Tristyan's Story

Through Story Sharing My Thought

Kemarin saya mampir ke Alfa Batik Kudus, produsen batik yang sempat saya muat di artikel Menoreh Canting, Merekonstruksi Budaya. Kali ini saya ke sana membeli batik titipan Yogi (Beswan Djarum Bandung angkatan 25). For you to know Yogi adalah salah satu pecinta batik dan bukan hanya itu dia juga jadi duta batik Jawa Barat (as the first runner up). Salut ya buat pemuda yang satu ini.

Lewat  hanphone Yogi mengontak saya dan minta tolong dibelikan batik. Rupanya dia sudah sempat browsing dan tertarik dengan salah satu motif, motif tari kretek.

I\m Sorry Good Bye!

Batik motif kretek yang dipilih Yogi.

Berangkatlah saya ke galeri yang juga sekligus workshop batik milik Fatkurahman tersebut. Kebetulan pengunjung sedang ramai, semuanya ibu-ibu dan gadis-gadis cantik dan rombongan girlband-nya. Wah saya cowok sendiri nich. Gak papalah, emang batik buat cewek aja. Sekalian ah liat-liat kemeja batik yang bagus-bagus. Nafsu konsumtif sempat muncul, untung bisa ditahan.

Beberapa menit kemudian dapat juga batik pesanan si Yogi. Ketika hendak pulang tiba-tiba hujan deras turun, sayangnya rombongan girlband tadi sudah pergi (maksdunya? Pengen terjebak hujan bareng girlband maunya haha…..) Tinggal saya sendiri di galeri. Fatkurahman  dan Ummu isterinya yang ramah dan baik hati mempersilakan saya untuk tetap tinggal, sambil menunggu hujan reda.

Hingga akhirnya kami ngobrol banyak hal tentang batik. Pasangan suami isteri tersebut, bercerita banyak , mengenai batik. Mereka juga menceritakan berbagai pengalaman memulai usaha dan perjuangan mereka melanglang buana untuk belajar dari para perajin batik di berbagai tempat yang kondang dengan batiknya seperti Cirebon, Solo, Pekalongan, Lasem dan lainnya. “Kalau mau belajar batik dari ahlinya kita harus mengeluarkan sejumlah dana untuk kompensasi, tapi ada juga yang mau menularkan ilmunya secara cuma-cuma,” ujar Fatkurahman. Wah luar biasa perjuangan mereka, mengingat usaha mereka benar-benar dimuali dari nol.

Fatkurahman juga menceritakan berbagai inovasi yang coba ia kembangkan salah satunya dengan mengembangkan kembali batik warna alam (batik yang menggunakan pewarna dari bahan alam; akar, batan, daun, bunga dsb).  Fatkurahman juga tak segan berbagi info tentang perawatan batik. “Batik itu jangan dicuci pakai sabun dan dicuci pakai mesin cuci, pakai ini mas (sambil menunjukkan buah kering, yang kemudian baru saya tahu itu namanya lerak), gosok-gosok leraknya sampai mengelaurkan busa lalu tambahkan sedikit air dan batik di kucek lalu direndam sebantar dan dibilas”

“Lerak? what the he** it that? Pikirku dalam hati. “Lerak ?” tanya saya dengan muka bodoh. “Iya, masnya belum tahu ya? Lerak itu buah yang bisa mengelaurkan busa yang digunakan untuk mencuci batik sejak zaman dahulu”. Wah saya sudah punya beberapa koleksi batik tapi selaman ini tidak saya rawat dengan baik, saya cuci pake detergen. Jadi muncul rasa bersalah yang sangat amat (a.k.a muncul lebay). Pantesan ya bebrapa batik saya terlihat bladus, rupanya salah penanganan.  Dan ternyata ada juga lerak dalam bentuk cair yang lebih praktis untuk mencuci batik. Mulai sekarang yuk pake lerak, selain menjaga kualitas batik juga lebih ramah lingkungan.  So, jika kamu ngaku sebagai pecinta batik, jangan hanya bisa koleksi harus tahu juga cara ngerawatnya. Bikinnya aja susah lho jadi kita harus menghargai kerja keras perajin batik. Love batik!

I\m Sorry Good Bye!

Ini yang namanya buah lerak saudara-saudara.

I\m Sorry Good Bye!

Sari Lerak, lebih praktis.


SEAGAMES XXVI segera berakhir. Nanti malam sudah ditutup denangan closing ceremony senilai triliunan (posted on 22/11, at 13.20) Sudah hampir dapat dipastikan Indonesia yang jadi juara umumnya. Tapi sempat kesal juga, Timnas kita gagal bawa emas karena kalah saat adu penalty. However, penalty is about luck factor. Mungkin sang Dewi Fortuna lagi enggan mampir ke Indonesia, dan lebih memihak Malaysia yang seolah dan kayaknya emang sengaja selalu bikin sakit ati kita (bangsa Indonesia). It’s fine coz that is not the end! Wah (lagi lagi) kayak judul postingan aku yang buat menutup artikel kompetisi blog.

Well, saya mau share fakta unik yang terjadi selama SEAGMES dihelat Indonesia di dua tempat terpisah, Palembang dan Jakarta. Suatu ketika ada foto spandung numpang lewat di wall facebook. Yang membuatnya semakin eye catching adalah tulisan yang terpampang di sanduk tersebut. Guys you must see this one!

I\m Sorry Good Bye!

