Tristyan's Story

Through Story Sharing My Thought

I\m Sorry Good Bye!

Photo from: http://indrakurniadi.com

Suatu ketika saya  mengendarai motor hendak beli pulsa ke konter, selesai beli pulsa rasanya enggan untuk langsung pulang ke rumah. Hingga motor membawa saya melewati sawah, dan ketemu sungai yang airnya jernih. Sejurus saya menepi, meluangkan waktu sejenak menyejukkan mata.

Motor kembali kupacu hingga membawa saya ke dataran yang lebih tinggi di kota saya tinggal, motor kulaju pelan sambil menikmati setiap tarikan udara yang aku hirup.

Sampai di suatu tikungan dimana rumah-rumah di daerah kota bisa dilihat terpampang bagai semut beraneka warna yang membentang sepanjang hamparan mata memandang.

Aku menepi lagi, kali ini aku menikmati hembusan angin lembah yang melesat naik. Suasana ini menyegarkan kembali jiwaku dari kepenatan, kumanfaatkan momen ini untuk menggali ide, what I’ve done and what next! Itulah perjalanan. Se-simple itu…

Postingan ini merupakan lanjutan dari postingan sebelumnya. Jika sebelumnya membahas pentingnya melakukan sebuah perjalanan, maka kali ini saya ingin sharing sebuah perjalanan.

Pernahkah sobat berfikir untuk melakukan perjalanan ke suatu tempat yang baru seorang diri. Silakan berfikir kalau melakukan perjalanan sendirian itu freak, kayak orang hilang, kesepian, identik dengan anti sosial or whatever. However, you need to try it sometime! Jika ada perasaan takut, coba lakukan perjalanan mulai dari yang paling dekat, yang belum pernah kamu datangi.

Melakukan travel seorang diri atau dikenal dengan istilah solo travelling justru jadi pilhan bagi beberapa traveller dunia. Terkadang kita butuh waktu untuk melakukan perjalanan seorang diri dan menanyakan kepada diri kita sendiri “Bagaimana kabarmu?” atau mananyakan pertanyaan yang lebih dalam lagi kepada diri kita sendiri.

It seemed an advantage to be traveling alone. Our responses to the world are crucially molded by the company we keep, for we temper our curiosity to fit in with the expectations of others. They may have particular visions of who we are and hence may subtly prevent certain sides of us from emerging… Being closely observed by a companion can also inhibit our observation of others; then, too, we may become caught up in adjusting ourselves to the companions questions and remarks, or feel the need to make ourselves seem more normal than is good for our curiosity. – Alain de Botton

Saya punya pengalaman untuk topik yang satu ini. Suatu ketika saya punya waktu luang di rumah, ingin rasanya keluar rumah dan mencari udara segar, ingin rasanya pergi ke suatu tempat yang baru. Muncul ingatan mengenai sebuah gambar papan yang bertuliskan “Ke Air Mancur Songgolangit”, tulisan itu saya jumpai ketika saya datang kondangan di pernikahan teman di daerah Bangsri, Jepara. “Suatu saat saya ingin ke sana”, begitu pikir saya dalam hati ketika itu.

I\m Sorry Good Bye!

Motorider traveller

Datanglah saya ke sana seorang diri, ke air terjun Songgolangit di kecamatan Kembang, Jepara. Papan yang saya baca beberapa tahun lalu itu masih melekat di sana, ketika saya lihat lebih detail di situ tertulis “Ke Air Terjun Songgolangit 11 Km lagi”, setelah menempuh perjalanan dengan sepeda motor selama satu setengah jam lebih, 11 kilometer masih di depan mata menuju spot tersebut.

Beberapa kali saya melewati hamparan hutan jati dan persawahan yang luas. Kuperhatikan indikator bahan bakar di samping speedometer, jarum merah itu hendak menyentuh angka 0. Panik sempat menghinggap, gak kebayang kalau saya harus menuntun motor berkilo-kilometer melalui hamparan hutan jati hanya karena kehabisan bensin.

I\m Sorry Good Bye!

Suasana sepanjang jalan menuju Songgolangit

Maka ketika di depan sudah terlihat perkampungan, rasanya lega luar biasa, langsung saya beli bensin di warung kecil yang saya lewati. “Songgolangit masih jauh bu?” tanyaku kepada penjual bensin. “Masih 4 kiloan lagi mas, kok sendirian, pacarnya gak diajak?” jawabnya disusul pertanyaannya yang ‘menyudutkanku’ dan semakin mengukuhkan kalau diriku ini seperti orang hilang. “Pacarnya lagi gak mau diajak bu,” jawabku sambil tersenyum (“This is solo travel Bu!’” teriakku dalam hati :p).

