Tristyan's Story

Through Story Sharing My Thought

I\m Sorry Good Bye!

Hipnotis menjadi popular di negeri ini setelah muncul tayangan reality show yang dipandu Romy Rafael. Berikutnya muncul Uya Kuya, dengan program tv-nya ia menampilkan seseorang yang dihipnotis dan menceritakan unek-uneknya dalam keadaan terhipnotis. Hal tersebut menjadi hiburan tersendiri bagi pemirsa televisi.

Hipnotis juga muncul sebagai salah satu alternatif untuk mengobati beberapa gangguan seperti phobia, latah dan kecanduan rokok atau alkohol.

Dan tahukah sobat? kini istilah hipnotis juga menjadi salah satu istilah yang dikenal di dunia pendidikan. Namun jangan sobat bayangkan hipnotis untuk kategori pendidikan ini sama seperti yang sobat saksikan di layar kaca.

Awalnya hanya mampir ke salah satu toko buku di kota Semarang saat mengantar teman, hingga membawa saya berjumpa dengan salah satu buku yang mengupas tentang hipnotis dalam pendidikan. Judul buku tersebut “Hypno Teaching; Bukan Sekedar Mengajar”. Sepintas judulnya memang ‘garing’. Tapi setelah saya baca sekilas dan menangkap alur berfikir dari buku tersebut, tanpa pikir panjang saya memutuskan untuk membelinya.

Banyak hal saya dapat dari buku karangan Novian Triwidia Jaya tersebut yang berguna bukan hanya untuk pengajar seperti saya tapi juga semua orang. Lewat bukunya Novian mendefinisikan hypnoteaching sebagai perpaduan pengajaran yang melibatkan pikiran sadar dan pikiran bawah sadar.

Hypnoteaching merupakan perpaduan dua kata “hypnosis” yang berarti mensugesti dan “teaching” yang berarti mengajar. Sehingga dapat diartikan bahwa hypnoteaching sebenarnya adalah menghipnotis/mensugesti siswa agar emnjadi pintar dan melejitkan semua anak menjadi bintang”

Setiap manusia senantiasa menggunakan 2 pikiran dalam melakukan aktivitas yaitu pikiran sadar (conscious mind) dan pikiran bawah sadar (sub conscious mind). Pikiran sadar berfungsi sebagai pikiran yang analistis, rasional, kekuatan kehendak, faktor kritis dan memori jangka pendek yang sering kali disetarakan dengan otak kiri.

Sedangkan pikiran bawah sadar (sub conscious mind) berfungi dalam menyimpan memori jangka panjang, emosi, kebiasaan dan intuisi yang seringkali disetarakan dengan otak kanan.

Faktanya pikiran bawah sadar begitu hebat dan menguasai pemikiran sesorang sebanyak 88%, sedangkan pemikiran sadar menyisakan 12% saja. Jadi pikiran bawah sadar lebih berkuasa dalam mempengaruhi tindakan kita sobat. Di antara pikiran sadar dan bawah sadar terdapat sebuah filter ( RAS= Reticular Activating System) yang berfungsi menyaring data di otak.

I\m Sorry Good Bye!

“Proses pembelajaran mengunakan pikiran bawah sadar ternyata memiliki kemampuan 10.000 kali lebih cepat dari pada pikiran sadar”

Ketika dalam kedaan yang rileks dan senang filter tersebut akan terbuka menuju alam bawah sadar dan menciptakan program baru di otak. Dan sebaliknya jika dalam kondisi tertekan atau stress filter tersebut akan menutup. Mungkin sobat pernah merasa tidak suka dengan salah satu mata pelajaran di sekolah. Hal ini mungkin terjadi karena awalnya kita tidak menyukai guru yang mengajar pelajaran tersebut atau karena dari awal kita membayangkan kalau pelajaran tersebut sulit. Akibatnya otak kita kesulitan menerima pelajaran itu, seperti itulah kirai-kira ilustrasinya.

Di buku dengan ilustrasi gambar mata di covernya ini juga dijelaskan pentingnya persepsi dan sugesti dalam kegiatan pembelajaran. Robert Rosenthal dan Lenore Jacob melakukan sebuah tes untuk membuktikannya. Kedua peneliti tersebut memberi tahu kepada para guru bahwa berdasarkan test yang dilakuakn kepada sejumlah murid diketahui bahwa siswa A, B dan C akan meraih sukses akademis dibandingkan dengan siswa yang lain.

