Tristyan's Story

Through Story Sharing My Thought

I\m Sorry Good Bye!Minggu (22/5) petang, saya mendapat telpon dari Kelapa Sekolah tempat saya mengajar. Ada tugas dadakan. Saya dan seorang guru yang lain diutus untuk mengikuti penataran di Semarang. Semua serba mendadak dan tidak jelas. Ketika saya menanyakan tema dan lokasi tepatnya penataran diselenggarakan, Kepala Sekolah pun belum tahu, lantaran pemberitahuan dari dinas pun mendadak. Saya diminta menanyakannya langsung ke kantor dinas sekaligus meminta surat tugas. Mendengar tawaran kepala Sekolah saya befikir sejenak dan sesaat kemudian mengiyakan untuk mengikuti penataran tersebut. Dalam benak saya yang terpikit hanya pengalaman baru yang berarti adalah ilmu baru dan bahan fresh buat tulisan saya di blog.

Walhasil Senin pagi saya pergi ke kantor Dinas sebelum berangkat ke Semarang. Dari surat tugas tersebut barulah saya mengetahui bahwa penataran yang saya ikuti adalah penataran “Fasilitasi Pembinaan Penyelenggaraan Sekolah Inklusi”. Apa ini? Tak ada clue sedikitpun di benak saya untuk mendreskripsikan isi atau gambaran akan seperti apa penataran itu.

Usut punya usut setelah mengikuti seminar saya baru mudeng mengenai penataran tentang apa yang saya ikuti ini. Rupanya yang dibahas disini yaitu mengenai bagaimana sebuah sekolah inklusi memberikan pelayanan kepada peserta didik.

Apa Itu Sekolah Inklusi?

Sekolah inklusi adalah sekolah regular yang menerima anak berkebutuhan khusus (ABK) dan menyediakan system layanan pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan anak tanpa kebutuhan khusus (ATBK) dan ABK melalui adaptasi kurikulum, pembelajaran, penilaian, dan sarpras. Siapa anak berkebutuhan khusus? Anak yang tergolong berkebutuhan khusus diantaranya yaitu tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunagrahita, tuna daksa, tuna laras (anak dengan gangguan emosi, sosial dan perilaku), tuna ganda, lamban belajar, autis, dan termasuk pula anak dengan potensi kecerdasan luar biasa (genius).

Mengapa harus ada sekolah inklusi? Setiap orang memiliki hak yang sama untuk memperoleh manfaat maksimal dari pendidikan. UUD 1945 pasal 31 ayat (2) mengamanatkan bahwa setiap warga Negara mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan. Jadi semua orang berhak sekolah. Rupanya keberadaan Sekolah Luar Biasa (SLB) yang terbatas dalam hal jumlah ketersediaan sekolah kurang bisa mengakomodir anak berkebutuhan khusus. Sobat bisa amati, berapa banyak jumlah sekolah luar biasa di kota sobat. Tidak banyak bukan? Selain itu tidak semua ABK mampu menjangkau akses sekolah tersebut. Hal ini mungkin berbeda dengan kota besar yang mungkin lebih banyak terdapat sekolah luar biasa, namun terkadang biaya sekolah yang mahal juga menjadi alasan ABK tidak mampu bersekolah.

Dengan adanya sekolah inklusi ABK dapat bersekolah di sekolah regular yang ditunjuk sebagai sekolah inklusi. Dimana sekolah tersebut juga menyediakan guru pembimbing khusus dan sarana prasarananya. Setelah saya mengikuti penataran ini saya baru sadar kenapa saya duduk sebagai peserta disana, yaitu karena sekolah saya termasuk sekolah inklusi. Hahaha….saya baru tahu itu. Maklum saya termasuk guru baru di sekolah, saya juga belum tahu-menahu sosialisasinya selama saya di sekolah. Disamping itu ABK di sekolah saya ternyata semuanya adalah masuk kategori lamban belajar, jadi pantas kan kalau saya tidak tahu.

Bagaimana Sekolah Inklusi Memberikan Pelayanan ABK?

