Tristyan's Story

Through Story Sharing My Thought

I\m Sorry Good Bye!

Selamat datang di postingan terbaru saya. Yach…. di malam takbiran seperti ini saya masih sempat menulis di blog. Awalnya sich karena gak ada kerjaan memang, akhirnya memilih online saja. Hingga kemudian saudara Sepri Subarkah menyapa saya lewat chat facebook memberi ucapan lebaran dan tiba-tiba menantang saya untung cepet-cepetan update di blog. “Oke Sepri, saya terima tantangannya…haha….”. Bikin tambah semangat posting nich I\m Sorry Good Bye!

Suatu ketika kami mengadakan rapat bulanan di kantor perwakilan Djarum Beasiswa Plus di Pati. Saat itu kami membahas rencana pelaksanaan rapat tengah bulanan. Rapat tengah bulanan adalah rapat yang kami selenggarakan di rumah Beswan Djarum secara bergantian, macam arisan gitu. Jadi sambil rapat kita bisa silaturahim keliling ke masing-masing keluarga Beswan Djarum. Bonusnya adalah wisata kuliner, bisa wisata ke tempat-tempat keren juga kalau kebetulan rumah Beswan Djarum yang kita datangi dekat dengan lokasi wisata seperti pantai dan tempat menarik lain.

Dari hasil rapat, Nyna terpilih sebagai tuan rumah rapat tengah bulanan berikutnya. Kebetulan saat itu pembinan kami Pak Junaedi Tan, meluangkan waktunya untuk join dalam rapat di kantor beliau tersebut. Pak Jun biasanya sering meluangkan waktunya untuk sekedar mendengarkan dan memberikan masukkan saat kami melakukan rapat bulanan di kantor tersebut. Beliau juga sering bagi-bagi ilmu, terutama kaitannya dengan analisis, beliau sangat kritis dan cerdas. Sungguh panutan yang bagus buat kami. Salut buat dedikasi beliau, meskipun beliau sibuk tetep memperhatiakan “anaknya” hehe…..

Hasil rapat sudah disepakati kalau rapat tengah bulanan akan diadakan di rumah Nyna. “Pak Jun kalau ada waktu juga bisa gabung sama kami Pak,” ucap saya sambil melirik ke arah Pak Jun. Ajakan atau lebih tepatnya undangan tersebut saya sampaikan ke Pak Jun sebagai penghargaan terhadap beliau yang perhatian sekali kepada kami. Kami akan sangat senang jika beliau benar-benar hadir tapi tidak pernah berharap banyak karena kesibukan beliau. “Di rumah Nyna ya? Rumahnya mana sich?” tanya Pak Jun.

Singkat cerita hari kami semua sudah berada di rumah Nyna untuk melaksanakan rapat tengah bulanan. Seperti biasa camilan memenuhi karpet sebagai alas kami duduk. Sebagai tuan rumah biasanya anak-anak Beswan Djarum ingin menjamu teman-temannya sebaik mungkin. Juga karena tahu kalau anak Beswan Djarum Kudus doyan ngemil makanya setiap ada rapat bulanan berbagai camilan dari gorengan sampai wajan dan kompor tersaji di depan kami (hiperbola dikit boleh dong hihi…).

Cuaca hari itu memang kurang bersahabat. Hujan turun lumayan deras mengiringi sepanjang rapat yang lebih banyak candanya daripada seriusnya tersebut. Tiba-tiba ditengah rapat saya mendapat panggilan telepon. Rupanya Pak Jun yang menelepon saya. “Halo, Bowo ini saya di depan Mie Teb**, rumah Nyna sebelah mana ya?” tanya Pak Jun via handphone. Saya langsung menjawab telepon tersebut dengan setengah tak pecaya. Tak percaya kalau Pak Jun yang kantornya berada di Pati mau mampir ke rumah Nyna di Kudus, apalagi di tengah cuaca hujan deras seperti ini.

Dengan berbekal payung segera saya menjemput Pak Jun yang sudah berada di ujung gang dekat rumah Nyna. Air hujan yang menggenang cukup untuk menenggelamkan sepatu Pak Jun tersebut tak menyurutkan niat beliau untuk hadir di tengah-tengah kami. Salut buat Pak Jun. Kedatangan Pak Jun hari itu bagi kami bak seorang bapak yang menjenguk anaknya di perantauan (lagi-lagi lebai dikit boleh dong haha….). Banyak hal yang kami diskusikan saat itu. Kebetulan ketika itu kami sedang dihadapkan dengan persoalan internal. Pak Jun sempat sharing mengenai pengalamn hidupnya. Hal itu membuat kami semakin termotivasi. Bahkan kami sempat larut dalam keharuan ketika beberapa dari kami ikut-ikutan curhat. Suasana kekeluargaan tersebut berlangsung cukup lama dan tak terlupakan bagi kami. That was another unforgettable story of Beswan Djarum I\m Sorry Good Bye! (bersambung)

I\m Sorry Good Bye!

