Tristyan's Story

Through Story Sharing My Thought

I\m Sorry Good Bye!

Minggu pagi (9/10), saya bersama seorang Beswan Djarum, Dian berencana menyisir tempat-tempat bernilai budaya di kota Kudus. Kami berdua memang sudah memiliki niat untuk hunting peninggaan budaya di Kudus. Setelah mampir ke rumah Om-nya di Dian yang juga perajin gebyok (ukiran khas Kudus), kami berencana mengunjungi perajin caping kalo (topi khas Kudus pelengkap pakaian adat wanita). Namun sayang kekecewaan menghampiri kami, lantaran caping tersebut sudah tidak di produksi lagi. Lebih menyedihkan lagi ketika kami tahu fakta bahwa perajin yang tinggal satu-satunya di kota Kudus tersebut sudah uzur dan tidak ada yang meneruskan jejaknya.

Roda kendaraan akhirnya membawa kami ke tujuan  berikutnya yakni Masjid Wali yang terletak di desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Masjid yang memiliki nama lain At Taqwa ini didirikan pada tahun 1596-1597, abad ke 15 pada masa Hindu Budha menuju ke Islam, oleh Tjie Wie Gwan,  seorang pengembara dari kerajaan Campa, Cina. Yang membuat masjid ini menarik dan unik adalah bangunan gapura di depan masjid memiliki  arsitektur menyerupai pura di Bali dengan menggunakan bata merah yang memiliki nilai budaya tinggi dan tergolong Benda Cagar Budaya. Arsitektur yang menyerupai pura itu dimaksudkan sebagai taktik (akulturasi budaya) oleh Tjie Wie Gwan agar masyarakat sekitar tertarik untuk mendatangi Masjid tersebut karena pada masa itu masyarakat masih beragama Hindu-Budha, belum mengenal agama Islam.

I\m Sorry Good Bye!

Gapura Masjid Wali menyerupai Pura

Tjie Wie Gwan sendiri adalah suami dari R. Prodobinabar, anak dari Sunan Kudus. Tjie Wie Gwan diperintah oleh Sunan Kudus untuk menyebarkan agama Islam di kawasan Kudus selatan.

Manten Mubeng

Ada adat unik yang biasa dilakukan masyarakat Loram Kulon yang melaksanakan pernikahan. Pengantin yang berasal dari desa Loram Kulon memiliki kebiasaan mengelilingi gapura masjid Wali sebanyak tujuh kali setelah prosesi ijab qobul, lepas itu mereka memasukkan uang sedekah ke dalam kotak kas yang terletak di depan masjid.

Konon ceritanya dahulu belum terdapat KUA, sehingga proses ijab qobul pengantin dilaksanakan di Masjid Wali dengan Tjie Wie Gwan sebagai penghulu. Karena banyaknya yang menikah, untuk mempersingkat waktu maka beliau berpetuah agar para pengantin yang telah sah mengelilingi gapura dan akan di doakan dari depan Masjid sambil disaksikan oleh warga setempat. Kegiatan tersebut bertujuan baik, tanpa bermaksud untuk mengarah ke perbuatan syirik.

I\m Sorry Good Bye!

Khusus pengantin

Sedekah Nasi Kepel

Tradisi lain yang dilakukan masyarakat di lingkungan tersebut adalah sedekah nasi kepel. Nasi kepal dan bothok (makanan yang terbuat dari campuran petai cina, parutan kelapa dan bumbu yg dibungkus daun pisang lalu dikukus) yang masing-masing berjumlah tujuh tersebut didoakan dan diselamati dengan niatan sedekah. Menurut cerita masyarakat sekitar, dahulu ada seseorang yang ingin melakukan sedekah namun ia tergolong orang yang tidak mampu. Kemudian Tjie Wie Gwan menyuruhnya untuk mebuat nasi kepal dan bothok yang terbilang relatif terjangkau bagi orang yang kurang mampu. Sementara nominal tujuh (Jawa: pitu) mengandung arti pitulungan (pertolongan), pitutur (nasehat) dan pituduh (petunjuk). Kebiasaan lain yang hingga sekarang dilaksanakan adalah Ampyang Maulid, yaitu kirap memperingati Maulid Nabi Muhammad.

