Tristyan's Story

Through Story Sharing My Thought

I\m Sorry Good Bye!Kemaren sore (30/7), sebuah sms melayang ke handphoneku dan kusadari ternyata sms tersebut sudah masuk beberapa menit yang lalu. “Kak manaqiban kak Inung jam berapa?” tanya Kak Budi (Beswan Djarum 2007). Aku yang belum ngeh kalau sore itu ada acara manaqib seketika menjawab sms tersebut” Q koq lum tahu ya?” “Ayo Kak, generasi LA (Lintas Angkatan) lgsg join, ni kyk reuni,” balas kak Budi. Pesan tersebut membawaku menuju rumah Inung (Beswan Djarum 2009) yang saat itu mengadakan manaqib syukuran karena telah menjalani sidang skripsi dengan sukses. Acara manaqib ini bukan yang pertama, karena sebelumnya acara semacam ini sudah sering kami lakukan.

Berawal dari beberapa kegiatan syukuran yang digagas para alumni Beswan Djarum Kudus (Kak Budi, Mas Yusuf dan Pak Tarom) jamiyah manaqib kemudian berlanjut dengan mengusung nama Darul Progress (keran ya namanya mengusung semangat kemajuan nich hoho……). Hingga sampai sekarang apabila ada teman-teman Beswan Djarum Kudus yang punya hajat atau punya rezki lebih pasti akan mengundang semua Beswan Djarum Kudus lintas angkatan.

I\m Sorry Good Bye!Benar saja, ketika motor yang saya kendarai landing di halaman rumah Inung suasana sudah seperti reuni saja. Tampak Beswan Djarum angkatan 2007, 2008, 2009 dan 2010 sudah bertengger di rumah si Inung. Tidak seperti biasanya, Mas Yusuf (Beswan Djarum Kudus 2003 dan 2004) dan Pak Tarom (Beswan Djarum Kudus 2002) tampak tidak hadir mungkin karena kesibukannya. Rupanya acara sudah dumulai beberapa saat sebelum saya sampai lokasi. Maklum sebelumnya saya harus berjibaku dengan kendaraan yang memenuhi jalan di Sabtu sore itu.I\m Sorry Good Bye!

Seperti biasa selesai kegiatan manaqib, kami isi dengan ngobrol bareng dan canda tawa hingga tawa tak terbendung dan pecah diantara suasana kebersamaan kami. Kami selalu bersyukur karena suasana kebersamaan selalu terjaga diantara kami Beswan Djarum Kudus lintas angkatan. Meskipun banyak diantara Beswan Djarum Kudus yang berasal dari luar kota seperti Jepara, Pati, dan Demak tetapi semangat kekeluargaan selalu menyatukan kami dalam setiap kegiatan yang melibatkan Beswan Djarum Lintas Angkatan.

Doa sudah dilantunkan, perut pun sudah penuh dan canda tawa terlewatkan. Berikutnya sebagain kari kami memutuskan untuk meneruskan acara gathering dengan melipir ke Dhandangan.

Dhandangan Kearifan Lokal Kudus Menyambut Puasa

I\m Sorry Good Bye!Serelah berkumpul ria di rumah Inung. Saya bersama Ichan, Putri, Tera dan Sany (semuanya dari angkatan 2009 kecuali saya yang paling muda sendiri hoho….) memutuskan untuk lanjut mampir ke Dhandangan yang lokasinya dekat dengan rumah Inung. Dhandangan merupakan budaya peninggalan Sunan Kudus. Konon, dahulu masyarakat Kudus menantikan pengumuman hari pertama kedatangan Ramadhan dengan menghabiskan waktu di area sekitar Menara Kudus (menara yang dibangun Sunan Kudus, dan menjadi landmark kota Kudus). Sunan Kudus pada masa itu membunyikan bedug sebagai pertanda awal puasa pertama. Bedug yang dipukul bernunyi “dhang..dhang…dhang…..!” hingga muncul istilah dhandangan. Sambil menunggu pengumuman tersebut banyak pedagang menggelar dagangannya di sekitar area Menara Kudus. Hingga kebiasaan tersebut berlanjut hingga sekarang.

