Tristyan's Story

Through Story Sharing My Thought

This is not the end” kata-kata yang aku buat untuk menutup lomba blog tahun lalu itu selalu membayangiku. Bagaimana tidak? Gara-gara tulisan yang aku buat dengan kesadaran penuh itu aku merasa bertanggung jawab atas kata-kata yang aku tulis. Jadi tulisan di blog yang aku posting sebagai artikel penutup itu bukan yang terakhir begitulah intinya. Susah bagiku untuk mulai menulis lagi di blog ini. Tapi aku gak pernah nyesel nulis kata-kata itu, itu sebagai pengingat buatku sendiri untuk selalu ngeblog. Pernah gak merasa benar-benar sibuk atau sebenarnya gak begitu sibuk amat, cuman malas untuk menulis sesuatu dan mempostingnya di blog? Nah kurang lebih itu yang aku rasain.

Well, terkadang mungkin kita berfikir gak ada sesuatu yang spesial yang bisa ditulis. Padahal sebenernya banyak, “BANGET!”, apa aja bisa kita tulis. Hal yang gak penting sekalipun,. Fiuh….. awal memasuki dunia kerja, yang bener-bener kerja juga jadi alasan sebenernya meski kerja gak begitu menyita waktu amat. Ya kesimpulannya emang lagi males lah pointnya.

Satu fakta yang membuat aku merasa senang dan tergugah menulis lagi, setelah melihat adik-adik Beswan Djarum 27 yang begitu semangat menulis di blog, terutama ketika event “Euforia Cinta” kemaren. Banyak banget penulis hebat nich! Salut buat kalian ya, semangat kalian menginspirasi.

Kalau sudah gini jadi inget kata-kata, salah seorang dosen. Biasakan menulis maka tulisan-tulisan itu akan mengalir seperti air. Benar juga ya ketika lama tidak menulis, memualinya susah.. Nulis gak seperti naik sepeda, yang meskipun udah lama banget gak naik sepeda kamu tetep bisa nggoes sepeda itu dengan mudahnya.

Menulis itu butuh dibiasain, dan bener juga ternyata kalau kita dah lama gak nulis itu rasanya nyeseg. Seperti nahan pipis atau pup. Sepertii menahan jutaan huruf, kata, kalimat, angka (kalau yang ditulis ada hubungannya ma itung2an) yang menyesaki otak, dan menulis itu melegakan. Semenit aja setelah ngetik tulisan ini serasa beban kegalauan berkurang, jiah….h aha…

Fuh (Menghela nafas)…. lega…… pokoknya gak mau ngedit tulisanku ini sebelum apa yang ada di kepala tertumpah. Apa aja dech pokoknya, dari hal yang gak penting sekalipun. Oh ya beberapa buan terakhir vakum nulis, mungkin juga karena keasyikan main dengan sahabat peliharaan saya Jacko dan Ocha. Jacko si kucing persia warna hitam dan Ocha si persia betina warna cream (wah kok jadi bawa-bawa kucing lagi ya).

Tapi jangan anggap aku ini seorang Ailurofilia* ya. Benar saya hobi piara kucing tapi masih taraf normal saya ini hehe…. Kenapa kucing? (biarin juga bahasannya jadi kemana-mana dech ya, yang penting nulis d^_^b) gak tahu kenapa ya aku suka banget sama yang namanya kucing bulu panjang, pokoknya yang berbulu-bulu panjang asalkan kucing suka.. inget khusus kucing aja ya, nggak yang lain.  Bagiku pesona kucing mengalahkan pesona Girlband K-Pop lah….. haha…

Yang suka kucing juga boleh kok bertukar info, atau ada niat mau piara kucing ayo saya bantu haha…. Entah kenapa kalau liat polah kucing yang cenderung anggun itu serasa menenangkan dan menghibur. Kalau gak percaya nich liat fotonya.

I\m Sorry Good Bye!

Jacko

I\m Sorry Good Bye!