See? betapa banyak filosofi dari para pendahulu kita yang tertuang dalam berbagai tradisi dan adat kebiasaan yang jika tidak kita pelajari dan lestarikan tentu kita tidak akan tahu niai-nilai kearifan itu dan lebih parah lagi bisa membuat kita lupa akan jati diri kita sendiri jika kita tidak mengindahkannya.

Budaya kasat Mata

Satu hal yang mebuat saya terkesan saat berkunjung ke Masjid tersebut bukanlah bangunan gapuranya. Mungkin karena bukan yang pertama kali saya melihat bangunan tersebut. Selain juga karena ada bangunan berarsitektur serupa seperti Menara Kudus yang menjadi landmark kota Kudus yang amat familier. Ada nilai penting yang saya dapatkan saat berkunjung ke masjid wali pagi itu. Hal itu saya dapati tepat di belakang gapura, dimana puluhan pria dari usia remaja hingga paruh baya sibuk menurunkan genting dari atap masjid, sementara yang lain ada yang membongkar kayu-kayu reng. Beberapa yang lain sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ya, kebetulan pagi itu Masjid Wali mulai direnovasi. Para remaja pria datang dari perwakilan mushola dan masjid setempat, juga perwakilan RT. Yang jelas semua pria di desa Loram Kulon nampak terlibat dalam proyek renovasi Masjid yang terakhir direnovasii pada tahun 90-an tersebut. Masjid pagi itu benar-benar dipenuhi puluhan masyarakat yang masih mempertahan tradisi luhur yang mulai langka,  gotong royong.

I\m Sorry Good Bye!

Warga bergotong royong merenovasi masjid Wali.

Saya sangat mengapresiasi nilai-nilai yang tetap dipertahankan masyarakat Loram Kulon. Mereka benar-benar memelihara kearifan lokal yang ada sejak zaman dulu.

Nilai-nilai yang saya dapatkan hari itu hanya cerminan kecil dari nilai luhur kebudayaan yang ada di Indonesia. Jika berbicara soal gotong royong, tentu bukan menjadi budaya miliki masyarakat Kudus semata, berbagai daerah di Indonesia sangat kental dengan nuansa gotong royongnya, sebut saja tradisi “Angkat Rumah” (dalam arti sebenarnya lho!) di daerah Bantimurung, Sulawesi Selatan. Warga di sana bergotong-royong membantu kepindahan rumah salah seorang warga  dengan mengangkat rumah panggung secara bersama-sama menuju lokasi tempat tinggal baru. Unik ya? mengingat biasanya kalau pindahan rumah yang pindah hanya orang dan isi rumah tapi ini rumahnya juga ikutan pindah.  Gak kebayang seberapa beratnya mengangkat sebuah rumah, meskipun itu rumah kayu tetap saja yang namanya rumah tidak mungkin seringan kasur. Saya juga tidak bisa membayangkan berapa banyak peninggalan budaya lainnya dari seluruh pelosok daerah di Indonesia jika dihitung. Bayangkan jika  masing-masing Beswan Djarum diminta menceritakan kebudayaan masing-masing dan dirangkum menjadi satu pasti akan menjadi sebuah ensiklopedi yang luar biasa dan kaya akan nilai-nilai yang patut untuk dipelajari.

I\m Sorry Good Bye!

Tradisi "Angkat Rumah" kelihatan betul kan gotong-royongnya? from: http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2011/01/21/melihat-tradisi-angkat-rumah-di-bantimurung/

I\m Sorry Good Bye!