I\m Sorry Good Bye!Dhandangan biasanya digelar dua minggu sebelum puasa dan berakhir di hari pertama shalat Tarawih. Jalan Sunan Kudus dipenuhi pedagang yang membangun stand-nya di sepanjang garis tepat di tengah jalan menghadap ke dua sisi. Dari pedagang makanan, mainan, pakaian, sepatu, jam, kacamata, bahkan sampai hewan peliharaan dapat kita jumpai di sana. Berjalan dari rumah Inung sampai ke lokasi dhandangan kami merangsek masuk diantara para pengunjung lain.

Tanpa bisa mengontrol kenarsisan, kami menyempatkan berfoto di sepanjang perjalanan kami melihat-lihat barang-barang yang ditawarkan para pedagang. Tanpa peduli keramaian manusia yang menyemut tetap saja kami menyempatkan berfoto hingga tak jarang orang-orang di sekitar kami memandang heran. Walaupun sempat terpisah dari rombongan karena keasyikan potret sana sini, Alhamdulillah kami bisa pulang dengan selamat tanpa kehilangan satu benda pun. Maklum di keramaian biasanya banyak copet heheh…… Itu saja cerita saya. Mohon maaf ya kalau ada salah coz besok sudah puasa, selamat menjalankan ibadah puasa ya, semoga kita bisa menjalankan dengan baik dan ibadah kita diterima, amin.I\m Sorry Good Bye!I\m Sorry Good Bye!

I\m Sorry Good Bye!

I\m Sorry Good Bye!

I\m Sorry Good Bye!Judul di atas mirip lagunya KD (Kris Dayanti) ya kan? tapi kisah yang mau aku ceritakan tidak ada kaitannya dengan lagu tersebut. Tahun ajaran baru ini saya membuat sebuah keputusan yang mengharuskan saya untuk tidak lagi mengajar di sekolah dasar dimana enam bulan terakhir ini saya tekuni. Dengan keputusan tersebut maka saya tidak lagi masuk ke ruang kelas dimana terdapat bocah-bocah kecil yang sibuk menjahili temannya ketika saya memberi tugas menulis. tidak juga menjumpai siswa saya yang selalu maju ke depan kelas dan menanyakan setiap huruf yang saya tuliskan di papan tulis. Tidak pula menjumpai Naeli yang suka menarik-narik baju saya atau Dimas yang suka klotekan (red, memukul-mukul meja) dan berbagai tongkah polah lucu anak didik saya.

It's hard for me to say good bye…. hiks,,,huaaaaaa!!!!!!!! (menangis menghadap dinding sambil pukul-pukul dinding) but I'm sure everything is gonna be okay. Keputusan meninggalkan sekolah dasar saya buat semata karena pilihan karir, dengan pertimbangan rasional tentunya. Sebenarnya bagi saya pribadi tidak ada kata bosan apalagi tidak krasan dengan lingkungan kerja sebagai guru SD. Meskipun sebagai Guru Tidak Tetap (GTT) terkadang saya diposisikan sebagai juru ketik (membantu mengurusi administrasi sekolah), namun nyatanya justru saya banyak belajar dari situ. Ditambah lagi rekan-rekan guru yang hampr semuanya sebaya dengan orang tua saya perhatiannya kepada saya seperti kepada anak mereka sendiri, membuat saya nyaman dan benar-benar merasa diterima sebagai keluarga.

Namun bagaimanapun juga dengan background saya yang lulusan pendidikan bahasa Inggris dan kebijakan pemerintah yang belum memihak lulusan bahasa Inggris sebagai guru tetap (PNS) bikin saya jadi mikir. Faktanya pelajaran bahasa Inggris di SD hingga kini masih menjadi muatan lokal dan belum menjadii mata pelajarann inti. Padahal bahasa Inggris sudah menjadi kebutuhan. Hingga akhirnya sebuah tawaran untuk mengajar bahasa Inggris di SMP swasta menghampiri saya dan saya putuskan untu menerima tawaran itu.
Kebetulan kepala sekolah SMP tersebut adalah alumni Beswan Djarum juga yang sudah saya kenal akrab semenjak menjadi Beswan Djarum lantaran di Kudus komunikasi Beswan Djarum antar angkatan berjalan sangat baik dan kontinyu, apalagi dengan kepercayaan dari PT Djarum kepada kami melalui berbagai kegiatan yang melibatkan Beswan Djarum Kudus lintas angkatan. Jadi menerima Beasiswa Djarum tidak hanya memberikan saya banyak bekal softskill tetapi juga jarngan yang membantu saya di bidang karir.