Ketemu lagi di seri Beswan Djarum Unforgattable stories, yang belum baca postingan sebelumnya stop dulu… ayo baca the previous post (maksa.org). Setelah selesai mengikuti Achievement Motivatioan Training (Outbound) di Lembang, Bandung. Kami rombongan beswan Djarum Kudus berkesempatan mampir ke Gunung Tangkuban Perahu. Meskipun kejadiannya sudah dua tahun lalu, tapi masih lekat dalam ingatanku. Kala itu keberangkatan kami ke gunung yang berbentuk seperti perahu terbalik tertunda, gara-gara Mila salah satu teman kami mengalami accident saat muter-muter naik ATV. Entah kenapa saat Mila dibonceng Pak Roni naik kendaraan tersebut mengelilingi area outbond, tiba-tiba ia nyungsep ke tanah dengan posisi kepala menukik ke tanah macam pesawat gagal landing (bukan bermaksud suka ngeliat teman susah Mil, peace ^_^V).

Gara-gara peristiwa tersebut Mila sempat kesakitan dan susah berjalan karean kepalanya puyeng. Akhirnya dengan rasa solidaritas kami menungguinya seraya beberapa personil Pak Roni berusaha meringankan rasa sakit dengan P3K yang tersedia.

Singkat cerita, Mila akhirnya pulih dari sakitnya dan kami sampai di Tangkuban perahu. Seperti biasa kami berfoto narsis sambil mengekplorasi berbagai sudut untuk dijadikan latar berfoto. Termasuk salah satu diantara kami adalah si Agus. Tampangnya gak kalah lucu dibandingkan Abdel atau Temon, nyaris tanpa ekspresi. Hal itu yang sering menjadaikan si Agus “bulan-bulanan” saat bercanda bersama teman-teman Beswan Djarum yang lain (disetiap tempat selalu ada orang yang seperti ini haha… tapi saya suka d(^_^)b gk bikin boring). Entah angin apa saat itu yang membawa Agus menanyakan pertanyaan konyol “Kita sudah sampai tangkuban perahu ya? Mana Perahunya?” tanyanya polos. Gubrakzzz!!! Kami yang mendengar celetukan Agus sejurus langsung saling memandang dan kemudian tawa pun pecah. Entah pertanyaan tersebut sungguh-sunguh terlontar karena ketidaktahuannya atau karean ingin memancing tawa, yang jelas celetukan si Agus menjadikan cerita itu one of Beswan Djarum unforgattable stories versi kami. Haha…… good job Gus! (bersambung)

Beberapa minggu yang lalu saya mengendarai motor dari Kudus ke Pati dengan tujuan untuk menghadiri pernikahan salah satu Beswan Djarum angkatan saya. Selama roda membawa saya semakin jauh meninggalkan Kudus memori lama merasuki ingatan. Ingatan itu muncul tatkala mata ini memandang ke kanan kiri jalan yang masih tampak sama kodisinya ketika kami (Beswan Djarum Kudus angkatan 2008) harus berkejar-kejaran dengan truk-truk container penuh muatan, dengan truk-truk gandeng yang menyesaki badan jalan, dan saling berbonceng dengan mata berbinar penuh semangat, serta dengan agenda-agenda di kepala yang siap saya floorkan dengan teman-teman ketika rapat.

Tepatnya masa dua tahun lalu ketika setiap bulan saya dan teman-teman Beswan Djarum Kudus satu angkatan harus hilir mudik Kudus-Pati untuk mengadakan rapat bulanan sekaligus ambil gaji (dana beasiswa) di kantor perwakilan Djarum Beasiswa Plus di Pati. Rutinitas tersebut bukan menjadi kendala, perjalanan Kudus-Pati tiap bulan selama satu tahun tersebut justru mengeratkan kami. Sebab banyak pengalaman yang kami rasakan bersama. Banyak sekali tantangannya, dari mulai menyepakati hari kapan kami harus ke Pati (menentukan hari biasanya yg paling ribet karena harus berkompromi dengan aktivitas masing-masing), berkumpul di depan Kopma STAIN Kudus dan menunggu teman yang terlambat datang sebelum berangkat ke Pati bersama-sama, sampai makan siang bersama setelah rapat selesai.

