Tristyan's Story

Through Story Sharing My Thought

I\m Sorry Good Bye!

Ada kebanggaan tersendiri saat kita mengenakan pakaian batik. Padahal, dahulu batik dipandang kuno dan identik dengan pakaian orang sepuh (baca: tua, red), kini remaja hingga mahasiswa malahan menggandrunginya dan kerap memakainya di berbagai kesempatan. Apalagi batik kini telah merambah fashion dunia dengan berbagai model modifikasinya. Sebagian orang mungkin merasa bangga mengenakan batik karena harganya yang selangit. Alangkah lebih luar biasa lagi menurut  saya jika seseorang bangga mengenakan batik karena ia tahu bahwa batik itu bukan sekadar warisan budaya yang sudah diakui dunia. Lebih dari itu memakai batik berarti menghargai nilai-nilai yang ada dibalik motif-motif yang tertoreh lekat di sehelai kain itu.

Melestarikan batik bukan sekadar mengumbar kebanggaan saat mengenakannya ketika batik itu sudah menjuntai indah dan terijahit rapi sebagai pembungkus badan . Melestarikan batik mengandung konsekuensi memaknai kerja keras di balik keindahan kerajinan buatan tangan tersebut. Batik tidak akan hidup tanpa ada orang-orang luar biasa yang dengan tekad, kesabaran dan ketelatenan untuk terus memproduksinya.

Adalah Fatkurahman, salah satu perajin batik khas Kudus yang berusaha menyambung torehan canting yang sempat mengering. Sejak zaman penjajahan hingga akhir tahun 70-an batik Kudus sangat populer dan menjadi salah satu icon batik di pesisir utara pulau Jawa. Hingga tahun 80-an sampai 2007, batik Kudus sempat tenggelam dan vakum. Menurut Fatkurahman, vakumnya produksi batik Kudus karena berbagai kendala. Beberapa diantaranya adalah karena harga kain dan bahan baku lain yang menjulang. “Konsekuensi seorang perajin batik itu harus siap berkotor-kotor, karena memang proses produksinya melibatkan berbagai bahan seperti pewarna tekstil, lilin, dan berbagai bahan kimia, makanya pasca tahun 70-an banyak perajin batik Kudus yang meninggalkan usaha turun-temurunnya dan memilih untuk berdagang atau menjadi pegawai saja karena tidak mau lagi berurusan dengan kotor dan berbagai kesulitannya,” imbuh pria paruh baya tersebut. In short, budaya pragmatis mengambil alih dan mengancam eksistensi budaya kita sendiri, batik.


Kembalinya Batik Kudus

Tahun 2007 Hj. Rina Tamzil, isteri Bupati Kudus saat itu mengupayakan diproduksinya lagi batik khas Kudus melalui berbagai pelatihan dengan mendatangkan seorang perajin batik yang tersisa. Fatkurahman sendiri mulai mencoba memproduksi batik Kudus pada pertengahan tahun 2008. Rupanya bukan persoalan mudah untuk menghidupkan kembali batik Kudus. “Saya harus ngangsu kaweruh (menimbal ilmu) ke berbagai kota seperti Semarang, Jogja, Cirebon, dan Pekalongan untuk bisa mewujudkan mimpi kami menghidupkan batik Kudus,” tutur Fatkurahman yang mengembangkan batik Kudus bersama sang isteri tersebut.

I\m Sorry Good Bye!

Fatkurhaman memperlihatkan batik hasil produksinya

Memproduksi kembali batik Kudus yang sempat hilang tak hanya membutuhkan pengorbanan waktu, biaya dan menuntut kesabaran. Ia dan beberapa perajin lain juga harus melakukan berbagai riset dan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya untuk merekonstruksi berbagai motif klasik batik Kudus. Terkadang Fatkurahan dan isteri mendapatkan referensi motif batik khas Kudus lewat buku. Lewat gambar batik seukuran buku ia berusaha merekonstruksi motif-motif batik warisan nenek moyang. Bukan perkara mudah memang untuk mendapatkan koleksi batik tempo dulu yang asli.

