31 AugTapis, Penghargaan untuk Wanita Lampung

Perkenalan saya dengan Yudha, seorang traveler tenun nusantara, akhirnya membuat saya terpikir untuk menulis buku tenun daerah sendiri, tepatnya tenun masyarakat pribumi di tempat saya tinggal – Lampung. Di antara banyak tenun yang biasa dibuat masyarakat Lampung, yang pertama terlintas di kepala saya adalah tapis, meskipun ada juga kain Kapal, kain Inuh, dan kain Sebage. In short, tapis adalah kain tenun yang diberi hiasan benang emas atau benang perak di atasnya. Belum kepikiran judul buknya. Sementara buku itu saya beri judul “Tapis……….”, ibarat gelas, isinya baru stetes air, gelasnya akan penuh dan akhirnya judulnya makin lengkap seiring cerita tapis yang saya temukan.

Tapis Lampung

Tapis Lampung

“Sang Bumi Ruwa Jurai” – satu tanah dua golongan – dua makna sekaligus dalam satu slogan, golongan Lampung Saibatin (pesisir) dan Pepadun, juga golongan masyarakat asli dan pendatang. Dalam berbagai upacara dan acara penting lainnya, wanita masyarakat Saibatin dan Pepadun selalu memakai tapis. Saya sebagai masyarakat keturunan pendatang justru masih merasa asing dengan hal ini. Oke, This is bad but this what makes me curious and curiousity is the soul of a traveler, icip-icip ikut merekam sejarah sekaligus saya bisa jalan-jalan ke banyak tempat yang bisa menebalkan catatan pribadi saya tentang tapis.

Mencari makna di Museum Ruwa Jurai

Jujur, saya masih belum terbayang mencari sejarawan tapis Lampung. 5 tahun di Bandung membuat saya semakin menjadi warga Lampung yang KW 5. Tapi “Aha.. Museum Lampung, masa iya di sini nggak ada tapis”. Aha momen itu mengantarkan semangat jelajah saya pagi-pagi menuju Museum Ruwa Jurai Lampung yang berada di sekitaran Zainal Abidin Pagaralam Bandar Lampung, samping kampus Unila (Universitas Lampung). Begitu sampai gerbang, mata saya langsung tertuju pada rumah tradisional Lampung di sebelah kiri, berikut gambar timbul kapal Lampung.

Museum Ruwa Jurai

Museum Ruwa Jurai

Ayu, teman sepermainan waktu SMA, sudah menunggu di pintu masuk. Kami mengisi buku tamu dan membayar Rp 4000,- perorang, terhitung orang dewasa soalnya, sementara untuk anak-anak hanya ditarik Rp 500,-. “Pak dulu kan di belakang ada galeri tapis, boleh ke sana?”, Tanya saya penasaran. “Nggak dibuka dek, dibuka pas ada pameran saja.” Kata bapak resepsionisnya. “Tapi di sini ada display tapis sama deskripsinya kan, Pak?” saya mulai takut kalau-kalau perjalanan saya kali ini gagal, Bapak tadi menyarankan kami naik ke lantai dua.

Memasuki lantai dua ini bawaan saya ingin cepat-cepat nikah. Bagaimana tidak? sebelah kiri pintu masuk, pelaminan adat Saibatin yang didominasi warna putih menyala menyambut saya. Sementara di sebelah kanan, ada pelaminan adat pepadun yang kental dengan warna merah lengkap dengan kamar tidur dan tandu, seolah manekin tadi ngajak saya tidur #eh. Warna-warna menyala tadi kebanyakan berasal dari pantulan benang emas tapis. Lantai dua ini juga berisi tentang proses pembuatan tapis dan gambaran upacara adat.

Masyarakat Lampung masih membuat kain tenun untuk bahan dasar tapis ini dengan cara tradisional, yakni penenun kayu. Kain tenun ini berpola lurik horizontal warna hitam, kuning, merah, atau hitam polos. Kainnya lumayan tebal untuk mengunci benang-benang emas, dan satu kain tapis untuk sarung beratnya bisa sampai 5 kg. Kain tenun ini kemudian dipasang pada sebuah pembentang yang dalam istilah Lampungnya “tekang” agar menghasilkan tapis yang rapi, rapat, dan kuat.