Kami Beswan Djarum Kudus, kenapa rapatnya di Pati? Begitulah kenyataanya, meskipun kantor pusat Djarum terletak di Kudus, kami Beswan Kudus harus menempuh perjalanan melewati jalur pantura kurang lebih satu jam menuju kantor perwakilan Djarum Beasiswa Plus di Pati untuk melaksanakan rapat bulanan. Secara teknis Beswan Kudus berurusan dengan pembina yang bekerja di kantor perwakilan area Pati. Jalan yang berlubang dan bergelombang akibat sering diperkosa oleh truk-truk overload tak mampu menyurutkan semangat kami untuk terima gaji bulanan (hahahah… :D), disamping semangat untuk bertukar fikiran agar program kerja yang kami susun bisa berjalan lancar tentunya.

I\m Sorry Good Bye!

Suatu ketika saya dan Rojib berboncengan menaiki motor tua saya (Honda Astrea 800 keluaran ’85) ke Pati bersama rombongan. Hari itu saya sadar bahwa kendaraan butut yang sehari-hari menjadi tunggangan setia saya ke kampus tersebut memang kurang prima. Rem depan sudah tidak berfungsi karena kampas rem yang aus. Terlebih saya kurang perhatian dengan kendaraan yang usianya lebih tua dari saya ini. Kurang paham ilmu otomotif dan jarang memanjakan motor ke salon (bengkel) tepatnya. Saat kami pulang dari rapat bulanan di kantor perwakilan Djarum Beasiswa Plus di Pati, seperti biasa naluri muda memacu kami menggeber gas sekuatnya sehingga motor melesat kencang. Si hitam putih yang saya tunggangi dengan Rojib tentu saja tak mampu mengejar yuniornya yang lebih muda.

Di tengah perjalanan tiba-tiba saya mendengar seperti ada yang benda yang lepas dan jatuh terseret. “Plak..srrrrtt……” (kurang lebih seperti itu suaranya, saya lupa persisnya). Rojib yang saat itu saya minta menggantikan saya memegang setang, spontan langsung menepikan motor malang itu. Seketika saya turun dan mengeceknya “Astaghfirullah… kabel rem belakang lepas,” ucapku seraya meratapi nasib motorku. Parahnya baut untuk mengaitkan kabel rem hilang terjatuh di jalan. Rem depan tidak berfungsi, sekarang rem belakang dol. Wah lengkap sudah penderitaan tunggangan yang aku suka karena hemat bahan bakar tersebut. “Sambil jalan kita cari bengkel saja Pak Wo,” usul Rojib.

Entah angin apa yang memberanian kami menantang maut untuk mengendarai motor tanpa rem tersebut di tengah-tengah jalan yang menghubungkan Anyer-Panarukan tersebut. Dengan Rojib sebagai sopir, kami tetap nekat melajukan motor meskipun tanpa rem. Kabel yang menjuntai saya ikat dengan tali rafia yang nemu di jalan. Sesekali kendaraan besar seperti truk berhenti mendadak di depan kami. Kami pun panik, takut kalau-kalau motor kami menghantam bagian belakang truk atau mobil yang saat itu ramai menemani sepanjang perjalanan kami. Untung saja bak pendekar silat, rojib yang duduk di depan langsung banting setir ke kiri. Untung saja kami tidak nyungsep ke sawah.

Kendaraan terus kami paksa berjalan meski tanpa rem sebagai kendali sambil mencari bengkel terdekat, dan ketika kami dihadapkan pada lampu lalu lintas yang berwarn merah, rasa was-was kembali muncul. Kali ini jurus yang dikeluarkan Rojib adalah dengan memutar kunci motor ke kiri (switch off) dan pasang kuda-kuda (alias rem kaki). Ckckck….. gila betul kalau mengingatnya. Kendaraan terus berjalan sementara belum satu bengkelpun kami jumpai hingga akhirnya kami sampai di Kudus. Akhirnya di sebuah bengkel yang letaknya tidak jauh dari kos-kosan Rojib motorku bisa dibetulkan. Hari itu saya bersyukur karena bisa pulang dengan bagian tubuh yang masih utuh. Untung saja waktu itu aku tidak mengendarai motorku sendirian, ada teman berbagi yang menjadi nahkoda saat kapal berlubang hahahaha….. makasih Jib, itu salah satu kenangan yang tak terlupa…… (bersambung)

I\m Sorry Good Bye!

Sobat tidak suka nonton sinetron? Sama, aku juga. Juga berfikir penulis cerita sinetron itu lebay? Sama. Mati kutu alias gak kreatif itu kata yang tepat. Kebanyakan memang seperti itu (walaupun nggak semua) gak perlu lagi dibahas secara rinci kenapa. Semua orang sudah tahu. Pantas saja ya serial Korea atau Jepang jadi alternatif.