Sentuhan Kekinian Batik Kudus

Saya sungguh mengapresiasi perjuangan Fatkhurahman bersama pengrajin yang lain untuk menorehkan kembali canting-canting berisi lilin panas yng selama ini mengering. Diluar kacamata sebagai sebuah bisnis, usaha yang digeluti Fatkhurahman bisa dipandang sebagai sebuah kecintaan dan apresiasi terhadap budaya, meskipun usaha tersebut tergolong miskin peminat. Dalam artian, jarang pengusaha yang menekuninya karena kerumitan proses, tingkat kesulitan dan berbagai kendala lain.

I\m Sorry Good Bye!

Bernagai contoh motif batik Kudus kontemporer

Akan tetapi Fatkurahman bersama isteri berhasil survive, mereka bahkan tidak hanya berhasil melestarikan beberapa motif-motif batik klasik seperti kapal kandas, tri busono, romo kembang, beras kecer, dsb. Malahan ia mampu mengembangkan batik Kudus dengan berbagai kreasi motif kontemporer yang terinspirasi dari kekhasan kota Kudus seperti yang tertuang dalam motif kretek, parang cengkeh, liris gendhing (genting khas Kudus), tari kretek (tarian buruh pembuat rokok), parijoto (buah khas Colo), merak katela, lentog tanjung (makanan khas kudus), buketan beras kecer dan masih banyak lagi. Beberapa motif tersebut telah didaftarkan hak patennya ke HAKI.

Orang-Orang Pilihan Penoreh Canting

Untuk menghasilkan sehelai kain batik memerlukan proses panjang, dari menggambar motif (molani), mencanting, pewarnaan yang dilakukan berulang sesuai jumlah warna yang diinginkan sampai nglorot (melepas lilin dari kain) memerlukan waktu paling cepat dua bulan untuk sehelai kain batik tulis nan cantik. Tidak sembarangan orang bisa melakukan pekerjaan ini. “Dari 20an orang yang kami latih membatik, paling banyak hanya 3 orang yang bisa menekuninya sebab membatik itu benar-benar memerlukan kecintaan dan jiwa seni yang tinggi, disamping kesabaran ekstra,” tutur Ummi, isteri Fatkurahman. Jika sobat adalah satu dari penoreh canting, dapat dipastikan sobat adalah orang yang terpilih. Sebab saya mengamati secara langsung bagaimana jari-jemari yang memegang cantng menari-nari di atas selembar kain untuk melukis motif dengan berbagai kesulitannya.

 I\m Sorry Good Bye!

Membuat pola motif batik

I\m Sorry Good Bye!

Mencanting

I\m Sorry Good Bye!

Batik cap

I\m Sorry Good Bye!

Pewarnaan

Mili demi mili lekukan motif yang indah ditorehkan ke atas katun polos hingga lelehan lilin memenuh permukaan kain dan mengering. Pekerjaan tersebut dilakukan dengan telaten dan teliti. Ada ilmu yang kita ambil dari proses pembuatan batik yaitu pentingnya sebuah proses, ketelitian, ketelatenan, kesabaran, pantang menyerah dan manajemen emosi. Benar sekali manajemen emosi. Itu yang terpenting, saat membatik seorang pembatik benar-benar perlu menata hati dan pikiran agar batik yang dibuatnya sempurna. Jika salah sedikit saja, maka mengulang dari awal adalah konsekuensinya. Salut untk perajin batik!

Alhamdulillah kini masyarakat mulai sadar dan mengapresiasi batik sebagai salah satu kebudayaan yang patut dilestarikan. Semoga bukan hanya dimaknai sebagai simbol. Saya bangga akan batik atas bukan sekadar karena keindahan hasil akhirnya melainkan atas kerja keras yang tertuang di ataskain yang menutupi permukaan kulit saya.