Sekolah inklusi adalah sekolah regular (biasa) yang menerima peserta didik dengan latar belakang apapun, termasuk anak berkebutuhan khusus. “Asal berupa manusia, pasti diterima” demikian celetuk Drs. Subagya, M.Si, salah satu pemateri penataran dan juga dosen UNS tersebut. Lantas bagaimana sebuah sekolah regular memberikan pelayanan bagi anak yang berkebutuhan khusus dan anak tanpa kebutuhan khusus secara bersamaan. Menurut Subagya, sekolah inklusi tetap melibatkan ABK dalam kelas regular dan dalam kegiatan belajar mengajar di dalamnya. Bagi ABK dengan kategori tuna daksa (cacat fisik) misalnya mungkin tidak akan mengalami kesulitan dalam mengikuti pembelajaran di kelas regular sebab mungkin dia hanya memiliki keterbatasan mobilitas.

Namun untuk ABK dengan kategori seperti tunanetra, tunarungu, tuna grahita, dan autis misalnya, beberapa kesempatan tertentu ABK tersebut di masukkan di dalam ruang khusus untuk ditangani guru khusus dengan kegiatan terapi sesuai kebutuhan. Anak-anak berkebutuhan khusus tersebut juga tetap bisa belajar di kelas regular dengan guru pendamping bersamanya selain guru kelas. Berikut ini model pengelolaan ABK di sekolah inklusi:

I\m Sorry Good Bye!1.Kelas regular/ inklusi penuh

Yaitu ABK yang tidak mengalami gangguan intelektual mengikuti pelajaran di kelas biasa.

2. Cluster

Para ABK dikelompokkan tapi masih dalam satu kelas regular dengan pendamping khusus.

3. Pull out

ABK ditarik ke rang khusus untuk kesempatan dan pelajaran tertentu, didampingi guru khusus.

4. Cluster and pull out

Kombinasi antara model cluster dan pull out.

5. Kelas khusus

Sekolah menyediakan kelas khusus bagi ABK, namun untuk beberapa kegiatan pembelajaran tertentu siswa digabung dengan kelas regular.

6. Khusus penuh

Sekolah menyediakan kelas khusus ABK, namun masih seatap dengan sekolah regular.

ABK Tidak Perlu Ikut Ujian Nasional

Setiap anak memiliki kemampuan berbeda termasuk ABK. Bisa jadi ABK memiliki kecerdasan rata-rata atau bahkan di atas rata-rata. Untuk ABK dengan kecerdasan semacam itu bisa mengikuti ujian nasional. Namun untuk ABK dengan kecerdasan kurang seperti tuna grahita sedang sampai berat dan autis dengan kecerdasan kurang diperbolehkan tidak mengikuti ujian nasional. Jadi saat lulus sekolah anak tersebut hanya memperoleh Surat Tanda Tamat Belajar (STTB). Surat ini yang nantinya menjadi bekal ABK tersebut untuk melanjutkan ke sekolah inklusi jenjang berikutnya. Education for All!

(bersambung…..posting berikutnya menceritakan anak-anak luar biasa berbakat luar biasa dan sosok hero dibalik mereka yang saya temui saat penataran..ditunggu ya….  I\m Sorry Good Bye!

I\m Sorry Good Bye!Pernah tur ke blog teman-teman yang lain? Menarik bukan? Dan sangat variatif tentunya. Jika sobat membaca dan mengamati postingan di blog-blog tersebut akan menjumpai beragam tulisan dengan beragam tema.  Gaya bertutur lewat tulisan juga memiliki keunikan masing-masing sebab setiap orang memiliki gaya yang berbeda dalam menyampaikan gagasan lewat tulisan. Ada yang bertutur dengan gaya humor crunchy ala Raditya Dika dengan “Marmut Merah Jambunya”,ada yang bercerita berbalut keindahan bahasa ala novel romantis, dan ada pula yang menulis dengan gaya semi formal sampai yang benar-benar formal lengkap dengan citation dan analisa mendalam (macam skripsi aja.. :p).

