Tristyan's Story

Through Story Sharing My Thought

Life is a choice to be someone or to be nothing…..

Alhamdulillah…..alhamdulillah……alhamdulillah……rasa syukur tak henti kupanjatkan kepada Allah SWT. Hari ini resmi sudah gelar Sarjana Pendidikan kusandang. Tepatnya tadi pagi tanggal 27 April saya diwisudha. Dengan didampingi Bapak, Ibu, serta kakak perempuanku satu-satunya bersama suami dan anaknya aku berangkat menuju auditorium Universitas Muria Kudus (UMK) untuk mengikuti sidang senat wisudha ke 46. Sampai di kampus kusempatkan berfoto bersama kedua orang tuaku di depan masjid yang baru saja dibangun, tempat itu salah satu pilihan yang bagus sebagai latar untuk berfoto. Sebelum memasuki gedung audit pun kusempatkan pula berfoto dengan semua wisudawan/wati yang lain. Dari pukul tujuh hingga kurang lebih pukul sebelas pagi sidang senat berjalan lancar.

Begitu acara seremonial selesai, teman-teman yang sudah terlebih dahulu diwisudha pada bulan Oktober lalu bermunculan. Sudah menjadi adat memang teman-teman datang untuk memberi selamat dan tidak ingin melewatkan satu ritual yaitu berfoto bareng. Diawali temanku bernama Ayu yang muncul. Sontak langsung kupanggil dia “Yu’ ayo foto!” teriakku. Ajakanku tadi berlanjut dengan kegiatan berfoto yang beruntun.

Beberapa menit kemudian sms masuk ke handphoneku. “Pak kamu dimana?blz. Rojib” (sapaan Pak biasa dipake teman-teman Beswan angkatan 08/09 untuk memanggil saya). Langsung ku balas “Tunggu bentar Jib nie baru mau foto ma Pak Dekan”. Setelah berfoto dengan orang nomor satu di Fakultasku tersebut aku segera menghubungi Rojib untuk masuk ke dalam Audit. Begitu Rojib masuk ke Audit langsung kutanya “Temen-temen Beswan yang lain mana?” “Baru aku thok yang lain nyusul katanya,” jawabnya. Muncul sedikit rasa kecewa dalam hati, tapi taka pa kulanjutkan berfoto dengan orang-orang disekelilingku.

Beberapa saat kemudian muncul adik-adik Beswan angkatan 10/11 atau sekarang lebih popular disebut angkatan ke- 26. Rupanya mereka sudah berkumpul di belakang dengan sebuah standing banner bertuliskan ucapan selamat yang dibuat khusus untuk Beswan yang diwisudha hari ini. Hari ini tepatnya empat orang Beswan yang diwisudha, tiga orang yang lain selain saya yaitu Muh Khasan, Ulin Nuha, dan Muh Chusnan. Betapa senang rasa hati sebab keluarga Beswan hadir memberi ucapan selamat di salah satu momen yang berarti dalam hidupku.

Puluhan kali kamera membidik wajahku bersama mereka. Berbagai pose, latar dan sudut pandang menjadi alasan sessi foto bareng tak kunjung berhenti. Ditambah lagi yang namanya Beswan Djarum tidak ada kata lelah untuk difoto, selalu saja ingin nampang (red, baca: narcis berat!). Untung waktu itu temanku yang bernama Ayu siap menjadi fotografer pribadiku, walaupun niat awal dia adalah juga ingin jadi objek yang difoto (makasih Ayu…hehe… peace!).

Ketika kaki ini mulai lelah (maklum acara seremonial wisudha cukup lama dan mengharuskan aktifitas duduk dan berdiri berulang kali). dan wajah mulai kaku akibat sering pose di depan kamera, tiba-tiba teman Beswan angkatanku bermunculan. Karuan saja sessi foto menjadi semakin tak kunjung hentinya. Jepret! Jepret! Jepret! x 1000. Alamak gini ya rasanya jadi artis!!! Sejurus kemudian telepon masuk, rupanya dari Kak Budi (Beswan ankatan 2007) “Kak Bowo posisi dimana? Nie aku habis foto ma Chusnan,”paparnya. “Ni aku masih di Audit masih foto-foto ma temen-temen Beswan, kesini aja,” jawabku. Sessi foto pun berlanjut terus dan terus hingga latar berrpindah ke gedung FKIP dan kemudian fakultas Psikologi. Aktivitas hari ini sungguh membuatku senang sekaligus mabuk kamera. But anyway, thanks guys for all of your support. Then, acara berlanjut dengan makan rujak bareng di kampus hehehe…..

(Bowo, 27-04-11) Berikut ini sebagian “KECIL” dari foto-foto Wisudhaku:

I\m Sorry Good Bye!

With my Dad, my Mom and my niece

I\m Sorry Good Bye!I\m Sorry Good Bye!

I\m Sorry Good Bye!

Foto bersama Ulin (Beswan 08)

I\m Sorry Good Bye!I\m Sorry Good Bye!I\m Sorry Good Bye!I\m Sorry Good Bye!I\m Sorry Good Bye!