Alat pemintal benang ntuk tenun tapis

Alat pemintal benang ntuk tenun tapis

Traditional waving equipment

Traditional waving equipment

Masyarakat Lampung asli juga memandang tapis dalam fungsi yang sakral. Setiap jenis tapis memiliki filosofi tersendiri, layaknya batik-batik klasik Jogja-Solo, berbeda ritual, berbeda pula tapis yang dipakai. Di lantai dua ini, saya menemukan tapis Halom dalam seperangkat upacara Pitu Bulan atau tujuh bulan kehamilan dan serta upacara kelahiran. Halom dalam bahasa Lampung berarti hitam. Sang Ibu harus memakai kain tapis halom ini beserta kerudung hitam dalam rangkaian pembacaan mantra agar terhindar dari malapetaka dan roh jahat. Dalam adat Jawa, tapis halom ini kedudukannya hampir sama dengan batik Sidomukti. Saya mulai paham dengan kata-kata teman saya Trisa yang mengambil kuliah History of Art, kalau banyak bangsa Timur yang merekam jejak lewat visual atau simbol ketimbang tulisan. Tapis halom ini bisa sedikit saya pahami, kalau hitam berasosasiasi dengan ghaib yang tidak baik. Mungkin itu benar. Mungkin.

Ada tapis yang menarik perhatian saya, yakni tapis Bidak Cukil. Tapis ini disebut juga tapis tumpal. Dalam istilah batik, tumpal adalah motif segituga beradu untuk tengah-tengah kain sarung. Berbeda dengan tapis lain yang digunakan untuk sarung atau selendang, tapis Bidak Cukil ini adalah biasan dalam alas untuk meletakkan benda-benda perlengkapan upacara adat.

Saya dan Ayu nyengir-nyengir lihat perangkat pameran yang satu ini. Kami membayangkan tradisi tambah usia masyarakat Asia Timur yang aneh-aneh. Masih ingatkah kalau di Thailand, semakin berumur harus menambah gelang leher. Atau di Kalimantan, jika seseorang bertambah umur, bertambah pula anting di telinganya. Di Lampung tidak seekstrim itu, tapi ada upacara yang unik juga untuk seorang gadis saat bertambah usia, tepatnya saat menginjak akil baligh. Upacara itu dilakukan dengan cara mengasah gigi atau Serah Sepi. Kadang menjadi masyarakat awam itu hanya bisa tertawa bodoh karena tidak menemukan logika filosofi sebuah upacara. Apa hubungannya gigi tajam dan kedewasaan? Tak tau, mungkin disitulah Ferdinand Saussure menciptakan arbitrariness dalam semiotics, manusia bebas membuat tanda dan memberi makna tanda. Upacara ini menandai diperbolehkanya wanita untuk bergaul dalam upacara bujang gadis atau upacara adat yang lain. Saya membayangkan seorang gadis harus buka mulut, diasah, kemudian kumur-kumur, tapi tetap tampil cantik dengan sarung tapis. Tapis yang ia pakai adalah tapis Cekil, semacam polosan kain tenun dengan hiasan gunungan tapis di bawahnya.

Tapis untuk acara asah gigi

Tapis untuk acara asah gigi

Perjalanan saya dengan ayu cukup sukses, kami keluar museum sambil terkekeh-kekeh juga saat melihat upacara sunatan, melihat sabut kelapa yang dulu pernah saya pakai agar “ehm” saya tidak menyentuh sarung.

Separated puzzles found in coincidence

Tuhan baik sekali dengan saya hari itu. Saya mengantar Ayu ke GO (Ganesha Operation) karena dia mau mengajar. Saya cuma ingin mencicipi Trans Bandar Lampung, sebenarnya. Saya izin pulang, jalan kaki menuju halte Trans, and here another tapis story is found. Tepat di depan GO adalah galeri tapis yang lumayan besar. Saya memasuki galeri dan berdoa “Ya semoga saja catatan buat buku ini makin tebal dan makin unik isinya.” Pertanyaan sotoy saya cuma simple “Yuk (kak), tapis-tapis apa aja yang ayuk masih inget fungsinya?”. Dia membongkar lemari tapis dan akhirnya menunjukkan tiga macam tapis, kepada saya. Dia mengangkat sebuah tapis yang lumayan berat. Itu adalah tapis Jung Sarat, tapis yang terdiri dari motif sasak penuh dan motif kotak-kotak ditengahnya ada hiasan peraknya. Tapis ini dipakai oleh pengantin wanita Saibatin. “Kalau yang ini tapis Lawok Andak atau Laut Putih, ada dasar tenun putih nya, motif belah ketupat yang diisi, sama hiasan-hiasan penuh.” Kata Ayuk menjelaskan panjang. “Lawok Andak siapa yang pake, Yuk?”. Saya penasaran. “Dipake buat wanita tetua adat waktu ada upacara-upacara, di Lampung kan banyak tuh upacaranya, mereka tapis pakai ini”.