Pada akhirnya anak-anak yang disebutkan itu meraih prestasi akademis yang kebih unggul. Fakta yang luar biasa adalah sebenarnya kedua peneliti tersebut tidak pernah melakukan test (hanya test fiktif belaka). Hal ini membuktikan betapa besarnya pengaruh persepsi dan sugesti meskipun hal itu berasal dari luar (dari guru bukan dari siswa sendiri).

Bagaimana persepsi terbentuk?

Sebuah persepsi terbentuk dan melekat di dalam pikran kita. Awalnya bisa berupa pengalaman empiris. Misalkan kita pernah kena damprat oleh salah satu guru kita karena kesalahan kita. Hal itu bisa menjadi sebuah persepsi yang selalu melekat, akibatnya kita menjadi kurang suka terhadap guru tersebut dan berimbas pada menurunnya nilai pelajaran yang diampu guru bersangkutan.

Selain itu persepsi bisa terbentuk dari pengalamn induktif (dari pengalaman orang lain yang kita dengar). Yang terakhir persepsi muncul dari self-talk. Self-talk sendiri merupakan ucapan-ucapan yang kita sadari atau tidak selalu kita ucapkan kepada diri kita.

“Hampir setiap hari kita melakukan self-talk antara 10.000 kali dalam 1 hari dan sebagain besar dari self-talk itu berisi hal yang negatif” – Deepak Chopra

Bagaimana mengaktifkan pikiran bawah sadar?

1. Mulailah dengan antusias

Emosi dan pembawaan pengajar membawa dampak besar bagi situasi pembelajaran untuk itu mulailah dengan antusias dan tebarkan semangat di ruang kelas.

2. Mulailah dengan cloning

Melakukan aktivitas (gerakan/ucapan) bersama-sama dengan siswa memberikan pengaruh yang penting karena pada hekekatnya manusia senang dengan manusia lain yang memiliki kesamaan.

3. Lanjutkan dengan cerita

Setiap orang pasti tertarik mendengar cerita, tidak harus cerita yang panjang Karena hanya untuk menarik perhatain siswa. Usahakan menceritakan kejadian sehari-hari yang alami, ekpresif, melibatkan emosi dan fun.

Bagaimana melejitkan potensi siwa dengan hipnotis?

Novian menjelaskan dalam bukunya bahwa siswa harus diajak berimajinasi melalui pertanyaan ajaib. Apa itu pertanyaan ajaib? Pertanyaan ajaib adalah pertanyaan yang membuat siswa mampu berimaginasi terhadap pencapaiannya yang luar biasa. Terkadang kita sulit mencapai keberhasilan karena kita tidak pernah membayangkan (bermimpi) kebaiakn-kebaiakan yang akan kita peroleh jika kita berhasil. Jadi semua itu berawal dari mimpi. Bagaimana kita bisa berhasil apabila untuk memimpikannya saja tidak pernah?

Perhatian kita sebagai pengajar, sekecil apapun juga mampu mengipnotis siswa untuk simpati kepada kita dan lebih tertarik untuk mempelajari pelajaran yang kita ampu. Berkaitan dengan perhatian kepada siswa, di buku ini dijelaskan pula istilah tabungan perhatian. Yaitu sebuah istilah untuk reward bagi siswa. Membaca buku setebal 144 halaman ini tidak hanya memberikan saya banyak ilmu sebagai seorang pengajar tetapi menyadarkan saya untuk berfikir positi terhadap diri saya sendiri. Saya pasti bisa, begitu juga sobat! Let’s keep dreaming!

I\m Sorry Good Bye!Judul di atas mirip lagunya KD (Kris Dayanti) ya kan? tapi kisah yang mau aku ceritakan tidak ada kaitannya dengan lagu tersebut. Tahun ajaran baru ini saya membuat sebuah keputusan yang mengharuskan saya untuk tidak lagi mengajar di sekolah dasar dimana enam bulan terakhir ini saya tekuni. Dengan keputusan tersebut maka saya tidak lagi masuk ke ruang kelas dimana terdapat bocah-bocah kecil yang sibuk menjahili temannya ketika saya memberi tugas menulis. tidak juga menjumpai siswa saya yang selalu maju ke depan kelas dan menanyakan setiap huruf yang saya tuliskan di papan tulis. Tidak pula menjumpai Naeli yang suka menarik-narik baju saya atau Dimas yang suka klotekan (red, memukul-mukul meja) dan berbagai tongkah polah lucu anak didik saya.

