oleh wisatawan dan anak muda. Gumul seakan menjadi pelepas lelah, tempat untuk mengahabiskan quality time, tempat berbagi, dan tempat dimana semua orang dari berbagai kasta bisa ikut menikmati. Gumul juga membawa berkah bagi para pedagang kecil yang berjualan di kawasan pasar malamnya. Dan wedang jahe seharga 3.000 ini yang membuat saya tetap melek menikmati malam yang dingin sambil menatap Gumul dari sudut pasar malam ini. Beautiful!

Pasar Malam Gumul. Cheap!!

Pasar Malam Gumul. Cheap!!

Kediri dalam 5 Sentuhan Budaya

My dream came true. Saya telah berhasil menginjakkan kaki di Kediri berbekal persahabatan. Perjalanan singkat yang sangat berkesan, mungkin berkesan karena singkat. Oya, saya baru sadar saat menulis catatan perjalanan ini kalau saya telah menapaki 5 sentuhan Budaya yang membentuk wajah Kediri: nuansa Inggris di Pare, penamaan Hindu pada wisata air di Brantas, sentuhan Tionghoa di Klenteng Tjoe Hwie Kiong, kekentalan Islam di Alun-alun, dan sentuhan Perancis di SLG. Lesson learned kali ini adalah consecutive traveling membawa saya menemukan kata “harmoni” dan “keterbukaan” di dalamnya, seperti di sini, Saya menemukan wajah Kediri yang berbeda-beda, rupa-rupa yang unik. “A ship is safe in the harbor, but that’s not what ships are built for.” kata Gael Attal. Kapal diri saya sudah berlayar sampai sini, meraup cerita yang membuat saya kaya hati, begitu juga dengan kamu. Terimakasih Agung, Lina dan Lilis. Nanti kita ketemu lagi.

*****

Travelquiz

1. Apa nama kawasan Wisata Air Sungai Brantas?

2. Apa nama monument yang menjadi ikon kota Kediri?

Sudah bisa menjawab? Terimakasih ya. Sempatkan datang ke sini, Kediri Bersinar Terang.

19 Responses so far.

  1. Ihsan says:

    Waaah. Kediri asik banget yah kayanya… Pengen ke Pare, pengen tau atmosfir desa Inggris disana. Eh, yang di desa Inggris itu budayanya ikut jadi ke-barat-baratan ga seteleh ngeberlakuin English Zone?

  2. suprayogi says:

    Yup san. Harus ke sana, apalagi kamu anak jurusan Bahasa Inggris. Budaya kebarat-baratan seperti apa maksudnya? Tradisi Jawanya tetap menjadi penopang untuk tidak terlalu bebas koq. Hanya budaya dalam bahasanya saja :).

  3. ahmadzikra says:

    waaaa…. mau juga donk dimandiin di Pare Village. soalnya aku pas-pasan bahasa inggrisnya. hehehe… #lho
    :D

  4. sucilestari says:

    Ya ampun Yog, itu sumpah sih Gumul keren pisannn….bener2 berasa kayak di film Da Vinci Code…nati mau kesana ah, hihi…

    Anyway define kebarat2an ? Bahasa inggris itu sangat universal, nah kalau ada arab zone, baru deh (hampir pasti) jadi kearab-araban :P

  5. sucilestari says:

    eh yog, ini dapet hadiah gak kalu gue jawab trivianya ? no 1. jawabannya Panjalu joyoboyo yang ke 2 jawabnnya Gumul, how ? #nagihpermen :P

  6. suprayogi says:

    Huu…. kalau saja saat dimandikan, banyak dayang-dayang di sana ya Zikra, aku rencananya pengen ke sana lagi :), hehe

  7. suprayogi says:

    Dapet suc… Yeay.. bener. Hadiahnya mari kita BBM-an semalam suntuk :)

  8. suprayogi says:

    Suc, pas lagi foto2 digumul, gambarnya banyak yang goyang. rada sedih, tapi sumpah deh, itu bangunan mencolok banget WOW nya. Mungkin kita lebih baik ngubungin orang FTV aja kali ya, biar bisa djadiin judul sinetron -___-.

