31 AugMenemukan Cerita di Kampung Batik Trusmi

Baru kali ini saya merasakan pasar batik dengan konsep rumahan. Jadi, ini serasa jalan-jalan di kampung tempat nenek dengan suasana yang tidak ramai kendaraan lewa. Cuma bedanya, tiap rumah ada plang merk batiknya masing-masing. Cuaca Cirebon yang kata orang panas sepertinya berlaku di sini, justru saya menemukan spot sejuknya Cirebon. Hampir tiap rumah batik punya pohon besar, membuat saya betah jalan-jalan di sini.

Kampung ini dikenal dengan nama Kampung Batik Trusmi, letaknya di Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon. Saya tidak akan ke sini kalau tidak di ajak Fikha, wanita tahan banting di bisnis online yang mengajak saya, Fikri, dan Ginta untuk mendirikan toko batik merk sendiri. Ceritanya, kami berempat adalah calon jutawan batik yang mendapat hibah dari kampus. Dan Cirebonlah tujuan pertama kita, hunting kain produksi season 1. Perjalanan kami ditemani ibu Kae, mamanya Fikha, yang menjadi driver setia Bandung- Sumedang – Majalengka – Cirebon. 3 jam lho.

Good Morning Cirebon

Pagi itu sarapan kami ditemani nasi Jamblang di sebrang Grage Mall – sensasi makan nasi dengan bungkus daun jati. “Enake!!”. sebenarnya masih ada docang, empal gentong dan nasi lengko yang belum tercicipi, tapi nanti saja, sekarang hunting batik dulu. Dari Kota Cirebon kami menuju Trusmi di Kabupatennya melalui Jalan Tuparev. Sekitar 15 menit perjalanan, sebuah plang tua dan lusuh bertuliskan “Sentra Batik Trusmi” sudah dadah-dadah ke saya berada di atas jalanan Pasar Trusmi yang tumpah-ruah oleh pedagang kaki lima, pengendara motor, sepeda, dan becak. Kepadatan ini malah seolah melupakan bahwa jalan ini adalah pintu gerbang wisata batik yang semestinya rapi dan memberikan kesan pertama yang anggun. Semacam menemukan sebongkah zamrud setelah melewati semak belukar.

Coba saja kalau dipugar, pasti tambah keren

Coba saja kalau dipugar, pasti tambah keren

Saya menghadap jalanan Trusmi yang lurus, tak jauh dari pasar. Ratusan tahun yang lalu, tanah yang saya pijak ini adalah belukar belantara. Hingga suatu saat, Sunan Gunung Jati mengutus pengikutnya untuk mengajak penguasa belantara agar memeluk agama Islam. Saat belukar belantara ditebang untuk membuka jalan, keajaiban terjadi. Setiap pohon yang ditebang tumbuh kembali terus bersemi. Itulah asal mula penamaan Trusmi. Kebayang ya kalau sekarang masih ada pohon itu pasti banyak yang minta pesugihan di sana. Haha…imajinasi liar.

Suasana Kampung Batik Trusmi

Suasana Kampung Batik Trusmi

Suasana Kampung Batik Trusmi tak seramai jalanan Malioboro, jalannya juga lebih sempit. Tapi karena sempitnya itu, suasana kampungnya lebih terasa, kontras dengan keramaian pasar tradisional yang saya lewati tadi. Kami berempat mulai masuk ke toko batik pertama, sementara bu Kae pergi cari makan. “Sabar ya Super Mom”. Karena konsep rumahan tadi, makanya kita semua harus lepas alas kaki, dan kita harus ketok pintu karena pintunya banyak yang ditutup walaupun tulisannya “open.”

Rumahan banget kan?

Rumahan banget kan?

Saya penasaran apa yang khas dari batik Cirebon. Saya mencoba ngobrol dengan yang punya rumah batik dan akhirnya menemukan empat jenis batik Cirebonan.

1. Motif pesisiran. Karena Cirebon terletak di tepi laut, yakni wilayah pantura atau pantai utara, motif batiknya mengambil dari flora dan fauna laut. Biasanya kombinasi ikan, udang dan rumput laut.