Hari ini, Jumat (29/7) bapak dan Ibu guru di SD tempat saya mengajar dulu mengadakan sebuah ceremony perpisahan yang bertujuan untuk melepas kepergian saya dari SD tersebut. Bagi saya hal tersebut merupakan sebuah apresiasi yang besar, mengingat sedikitnya kontribusi saya bagi SD tersebut. Sebulan sebelumnya saya sudah berpamitan kepada semua bapak ibu guru. Saat itu saya hanya bisa meninggalkan tanda mata berupa microphone, kenapa microphone karena saya teringat beberapa minggu sebelumnya ketika SD menggelar pelepasan siswa kelas enam salah satu microphone yang digunakan untuk acara tersebut rusak sehingga acara agak terganggu. Dan benda yang nominalnya tidak seberapa itulah yang saat itu mampu saya beli dan saya berikan sebagai tanda terima kasih kepada sekolah yang memberikan saya kesempatan untuk mengaktualisasikan ilmu saya unuk pertama kalinya. Saya sisipkan pula secarik kertas berisi ucapan terima kasih sekaligus permintaan maaf di sela-sela microphone yang saya bungkus rapi.
Dan hari ini Kepala SD mewakili pihak sekolah dan bapak ibu guru memberikan sesuatu yang bermakna dan akan saya ingat terus. Sebuah ceremony perpisahan bagi saya sudah meruakan penghargaan besar, namun tidak hanya itu sekolah memberikan saya sebuah kenang-kenangan. Bukan isi dari bingkisan itu yang membuat saya terkesan melainkan sebuah pesan yang disisipkan bersamaan bingkisan tersebut.

Milikilah hati yang tidak pernah membenci,

Milikilah kata yang tidak pernah menyakiti,

Milikilah senyum yang ikhlas dan menyejukkan,

Belajarlah dari masa lalu,

Kerjakan hari ini,

Berharalah hari esok,

Walaupun pesan tersebut sangat sederhana, tapi memiliki arti yang dalam bagi saya I will always remember those words.

Lima belas menit sebelum mengetik postingan ini saya baru saja pulang dari salah satu cabang bank ternama yang terletak di Kudus. Dengan perasaan agak kesal saya mengetik curhatan saya ini. Flashback yuk. Selesai sholat Jumat saya berencana untuk membuka rekening baru di bank tersebut untuk keperluan penting. Sebelumnya saya buka alamat website bank tersebut untuk mencari tahu jenis tabungan apa saja yang tersedia dan persyaratan pembukaan rekening. Setelah selesai browsing beberapa menit kemudian kulajukan motorku menuju bank yang jaraknya kurang lebih satu kilo dari rumah.

Sebelum sampai di bank saya berhenti di tempat foto kopyan untuk mengkopi kartu identitas (KTP), untuk persiapan jika dibutuhkan. Setelah sampai di bank tampak area parkir tampak penuh sesak dengan kendaraan yang didominasi mobil. Segera setelah turun dari motor saya masuk ke dalam bank kemudian bertanya pada salah satu security tempat pembukaan rekening. Kemudian diantarkanlah saya kepada seorang karyawan bank yang bertugas melayani calon nasabah. “Selamat siang ada yang bisa saya bantu?” tanya wanita bersetelan serba hitam tersebut. “Saya ingin membuka rekening mbak,” sahutku. “Maaf dengan bapak siapa (Bapak? Tuwir amat *dalam hati saya). “Saya Bowo,” jawab saya. “Maaf boleh saya lihat kartu identitasnya?” pinta wanita tersebut. Sejurus kemudian saya keluarkan KTP dari dompet saya.

I\m Sorry Good Bye!

