Teguh Sitepu Blog

Exploring Ergonomic & Product Design

Aku dan Dia

Inisialku L. Aku sering kali menertawakan si ST itu. Sungguh, benar-benar lucu dirinya. Lusuh, makin tak terurus, bahkan tak ada yang mau menyentuhnya. Hahahaha, Sungguh menggelikan. Dasar tua!

Tidak seperti diriku yang selalu berguna. Eyang selalu menyayangiku. Setiap hari aku dilihatnya. Tak seperti si ST itu. Bahkan eyang jarang sekali melihatnya. Ia hanya dikurung di satu tempat yang gelap. Kerjanya hanya tidur. Dasar tua dia!

Akulah L, Lampu. Diciptakan oleh Thomas Alfa Edison si jenius itu. Aku lahir dengan pemikiran yang luar biasa dari Edison. Sekarang aku dibutuhkan dimana-mana. Siapa yang tak bangga padaku? Dia? Mereka? Edison sendiri? Atau kau pun ku yakin bangga padaku. Denganku kau tak lagi gelap. Denganku kau bisa membaca. Kau bisa menulis. Kau bisa melihat apa-apa yang dulunya tak bisa jelas terlihat.

Beda dengan dia ST, Surat Tua. Aku biasa memanggilnya seperti itu. Tapi eyang, pemilik surat itu menuliskan ‘untuk cucu-cucuku’ di sampul luarnya yang sudah berwarna coklat tua, agak lusuh. Aku tahu kalau dia tak seberguna aku. Tapi sampai sekarang aku masih heran kenapa eyang putri masih saja menyimpannya di tempat khusus. Aku tak tahu sudah berapa umurnya. Beda denganku yang setiap dua tahun sekali diganti oleh eyang putri. Huh! Aku jadi sedih.

Satu sore, aku melihat eyang putri mengambil surat itu. Ada seorang bocah di sampingnya. Sesekali aku mendengar percakapan mereka.

“Teguh, ini surat eyang kakungmu untuk cucu-cucunya. Kelak jika kau membacanya, akan tumbuh rasa barumu pada tanah ini,” kata eyang putri pada bocah itu yang menirukan pesan suaminya. Bocah itu membuka si surat tua. Aku mengintip apa sebenarnya yang ada di dalamnya.

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Medan, September 1947

Untuk cucuku tersayang…

Besok eyang akan kembali bertempur dengan penjajah-penjajah itu. Hari ini kami mempersiapkan ratusan bambu yang sudah diruncingkan. Tak ada peralatan lain yang bisa kami siapkan selain bambu-bambu itu. Bambu-bambu yang cuma diisi peluru semangat dan keinginan untuk merdeka. Bambu itu siap membunuh penjajah yang dengan rakusnya menyantap hasil bumi kita. Bambu yang akan menghentikan semua kesombongan. Hanya dengan bambu dan keberanian, kami akan menyiapkan udara segar tanpa penjajah untukmu, cucuku. Udara kemerdekaan.

Dengan udara itu, kau akan menjadi generasi yang lebih giat belajar. Mencari ilmu sebanyak-banyaknya yang kelak kau gunakan untuk kebaikan. Tak perlu kau potong bambu-bambu menjadi runcing untuk berperang. Tapi gunakanlah ilmu yang sudah kau dapatkan untuk menjaga negara ini.

Mungkin eyang tidak bisa memeluk dan mengelus kepalamu, sayang. Tapi berjanjilah kau akan selalu mengingat perjuangan ini dengan membangun negara kita kelak. Berjanjilah untuk menjadi pejuang di negara kita dengan tidak bermalas-malasan. Hirup udara kemerdekaan itu sebebas-bebasnya sayang. Nikmati dan syukuri.

Eyang tak meminta kau untuk bangga atas semua ini. Eyang cuma meminta kau jangan pernah melupakan perjuangan eyang dan teman-teman dengan belajar sungguh-sungguh. Cuma itu aja yang eyang minta darimu, cucuku.

Eyangmu yang menuju peperangan.