Photo by : Itje Chodidjah

Foto tersebut diupload ke facebook oleh Itje Chodidjah, salah satu pakar kebahasaan (khususnya Inggris) yang juga pemerhati pendidikan. Spanduk pada foto itu dipampang di area SEAGAMES dimana atlet dan official 11 negara melihat dan menyaksikan spanduk yang keterlaluan itu.

Istihlah Jawa mengatakan “ngisin-ngisini” (mempermalukan), itulah kata yang tepat untuk menaggapi spanduk yang dibuat asal-asalan itu. Seorang komentator di facebook bahkan sempat memberi komentar rasa chili “Bahasa Inggris tukang becak di Malioboro aja kebih bagus dari bahasa Inggris yang bikin tuch spanduk!” Totally agree with that comment.

Pertanyaanya siapa sich yang tega membuat kata-kata semacam itu di acara setingkat ASEAN? Well, yang bikin memang individu guys, tapi itu mewakili kita semua, rakyat Indonesia. Gak kebayangkan bagaimana orang-orang Singapura, Filipina, Malaysia (apalagi), menertawakan kita! Tentu yang ditertawakan bukan personal itu harga diri bangsa dipertaruhklan (#mendramatisir). So guys, mari jangan menyepelekan hal-hal kecil semacam itu kalau kita mau jadi bangsa yang besar.

*Thanks buat mama Itje yang sudah memberikan izin buat share fotonya.

I\m Sorry Good Bye!

http://n-lovegrove0912-dc.blogspot.com/2010/04/type-image-5.html

Mengupas seluk beluk budaya Indonesia lewat tulisan jelas tidak ada habisnya. Semakin kita mencari tahu semakin banyak pengetahuan budaya yang kita peroleh dan tidak akan habis untuk kita tampilkan dalam untaian kata yang beranak pinak. Thanks to Djarum Beasiswa Plus yang  telah memberikan saya banyak ilmu lewat penyelenggaraan Kompetisi Blog tahun ini yang mengangkat tema “Budaya Indonesia”.  Terimakasih juga karena masih memberikan wadah bagi kami (alumni) untuk berkreasi dan tetap menjalin silaturahim melalui our beloved home, yakni member area. Wadah lain yang tidak kalah luar biasa dan sangat bermakna bagi kami sebagai wadah pembelajaran yang membuat kami terus belajar dan terus mengasah diri adalah blog.

Untuk ketiga kalinya tahun ini Djarum Beasiswa Plus menyelenggarakan Kompetisi Blog Beswan Djarum 2011. Tema kompetisi tahun ini sungguh memberikan banyak pengetahuan budaya bagi saya pribadi, sekaligus membuat kami semakin menghargai nilai-nilai budaya itu sendiri. dan membuat kami sadar betapa besar negeri ini dan betapa masa depan kita semakin terlihat terang jika kita tetap mempertahankan nilai-nilai itu. Berbagai tulisan telah diramu dan dishare di dinding blog teman-teman Beswan Djarum menunjukkan betapa kayanya negeri ini akan budaya. Tulisan-tulisan itu membuat saya mampu menemukan arti yang sebenarnya dari budaya. Bukan lewat definisi-definisi, melainkan lewat cerita-cerita yang terangkum indah di blog.

Lewat blog berjudul “I’m Bowo & This is My Story” saya juga ingin berpartsipasi dalam kompetisi tahun ini sekaligus memperkenalkan kebudayaan saya. Kebudayaan Kudus, kota di mana saya tinggal. Tiga artikel yang saya tulis jelas belum bisa menggambarkan keanekaragaman dan menunjukkan betapa besar dan kayanya Indonesia akan kebudayaan. Namuan harapan saya lewat tulisan yang mencoba mengangkat budaya lokal dari daerah saya tersebut, mampu memberikan wawasan budaya dan memberikan inspirasi bagi para pembaca blog saya.

Berbagai pengalaman luar biasa saya dapatkan selama proses pengumpulan informasi sebelum membuat tulisan. Begitu juga pengetahun-pengetahuan budaya dari daerah lain yang saya baca dari blog milik teman-teman lainnya. Membuat saya mendifinisikan budaya itu sebagai sebuah pesan. Benar sekali budaya ialah pesan yang disampaiakn oleh para pendahulu, kepada kita keturunannya dan diharapkan akan dilanjutkan kepada generasi selanjutnya. Pesan itu baik dan pesan itu membuat kita mengenal jati diri kita. Pesan-pesan diwujudkan dalam berbagai hal seperti tardisi atau ritual adat, ukir-ukiran yeng terdapat pada rumah adat, tari-tarian, lagu-lagu daerah, wayang, alat musik dan masih banyak lagi. Permasalahannya sekarang ialah apakah kita mau menggali pesan-pesan dan mencoba memahaminya? ataukah kita menganggapnya hanya sebagai simbol-simbol tanpa makna dan memilih untuk mengacuhkannya dengan alasan sudah ketinggalan zaman?. Sobat, keputusan itu ada di tangan kita apakah kebudayaan itu akan tetap lestari dan tersampaikan segala pesan kebaikan tersebut, ataukah pesan-pesan itu akan terputus begitu saja dan menghilangkan akar jati diri kita?

Berikut ini tiga buah artikel yang saya sertakan dalam Kompetisi Blog Beswan Djarum 2011:

1. Budaya tak Kasat Mata

Melalui artikel ini saya ingin menyampaikan pesan bahwa dibalik berbagai peninggalan budaya baik berupa benda maupun non benda ada esensi yang lebih penting yakni nilai-nilai yang terkandung di dalamnya yang tak kasat mata namun memberikan pencerahan bagi kita untuk terus hidup dengan tetap menghargai lingkungan, sesama manusia dan menjunjung nilai kebaikan. Dalam konteks artikel tersebut dicontohkan dengan budaya gotong-royong yang mulai memudar.