Ini bukan foto saya tapi foto di KTP saya bruwetnya seperti ini

Karyawan bank tersebut mengerutkan dahinya ketika melihat KTP saya. Maklum foto saya dalam KTP tersebut memang sudah tampak blur, kalau orang Jawa mengatakan ‘mbruwet’. Hal ini terjadi lantaran KTP bersamaan dengan dompet saya pernah menyelam di bak cucian. Tidak hanya KTP beberapa benda saya yang lain juga pernah merasakan sejuknya air bak cucian salah satunya adalah charger netbook saya. Kartu beswan saya pun fotonya juga sudah pudar tapi yang satu ini karena kejahilan teman-teman beswan melempar saya ke kolam belut setahun lalu (setelah event HUT Djarum ke-59 usai ). Melihat reaksi wanita tersebut lantas saya keluarkan jurus andalan saya yaitu mengeluarkan SIM. Kejadian orang heran melihat KTP dengan gambar diri saya yang bruwet bukan yang pertama, dan jika orang yang meragukan keaslian KTP saya, langsung saya keluarkan SIM. Tapi kali ini sama saja, sebab foto di SIM saya juga mulai luntur (gak tahu pakai kualitas apa tuch SIM gambarnya cepat pudar).

Melihat KTP dan SIM yang saya berikan wanita tersebut berkata “Sebentar Pak saya tanyakan dulu ya, mohon tunggu,” ujarnya. Lantas karyawan bank tersebut berjalan ke arah karyawan yang lain. Sesaat kemudian ia kembali dan berkata “Maaf Pak, kartu identitasnya kurang jelas fotonya jadi kita belum bisa menerima, silakan buat KTP yang baru terlebih dahulu.” jelasnya. Perasaan kesal sempat mengahampiri mendengar perkataan wanita tersebut. “Waduh mbak saya butuh membuka rekening secepatnya, saya tidak punya waktu untuk mengurus KTP di kelurahan,” keluh saya. Saat mendengar sarannya untuk membuat KTP baru yang terlintas dalam pikiran saya adalah karut marut birokrasi. Saya dengar pembuatan KTP memang bisa langsung jadi hari itu juga (one day service). Tapi saya kan harus minta surat pengantar RT terus harus menunggu lama di kelurahan.

Waktu menunjukkan hampir pukul 14.00, saya melaju pulang dengan kendaraan yang saya naiki. Saya putuskan untuk mampir ke kelurahan. Dalam hati saya menduga pasti kelurahan sudah tutup tahu sendiri kan biasanya orang-orang kelurahan pada males. Sesampai di depan kantor kelurahan tampak pintu terkunci semua. Tuch kan…… Grrrrrrrrr!!!!!! (jengkel.com) padahal jam buka kelurahan kan harusnya sampai sore. So I’m home and mengetik curhatan ini hehehe……

Sore itu Sabtu (09/07) saya hang out bersama teman saya untuk membeli beberapa pakaian di salah satu factory outlet terkenal di Kudus. Setelah selesai mengantar teman saya tersebut saya memiliki planning untuk menyaksikan salah satu event besar yang delenggarakan pemerintah kabupaten Kudus yaitu Kudus Art and Fashion Carnival (Karshival) 2011. Maka segera setelah selesai berbelanja dan menjalankan ibadah sholat maghrib saya dan teman saya langsung menuju ke area alun-alun kabupaten Kudus. Saya masukkan motor yang saya kendarai ke tempat parkir salah satu Mall yang terletak dekat dengan area alun-alun atau yang lebih dikenal dengan simpang tujuh.

I\m Sorry Good Bye!Event karnaval ini merupakan even karnaval pertama yang diselenggarakan malam hari. Tidak tahu kenapa even karnaval di negeri ini seolah sedang booming setelah ada Jember Fashion Carnival, kemudian Solo Batik Carnival kali ini di Kudus muncul karnaval yang mengusung nama Krashival. Agak aneh ya namanya? Ya mungkin karena sebelumnya saya sendiri belum pernah mendengar istilah ini dan karena even ini merupakan yang pertama. Tapi bukan jadi soal asal event tersebut diniati untuk memberikan kontribusi yang baik misalnya untuk pengembangan kreativitas seni dan fashion di Kabupaten Kudus sekaligus sebagai daya tarik pariwisata.