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Aku Lampu yang merasa sudah sangat berguna merasa kecil sendiri. Aku malu setelah membaca surat itu. Aku malu pada anak kecil yang menangis sambil membaca surat itu. Aku malu. Eh, samar-samar aku mendengar bocah kecil itu berkata sendiri.

“Tak ada yang membuatku bangga selain perjuanganmu merebut kemerdekaan negeri ini, eyang,” kata bocah itu sambil memasukkan kembali surat itu.

Integral dan Diferensial Keluargaku

Ini bukan kisah tentang kesombongan..

Sungguh, bukan..

 

Berastagi, 11 Desember 2010
1

Kira-kira seperti itulah perkenalanku dengan Parlindungan Sitorus tiga tahun lalu di warung nasi Berastagi. Entahlah, aku pun sudah lupa kapan tepatnya. Yang jelas, sejak itu aku akrab dengan Lindung sampai hari ini. Menurut adat ertutur dalam Batak Karo (martarombo dalam Batak Toba), aku harus memanggil Lindung dengan sebutan Impal.

Awalnya aku tak mengira Lindung yang kental sekali Batak Tobanya ternyata memiliki darah Batak Karo dari ibunya. Bagaimana tidak. Perawakan yang dimiliki Lindung sangat Batak Toba oriented. Wajahnya segi empat. Garis rahangnnya tegas. Bicaranya, jangan tanya. Semua akan terkejut kalau tak kenal siapa dia. Mungkin orang yang baru pertama kenal dengannya akan memilih pulang dan menangis di kamar. Hahaha, itulah Lindung. Keluargaku dari Samosir.

Keluarga? Ya, dialah keluarga yang baru kutemukan beberapa tahun lalu di Berastagi. Jika berkunjung kesana, pasti ku sempatkan untuk bertemu Lindung. Begitu pula sebaliknya jika ia berkunjung ke Medan.

 

Yogyakarta, 13 Agustus 2011

2

Aku betul-betul tercengang ketika berkenalan dengan Slamet Notodirjo. Sahabat baruku. Eh, Appara Slamet demikian sekarang dia ku panggil. Bagaimana mungkin pria Jawa tulen sepertinya masih memiliki darah Batak di nadinya. Siapa sangka. Walau demikian, dialah keluarga baruku. Pria lembut dari Bantul.

Keluarga? Ya, dia keluarga baruku dari tanah Jawa. Terkadang dia mengirimu makanan khas Bantul. Juga demikian aku yang sesekali mengirim Bika Ambon untuknya. Tapi cuma sesekali. Hehhehe

 

Sydney, 3 Maret 2012

3

Mustahil! Pasti Agung Hercules pun tidak akan percaya aku dapat bertemu dengan Kila Rudy di Sydney ini. Kila yang berkulit putih. Kila yang orang Australia asli itu.

Seperti biasa Kila ku itu suka mengirim postcard dari negeri kangguru. Ah aku tak begitu suka koleksi seperti itu. Kukirimkan dia pancake durian khas Medan. Sampai disana, dia menelponku dan takjub dengan bau durian itu. Hahahha. Aku tak tahu apakah durianku disana dimakan atau tidak. Yang penting aku senang punya saudara dari Sydney.

Pertemuanku dengan mereka di Berastagi, Yogyakarta dan Sydey menunjukkan betapa mudahnya aku sebagai orang Batak untuk mendapatkan saudara. Itulah yang ku sebut dan ku rumuskan sebagai integral dan diferensial keluargaku. Keluarga Batak.

4

 

Itulah integral……………..

5

 

Itulah diferensial…………

Jujur. Aku sangat bangga dengan konsep ertutur itu. Konsep yang sebenarnya sederhana tapi membuatku memiliki saudara dimana saja. Konsep yang entah siapa menemukannya. Memang tak sehebat undang-undang yang memiliki kekuatan hukum. Tetapi konsep itu membuatku ‘hidup’.

