Tristyan's Story

Through Story Sharing My Thought

I\m Sorry Good Bye!

Pernah lihat Tongkonan? Rumah Gadang ? atau mungkin Honai? Mungkin ketiganya sudah familier. Kalau pun belum pernah melihat secara langsung paling tidak sobat pasti sudah pernah lihat gambarnya di atlas waktu pelajaran IPS di bangku sekolah kan? Itu hanya sebagian kecil dari rumah adat yang ada di beberapa daerah di Indonesia semua orang tahu itu hehe….

Tak mau kalah dengan daerah lain, di kota tempat saya bersemayam (macam penunggu pohon asem aja hihi…) juga ada rumah adat yang terkenal karena keindahan ukirannya. Apreasiasi masyarakat akan rumah adat Kudus pun terlihat semakin tinggi. Bahkan sejumlah artis ternama menghiasi rumahnya dengan ornamen rumah adat khas Kudus yang biasa disebut gebyok itu, sebut saja Alex Komang dan Ebiet G.A.D.

Beberapa minggu yang lalu saya mengunjungi museum kretek dimana salah satu rumah adat Kudus asli peninggalan masa lalu berada. Menatap bangunan kayu nan anggun itu saya merenung, sudah hampir 24 tahun saya menginjakkan kaki di bumi Kudus, kota kelahiran saya. Namun baru kurang lebih setahun silam saya tahu makna yang terkandung dari setiap jengkal ukiran yang menghiasi rumah yang terbuat 95 persen dari kayu itu. Sebagai mahasiswa ketika itu saya merasa bersalah karena kurang menghargai budaya lokal yang diwariskan nenek moyang saya.

Apalagi sebagai Beswan Djarum yang sudah mendapatkan berbagai pelatihan yang diberikan oleh Djarum Beasiswa Plus dan memiliki jaringan para Beswan Djarum seantero Nusantara saya merasa berkewajiban untuk memperkenalkan budaya yang ada di kampung halaman saya. Kok gak nyambung ya hehe….. Anyhow thanks for Djarum BeasiswaPlus yang membuat saya lebih peka terhadap berbagai persoalan termasuk dalam hal kesadaran menghargai budaya. Juga untuk mata kuliah Speech yang merupakan awal bagi saya mencari informasi lebih jauh mengenai salah satu warisan budaya asli Kudus tersebut, saat dosen pengampu meminta kami menjadi guide untuk bangunan Menara Kudus dan rumah adat saat itu.

I\m Sorry Good Bye!

Rumah Adat Kudus yang terletak di sebelah utara area Museum Kretek

Usia rumah adat asli peninggalan para pendahulu tersebut bisa mencapai puluhan hingga ratusan tahun. Daya tahan bangunan kayu tersebut ditopang oleh kuatnya serat-serat kayu jati yang sudah tidak perlu dipertanyakan kemenangannya melawan waktu (keawetannya, red).

Keunikan rumah ada Kudus juga terdapat pada teknik pembangunannya yang tanpa memakai paku (knock down). Menurut informasi dari beberapa artikel yang saya peroleh dari Yayasan Menara Kudus, bangunan rumah adat Kudus dipengaruhi oleh pengaruh berbagai budaya yang lama singgah dan sempat mempengaruhi arsitektur berbagai bangunan termasuk rumah adat. Pengaruh yang tergambar dari ukiran-kiran yang tampak pada berbagai sisi bangunan itu merupakan pengaruh dari seni ukiran Hindu, Cina, Eropa, dan Persia / Islam.

I\m Sorry Good Bye!

Ukiran motif bung adan tumbuuhan pengaruh budaya Persia yang dibawa para pedagang.

Bentuk ukiran dan motif ragam yang menghiasi rumah unik ini, diantaranya adalah pola kala dan gajah penunggu, rangkaian bunga melati (sekar rinonce), motif ular naga, buah nanas (sarang lebah), motif burung phoenix, dan masih banyak lagi yang masing-masing memiliki arti tersendiri. Ukiran buah nanas yang terpasang terbalik misalnya, merupakan salah satu simbol unik yang meniru filosofi hidup lebah, yakni bisa hinggap di mana saja tanpa merusak bunga yang dihinggapi, bahkan saling menguntungkan, bunga terbantu penyerbukannya dan lebah memperoleh madu. Sementara rangkaian bunga melati dalam ukiran gebyok sebagai simbol akhlak yang baik dan kesucian hati.