I\m Sorry Good Bye!

Sementara itu di area parkir, kendaraan berjubel mengantri untuk masuk, hal ini lumrah terjadi di malam minggu dan ketika ada keramaian macam malam itu. Setelah selesai memarkir kendaraan saya segera berjalan dengan langkah agak cepat berharap mendapatkan posisi terbaik untuk memotret peristiwa yang tidak terjadi setiap hari ini dengan bermodal camdig saku biasa (tak apalah memang baru punyanya ini hehe I\m Sorry Good Bye! ) . Karnaval dijadwalkan akan dimulai pukul 19.00 WIB, namun sampai pukul tujuh malam lebih karnaval baru dimulai. Iring-iringan peserta karnaval diawali dengan penampilan marching band dari Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Semarang yang menampilkan atraksi diiringi dentumin musik marching yang menggelora. Sementara itu deretan para peserta karnaval yang terdiri dari perwakilan SMP, SMA, Kecamatan, dan Penggerak PKK kabupaten yang terdiri tidak kurang dari 700 orang bersiap dengan kostum yang serba unik. Masing-masing perwakilan memiliki tema sendiri seperti buah-buahan, sayuran, dunia robot, dunia peri dan sebagainya.

I\m Sorry Good Bye!

Masyarakat pun antusias untuk menyaksikan parade yang luar biasa megah tersebut. Karnaval dimulai dari jalan Lukmonohadi yang berjarak kurang lebih 700 meter dari area alun-alun. Dengan langkah percaya diri para peserta yang sebagian diantara mereka membawa kostum yang saya yakin berat itu berjalan diiringi suara musik catwalk yang terdengat keras keluar dari sound system yang berada di sepanjang jalan tersebut. Di sebelah utara area alun-alun atau tepatnya di depan kantor Kabupaten, bupati dan para tamu undangan terlihat duduk di kursi-kursi di atas panggung besar dengan tenda di atasnya bersiap menyaksikan penampilan peserta karnaval. Sampai di depan Bupati para peserta masing-masing perwakilan menampilkan koreografi dengan alur cerita sesuai tema yang mereka usung. Salah satu yang membuat saya terkesan adalah penampilan dengan tema laut yang diiringi backsound deburan ombak serta kostum para pesertanya yang meniru berbagai mahluk penghuni laut. Sementara itu peserta yang lain yang tidak kalah bagus adalah mengangkat tema lingkungan dengan kostum serba hijau dan diiring latar belakang bunyi kicauan burung dan alunan musik indah.

Supaya sobat juga tahu seseru apa karnavalnya, berikut ini saya posting beberapa foto galeri Karshival 2011 check this out:

I\m Sorry Good Bye!I\m Sorry Good Bye!I\m Sorry Good Bye!I\m Sorry Good Bye!I\m Sorry Good Bye!I\m Sorry Good Bye!I\m Sorry Good Bye!I\m Sorry Good Bye!

I\m Sorry Good Bye!Tanggal satu sampai tiga Juli ini di GOR Bulu Tangkis terbesar di Asia Tenggara tengah diadakan audisi umum beasiswa bulu tangkis BP Djarum. Event perekrutan calon atlet ini bisa dibilang terbesar. Tidak kurang dari 755 atlet muda bersaing untuk memperoleh beasiswa dari PT Djarum. Kegiatan di bawah naungan Djarum Foundation Bakti Olah Raga ini bermula dari kecintaan Budi Hartono (CEO PT Djarum) pada bulutangkis serta tingginya kegemaran karyawan PT Djarum bermain dan berlatih pada olah raga yang sama.

I\m Sorry Good Bye!Maka pada tahun 1969 brak (tempat karyawan melinting rokok) di jalan Bitingan Lama (sekarang jalan Lukmonohadi) No. 35 – Kudus pada sore hari digunakan sebagai tempat berlatih bulutangkis di bawah nama komunitas Kudus. Hingga kemudian lahirlah atlet muda berbakat, Liem Swie King yang meraih prestasi demi prestasi secara gemilang, menumbuhkan keinginan Budi Hartono untuk serius mengembangkan kegiatan komunitas Kudus menjadi organisasi PB Djarum. Selanjutnya PT Djarum berkomitmen mendukung atlet bulutangkis dengan memberikan beasiswa bulutangkis. Para atlet tersebut diberikan berbagai fasilitas meliputi asrama lengkap dengan sarana penunjang berlatih, para pelatih yang handal serta berbagai sarana pendukung lainnya.