I\m Sorry Good Bye!

berfoto dengan Beswan Angkatan 26 plus banner ucapannya

I\m Sorry Good Bye!

Hari Senin tanggal 18 April malam itu saya dapat giliran jaga stand “Dolanan”. Sebagai koordinator games praktis tiap hari dan tiap sessi saya harus stand by di stand. Ketika itu waktu menunjukkan pukul delapan malam, saya berdiri di samping meja penukaran hadiah sembari melinting kupon paket permainan. Maklum jumlah pengunjung yang semakin banyak membuat panitia kuwalahan dan harus menyiapkan lintingan kupon lagi. Karena sebelum bermain di stand kami pengunjung terlebih dahulu mengisi kotak peduli lingkungan dan kemudian mengambil lintingan daftar paket permainan yang bisa dimainkan.

Saat asik melinting kupon tiba-tiba ada yang menepuk punggungku dari belakang. Kutolehkan pandangan, ternyata Pak Rudi, si boss berdiri tepat di belakangku. “Gimana Wo? Lancar?” Tanya beliau. “Wah rame banget pak, kita kehabisan hadiah kedua nich, minta tolong besok diusahakan ya Pak” pintsaya. “Ok, ntar takcari,” jawab pria paruh baya tersebut. Seperti biasa urusan penyediaan hadiah untuk stand kami ditangani langsung oleh pihak Djarum, kebetulan stok hadiah kami mulai menipis makanya langsung saja saya “tembak” ke bossnya.

Beberapa saat kemudian pak Rudi kembali dan berkata “Besok diambil sama Endar ya hadiahnya di kantor,” tutur beliau. “Ok, siap Pak”. “Oh ya, mau ketemu LYLA?” tiba-tiba beliau bertanya. “Ketemu langsung maksudnya? Foto-foto?” tanysaya ragu. “Iya, beneran kalau mau ntar bisa tak atur,” jawabnya. “Serius Pak? Boleh banget,” jawabku semangat. “Tapi ntar yang jaga siapa?” tanya Pak Rudi. “Hmmmm……,” jawabku sambil melihat ke arah stand yang masih dijejali pengunjung. Sesaant kemudian pak Rudi pergi menuju panggung utama. “Bentar ya…” katanya. Lima belas menit berlalu, LYLA sudah naik ke panggung. Sebagian pengunjung sudah mengalihkan perhatiannya ke panggung utama.

Tiba-tiba datang si Ichan, teman Beswan juga yang mengatakan “Kak, barusan Pak hardi bilang katanya sebagian Beswan bisa foto bareng dengan LYLA dan disuruh ngumpul deket panggung sekarang,” paparnya. Pak Hardi adalah Pembina Beswan Kudus sekaligus yang mendampingi kami selama rapat bersama Pak Rudi dan tim. Sontak beberapa Beswan yang masih standby di stand bergegas ke dekat panggung. Kami berusaha menghubungi rekan Beswan yang lain namun rupanya mereka sudah terlanjur asyik menikmati lantunan lagu LYLA di depan panggung.Walhasil hanya segelintir Beswan yang punya kesempatan ketemu LYLA secara langsung. Disisi lain kalau berfoto dengan orang terlalu banyak juga jadi beda rasanya kurang “eksklusif” gitu hehe….

Dengan diantar oleh pak Hardi, kami digiring masuk ke area dekat panggung yang penuh dengan pengawalan ketat. Kami pun masuk ke sebuah tenda berwarna putih, sambil menunggu LYLA selesai manggung. Di dalam tenda kami sibuk berkaca di depan sebuah cermin layaknya kami yang mau pentas. Sepuluh menit berlalu LYLA pun masuk ke dalam tenda. Akhirnya Jepret! Jepret! Jepret. Karena tidak ada yang mau mengalah untuk memfotokan, Pak Hardi rela menjepretkan kamera untuk kami hehe…… Kesempatan bersalaman, bertatap muka sekaligus berfoto pun terlampaui. Betapa senang hati ini bisa berfoto dengan orang terkenal, paling tidak bisa jadi bahan buat di pamerkan via facebook. Kebetrulan yang membawa kamera dengan kualitas yang memadai pada waktu itu adalah temannya Ichan, langsung saja begitu sampai rumah saya segera log in ke facebook dan menunggu fotoku diupload disana. Tidak sabar rasanya untuk men-tag teman-teman facebooku. Setelah saya di-tag segera saya bergegas membuka foto saya, ternyata yang muncul fotoku dengan wajah terpotong. Ini dia fotonya :

I\m Sorry Good Bye!Melihat foto tersebut agak sebel rasanya. “Masak fotoku wajahnya cuma separuh” pikirku dalam hati. Alih-alih ingin pamer malah nanti bisa jadi bahan ejekan. Segera kutanyakan foto yang lain, soalnya kalau tidak salah ada tiga kali jepret. Akhirnya muncullah fotoku dengan muka lengkap, meskipun secara proporsi masih kurang bagus. Tapi tak mengapalah, it’s okey yang penting masih bisa eksis. Makasih buat kesempatannya. Hari berikutnya pun saya mendapat kesempatan lagi untuk berfoto, tapi kali ini dengan Sheila On 7. Tapi hingga tulisan ini saya posting saya belum lihat hasilnya, semoga saja tidak kepotong lagi. Saya sempat foto sama SPG juga lho Heheh…….{genit ;)}I\m Sorry Good Bye!