Berawal dari rasa eneg dengan sinetron saya memencet tombol remote tv berharap ada tayangan yg lebih berkualitas. Muncul lah beberapa program seperti On *** Spot, yang menayangkan keunikan serba tujuh. Wah ini menarik pikir saya. Setelah saya amati kok liputannya courtesy YouTube semua ya? Waduh kok gitu ya. Gak hanya cuplikan lho tapi semua liputannya dari YouTube.

Rupanya beberapa hari kemudian saya juga menjumpai beberapa konsep acara yang sama di beberapa tv nasional lainnya. Apakah alasan program tersebut mengandalkan video dari YouTube? Apa kareana alasan lebih hemat biaya jika dibandingkan harus mengeluarkan biaya liputan yang tentunya memiliki cost lumayan besar. Pertanyaanya sekarang adalah bolehkah sebuah program televisi menjadikan video-video dari YouTube sebagai bahan utama program dan menampilkannya di televisi?

Meskipun di setiap video yang ditayangkan terdapat tulisan “coutesy by YouTube”, tapi kenyataannya YouTube tidak memiliki hak cipta atas video-video yang ada di dalamnya. YouTube hanya memiliki hak siar. So, ada potensi pelanggaran hak cipta di sini. Terlebih menayangkan video dari YuoTube termasuk bentuk distribusi konten. Harus mulai berfikir tuch tim “kreatifnya”, sudah benar-benar kreatif belum nich?

For you to know, even YouTube pernah dituntut senilai Rp 9,5 triliun oleh Viacom, konglomeral media global pada Maret 2008. Mereka munuduh 150.000 klip video mereka telah di-upload ke YouTube tanpa izin dan telah disaksikan lebih dari 1,5 miliar kali. Wow!

YouTube pun sebenarnya tidak berdiam melihat pelanggaran hak cipta tersebut yaitu dengan menghapus video-video yang di-upload pengguna internet yang notabene melanggar hak cipta karena tanpa seizin pencipta atau pemilik hak intelektualnya. Sobat pasti pernah kan ingin membuka salah satu video di YouTube lalu tidak bisa ditayangkan karena kontennya sudah tidak ada, nah seperti itu efek dari pencegahan pelanggaran hak cipta di YouTube.

Well, saya fikir banyak kok kekayaan budaya, kekayaan alam dan keanekaragaman negeri ini yang bisa jadi bahan luar biasa untuk ditampilkan di program-program televisi. Bahkan mahasiswa asal Jepang misalnya membuat tugas film dokumenternya di Indonesia, ya karena kalau diekplorasi tidak ada habisnya. Apalagi beberapa tayangan kelas dunia seperti Discovery Channel yang sering melakuakan proses syuting di negeri yang tahun ini genap berusia 66 tahun ini. Pertanyaannya maukah kita meningkatkan potensi negeri kita atau lebih enak ambil jalan pintas (instan/pragmatis)?

“You agree not to distribute in any medium any part of the Service or the Content without YouTube’s prior written authorization, unless YouTube makes available the means for such distribution through functionality offered by the Service (such as the Embeddable Player)”- Youtube

<!–[if gte mso 9]> <![endif]–><!–[if gte mso 9]> Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE <![endif]–><!–[if gte mso 9]> <![endif]–>

I\m Sorry Good Bye!

Source:

http://lintasan.dagdigdug.com/2011/05/23/youtube-televisi-dan-hak-cipta/

http://arijuliano.blogspot.com/2008/12/youtube-hak-cipta-dan-safe-harbor.html

I\m Sorry Good Bye!

Sobat pernah menonton program di salah satu stasiun tv berjudul “Jika Aku Menjadi”? Acara berdurasi tidak lebih dari satu jam tersebut menampilkan pengalaman seseorang yang hidup bersama kaum marginal. Bagi beberapa orang yang hidup berkecukupan tentunya tidak pernah membayangkan bertahan hidup hanya dengan menjual gorengan, mencari telur semut merah (kroto) untuk dijual, menjadi buruh pembuat genteng, mengerjakan sawah milik orang lain, membersihkan kandang sapi atau melakukan pekerjaan jika hanya ada orang yang menyuruh (serabutan), terlebih dengan kondisi yang sudah uzur dengan beban beberapa cucu yang yang perlu biaya untuk sekolah.