2. Menoreh Canting, Merekonstruksi Budaya

Artikel kedua ini merupakan hasil dari wawancara langsung dengan salah satu tokoh (Fatkurahman) yang berusaha membangkitkan kembali kebudayaan yang sempat terancam punah yakni batik khas Kudus. Lewat artikel ini saya ingin menggambarkan betapa perjuangan untuk kembali memaknai pesan-pesan itu tidak semudah membalik telapak tangan, hal ini tergambar dari perjuangan Fatkurahman dalam memulai usaha batik yang sempat vakum puluhan tahun. Pesannya adalah bahwa budaya itu berharga dan merupakan jati diri kita yang wajib untuk kita lestarikan dan pertahankan eksistensinya.

3. Ayu, Ayom, Ayem; The Message Behind The Grace

Lewat artikel terakhir dengan judul berbahasa Jawa sekaligus Inggris tersebut saya ingin memaparkan bahwa setiap simbol atau setiap manifestasi atau bentuk dari kebudayaan itu mengandung makna dan dibuat dengan dasar pemikiran dan keluhuran nilai-nilai yang dirintsi oleh pendahulu kita.

Saya harap lewat tulisan-tulisan pendek tersebut bukan hanya mampu meramaikan kompetisi melainkan mampu mengingatkan kita dan saya pribadi untuk terus mempelajari dan melestarikan kebudayaan kita yang agung. Last but not least, hopefully bukan hanya karena alasan kompetsisi saja blog saya ini tetap hidup melainkan akan tetap hidup bersama pembaca-pembaca setianya, begitu juga dengan blog teman-teman yang lain. So guys, let me say that this is my closing article but this is not the end.

Hai sobat semua. Buat kamu cewek yang lagi jomblo, pas banget kalau kamu baca tulisan ini. Buat yang cowok yang lagi mau cari simpati ente nggak salah kamar. Tumbenan ya saya pake bahasa agak gaul. Gak biasa-biasanya nich hehe…. Just want to share in another way, a popular way actually, if I can say like that. Atau lebih tepatnya lagi pengen  ngedan lewat tulisan (ngegokil, meski gak gokil-gokil amat) Anyhow, sedikit gaul boleh dong?

I just want to share something for you my blog’s fanatics readers hehe….. (sok populer). Well, apa sich kriteria cowok atau cewek ideal yang pengen kamu jadiin pasangan hidup? Mau penampilan fisik yang bagaimana sich? Sudah jadi rahasia umum kalau kita cari cewek atau cowok pasti tetep merhatiin penampilan. Gak mungkin juga kan kita mau menggandeng pasangan yang penampilannya awut-awutan (udah kayak bulu kapuk ketiup angin ajah tuch). Gengsi dong, apalagi kalau nenteng pacar niatnya mau dipamerin, bisa jadi bahan ejekkan teman malahan.

Well (again), saya gak mau lagi ngebahas fisik for specific, tapi kali ini saya mau share pedoman unik yang dipegang masyarakat Kudus dalam mencari pasangan hidup. Boleh dibilang warisan budaya lah…. Kalau kamu tinggal di Kudus dan kamu belum tahu, you have to write down some list that I’m going to share, so please make sure that you are ready with a pen and paper before read the next sentences. Gak usah segitunya kali, diprint aja lebih cepet, but kalau hasil kamu ngeprint diperbanyak trus disebar-sebarin ke temen-temen kamu, saya gak recomended dech ntar rahasia ini bakalan kesebar. Please jangan ya…….

Trus kalau kamu bukan bagian dari warga Kudus, that’s not a big deal. It is also important for you to know about it, so just do the same way (berbelit amat yak? Hihi……). Gini, masyarakat Kudus itu punya acuan unik dalam mencari pasangan, juga calon menantu. Saya yakin kriteria ini nantinya juga akan menjadi kriteria global lho, percaya dech….. Kalau kamu lagi jomblo dan kamu mau dianggap jomblo yang high quality dan supaya segera dapat jodoh kamu harus masuk di 3 kriteria Gusjigang. Mari kita kupas (ambil pisau buruan!):

Pertama, you have to have aGus”. “Gus” sendiri berasal dari kata bagus yang berarti rupawan buat yang cowok dan rupawati bagi si cewek. Dalam hal ini kamu harus memperhatikan penampilan. Misal penampilan kamu gak rupawan-rupawan amat minimal kamu harus bisa ngusahain penampilan loe yang minimalis itu menjadi maksimalis dengan berbagai upaya, perawatan misalnya, pakai pakaian yang rapi dech jangan sampe tampakin kekucelan loe.

Kedua, “Ji” dari kata ngaji. Kamu harus pinter ngaji sob. Kenapa? Pernah nonton film “Kiamat Sudah dekat”? bener banget tuch film. Sebaik-baiknya calon pasangan adalah yang nampak religius, bukan hanya nampak dong ya. Harus beneran religiusnya dan bukan hanya dalam hal ngaji aja. Buat kamu-kamu yang ngajinya masih belum lancar, ayo berlatih banyak cara yang bisa kamu tempuh, ikut kursus misalnya atau belajar dari teman. Tapi niat mendalami dan melancarkan bacaan jangan karena supaya dapet jodoh ya, jadikan itu sebagai titik awal untuk memperbaiki kualitas ibada kita sob.