I\m Sorry Good Bye!

Ukiran motif nanas/ sarang tawon.

Menurut Moedjijono WZ, 1985 : 3-25 (dalam Ir. Aunurrofieq AD. MT.), arsitektur Jawa adalah arsitektur yang lahir, tumbuh, berkembang, didukung dan digunakan oleh masyarakat Jawa. Arsitektur Jawa lahir dan hidup karena ada masyarakat Jawa. Arsitektur Jawa sendiri memegang nilai fungsi dan filosofi Ayu, Ayem, Ayom. Ayu mengandung makna estetis, simbolis, kaya, atau jati diri. Ayom berarti teduh, rindang, terlindung dari kekuatan metafisik. Sementara Ayem bermakna kesejahteraan, keamanan, dan keselarasan. Terang filosofi tersebut merupakan harapan yang ingin diperoleh oleh masyarakat Kudus dari tempat bernaung dari terik dan hujan tersebut.

Secara umum rumah adat Kudus terdiri dari beberapa bagian diantaranya :

1. Jogosatru’ berfungsi sebagai serambi, atau ‘Pringitan’. Sekarang lebih banyak difungsikan sebagai ruang tamu. Terdapat soko geder/ tiang tunggal sebagai simbol bahwa Tuhan itu Esa dan penghuni rumah harus senantiasa beriman dan bertakwa kepada-Nya.

2. Ruang ‘Dalem’ disebut juga ‘omah jero’ berfungsi sebagai tempat tidur, tempat menyimpan barang berharga, dimana terdapat kamar yang di sebut juga ‘sentong’ dengan yang terdiri dari :

a. sentong kiwo’ (kiri)

b. sentong tengen’ (kanan)

c. sentong tengah’ atau ‘gedongan’.

Di dalam ruang dalem ini terdapat 4 buah soko guru./ tiang sebagai penyangga utama bangunan rumah melambangkan agar penghuni rumah menyangga kehidupannya sehari-hari dengan mengendalikan 4 sifat manusia : amarah, lawamah, shofiyah, dan mutmainnah.

3. Ruang ‘Pawon’ atau ‘gandok’ (rumah Kota Gede), berfungsi sebagai ruang makan, ruang kerja, ruang saji dapur kering untuk menyimpan makanan, dan atau dapur basah. Juga berfungsi sebagai tempat gudang serta berfungsi ruang keluarga.

4. Ruang dapur sering ditaruh di samping ruang ‘gandok/pawon’ yang merupakan tambahan ruang ke samping, namun ada juga penempatan dapur di luar rumah induk yaitu di depan rumah, letaknya depan ‘gandok’, di samping kamar mandi, atau dibelakang rumah induk, dibelakang ‘pawon

5. Pakiwan/ kamar mandi selalu terletak didepan rumah, di sebelah sudut kanan atau kiri.

6. Ruang tambahan di depan rumah sering di tambah ruang kerja posisi letaknya merapat pinggir kapling depan rumah, di depan MCK jadi berhadap-hadapan dengan rumah induk. Ruang tambahan ini biasanya di sebut ‘kantoran’. Juga berfungsi sebagai tempat tidur tambahan.

I\m Sorry Good Bye!

Jogosatru, dengan satu tiang penyangga yang menyimbolkan ke-Esaan Tuhan

I\m Sorry Good Bye!

Sentong Tengah’ atau ‘Gedongan

I\m Sorry Good Bye!

‘Pawon’ atau ‘gandok’ (rumah Kota Gede), berfungsi sebagai ruang makan, ruang kerja.

Kekhasan rumah adat Kudus juga terletak dari tatacara perawatannya yang dilakukan dengan cara tradisional dan turun-temurun. Bahan yang digunakan untuk perawatan merupakan ramuan yang diperoleh berdasarkan pengalaman empiris pemiliknya, yaitu ramuan APT (Air pelepah pohon Pisang dan Tembakau) dan ARC (Air Rendaman Cengkeh). Selain terbukti efisien dan efektif mampu mengawetkan kayu jati dari serangan rayap (termite) dan membersihkan, ramuan ini juga ramah lingkungan.