Saya bukan perajin batik. Bagaimana saya melestarikan batik? Saya masih ingat ketika masih aktif sebagai Beswan Djarum Kudus bersama teman-teman yang lain sepakat mengenakan batik di berbagai kesempatan pelatihan yang diselenggarakan Djarum Beasiswa Plus, salah satunya ketika event Dear to be a Leader di Malang, Jawa Timur. Pun hingga sekarang dan di beragai kesempatan. Hal itu hanya sebagian kecil cara menghargai dan menerusan pesan berupa nilai-nilai moril batik yang coba ingin disampaikan para pendahulu kita. Saya cinta batik! Saya menghargai perajin batik! Saya melestarikan budaya!

  1. misbahul ihsan (ihsan beswan kudus)
    2:42 am on October 15th, 2011

    Wah sama Kak, dulu sewaktu acara Sialtnas, seleuruh beswan angkatanku (25) berseragam batik kak, tapi sayang bukan batik kudus.. :-)

    ditunggu kunjungannya kak..

  2. misbahul ihsan (ihsan beswan kudus)
    2:44 am on October 15th, 2011

    Wah sama Kak, dulu sewaktu acara Silatnas, seluruh beswan kudus angkatanku (25) berseragam batik kak, tapi sayang bukan batik kudus.. :-)

    ditunggu kunjungannya kak..

  3. dianratnasari
    2:57 am on October 15th, 2011

    Wah menjadi tulisan yang indah dari terjun langsung ke lokasi..
    itu ada foto saya juga..
    membatik memiliki seni tersendiri..
    batik adalah warisan nenek moyang yang harus benar-benar dijaga dan dilestarikan..
    jangan lagi batik diakui negara lain..
    saya yang ikut terjun secara langsung ke lokasi benar-benar tergugah akan semangat bapak fatkhurrohman dan istri karena diterpa rintangan dari tahun ketahun tetap berdiri pada tekadnya untuk mengembangkan batik membawa batik menjaga batik..
    inovasi dari pengembangan motif yang sepertinya sepel ternyata mampu menjadi karya seni yamg indah..
    seperti motif tari kretek, saya sangat tidak menyangka kalau tari tersebut bisa menjadi motif batik..
    LUAR BIASA Kak..
    :-)

  4. inibudijepang
    6:25 am on October 15th, 2011

    barangkali kita juga harus berterima kasih kpd malaysia, why? karena sikap mereka yang suka main klaim kita jadi sadar dan ngerti pentingnya mengapresiasi warisan budaya (meski blm bisa sepenuhnya). kekayaan budaya indonesia tak diragukan lagi oleh dunia, tinggal mampukah kita menjaganya sbg pewaris sah budaya tersebut? smg bisa! nice kak…. apik2 pothone, ada 1 foto yg lbh bagus kalo tanpa “artist”nya….kikikkk, sundul….(becanda…piss….)

  5. tristyantoprabowo
    9:27 am on October 15th, 2011

    misbahul ihsan (ihsan beswan kudus) :

    Wah sama Kak, dulu sewaktu acara Silatnas, seluruh beswan kudus angkatanku (25) berseragam batik kak, tapi sayang bukan batik kudus..
    ditunggu kunjungannya kak..

    Iya ichan karena batik khas Kudus jumlahnya masih terbatas, semoga semakin banyak pengrajin batik di Kudus yang mengembangkannya sehingga nama batik Kudus lebali berkibar )

    Ok siap meuncur ke TKP

  6. tristyantoprabowo
    9:31 am on October 15th, 2011

    dianratnasari :

    Wah menjadi tulisan yang indah dari terjun langsung ke lokasi..
    itu ada foto saya juga..
    membatik memiliki seni tersendiri..
    batik adalah warisan nenek moyang yang harus benar-benar dijaga dan dilestarikan..
    jangan lagi batik diakui negara lain..
    saya yang ikut terjun secara langsung ke lokasi benar-benar tergugah akan semangat bapak fatkhurrohman dan istri karena diterpa rintangan dari tahun ketahun tetap berdiri pada tekadnya untuk mengembangkan batik membawa batik menjaga batik..
    inovasi dari pengembangan motif yang sepertinya sepel ternyata mampu menjadi karya seni yamg indah..
    seperti motif tari kretek, saya sangat tidak menyangka kalau tari tersebut bisa menjadi motif batik..
    LUAR BIASA Kak..