Itu beneran rumah lho yang mau diangkat dan dipindahkan (from: http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2011/01/21/melihat-tradisi-angkat-rumah-di-bantimurung/)

Mengenang saat masih menyandang status mahasiswa dulu dan mendapatkan kesempatan dari Djarum Beasiswa Plus menjadi salah satu penerima beasiswa. Ketika itu saya dipertemukan dengan teman-teman Beswan Djarum dari berbagai daerah di Indonesia, dimana saya bisa saling bertukar pengetahuan, dan mengenal kebudayaan masing-masing. Momen-momen itu benar-benar menyadarkan saya mengenai kebinekaan bangsa ini yang luar biasa indah. Salah satu kegiatan yang masih saya kenang dan mengajarkan kepada kami Beswan Djarum mengenai pentingnya mempelajari budaya adalah ketika kegiatan Wawasan Kebangsaan (dahulu Silturahmi Nasional). Pada kegiatan tersebut kami diberikan kesempatan untuk menampilkan berbagai tarian tradisional dari berbagai daerah. So amazing, and unforgettable!

Pelajaran yang saya ambil kali ini adalah, mempelajari budaya bukan sekadar mengagumi benda kasat mata sebagai manifestasi dari peninggalan budaya, melainkan pula mampu mengambil nilai-nilai kearifan yang terkandung di dalamnya. Saya semakin yakin bahwa para pendahulu kita adalah orang-orang luar biasa yang  membekali kita anak cucunya dengan pesan-pesan penting dan berguna dalam setiap karya, entah itu dalam bentuk tari-tarian, adat kebiasaan maupun berbagai tradisi lainnya, termasuk hal-hal tak kasat mata. Bukan hantu atau jin penunggu keris tentunya. melainkan nilai-nilai sebagai esensi dari budaya itu sendiri yang terkadang tak kasat mata namun penuh makna.

Bagi sobat yang ingin berpartisipasi membantu proyek renovasi masjid Wali Loram Kulon bisa mengirimkan bantuan ke sini (amanat pengurus Masjid Wali)

I\m Sorry Good Bye!

Ayo bantu proyek renovasi Masjid Wali

  1. sepri subarkah
    8:26 am on October 11th, 2011

    kalau liat orang gotong royong di masjid itu, berarti ada budaya di balik bnda cagar budaya, mas wo.. :D

  2. arnis.silvia
    8:55 am on October 11th, 2011

    Kumplit pake telor nih tulisannya.. sip deh, mahaguru sudah turun gunung.. siap bertarung.. hehhe.

    monggo mampir pak..

  3. tristyantoprabowo
    4:28 pm on October 11th, 2011

    sepri subarkah :

    kalau liat orang gotong royong di masjid itu, berarti ada budaya di balik bnda cagar budaya, mas wo..

    Benar sekali Sepri, itu salah satu bentuk budaya bukan benda yang memiliki nilai luar biasa dimana rasa kebersamaan dan kekeluargaan, serta saling bantu menjadi jati diri masyarakat Indonesia. Patut disayangkan jika nilai semacam itu lenyap dari bangsa kita.

  4. mulkan
    4:39 pm on October 11th, 2011

    mantaps ternyata ada nomor rekening ya di gambar terakhir:D

  5. tristyantoprabowo
    4:42 pm on October 11th, 2011

    arnis.silvia :

    Kumplit pake telor nih tulisannya.. sip deh, mahaguru sudah turun gunung.. siap bertarung.. hehhe.
    monggo mampir pak..

    Bu Arnis bisa ajah…. kalau saya mahaguru sampeyan Dewa-nya dong….. #idih malah saling puji

    minta urun rembug budayanya donk hehe….

  6. tristyantoprabowo
    4:49 pm on October 11th, 2011

    mulkan :

    mantaps ternyata ada nomor rekening ya di gambar terakhir:D

    Iya Mulkan, maaf ya kalau tidak berkenan. Itu amanat dari pengurus Masjid Wali yang saat itu saya tanya-tanyai… Sekalian juga memfasilitasi sobat-sobat yang peduli dan ingin menabung celengan akhirat.. ^_^

  7. dianratnasari
    6:38 pm on October 11th, 2011

    LUAR BIASA…bagus banget Kak…
    Eh ada fofot jelek aku..
    hihihihii…
    iya Kak, aku disana juga terpana akan rasa tolong menolong , kerja bakti, gotong-royong bersama-sama merenovasi masjid bersejarah itu..
    :-)
    Bagus Kak..