Jadilah peserta dari program ini! (tanpa bermaksud mempromosikan) maka sobat akan merasakan ‘nyamannya’ tinggal di rumah beratap rumbia, ‘empuknya’ kasur tikar pandan di lantai tanah, nikmatnya nasi jagung tanpa lauk dan riangnya berjibaku dengan lumpur, kotoran sapi atau rasakan ringannya setumpuk penuh batu kali di atas kepala. Kalau tidak sempat merasakannya secara langsung coba sekali saja menyaksikan tayangannya, pasti sobat akan bisa membayangkan. Bagaimana komentar sobat melihat acara tersebut sebagai sebuah hiburan televisi? Menghiburkah?

I\m Sorry Good Bye!

Behind the scene "Jika Aku Menjadi"

Lebih jauh lagi menurut saya tayangan ini sebagai sindiran untuk pihak yang berwenang menangani pengentasan kemelaratan di negeri gemah ripah loh jinawe ini. Hingga pertengahan 2010 jumlah penduduk miskin di negeri ini mencapai 31.023.400 penduduk (data BPS: http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=23&notab=4). Dan data tersebut masih dipertanyakan karena beberapa ada yang menganggap jumlahnya lebih dari itu.

Dengan berbekal rasa penasaran saya mencari informasi lewat internet. Langsung saja saya ketik keyword ”Kementrian Sosial” ke search engine. Dari situ saya memperoleh situs resmi Kementrian Sosial Republik Indonesia (http://www.depsos.go.id/) yang saya pikir paling bertanggung jawab dalam usaha pengentasan kemiskinan (untung saja pemeriintah memakai istilah pengentasan bukan pemberantasan seperti pada istilah pemberantasan buta aksara, istilah yang menakutkan karena identik dengan genosida dan semacamnya)

Pada menu halaman utama terpampang daftar link dari 5 unit kerja dari departemen sosial. Salah satunya adalah DitJen Pemberdayaan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan . Nah ini yang saya cari. Berharap mendapatkan gambaran mengenai program kerja pengentasan kemiskinan, faktanya link tersebut hanya mengantarkan saya pada struktur organisasi. Persaaan yang semakin penuh tanda tanya menuntun saya untuk memasukkan keyword “Program Kerja Ditjen Pemberdayaan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan” ke dalam kolom search di halaman web tersebut. Lalu muncul tulisan yang memberitahukan kalau saya tidak bisa mengakses konten tersebut sebelum saya membuat akun (sign up) terlebih dahulu.

Akhirnya saya sempatkan diri untuk mendaftar. Setelah mendapatkan akun langsung saya coba untuk kali kedua memasukkan kata kunci yang sama berharap tahu bagaimana pemerintah menangani kemiskianan dan program kerja apa yang sudah dan akan dilaksanakan dari situs resmi tersebut. Hasilnya tidak ada konten yang berkaitan dengan kata kunci tersebut, yang ada hanya beberapa artikel kegiatan.

Mungkin sobat pernah dengar program baru yang gencar dilaksanakan pemerintah akhir-akhir ini untuk pengentasan kemiskinan? Mohon beri tahu saya, karena saya pribadi belum pernah mendengar sebuah program yang benar-benar digalakkan pemerintah secara serius untuk menangani kemiskinan.

Belajar dari Bangladesh, salah satu negeri termiskin di dunia

Adalah Muhammad Yunus, seorang muslim asal Bangladesh yang mendapatkan Nobel perdaimaian atas dedikasinya membantu pengentasan kemiskinan. Pria paruh baya lulusan Vanderbilt University, Amerika Serikat ini mendirikan Grameen Bank, institusi keuangan yang memberikan kredit murah bagi masyarakat miskin dan tidak mampu di Bangladesh. Apa yang dilakukan muslim ke 7 yang memperoleh Nobel dari 500 orang di dunia ini memberikan dampak besar bagi perkembangan ekonomi rakyat. Lewat kredit murah tersebut ekonomi rakyat menggeliat dan memberi oksigen bagi mereka yang susah bernafas akibat tekanan ekonomi.

Bagaimana dengan soko guru perekonomian kita?I\m Sorry Good Bye!