I\m Sorry Good Bye!

Check list peserta

Kesempatan yang luar biasa bagi saya bisa datang ke GOR yang terletak di kecamatan Jati tersebut untuk melihat secara langsung proses audisi yang luar biasa besar itu.  Hari pertama audisi yang menerima calon penerima beasiswa dari seluruh penjuru Indonesia itu, arena GOR terlihat penuh sesak dengan atlet usia dua belas hingga lima belas tahunan. Halaman GOR terlihat beberapa stand yang menampilkan video kegiatan pelatihan para atlet PB Djarum. Sementara di halaman dapan sebelah barat berjajar stand-stand permainan yang berhubungan dengan bulutangkis seperti menyusun puzzle wajah atlet, memantul-mantulkan shuttlecock di atas trampoline, permainan serve, dan beberapa permainan lain. Para peserta juga bisa menuliskan catatan atau membubuhkan tanda tangan di sebuah dinding besar yang disediakan.

I\m Sorry Good Bye!

Beraksi!

Mereka juga bisa berfoto dengan gambar para bintang bulu tangkis seperti Alan Budi Kusuma dan Meiliana Jauhari.. Sementara di bagian pintu lobby tampak para peserta dengan ditemani pelatih dan orang tua melakukan daftar ulang untuk mendapatkan nomor pendaftaran dan kaos dari PT Djarum

Setelah melewati lobby saya merangsek masuk ke dalam gedung olah raga tersebut. Sesampai di dalam audisi sudah dimulai. Sebanyak duabelas lapangan bulu tangkis dipenuhi para atlet yang menunjukkan kebolehan mereka bermain bulu tangkis. Audisi terdiri dari empat tahapan. Tahap pertama para peserta diadu, pada tahap ini peserta dinilai teknik dasar yang dikuasai tanpa menghiraukan yang menang maupun kalah.

I\m Sorry Good Bye!

Riega, mendapatkan sertifikat setelah selesai audisi

Pada tahap kedua yang berlangsung hari berikutnya peserta bertanding dengan system rally point dan pada tahap ketiga peserta akan diuji ketahanan fisiknya untuk kemudian dikarantina dan dipilih atlet yang benar-benar potensial dann berbakat.

Audisi pun diawali oleh para atlet putri, giliran ditentukan sesuai dengan tahun kelahiran. Para peserta yang sudah selesai berlaga di lapangan langsung mendapatkan sertifikat. Di tempat pembagian sertifikat saya bertemu gadis cilik yang telah selesai berjuang, namanya Riega. Tubuhnya basah kyub oleh keringat seperti orang yang habis mandi.. “Namanya siapa dek?” tanya saya. “Riega” sahutnya. “Usianya berapa tahun? Sejak kapan berlatih bulu tangkis?” lanjut saya. “Dua belas tahun, mulai usia delapan tahun,” jawab gadis kecil hitam manis tersebut. Ia lantas berlalu sambil menenteng tas besar berisi perlengkkapan bulu tangkis yang ia bawa.

I\m Sorry Good Bye!

Let's Smash!

Sambil jepret sana-sini saya duduk diantara para peserta yang menunggu giliran didampingi orang tua atau pelatih mereka. Di samping saya duduk Awang, siswa kelas dua SMP dari Rembang tersebut datang bersama rombongan klub bulu tangkisnya. “Siapa atlet bulu tangkis favorit kamu Awang,” tanya saya. “Taufik Hidayat,” jawabnya penuh semangat. Saya juga bertemu dengan Rohman, pria paruh baya tersebut mengantar anaknya Adeline untuk kedua kalinya. “Dari mana  Pak?” tanya saya. “Saya dari Trenggalek Mas, ini lho nganter anak… mendukung bakat yang dimiki anak,” jawab pria yang datang ke Kudus bersama tiga orang rombongannya tersebut. “Sudah sering ikut turnamen ya?” tanya saya melanjutkan perbincangan. “Iya mas, kalau di tempat saya anak ini sudah sering menang, makanya saya berani kesini saya tidak ingin spekulasi,” terangnya.