Keindahan dan keanggunan bangunan rumah adat Kudus bukkan semata menonjolkan kesejahteraan penghuninya. Lebih dari itu setiap bagiannya, baik itu berupa motif ukiran, bentuk dan penempatan bagian rumah adat Kudus mengandung pesan-pesan luhur berupa nilai yang disampaikan sebagai pengingat oleh nenek moyang kita untuk diteruskan dan dilestarikan dari generasi ke generasi. It’s really awesome!

I\m Sorry Good Bye!

Lampu Katrol dan berbagai ornamen rumah adat Kudus

  1. arnis.silvia
    1:13 pm on October 20th, 2011

    Pak wo, judulnya kurang tepat kayaknya. Massage itu pijet loh.. hehe. harusnya message kayaknya.

    Potonya tambah mantep iki. Mak jos.

    Mbahku sampe sekarang menyebut kamar dengan sebutan “sentong”, dan dapur sebagai “pawon”..

    Terima kasih sudah berbagi ^^

    Ingat untuk kunjungi balik di

  2. tristyantoprabowo
    6:52 pm on October 20th, 2011

    arnis.silvia :

    Pak wo, judulnya kurang tepat kayaknya. Massage itu pijet loh.. hehe. harusnya message kayaknya.
    Potonya tambah mantep iki. Mak jos.
    Mbahku sampe sekarang menyebut kamar dengan sebutan “sentong”, dan dapur sebagai “pawon”..
    Terima kasih sudah berbagi ^^
    Ingat untuk kunjungi balik di

    Hihihi….jadi malu….. iya mistyped suka salah ngetik “message” dengan kata “massage” beda satu huruf aja artinya udah jauh, maaf ya ngetiknya sambil ngantuk #ngeles

    seneng banget kalo ada pembaca blog yang perhatian n’ suka ngingetin kalo ada yg salah, I really appreciate it mksh..mksh…..d(^_^)b

    oh ya di Jember istilahnya sama ya? sentong sama pawon? saya pikir di Jawa Tengah saja, jadi tahu lewat sharing budaya seperti ini, alhamdulilh klo fotonya dibilang bagus, padahal cuma modal camdig murah beli second dari temen hehe….

    siap meluncur ke blog-nya bu Arnis :)

  3. dianratnasari
    8:04 pm on October 20th, 2011

    Wah Kak Bowo menjadi tulisan yang indah ya..
    Detail banget, saya mau menulis ini tapi jujur saja, saya gak paham detail maksud-maksud yang tergandung dalam tiap bentuk dan ukiran dalam rumah tersebut.
    Bener kata mbak arnis, fotonya bagus Kak.
    Oh iya soal rumah adat Kudus ini sendiri,sekarang sdah jarang.Semoga yang terletak di museum kretek itu bukan menjadi satu2nya di Kudus. AMin.

  4. tristyantoprabowo
    9:35 pm on October 20th, 2011

    dianratnasari :

    Wah Kak Bowo menjadi tulisan yang indah ya..
    Detail banget, saya mau menulis ini tapi jujur saja, saya gak paham detail maksud-maksud yang tergandung dalam tiap bentuk dan ukiran dalam rumah tersebut.
    Bener kata mbak arnis, fotonya bagus Kak.
    Oh iya soal rumah adat Kudus ini sendiri,sekarang sdah jarang.Semoga yang terletak di museum kretek itu bukan menjadi satu2nya di Kudus. AMin.

    tulisannya asih banyak kekurangan disana sini koq Dian, hehe…. iya kebetulan waktu masih kuliah semster 7 dulu saya berkesempatan mendapat informasi dan data tentang rumah adat Kudus dari pengurus Yayasan Menara Kudus. Sempat lupa, akhirnya kmrn cari2 lagi dari temen… Semoga rumah adat Kudus tidak punah ya dan usaha ukir gebyok semakin berkembang, Omnya Dian salah satu pengusaha uir gebyok juga kan :) . Thanks for comment ya