Jauh sebelum Muhammad Yusuf mendirikan Grameen Bank, di negeri kita telah dirintis konsep perekonomian dengan asas kekeluargaan yang membantu masyarakat ekonomi lemah melalui koperasi. Koperasi menjadi salah satu badan hukum yang digadang sebagai soko guru (tiang utama) perekonomian Indonesia yang sejak lama telah dirintis oleh R. A. Wiriaatmadja dan dikembangakan oleh Moh Hatta kini tidak terdengar lagi diaplikasikan untuk menangani permasalahan ekonomi kelas bawah. Konsep yang telah ada ini mulai luntur bersamaan dengan lunturnya semangat Pancasila. Founding father negeri ini telah menggagas konsep yang luar biasa mengenai pedoman dasar dan konsep perekonomian. Namun kini konsep yang brilliant itu mungkin sudah dianggap tidak penting. Rupanya lebh asyik bagi pejabat negeri ini untuk mengisi perut sendiri daripada memikirkan kemiskinan yang tidak pernah mereka alami dan rasakan. Perekonomian rupanya bukan menjadi hak mereka kaum papa di negeri ini, pertumbuhan ekonomi hanya istilah bagi mereka pemodal besar, para cukong penebang hutan, para perusak perut bumi dan para konglomerat pemakan uang rakyat.


Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
Yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
Yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
Memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten
Tentu harus ada awak kapalnya….
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
Rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu….
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

?”Kerendahan Hati”? -Taufik Ismail

I\m Sorry Good Bye!

Hipnotis menjadi popular di negeri ini setelah muncul tayangan reality show yang dipandu Romy Rafael. Berikutnya muncul Uya Kuya, dengan program tv-nya ia menampilkan seseorang yang dihipnotis dan menceritakan unek-uneknya dalam keadaan terhipnotis. Hal tersebut menjadi hiburan tersendiri bagi pemirsa televisi.

Hipnotis juga muncul sebagai salah satu alternatif untuk mengobati beberapa gangguan seperti phobia, latah dan kecanduan rokok atau alkohol.

Dan tahukah sobat? kini istilah hipnotis juga menjadi salah satu istilah yang dikenal di dunia pendidikan. Namun jangan sobat bayangkan hipnotis untuk kategori pendidikan ini sama seperti yang sobat saksikan di layar kaca.

Awalnya hanya mampir ke salah satu toko buku di kota Semarang saat mengantar teman, hingga membawa saya berjumpa dengan salah satu buku yang mengupas tentang hipnotis dalam pendidikan. Judul buku tersebut “Hypno Teaching; Bukan Sekedar Mengajar”. Sepintas judulnya memang ‘garing’. Tapi setelah saya baca sekilas dan menangkap alur berfikir dari buku tersebut, tanpa pikir panjang saya memutuskan untuk membelinya.

Banyak hal saya dapat dari buku karangan Novian Triwidia Jaya tersebut yang berguna bukan hanya untuk pengajar seperti saya tapi juga semua orang. Lewat bukunya Novian mendefinisikan hypnoteaching sebagai perpaduan pengajaran yang melibatkan pikiran sadar dan pikiran bawah sadar.

Hypnoteaching merupakan perpaduan dua kata “hypnosis” yang berarti mensugesti dan “teaching” yang berarti mengajar. Sehingga dapat diartikan bahwa hypnoteaching sebenarnya adalah menghipnotis/mensugesti siswa agar emnjadi pintar dan melejitkan semua anak menjadi bintang”

Setiap manusia senantiasa menggunakan 2 pikiran dalam melakukan aktivitas yaitu pikiran sadar (conscious mind) dan pikiran bawah sadar (sub conscious mind). Pikiran sadar berfungsi sebagai pikiran yang analistis, rasional, kekuatan kehendak, faktor kritis dan memori jangka pendek yang sering kali disetarakan dengan otak kiri.

Sedangkan pikiran bawah sadar (sub conscious mind) berfungi dalam menyimpan memori jangka panjang, emosi, kebiasaan dan intuisi yang seringkali disetarakan dengan otak kanan.

Faktanya pikiran bawah sadar begitu hebat dan menguasai pemikiran sesorang sebanyak 88%, sedangkan pemikiran sadar menyisakan 12% saja. Jadi pikiran bawah sadar lebih berkuasa dalam mempengaruhi tindakan kita sobat. Di antara pikiran sadar dan bawah sadar terdapat sebuah filter ( RAS= Reticular Activating System) yang berfungsi menyaring data di otak.

I\m Sorry Good Bye!

“Proses pembelajaran mengunakan pikiran bawah sadar ternyata memiliki kemampuan 10.000 kali lebih cepat dari pada pikiran sadar”

Ketika dalam kedaan yang rileks dan senang filter tersebut akan terbuka menuju alam bawah sadar dan menciptakan program baru di otak. Dan sebaliknya jika dalam kondisi tertekan atau stress filter tersebut akan menutup. Mungkin sobat pernah merasa tidak suka dengan salah satu mata pelajaran di sekolah. Hal ini mungkin terjadi karena awalnya kita tidak menyukai guru yang mengajar pelajaran tersebut atau karena dari awal kita membayangkan kalau pelajaran tersebut sulit. Akibatnya otak kita kesulitan menerima pelajaran itu, seperti itulah kirai-kira ilustrasinya.