Itulah adat ertutur dalam Keluarga Batak. Adat yang memungkinkan kita semua adalah keluarga. Adat yang dengan mudah menemukan turunan keluarga kita. Tak sampai lima menit kita akan menemukan jalinan keluarga itu. Impal, inang, senina, appara, opung, bulang, amangboru, kila, mama, inangboru, bujing, iting, nande, adalah panggilan-panggilan di suku Batak yang memiliki daya tarik tersendiri untuk menjadi dekat dan semakin dekat.

Ah, tak ada alasanku untuk tak bangga pada pertemuan saudara itu. Pertemuan yang menghangatkan di kesan pertama. Pertemuan yang menimbulkan saudara. INDONESIA… Terima kasih kau telah menjadikan Batak satu bagian di dalam tubuhmu.

Hitam, Nikmat, dan Tahan Lama

“Buyung, jangan tinggalkan kualinya!” demikian teriakan Amak (ibu dalam bahasa Minang) Buyung pagi itu. Buyung lari meninggalkanku bermain sendiri. Penasaran dengan apa yang dilakukannya, aku mengikutinya ke dapur. Sambil mengisi air minum dari teko di atas meja kayu ujung ruangan dapur itu, aku mengamati perbuatan Buyung. Entah apa yang dilakukannya.

Buyung duduk di kursi kayu kecil di depan tungku yang apinya dari kayu bakar. Ia mengaduk kuali yang berisi air putih seperti susu. Awalnya aku tak tahu itu apa.

“Ini santan dari kelapa, Guh,” kata Buyung yang heran melihat ekspresiku akan perbuatannya.

“Awas pecah santan, Yung,” kata Amak sambil datang membawa sejumput sesuatu ditangannya.

Amak ternyata baru dari ladang belakang mengambil jahe dan kemiri. Ia giling bawang merah, bawang putih, cabai merah, merica, laos, jahe dan kemiri dengan penggilingan batunya. Menyadari aku sedang mengamati mereka, Amak tersenyum lalu menyuruhku memasukkan gilingan bumbu tadi ke dalam santan yang tengah diaduk Buyung. Buyung terus mengaduk-aduk. Amak kemudian memasukkan daging sapi yang sudah dipotong-potong  dengan ukuran sekitar empat kali empat sentimeter.

“Yaudah biar Amak yang aduk, pai (pergi) lah main,” kata Amak.

Amak terus mengaduk di depan tungku dan kami pergi bermain lagi. Dua jam kemudian aku dan Buyung melihat Amak masih di depan tungku. Masakan tadi sudah berwarna merah.

Coklat muda…..

Coklat tua…..

Coklat kehitam-hitaman….

Demikian perubahan warna daging yang ku amati. Sudah kurang lebih delapan jam berlalu. Ya, delapan jam adalah waktu yang dibutuhkan untuk memasak si hitam ini. Dasar hitam! Begitu banyak kau sita waktu Amak si Buyung untuk menjagamu. Makan siang pun tiba. Aku sudah melihat sesuatu yang hitam di atas piring. Seperti gumpalan pasir yang diwarnai.

“Makan la randangnya,” kata Amak.

Segera ku ambil beberapa potong si hitam itu ke nasi dan segera menyantapnya. Luar biasa! Gurihnya kelapa membalut lunaknya daging. Setiap gigitan daging seperti membawa diri ini ke langit ketujuh. Tujuh, bukan enam apalagi lima. Mungkin beberapa piring nasi ku habiskan saat itu, entahlah. Aku pun lupa.

Sore itu aku harus pulang ke Medan. Amak kemudian menyiapkan si hitam untuk oleh-oleh keluargaku. Aku bingung dan mengatakan si hitam ini akan basi sesampainya aku di Medan. Sambil tertawa, Amak mengatakan si hitam ini dapat tahan dan tidak basi selama tiga bulan.

“Ini randang tahan lama,” kata Amak.

“Tiga bulan? Dasar kau hitam! Tahan lama ternyata kau ya!” kataku dalam hati.

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

Itu ceritaku selama di Bukittinggi. Cerita yang mengisahkan seorang Anak Medan yang memasak langsung rendang di tanah asalnya, Minangkabau (Walau cuma masukkan bumbu aja. Heheheh). Cerita itu ku bagi kepada teman-teman di Medan. Salah satunya Andre Chaniago, sahabat yang juga berasal dari Sumatera Barat. Dengan raut muka bangga, Andre menceritakan masalah rendang ini. Tak hanya rasa, ia semangat memaparkan makna dari rendang itu.