Seringkali ketika mengetik tulisan untuk saya posting di blog ini saya berfikir apakah tulisan saya ini terlalu panjang atau mungkin terlalu pendek. Mungkin sobat juga mengalami hal yang sama. Sebab tidak dipungkiri panjang tulisan mempengaruhi minat baca pengunjung blog kita. Kita harus mempertimbangkan rata-rata waktu yang dibutuhkan pengunjung internet untuk meluangkan waktu bagi sebuah web. Ada berbagai pendapat yang saya baca dari buku. Menurut Anne Ahira dalam buku karangan Assep Purna Mulyanto (Go! Blog) panjang tulisan yang ideal untuk sebuah postingan blog adalah 10-30 detik jika dibaca. Menurut Darren Rows 90 detik.

Faktanya di search engine posisi teratas dalam top search bukanlah blog dengan tulisan eksra pendek maupun tulisan yang ekstra panjang. Namun pertengahan antara keduanya, yaitu sedang-sedang saja. Manurut saya pribadi, hal itu juga dipengaruhi kualitas tulisan kita. Sepanjang apapun tulisan kita, jika topik yang kita angkat menarik dan dengan gaya bertutur enak dibaca tentunya pembaca akan “krasan” membaca tulisan kita dan mau meluangkan waktu lebih.

I\m Sorry Good Bye!

jangan samoai tulisanmu bikin ngantuk (boring)

Salah satu alterbatif yang sering digunakan blogger adalah dengan membuat tulisan berseri untuk menge-post tulisan yang terlalu panjang. Sehingga pembaca akan penasaran dengan lanjutan postingan berikutnya disamping itu akan semakin banyak pula jumlah postingan di blog kita. Jadi malah membuat kita produktif. In conclusion tidak ada batasan bagi kita untuk berkreativitas  menulis, termasuk harus seberapa panjang tulisan kita. Intinya jangan batasi diri kita. Just write ajah! I\m Sorry Good Bye!

I\m Sorry Good Bye!Siapa sich yang nggak pengen sukses? Semua orang pasti memimpikan suatu hari bisa menjadi orang sukses, termasuk sobat semua kan? Sukses itu relatif, bagi sebagian orang sukses diukur dari pencapaian keberhasilan dalam hal finansial. Sementara bagi yang lain mungkin beranggapan sukses itu adalah keberhasilan dalam menyalurkan passion, minat dan bakat dan bahkan mwnjadikannya sebagai karir, meskipun tidak membawa dia mencapai status finansial yang tinggi.

Berbicara tentang meraih kesuksesan, banyak yang beranggapan bahwa sukses itu dapat kita raih dengan usaha dan kerja keras, disamping perilaku yang lain yang mendukung seperti sikap pantang menyerah, tekun, ulet dan disiplin. Nah, kali ini saya ingin mengerucut kepada poin kedisiplinan. Pernah suatu ketika saya mendapat tawaran menjadi tutor di salah satu bimbingan belajar bonafit di Kudus. Karena aktivitas saya yang sudah lumayan padat (sok sibuk) maka saya mengalihkan tawaran tersebut kapada salah satu teman dekat saya. Kebutuhan waktu itu dia sedang ingin meninggalkan pekerjaan part time-nya yang lama.

Teman saya tersebut diminta datang ke lokasi bimbingan untuk mengikuti test micro teaching (semacam test uji kelayakan gitu…). Dia diminta datang pukul tiga sore. Entah mengapa pada saat itu teman saya tersebut terlambat datang lima menit. Karuan saja sesampai di lokasi teman saya tersebut mendapat teguran dari owner bimbel tersebut “Besok-besok kalau datang in time ya!” ujarnya. Baru kali tersebut ia mendengar istilah “in time”, begitu juga saya yang mendengar cerita tersebut.

