Tristyan's Story

Through Story Sharing My Thought

I\m Sorry Good Bye!Pernah nggak ngamatin perilaku anak SD masa kini? Coba saja masuk ke salah satu kelas di sekolah dasar sobat akan mengetahui sendiri bagaimana perilaku mereka. Di kelas saya ada anak yang berlarian kesana kemari saat saya mengajar itu biasa, ada yang usil menjahili temannya juga biasa, ada yang selalu maju ke depan papan tulis untuk menanyakan setiap huruf yang saya tulis di papan tulis ini agak luar biasa, ada pula yang mengenakan pengikat kepala ala Naruto. God! What’s wrong with this kids? There’s nothing like that when I was in elementary school.

Tak apalah, selama perilaku mereka tidak menodai hakekat suci dari kegiatan belajar mengajar (helehopo kuwi?). Yang jelas saya selalu menganggap itu sebagai bentuk kreativitas. Naeli, siswa saya kelas 1, suka menarik-narik baju saya saat lewat di samping bangkunya, ada juga yang mengomentari jerawat di pipi saya. Sungguh kreatif bukan? Amatilah pula bagaimana anak-anak ini berkomunikasi dengan guru mereka atau orang dewasa lainnya. Sobat pasti akan menjumpai anak-anak yang tidak sungkan untuk mengutarakan apa yang mereka pikirkan, dan mereka rasakan, lebih tepatnya dalam berekspresi secara verbal. Hal ini bisa jadi pertanda bagus. Artinya siswa tidak merasa terjebak dalam sistem yang kaku dimana ide atau gagasan siswa bukan hal penting, karena guru selalu benar dan murid dilarang “ngeyel”. Tapi terkadang komunikasi siswa dengan guru itu hampir-hampir seperti komunikasi dengan teman sebaya. Bagi sobat yang tinggal di Jawa, pasti tahu unggah-ungguh (tata karma) berbahasa dengan orang yang lebih tua. Biasanya jika berkomunikasi dengan menggunakan pilihan diksi lebih tepatnya tingkatan bahasa yang dikenal dengan kromo inggil.I\m Sorry Good Bye!

Ketika pertama kali mengajar di sekolah dasar beberapa siswa dengan seenaknya bertanya atau berbicara kepada saya dengan bahasa Jawa ngoko (bahasa Jawa untuk teman sebaya/selevel). Awalnya saya membiarkan hal itu, yang saya lakukan adalah mengamati terlebih dahulu. Beberapa hari kemudian saya mulai enggan menanggapi siswa yang berkomunikasi dengan saya menggunakan bahasa ngoko. Saya jelaskan kepada mereka pentingnya unggah-ungguh (tata karma) berbahasa. “Anak-anak mulai sekarang bapak tidak akan menanggapi atau menjawab pertanyaan siswa yang memakai bahasa ngoko,”tutur saya. Semua ,murid terdiam. “Kalian ini anak-anak berpendidikan, kalian harus tahu itu, orang-orang berpendidikan jika berbicara dengan orang yang lebih tua dalam bahasa Jawa gunakanlah bahasa kromo inggil. Jika kalian kesulitan bertanyalah dalam bahasa Indonesia yang sopan,” lanjut saya. “Mengerti?” tanya saya. “Ya, Pak….” sahut mereka bersamaan.

Bagi saya pribadi saya sangat senang dengan perkembangan anak pada masa sekarang dimana mereka tidak sungkan bertanya dan berekspresi. Namun, jika menjumpai anak yang kelewat aktif atau lebih tepatnya kurang mengharga orang yang kebih dewasa rasanya pengen saya jitak tuch anak. “Kagak pernah diajarin sopan santun apa?” ungkap saya dalam hati. Menurut sobat apa yang membuat anak-anak masa kini “kelewat aktif”? Faktor lingkungan, mutasi genetik, atau barangkali pengaruh global warming? ( hahahag….. :D) Silakan share.

*) studtitude = student’s attitude

  1. arnissilvia
    9:16 pm on June 16th, 2011

    Simpel. Tipi. Tanpa bimbingan orang tua, tivi bisa jadi malapetaka..

  2. soikhurojib
    9:24 pm on June 16th, 2011

    faktor penyebanya banyakpak bisa juga pengaruh lingkungan tp bisa juga temperamen bawaan,,,,

    wah dapat istilah baru (studtitude=studen’t attitude)

    oh ya gimana sikap kamu ketika menghadapi murid kita kayak selamet,upik,jarjit,ramdhan dll :)

  3. tristyantoprabowo
    9:32 pm on June 16th, 2011

    @arni: iya setuju….itulah kenapa mereka menjuluki televisi sebagai “the stupid box”……. munggkin leboh tepatnya ‘evil box” kali ya…..

  4. tristyantoprabowo
    9:36 pm on June 16th, 2011

    @rojib: itu istilah hasil dari renungan di bawah gerhana bulan jib….(enggak betul). Well, saya nggak mau menyebut mereka sebagai anak nakal, mereka itu butuh perhatian lebih….tp jika sikapnya sudah di luar batas atau tidak pantas dilakukan anak seusia mereka perlu komunikasi yg lebih tegas. Menurut kamu gmn?