Ocha

Piara kucing ras juga bisa jadi usaha sampingan lho? Beberapa catlovers yang punya koleksi banyak kucing, kucingnya beranak pinak dan diadopsikan ke pecinta kucing yang lain. Istiahnya memang adopsi, karena kucing bukan barang buat diperjual belikan. Jadi pihak adopter mengganti sejumah biaya perawatan plus pakan saja, seperti itulah kira-kira. Mungkin tulisan ini tidak begitu penting, apalagi menginspirasi, but surely it’s good for my health. For my writing habit. Thank you for reading.

*Ailurofilia adalah istilah yang sering ditujukan pada mania/penyayang kucing yang berlebihan.

Kemarin saya mampir ke Alfa Batik Kudus, produsen batik yang sempat saya muat di artikel Menoreh Canting, Merekonstruksi Budaya. Kali ini saya ke sana membeli batik titipan Yogi (Beswan Djarum Bandung angkatan 25). For you to know Yogi adalah salah satu pecinta batik dan bukan hanya itu dia juga jadi duta batik Jawa Barat (as the first runner up). Salut ya buat pemuda yang satu ini.

Lewat  hanphone Yogi mengontak saya dan minta tolong dibelikan batik. Rupanya dia sudah sempat browsing dan tertarik dengan salah satu motif, motif tari kretek.

I\m Sorry Good Bye!

Batik motif kretek yang dipilih Yogi.

Berangkatlah saya ke galeri yang juga sekligus workshop batik milik Fatkurahman tersebut. Kebetulan pengunjung sedang ramai, semuanya ibu-ibu dan gadis-gadis cantik dan rombongan girlband-nya. Wah saya cowok sendiri nich. Gak papalah, emang batik buat cewek aja. Sekalian ah liat-liat kemeja batik yang bagus-bagus. Nafsu konsumtif sempat muncul, untung bisa ditahan.

Beberapa menit kemudian dapat juga batik pesanan si Yogi. Ketika hendak pulang tiba-tiba hujan deras turun, sayangnya rombongan girlband tadi sudah pergi (maksdunya? Pengen terjebak hujan bareng girlband maunya haha…..) Tinggal saya sendiri di galeri. Fatkurahman  dan Ummu isterinya yang ramah dan baik hati mempersilakan saya untuk tetap tinggal, sambil menunggu hujan reda.

Hingga akhirnya kami ngobrol banyak hal tentang batik. Pasangan suami isteri tersebut, bercerita banyak , mengenai batik. Mereka juga menceritakan berbagai pengalaman memulai usaha dan perjuangan mereka melanglang buana untuk belajar dari para perajin batik di berbagai tempat yang kondang dengan batiknya seperti Cirebon, Solo, Pekalongan, Lasem dan lainnya. “Kalau mau belajar batik dari ahlinya kita harus mengeluarkan sejumlah dana untuk kompensasi, tapi ada juga yang mau menularkan ilmunya secara cuma-cuma,” ujar Fatkurahman. Wah luar biasa perjuangan mereka, mengingat usaha mereka benar-benar dimuali dari nol.

Fatkurahman juga menceritakan berbagai inovasi yang coba ia kembangkan salah satunya dengan mengembangkan kembali batik warna alam (batik yang menggunakan pewarna dari bahan alam; akar, batan, daun, bunga dsb).  Fatkurahman juga tak segan berbagi info tentang perawatan batik. “Batik itu jangan dicuci pakai sabun dan dicuci pakai mesin cuci, pakai ini mas (sambil menunjukkan buah kering, yang kemudian baru saya tahu itu namanya lerak), gosok-gosok leraknya sampai mengelaurkan busa lalu tambahkan sedikit air dan batik di kucek lalu direndam sebantar dan dibilas”

“Lerak? what the he** it that? Pikirku dalam hati. “Lerak ?” tanya saya dengan muka bodoh. “Iya, masnya belum tahu ya? Lerak itu buah yang bisa mengelaurkan busa yang digunakan untuk mencuci batik sejak zaman dahulu”. Wah saya sudah punya beberapa koleksi batik tapi selaman ini tidak saya rawat dengan baik, saya cuci pake detergen. Jadi muncul rasa bersalah yang sangat amat (a.k.a muncul lebay). Pantesan ya bebrapa batik saya terlihat bladus, rupanya salah penanganan.  Dan ternyata ada juga lerak dalam bentuk cair yang lebih praktis untuk mencuci batik. Mulai sekarang yuk pake lerak, selain menjaga kualitas batik juga lebih ramah lingkungan.  So, jika kamu ngaku sebagai pecinta batik, jangan hanya bisa koleksi harus tahu juga cara ngerawatnya. Bikinnya aja susah lho jadi kita harus menghargai kerja keras perajin batik. Love batik!