I\m Sorry Good Bye!Beberapa periode yang lalu masyarakat Indonesia sempat berang atas klaim Negara jiran terhadap beberapa kebudayaan Indonesia. Lepas kejadian tersebut semua berujar untuk mulai ngopeni (red, baca: memelihara) peninggalan budaya. Bicara soal melestarikan kebudayaan ada cara yang cukup menyenangkan, seperti yang dilakukan teman-teman Beswan Kudus dalam Djarum Family Fair (DFF) 2011lewat stand bernama “Dolanan”. Seperti yang saya sampaikan di posting sebelumnya tahun ini merupakan tahun ketiga keterlibatan Beswan Kudus di acara yang sama.

Melalui stand “Dolanan” Beswan mengakomodir pengunjung DFF untuk bisa melestarikan peninggalan sambil bermain. Kenapa tidak? Karena permainan yang disediakan di stand tersebut berisi permainan-permainan tradisional yang notabene merupakan salah satu warisan budaya yang wajib dipertahankan. Tidak hanya memberikan kesenangan sejumlah permainan tradisioanl mampu membangun interaksi sosial sekaligus melatih kemampuan motorik. Lihat saja permainan masa kini seperti permainan elektronik yang memang member kesenanagn namun kurang mendidik dan cenderung individualis. Ditambah dengan semakin menipisnya area bagi anak untuk bisa bermain bersama teman sebaya. Berikut sebagian dari permainan yang ditampilkan dalam stand “Dolanan’ yang dikelola oleh “Beswan Djarum Kudus pada DFF 2011 :

I\m Sorry Good Bye!I\m Sorry Good Bye!

I\m Sorry Good Bye!

I\m Sorry Good Bye!

I\m Sorry Good Bye! I\m Sorry Good Bye!

Itulah sebagian dari 17 permainan yang ada di stand “Dolanan”. Fakta yang paling menyenangkan adalah animo pengunjung sangat tinggi hingga kami para Beswan yang bertugas di masing-masing permainan kerepotan. gak percaya check it out :

I\m Sorry Good Bye!

I\m Sorry Good Bye!

Beswan Djarum Kudus berfoto di depan panggung utama DFF 2011

Awal Mei saya bersama empat orang ketua Beswan Kudus yang lain mendapat undangan di kantor Djarum Pusat di jalan Ahmad Yani, Kudus. Undangan tersbut berkaitan dengan rencana keterlibatan Beswan Kudus dalam acara Djarum Family Fair (DFF) 2011, yaitu even khusus menyambut ulang tahun Djarum. Tahun ini Djarum genap berusia 60 tahun. Seperti tahun sebelumnya rupanya Beswan Djarum Kudus dipercaya untuk mengelola sebuah stand yang khusus menyediakan permainan-permainan tradisional.

Sebenarnya keterlibatan Beswan bukan yang pertama melainkan yang ke tiga kalinya. Lebih tepatnya ke dua kalinya untuk konsep yang sama, sebab dua tahun sebelumnya Beswan hanya bertugas membantu di stand Bhakti Lingkungan. Beswan yang terlibat pun bukan hanya Beswan yang masih aktif mendapatkan beasiswa saja melainkan hampir keseluruhan Beswan Kudus termasuk para alumni. Itulah hebatnya Beswan Kudus, komunikasi tetap terjalin dam sering dipercaya mengelola acara termasuk salah satunya yang melibatkan lintas angkatan yaitu kegiatan Temu Mitra Lingkungan (TML), seperti yang pernah saya tulis di posting sebelumnya.

Tahun ini konsep acara secara keseluruhan benar-benar wah. Hal itu seperti yang disampaikan Pak Rudi, manager HRD Djarum yang juga penangggung jawab DFF dalam rapat yang saya ikuti bersama mas Budi (ketua Beswan Kudus 2007), Sugik (ketua Beswan Kudus 2009) dan fatah (ketua Beswan Kudus 2010). Beberapa kali rapat kami lalui dari sore hingga lepas Maghrib, kami menawarkan ide dan gagasan berkaitan dengan stand yang akan kami kelola. Untung kami memiliki Mas Budi, salah satu senior Beswan Djarum Kudus yang brilliant (kalo baca posting nie jangan GR yach hehe….), saya banyak belajar dari sosok yang satu ini, baik dalam hal kepemimpinan maupun dalam menghadapi masalah. Disamping ada sosok-sosok lain seperti Pak Tarom dan Mas Yusuf yang juga memiliki kontribusi luar biasa dalam berbagai kegiatan kita selama ini. Salute to all of them!