Tapis Laok Andak

Tapis Lawok Andak

Terakhir, saya diperlihatkan tapis warna merah. Itu adalah Tapis Bintang Perak yang dipakai oleh Muli (gadis) saat kegiatan bujang gadis, misalnya pemilihan Muli Mekhanai, atau semacam Abang None Jakarta. Saya mencoba membandingkan dengan Bintang Perak yang ada di Museum tadi, sedikit beda tapi motif bintangnya yang tetap ada. Ternyata benar, kata Ayuk, motif tapis itu berkembang, tidak selalu “saklek” dengan bentuk awalnya. Makanya sekarang banyak tapis yang tidak ada namanya, sebut saja Tapis Kontemporer, yang juga dibuat untuk memenuhi kebutuhan pasar, namun ornamen sulur bunga, pucuk rebung, gunungan, dan sasak masih dipakai di beberapa bagian.

Tapis Bintang Perak

Tapis Bintang Perak

Di galeri ini saya melihat tapis dalam bentuk yang lain yang lebih sederhana untuk souvenir. Sovenir ini juga banyak ditemui di Bambu Kuning, semacam kawasan perdagangan lama seperti area Pasar Baru dan Dewi Sartika di Bandung. Pasar ini terletak di Jalan Kartini Bandar Lampung dan persis di samping timur Gereja Peninggalan Belanda Marturia. Bambu Kuning adalah surganya para pemburu tapis dan oleh-oleh khas Lampung.

Baru selesai direnovasi, ceritanya

Baru selesai direnovasi, ceritanya

Salah satu toko yang pernah saya masuki di Bambu Kuning

Salah satu toko yang pernah saya masuki di Bambu Kuning

Sovenir tapis

Sovenir tapis

Menemukan penapis di Lohjinawi

Menemukan penapis di Lampung tidak terlalu susah. Satu kampung hampir dipastikan masih ada yang menapis – kira-kira begitulah yang bisa saya lihat di Kampung Lohjinawi, Kabupaten Pringsewu, dua jam dari Bandar Lampung ke arah barat. Sebenarnya perjalanan kali ini untuk menjawab “How tapis is preserved?”

Kali ini saya menemui rumah sederhana tempat Bi Ni (Bibi Triyani) tinggal. Saat itu beliau sedang menapis kain sarung jenis tapis Jung Sarat, yang sasak dan kotak penuh tadi. Berapa lama ya kira-kira? Kata Bi Ni, tapis Jung Sarat itu kalau lancar dikerjakan – tanpa sakit, keperluan masak-masak hajatan – bisa satu bulan satu minggu. “Lama banget” kata saya. Tapi baginya ini adalah pekerjaan pengabdian. Bi Ni sudah delapan belas tahun menapis, semenjak mengandung anak pertamanya. Ia sempat berhenti menapis selama tiga tahun karena bekerja sebagai TKI di Malaysia. Tiap pagi begitu beres urusan dapur, Bi Ni mulai duduk tekun di depan “tekang” atau perentang kain dan siap menapis, pagi siang sore. Kalau satu kain sudah selesai, beliau mendatangi rumah tapis (pengumpul), mendapat upah dan mengambil kain lagi, misalnya untuk ayat kursi, selendang, atau taplak meka. Kebanyakan penapis ini adalah ibu-ibu dan wanita lajang yang memiliki waktu senggang di siang harinya, seperti Bi Ni ini.

I call her the "Tapis Hero"

I call her the "Tapis Hero"

Beliau bilang kalau beliau sehat, mending kerja cetak genteng, uangnya lebih banyak. Kalimat itu membuat saya penasaran menanyakan uang yang didapat. Untuk tapis Jung Sarat ini beliau mendapat upah Rp 310.000,- sementara untuk sarung dengan motif yang tidak penuh hanya sekitar Rp 170.000,-. Tapis Jung Sarat ini dijual seharga Rp 2.500.000,-. Wow!. Kalau selendang lain lagi. Satu selendang bisa diselesaikan dalam satu minggu, upahnya sekitar Rp 70.000,-. Ya ampun, duduk berjam-jam, leher dan punggung pegal dengan upah segitu dan kerasa kurang sebanding dengan waktu dan tenaga yang dikeluarin. Resiko seorang penapis adalah mata yang cepat lelah karena harus melihat detail benangnya.