Di buku dengan ilustrasi gambar mata di covernya ini juga dijelaskan pentingnya persepsi dan sugesti dalam kegiatan pembelajaran. Robert Rosenthal dan Lenore Jacob melakukan sebuah tes untuk membuktikannya. Kedua peneliti tersebut memberi tahu kepada para guru bahwa berdasarkan test yang dilakuakn kepada sejumlah murid diketahui bahwa siswa A, B dan C akan meraih sukses akademis dibandingkan dengan siswa yang lain.

Pada akhirnya anak-anak yang disebutkan itu meraih prestasi akademis yang kebih unggul. Fakta yang luar biasa adalah sebenarnya kedua peneliti tersebut tidak pernah melakukan test (hanya test fiktif belaka). Hal ini membuktikan betapa besarnya pengaruh persepsi dan sugesti meskipun hal itu berasal dari luar (dari guru bukan dari siswa sendiri).

Bagaimana persepsi terbentuk?

Sebuah persepsi terbentuk dan melekat di dalam pikran kita. Awalnya bisa berupa pengalaman empiris. Misalkan kita pernah kena damprat oleh salah satu guru kita karena kesalahan kita. Hal itu bisa menjadi sebuah persepsi yang selalu melekat, akibatnya kita menjadi kurang suka terhadap guru tersebut dan berimbas pada menurunnya nilai pelajaran yang diampu guru bersangkutan.

Selain itu persepsi bisa terbentuk dari pengalamn induktif (dari pengalaman orang lain yang kita dengar). Yang terakhir persepsi muncul dari self-talk. Self-talk sendiri merupakan ucapan-ucapan yang kita sadari atau tidak selalu kita ucapkan kepada diri kita.

“Hampir setiap hari kita melakukan self-talk antara 10.000 kali dalam 1 hari dan sebagain besar dari self-talk itu berisi hal yang negatif” – Deepak Chopra

Bagaimana mengaktifkan pikiran bawah sadar?

1. Mulailah dengan antusias

Emosi dan pembawaan pengajar membawa dampak besar bagi situasi pembelajaran untuk itu mulailah dengan antusias dan tebarkan semangat di ruang kelas.

2. Mulailah dengan cloning

Melakukan aktivitas (gerakan/ucapan) bersama-sama dengan siswa memberikan pengaruh yang penting karena pada hekekatnya manusia senang dengan manusia lain yang memiliki kesamaan.

3. Lanjutkan dengan cerita

Setiap orang pasti tertarik mendengar cerita, tidak harus cerita yang panjang Karena hanya untuk menarik perhatain siswa. Usahakan menceritakan kejadian sehari-hari yang alami, ekpresif, melibatkan emosi dan fun.

Bagaimana melejitkan potensi siwa dengan hipnotis?

Novian menjelaskan dalam bukunya bahwa siswa harus diajak berimajinasi melalui pertanyaan ajaib. Apa itu pertanyaan ajaib? Pertanyaan ajaib adalah pertanyaan yang membuat siswa mampu berimaginasi terhadap pencapaiannya yang luar biasa. Terkadang kita sulit mencapai keberhasilan karena kita tidak pernah membayangkan (bermimpi) kebaiakn-kebaiakan yang akan kita peroleh jika kita berhasil. Jadi semua itu berawal dari mimpi. Bagaimana kita bisa berhasil apabila untuk memimpikannya saja tidak pernah?

Perhatian kita sebagai pengajar, sekecil apapun juga mampu mengipnotis siswa untuk simpati kepada kita dan lebih tertarik untuk mempelajari pelajaran yang kita ampu. Berkaitan dengan perhatian kepada siswa, di buku ini dijelaskan pula istilah tabungan perhatian. Yaitu sebuah istilah untuk reward bagi siswa. Membaca buku setebal 144 halaman ini tidak hanya memberikan saya banyak ilmu sebagai seorang pengajar tetapi menyadarkan saya untuk berfikir positi terhadap diri saya sendiri. Saya pasti bisa, begitu juga sobat! Let’s keep dreaming!

I\m Sorry Good Bye!

Hari ini hari Minggu. Hari buat berbenah. Sebenernya sich planningnya mau seharian baca tiga buah buku yang baru saya beli via toko buku online. Selesai membaca buku saya yang pertama tiba-tiba saya teringat nasib buku-buku saya yang tersimpan rapi (padahal sebaliknya) di kamar kosong yang lebih tepat disebut gudang. Beberapa dari buku yang saya beli saat ada pameran atau saat hunting buku di Semarang sudah selesai saya baca. Sementara beberapa yang lain masih terbungkus plastik (belum kebaca).