It's hard for me to say good bye…. hiks,,,huaaaaaa!!!!!!!! (menangis menghadap dinding sambil pukul-pukul dinding) but I'm sure everything is gonna be okay. Keputusan meninggalkan sekolah dasar saya buat semata karena pilihan karir, dengan pertimbangan rasional tentunya. Sebenarnya bagi saya pribadi tidak ada kata bosan apalagi tidak krasan dengan lingkungan kerja sebagai guru SD. Meskipun sebagai Guru Tidak Tetap (GTT) terkadang saya diposisikan sebagai juru ketik (membantu mengurusi administrasi sekolah), namun nyatanya justru saya banyak belajar dari situ. Ditambah lagi rekan-rekan guru yang hampr semuanya sebaya dengan orang tua saya perhatiannya kepada saya seperti kepada anak mereka sendiri, membuat saya nyaman dan benar-benar merasa diterima sebagai keluarga.

Namun bagaimanapun juga dengan background saya yang lulusan pendidikan bahasa Inggris dan kebijakan pemerintah yang belum memihak lulusan bahasa Inggris sebagai guru tetap (PNS) bikin saya jadi mikir. Faktanya pelajaran bahasa Inggris di SD hingga kini masih menjadi muatan lokal dan belum menjadii mata pelajarann inti. Padahal bahasa Inggris sudah menjadi kebutuhan. Hingga akhirnya sebuah tawaran untuk mengajar bahasa Inggris di SMP swasta menghampiri saya dan saya putuskan untu menerima tawaran itu.
Kebetulan kepala sekolah SMP tersebut adalah alumni Beswan Djarum juga yang sudah saya kenal akrab semenjak menjadi Beswan Djarum lantaran di Kudus komunikasi Beswan Djarum antar angkatan berjalan sangat baik dan kontinyu, apalagi dengan kepercayaan dari PT Djarum kepada kami melalui berbagai kegiatan yang melibatkan Beswan Djarum Kudus lintas angkatan. Jadi menerima Beasiswa Djarum tidak hanya memberikan saya banyak bekal softskill tetapi juga jarngan yang membantu saya di bidang karir.

Hari ini, Jumat (29/7) bapak dan Ibu guru di SD tempat saya mengajar dulu mengadakan sebuah ceremony perpisahan yang bertujuan untuk melepas kepergian saya dari SD tersebut. Bagi saya hal tersebut merupakan sebuah apresiasi yang besar, mengingat sedikitnya kontribusi saya bagi SD tersebut. Sebulan sebelumnya saya sudah berpamitan kepada semua bapak ibu guru. Saat itu saya hanya bisa meninggalkan tanda mata berupa microphone, kenapa microphone karena saya teringat beberapa minggu sebelumnya ketika SD menggelar pelepasan siswa kelas enam salah satu microphone yang digunakan untuk acara tersebut rusak sehingga acara agak terganggu. Dan benda yang nominalnya tidak seberapa itulah yang saat itu mampu saya beli dan saya berikan sebagai tanda terima kasih kepada sekolah yang memberikan saya kesempatan untuk mengaktualisasikan ilmu saya unuk pertama kalinya. Saya sisipkan pula secarik kertas berisi ucapan terima kasih sekaligus permintaan maaf di sela-sela microphone yang saya bungkus rapi.
Dan hari ini Kepala SD mewakili pihak sekolah dan bapak ibu guru memberikan sesuatu yang bermakna dan akan saya ingat terus. Sebuah ceremony perpisahan bagi saya sudah meruakan penghargaan besar, namun tidak hanya itu sekolah memberikan saya sebuah kenang-kenangan. Bukan isi dari bingkisan itu yang membuat saya terkesan melainkan sebuah pesan yang disisipkan bersamaan bingkisan tersebut.

Milikilah hati yang tidak pernah membenci,

Milikilah kata yang tidak pernah menyakiti,

Milikilah senyum yang ikhlas dan menyejukkan,

Belajarlah dari masa lalu,

Kerjakan hari ini,

Berharalah hari esok,

Walaupun pesan tersebut sangat sederhana, tapi memiliki arti yang dalam bagi saya I will always remember those words.

I\m Sorry Good Bye!

Rombongan study Tour Kelas Les Djarum untuk Lingkungan

Judul di atas menjadi jargon sebuah kegiatan di kelas les gratis Djarum untuk lingkungan yang diselenggarakan Selasa (28/6) di Semarang dan Ungaran .Bagi Beswan Djarum kelas les ini pasti tidak asing lagi. Just to remind, kelas les gratis yang diadakan Djarum dengan Beswan Djarum sebagai pendampingnya ini cuma ada dua lho di dunia, yaitu di kota Semarang dan di Kabupaten Kudus. Kebetulan kelas les yang berada di Kudus letaknya satu lingkungan dengan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Djarum di Desa Gribig. Ingat kan waktu factory visit, tempat pengolahan limbah yang menghasilkan kompos? Nah disitulah tempatnya.