Empat bahan dasar pada rendang memiliki simbol tersendiri. Daging melambangkan pemimpin yang dihormati, yang ibarat ‘daging’ bagi masyarakatnya; kelapa melambangkan guru, penyair, penulis dan pemimpin intelektual lain yang memperkaya masyarakat; pedas cabai adalah simbol dari para pemimpin agama yang tugasnya adalah untuk menetapkan batas-batas agama; dan yang terakhir adalah rempah-rempah, yang melambangkan seluruh masyarakat. Ya, dengan raut muka bangga.

Sepertinya Andre memang wajib bangga dengan hidangan khas daerahnya ini. Bagaimana tidak, seporsi rendang yang bisa kita nikmati hanya dengan Rp. 15.000,- mampu merajai dunia. Ia menjadi kampiun top kuliner dunia dalam World’s 50 Delicious Food versi CNN Internasional. Bayangkan, peringkat satu!

Italia mungkin harus memodifikasi garnish pada spaghettinya untuk menyaingi rendang Amak Buyung. Juga Amerika yang harus memikirkan lapisan baru pada hamburgernya. Inilah saatnya rendang berjaya. Rendang bukan sembarang makanan. Ia mampu menjadi titik tengah lidah masyarakat timur yang menyukai makanan kaya rasa dan lidah masyarakat barat yang menyukai makanan manis. Komposisi bumbu-bumbu yang saling terintegrasi menjadi satu harmoni sejak gigitan pertama pada makanan ini. Menjadi kenangan saat aromanya lewat di penciuman kita.

Andre pastinya bangga akan rendang yang memiliki filosopi sehebat itu.
Buyung pun katanya bangga punya Amak yang bisa memasak masakan nomor satu dunia.
Aku?
Pertama, aku pun turut berbangga punya sahabat yang ibunya bisa memasak rendang selezat itu.
Kedua, Aku juga bangga karena tinggal di Indonesia yang punya rendang sebagai makanan khasnya.
Lantas, Apakah kau juga bangga akan rendang Amak Buyung?
Ah, menurutku pastilah kau bangga tinggal di tanah yang punya satu makanan mendunia : RENDANG. Ia hitam, nikmat dan tahan lama.

 

Tutorial Analisa Tingkat Pencahayaan dengan DIALux 4.11 – Part 2

Pada tutorial bagian 1, kita telah membuat ruangan dengan dimensi panjang 4 m, lebar  3m, dan tinggi 2,8 m..

9

Pada tutorial bagian 2, kita akan mempelajari bagaimana me-make up atau memberi material ruangan tersebut..

1. Untuk memberi material pada dinding, KLIK icon Colour-> Textures -> Indoor -> Wall

a

2. KLIK material yang diinginkan lalu DRAG ke dinding ruangan.. Pada tutorial ini material yang dipilih adalah kayu dengan jenis planking pine

b

3. Untuk memberi material pada lantai , KLIK icon Colour-> Textures -> Indoor -> Floor

c

4. Seperti biasa, KLIK material yang diinginkan lalu DRAG ke lantai ruangan.. Pada tutorial ini material yang dipilih adalah kayu dengan jenis birch wood dark

d

5. Untuk memberi material pada plafon/ceiling, gunakan tool rotate seperti pada tutorial bagian 1

e

6. Untuk memberi material pada plafon, KLIK icon Colour -> Textures -> Indoor -> Ceiling.. Pada tutorial ini, material plafon yang digunakan adalah ceiling panels

g

7. Untuk memberi material pada jendela, KLIK icon Colour -> Textures -> Indoor -> Window

h

8. KLIK material jendela yang diinginkan kemudian DRAG ke jendela pada ruangan

i

9. Untuk memberi material pada pintu, KLIK icon Colour -> Textures -> Indoor -> Doors.. KLIK dan DRAG pada pintu

k

Baik, kita telah selesai membuat material ruangan dengan DIALux 4.11
Pada Tutorial berikutnya, kita akan belajar memasukkan objek pada DIALux 4.11

Tutorial Analisa Tingkat Pencahayaan dengan DIALux 4.11 – Part 1

DIALux 4.11 merupakan software yang dapat digunakan untuk menganalisa tingkat pencahayaan pada suatu ruangan.