2. Motif keraton atau klasik. Di Cirebon ada empat keraton yakni Kacirebonan, Kanoman, Kasepuhan dan Kaprabonan. Motif keraton dihubungkan dengan kehidupan keraton dan kepercayaan keraton terhadap alam langit atau makrokosmos, seperti motif Paksinagaliman (binatang yang terdiri dari burung, naga, dan gajah), motif Pewayangan, dan motif Taman Arum Sunyoragi.

3. Motif kumpeni. Cirebon adalah bekas daerah penjajahan. Motif-motifnya menggambarkan suasana penjajahan Belanda, mulai dari tentara militer sampai kerja rodi. Yang khas dari kumpenian ini adalah latar putihnya. Jadi saat proses pembuatan, bagian latar putih ini diblok dengan malam, atau istilah batiknya “ditembok”, untuk merintangi warna putih ini dari warna saat dicelupkan. Sekarang, kumpenian tak melulu bercerita tentang penjajahan, tapi maknanya bergeser kepada cara pembuatannya yang ditembok tadi.

4. Motif pengaruh budaya Cina. Motif buketan (rangkaian bunga) dan gentong menunjukan akulturasi budaya Cina di Cirebon, yang diwali dengan kedatangan Putri Ong Tjien kala itu.

Nah, kalo diliat-liat, banyak batik yang mendapat sentuhan megamendung sebagai pelengkap motif utamanya. Motif Megamendung menyerupai gugusan awan. Dulu waktu di Bandung bertemu Pak Komarudin Kudiya, seniman batik Jawa Barat, beliau sempat cerita kalau Megamendung itu motif yang menggambarkan kisah hidup manusia dari lahir sampai dipanggil Tuhan, setiap gradasi dan setiap lekukan dari kecil ke besar menunjukan fase hidup manusia, bahwa manusia berasal dari Tuhan dan akan kembali ke Tuhan. Saya diam, kagum. Ternyata sedalam itu pemaknaan pada sebuah motif yang diciptakan.

Ornamen megamendung dalam setiap batik Cirebonan

Ornamen megamendung dalam setiap batik Cirebonan

Dua jam tak terasa keluar masuk rumah batik. Benar-benar belanja besar dan cukup menghabiskan welcome snack di sana. Kisaran harga batik Cirebonannya Rp 40.000,00 untuk KAIN batik satu warna dan Rp 60.000,00 untuk KAIN batik mulai dari dua warna. Oya, kalau benar ingin beli yang motif Cirebonan, lebih baik tanya langsung ke penjaga rumah batiknya, soalnya Trusmi juga dibanjiri batik Pekalongan.

Mari belanja tjiiinnnn

Mari belanja tjiiinnnn

Bertemu sang Maestro Batik

Diantara rumah-rumah batik di sepanjang jalan Trusmi, ada sebuah rumah putih sederhana yang terletak di sebrang jalan Koperasi Batik Budi Tresna. Rumah itu milik Pak Katura, salah satu maestro batik Cirebon. Pak Katura adalah seniman batik yang dipercaya untuk mengonstruksi ulang motif-motif keraton Cirebon, dan pernah mendapatkan penghargaan Upakarti dari SBY.

Di Koperasi ini transaksi bahan-bahan batik Cirebon terjadi setiap harinya

Di Koperasi ini transaksi bahan-bahan batik Cirebon terjadi setiap harinya

Bertemu Pak Katura adalah kali kedua saya ke Cirebon, gara-gara di suruh Fikha mengambil pesanan batik tulis pulau Lengkuas dan Sail Belitong yang dibuat Pak Katura. Tak ada lagi gratisan ke sini, saya harus naik bus. Mas Sutrisno, teman kampus sekaligus desainer motif Belitong, yang menemani perjalanan saya 3 jam malam-malam naik bus Bhineka.

Pagi itu, memasuki halaman samping rumah beliau yang teduh dan disambut sebuah gambar kunjungan ibu Ani Yudhoyono. Lalu saya memasuki halaman belakang – tempat pembatikan. Di sudut halaman, ada beberapa remaja setempat yang siap-siap belajar membatik. Sementara itu ada seorang mbak yang sudah mulai nyanting. Kalau kamu ingin belajar batik dari nol sampai mahir, kamu bisa belajar di sini.