I\m Sorry Good Bye!

Ini yang namanya buah lerak saudara-saudara.

I\m Sorry Good Bye!

Sari Lerak, lebih praktis.


SEAGAMES XXVI segera berakhir. Nanti malam sudah ditutup denangan closing ceremony senilai triliunan (posted on 22/11, at 13.20) Sudah hampir dapat dipastikan Indonesia yang jadi juara umumnya. Tapi sempat kesal juga, Timnas kita gagal bawa emas karena kalah saat adu penalty. However, penalty is about luck factor. Mungkin sang Dewi Fortuna lagi enggan mampir ke Indonesia, dan lebih memihak Malaysia yang seolah dan kayaknya emang sengaja selalu bikin sakit ati kita (bangsa Indonesia). It’s fine coz that is not the end! Wah (lagi lagi) kayak judul postingan aku yang buat menutup artikel kompetisi blog.

Well, saya mau share fakta unik yang terjadi selama SEAGMES dihelat Indonesia di dua tempat terpisah, Palembang dan Jakarta. Suatu ketika ada foto spandung numpang lewat di wall facebook. Yang membuatnya semakin eye catching adalah tulisan yang terpampang di sanduk tersebut. Guys you must see this one!

I\m Sorry Good Bye!

Photo by : Itje Chodidjah

Foto tersebut diupload ke facebook oleh Itje Chodidjah, salah satu pakar kebahasaan (khususnya Inggris) yang juga pemerhati pendidikan. Spanduk pada foto itu dipampang di area SEAGAMES dimana atlet dan official 11 negara melihat dan menyaksikan spanduk yang keterlaluan itu.

Istihlah Jawa mengatakan “ngisin-ngisini” (mempermalukan), itulah kata yang tepat untuk menaggapi spanduk yang dibuat asal-asalan itu. Seorang komentator di facebook bahkan sempat memberi komentar rasa chili “Bahasa Inggris tukang becak di Malioboro aja kebih bagus dari bahasa Inggris yang bikin tuch spanduk!” Totally agree with that comment.

Pertanyaanya siapa sich yang tega membuat kata-kata semacam itu di acara setingkat ASEAN? Well, yang bikin memang individu guys, tapi itu mewakili kita semua, rakyat Indonesia. Gak kebayangkan bagaimana orang-orang Singapura, Filipina, Malaysia (apalagi), menertawakan kita! Tentu yang ditertawakan bukan personal itu harga diri bangsa dipertaruhklan (#mendramatisir). So guys, mari jangan menyepelekan hal-hal kecil semacam itu kalau kita mau jadi bangsa yang besar.

*Thanks buat mama Itje yang sudah memberikan izin buat share fotonya.

I\m Sorry Good Bye!

Pernah lihat Tongkonan? Rumah Gadang ? atau mungkin Honai? Mungkin ketiganya sudah familier. Kalau pun belum pernah melihat secara langsung paling tidak sobat pasti sudah pernah lihat gambarnya di atlas waktu pelajaran IPS di bangku sekolah kan? Itu hanya sebagian kecil dari rumah adat yang ada di beberapa daerah di Indonesia semua orang tahu itu hehe….

Tak mau kalah dengan daerah lain, di kota tempat saya bersemayam (macam penunggu pohon asem aja hihi…) juga ada rumah adat yang terkenal karena keindahan ukirannya. Apreasiasi masyarakat akan rumah adat Kudus pun terlihat semakin tinggi. Bahkan sejumlah artis ternama menghiasi rumahnya dengan ornamen rumah adat khas Kudus yang biasa disebut gebyok itu, sebut saja Alex Komang dan Ebiet G.A.D.