Alhamdulillah, dengan kinerja keseluruhan Beswan yang kompak dan saling mengisi Beswan pun siap beraksi di DFF 2011. Konsep yang kita usung adalah sebuah stand yang menyediakan berbagai permainan tradisional yang bisa dimainkan oleh para pengunjung DFF 2011. Stand spesial yang kami kelola kami beri nama stand “DOLANAN” sesuai konten yang ada di dalamnya. Konsep permainan tradisioanl kita ambil mengingat tema besar yang diambil tahun ini adalah Heritage of Indonesia. Pengunjung bisa memainkan satu paket permainan caranya dengan terlebih dahulu mendaftar dan mengisi kotak peduli lingkungan secara sukarela, maka pengunjung bisa bermaina permainan seperti yang kita sediakan tahun ini antara lain dakon, gedrik, ular tangga, bitingan, engggrang bathok, bakiak 2inone, crooott, saduk ball, honocoroko, pancing nomor dan masih banyak lagi.

Semua permainan tersebut kami modifikasi dengan penyesuaian yang modern dan menarik, sebagai contoh adalahh permainan ular tangga, kami menyediakan alas ular tangga ukuran tiga meter persegi dengan pemain itu sendiri sebagai pionnya. Yang lebih gila lagi adalah tahun ini tampilan stand kita serba special, hal ini bisa dilihat dari tampilan yang kita konsepkan. Untuk hal yang satu ini Mas Budi dan Mas Yusuf lah ahlinya. Dengan dibantu oleh ahlinya kami menerjemahkan konsep yang kita tawarkan dan diingini oleh pihak Djarum.

Bukan hanya itu luas area stand kami yang cxukup besar dan berada di tengah-tengah. Betapa kepercayaan yang sangat besar yang diberikan kepada kami Beswan Djarum Kudus.

I\m Sorry Good Bye!

Beswan Djarum Kudus lintas angkatan berfoto di depan stand "DOLANAN"

Sembilan hari yakni dari tanggal 13 sampai 21 April, terdiri dari sebelas sesi itulah lama even DFF 2011 digelar. Bertempat di GOR Bulu Tangkis terbesar di Asia Tenggara, DFF 2011 menghadirkan band-band nasional setiap harinya. Benar-benar pengalaman yang luar biasa bagi kami apalagi kami mendapatkan beberapa kali kesempatan untuk bertemu dan berfoto bersama band-band seperti LYLA, KOTAK, BONDAN, dan lain-lain. Selah rasa capek mengelola stand lima jam persesi hilang dengan berbagai hiburan yang ada. Thanks to all BeswanKu (Beswan Djarum Kudus) atas semua kerja keras, dedikasi dan semangat untuk terus maju dan berkarya. Banyak cerita yang muncul dari even ini, oleh karena itu silahkan sobat tunggu postingan selanjutnya.

I\m Sorry Good Bye!Kamis pagi di kantor guru SD tempatku mengajar seperti biasa terlihat sepi, sebagian guru menjadi penguji ujian praktik kelas enam pagi itu. Sementara yang lain sibuk mengajar di kelas-kelas. Di ruangan kantor hanya ada saya dan kepala sekolah yang sedang sibuk dengan laptop di hadapannya. Sementara saya sedang mengetik di depan computer. Tiba-tiba Pak Prayit, guru olah raga masuk ke ruangan kepala sekolah dan berkata “Pak Har, Pak Lud katanya kecelakaan, menabrak tukang becak, yang ditabrak meninggal,”tuturnya. “Masyaallah, ujian kok beruntun ya,”jawab kepala sekolah.

“Baiknya kita sampaikan ke guru-guru yang lain, lalu kita rapat dan menentukan kapan kita jenguk bersama,” tambah beliau. Kemudian Pak Prayit keluar ruangan. Sesaat kemudian masuk Bu Nur dengan langkah gontai, “Pak saya izin, suami saya kecelakaan….,” kata Bu Nur. Sejurus saya alihkan pandangan dari layar komputer ke arah Bu Nur, nampak matanya berlinangan air mata. Beberapa minggu yang lalu baru saja anaknya mengalami kecelakaan hingga tulang pahanya patah dan di rawat di Rumah Sakit di Solo, sekarang giliran suaminya yang kena musibah. Tak lama Pak Prayit kembali masuk ke ruangan, ia bermaksud meminta izin untuk mengantar Bu Nur.

Tak berapa lama Bu Nur bergegas pergi. Sesaat kemudian guru-guru yang tadinya berada di dalam kelas bergegas menuju kantor menanyakan perihal yang menimpa Bu Nur. Salah satu guru yang sesaat sebelumnya bersama Bu Nur bercerita “Tadi Bu Nur itu dapat telepon dari polres, katanya suaminya mengalami kecelakaan, korban yang ditabrak katanya meninggal,” “Inalillahiwainailaihirojiun,” jawab guru yang lain. “Tapi anehnya tadi si penelepon tidak memberitahu kejadiannya dimana dan posisi Pak Lud sekarang dimana, malah penelpon yang mengakau dari polres itu minta dikirimi pulsa ke tiga nomor HP yang diberinya,” imbuhnya. Sontak dalam hati saya berkata “Wah itu penipuan!”.