Sepertinya mbak ini sedang nyanting Kumpenian

Sepertinya mbak ini sedang nyanting Kumpenian

Suasana ruang tamunya nya seperti rumah jaman dulu dengan empat kursi kayu meja bundar. Saya melihat pajangan bahan pewarna tradisional, lengkap dengan pajangan canting dan penutup kepala bermotif megamendung. Terpajang bingkai berisi foto Pak katura yang mendapat penghargaan Honoris Causa dari University of Hawaii atas kepiawaiannya dalam membatik. Sejak saat itu, nama beliau menjadi Katura, M.A. Kemegahan karya otodidak, karya yang dibuat bukan di bangku pendidikan, juga bisa mengantarkan seseorang untuk mendapatkan tempat yang tinggi di mata akademisi. Inilah yang membuat saya percaya “He who does not travel does not know the value of men.” milik Moorish. Kalau saya tidak langsung datang ke sini, saya tak akan tahu kenapa Pak Katura bisa disebut Sang Maestro, saya juga tak akan tahu kalau penghargaan dari Hawai itu bukan karena beliau mengenyam pendidikan formal. Beliau adalah seorang pembatik yang masih bertahan dengan batik tulis klasiknya – menjaga budaya asli, kepiawaian dalam kesederhanaan.

Bahan Pewarna Alam. Rumah ini seperti museum kecil

Bahan Pewarna Alam. Rumah ini seperti museum kecil

Kebanggaan karya kami

Pak Katura, Mas Sutrisno, Saya dan Ibu. Batik pesanannya bagus bgt

Di ujung ruang tamu itu ada sebuah ruang kecil berisi buku-buku batik koleksi Pak Katura. Beliau berkata dalam logat khas Cirebon “Ya, biar tidak ketinggalan info dan biar anak muda bisa belajar”. Ada majalah fashion batik, buku tentang batik Belanda, batik Jepang, batiknya Iwan Tirta, sampai Tugas Akhir tentang batik. Koleksi buku ini menjadi upaya Bapak untuk mewariskan ilmu membatik ke orang-orang seusia saya. Senang sekali bisa belajar banyak tentang batik dari beliau, tapi sedihnya beliau sering sakit dan punya gejala stroke. “Cepet sembuh ya, Pak.”

Perpus kecil milik Pak Katura

Perpus kecil milik Pak Katura

Nah, liat buku bahasa Jepang di atas? Buku itu menjadi simbol hasil karya batik Pak Katura mulai merambah pasar Jepang di tahun 1990 sejak kedatangan seorang desainer tekstil bernama Yumeko Katsu. Sejak itu batik-batik tulis Pak katura semakin di kenal dan sering diliput media. Pembeli-pembeli batik dari Jepang sangat mengapresiasi batik karena kualitas dan detail motifnya.

Satu mimpi tercapai, mimpi lain bersambut

Ya inilah yang saya rasakan. Tak pernah juga terpikirkan mengunjungi Trusmi. Karena satu mimpi ingin coba-coba bisnis, saya datang ke sini, dan akhirnya tak sekedar belanja. Mimpi lain bersambut, ingin bertemu Maestro Batik, dan kesampean juga. Saya menemukan keragaman cerita mulai dari cerita dalam lembar-lembar kain batik, menemukan cerita sosok sederhana dengan karya yang luar biasa dari Pak Katura, atau cerita tentang masa lalu Trusmi. Mimpi itu bercabang dan semakin bercabang. Dan inilah yang menginspirasi saya untuk singgah ke kampung batik yang lain, dan menemukan cerita-cerita lagi.