Adapun langkah-langkah analisa tingkat pencahayaan menggunakan software DIALux 4.11 adalah sebagai berikut:

1. Untuk memulai project baru, klik New Interior Project

2

 

 

2. Input dimensi panjang (length), lebar (width), dan tinggi (height) ruangan. Sebagai contoh pada Tutorial ini akan dibuat ruangan dengan panjang 4 m, lebar 3m, dan tinggi 2,8 m

4

 

3. Untuk membuat objek pintu dan jendela, Klik Object, lalu klik Windows and Doors

5

 

4. Untuk membuat pintu, klik icon Door lalu drag ke dinding ruangan yang telah terbentuk

6

5.  Untuk membuat jendela, klik icon Window lalu drag ke dinding ruangan yang telah terbentuk

7

6. Untuk melihat pandangan 3D ruangan yang telah terbentuk, Klik icon 3D Standard View

8

7. Untuk mengubah posisi pandangan 3D, klik icon Rotate View lalu gerakkan pada objek sesuai pandangan yang diinginkan

9

Baik, kita telah selesai membuat ruangan dengan DIALux 4.11
Pada Tutorial berikutnya, kita akan belajar memberi material ruangan pada DIALux 4.11

Analisis Tingkat Pencahayaan dengan DIALux 4.11

Untitled

Asisten Laboratorium TataLetak Pabrik TI USU 2012/2013

 

 

549996_4543224667412_873816482_n

 

Berdiri (dari kiri ke kanan) : Ari Rahmadiansyah, Christiany Simanungkalit, Yos Indra, M. Wildan Arief, Nilda Novianti

Duduk (dari kiri ke kanan) : Regina Basaria Napitupulu, Tanti Mastika, Tonggo Hutabarat, Andi Meliala, Rahma Maidani, Teguh Sitepu, Marito Magdalena, Marulak Ambarita, Patima Harahap

 

Magic Broom

PENDAHULUAN

Setiap rumah pasti memiliki alat bantu bernama sapu. Jenis sapu yang umum digunakan di rumah tangga adalah sapu ijuk, sapu lidi, dan sapu langit-langit. Material yang digunakan pada sapu ijuk dan sapu langit-langit cenderung sama. Perbedaan kedua sapu itu hanya terletak pada gagang sapu langit-langit yang sangat panjang.

Sapu ijuk biasa digunakan untuk menyapu dalam rumah. Sapu ijuk memiliki serat-serat yang berbeda, ada yang terbuat dari sabut kelapa, plastik, dan lain sebagainya.  Cara merawat sapu jenis ini cukup di rendam dengan deterjen dan ijak-injak bagian seratnya, setelah bersih, jemur dengan posisi terbalik. (http://www.dskon.com/sapu/)

Sapu langit-langit biasa digunakan untuk membersihkan langit-langit rumah yang kotor. Sapu ini memiliki gagang yang sangat panjang untuk dapat menjangkau langit-langit. Cara merawat sapu ini sama dengan merawat sap ijuk. (http://www.dskon.com/sapu/)

MASALAH

Frekuensi penggunaan sapu langit-langit yang sangat kecil menyebabkan penyimpanan (storage) dari sapu ini sering terabaikan. Sapu ini biasa diletakkan di gudang sehingga kita kerap kesulitan mencarinya ketika diperlukan

SOLUSI

Dari masalah itu timbul ide untuk menggabungkan sapu ijuk dan sapu langit-langit dalam satu alat yang disebut MAGIC BROOM.

magiic1

 

Prinsip memanjangkan gagang sapu pada MAGIC BROOM mengikuti prinsip antena radio

images

 

magic2]

 

