Tristyan's Story

Through Story Sharing My Thought

I\m Sorry Good Bye!Beberapa minggu yang lalu ketika aku sedang akan tidur siang hanphone ibuku yang berada di kamarnya berbunyi nyaring hingga suaranya terdengar sampai kamarku. Panggilan telpon tersebut rupanya membawa kabar duka mengenai nenekku yang berpulang ke Rahmatullah. Beberapa bulan terakhir memang kondisinya melemah, maklum usianya sudah hampir 90 tahun. Ibuku, ayah dan aku sering pulang pergi ke rumah nenek yang berjarak kurang lebih delapan kilo dari rumah untuk menjenguknya.

Mendengar kabar duka tersebut aku dan ibuku segera menghubungi ayah dan kakakku yang masih bekerja. Langsung saya boncengkan ibu ke rumah nenek. Bersama keluarga besar dan sanak famili saya membantu mempersiapkan pemakaman nenek. Beberapa saat kemudian di tengah persiapan pemakaman muncul sosok laki-laki dengan setelan serba hitam seperti yang juga saya kenakan ikut membantu persiapan pemakaman. Saya tidak begitu memperhatikan wajahnya yang saya tahu hanya perawakannya yang agak sama dengan saya namun lebih gemuk sedikit.

I\m Sorry Good Bye!Para pelawat pun berdatangan ke pemakaman, laki-laki dan perempuan berjubel memenuhi halaman hingga ke tegalan samping rumah nenek yang ditanami ketela pohon. Disela-sela upacara pemakaman saya mendengar beberapa pelawat yang berbisik, “Itu kok mirip cucunya mbah Killah (nenek saya) ya,” bisiknya. Saya takbegitu paham apa yang dimaksudkan orang tersebut. Beberapa saat kemudian kakak iparku berkata”Om, orang itu tadi takira kamu Om, kok mirip ya?” tuturnya. Baru kemudian saya ngeh, ternyata ada sosok yang mirip dengan saya diantara sanak famili saya tersebut. Laki-laki tersebut adalah yang sempat saya ceritakan tadi berpakaian serba hitam. Setelah saya amati wajahnya memang mirip dengan saya. Sayang saya tidak sempat mengambil gambarnya untuk bisa dipampang disini (momennya kurang pas hehe). Saya kurang tahu siapa dia, maklum dari tujuh orang anak nenek menghasilkan banyak sekali menantu, cucu, cicit, yang terkadang saya sendiri kurang paham karena beberapa dari famili ada yang jarang bertemu. Yah… hal ini karena berbagai alasan seperti jarak dan kesibukan masing-masing.

Malam hari setelah tahlilan, semua keluarga besar berkumpul dan berbincang. Usut punya usut pria tersebut ternyata adalah suami dari sepupu saya. Kok bisa mirip ya? Padahal gak ada hubungan darah? Mungkin sobat pernah mengalami pengalaman bertemu dengan sosok yang mirip dengan sobat? Bisa dishare disini? Bahkan ada mitos yang mengatakan bahsa setiap orang di muka bumi memiliki tujuh orang kembaran alias orang yang bermuka mirip, percaya gak? Atau itu khusus buat yang wajahnya pasaran kali ya? Hahahahag… I\m Sorry Good Bye! And sobat juga perlu tahu kalau sekarang ada beberapa website online yang bisa mencarikan wajah-wajah orang di dunia ini yang mirip dengan wajah sobat, dari yang bener-bener hamper mirip, disamain ma muka artis hollywod sampe yang asal-asalan. Gak percaya coba ja link di bawah ini:

1. The33tv.com

2. Mashable.com

3. Facedouble.com

Ini beberapa wajah kembaran saya yang saya dapat lewat internet, mirip gak ya? let's check it out :

I\m Sorry Good Bye!I\m Sorry Good Bye!

I\m Sorry Good Bye!Sekarang coba sobat bayangkan memiliki seorang kembaran gimana rasanya ya? Trus apa yang sobat bakal lakuin?