  5. inibudijepang
    9:42 pm on June 16th, 2011

    kompleks n panjang bgt klo mau di uraikan,bagiku lingkungan number one sob. coment nya dikit aja , hee.da kerjaan lain , hee

  6. soikhurojib
    9:47 pm on June 16th, 2011

    weleh2 semedi juga kemaren waktu gerhana bulan,, :) ,,, klo aku pertma menerima mereka dengan ikhlas, ajarkan kedisiplinan, tidak menghukumnya secara berlebihan, lebih banyak bersabar, menjaga komunikasi dan biarkan ia merasakan kasih sayang yg kita berikan,,, (hasil semedi kemaren),,kwkwkkw

  7. tristyantoprabowo
    9:55 pm on June 16th, 2011

    @kak budi: gt to kak, brarti perlu dikarantina dari lingkungan yg memberi pengaruh buruk……memang kadang anak bebas bergaul dengan orang yg lebih dewasa yg kadang justru memberi pengaruh buruk bagi mereka… mksh commentya

  8. mulkan
    9:57 pm on June 16th, 2011

    tivi, facebook (jerjaringan sosial) a.k.a Internet itu yang mmbuat perkemangan mereka lebih cepat!
    ada sisi positif ada ngatifnya, tinggal Ortu dan guru mengemudikannya kemana :D

  9. tristyantoprabowo
    9:59 pm on June 16th, 2011

    @rojib: wah kamu benar-benar memiliki sifat keibuan…ups! kebapakkan…..bagus itu. Hehe….iya mungkin anak-anak seperti mereka butuh untuk diberi pujian, mungin mereka haus akan pujian sehingga mencari-cari perhatian dengan berbagai cara….. kalo kasusnya selamet q oikir karena terlalu banyak bergaul dngan orang yang lebih dwasa…

  10. tristyantoprabowo
    10:11 pm on June 16th, 2011

    @mulkan: betul, orang ua zaman sekarang wjib menguasai teknologi, sehingga bisa mengontrol putra-putri mereka dan tidak kecolongan …mksh atas commentya…

  11. suprayogi
    10:39 pm on June 16th, 2011

    Wah, istilah yang bagus STUDTITUDE..boleh ni dibakukan..

    Saya juga sering mengaalami hal yang sama saat mengajar anak sekolah dasar. Banyak dari mereka yang ekspresif.. ketika ada yang sedikit melawan, maka saya akan ajak mereka tertawa, agar mereka merasa tidak dipaksa, tapi disentuh hatinya..

  12. tristyantoprabowo
    11:11 pm on June 16th, 2011

    @suprayogi: wah ms yogi pendidik juga ya……makin seru nich diskusinya….iya latar belakang anak didik yang beragam harusnya tidak membuat kita mudah menjudge mereka sebelum menyelidiki alasan kenapa seorang anak berperileku tertentu…..menyentuh hatinya….wah bagu sekali istilahnya…adakalanya anak didik diperlakukan dengan lembut namun adakalanya kita menujukkan ketegasan.,…mksh sudah mampir dan membere comment..

  13. Ditta.w.Utami
    7:58 am on June 17th, 2011

    Waaahhh… haha seruuuuuu ^^ pasti lucu-lucu…

    mengutip dari apa yang Ditta dapat setelah mengikuti perkuliahan PPK (Perencanaan Pembelajaran Kimia),

    “Conveying information to students is very important but that, teaching students how to think is even more important” (Arends, R., I. 1998)

    ^_^ nice post mas bowo…

  14. ahmadzikra
    10:08 am on June 17th, 2011

    zaman terus saja berubah. sudah barang tentu murid2 sekarang tidak bisa kita samakan dengan kita yang dulu.
    sekarang sudah sangat berpengaruh terhadap apa yang dilihat dan dirasakan. informasi bebas berkeliaran dimana-mana tanpa filtrasi yang ketat. bisa itu tipi, internet, dan hape.

    mgkn bisa dimulai membentengi/membekali anak dari keluarga dan sekolah…

    :)

  15. tristyantoprabowo
    3:11 pm on June 17th, 2011

    @ditta: begitulah anak-anak didki saya…… :) ya karena anak-anak bukan bejana kosong yang harus dituangi ilmu pengetahuan……mereka adalah roket-roket kecil yang menggebu-gebu siap untuk diarah ke orbit yang tepat supaya bisa mencapai angkasa setinggi mungkin …..

  16. tristyantoprabowo
    3:13 pm on June 17th, 2011

    @ahmad zikra: ya keluarga adalah pondasi yang menentukan kokoh tidaknya bangunan kepribadian……mksh commentya.. :)

  17. pujiprabowo
    6:18 pm on June 18th, 2011

    kalau sodara kecil saya..masih SD dan kata favoritnya..OVJ yaaa eee…ahahhaha…
    emang ya jaman sekarangmudah terpengaruhi oleh lingkungan sekitar, tp anak SD emang butuh bimbingan dari pak guru :)

  18. ndee
    7:02 pm on June 18th, 2011

    phew,, anak kecil ya.. jadi penasaran mereka mikir apa sih?? apa mereka bisa jatuh cinta juga?? ha ha ha ha,, nonsense kali yaa kalo mo bilang anak kecil bisa jatuh cinta…

  19. tristyantoprabowo
    2:32 pm on June 20th, 2011

    @pujiprabowo: children like to imitate what they seee….bgtulah anak-anak..
    @ndee : bisa jadi anak kecil jaman sekarang tidak canggung-canggung ngomongin soal pacar….istilahnya mereka dewasa sebelum waktunya…itu akbiat pergaulan yang salah…..
    mksh commentya….. :)

Before you post, please prove you are sentient.

What is 8 multiplied by 4?