Sehingga gagang sapu menjadi panjang dan dapat digunakan untuk membersihkan langit-langit

magic3

 

Sekian penjelasan dari produk MAGIC BROOM. Kritik dan saran diterima dengan senang hati :)

WIPROT = Wiper Pembersih Kaca + Penyemprot

PRESENTED BY :

Idea                                 – Teguh Sitepu

Design                             – Recky Simamora (Using AutoCAD 2007)

Material and Render – Teguh Sitepu (Using 3D Studio Max 2009)

 

PENDAHULUAN

Selama ini kegiatan membersihkan kaca merupakan kegiatan yang merepotkan. Bagaimana tidak, anda harus melengkapi diri dengan wiper di tangan kanan dan penyemprot cairan pembersih kaca di tangan kiri. Kedua alat ini akan menuntut kesigapan kedua tangan anda.

wiprot0

 

MASALAH 

Masalah membersihkan kaca dengan cara lama baru muncul ketika anda membersihkan kaca di tempat tinggi. Anda harus sangat berhati-hati pada saat membersihkan kaca ditempat tinggi. Alasannya, anda tidak dapat berpegangan kepada apapun karena kedua tangan anda sudah penuh

 

SOLUSI

Masalah tersebut memberi kami ide untuk merancang alat yang berfungsi sebagai wiper dan penyemprot sekaligus yang diberi nama WIPROT. Alat ini dapat digunakan pada tangan kanan sehingga tangan kiri anda bebas bergerak.

WIPROT1

Cara pengisian cairan pembersih kaca :

1. Buka penutup lubang

2. Isi cairan pembersih kaca

3. Tutup penutup lubang

WIPROT3

Pengoperasian WIPROT:

1. Arahkan penyemprot ke kaca yang hendak dibersihkan

2. Tekan tuas penyemprot

3. Gerakkan wiper ke bawah untuk membersihkan kaca

WIPROT2

WIPROT4

Demikian penjelasan dari produk WIPROT. Kritik dan saran diterima dengan tangan terbuka :)

Revisi-an Mengalihkan Barcelona-ku

BALADA ITU TERJADI PADA TANGGAL 1 MEI 2013, DENGAN PUJANGGA SAYA SENDIRI DAN TOKOH SAYA SENDIRI

01:00 WIB -> Bangun, berjalan gontai ke dispenser, minum segelas air putih

01:05 WIB -> Merenungi peluang FC Barcelona lolos ke Final Liga Champion 2013

01:15 WIB -> Merasa peluang itu mustahil

01:16 WIB -> Malaikat penyemangat turun menghampiri

01:30 WIB -> Optimis Barca akan membantai Muenchen hingga Robben menangis terisak-isak

baru

04:00 -> Terinfeksi VIRUS GALAU karena kekalahan tim kesayangan

Gejala-gejalanya:

1. Malas melihat berita bola
2. Siap berperang dengan manusia yang ngebahas skor tadi malam
3. Mata bengkak, hati lebih bengkak karena terlukai (barcelona adalah harga diri!)

Mau MOVE ON dari sedihnya kekalahan Barca, TAPI CARANYA BAGAIMANA??

04:05 -> Tidur (tetap ditemani bayang-bayang kekalahan Barca)

09:30 -> Bangun pagi (bukan kebo)

09:32 -> Melihat pesan masuk dari dosen pembimbing yang ingin mengembalikan laporan (REVISI-red)

09:40 -> Berada di kampus dengan penampilan serapi mungkin (hati yang sedang luluh lantah hanya saya yang tahu)

10:00 -> Dosen Pembimbing mengembalikan laporan

bar2

MISI MOVE ON DARI KEKALAHAN FC BARCELONA BERHASIL DENGAN SUKSES DENGAN BANTUAN REVISI-AN 

P.S.

To: Revisian

Terimakasih ya, udah buat aku ngelupain kekalahan barca. Kalahnya Tujuh Kosong lo, hati siapa yang nggak terluka. Semoga FC Barcelona menjadi lebih baik untuk musim depan. Sekali lagi, terimakasih ya revisi-an ;)

From : Teguh Sitepu