Mari diintip video perjalanan kami berempat

Berbelanja di Kampung Batik Trusmi

Batik tentang Batik

Batik tentang Batik

12 Responses so far.

  1. Andrey says:

    Keren bang…..Mimpi itu memang akan menjadi kenyatan jika kita yakin dan mau berusaha…

  2. suprayogi says:

    Makasih Ndrey. makin banyak mimpi, harapan dan cita2, jangan lupa ditulis di buku, tempel d kamar dan ucapkan setiap berdoa :)

  3. Putu agnia says:

    Cirebon, panaaassss *inget perjalanan pertama ke semarang bareng beswan, yg sempet transit di kantor djarum cirebon itu. Hihi

    Itu batik 40rb sm 60rb itu kain doang ya masyog? Blm berbentuk baju?
    Kadang susah jg sih, gimana orang indonesia mau beli dan make baik kalo harga baju batik yang keren mahal banget. Keseringan ngeliat sekalinya keren paling urah 300an. Kalo mau dapet yg 80rb itu kualitasnya kasar bgt panas dipake. Huhu kan sedih kan :(

  4. suprayogi says:

    Iya, transit dan makannya dobel. nasi jamblang iya empal gentong iya. 40 ribu kain doang pu. kalau udah jadi baju ya sekitar tambah 50 rib (ongkos jahit d bandung untuk atasan 50 ribu, dress 80 ribu *apal gini, maklum ,galnya sama tukang jahit). Iya pu 300 ribuan yg bagus mah.. ya mungkin sepadan dengan nilai dan keuletan yang buat..jadi dihargai segitu :)

  5. sucilestari says:

    Ane baru wara-wiri ngunjungin blog2 beswan Yog. keren ya Yog, Indonesia itu kaya yaa setiap jengkalnya, orangnya, alamnya, karyanya, budayanya, kayaknya gak bakal habis dikunjungi seumur hidup. Bahkan gue sempet kepikir, dunia ini udah egitu indahnya, sampai-sampai surga pun rasanya tak perlu, aku lebih suka sungai yang jernih dengan air terjun, daripada sungai dengan air susu…cuma keserakahan dan keegoisan, seringkali membuat dunia ini berasa seperti ” Hell on Earth ”

    Siapapun yang pergi ke raja ampat, inilah kemenangan kita semua, yang telah berupaya mengenakan Indonesia pada dunia :)

    Anyway, aku pernah nyoba ngebatik dan susah banget…batik segitu emang harga yang pantas :)

  6. suprayogi says:

    Aaa suci.. aku juga pernah kepikiran gitu. Mungkin manusisa sudah banyak melupakan surga di depan mata, keinginan yang muluk2. I like your words. Yap.. siapapun yang ke Raja Ampat, siap2 berbagi cerita dari banyak angles. Dulu aku pernah mikir, terimakasih Tuhan telah memberi mood dan passion traveling, di antara banyak sekali orang yang justru inginnya di rumah, atau wisata perkotaan. Traveling is self reflection…

  7. johantectona says:

    bingung mau komen apa.. mau bilang bagus keren hebat atau apa itu sudah biasa.. lebih dari semua itu, ini bukan pujian.. ini adalah ungkapan perasaan atas rasa syukur akan Indonesia. Indonesia itu sangat Kaya, Indonesia itu sangat Indah, Indonesia itu memiliki SDM yang sangat unggul.. terima kasih kawan, artikel mu ini telah sukses membuka hati.

  8. suprayogi says:

    :D, makasig banyak masjooo….. Oya, suci pernah bilang kalau sebenarnya manusia ngga perlu surga lagi.. karena di Indonesia itu udah jadi surga..

  9. Beeba says:

    first thing first, this is so exciting! Kapan-kapan kalo ada petualangan kaya gini ajak-ajak dong, kaka!
    kedua, kalo abis baca yang kaya gini pasti aja langsung ngerasa kaya “ko gue ga tau apa-apa ya soal beginian?” .. baru tau juga kalo batik bisa jadi kaya komik gitu. miao.

  10. suprayogi says:

    Hai beeb. makasih banyak udah mampir ke rumah keduanya kakak :). Seneng petualangan kaya gini juga? boleh, ijin ummi dulu ya.. nanti kaka ajakin. That’s what the blog is for. saling bagi2 info, memberi tau kalau banyak tempat yang menarik di sekeliling kita. I also like your tumblaaa…..

  11. dodod says:

    Seru bgt ya kayaknya konsep sentra batik rumahan ini… Jadi serasa bertamu ya….

  12. suprayogi says:

    iya mas… bertamu ada snack ada minumnya, kurang lengkap apa coba :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Before you post, please prove you are sentient.

What color is the sky on a sunny day?