I\m Sorry Good Bye!Tidak hanya para atlet yang tinggal di sekitar kabupaten Kudus saja yang mengikuti audisi tersebut. Di daftar peserta yang dipampang terlihat para peserta juga banyak berasal dari luar pulau Jawa seperti Sumatera, dan Kalimatan. Semua ingin meraih kesempatan emas mendapatkan pendidikan bulutangkis berkualitas dari PT Djarum. Saya juga sempat bertanya kepada salah seorang panitia audisi yang saya jumpai di sekitar lapangan bulutangkis yang berjajar menanjang tersebut, Saya ngobrol-ngobrol sebentar dengan pria setengah baya tersebut yang baru kemudian saya ketahui  beliau adalah mantan atlit yaitu Hastomo Arbi Juara I Thomas Cup 1984, kalau tahu begitu saya pasti sudah tanya lebih banyak hal lagi, maklum waktu itu saya belum lahir hahay I\m Sorry Good Bye!

I\m Sorry Good Bye!Kegiatan audisi hari pertama berlangsung hingga petang dan setelahnya langsung diumumkan para peserta yang lolos ke tahap kedua untuk mengikuti audisi di hari berikutnya. Pukul 17.30 WIB semua peserta makan malam bersama dengan suguhan berbagai kuliner khas Kudus, salah satunya nasi tahu telur. Kemudian peserta menikmati acara talk show yang menghadirkan para bintang lapangan bulutangkis yaitu Cristian Hadinata, Hariyanto Arbi, Muh Ahsan, dan Meiliana Jauhari dengan dipandu Sandra Dewi dan Desta sebagai MC. Para atlet dan mantan atlet tersebut memberikan motivasi dan berbagi tips serta pengalaman yang mereka alami selama bergelut di dunia perbulutangkisan baik di tingkat nasional maupun internasional. Hariyanto Arbi, atlet kelahiran Kudus yang pernah meraih peringkat pertama dunia dan empat kali meraih juara I di Thomas Cup (1994, 1996, 1998 dan 2000) tersebut bercerita mengenai awal mula perjuangannya menjadi atlet bulutangkis dan pengalaman yang ia dapat “Peristiwa yang paling membanggakan bagi saya adalah ketika kita mampu mengibarkan Sang Merah Putih di negri orang,” papar Arbi.  Sementara Cristian yang lebih senior menyemangati para peserta dengan  menyampaiakan manfaat yang diperoleh jika menjadi atlet yang berprestasi “Kalau profesi seperti dokter, pilot dan pengusaha itu sudah banyak tapi kalau menjadi atlit yang berprestai itu langka dan perlu usaha keras dan keseriusan,” ungkapnya.

I\m Sorry Good Bye!

Sandra Dewi & Desta menjadi MC Talkshow

Acara Talk Show tersebut kemudian dilanjutkan dengan lantunan  lagu dari Andien dengan suara jazzy-nya, serta Marcel dengan suara khasnya. Penampilan keduanya benar-benar memberikan hiburan bagi peserta sekaligus memompa semangat mereka yang telah berjuang keras. Apalagi acara tersebut kemudian ditutup dengan lagu Champion, lagu khas untuk para juara. Bravo!

GALERI AUDISI UMUM PB DJARUM 2011:

I\m Sorry Good Bye!

Meiliana, Achsan, Arbi dan Christian memotivasi peserta audisi.

I\m Sorry Good Bye!

Jumping smash!

I\m Sorry Good Bye!

Berfoto di stage juara

I\m Sorry Good Bye!

Bermain game puzzle setelah selesai audisi

I\m Sorry Good Bye!

Ikutan nampang juga hahay :D

I\m Sorry Good Bye!

Pembagian sertifikat
I\m Sorry Good Bye!

I\m Sorry Good Bye!

Andien tampil menghibur peserta audisi

I\m Sorry Good Bye!

I\m Sorry Good Bye!