  8. tristyantoprabowo
    10:27 pm on October 11th, 2011

    dianratnasari :

    LUAR BIASA…bagus banget Kak…
    Eh ada fofot jelek aku..
    hihihihii…
    iya Kak, aku disana juga terpana akan rasa tolong menolong , kerja bakti, gotong-royong bersama-sama merenovasi masjid bersejarah itu..

    Bagus Kak..

    ditunggu nich tulisan versi Dian hehe…. pasti lebih oke :)

    Iya salut buat mereka yang nguri-uri (memelihara) nilai-nilai warisan nenek moyang kita…..

  9. nurulikhsan
    10:30 pm on October 11th, 2011

    Salam budaya! Dua jempol deh buat mas Bowo! Keren :D
    JUdul tulisan ini menggelitik, membuat saya pengen membaca. Gambar-gambarnya juga sangat cerah, pasti kamera nih, mahal. Dengan dengan punyaku yang seadanya.

    Lanjutkan! :D

  10. tristyantoprabowo
    12:15 am on October 12th, 2011

    nurulikhsan :

    Salam budaya! Dua jempol deh buat mas Bowo! Keren
    JUdul tulisan ini menggelitik, membuat saya pengen membaca. Gambar-gambarnya juga sangat cerah, pasti kamera nih, mahal. Dengan dengan punyaku yang seadanya.
    Lanjutkan!

    Makasih Ikhsan, Judul itu terlintas begitu saja di pikiran seperti hembusan angin hehe…mendayu-dayu ya….

    Oh ya ngomong2 itu fotonya pake kamera digital biasa koq ikhsan, kamera murah hehe…. mungkin sinar surya pagi itu lagi pas ya :)

  11. inibudijepang
    11:10 am on October 12th, 2011

    MANTABB…. maju trus pantang mandeg… pokoe mlaku….(menggos2 setelah selesaikan tugas yg bagiku berattt pagi ini) huft….. , sori komennya kemana2… sipppp kak, aku blm bisa meramaikan tulis menulis saat ini, terbagi.com… kangen banget bs posting2 kyk gini, smntara komen aja deh…

  12. Gilang "gendon" Adikara
    11:20 am on October 12th, 2011

    gotong royongnya aja udah budaya! apalagi lainnya. hehehe

  13. ainunnimatu
    10:20 am on October 13th, 2011

    setuju banget, jangankan ber450 beswan seluruh indonesia. Saya yang di beswan Malang aja udah berasa punya teman dari sabang-merauke, beswan emang the best!

  14. tristyantoprabowo
    12:56 am on October 14th, 2011

    inibudijepang :

    MANTABB…. maju trus pantang mandeg… pokoe mlaku….(menggos2 setelah selesaikan tugas yg bagiku berattt pagi ini) huft….. , sori komennya kemana2… sipppp kak, aku blm bisa meramaikan tulis menulis saat ini, terbagi.com… kangen banget bs posting2 kyk gini, smntara komen aja deh…

    makasih udah mampir kak…. wah iya ya lagi sibuk2nya ya kak…… padahal aku nunggu tulisan kak budi juga nich..

  15. tristyantoprabowo
    1:06 am on October 14th, 2011

    Gilang “gendon” Adikara :

    gotong royongnya aja udah budaya! apalagi lainnya. hehehe

    iya gilang gotong royong, itu yg diajarkan kpda kita lewat pelajaran Kewarganegaraan (duu PPKN) sejak kita SD nmun faktanya mulai jarang bahn langka sbg contoh kecil aja warga perumahan skrg lbih memilih mempekerjakan tukang untuk mempersihkan kompleks daripada gotong royong untuk kerja bakti

  16. tristyantoprabowo
    1:56 am on October 14th, 2011

    ainunnimatu :

    setuju banget, jangankan ber450 beswan seluruh indonesia. Saya yang di beswan Malang aja udah berasa punya teman dari sabang-merauke, beswan emang the best!