Last but not least, “Gang” dari kata dagang. Pintar berdagang atau kalau mau diartikan secara umum pintar cari duit lah, terutama bagi yang cowok nich. Masyarakat Kudus sebagian besar memang banyak yang sukses dari usaha berdagang, that’s why memiliki calon suami atau menantu seorang pedagang itu jadi kebanggaan tersendiri. At least kalo kamu pinter berdagang masa depan kamu pasti gak diragukan lagi dan gak bakal ngrepotin mertua, sebab loe sudah bisa mandiri dengan usaha sendiri sob. Silakan dicoba!

I\m Sorry Good Bye!

I\m Sorry Good Bye!

Pernah lihat Tongkonan? Rumah Gadang ? atau mungkin Honai? Mungkin ketiganya sudah familier. Kalau pun belum pernah melihat secara langsung paling tidak sobat pasti sudah pernah lihat gambarnya di atlas waktu pelajaran IPS di bangku sekolah kan? Itu hanya sebagian kecil dari rumah adat yang ada di beberapa daerah di Indonesia semua orang tahu itu hehe….

Tak mau kalah dengan daerah lain, di kota tempat saya bersemayam (macam penunggu pohon asem aja hihi…) juga ada rumah adat yang terkenal karena keindahan ukirannya. Apreasiasi masyarakat akan rumah adat Kudus pun terlihat semakin tinggi. Bahkan sejumlah artis ternama menghiasi rumahnya dengan ornamen rumah adat khas Kudus yang biasa disebut gebyok itu, sebut saja Alex Komang dan Ebiet G.A.D.

Beberapa minggu yang lalu saya mengunjungi museum kretek dimana salah satu rumah adat Kudus asli peninggalan masa lalu berada. Menatap bangunan kayu nan anggun itu saya merenung, sudah hampir 24 tahun saya menginjakkan kaki di bumi Kudus, kota kelahiran saya. Namun baru kurang lebih setahun silam saya tahu makna yang terkandung dari setiap jengkal ukiran yang menghiasi rumah yang terbuat 95 persen dari kayu itu. Sebagai mahasiswa ketika itu saya merasa bersalah karena kurang menghargai budaya lokal yang diwariskan nenek moyang saya.

Apalagi sebagai Beswan Djarum yang sudah mendapatkan berbagai pelatihan yang diberikan oleh Djarum Beasiswa Plus dan memiliki jaringan para Beswan Djarum seantero Nusantara saya merasa berkewajiban untuk memperkenalkan budaya yang ada di kampung halaman saya. Kok gak nyambung ya hehe….. Anyhow thanks for Djarum BeasiswaPlus yang membuat saya lebih peka terhadap berbagai persoalan termasuk dalam hal kesadaran menghargai budaya. Juga untuk mata kuliah Speech yang merupakan awal bagi saya mencari informasi lebih jauh mengenai salah satu warisan budaya asli Kudus tersebut, saat dosen pengampu meminta kami menjadi guide untuk bangunan Menara Kudus dan rumah adat saat itu.

I\m Sorry Good Bye!

Rumah Adat Kudus yang terletak di sebelah utara area Museum Kretek

Usia rumah adat asli peninggalan para pendahulu tersebut bisa mencapai puluhan hingga ratusan tahun. Daya tahan bangunan kayu tersebut ditopang oleh kuatnya serat-serat kayu jati yang sudah tidak perlu dipertanyakan kemenangannya melawan waktu (keawetannya, red).

Keunikan rumah ada Kudus juga terdapat pada teknik pembangunannya yang tanpa memakai paku (knock down). Menurut informasi dari beberapa artikel yang saya peroleh dari Yayasan Menara Kudus, bangunan rumah adat Kudus dipengaruhi oleh pengaruh berbagai budaya yang lama singgah dan sempat mempengaruhi arsitektur berbagai bangunan termasuk rumah adat. Pengaruh yang tergambar dari ukiran-kiran yang tampak pada berbagai sisi bangunan itu merupakan pengaruh dari seni ukiran Hindu, Cina, Eropa, dan Persia / Islam.

I\m Sorry Good Bye!

Ukiran motif bung adan tumbuuhan pengaruh budaya Persia yang dibawa para pedagang.

Bentuk ukiran dan motif ragam yang menghiasi rumah unik ini, diantaranya adalah pola kala dan gajah penunggu, rangkaian bunga melati (sekar rinonce), motif ular naga, buah nanas (sarang lebah), motif burung phoenix, dan masih banyak lagi yang masing-masing memiliki arti tersendiri. Ukiran buah nanas yang terpasang terbalik misalnya, merupakan salah satu simbol unik yang meniru filosofi hidup lebah, yakni bisa hinggap di mana saja tanpa merusak bunga yang dihinggapi, bahkan saling menguntungkan, bunga terbantu penyerbukannya dan lebah memperoleh madu. Sementara rangkaian bunga melati dalam ukiran gebyok sebagai simbol akhlak yang baik dan kesucian hati.

I\m Sorry Good Bye!

Ukiran motif nanas/ sarang tawon.

Menurut Moedjijono WZ, 1985 : 3-25 (dalam Ir. Aunurrofieq AD. MT.), arsitektur Jawa adalah arsitektur yang lahir, tumbuh, berkembang, didukung dan digunakan oleh masyarakat Jawa. Arsitektur Jawa lahir dan hidup karena ada masyarakat Jawa. Arsitektur Jawa sendiri memegang nilai fungsi dan filosofi Ayu, Ayem, Ayom. Ayu mengandung makna estetis, simbolis, kaya, atau jati diri. Ayom berarti teduh, rindang, terlindung dari kekuatan metafisik. Sementara Ayem bermakna kesejahteraan, keamanan, dan keselarasan. Terang filosofi tersebut merupakan harapan yang ingin diperoleh oleh masyarakat Kudus dari tempat bernaung dari terik dan hujan tersebut.