Meskipun sudah alumni, Alhamdulillah bersama beberapa alumni yang lain saya masih dipercaya untuk menjadi pendamping di kelas les tersebut. Nah hari Selasa lalu, kelas les gratis menyelenggarakan kegiatan tahunannya yaitu Study Tour. Kegiatan yang biasanya diadakan pada waktu liburan kenaikan kelas tersebut berisi berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi adik-adik les (sapaan untuk anak-anak les gratis Djarum untuk lingkungan) yang meliputi , wisata museum, outbound, lomba cerdas cermat, bermain di water park, lomba yel-yel, pentas seni, dan penyerahan hadiah untuk adik-adik berprestasi.

I\m Sorry Good Bye!

Serunya Outbond (Mpe gitu ya...hihi...:) )

Acara yang diketuai Ade Maulana, Beswan angkatan 26 tersebut berlangsung lancar. Diawali dengan mengunjungi museum Mandala Bhakti, adik-adik dikenalkan dengan para pahlawan yang memperjuangkan dan mempertahankan NKRI. Meskipun tampak kusam dan agak kurang terawat karena wisata museum sudah mulai jarang diminati, adik-adik terlihat tetap excited dengan penjelasan pemandu yang menjelaskan sejarah dibalik berbagai benda yang terdapat di museum tersebut.

I\m Sorry Good Bye!

Menatap Lukisan "Kesaktian Pancasila" at Musium Mandala Bhakti

Selesai tour mengelilingi museum dua lantai tersebut rombongan kami yang berjumlah 145 orang tersebut lantas menuju Fountain Water Park, yaitu sebuah taman air yang juga menyediakan sarana outbond dan tempat gathering. Sampai di lokasi rombongan kami makan siang bersama dan dilanjutkan dengan kegiatan lomba cerdas cermat dan oubond. Dari sejumlah permainan outbond yang paling seru adalah permainan bernama “Lumpur Lapindo”, dimana adik-adik berlomba dalam tim mengambil bendera dengan cara melewati batang kayu yang dibawahnya terdapat kubangan lumpur. Banyak adik-adik yang “bertumbangan” jatuh ke kubangan lumpur, namun tawa riang selalau melekat di bibir mereka, maklum anak-anak malahan senang kalau diajak berkotor-kotor ria heheh…

I\m Sorry Good Bye!

Adik-adik sebelum menampilkan tari saman

Kegiatan dilanjtkan dengan berenang di kolam renang. Sorenya, disusul dengan lomba yel-yel. Adik-adik sudah bersiap dengan yel kelompok masing-masing, suara mereka lantang tak mau kalah dengan kelompok lain. Dari lagu tradisional, lagu koleksi Trio Kwek-Kwek sampai lagunya Wali dijadikan nada yel-yel mereka. Selanjutnya yang tak kalah seru adalah penampilan adik-adik yang menampilkan tarian saman, meskipun banyak gerakan yang salah mereka tetap menghibur. Ditambah lagi penampilan adik-adik yang bernyanyi dan berjoget diiringi tifa mungil dan kecrekan. Yang menabuh pun tak kalah mungil namun mampu menimbulkan bunyi yang membuat semua ingin berjoget. Akhirnya acara ditutup dengan pengumuman kelompok terbaik, terlucu, terkompak, lalu pemyerahan hadiah untuk siswa berprestasi dan siswa teladan. Pokoknya semua dapat hadiah dan semua senang. Semoga adik-adik makin semangat belajar!

I\m Sorry Good Bye!Pernah nggak ngamatin perilaku anak SD masa kini? Coba saja masuk ke salah satu kelas di sekolah dasar sobat akan mengetahui sendiri bagaimana perilaku mereka. Di kelas saya ada anak yang berlarian kesana kemari saat saya mengajar itu biasa, ada yang usil menjahili temannya juga biasa, ada yang selalu maju ke depan papan tulis untuk menanyakan setiap huruf yang saya tulis di papan tulis ini agak luar biasa, ada pula yang mengenakan pengikat kepala ala Naruto. God! What’s wrong with this kids? There’s nothing like that when I was in elementary school.