  5. nurulikhsan
    12:49 am on October 21st, 2011

    Sekadar sharing untuk tulisan mas Bowo, kata bersemayam di pragraf kedua, kelihatan kurang enak dirasa, mending menggunakan kata yang normal saja seperti “tempat saya tinggal”. Iyah itu hanya sekadar saran semoga bermanfaat. :-)
    Tulisan ini bisa dibilang lumayan bagus. Saya ucapkan terimakasih kepada mas Bowo karena telah mengenalkan kepada saya secara pribadi tentang bangunan yang sarat seni budaya ini. Luar biasa mas Bowo sudah meluangkan waktu untuk menuliskan seputar bangunan kayu klasik ini secara langsung dari Museum Kretek.
    Menurut mas Bowo, seni-budaya itu terletak pada barang ukiran di atas itu atau pada pemaknaan seseorang terhadap kayu mati tersebut? :-)

  6. tristyantoprabowo
    1:06 am on October 21st, 2011

    nurulikhsan :

    Sekadar sharing untuk tulisan mas Bowo, kata bersemayam di pragraf kedua, kelihatan kurang enak dirasa, mending menggunakan kata yang normal saja seperti “tempat saya tinggal”. Iyah itu hanya sekadar saran semoga bermanfaat.
    Tulisan ini bisa dibilang lumayan bagus. Saya ucapkan terimakasih kepada mas Bowo karena telah mengenalkan kepada saya secara pribadi tentang bangunan yang sarat seni budaya ini. Luar biasa mas Bowo sudah meluangkan waktu untuk menuliskan seputar bangunan kayu klasik ini secara langsung dari Museum Kretek.
    Menurut mas Bowo, seni-budaya itu terletak pada barang ukiran di atas itu atau pada pemaknaan seseorang terhadap kayu mati tersebut?

    that’s the way of me to share my story Ikhsan, anyhow terimakasih sarannya Ikhsan…….
    menurut saya pribadi nilai budaya bukan terletak pada bendanya atau meminjam istilah ikhsan barang ukiran atau pemaknaan benda mati, nilai-nilai itu menuut hemat saya lebih pada filosofi-filososi yg membuat benda tersebut ada yg dimanifestasikan dalam bentuk ukiran, peletakkan bagian-bagian rumah, penamaan serta berbagai hal lain yang menyangkut keberadaan rumah adat Kudus

    terimakasih sudah mampir :)

  7. arnis.silvia
    4:19 am on October 21st, 2011

    @Pak Tris: Sama pak.. Sebutannya juga sentong. Tapi ibuku sudah nyebut kamar. anak2 mudanya nyebutnya juga kamar..

    Nyambung ah, komentarnya mas nurul
    Menurut hemat saya, pemaknaan budaya ada dua: 1) secara lahir, 2) secara batin. Secara lahir, melalui bentuk fisik budaya tersebut, misal bentuk ukirannya, kita bisa mempelajari sejarah, latar belakang, keadaan sosial masyarakat waktu itu, simbolisme filosofis yang diyakini masyarakat (biasanya sesuai dengan komoditi utama di kota tersebut), serta kita bisa mempelajari sistem kemajuan teknologi seni rupa waktu itu..
    Sedangkan secara batin, kita memaknai bentuk fisik itu sebagai hasil budaya yang luhur, dan ketika kita sudah mempelajari filosofi di baliknya, maka kita bisa mendapat nilai yang bisa menginspirasi kita untuk lebih bijak hidup di masa kini ^^

  8. sepri
    11:21 am on October 21st, 2011

    wah,sesuatu bgt yah rumah tradisional kudus
    perawatannya aja pake APT dan ARC ,belom lagi filosofi nya :)

    gambarnya biki ane kebunuh bandwithny mas wo :hammer:

    nitip lapak :D

  9. Wana Darma
    11:40 am on October 21st, 2011

    om yanto, ternyata rumah adat di kudus ga beda jauh sama yang di Jogja ya :D apa emang dijawa bentuknya gitu semua ==’

  10. tristyantoprabowo
    1:34 am on October 22nd, 2011

    arnis.silvia :