Namun sebelum aku sempat mengatakannya guru-guru yang lain pun sudah menyadarinya. “Saya pikir itu penipuan, kenapa kalo berita itu benar polisi tidak memberitahu tempat kejadian dan posisi Pak Lud, malah minta dikirimi pulsa,” tutur salah seorang guru. “Iya Bu, saya yakin itu penipuan, saya telah mendengar cerita serupa sebelumnya, si penipu memang mencari dan mengumpulkan data tentang korban sebelum menelpon, iyulah kenapa ia bisa tahu nama-nama calon korban dan tahu jadwal sehari-hari si korban,” ungkap saya membenarkan.

Di zaman yang serba susah ini ternyata semakin “kreatif” saja cara orang mencari pendapatan, bahkan sampai melakukan cara apapun termasuk menipu. Penipu tersebut rupanya pandai memanfaatkan situasi panik yang dibuatnya dengan cara memberitahukan berita duka palsu untuk membuat pikiran si korban menjadi kacau. Maklum mdalam situasi panic seseorang tidak mampu berfikir jernih, apalagi jika mendengar berita buruk menimpa ortang yang kita sayangi. Saya me-posting tulisan ini bermaksud untuk menginformasikan sekaligus mengingatkan sobat semua agar lebih waspada.

I\m Sorry Good Bye!

I\m Sorry Good Bye!

Hari ini saya berangkat ke sekolah seperti biasanya. Jadwal saya mengajar di sekolah adalah tiga hari dalam satu minggu. Hari ini hari Kamis, salah satu hari dari jadwal tersebut. Namun hari ini di sekolah ada yang berbeda. Hari ini siswa kelas VI melaksanakan Ujian Akhir Sekolah (UAS), dan saya mendapat giliran sebagai pengawas ujian tersebut dipertnerkan dengan salah satu guru senior di SD tersebut.

Mengawasi ujian yang durasinya dua jam memang bukan waktu yang sebentar, sehingga saya dan pengawas yang lain mengisi waktu sambil berbincang dan sesekali memeringati siswa yang kurang tertib selama ujian. Beberapa kali siswa juga menanyakan soal yang mereka anggap sukar dipahami.

Saya dan rekan guru saya yang bernama Bu Marmi berbincang mengenai beberapa hal sampai perbincngan mengarah kepada pengalaman beliau sewaktu kecil. “Masa kecil saya dulu di desa mas, kalau liat acara Si Bol**g di tv persis seperti yang saya alami dulu,” ungkap beliau sambil mengisi berita acara pelaksanaan ujian. “Dulu saya dan teman-teman saya waktu kecil sering berpetualang ke sawah, ngasak (red, baca: mengais sisa panen), ke sungai mencari ikan setelah itu dibakar dan dimakan reme-rame,” lanjut beliau.

I\m Sorry Good Bye!

Lebih banyak interaksi terjadi saat bermain bersama teman-teman

“Wah seru ya Bu,” papar saya menangggapi ceritanya. “Iya betul, kalau haus setelah capek bermain kita ke mbelik (red, baca: mata air) kemudian kita minum pake daun sebagai gelasnya, kalau dulu air bersih gak ada yang sakit perut setelah minum itu,” ungkapnya semakin bersemngat. “Wah, berarti dulu semuanya lebih alami dan ramah lingkungan ya? asyik sekali,” tandasku. “kalau kita bermain pun semua mainan kita buat sendiri, jadi belajar kreatif, main ke sawah, sungai, keluar masuk hutan sudah menjadi kebiasaan,” tambah wanita paruh baya tersebut. “Tidak seperti sekarang Bu ya, anak-anak tahunya main play station yang mana minim interaksi dengan teman sebaya, apalagi sekarang area bermain anak-anak terutama daerah perkotaan semakin sempit,” kataku kepada Guru wali kelas empat itu. “Iya mas, memang sekarang semua serba berubah, tidak seperti dahulu,” komentarnya.

I\m Sorry Good Bye!

Usai percakapan tersebut say berfikir, era sekarang memang era teknologi yang memberi segala kemudahan termasuk diantaranya akses informasi, transportasi dan perkembangan IPTEK. Namun rupanya ada pergeseran dimana kita sudah melupakan nilai-nilai pernghargaan terhadap lingkungan, sosial dan semangat kekeluargaan. Dan yang lebih memprihatinkan semakin tahun kualitas hidup kesehatan manusia semakin rendah akibat semakin bartambahnya pencemaran dan pengrusakan lingkungan lingkungan. Mungkin kita harus lebih banyak belajar pada kearifan nenek moyang dalam membangun harmoni hidup bersama lingkungan.

(Bowo, 7/4/11)

I\m Sorry Good Bye!