Pernah nyoba, susah nyoo

Pernah nyoba, susah nyoo

Mungkin ini pilihan tunggal yang akhirnya harus dipilih karena pilihan yang lain membuatnya lebih lelah, fisik tak kuat dan harus meninggalkan rumah. Mungkin tidak semua penapis seperti itu, tapi ketiga penapis lainnya yang pernah saya temui yakni Bi Mur, Bi Yani, dan Bi Ririn juga memiliki alasan yang sama- mengurus anaknya yang masih kecil. Tradisi menapis tetap bertahan dalam pilihan yang sebenarnya bukan pilihan terbaik. Dan bersyukurlah para penapis ini menunjukkan pengabdiannya. Mungkin bagi mereka, membuat tapis adalah bagian dari cara untuk mengepulkan asap dapur, tapi bagi ayuk pemilik galeri tadi, tapis adalah cara mendekatkan masyarakat Lampung dengan tradisi dan mendekatkan masyarakat awam untuk mengenal Lampung lebih jauh – lewat souvenir tadi. Sementara buat saya, perjalanan mencari makna tapis ini semakin kompleks yang membuat catatan saya makin acak-acakan. I discover a sad stories behind a beauty.

Need 5 weeks to make it. can u?

Tapis Jung Sarat. 5 weeks? kuat?

The world is a book and those who do not travel read only one page.” kata St. Augustine, dan saya setidaknya sudah mencapai halaman ketiga. Perjalanan ke Museum, bertemu tak sengaja dengan PemilikGaleri dan sovenir tapis dan lawatan ke salah seorang penapis membuat saya akhirnya bisa menyimpulkan kalau masyarakat Lampung sangat memaknai setiap perpindahan daur hidup, harus ada upacara sebagai tanda perayaan, dan selalu ada tapis yang menjadi saksinya. Tapis adalah penghargaan kepada setiap wanita Lampung. Masyarakatnya menjunjung tinggi derajat wanita dalam setiap tapis yang dibuat, dititpkan makna kepadanya sebagai makhluk penting untuk melindungi sang anak ketika melahirkan, terhindar dari sifat-sifat buruk manusia ketika akil baligh, menjadi Muli yang menjaga nama baik, menjadi wanita spesial ketika dipinang, menjadi tetua adat yang dihormati. Semua jerih payah siang malam tertuju pada satu: demi kecantikan tapis dan kecantikan wanita Lampung saat memakainya. Tapis membuat bangga menjadi wanita Lampung sekaligus pembuatnya, meski apresiasi kerja kerasnya belum sepadan – alasan ekonomi yang pelik.

Mungkin buku saya akan saya beri judul “Tapis dan Wajah Wanita Lampung”, ah.. tak tau, mencoba khayal-khayal berhadiah. Yang jelas “Through travel I first became aware of the outside world; it was through travel that I found my own introspective way into becoming a part of it.” — Eudora Welty, dan saya mencoba melebur dengan tapis tadi, dan memaknai setiap jengkal karya yang dibuat. Semoga bisa dipertemukan dengan ragam upacara adat Lampung yang lain.

Terimakasih yuk.. tabikpun...

Terimakasih yuk.. tabikpun...

Travelquiz:

  1. Apa nama tapis yang dipakai untuk pengantin wanita Saibatin?
  2. Apa sebutan untuk gadis Lampung?

Hadiahnya adalah pengetahuan baru yang bisa selalu ingat karena sudah mendengar kata tapis berkali-kali. Thanks for reading ya.

4 Responses so far.

  1. Putu agnia says:

    Kenapa aku gabisa komen dipostingan kediri aaaaaaaaaaaaa

  2. suprayogi says:

    Bentar ya Bu Putu, dibenerin dulu :)

  3. johantectona says:

    sampai juga nihh kehabisan kata”..
    nanti deh balik lagi klo udah bisa komen..
    tapi yang pasti kamu sangat menikmati sekali menulis artikel ini? bener ga? hahaha emang jagoaann ini juragan tapis :D heee

  4. suprayogi says:

    masjo: hahha juragan tapis, btw dulu aku pernah mau bikin rumah buat workshop tapis gitu mas.. kan kalo batik ada workshop dimana orang2 bisa belajar batik dan bawa pulang karya mereka, me too. pengen diaplikasikan k tapis juga. Apalagi kabupaten aku tergolong baru dan minim pariwisata :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Before you post, please prove you are sentient.

what is 5 + 2?