Secara umum rumah adat Kudus terdiri dari beberapa bagian diantaranya :

1. Jogosatru’ berfungsi sebagai serambi, atau ‘Pringitan’. Sekarang lebih banyak difungsikan sebagai ruang tamu. Terdapat soko geder/ tiang tunggal sebagai simbol bahwa Tuhan itu Esa dan penghuni rumah harus senantiasa beriman dan bertakwa kepada-Nya.

2. Ruang ‘Dalem’ disebut juga ‘omah jero’ berfungsi sebagai tempat tidur, tempat menyimpan barang berharga, dimana terdapat kamar yang di sebut juga ‘sentong’ dengan yang terdiri dari :

a. sentong kiwo’ (kiri)

b. sentong tengen’ (kanan)

c. sentong tengah’ atau ‘gedongan’.

Di dalam ruang dalem ini terdapat 4 buah soko guru./ tiang sebagai penyangga utama bangunan rumah melambangkan agar penghuni rumah menyangga kehidupannya sehari-hari dengan mengendalikan 4 sifat manusia : amarah, lawamah, shofiyah, dan mutmainnah.

3. Ruang ‘Pawon’ atau ‘gandok’ (rumah Kota Gede), berfungsi sebagai ruang makan, ruang kerja, ruang saji dapur kering untuk menyimpan makanan, dan atau dapur basah. Juga berfungsi sebagai tempat gudang serta berfungsi ruang keluarga.

4. Ruang dapur sering ditaruh di samping ruang ‘gandok/pawon’ yang merupakan tambahan ruang ke samping, namun ada juga penempatan dapur di luar rumah induk yaitu di depan rumah, letaknya depan ‘gandok’, di samping kamar mandi, atau dibelakang rumah induk, dibelakang ‘pawon

5. Pakiwan/ kamar mandi selalu terletak didepan rumah, di sebelah sudut kanan atau kiri.

6. Ruang tambahan di depan rumah sering di tambah ruang kerja posisi letaknya merapat pinggir kapling depan rumah, di depan MCK jadi berhadap-hadapan dengan rumah induk. Ruang tambahan ini biasanya di sebut ‘kantoran’. Juga berfungsi sebagai tempat tidur tambahan.

I\m Sorry Good Bye!

Jogosatru, dengan satu tiang penyangga yang menyimbolkan ke-Esaan Tuhan

I\m Sorry Good Bye!

Sentong Tengah’ atau ‘Gedongan

I\m Sorry Good Bye!

‘Pawon’ atau ‘gandok’ (rumah Kota Gede), berfungsi sebagai ruang makan, ruang kerja.

Kekhasan rumah adat Kudus juga terletak dari tatacara perawatannya yang dilakukan dengan cara tradisional dan turun-temurun. Bahan yang digunakan untuk perawatan merupakan ramuan yang diperoleh berdasarkan pengalaman empiris pemiliknya, yaitu ramuan APT (Air pelepah pohon Pisang dan Tembakau) dan ARC (Air Rendaman Cengkeh). Selain terbukti efisien dan efektif mampu mengawetkan kayu jati dari serangan rayap (termite) dan membersihkan, ramuan ini juga ramah lingkungan.

Keindahan dan keanggunan bangunan rumah adat Kudus bukkan semata menonjolkan kesejahteraan penghuninya. Lebih dari itu setiap bagiannya, baik itu berupa motif ukiran, bentuk dan penempatan bagian rumah adat Kudus mengandung pesan-pesan luhur berupa nilai yang disampaikan sebagai pengingat oleh nenek moyang kita untuk diteruskan dan dilestarikan dari generasi ke generasi. It’s really awesome!

I\m Sorry Good Bye!

Lampu Katrol dan berbagai ornamen rumah adat Kudus

I\m Sorry Good Bye!

Ada kebanggaan tersendiri saat kita mengenakan pakaian batik. Padahal, dahulu batik dipandang kuno dan identik dengan pakaian orang sepuh (baca: tua, red), kini remaja hingga mahasiswa malahan menggandrunginya dan kerap memakainya di berbagai kesempatan. Apalagi batik kini telah merambah fashion dunia dengan berbagai model modifikasinya. Sebagian orang mungkin merasa bangga mengenakan batik karena harganya yang selangit. Alangkah lebih luar biasa lagi menurut  saya jika seseorang bangga mengenakan batik karena ia tahu bahwa batik itu bukan sekadar warisan budaya yang sudah diakui dunia. Lebih dari itu memakai batik berarti menghargai nilai-nilai yang ada dibalik motif-motif yang tertoreh lekat di sehelai kain itu.

Melestarikan batik bukan sekadar mengumbar kebanggaan saat mengenakannya ketika batik itu sudah menjuntai indah dan terijahit rapi sebagai pembungkus badan . Melestarikan batik mengandung konsekuensi memaknai kerja keras di balik keindahan kerajinan buatan tangan tersebut. Batik tidak akan hidup tanpa ada orang-orang luar biasa yang dengan tekad, kesabaran dan ketelatenan untuk terus memproduksinya.