Sudah tiga bulan ini saya mengajar di sebuah sekolah dasar di Desa Megawon, satu setengah kilo dari rumah saya. Kali ini pula saya merasakan mengajar benar-benar sebagai guru bahasa Inggris dan bukan sebagai mahasiswa magang atau PPL. Walaupun sebelumnya saya pernah diminta mengajar jurnalistik di sebuah SMP yang dipimpin salah satu alumni Beswan Kudus. Tetapi mengajar di SD memang berbeda disamping siswa yang dihadapi juga permasalahan yang menyertainya.

Mengajar di SD sebenarnya bukanlah sesuatu yang mengerikan, sangat menyenangkan malah melihat anak-anak kecil yang polos seakan membawa kembali ke masa kecil saya. Namun di SD pula saya mengalami dilema yang mungkin selama ini juga dihadapi pula oleh sebagian guru bahasa Inggris sekolah dasar. Dilema itu berupa materi yang harus di sampaikan guru dan dikuasai oleh peserta didik. Itje Khoditjah pakar pendidikan bahasa Inggris di salah satu seminar yang pernah saya ikuti mengkritik habis-habisan sebuah LKS Bahasa Inggris yang selama ini menjadi acuan mengajar guru. Bagaimana tidak untuk siswa setingkat SD yang baru belajar berbahasa Indonesia dituntut menguasai ratusan kosakata baru dalam bahasa Inggris. This is madness!

Hal ini dirasa sangat berlebihan dan tidak sesuai porsinya. Saya pun sempat mengecek di LKS bahasa Inggris yang selama ini menjadi acuan guru Bahasa Inggris SD. Walhasil bisa kita hitung jumlah kosakata baru dalam satu semester jumlahnya memang mencapai ratusan. Tidak hanya dalam hal kuantitas kosakata yang tinggi penyajian materi dan isi materi dalam LKS tersebut kurang pas untuk anak yang baru mengenal bahasa Inggris. Pengenalan grammar di kelas 1 misalnya sama sekali diluar logika bagi siswa yang baru mengenal bahasa Indonesia sebab bahasa ibu mereka adalah bahasa Jawa. Kenapa guru cenderung bergantung pada LKS? Tidakah guru tersebut bisa mengembangkan materi sendiri yang lebih proporsional? I\m Sorry Good Bye!Jawabannya sangat dilematis, yaitu seharusnya guru memang bisa menyusun materinya sendiri namun akan sia-sia. Mengapa demikian ? karena guru terbentur pada soal ulangan midsemeseter/semester yang dikeluarkan oleh dinas yang materinya berdasarkan LKS yang kontennya sangat “gila” itu. Jika materi dalam LKS tidak disampaikan maka peserta didik terancam gagal dalam ulangan tengah semester/ semester yang notabene soalnya diambil dari konten LKS tertentu.

Menurut asumsi saya ada “simbiosis mutualisme” antara penerbit LKS dengan oknum di dinas. Hal itulah yang menjadi kenehan tersendiri, padahal bisa jadi pihak penerbit tidak pernah memiliki pengalaman lapangan, mengajar di SD. Dan yang lebih aneh lagi belum ada silabus sebagai pedoman untuk menyusun materi bahasa Inggris siswa SD (khususnya kelas 1-3), jadi bagaimana penerbit bisa menentukan materi mana yang cocok untuk anak usia SD? Haruskah peserta didik dikorbankan demi keuntungan segelintir orang? Itulah potret kecil dari sitem pendidikan di negri kita tercinta, Indonesia Raya. Sebagai guru saya tidak bisa berbuat apa-apa yang saya lakukan hanya mencoba berdamai dengan kenyataan. Namun jauh di dalam lubuk hati saya mengatakan “Harus ada seseorang yang mengubah ini!” it can be me, it can be you!

(*bowo, 05/04/11)

I\m Sorry Good Bye!Pertanyaan diatas selalu muncul ketika kita ingin menulis namun belum memiliki pandangan topik apa yang akan kita tulis. Pun pertanyaan ini muncul ketika banyak ide menyesaki ruang di kepala kita dan tak tahu harus mengawali dari mana? Ini berdasarkan pengalaman yang saya alami dan saya yakin banyak dari sobat semua yang sering mengalaminya.

Menulis memang mudah, akan tetapi tulisan yang kita buat tersebut belum tentu orang lain mudah menangkap pesan apa yang ingin kita sampaikan. Sebab inti dari sebuah tulisan yang baik adalah mudah dimengerti dan ditangkap oleh pembaca. Oleh sebab itu tulisan yang baik harus memiliki struktur yang sistematis dan komunikatif. Hal yang menurut kita sepele seperti penulisan tanda baca dan penggunaan huruf kapital misalnya jika penulisannya kurang tepat pasti juga akan mempengaruhi “kenyamanan” pembaca. Namun untuk memulai menulis saja bagi sebagian orang sudah sangat susah, apalagi bagi yang belum memilki kebiasaan ini. Sejenak kita tinggalkan segala rules tersebut, jika malah membuat kita mengurungkan niat untuk menulis. Ada beberapa tips untuk memulai sebuah tulisan berdasarkan pengalaman dan menimba ilmu dari orang-orang yang lebih berpengalaman, antara lain:

  1. Tuliskan kata pertama yang muncul di pikiran

I\m Sorry Good Bye!