    Iya ainun, Beswan Djarum secara juga menjembatani mahasiswa (pemuda) dari berbagai suku di negeri ini untuk saling mengenali budaya masing2 dan membangun kesepahaman sehingga menciptakan harmony Indonesia (kayak tema Wawasan Kebangsaan angkatan saya hehe). Betapa indahnya… ^_^

  17. gemakusumaputri
    4:22 pm on October 14th, 2011

    beberapa hari yang lalu aku liat tempat ini di salah satu liputan di tv
    aiiih nanti kalo aku ke kudus ajakin wisata kuliner yaa mas wo
    #ehh wisata budaya juga maksudnya
    hehehe :D

  18. tristyantoprabowo
    8:46 pm on October 14th, 2011

    gemakusumaputri :

    beberapa hari yang lalu aku liat tempat ini di salah satu liputan di tv
    aiiih nanti kalo aku ke kudus ajakin wisata kuliner yaa mas wo
    #ehh wisata budaya juga maksudnya
    hehehe

    muncul di tv juga ya? kog gak ketemu reporternya ya pas kesana hehe…. iya biasanya situs2 budaya selalu menjadi perhatian media……

    wisata kuliner kudus ya hayuk…. siap nemenin ^_^ mau kuliner apa? lentog tanjung? soto kudus? jenang? hehe…..

  19. Wana Darma
    11:57 am on October 20th, 2011

    akyu juga liat liputan ini di tv.. mas yanto, ini di daerah kudus ya? kok unik yah budayanya? kapan2 saya harus liat mantenan di tempat itu, ama liat masjid asimimilasi budaya itu,,

    eniwei, itu bener asimilasi mas? kalo asimilasi luntur loh semua nilai budaya awal, mungkin akulturasi saja mas, tak sampai asimilasi budaya di tempat itu.. hehe sori sotoy

  20. tristyantoprabowo
    12:39 pm on October 20th, 2011

    Wana Darma :

    akyu juga liat liputan ini di tv.. mas yanto, ini di daerah kudus ya? kok unik yah budayanya? kapan2 saya harus liat mantenan di tempat itu, ama liat masjid asimimilasi budaya itu,,
    eniwei, itu bener asimilasi mas? kalo asimilasi luntur loh semua nilai budaya awal, mungkin akulturasi saja mas, tak sampai asimilasi budaya di tempat itu.. hehe sori sotoy

    Iya Wana itu di daerah Kudus, iy akapan2 main kesini ya.. hehe…..

    Oh ya makasi koreksinya ya Wana, setelah sy abaca-baca lagi bener yang dikatan Wana. Berikut ini penjelasan yang saya dapat dari salah satu makalah :
    Akkulturasi (acculturation atau culture contact) adalah proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri. Secara singkat, akulturasi adalah bersatunya dua kebudayaan atau lebih sehingga membentuk kebudayaan baru tanpa menghilangkan unsur kebudayaan asli.

    Sedangkan Asimilasi atau assimilation adalah proses sosial yang timbul bila ada golongan- golongan manusia dengan latar belakangan kebudayaan yang berbeda-beda yang saling bergaul langsung secara intensif untuk waktu yang lama, sehingga kebudayaan-kebudayaan golongan-golongan tadi masing-masing berubah sifatnya yang khas, dan unsur-unsurnya masing-masing berubah menjadi unsur-unsur kebudayaan campuran. Secara singkat, asimilasi adalah bercampurnya dua kebudayaan atau lebih sehingga membentuk kebudayaan baru.

    Mksh buat masukkan yang membangun, I like it d(^_^)b

  21. Wana Darma
    11:33 am on October 21st, 2011

    tristyantoprabowo :

    Wana Darma :
    akyu juga liat liputan ini di tv.. mas yanto, ini di daerah kudus ya? kok unik yah budayanya? kapan2 saya harus liat mantenan di tempat itu, ama liat masjid asimimilasi budaya itu,,
    eniwei, itu bener asimilasi mas? kalo asimilasi luntur loh semua nilai budaya awal, mungkin akulturasi saja mas, tak sampai asimilasi budaya di tempat itu.. hehe sori sotoy