Minggu berikutnya teman saya tersebut diminta untuk mengikuti test micro teaching untuk kedua kalinya (saat merekrut tutor baru bimbel tersebut biasanya memang melakukan uji kelayakan beberapa kali sebelum diputuskan diterima atau tidak sebagai tutor). Parahnya di kesempatan kedua teman saya lagi-lagi terlambat datang. Belum sempat masuk ke dalam kantor bimbel teman saya berpapasan dengan si owner di depan pintu “Besok saja ya kesini lagi,sudah saya katakan kalau datang in time, saya mau pergi” tuturnya. Dengan muka kesal teman saya kembali pulang.

I\m Sorry Good Bye!Hari berikutnya ia kembali, tidak ingin mengecewakan untuk ke tiga kalinya kali ini ia datang lima belas menit lebih awal. “Nah akhirnya kamu mengerti juga maksud saya,” komentar sang owner saat bertemu teman saya untuk uji kelayakan ketiga kalinya. Well, dari cerita tersebut sebenarnya saya ingin memaparkan bahwa di era yang serba kompetitif ini kita harus pandai-pandai menampilkan performa yang lebih dibandingkan yang lain. Salah satunya dengan kedisiplinan. Sudah tidak waktunya lagi kita memakai istilah “on time”. Benar rupanya yang disampaikan si owner bimbel bahwa kita harus bisa “in time”, dengan kata lain tidak ada excuse lagi dalam dunia professional jika bicara soal waktu. Susahnya bagi saya sendiri terkadang masih susah untuk mengatur waktu….apalagi kalau virus malas mampir. Langsung di smash ja kali ya? Bagaimana dengan sobat?

I\m Sorry Good Bye!Akhirnya saya bisa menulis lagi setelah beberapa hari sempat tepar (baca: sakit, red). Ya saya memang sempat menghabiskan waktu beberapa hari untuk istirahat total di rumah, termasuk dari aktivitas ngeblog. Panas, mriang, batuk, plus meler sempat mewarnai hari-hariku. Untung hal itu terjadi setelah semua tanggunganku (HUT Djarum, skripsi n wisudha) selesai. Lebih tepatnya mungkin adalah akumulasi dari rasa lelah dengan setumpuk kegiatan yang berjalan hamper bersamaan, lebih tepatnya berturut-turut. Diawali dari heboh mengerjakan skripsi sampai mengelola stand “Dolanan” saat Ultah Djarum ke-60.

Sobat, kali ini saya kembali dengan tips buat sobat semua yang lagi mau nyiapin buat ngalamar pekerjaan. Lebih jelasnya saya mau menshare pengalaman saya membuat Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) atau surat keterangan kelakuan baik. Berikut ini hal-hal yang harus sobat siapkan dan langkah proseduralnya;

1. Minta surat pengantar dari ketua RT

2. Minta surat pengantar dari Desa (mengisi kas desa)

3. Minta tanda tangan dan stempel di kecamatan (kena biaya administrasi suka rela, tapi harusnya gratis kan ya…..?)

4. Minta rekomendasi dari Polsek setempat (menyerahkan foto 4×6, sebanyak 3 lembar)

5. Datang ke Polres sambil menyerahkan surat rekomendasi dari Polsek, Foto Copy Ijazah terakhir, foto copy KTP, Foto copy sidik jari (kalo belum punya bisa buat dulu di Polres, langsung jadi kok… syaratnya bawa foto copy KTP), pas photo 4×6 sebanyak 3 lembar, serta mengisi form yang disediakan di loket pembuatan SKCK.

Kemudian silahkan ditunggu. Beberapa menit kemudian SKCK bisa langsung jadi. Saat meminta surat pengantar dari ketua RT jangan lupa menuliskan tujuan membuat SKCK pada surat pengantar tersebut karena pada SKCK akan tertera tujuan tersebut misalnya untuk melamar pekerjaan. SKCK sebenrnya juga bisa dibuat di Polsek tanpa harus ke Polres namun itu tergantung dari kebutuhan. Jika sobat ingin membuat SKCK di Polsek, maka silakan sobat menyerahkan kelengkapan di poin enam di Polsek setempat. Selamat mencoba! I\m Sorry Good Bye!