Tak apalah, selama perilaku mereka tidak menodai hakekat suci dari kegiatan belajar mengajar (helehopo kuwi?). Yang jelas saya selalu menganggap itu sebagai bentuk kreativitas. Naeli, siswa saya kelas 1, suka menarik-narik baju saya saat lewat di samping bangkunya, ada juga yang mengomentari jerawat di pipi saya. Sungguh kreatif bukan? Amatilah pula bagaimana anak-anak ini berkomunikasi dengan guru mereka atau orang dewasa lainnya. Sobat pasti akan menjumpai anak-anak yang tidak sungkan untuk mengutarakan apa yang mereka pikirkan, dan mereka rasakan, lebih tepatnya dalam berekspresi secara verbal. Hal ini bisa jadi pertanda bagus. Artinya siswa tidak merasa terjebak dalam sistem yang kaku dimana ide atau gagasan siswa bukan hal penting, karena guru selalu benar dan murid dilarang “ngeyel”. Tapi terkadang komunikasi siswa dengan guru itu hampir-hampir seperti komunikasi dengan teman sebaya. Bagi sobat yang tinggal di Jawa, pasti tahu unggah-ungguh (tata karma) berbahasa dengan orang yang lebih tua. Biasanya jika berkomunikasi dengan menggunakan pilihan diksi lebih tepatnya tingkatan bahasa yang dikenal dengan kromo inggil.I\m Sorry Good Bye!

Ketika pertama kali mengajar di sekolah dasar beberapa siswa dengan seenaknya bertanya atau berbicara kepada saya dengan bahasa Jawa ngoko (bahasa Jawa untuk teman sebaya/selevel). Awalnya saya membiarkan hal itu, yang saya lakukan adalah mengamati terlebih dahulu. Beberapa hari kemudian saya mulai enggan menanggapi siswa yang berkomunikasi dengan saya menggunakan bahasa ngoko. Saya jelaskan kepada mereka pentingnya unggah-ungguh (tata karma) berbahasa. “Anak-anak mulai sekarang bapak tidak akan menanggapi atau menjawab pertanyaan siswa yang memakai bahasa ngoko,”tutur saya. Semua ,murid terdiam. “Kalian ini anak-anak berpendidikan, kalian harus tahu itu, orang-orang berpendidikan jika berbicara dengan orang yang lebih tua dalam bahasa Jawa gunakanlah bahasa kromo inggil. Jika kalian kesulitan bertanyalah dalam bahasa Indonesia yang sopan,” lanjut saya. “Mengerti?” tanya saya. “Ya, Pak….” sahut mereka bersamaan.

Bagi saya pribadi saya sangat senang dengan perkembangan anak pada masa sekarang dimana mereka tidak sungkan bertanya dan berekspresi. Namun, jika menjumpai anak yang kelewat aktif atau lebih tepatnya kurang mengharga orang yang kebih dewasa rasanya pengen saya jitak tuch anak. “Kagak pernah diajarin sopan santun apa?” ungkap saya dalam hati. Menurut sobat apa yang membuat anak-anak masa kini “kelewat aktif”? Faktor lingkungan, mutasi genetik, atau barangkali pengaruh global warming? ( hahahag….. :D) Silakan share.

*) studtitude = student’s attitude

Salam Beswan! Selamat pagi, siang, sore whenever you read this post. Berlanjut lagi nich cerita saya, oleh-oleh dari penataran Fasilitasi Pembinaan Penyelenggaraan Sekolah Inklusi. Bagi yang belum baca postingan sebelumnya wajib baca dulu the previous post . Kali ini saya tidak akan berbagi konten dari penataran yang saya ikuti, melainkan bercerita pengalaman luar biasa yang saya alami.

Hari ke tiga atau tepatnya hari terakhir penataran berisi agenda kunjungan ke kelas-kelas di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Semarang. Penataran yang saya ikuti bertempat di Balai Pelatihan Pendidikan Khusus (BP Diksus) yang kebetulan lokasinya satu lingkungan dengan SLB tersebut. Sehingga untuk berkunjung ke kelas-kelas di sekolah tersebut tidak perlu naik becak apalagi taxi haha…. I\m Sorry Good Bye!

Masuk ke kelas-kelas yang berisi tiga sampai lima anak berkebutuhan khusus sungguh menjadi pengalaman yang mengharukan sekaligus menakjubkan. Kelas-kelas tersebut berisi siswa-siswa dengan kebutuhan yang sama. Ada satu kelas yang berisi tiga anak lelaki usia delapan sampai sembilan tahun yang sedang belajar bersama seorang guru dan pendamping guru. Salah satu diantara ketiga siswa tersebut adalah tuna ganda (tuna netra dan tuna grahita), sementara yang lain adalah tuna netra.

I\m Sorry Good Bye!