Adalah Fatkurahman, salah satu perajin batik khas Kudus yang berusaha menyambung torehan canting yang sempat mengering. Sejak zaman penjajahan hingga akhir tahun 70-an batik Kudus sangat populer dan menjadi salah satu icon batik di pesisir utara pulau Jawa. Hingga tahun 80-an sampai 2007, batik Kudus sempat tenggelam dan vakum. Menurut Fatkurahman, vakumnya produksi batik Kudus karena berbagai kendala. Beberapa diantaranya adalah karena harga kain dan bahan baku lain yang menjulang. “Konsekuensi seorang perajin batik itu harus siap berkotor-kotor, karena memang proses produksinya melibatkan berbagai bahan seperti pewarna tekstil, lilin, dan berbagai bahan kimia, makanya pasca tahun 70-an banyak perajin batik Kudus yang meninggalkan usaha turun-temurunnya dan memilih untuk berdagang atau menjadi pegawai saja karena tidak mau lagi berurusan dengan kotor dan berbagai kesulitannya,” imbuh pria paruh baya tersebut. In short, budaya pragmatis mengambil alih dan mengancam eksistensi budaya kita sendiri, batik.


Kembalinya Batik Kudus

Tahun 2007 Hj. Rina Tamzil, isteri Bupati Kudus saat itu mengupayakan diproduksinya lagi batik khas Kudus melalui berbagai pelatihan dengan mendatangkan seorang perajin batik yang tersisa. Fatkurahman sendiri mulai mencoba memproduksi batik Kudus pada pertengahan tahun 2008. Rupanya bukan persoalan mudah untuk menghidupkan kembali batik Kudus. “Saya harus ngangsu kaweruh (menimbal ilmu) ke berbagai kota seperti Semarang, Jogja, Cirebon, dan Pekalongan untuk bisa mewujudkan mimpi kami menghidupkan batik Kudus,” tutur Fatkurahman yang mengembangkan batik Kudus bersama sang isteri tersebut.

I\m Sorry Good Bye!

Fatkurhaman memperlihatkan batik hasil produksinya

Memproduksi kembali batik Kudus yang sempat hilang tak hanya membutuhkan pengorbanan waktu, biaya dan menuntut kesabaran. Ia dan beberapa perajin lain juga harus melakukan berbagai riset dan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya untuk merekonstruksi berbagai motif klasik batik Kudus. Terkadang Fatkurahan dan isteri mendapatkan referensi motif batik khas Kudus lewat buku. Lewat gambar batik seukuran buku ia berusaha merekonstruksi motif-motif batik warisan nenek moyang. Bukan perkara mudah memang untuk mendapatkan koleksi batik tempo dulu yang asli.

Sentuhan Kekinian Batik Kudus

Saya sungguh mengapresiasi perjuangan Fatkhurahman bersama pengrajin yang lain untuk menorehkan kembali canting-canting berisi lilin panas yng selama ini mengering. Diluar kacamata sebagai sebuah bisnis, usaha yang digeluti Fatkhurahman bisa dipandang sebagai sebuah kecintaan dan apresiasi terhadap budaya, meskipun usaha tersebut tergolong miskin peminat. Dalam artian, jarang pengusaha yang menekuninya karena kerumitan proses, tingkat kesulitan dan berbagai kendala lain.

I\m Sorry Good Bye!

Bernagai contoh motif batik Kudus kontemporer

Akan tetapi Fatkurahman bersama isteri berhasil survive, mereka bahkan tidak hanya berhasil melestarikan beberapa motif-motif batik klasik seperti kapal kandas, tri busono, romo kembang, beras kecer, dsb. Malahan ia mampu mengembangkan batik Kudus dengan berbagai kreasi motif kontemporer yang terinspirasi dari kekhasan kota Kudus seperti yang tertuang dalam motif kretek, parang cengkeh, liris gendhing (genting khas Kudus), tari kretek (tarian buruh pembuat rokok), parijoto (buah khas Colo), merak katela, lentog tanjung (makanan khas kudus), buketan beras kecer dan masih banyak lagi. Beberapa motif tersebut telah didaftarkan hak patennya ke HAKI.

Orang-Orang Pilihan Penoreh Canting

Untuk menghasilkan sehelai kain batik memerlukan proses panjang, dari menggambar motif (molani), mencanting, pewarnaan yang dilakukan berulang sesuai jumlah warna yang diinginkan sampai nglorot (melepas lilin dari kain) memerlukan waktu paling cepat dua bulan untuk sehelai kain batik tulis nan cantik. Tidak sembarangan orang bisa melakukan pekerjaan ini. “Dari 20an orang yang kami latih membatik, paling banyak hanya 3 orang yang bisa menekuninya sebab membatik itu benar-benar memerlukan kecintaan dan jiwa seni yang tinggi, disamping kesabaran ekstra,” tutur Ummi, isteri Fatkurahman. Jika sobat adalah satu dari penoreh canting, dapat dipastikan sobat adalah orang yang terpilih. Sebab saya mengamati secara langsung bagaimana jari-jemari yang memegang cantng menari-nari di atas selembar kain untuk melukis motif dengan berbagai kesulitannya.

 I\m Sorry Good Bye!

Membuat pola motif batik

I\m Sorry Good Bye!

Mencanting

I\m Sorry Good Bye!

Batik cap

I\m Sorry Good Bye!

Pewarnaan

Mili demi mili lekukan motif yang indah ditorehkan ke atas katun polos hingga lelehan lilin memenuh permukaan kain dan mengering. Pekerjaan tersebut dilakukan dengan telaten dan teliti. Ada ilmu yang kita ambil dari proses pembuatan batik yaitu pentingnya sebuah proses, ketelitian, ketelatenan, kesabaran, pantang menyerah dan manajemen emosi. Benar sekali manajemen emosi. Itu yang terpenting, saat membatik seorang pembatik benar-benar perlu menata hati dan pikiran agar batik yang dibuatnya sempurna. Jika salah sedikit saja, maka mengulang dari awal adalah konsekuensinya. Salut untk perajin batik!