    @Pak Tris: Sama pak.. Sebutannya juga sentong. Tapi ibuku sudah nyebut kamar. anak2 mudanya nyebutnya juga kamar..
    Nyambung ah, komentarnya mas nurul
    Menurut hemat saya, pemaknaan budaya ada dua: 1) secara lahir, 2) secara batin. Secara lahir, melalui bentuk fisik budaya tersebut, misal bentuk ukirannya, kita bisa mempelajari sejarah, latar belakang, keadaan sosial masyarakat waktu itu, simbolisme filosofis yang diyakini masyarakat (biasanya sesuai dengan komoditi utama di kota tersebut), serta kita bisa mempelajari sistem kemajuan teknologi seni rupa waktu itu..
    Sedangkan secara batin, kita memaknai bentuk fisik itu sebagai hasil budaya yang luhur, dan ketika kita sudah mempelajari filosofi di baliknya, maka kita bisa mendapat nilai yang bisa menginspirasi kita untuk lebih bijak hidup di masa kini ^^

    makasih Bu arnis sudah mau urun rembug budaya di blog saya, pendapat sampeyan ada benarnya namun hakikat buday aitu sendiri menurut saya terletak pad pesan-pesan yang terkandung di dalamnya entah itu dalam wujud lahir maupun batin….

    comment yang cerdas I like it :)

  11. tristyantoprabowo
    1:39 am on October 22nd, 2011

    sepri :

    wah,sesuatu bgt yah rumah tradisional kudus
    perawatannya aja pake APT dan ARC ,belom lagi filosofi nya
    gambarnya biki ane kebunuh bandwithny mas wo :hammer:
    nitip lapak

    alhamdulillah ya (ngimbangin komen Sepri yang ala Syahrini)

    iya, dalam setiap peninggalan budaya selalau ada maksud dan pesan yang jika mau pelajari dan terjemahkan pesan-pesan tersebut insyaallah kita sebagai bangsa yang besar dan memiliki keanekaragaman buday atidak akan kehilangan jati diri dan mampu mempertahankan nilai2 positif yang dirintis oleh para pendahulu kita…. makasi sudah mampir ya Sepri :) maaf klo photonya killing your bandwitch hehe… “D

  12. tristyantoprabowo
    1:52 am on October 22nd, 2011

    Wana Darma :

    om yanto, ternyata rumah adat di kudus ga beda jauh sama yang di Jogja ya apa emang dijawa bentuknya gitu semua ==’

    iya hampir sama wana soalnya masih dalam satu regional mungkin perbedaannya pada motif ukiran dan beberapa ornamennya, thank you ;)

  13. budiariyanto
    4:29 pm on October 23rd, 2011

    postingannya lengkap kak, keren… jadi lbh tau dr sebelumnya, sayang saya ndak punya bangunan rumah adat kudus, simbah juga bukan gol. ningrat, hee… jd cukup meliat dan menikmati rumah adat2 kudus milik temen2 di daerah kudus kulon menara ajah sudah cukup…

  14. tristyantoprabowo
    11:37 pm on October 23rd, 2011

    budiariyanto :

    postingannya lengkap kak, keren… jadi lbh tau dr sebelumnya, sayang saya ndak punya bangunan rumah adat kudus, simbah juga bukan gol. ningrat, hee… jd cukup meliat dan menikmati rumah adat2 kudus milik temen2 di daerah kudus kulon menara ajah sudah cukup…

    mks kak, iya semoga bangunan asli yg tersisa bisa dipertahankan keaslian dan keberadaannya :)

  15. anafitria
    1:40 pm on October 25th, 2011

    hehe.. ini rupanya yg sama.. kita mengenal budaya dari tugas :) nice post ^^
    btw, gmana dengan nilai “speech” nya?

  16. tristyantoprabowo
    10:47 pm on October 25th, 2011

    anafitria :

    hehe.. ini rupanya yg sama.. kita mengenal budaya dari tugas nice post ^^
    btw, gmana dengan nilai “speech” nya?

    iya Ana, tugas membawa berkah ilmu pengetahuan budaya, alhamdulillah ya….. alhamdulillah juga nilai speech dapet A hihihi….

  17. duct cleaning chicago
    3:47 pm on October 16th, 2012

    Nice post. I liked it very much. Thanks for sharing it.

Before you post, please prove you are sentient.

what is 3 plus 8?