Seorang anak tuna ganda sedang bernyanyi

Ketika kami (peserta penataran) masuk ke dalam kelas beberapa dari kami menyalami anak tersebut. Anak yang menderita tuna ganda tersebut menolak disalami, sejurus kemudian sang guru berkata “Maaf Bu, Pak, siswa ini agak kurang terbuka dengan orang asing, mohon maklum,” jelasnya. Kami pun memaklumi keadaan itu, dan terus memperhatikan kegiatan mereka belajar. Tiba-tiba “Bu saya mau nyanyi..” tutur bocah tuna ganda tersebut. Sang guru dan beberapa peserta yang berada dalam kelas menyambut gembira keinginan anak tersebut. Kemudian sebuah lagu mengalun dari bibirnya. Saya tidak tahu lagu apa yang sedang ia nyanyikan, yang jelas ia terlihat sangat menikmati nyanyiannya. Diiringi tepukan tangan mungilnya dan anggukan kepala sang anak melantukan lagu, hingga dua buah lagu ia dendangkan. Saya sempat haru melihat semangat anak tersebut menyanyi.

Kami pun melanjutkan ‘tur’ ke kelas-kelas yang lain. Berikutnya saya melihat seorang anak tuna netra belajar baris-berbaris. Anak lelaki yang tak mampu melihat itu harus berusaha keras untuk jalan di tempat. Bayangkan jika sobat tidak pernah melihat kaki sobat sendiri apalagi melihat bagaimana orang melakukan jalan di tempat dan diminta untuk melakukan jalan di tempat. Betapa sebuah perjuangan besar bagi anak itu hanya untuk jalan di tempat. Sang guru nampak sabar mengangkatkan kaki anak satu persatu tersebut hingga pahanya rata-rata air. Rasa haru kembali muncul di benak.

I\m Sorry Good Bye!

Siswa tuna grahita menyulam taplak meja

Pemandangan yang saya lihat tak semuanya nampak ‘indah’. Di sebuah kelas khusus anak tuna grahita nampak beberapa siswa meronta ingin keluar, sementara yang lain nampak sibuk mewarnai gambar. Ada juga anak tuna grahita yang tidak bisa duduk diam, dia selalu berjalan kesana kemari. Di kelas yang lain seorang anak tuna daksa berlatih keras menyususn balok kayu dengan tangannya yang bengkok akibat urat saraf yang tertarik (cacat bawaan). Di ruang terapi seorang anak autis sedang diterapi motorik. Mereka merangkak di atas matras didampingi seorang terapis dan asistennya.

Ketika sedang berjalan menuju ke kelas berikutnya, saya sempat terkejut ketika rombongan anak-anak tiga sampai enam tahun yang berjalan beriringan sambil bergandengan tangan sempat menabrak saya. Ditelinga mereka nampak menempel sebuah alat bantu pendengaran. Ya… rombongan anak-anak mungil yang nampak lucu dan menggemaskan itu adalah tuna rungu dan tuna wicara. Tapi yang mengagumkan dari mereka adalah mereka mampu mengikuti instruktur guru dengan baik. Hal ini sempat disimulasikan dalam penataran.

I\m Sorry Good Bye!

Siswa autis melakukan terapi fisik

Sehari sebelumnya salah seorang narasumber dalam penataran. Ciptono yang merupakan kepala sekolah  luar biasa (SLB) negeri Semarang sempat menceritakan betapa sebuah perjuangan besar bagi dirinya untuk merintis sekolah tersebut. Berawal dari sebuah sekolah yang menggunakan balai RW sebagai kelas dan sempat berpindah ke garasi rumah miliknya, sekolah yang dirintis Ciptono untuk anak-anak berkebutuhan khusus ini sempat mengalami pasang surut. Dengan dedikasinya dan dukungan dari orang tua/wali murid sekolah ini pun berkembang hingga sekarang.

I\m Sorry Good Bye!

Siswa tuna rungu membuat bakpao untuk dijual di kantin sekolah

Sekolah luar biasa ini pun telah menghasilkan anak-anak luar biasa yang mampu menunjukkan bakat dan potensinya. Andi Wibowo, Gigih Prakoso, Bambang Purwanto, Delly Meladi, dan Kharisma Rizki Pradana adalah sedikit contoh anak-anak berkebutuhan khusus yang tidak bisa sobat lihat sebelah mata. Selain masing-masing pernah meraih rekor MURI, keajaiban mereka sangat menakjubkan.

I\m Sorry Good Bye!

Anak tuna netra sedang latihan jalan di tempat

Andi Wibowo yang disebut idiot justru bisa menghasilkan lukisan-lukisan dahsyat dengan dua tangan bersamaan. Gigih Prakoso yang tangannya tidak berfungsi malah sangat berprestasi. Gigih dapat menulis dan membuat kerajinan dari manik-manik dengan kakinya. Bambang Purwanto yang tunagrahita hafal 200 lagu. Delly Meladi yang juga tunanetra hafal 650 lagu. Kharisma Rizki Pradana yang autis sangat ajaib karena dapat menirukan dan menghafal apa pun dengan cepat. Bahkan Kharisma menjadi anak autis pertama di dunia yang memasuki dunia rekaman.