I\m Sorry Good Bye!Pernah nggak ngamatin perilaku anak SD masa kini? Coba saja masuk ke salah satu kelas di sekolah dasar sobat akan mengetahui sendiri bagaimana perilaku mereka. Di kelas saya ada anak yang berlarian kesana kemari saat saya mengajar itu biasa, ada yang usil menjahili temannya juga biasa, ada yang selalu maju ke depan papan tulis untuk menanyakan setiap huruf yang saya tulis di papan tulis ini agak luar biasa, ada pula yang mengenakan pengikat kepala ala Naruto. God! What’s wrong with this kids? There’s nothing like that when I was in elementary school.

Tak apalah, selama perilaku mereka tidak menodai hakekat suci dari kegiatan belajar mengajar (helehopo kuwi?). Yang jelas saya selalu menganggap itu sebagai bentuk kreativitas. Naeli, siswa saya kelas 1, suka menarik-narik baju saya saat lewat di samping bangkunya, ada juga yang mengomentari jerawat di pipi saya. Sungguh kreatif bukan? Amatilah pula bagaimana anak-anak ini berkomunikasi dengan guru mereka atau orang dewasa lainnya. Sobat pasti akan menjumpai anak-anak yang tidak sungkan untuk mengutarakan apa yang mereka pikirkan, dan mereka rasakan, lebih tepatnya dalam berekspresi secara verbal. Hal ini bisa jadi pertanda bagus. Artinya siswa tidak merasa terjebak dalam sistem yang kaku dimana ide atau gagasan siswa bukan hal penting, karena guru selalu benar dan murid dilarang “ngeyel”. Tapi terkadang komunikasi siswa dengan guru itu hampir-hampir seperti komunikasi dengan teman sebaya. Bagi sobat yang tinggal di Jawa, pasti tahu unggah-ungguh (tata karma) berbahasa dengan orang yang lebih tua. Biasanya jika berkomunikasi dengan menggunakan pilihan diksi lebih tepatnya tingkatan bahasa yang dikenal dengan kromo inggil.I\m Sorry Good Bye!

Ketika pertama kali mengajar di sekolah dasar beberapa siswa dengan seenaknya bertanya atau berbicara kepada saya dengan bahasa Jawa ngoko (bahasa Jawa untuk teman sebaya/selevel). Awalnya saya membiarkan hal itu, yang saya lakukan adalah mengamati terlebih dahulu. Beberapa hari kemudian saya mulai enggan menanggapi siswa yang berkomunikasi dengan saya menggunakan bahasa ngoko. Saya jelaskan kepada mereka pentingnya unggah-ungguh (tata karma) berbahasa. “Anak-anak mulai sekarang bapak tidak akan menanggapi atau menjawab pertanyaan siswa yang memakai bahasa ngoko,”tutur saya. Semua ,murid terdiam. “Kalian ini anak-anak berpendidikan, kalian harus tahu itu, orang-orang berpendidikan jika berbicara dengan orang yang lebih tua dalam bahasa Jawa gunakanlah bahasa kromo inggil. Jika kalian kesulitan bertanyalah dalam bahasa Indonesia yang sopan,” lanjut saya. “Mengerti?” tanya saya. “Ya, Pak….” sahut mereka bersamaan.

Bagi saya pribadi saya sangat senang dengan perkembangan anak pada masa sekarang dimana mereka tidak sungkan bertanya dan berekspresi. Namun, jika menjumpai anak yang kelewat aktif atau lebih tepatnya kurang mengharga orang yang kebih dewasa rasanya pengen saya jitak tuch anak. “Kagak pernah diajarin sopan santun apa?” ungkap saya dalam hati. Menurut sobat apa yang membuat anak-anak masa kini “kelewat aktif”? Faktor lingkungan, mutasi genetik, atau barangkali pengaruh global warming? ( hahahag….. :D) Silakan share.

*) studtitude = student’s attitude

Salam Beswan! Selamat pagi, siang, sore whenever you read this post. Berlanjut lagi nich cerita saya, oleh-oleh dari penataran Fasilitasi Pembinaan Penyelenggaraan Sekolah Inklusi. Bagi yang belum baca postingan sebelumnya wajib baca dulu the previous post . Kali ini saya tidak akan berbagi konten dari penataran yang saya ikuti, melainkan bercerita pengalaman luar biasa yang saya alami.