Alhamdulillah kini masyarakat mulai sadar dan mengapresiasi batik sebagai salah satu kebudayaan yang patut dilestarikan. Semoga bukan hanya dimaknai sebagai simbol. Saya bangga akan batik atas bukan sekadar karena keindahan hasil akhirnya melainkan atas kerja keras yang tertuang di ataskain yang menutupi permukaan kulit saya.

Saya bukan perajin batik. Bagaimana saya melestarikan batik? Saya masih ingat ketika masih aktif sebagai Beswan Djarum Kudus bersama teman-teman yang lain sepakat mengenakan batik di berbagai kesempatan pelatihan yang diselenggarakan Djarum Beasiswa Plus, salah satunya ketika event Dear to be a Leader di Malang, Jawa Timur. Pun hingga sekarang dan di beragai kesempatan. Hal itu hanya sebagian kecil cara menghargai dan menerusan pesan berupa nilai-nilai moril batik yang coba ingin disampaikan para pendahulu kita. Saya cinta batik! Saya menghargai perajin batik! Saya melestarikan budaya!

I\m Sorry Good Bye!

Minggu pagi (9/10), saya bersama seorang Beswan Djarum, Dian berencana menyisir tempat-tempat bernilai budaya di kota Kudus. Kami berdua memang sudah memiliki niat untuk hunting peninggaan budaya di Kudus. Setelah mampir ke rumah Om-nya di Dian yang juga perajin gebyok (ukiran khas Kudus), kami berencana mengunjungi perajin caping kalo (topi khas Kudus pelengkap pakaian adat wanita). Namun sayang kekecewaan menghampiri kami, lantaran caping tersebut sudah tidak di produksi lagi. Lebih menyedihkan lagi ketika kami tahu fakta bahwa perajin yang tinggal satu-satunya di kota Kudus tersebut sudah uzur dan tidak ada yang meneruskan jejaknya.

Roda kendaraan akhirnya membawa kami ke tujuan  berikutnya yakni Masjid Wali yang terletak di desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Masjid yang memiliki nama lain At Taqwa ini didirikan pada tahun 1596-1597, abad ke 15 pada masa Hindu Budha menuju ke Islam, oleh Tjie Wie Gwan,  seorang pengembara dari kerajaan Campa, Cina. Yang membuat masjid ini menarik dan unik adalah bangunan gapura di depan masjid memiliki  arsitektur menyerupai pura di Bali dengan menggunakan bata merah yang memiliki nilai budaya tinggi dan tergolong Benda Cagar Budaya. Arsitektur yang menyerupai pura itu dimaksudkan sebagai taktik (akulturasi budaya) oleh Tjie Wie Gwan agar masyarakat sekitar tertarik untuk mendatangi Masjid tersebut karena pada masa itu masyarakat masih beragama Hindu-Budha, belum mengenal agama Islam.

I\m Sorry Good Bye!

Gapura Masjid Wali menyerupai Pura

Tjie Wie Gwan sendiri adalah suami dari R. Prodobinabar, anak dari Sunan Kudus. Tjie Wie Gwan diperintah oleh Sunan Kudus untuk menyebarkan agama Islam di kawasan Kudus selatan.

Manten Mubeng

Ada adat unik yang biasa dilakukan masyarakat Loram Kulon yang melaksanakan pernikahan. Pengantin yang berasal dari desa Loram Kulon memiliki kebiasaan mengelilingi gapura masjid Wali sebanyak tujuh kali setelah prosesi ijab qobul, lepas itu mereka memasukkan uang sedekah ke dalam kotak kas yang terletak di depan masjid.

Konon ceritanya dahulu belum terdapat KUA, sehingga proses ijab qobul pengantin dilaksanakan di Masjid Wali dengan Tjie Wie Gwan sebagai penghulu. Karena banyaknya yang menikah, untuk mempersingkat waktu maka beliau berpetuah agar para pengantin yang telah sah mengelilingi gapura dan akan di doakan dari depan Masjid sambil disaksikan oleh warga setempat. Kegiatan tersebut bertujuan baik, tanpa bermaksud untuk mengarah ke perbuatan syirik.

I\m Sorry Good Bye!

Khusus pengantin

Sedekah Nasi Kepel

Tradisi lain yang dilakukan masyarakat di lingkungan tersebut adalah sedekah nasi kepel. Nasi kepal dan bothok (makanan yang terbuat dari campuran petai cina, parutan kelapa dan bumbu yg dibungkus daun pisang lalu dikukus) yang masing-masing berjumlah tujuh tersebut didoakan dan diselamati dengan niatan sedekah. Menurut cerita masyarakat sekitar, dahulu ada seseorang yang ingin melakukan sedekah namun ia tergolong orang yang tidak mampu. Kemudian Tjie Wie Gwan menyuruhnya untuk mebuat nasi kepal dan bothok yang terbilang relatif terjangkau bagi orang yang kurang mampu. Sementara nominal tujuh (Jawa: pitu) mengandung arti pitulungan (pertolongan), pitutur (nasehat) dan pituduh (petunjuk). Kebiasaan lain yang hingga sekarang dilaksanakan adalah Ampyang Maulid, yaitu kirap memperingati Maulid Nabi Muhammad.

