Tristyan's Story

Through Story Sharing My Thought

Seberapa sering kamu liburan? Sekali setahun? Sekali dalam sebulan? Lebih sering dari itu? Kalau jawabannya tidak tentu, artinya sama dengan jawaban saya (tos dulu ah! Silakan skip buat yang punya jawaban beda :p).

Saya yakin sebagian orang tidak menempatkan agenda liburan dalam list what to do-nya. Hal ini berhubungan dengan budget. Kalaupun ditempatkan dalam list mungkin letaknya berada di runner up ke empat setelah kegiatan belanja bulanan, bayar tagihan-tagihan, bayar arisan, dan biaya untuk hewan peliharaan, or even might be worse than that.

I\m Sorry Good Bye!

Photo from : http://www.pacenet.org/tipaday/

Saya pribadi awalnya menganggap kegiatan liburan sebagai kegiatan yang tak perlu masuk ke list. Jika tiba-tiba saya berlibur itu pasti diluar rencana, anggap saja bonus misal karena dapat undangan study visit atau nemenin teman liburan. Menurutku liburan itu perlu budget, dan akan menguras kantong jika menginginkan liburan berkualitas.

Jika sobat punya pemikiran yang sama coba baca ini

“……taveling itu tidak bisa dipaksakan, sesuai kemampuan. Tidak usah gengsi jika memang tidak bisa, toh traveling tidak melulu soal destinasi, tidak melulu soal murah tapi proses menikmati traveling itu sendiri. Toh, ukuran murah pun bisa sangat bervariasi.,,,,”- Efenerr

Itu kutipan dari salah satu traveller blogger, Efenerr yang membuat saya mengangguk-anggukan kepala and that’s so true.

Kenapa kita mesti repot dengan budget dan masih menganggap liburan itu sesuatu yang ‘wah’? Kita butuh liburan guys, we need some refreshment!

I\m Sorry Good Bye!

Photo from (edited by me) : http://www.gapyear.com/

Orang-orang barat pasti memasukkan travelling dalam agenda rutinnya, mereka tidak mau melewatkan itu dan just to remind you (and me, my self) kalau tempat kita itu surganya travel spot. Saya punya air terjun yang indah di kota saya tinggal, berapa kali saya ke sana? Bisa dihitung dengan jari, what an irony!

Saya tahu tidak semua pembaca blog saya miskin travelling seperti saya, beberapa dari sobat mungkin traveller sejati and I need your advice, maka biarkan saya menyadarkan diri saya pribadi lewat tulisan ini bahwa travelling tidak melulu identik dengan expensive cost. Travelling itu kebutuhan, sama seperti handphone yang butuh di-recharge, atau sama seperti ikan-ikan di akuarium yang airnya butuh diganti dengan air baru yang lebih fresh.

Belakangan saya sadar kalau yang namanya liburan itu bukan hanya diving di Bunaken, mantengin pria Nias meloncat batu dengan mata kepala sendiri, berjemur di pantai Kuta, atau wisata ke Raja Ampat. Meski itu jadi impian semua traveller yang belum pernah ke sana.

Tapi makna liburan itu tetap bisa kita dapat meski hanya merendam kaki di sungai (yang bening  dan bebas polusi tentu) deket rumah nenek, menghirup udara gunung sambil menanam pohon, mandi di air terjun, atau rame-rame makan ikan bakar di tepi pantai deket rumah teman. Yang terpenting adalah esensinya, meski belum mampu pergi wisata ke spot-spot yang populer yang penting kita berhasil me-refresh diri kita. itu intinya liburan.

I\m Sorry Good Bye!

Di Sungai dekat Rumah Nenek, Dawe, Kudus

I\m Sorry Good Bye!

Di Air Mancur Montel, Colo, Kudus

I\m Sorry Good Bye!

Di tepi sawah dekat rumah teman

I\m Sorry Good Bye!

Menikmati suasana gunung, saat melakukan penghijauan

I\m Sorry Good Bye!

Mendayung canoe di Pantai Bandengan, Jepara

I\m Sorry Good Bye!

Di Pantai Teluk Awur, Jepara deket rumah Beswan Djarum Kudus

Jadi jika belum bisa liburan ke luar Jawa, apalagi ke luar negeri  mari mulai dengan melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang terdekat, di  kotamu sendiri atau di kota-kota terdekat.  Rumput tetangga akan selalu tampak lebih hijau, dan kita tidak akan pernah tahu bahwa ada rumput emas dihalaman kita sendiri karena kita tidak peduli,  melihat terlalu jauh.

So, what we waiting for, let’s start to travel from the nearest one!

I\m Sorry Good Bye!

http://www.superrobotmayhem.com/

Before you post, please prove you are sentient.

What is the outer covering of a tree?