Hari ke tiga atau tepatnya hari terakhir penataran berisi agenda kunjungan ke kelas-kelas di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Semarang. Penataran yang saya ikuti bertempat di Balai Pelatihan Pendidikan Khusus (BP Diksus) yang kebetulan lokasinya satu lingkungan dengan SLB tersebut. Sehingga untuk berkunjung ke kelas-kelas di sekolah tersebut tidak perlu naik becak apalagi taxi haha…. I\m Sorry Good Bye!

Masuk ke kelas-kelas yang berisi tiga sampai lima anak berkebutuhan khusus sungguh menjadi pengalaman yang mengharukan sekaligus menakjubkan. Kelas-kelas tersebut berisi siswa-siswa dengan kebutuhan yang sama. Ada satu kelas yang berisi tiga anak lelaki usia delapan sampai sembilan tahun yang sedang belajar bersama seorang guru dan pendamping guru. Salah satu diantara ketiga siswa tersebut adalah tuna ganda (tuna netra dan tuna grahita), sementara yang lain adalah tuna netra.

I\m Sorry Good Bye!

Seorang anak tuna ganda sedang bernyanyi

Ketika kami (peserta penataran) masuk ke dalam kelas beberapa dari kami menyalami anak tersebut. Anak yang menderita tuna ganda tersebut menolak disalami, sejurus kemudian sang guru berkata “Maaf Bu, Pak, siswa ini agak kurang terbuka dengan orang asing, mohon maklum,” jelasnya. Kami pun memaklumi keadaan itu, dan terus memperhatikan kegiatan mereka belajar. Tiba-tiba “Bu saya mau nyanyi..” tutur bocah tuna ganda tersebut. Sang guru dan beberapa peserta yang berada dalam kelas menyambut gembira keinginan anak tersebut. Kemudian sebuah lagu mengalun dari bibirnya. Saya tidak tahu lagu apa yang sedang ia nyanyikan, yang jelas ia terlihat sangat menikmati nyanyiannya. Diiringi tepukan tangan mungilnya dan anggukan kepala sang anak melantukan lagu, hingga dua buah lagu ia dendangkan. Saya sempat haru melihat semangat anak tersebut menyanyi.

Kami pun melanjutkan ‘tur’ ke kelas-kelas yang lain. Berikutnya saya melihat seorang anak tuna netra belajar baris-berbaris. Anak lelaki yang tak mampu melihat itu harus berusaha keras untuk jalan di tempat. Bayangkan jika sobat tidak pernah melihat kaki sobat sendiri apalagi melihat bagaimana orang melakukan jalan di tempat dan diminta untuk melakukan jalan di tempat. Betapa sebuah perjuangan besar bagi anak itu hanya untuk jalan di tempat. Sang guru nampak sabar mengangkatkan kaki anak satu persatu tersebut hingga pahanya rata-rata air. Rasa haru kembali muncul di benak.

I\m Sorry Good Bye!

Siswa tuna grahita menyulam taplak meja

Pemandangan yang saya lihat tak semuanya nampak ‘indah’. Di sebuah kelas khusus anak tuna grahita nampak beberapa siswa meronta ingin keluar, sementara yang lain nampak sibuk mewarnai gambar. Ada juga anak tuna grahita yang tidak bisa duduk diam, dia selalu berjalan kesana kemari. Di kelas yang lain seorang anak tuna daksa berlatih keras menyususn balok kayu dengan tangannya yang bengkok akibat urat saraf yang tertarik (cacat bawaan). Di ruang terapi seorang anak autis sedang diterapi motorik. Mereka merangkak di atas matras didampingi seorang terapis dan asistennya.

Ketika sedang berjalan menuju ke kelas berikutnya, saya sempat terkejut ketika rombongan anak-anak tiga sampai enam tahun yang berjalan beriringan sambil bergandengan tangan sempat menabrak saya. Ditelinga mereka nampak menempel sebuah alat bantu pendengaran. Ya… rombongan anak-anak mungil yang nampak lucu dan menggemaskan itu adalah tuna rungu dan tuna wicara. Tapi yang mengagumkan dari mereka adalah mereka mampu mengikuti instruktur guru dengan baik. Hal ini sempat disimulasikan dalam penataran.