See? betapa banyak filosofi dari para pendahulu kita yang tertuang dalam berbagai tradisi dan adat kebiasaan yang jika tidak kita pelajari dan lestarikan tentu kita tidak akan tahu niai-nilai kearifan itu dan lebih parah lagi bisa membuat kita lupa akan jati diri kita sendiri jika kita tidak mengindahkannya.

Budaya kasat Mata

Satu hal yang mebuat saya terkesan saat berkunjung ke Masjid tersebut bukanlah bangunan gapuranya. Mungkin karena bukan yang pertama kali saya melihat bangunan tersebut. Selain juga karena ada bangunan berarsitektur serupa seperti Menara Kudus yang menjadi landmark kota Kudus yang amat familier. Ada nilai penting yang saya dapatkan saat berkunjung ke masjid wali pagi itu. Hal itu saya dapati tepat di belakang gapura, dimana puluhan pria dari usia remaja hingga paruh baya sibuk menurunkan genting dari atap masjid, sementara yang lain ada yang membongkar kayu-kayu reng. Beberapa yang lain sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ya, kebetulan pagi itu Masjid Wali mulai direnovasi. Para remaja pria datang dari perwakilan mushola dan masjid setempat, juga perwakilan RT. Yang jelas semua pria di desa Loram Kulon nampak terlibat dalam proyek renovasi Masjid yang terakhir direnovasii pada tahun 90-an tersebut. Masjid pagi itu benar-benar dipenuhi puluhan masyarakat yang masih mempertahan tradisi luhur yang mulai langka,  gotong royong.

I\m Sorry Good Bye!

Warga bergotong royong merenovasi masjid Wali.

Saya sangat mengapresiasi nilai-nilai yang tetap dipertahankan masyarakat Loram Kulon. Mereka benar-benar memelihara kearifan lokal yang ada sejak zaman dulu.

Nilai-nilai yang saya dapatkan hari itu hanya cerminan kecil dari nilai luhur kebudayaan yang ada di Indonesia. Jika berbicara soal gotong royong, tentu bukan menjadi budaya miliki masyarakat Kudus semata, berbagai daerah di Indonesia sangat kental dengan nuansa gotong royongnya, sebut saja tradisi “Angkat Rumah” (dalam arti sebenarnya lho!) di daerah Bantimurung, Sulawesi Selatan. Warga di sana bergotong-royong membantu kepindahan rumah salah seorang warga  dengan mengangkat rumah panggung secara bersama-sama menuju lokasi tempat tinggal baru. Unik ya? mengingat biasanya kalau pindahan rumah yang pindah hanya orang dan isi rumah tapi ini rumahnya juga ikutan pindah.  Gak kebayang seberapa beratnya mengangkat sebuah rumah, meskipun itu rumah kayu tetap saja yang namanya rumah tidak mungkin seringan kasur. Saya juga tidak bisa membayangkan berapa banyak peninggalan budaya lainnya dari seluruh pelosok daerah di Indonesia jika dihitung. Bayangkan jika  masing-masing Beswan Djarum diminta menceritakan kebudayaan masing-masing dan dirangkum menjadi satu pasti akan menjadi sebuah ensiklopedi yang luar biasa dan kaya akan nilai-nilai yang patut untuk dipelajari.

I\m Sorry Good Bye!

Tradisi "Angkat Rumah" kelihatan betul kan gotong-royongnya? from: http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2011/01/21/melihat-tradisi-angkat-rumah-di-bantimurung/

I\m Sorry Good Bye!

Itu beneran rumah lho yang mau diangkat dan dipindahkan (from: http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2011/01/21/melihat-tradisi-angkat-rumah-di-bantimurung/)

Mengenang saat masih menyandang status mahasiswa dulu dan mendapatkan kesempatan dari Djarum Beasiswa Plus menjadi salah satu penerima beasiswa. Ketika itu saya dipertemukan dengan teman-teman Beswan Djarum dari berbagai daerah di Indonesia, dimana saya bisa saling bertukar pengetahuan, dan mengenal kebudayaan masing-masing. Momen-momen itu benar-benar menyadarkan saya mengenai kebinekaan bangsa ini yang luar biasa indah. Salah satu kegiatan yang masih saya kenang dan mengajarkan kepada kami Beswan Djarum mengenai pentingnya mempelajari budaya adalah ketika kegiatan Wawasan Kebangsaan (dahulu Silturahmi Nasional). Pada kegiatan tersebut kami diberikan kesempatan untuk menampilkan berbagai tarian tradisional dari berbagai daerah. So amazing, and unforgettable!

Pelajaran yang saya ambil kali ini adalah, mempelajari budaya bukan sekadar mengagumi benda kasat mata sebagai manifestasi dari peninggalan budaya, melainkan pula mampu mengambil nilai-nilai kearifan yang terkandung di dalamnya. Saya semakin yakin bahwa para pendahulu kita adalah orang-orang luar biasa yang  membekali kita anak cucunya dengan pesan-pesan penting dan berguna dalam setiap karya, entah itu dalam bentuk tari-tarian, adat kebiasaan maupun berbagai tradisi lainnya, termasuk hal-hal tak kasat mata. Bukan hantu atau jin penunggu keris tentunya. melainkan nilai-nilai sebagai esensi dari budaya itu sendiri yang terkadang tak kasat mata namun penuh makna.

Bagi sobat yang ingin berpartisipasi membantu proyek renovasi masjid Wali Loram Kulon bisa mengirimkan bantuan ke sini (amanat pengurus Masjid Wali)

I\m Sorry Good Bye!

Ayo bantu proyek renovasi Masjid Wali