Kisah perjuangan Ciptono memunculkan bakat luar biasa anak-anak didiknya dan kisah mengharukan para anak didik Ciptono ditulis lengkap oleh Ciptono dan temannya, Ganjar Triardi dalam sebuah buku berjudul “Guru Luar Biasa: Membangun Sekolah Luar Biasa dari Garasi hingga Raih 9 Rekor MURI”. Ciptono dan beberapa anak didiknya termasuk Kharisma sempat diundang di acara talk show Kick Andy untuk berbagi inspirasi dengan masyarakat Indonesia. Tahun 2010 Ciptono mendapat penghargaan dari Kick Andy sebagai pemenang The Heroes 2010 atas dedikasinya di dunia pendidikan khususnya untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

I\m Sorry Good Bye!

Ciptono, Kepala SLB Negeri Semarang 9courtesy of kickandy.com)

Itu baru sedikit potret anak-anak berkebutuhan khusus yang memiliki kemampuan luar biasa ketika dididik dengan tepat dan oleh orang tepat. “Menjadi anak berkebutuhan khusus bukan akhir segalanya,” tutur Ciptono. “Anak-anak berkebutuhan khusus bila kita didik, kita arahkan, dan kita bimbing dengan sepenuh hati akan menjadi anak bertalenta luar biasa,” tambahnya. Hal ini dapat dilihat pada anak-anak didik Ciptono di SLB Negeri Semarang. Bagi saya sosok heroes bukan hanya untuk Ciptono melainkan juga bagi seluruh anak-anak luar biasa yang saya jumpai disana atas kerja keras, semangat dan motivasi yang kuat untuk mengembangkan diri dan tidak tekurung dalam ketidakberdayaan. Sungguh inspirasi yang luar biasa bagi saya telah bertemu dengan the real heroes. I\m Sorry Good Bye!

I\m Sorry Good Bye!Minggu (22/5) petang, saya mendapat telpon dari Kelapa Sekolah tempat saya mengajar. Ada tugas dadakan. Saya dan seorang guru yang lain diutus untuk mengikuti penataran di Semarang. Semua serba mendadak dan tidak jelas. Ketika saya menanyakan tema dan lokasi tepatnya penataran diselenggarakan, Kepala Sekolah pun belum tahu, lantaran pemberitahuan dari dinas pun mendadak. Saya diminta menanyakannya langsung ke kantor dinas sekaligus meminta surat tugas. Mendengar tawaran kepala Sekolah saya befikir sejenak dan sesaat kemudian mengiyakan untuk mengikuti penataran tersebut. Dalam benak saya yang terpikit hanya pengalaman baru yang berarti adalah ilmu baru dan bahan fresh buat tulisan saya di blog.

Walhasil Senin pagi saya pergi ke kantor Dinas sebelum berangkat ke Semarang. Dari surat tugas tersebut barulah saya mengetahui bahwa penataran yang saya ikuti adalah penataran “Fasilitasi Pembinaan Penyelenggaraan Sekolah Inklusi”. Apa ini? Tak ada clue sedikitpun di benak saya untuk mendreskripsikan isi atau gambaran akan seperti apa penataran itu.

Usut punya usut setelah mengikuti seminar saya baru mudeng mengenai penataran tentang apa yang saya ikuti ini. Rupanya yang dibahas disini yaitu mengenai bagaimana sebuah sekolah inklusi memberikan pelayanan kepada peserta didik.

Apa Itu Sekolah Inklusi?

Sekolah inklusi adalah sekolah regular yang menerima anak berkebutuhan khusus (ABK) dan menyediakan system layanan pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan anak tanpa kebutuhan khusus (ATBK) dan ABK melalui adaptasi kurikulum, pembelajaran, penilaian, dan sarpras. Siapa anak berkebutuhan khusus? Anak yang tergolong berkebutuhan khusus diantaranya yaitu tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunagrahita, tuna daksa, tuna laras (anak dengan gangguan emosi, sosial dan perilaku), tuna ganda, lamban belajar, autis, dan termasuk pula anak dengan potensi kecerdasan luar biasa (genius).