    Thanks to Dian as rekan seperjuangan seama liputan kesana-kemari mencari alamat…..ups mencari bahan buat tulisan maksudnya hehe…. iya kak, perajin seperti Pak Fatkurahman bukan hanya ulet tapi kreatif, terpikir dalam benak untuk mencoba membuat desain batik sendiri sesuai keinginan hehe… Thanks udah mampir ya :)

  7. tristyantoprabowo
    9:38 am on October 15th, 2011

    inibudijepang :

    barangkali kita juga harus berterima kasih kpd malaysia, why? karena sikap mereka yang suka main klaim kita jadi sadar dan ngerti pentingnya mengapresiasi warisan budaya (meski blm bisa sepenuhnya). kekayaan budaya indonesia tak diragukan lagi oleh dunia, tinggal mampukah kita menjaganya sbg pewaris sah budaya tersebut? smg bisa! nice kak…. apik2 pothone, ada 1 foto yg lbh bagus kalo tanpa “artist”nya….kikikkk, sundul….(becanda…piss….)

    sepakat kak budi jangan sampai seperti yang disampaikan Bang Haji Rhoma, “Kalau sudah tiada baru terasa, bahwa kehadirannya sungguh berharga….” #dangduters bgt
    hehe…. :D Thank you udah mampir

  8. Acil
    6:50 pm on October 15th, 2011

    wah.. seru juga yaa.. :)

    bangga juga masih banyak yang melestarikan batik.. :)

    dulu juga pernah mencoba membatik waktu KKN, sudah pernah ditulis di blog beswan juga :)

  9. tristyantoprabowo
    10:25 pm on October 15th, 2011

    Acil :

    wah.. seru juga yaa..
    bangga juga masih banyak yang melestarikan batik..
    dulu juga pernah mencoba membatik waktu KKN, sudah pernah ditulis di blog beswan juga

    bangga dunk dengan orang2 luar biasa yang mau melestarikan batik dengan kerja keras mereka….

    siap mampir ke postiingan Acil tentang batik juga… :)

  10. arnis.silvia
    12:09 am on October 16th, 2011

    Yang membuat industri batik tulis dan cap negeri ini semakin lesu adalah serangan batik motif serupa yang dari cina dengan harga per meter yang jauuh lebih murah.. saya pernah ditawari, kainnya kain tisu dan kain katun, harganya cuma 12rb per meter, ada juga yang 8rb. Saya lihat tepian kainnya, eh, made in China. Ini nih yang bikin industri batik dalam negeri lesu.

  11. tristyantoprabowo
    12:39 am on October 16th, 2011

    arnis.silvia :

    Yang membuat industri batik tulis dan cap negeri ini semakin lesu adalah serangan batik motif serupa yang dari cina dengan harga per meter yang jauuh lebih murah.. saya pernah ditawari, kainnya kain tisu dan kain katun, harganya cuma 12rb per meter, ada juga yang 8rb. Saya lihat tepian kainnya, eh, made in China. Ini nih yang bikin industri batik dalam negeri lesu.

    Iya mbak Arnis itu batik print produksi China memng banyak menyerbu pasar Indonesia, tapi secara kualitas bisa dibedakan dengan mudah mana yang batik tulis asli dan kualitas itu yang tidak bisa didapati dari batik print China yg justru membuat saya optimis batik Indoneia tetap bertahan karena memiliki nilai spesial, asli buatan tangan. Kalau bicara soal persaingan harga perajin batik lokal tak akalah akal yairu dengan memproduksi batik cap yang relatif lebih murah dan paling banyak peminatnya. Dari batik cap yg proses produksinya lbh cepat itu juga perajin mengaku mampu tetap survive. Mksh udah mampir ya :)