Rombongan study Tour Kelas Les Djarum untuk Lingkungan

Judul di atas menjadi jargon sebuah kegiatan di kelas les gratis Djarum untuk lingkungan yang diselenggarakan Selasa (28/6) di Semarang dan Ungaran .Bagi Beswan Djarum kelas les ini pasti tidak asing lagi. Just to remind, kelas les gratis yang diadakan Djarum dengan Beswan Djarum sebagai pendampingnya ini cuma ada dua lho di dunia, yaitu di kota Semarang dan di Kabupaten Kudus. Kebetulan kelas les yang berada di Kudus letaknya satu lingkungan dengan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Djarum di Desa Gribig. Ingat kan waktu factory visit, tempat pengolahan limbah yang menghasilkan kompos? Nah disitulah tempatnya.

Meskipun sudah alumni, Alhamdulillah bersama beberapa alumni yang lain saya masih dipercaya untuk menjadi pendamping di kelas les tersebut. Nah hari Selasa lalu, kelas les gratis menyelenggarakan kegiatan tahunannya yaitu Study Tour. Kegiatan yang biasanya diadakan pada waktu liburan kenaikan kelas tersebut berisi berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi adik-adik les (sapaan untuk anak-anak les gratis Djarum untuk lingkungan) yang meliputi , wisata museum, outbound, lomba cerdas cermat, bermain di water park, lomba yel-yel, pentas seni, dan penyerahan hadiah untuk adik-adik berprestasi.

I\m Sorry Good Bye!

Serunya Outbond (Mpe gitu ya...hihi...:) )

Acara yang diketuai Ade Maulana, Beswan angkatan 26 tersebut berlangsung lancar. Diawali dengan mengunjungi museum Mandala Bhakti, adik-adik dikenalkan dengan para pahlawan yang memperjuangkan dan mempertahankan NKRI. Meskipun tampak kusam dan agak kurang terawat karena wisata museum sudah mulai jarang diminati, adik-adik terlihat tetap excited dengan penjelasan pemandu yang menjelaskan sejarah dibalik berbagai benda yang terdapat di museum tersebut.

I\m Sorry Good Bye!

Menatap Lukisan "Kesaktian Pancasila" at Musium Mandala Bhakti

Selesai tour mengelilingi museum dua lantai tersebut rombongan kami yang berjumlah 145 orang tersebut lantas menuju Fountain Water Park, yaitu sebuah taman air yang juga menyediakan sarana outbond dan tempat gathering. Sampai di lokasi rombongan kami makan siang bersama dan dilanjutkan dengan kegiatan lomba cerdas cermat dan oubond. Dari sejumlah permainan outbond yang paling seru adalah permainan bernama “Lumpur Lapindo”, dimana adik-adik berlomba dalam tim mengambil bendera dengan cara melewati batang kayu yang dibawahnya terdapat kubangan lumpur. Banyak adik-adik yang “bertumbangan” jatuh ke kubangan lumpur, namun tawa riang selalau melekat di bibir mereka, maklum anak-anak malahan senang kalau diajak berkotor-kotor ria heheh…

I\m Sorry Good Bye!

Adik-adik sebelum menampilkan tari saman

Kegiatan dilanjtkan dengan berenang di kolam renang. Sorenya, disusul dengan lomba yel-yel. Adik-adik sudah bersiap dengan yel kelompok masing-masing, suara mereka lantang tak mau kalah dengan kelompok lain. Dari lagu tradisional, lagu koleksi Trio Kwek-Kwek sampai lagunya Wali dijadikan nada yel-yel mereka. Selanjutnya yang tak kalah seru adalah penampilan adik-adik yang menampilkan tarian saman, meskipun banyak gerakan yang salah mereka tetap menghibur. Ditambah lagi penampilan adik-adik yang bernyanyi dan berjoget diiringi tifa mungil dan kecrekan. Yang menabuh pun tak kalah mungil namun mampu menimbulkan bunyi yang membuat semua ingin berjoget. Akhirnya acara ditutup dengan pengumuman kelompok terbaik, terlucu, terkompak, lalu pemyerahan hadiah untuk siswa berprestasi dan siswa teladan. Pokoknya semua dapat hadiah dan semua senang. Semoga adik-adik makin semangat belajar!