Saat kita hendak memulai menulis masalah yang sering kita hadapi adalah untuk memulai tulisan tersebut. Untuk masalah yang satu ini, sahabat saya pernah menasehati saya untuk menulis kata apa pun yang pertama kali melintas dalam pikiran saya. Benar saja, langkah awal tersebut cukup membantu untuk melanjutkan tulisan berikutnya. Namun sebelum itu tentunya kita perlu membuat draft mengenai apa saja yang hendak kita sampaikan dalam tulisan tersebut. Istilah umum untuk langkah ini adalah kerangka karangan. Namun saya lebih suka dengan proses yang disebut brainstorming seperti yang disampaikan dosen pengampu mata kuliah”Writing” saya di kampus. Yang dimaksud proses brainstorming adalah menuliskan semua hal yang berkaitan dengan tema atau topic yang kita sampaikan. Dari situ kita bisa memilah hal apa yang perlu dan tidak perlu ada dalam tulisan kita. Tujuannya adalah agar tulisan kita sistematis dan tidak kemana-mana (red, baca : tetap fokus pada topik tertentu).

2. Jangan menulis sambil mengedit

I\m Sorry Good Bye!

Kebiasaan yang sebenarnya bisa dikatakan mengurangi produktivitas tulisan kita adalah melakukan editing sebelum tulisan selsesai kita buat. Baru satu paragraph tertulis kita sudah membaca dan mengkoreksi tulisan kita. Akibatnya waktu kita hanya terbuang untuk satu paragraph daripada menyusun paragraph berikutnya. Yang saya lakukan untuk permasalahan yang satu ini adalah dengan menulis dan menulis semua gagasan yang muncul tanpa jeda. Hal ini adalah untuk menuangkan segala gagasan kita. Proses editing entah itu yang berkaitan dengan redaksi bahasa mupun kesalahan pengetikan dapat kita lakukan setelah tidak ada lagi gagasan yang belum tertuliskan. Terkadang jika kita berkutat pada sebuah paragraph kita akan kesulitan untuk melanjutkan paragraph berikutnya. Maka tulislah, sebelum semua kata-kata itu menghilang dari kepala sobat.

3. Posisikan diri sobat sebagai pembaca

Menulis adalah menyampaikan gagasan atau pesan untuk bisa diterima dan dipahami oleh orang lain. Jadi menulis itu memang bukan untuk diri kita sendiri melainkan untuk orang lain yang anda harapkan mau menbaca tulisan anda. Untuk itu selalu posisikan diri anda sebagai pembaca yang awam dan belum tahu sama sekali perihal yang ingin sobat sampaikan. Untuk itu usahakan judul maupun kalimat awal dalam tulisan sobat memilki daya tarik disamping memiliki penjelasan yang detail dan informatif. Hindari menggunakan singkatan-singkatan yang terlihat umum dipakai seperti “yg” (yang), “&” (dan), “tp” (tapi), dll. Singkatan semacam itu justru mengurangi nilai tulisan sobat.

4. Menulislah selagi sobat mampu

I\m Sorry Good Bye!

Yang saya maksudkan mengani sub judul di atas adalah mampu dalam artian waktu maupun dalam artian ada kesempatan. Sabab menulis itu menyehatkan, saya percaya itu. Kalau kamu?

(*bowo, 05/04/11)

I\m Sorry Good Bye!

Huf….. akhirnya niat jadi kenyataan. Well, sobat semua saya mau bercerita kenapa artikel ini saya beri judul “My COMEBACK”. Tapi sebelum menceritakannya terlebih dahulu saya mau memperkenalkan diri terlebih dahulu. Rasanya lenih enak kalau membaca tulisan seseorang yang kita kenal, meskipun tidak bersua secara langsung. Nama lengkap saya Tristyanto Prabowo, lahir dan di besarkan di Kota Kretek (red, baca: Kudus) oleh keluarga yang sederhana. Semenjak kecil dikenal sebagai pribadi yang kalem dan tidak banyak tingkah, tapi memiliki otak yang lumayan encer they said, ya selalu masuk 10 besar ranking di kelaslah lumayan. Tapi itu hanya bertahan sampai bangku SMP, tahu sendiri khan “persaingan” di SMA favorit lumayan ketat. STOP narsis! Lanjut! Saya merasa beruntung memiliki keluarga yang sangat menghargai pentingya pendidikan, itulah yang membuat saya beruntung bisa mengenyam pendidikan hingga S1. Awal masa kuliah saya di salah satu perguruan tinggi di Kudus (Universitas Muria Kudus/UMK) membuat saya mengenal dunia jurnalistik kampus lewat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) bernama Pena Kampus (PEKA).