    Iya Wana itu di daerah Kudus, iy akapan2 main kesini ya.. hehe…..
    Oh ya makasi koreksinya ya Wana, setelah sy abaca-baca lagi bener yang dikatan Wana. Berikut ini penjelasan yang saya dapat dari salah satu makalah :
    Akkulturasi (acculturation atau culture contact) adalah proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri. Secara singkat, akulturasi adalah bersatunya dua kebudayaan atau lebih sehingga membentuk kebudayaan baru tanpa menghilangkan unsur kebudayaan asli.
    Sedangkan Asimilasi atau assimilation adalah proses sosial yang timbul bila ada golongan- golongan manusia dengan latar belakangan kebudayaan yang berbeda-beda yang saling bergaul langsung secara intensif untuk waktu yang lama, sehingga kebudayaan-kebudayaan golongan-golongan tadi masing-masing berubah sifatnya yang khas, dan unsur-unsurnya masing-masing berubah menjadi unsur-unsur kebudayaan campuran. Secara singkat, asimilasi adalah bercampurnya dua kebudayaan atau lebih sehingga membentuk kebudayaan baru.
    Mksh buat masukkan yang membangun, I like it d(^_^)b

    ehehe nice :D

  22. yunitasiti
    11:20 am on October 26th, 2011

    Waa… cerita budaya yang unik, budaya gotong royong emang sangat menarik:). Sayangnya budaya ini kalo di kota sudah jarang. Orang kalau bangun masjid bulan lagi gotong royong, tapi malah menggunakan jasa kontraktor, alias semuanya dinilai dengan uang. Budaya ikhlas membantu yang ada di gotong royong itu seakan tak ada artinya sekarang. Cukup miris ya..huhu

  23. tristyantoprabowo
    12:33 am on October 27th, 2011

    yunitasiti :

    Waa… cerita budaya yang unik, budaya gotong royong emang sangat menarik:). Sayangnya budaya ini kalo di kota sudah jarang. Orang kalau bangun masjid bulan lagi gotong royong, tapi malah menggunakan jasa kontraktor, alias semuanya dinilai dengan uang. Budaya ikhlas membantu yang ada di gotong royong itu seakan tak ada artinya sekarang. Cukup miris ya..huhu

    halo Yuniat Siti, makasih sudah mau mampir
    iya bener banget sekarang segala sesuatu udah dinilai dengan materiil (uang seperti kata Jessica J dg lagunya “Price Tah” hehe..) yg notabene melunturkan budaya bantu-membantu alias gotong royong padahal dengan gotong royong bisa saling meringankan.

  24. Alfonsus D. Johannes
    11:17 pm on October 30th, 2011

    wahh.. iya mas..

    pas factory visit di kudus inget banget tuhhh..

    banyak bangunan muslim yang arsitekturnya bernuansa bali. mantap :D

    setujua mas, budaya-budaya pemikiran bijak yang tak bisa dilihat mata juga patut dilestarikan dan diwariskan :)

    menurutku budaya berakluturasi itu juga harus kembali dibudayakan, mengingat sekarang orang sering sekali terpancing isu2 karena perbedaan…

    padahal nenek moyang dulu bisa berakulturasi dengan indah :)

  25. tristyantoprabowo
    2:07 am on November 1st, 2011

    Alfonsus D. Johannes :

    wahh.. iya mas..
    pas factory visit di kudus inget banget tuhhh..
    banyak bangunan muslim yang arsitekturnya bernuansa bali. mantap
    setujua mas, budaya-budaya pemikiran bijak yang tak bisa dilihat mata juga patut dilestarikan dan diwariskan
    menurutku budaya berakluturasi itu juga harus kembali dibudayakan, mengingat sekarang orang sering sekali terpancing isu2 karena perbedaan…
    padahal nenek moyang dulu bisa berakulturasi dengan indah

    iya Acil ada beberapa bangunan akulturasi di Kudus

    setuju banget sama pendapat Acil kalau budaya akulturasi itu memang menunjukkan betapa harmonis kehidupan para pendahulu kita meski bbanyak perbedaan, ironisnya di zaman sekarang malah sebaliknya perbedaan dijadikan alasan terpecah belah…. mksh ya udah mampir dan ikut urun rembug budaya :)

Before you post, please prove you are sentient.

what is 4 in addition to 5?