  12. nurulikhsan
    7:30 am on October 16th, 2011

    Membaca tulisan mas Bowo ini saya tertarik untuk mendalami lebih lanjut perihal batik di Nusantara. Setidaknya setiap daerah memiliki motif tersediri dengan kota-kota lain yang juga konsen di bidang perbatikan. Sepengetahuan mas Bowo, dimana titik menonjol yang membedakan antara batik Kudus dengan batik produksi lain, salah satunya, bedanya dengan Yogyakarta. Nice post. Salam budaya! :D

    Ini sajian terbaru di blog saya:

  13. nurulikhsan
    7:36 am on October 16th, 2011

    Salam budaya Indonesia. Semoga batik ini akan terus terjaga. Oya, Komentar di atas paragraf kedua punya saya tidak nyambung, silakan dihabus saja mas Bowo.

  14. tristyantoprabowo
    9:59 pm on October 16th, 2011

    nurulikhsan :

    Membaca tulisan mas Bowo ini saya tertarik untuk mendalami lebih lanjut perihal batik di Nusantara. Setidaknya setiap daerah memiliki motif tersediri dengan kota-kota lain yang juga konsen di bidang perbatikan. Sepengetahuan mas Bowo, dimana titik menonjol yang membedakan antara batik Kudus dengan batik produksi lain, salah satunya, bedanya dengan Yogyakarta. Nice post. Salam budaya!
    Ini sajian terbaru di blog saya:

    Yups, bener sekali Ikhsan, setiap daerah memiliki ciri batik tersendiri termasuk batik Kudus. Sepanjang yang saya ketahui, beda batik Kudus dengan batik daerah lain itu adalah dari warnanya yang lebih bervariasi dan cerah (warna-warni) khas batik pesisir, ada juga motif khas batik klasik Kudus yakni motif beras kecer/beras utah (beras tumpah) yg dilukis satu persatu mengisi sebagian area kain yg dibatik. Ini sangat menuntut kesabarn dan ketelitian sekali Ikhsan.

    Makasih sudah mampir :)

    siap ke TKP

  15. tristyantoprabowo
    10:03 pm on October 16th, 2011

    nurulikhsan :

    Salam budaya Indonesia. Semoga batik ini akan terus terjaga. Oya, Komentar di atas paragraf kedua punya saya tidak nyambung, silakan dihabus saja mas Bowo.

    Salam Budaya Ikhsan!
    iya sudah saya edit ya, ok.

  16. seprisubarkah
    1:32 pm on October 22nd, 2011

    mangstab mas wo, langsung terjun ke lapangan sm dian :D
    nasib batik besurek bengkulu hampir sama, sedikit demi sedikit tergerus kemalasan -_-

  17. satria
    9:17 pm on October 25th, 2011

    I like batikkkkk….. tambah lagi nih pengetahuan membatikk… yeahhh..

  18. tristyantoprabowo
    10:56 pm on October 25th, 2011

    seprisubarkah :

    mangstab mas wo, langsung terjun ke lapangan sm dian
    nasib batik besurek bengkulu hampir sama, sedikit demi sedikit tergerus kemalasan -_-

    makasih Sepri, dengan membeli batik dan memakainya paling tidak kita membantu pengrajin untuk terus memutar roda usaha yg notabene juga melestarikan warisan budaya Bangsa,

    Makasih udah mampir ya ^_^

  19. tristyantoprabowo
    11:09 pm on October 25th, 2011

    satria :

    I like batikkkkk….. tambah lagi nih pengetahuan membatikk… yeahhh..

    So do I, we love batik!
    alhamdulilah klo lewat tulisan ini bisa sharing sama temen2 Beswan Djarum, saya juga semakin nambah pengetahuan budayanya dari postingan temen2 lewat Kompetisi Blog Beswan Djarum 2011 yg bertema “Budaya Indonesia” ini.

    Thank you udah dolan ya :)

Before you post, please prove you are sentient.

What do bees make?