Saat duduk di bangku SMA saya bukan tipe kutu buku seperti kebanyakan orang mengira. Mungkin karena saya bersekolah di SMA favorit, mereka berfikir saya ini kutu buku. Padahal menurut saya yang namanya kutu buku yaitu orang yang gemar sekali membaca buku-buku bermutu. Kalau saya ini tergolong orang yang suka baca buku pelajaran (itupun karena tuntutan). Jadi sungguh saya bukan bagian dari meraka.

Sekarang pun saya bukan tipe orang yang meluangkan waktu khusus untuk membaca buku-buku bestseller dan punya target berapa buah buku yang harus saya baca dalam waktu tertentu.

Saya lebih suka membaca kalau ada dorongan dalam diri saya untuk membaca atau setelah mendapat rekomendasi dari teman.

Pertama kali mengenal buku yang bermutu (bukan buku pelajaran) adalah ketika saya kali pertama bergabung di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Jurnalistik. Di sana ada semacam perpustakaan mini. Lewat UKM tersebut saya sedikit mengenal buku-buku bagus walaupun koleksinya belum cukup banyak.

Sebagai tim redaksi dari UKM yang menyusun majalah kampus saya dikenalkan dengan berbagai ilmu jurnalistik termasuk resensi buku. Terkadang juga kami sering melakukan bedah buku. Dari situ saya tahu bagaimana cara meresensi buku. Ya harus dibaca dulu tentunya.

Tugas untuk meresensi buku di majalah kampus membawa saya melakukan hunting buku yang baru dan bermutu. “Kalau mau resensi buku, cari buku yang bermutu dan harus terbitan terbaru, maksimal terbitan tiga bulan yang lalu,” begitu ucap salah satu senior saya. “Trus kita harus beli dong Mas?” tanya saya. “Gak harus beli dan gak ada anggaran buat beli kalian bisa pinjam,” tegasnya.

Harus dapat buku bermutu dan harus baru. Gila aja tuch senior. Kalau mau pinjem buku yang bermutu sich banyak bisa pijam ke teman, dosen atau hunting di perpustakaan. Tapi kalau bukunya harus baru, siapa juga yang bakal pinjemin. Paling tidak kita bisa pinjam buku setelah yang empunya selesai membacanya.

Kondisi yang seperti itu membuat saya dan beberapa teman harus hunting buku sampai ke Semarang. Tapi dari situ juga saya tahu dimana tempat beli buku yang bagus dan baru.

Well kembali ke topik awal. Ya hari ini rasa simpati saya muncul begitu melihat buku-buku yang saya beli terlantar tak terawat. Sebagian diantaranya bertumpuk di dalam aquarium bekas yang tak terpakai karena saya malas untuk mengganti airnya secara rutin. Apalagi setelah melihat cover beberapa buku yang saya punya. Beberapa tampak termakan kutu buku (dalam artian sebenarnya) hingga covernya berlubang. Dan hampir semua koleksi buku saya tampak seperti kue moci bertabur debu (bukan tepung)

I\m Sorry Good Bye!

Ini salah satu buku saya yang dimakan kutu (ih malu......knp diupload?)

Nurani saya tersentuh dan sejurus kemudian berinisiatif untuk mengelap satu persatu buku saya dan menyimopannya di lemari agar terhindar dari lembab dan kutu buku (dalam arti sebenarnya lagi).

Sebelumnya beberapa buku tersebut memang sudah saya simpan di dalam sebuah almari keci dekat dengan rak TV, namun rupanya,naluri tikus yang cerdas dan bergigi tajam untuk mencari peraduan yang hangat dan nyaman harus mengorbankan buku-buku saya. Si tikus itu melubangi almari dan menjadikan buku sebagai kasur dan nyamilan yang gurih.

Hari ini saya tergugah untuk menyelamatkan aset (buku-buku) saya tersebut. Dengan sehelai kain lap, saya bersihkan buku-buku tersebut. Beberapa buku yang covernya terlihat kusam oleh debu yang lengket saya lap dengan kain agak basah. Kemudian saya susun rapi di dalam lemari plastik yang baru Ibu beli.

Senang dan puas rasanya melihat buku-buku saya terselamatkan. The point should be underlined is “Mari kita sayangi buku dan kita rawat sebaik mungkin, meskipun sudah kita baca sampai habis yang namanya buku akan terus berguna buat siapa saja yang membacanya. I love my books, you should!