Mengapa harus ada sekolah inklusi? Setiap orang memiliki hak yang sama untuk memperoleh manfaat maksimal dari pendidikan. UUD 1945 pasal 31 ayat (2) mengamanatkan bahwa setiap warga Negara mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan. Jadi semua orang berhak sekolah. Rupanya keberadaan Sekolah Luar Biasa (SLB) yang terbatas dalam hal jumlah ketersediaan sekolah kurang bisa mengakomodir anak berkebutuhan khusus. Sobat bisa amati, berapa banyak jumlah sekolah luar biasa di kota sobat. Tidak banyak bukan? Selain itu tidak semua ABK mampu menjangkau akses sekolah tersebut. Hal ini mungkin berbeda dengan kota besar yang mungkin lebih banyak terdapat sekolah luar biasa, namun terkadang biaya sekolah yang mahal juga menjadi alasan ABK tidak mampu bersekolah.

Dengan adanya sekolah inklusi ABK dapat bersekolah di sekolah regular yang ditunjuk sebagai sekolah inklusi. Dimana sekolah tersebut juga menyediakan guru pembimbing khusus dan sarana prasarananya. Setelah saya mengikuti penataran ini saya baru sadar kenapa saya duduk sebagai peserta disana, yaitu karena sekolah saya termasuk sekolah inklusi. Hahaha….saya baru tahu itu. Maklum saya termasuk guru baru di sekolah, saya juga belum tahu-menahu sosialisasinya selama saya di sekolah. Disamping itu ABK di sekolah saya ternyata semuanya adalah masuk kategori lamban belajar, jadi pantas kan kalau saya tidak tahu.

Bagaimana Sekolah Inklusi Memberikan Pelayanan ABK?

Sekolah inklusi adalah sekolah regular (biasa) yang menerima peserta didik dengan latar belakang apapun, termasuk anak berkebutuhan khusus. “Asal berupa manusia, pasti diterima” demikian celetuk Drs. Subagya, M.Si, salah satu pemateri penataran dan juga dosen UNS tersebut. Lantas bagaimana sebuah sekolah regular memberikan pelayanan bagi anak yang berkebutuhan khusus dan anak tanpa kebutuhan khusus secara bersamaan. Menurut Subagya, sekolah inklusi tetap melibatkan ABK dalam kelas regular dan dalam kegiatan belajar mengajar di dalamnya. Bagi ABK dengan kategori tuna daksa (cacat fisik) misalnya mungkin tidak akan mengalami kesulitan dalam mengikuti pembelajaran di kelas regular sebab mungkin dia hanya memiliki keterbatasan mobilitas.

Namun untuk ABK dengan kategori seperti tunanetra, tunarungu, tuna grahita, dan autis misalnya, beberapa kesempatan tertentu ABK tersebut di masukkan di dalam ruang khusus untuk ditangani guru khusus dengan kegiatan terapi sesuai kebutuhan. Anak-anak berkebutuhan khusus tersebut juga tetap bisa belajar di kelas regular dengan guru pendamping bersamanya selain guru kelas. Berikut ini model pengelolaan ABK di sekolah inklusi:

I\m Sorry Good Bye!1.Kelas regular/ inklusi penuh

Yaitu ABK yang tidak mengalami gangguan intelektual mengikuti pelajaran di kelas biasa.

2. Cluster

Para ABK dikelompokkan tapi masih dalam satu kelas regular dengan pendamping khusus.

3. Pull out

ABK ditarik ke rang khusus untuk kesempatan dan pelajaran tertentu, didampingi guru khusus.

4. Cluster and pull out

Kombinasi antara model cluster dan pull out.

5. Kelas khusus

Sekolah menyediakan kelas khusus bagi ABK, namun untuk beberapa kegiatan pembelajaran tertentu siswa digabung dengan kelas regular.

6. Khusus penuh

Sekolah menyediakan kelas khusus ABK, namun masih seatap dengan sekolah regular.

ABK Tidak Perlu Ikut Ujian Nasional

Setiap anak memiliki kemampuan berbeda termasuk ABK. Bisa jadi ABK memiliki kecerdasan rata-rata atau bahkan di atas rata-rata. Untuk ABK dengan kecerdasan semacam itu bisa mengikuti ujian nasional. Namun untuk ABK dengan kecerdasan kurang seperti tuna grahita sedang sampai berat dan autis dengan kecerdasan kurang diperbolehkan tidak mengikuti ujian nasional. Jadi saat lulus sekolah anak tersebut hanya memperoleh Surat Tanda Tamat Belajar (STTB). Surat ini yang nantinya menjadi bekal ABK tersebut untuk melanjutkan ke sekolah inklusi jenjang berikutnya. Education for All!

(bersambung…..posting berikutnya menceritakan anak-anak luar biasa berbakat luar biasa dan sosok hero dibalik mereka yang saya temui saat penataran..ditunggu ya….  I\m Sorry Good Bye!