Dunia itu pula yang membuat saya yang mulanya anak rumahan, menjadi anak “luaran” (red, baca: sering kelayapan hehe…. Dalam artian positif lho!). Bergabung di dunia jurnalistik kampus membuat saya sadar ternyata menulis itu asyik. Saya akui dulu saya sering merasa malas saat menerima tugas mengarang di bangku sekolah, sebab tak tahu apa yang harus ditulis. Kecuali kalau ada modal cerita lucu dari pengalaman sehari-hari. Belakangan saya tahu bahwa kesulitan menulis merupakan dampak dari kurangnya input bacaan, soalnya yang dibaca hanya buku pelajaran hehe….. analoginya adalah seperti saat buang air besar semakin banyak makanan yang kita konsumsi semakin banyak pula kotoran yang kita keluarkan. Begitu pula jika banyak buku yang kita baca akan lebih banyak referensi dan pemikiran-pemikiran yang bisa kita serap, kita kembangkan dan kita tulis sebagai gagasan tentunya. Begitu pula sebaliknya kalau makan banyak tapi tidak bisa mngelurkan kotoran tentu akan tersiksa rasanya. Ah sudahlah kita tinggalkan analogi yang agak “mengganggu” itu, tapi tujuannya hanya agar mudah dipahami kok.

Ketertarikan saya di dunia jurnalistik kampus menuntun saya membaca sebuah buku berjudul “Quantum Writing”, yang ternyata isi dalam buku tersebut cukup memotivasi saya untuk menulis. Sedikit-demi sedikit saya paham cara menulis yang baik, terlebih banyak teman di Pena Kampus yang sering memberikan masukan dan saling berbagi pengalaman. Di situ pula saya mengenal beberapa wartawan yang tak segan membantu saya. Salah satunya bernama Mas Joko salah satu wartawan lokal senior yang sering memberi masukkan dan bimbangan di Pena kampus.

Pengalaman menjadi reporter, wawancara sana-sini, menulis berita sekitar kampus, menulis resensi, menjadi pemimpin redaksi sampai menjadi pemimpin umum di Pena Kampus, pula mengenalkan saya pada kinerja jurnalistik yang militan walaupun masih dalam skala yang sangat kecil dan sederhana mengingat jurnalistik kampus adalah jurnalistik “belajar”. Banyak ilmu yang didapat di sana diantaranya pula ilmu berorganisasi.

Break

Menginjak semester ke lima, Alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan emas untuk bergabung menjadi keluarga besar Beswan Djarum Kudus sekaligus dipercaya menjadi ketua Beswan periode 2008-2009. Sontak aktivitas di kampus tidak hanya perkuliahan dan dunia jurnalistik semata. Banyak aktivitas-aktivitas bermanfaat baik yang berskala nasional maupun lokal yang saya ikuti setelah bergabung di Beswan Djarum. Disamping pula menjalankan program kerja yang telah disusun. Bukan alasan yang tepat sebenarnya untuk mengatakan aktivitas di Beswan membuat aktivitas tulis menulis saya berhenti. Lebih tepatnya adalah pilihan pribadi untuk sejenak break atau rehat dari dunia jurnalistik.

Banyak pengalaman yang saya dengar dari teman-teman saya yang mengatakan sekali kita berhenti menulis maka kita akan kesulitan untuk memulai lagi. Benar saja, rupanya itu saya alami hampir dua tahun saya tidak menelurkan satu tulisan pun. Namun tetap dalam benak saya, suatu hari saya harus “kembali” lewat media apapun itu tidak harus melalui jurnalistik kampus, sebab menulis itu bisa kita lakukan dimana saja dan lewat media apa saja. Terlebih banyak teknologi yang memungkinkan kita mengekspresikan gagasan kita, salah satunya lewat blog.

Niat Harus Diikuti Action!

Sudah berbulan-bulan saya menyimpan niat untuk mulai menulis lagi. Terlebih dengan tersedianya blog khusus Beswan membuat niat saya semakin tinggi. Thanks to PT Djarum yang sudah memfasilitasi kami. Namun niat yang muncul dalam benak saya takjua terealisasi lantaran niat hanya sekedar niat alias belum ada action untuk memulai. Terlebih kesibukan merampungkan skripsi pula cukup menyita waktu dan pikiran saat itu. Saya berjanji terhadap diri saya sendiri untuk aktif menulis lewat blog setelah saya menyelesaikan urusan sripsi yang dijuluki sebagai “kitab suci” oleh salah satu teman saya.

Sekali lagi memulai kembali kebiasaan baik yang kita tinggalkan untuk waktu yang lumayan lama itu memang benar-benar sulit. Benarlah kutipan yang mengatakan”don’t say next time, do now or never”. Jangan sampai kita menunda niatan baik atau kesempatan itu tidak akan kita dapatkan lagi. Itulah alasan lahirnya tulisan ini tepat setelah saya selesai ujian skipsi. Saya harap ini menjadi langkah besar bagi saya untuk “comeback” dan akan lebih bermanfaat lagi jika mampu menginspirasi para sobat untuk mulai menulis. Saya selalu teringat salah satu poin yang dipaparkan mengenai manfaat menulis dalam sebuah buku yang mengatakan bahwa menulis membuat kita lebih sehat. Sehat pikiran dan sehat jasmani. I do believe it, so let’s write guys.(*bowo, 4/4/11)