    Hm.. that’s true, makanya aku juga masih bingung dengan kebarat-baratan. Suc, mau cari Pria Arab? #eh

  9. dodod says:

    dod tiap tahun pasti ngelewati kediri beberapa kali karena rumah kake-nenek ada di tulungagung whicis sebelahan persis dengan kediri… tapi sumpah… gua baru tau klo ada bangunan keren macam gumul di kediri… besok2 mampir ah…

  10. suprayogi says:

    hai mas dod, Oh di Tulung Agung ya.. kalau d Tulung Agung ada apa aja ya? :)
    Iya, di simpang lima gumul ada bangunan megah beginian :)

  11. johantectona says:

    hiii hiii kerennnn juga ya kediri klo di taruh di blog beginiii

    ayo ayo pada ke kediri, sekalian ya nanti ke selatan dikit terus mampir ke rumah aku.

    Kediri itu memang layak di kunjungi, jarang yang tahu kalau kediri itu bagus, dan.. lebih jarang lagi yang tahu kalau selatannya kediri itu ada kota kecil Tulungagung yang sangat eksotis :D

  12. suprayogi says:

    Masjo: berarti tetanggaan sama kake neneknya mas dod ya masjo :). Ya, semoga one time bisa main k tulung agung. Babar blas belum ada gambaran ttg tulung agung. kalo tulung agung versi lampung mah udah :)

  13. dodod says:

    Di tulungagung…. Umm…. Tanya johan aja yg lahir dan besar disana…. Yg jelas ada lodho ayam yang maknyussss….

  14. suprayogi says:

    Aku pernah mentasin drama Bahasa Inggris ttg tulung agung, ceritanya santet. *syeremmmm btw cerita itu hanya fiktif belaka kan ya? lodho ayam? ayam diapain mas?

  15. sucilestari says:

    Huahahahahaha…ngakak guling2 baca komen lu Yog yang Tulungagung ceritanya tentang santet, hahahahaha. Kalo mentasin cerita santet pake bahasa inggris, pas bagian mantra di bahasa inggrisin gak tuh Yog ? Hahaha.

    Anyway Dodod hampir tiap tahun ke Kediri tapi gak tahu ada Gumul ya ? berarti si gumul ini gak terlalu tinggi yah Yog. Soalnya aku ngebayanginnya Gumul itu kayak yang di paris ( aku gak bisa ngenget nama monumennya ) yang kelihatan dari jauh karena besarnya yang mencolok, nah aku kebayangnya Gumul itu kayak gitu juga, ternyata nggak yah yog ?

  16. Azhari Muhlis says:

    Pengalaman ke pare sangat berkesan. Memanfaatkan waktu liburan semester untuk lebih mengasah kemampuan Bahasa Inggris, dan pengajarnya top banget deh.. Thanks for Mr.Shanhaji and Mr. Andre (writing course ELFAST), Mr. Haris (Toefl course OXFORD), Mrs. Dina (Speaking course DAFFODILS) I never forget you all.. Juga teman2 kursusan yang friendly dari unibraw malang, ugm jogjga, its surabaya, dan ui depok, moga kita bisa ketemu lagi, SEE YOU ON THE TOP :)

    Kalo jalan2 ke tempat wisata di pare, saya cuma mampir ke alun-alun kota pare sambil sepedahan sama teman2. Sama ke gumul kayak yang di paris, dan poto deh disana.. hehe

    Makanan khas disana banyak jualan nasi pecel harga 3000 rupiah udah kenyang. Sama kalo pulang bawa oleh-oleh getuk pisang khas kediri, tahu takwa dan olahan stik tahunya sama sambel pecel..

    Mungkin kapan2 lagi bisa kesana, libur semester depan udah mulai KKN, Salam Sukses :)

  17. suprayogi says:

    Ya itukah drama paling absurd yg gw maenin. mau endorse GLOCALIZATION- globalization + localization jd aneh, sekelas misuh2 sama dosennya, kelas sebelah d kasih judul drama ky sitkom how i met your mother, lha kita jadi orang2 desa yg pada pake jarik/samping, maen gapleh, mukul2in warga… haha….sedih gw mengenangnya

  18. suprayogi says:

    How long did you stay there azhari? smakin mantap nih kayaknya :). bener.. aku jadi pengen k pare lagi

  19. Azhari Muhlis says:

    I stayed in pare just one month :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Before you post, please prove you are sentient.

what is 2 in addition to 3?