I\m Sorry Good Bye!

Siswa autis melakukan terapi fisik

Sehari sebelumnya salah seorang narasumber dalam penataran. Ciptono yang merupakan kepala sekolah  luar biasa (SLB) negeri Semarang sempat menceritakan betapa sebuah perjuangan besar bagi dirinya untuk merintis sekolah tersebut. Berawal dari sebuah sekolah yang menggunakan balai RW sebagai kelas dan sempat berpindah ke garasi rumah miliknya, sekolah yang dirintis Ciptono untuk anak-anak berkebutuhan khusus ini sempat mengalami pasang surut. Dengan dedikasinya dan dukungan dari orang tua/wali murid sekolah ini pun berkembang hingga sekarang.

I\m Sorry Good Bye!

Siswa tuna rungu membuat bakpao untuk dijual di kantin sekolah

Sekolah luar biasa ini pun telah menghasilkan anak-anak luar biasa yang mampu menunjukkan bakat dan potensinya. Andi Wibowo, Gigih Prakoso, Bambang Purwanto, Delly Meladi, dan Kharisma Rizki Pradana adalah sedikit contoh anak-anak berkebutuhan khusus yang tidak bisa sobat lihat sebelah mata. Selain masing-masing pernah meraih rekor MURI, keajaiban mereka sangat menakjubkan.

I\m Sorry Good Bye!

Anak tuna netra sedang latihan jalan di tempat

Andi Wibowo yang disebut idiot justru bisa menghasilkan lukisan-lukisan dahsyat dengan dua tangan bersamaan. Gigih Prakoso yang tangannya tidak berfungsi malah sangat berprestasi. Gigih dapat menulis dan membuat kerajinan dari manik-manik dengan kakinya. Bambang Purwanto yang tunagrahita hafal 200 lagu. Delly Meladi yang juga tunanetra hafal 650 lagu. Kharisma Rizki Pradana yang autis sangat ajaib karena dapat menirukan dan menghafal apa pun dengan cepat. Bahkan Kharisma menjadi anak autis pertama di dunia yang memasuki dunia rekaman.

Kisah perjuangan Ciptono memunculkan bakat luar biasa anak-anak didiknya dan kisah mengharukan para anak didik Ciptono ditulis lengkap oleh Ciptono dan temannya, Ganjar Triardi dalam sebuah buku berjudul “Guru Luar Biasa: Membangun Sekolah Luar Biasa dari Garasi hingga Raih 9 Rekor MURI”. Ciptono dan beberapa anak didiknya termasuk Kharisma sempat diundang di acara talk show Kick Andy untuk berbagi inspirasi dengan masyarakat Indonesia. Tahun 2010 Ciptono mendapat penghargaan dari Kick Andy sebagai pemenang The Heroes 2010 atas dedikasinya di dunia pendidikan khususnya untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

I\m Sorry Good Bye!

Ciptono, Kepala SLB Negeri Semarang 9courtesy of kickandy.com)

Itu baru sedikit potret anak-anak berkebutuhan khusus yang memiliki kemampuan luar biasa ketika dididik dengan tepat dan oleh orang tepat. “Menjadi anak berkebutuhan khusus bukan akhir segalanya,” tutur Ciptono. “Anak-anak berkebutuhan khusus bila kita didik, kita arahkan, dan kita bimbing dengan sepenuh hati akan menjadi anak bertalenta luar biasa,” tambahnya. Hal ini dapat dilihat pada anak-anak didik Ciptono di SLB Negeri Semarang. Bagi saya sosok heroes bukan hanya untuk Ciptono melainkan juga bagi seluruh anak-anak luar biasa yang saya jumpai disana atas kerja keras, semangat dan motivasi yang kuat untuk mengembangkan diri dan tidak tekurung dalam ketidakberdayaan. Sungguh inspirasi yang luar biasa bagi saya telah bertemu dengan the real heroes. I\m Sorry Good Bye!