Melakukan perjalanan ke tempat baru seorang diri sungguh mmemiliki kesan yang berbeda, seolah aku sedang menantang diriku sendiri “Sejauh mana aku mampu pergi?”

I\m Sorry Good Bye!

Meski kadang tempat yang kau datangi is unworthed, maka kamu bisa tertawa dan menganggapnya sebagai sebuah kelucuan “Saya pergi sendirian berkilo-kilometer hanya untuk ini?”, hal itu tidak menjadi masalah bagiku pribadi, yang terpenting adalah pengalaman. Dari perjalanan tersebut kita bisa belajar banyak hal, seperti usaha untuk mencapai tujuan atau hal lain. Tentang kemandirian misalnya, atau belajar untuk bersyukur.

Road to going back  or road to another destination

Sampai di air terjun Songgolangit, ada rasa kepuasan tersendiri. Meski takseindah yang diharapkan karena air terjun tersebut ternyata sedang kering, tapi tetap saja saya merasa puas. Rasa penasaran terbayar. Berhasil mendatangi spot yang menjadi tujuan utama tak lantas membuatku ingin segera pulang, meski hari semakin sore. Justru memancing hasratku untuk menikmati sunset di pantai yang aku lewati ketika pulang.

Sambil terburu mengejar matahari yang bergerak cepat semakin condong ke barat kulajukan motorku menuju pantai Bondo di Kecamatan Mlonggo, Jepara. Sempat tersesat, kuarahkan pandangan ke barat dan takkujumpai lagi matahari membuatku sedikit kecewa. Hingga kutemukan jalan ke pantai dan kudapati, semakin aku mendekati pantai yang hanya berjarak satu kilometer, semakin pula matahari tenggalam. Bukan tenggalam di cakrawala air laut melainkan oleh awan mendung yang mematahkan kesempatanku menikmati sunset sambil melepas pegal di punggunggu.

Masih tampak beberapa gerombol manusia yang memiliki harapan yang sama denganku, meyaksikan sunset. Akhirnya kunikmati saja hembusan angin pantai petang itu sambil diterangi sisa cahaya matahari yang dipantulkan oleh awan. dan pulanglah saya dengan pengalaman baru, sebagai manusia baru.

I\m Sorry Good Bye!

Akhirnya sampai di air terjun Songgolangit

I\m Sorry Good Bye!

Songgolangit dari dekat

I\m Sorry Good Bye!

Mampir ke pantai Bondo, sunset tertutup mendung

I\m Sorry Good Bye!

My ride

  1. suprayogi
    12:35 am on August 24th, 2012

    Wow. masbowo is back. Aku suka cerita dibalik ceritanya. Ini ni yang bikin tulisannya jadi mas bowo banget. different….

  2. tristyantoprabowo
    1:09 am on August 24th, 2012

    He…… tulisan dg gaya yang aneh ya?…. hoho… ikut ngeramein aja buat kompetisi tahun ini my bro.. :) Mksh ya dah mampir dan left comment

  3. sucilestari
    11:50 pm on August 24th, 2012

    Tapi kalo travelling alone gak ada yang moto2in Mas Bowo…aku hampir tiap travelling sendirian, hehe. Mas sayang yaaa…musim kemarau jadi air terjunnya kering kalau nggak pasti dahsyat :)

  4. tristyantoprabowo
    11:40 pm on August 25th, 2012

    Hai Suci ‘ketemu’ lagi :) Iya Ci, emang agak sulit kalau mau narsis hehe…. tp berdasarkan pengalamanku kalau sedang ingin mengabadikan keindahan suatu tempat aku pribadi merasa lebih bagus kalau tanpa fotoku terpampang di sana, jd mengganggu pemandangan kan haha…., tp kalau mau narisi tetep bs kok tinggal bawa aja tripod trus kamera diset pake timer dech… itu fotoku yg dipantai pakai timer, tapi tanpa tripod, ga’ sengaja hasilnya lumayn ya… Mksh ya udah mampir.

  5. dianratnasari
    7:44 am on August 26th, 2012

    keren kak…keren banget..dan itu foto2nya pake timer yah?
    wah pantes ga ajak2 ternyata solo yah?kaya bakso aja kak solo..

Before you post, please prove you are sentient.

What is the outer covering of a tree?