Beberapa minggu yang lalu saya mengunjungi museum kretek dimana salah satu rumah adat Kudus asli peninggalan masa lalu berada. Menatap bangunan kayu nan anggun itu saya merenung, sudah hampir 24 tahun saya menginjakkan kaki di bumi Kudus, kota kelahiran saya. Namun baru kurang lebih setahun silam saya tahu makna yang terkandung dari setiap jengkal ukiran yang menghiasi rumah yang terbuat 95 persen dari kayu itu. Sebagai mahasiswa ketika itu saya merasa bersalah karena kurang menghargai budaya lokal yang diwariskan nenek moyang saya.

Apalagi sebagai Beswan Djarum yang sudah mendapatkan berbagai pelatihan yang diberikan oleh Djarum Beasiswa Plus dan memiliki jaringan para Beswan Djarum seantero Nusantara saya merasa berkewajiban untuk memperkenalkan budaya yang ada di kampung halaman saya. Kok gak nyambung ya hehe….. Anyhow thanks for Djarum BeasiswaPlus yang membuat saya lebih peka terhadap berbagai persoalan termasuk dalam hal kesadaran menghargai budaya. Juga untuk mata kuliah Speech yang merupakan awal bagi saya mencari informasi lebih jauh mengenai salah satu warisan budaya asli Kudus tersebut, saat dosen pengampu meminta kami menjadi guide untuk bangunan Menara Kudus dan rumah adat saat itu.

I\m Sorry Good Bye!

Rumah Adat Kudus yang terletak di sebelah utara area Museum Kretek

Usia rumah adat asli peninggalan para pendahulu tersebut bisa mencapai puluhan hingga ratusan tahun. Daya tahan bangunan kayu tersebut ditopang oleh kuatnya serat-serat kayu jati yang sudah tidak perlu dipertanyakan kemenangannya melawan waktu (keawetannya, red).

Keunikan rumah ada Kudus juga terdapat pada teknik pembangunannya yang tanpa memakai paku (knock down). Menurut informasi dari beberapa artikel yang saya peroleh dari Yayasan Menara Kudus, bangunan rumah adat Kudus dipengaruhi oleh pengaruh berbagai budaya yang lama singgah dan sempat mempengaruhi arsitektur berbagai bangunan termasuk rumah adat. Pengaruh yang tergambar dari ukiran-kiran yang tampak pada berbagai sisi bangunan itu merupakan pengaruh dari seni ukiran Hindu, Cina, Eropa, dan Persia / Islam.

I\m Sorry Good Bye!

Ukiran motif bung adan tumbuuhan pengaruh budaya Persia yang dibawa para pedagang.

Bentuk ukiran dan motif ragam yang menghiasi rumah unik ini, diantaranya adalah pola kala dan gajah penunggu, rangkaian bunga melati (sekar rinonce), motif ular naga, buah nanas (sarang lebah), motif burung phoenix, dan masih banyak lagi yang masing-masing memiliki arti tersendiri. Ukiran buah nanas yang terpasang terbalik misalnya, merupakan salah satu simbol unik yang meniru filosofi hidup lebah, yakni bisa hinggap di mana saja tanpa merusak bunga yang dihinggapi, bahkan saling menguntungkan, bunga terbantu penyerbukannya dan lebah memperoleh madu. Sementara rangkaian bunga melati dalam ukiran gebyok sebagai simbol akhlak yang baik dan kesucian hati.

I\m Sorry Good Bye!

Ukiran motif nanas/ sarang tawon.

Menurut Moedjijono WZ, 1985 : 3-25 (dalam Ir. Aunurrofieq AD. MT.), arsitektur Jawa adalah arsitektur yang lahir, tumbuh, berkembang, didukung dan digunakan oleh masyarakat Jawa. Arsitektur Jawa lahir dan hidup karena ada masyarakat Jawa. Arsitektur Jawa sendiri memegang nilai fungsi dan filosofi Ayu, Ayem, Ayom. Ayu mengandung makna estetis, simbolis, kaya, atau jati diri. Ayom berarti teduh, rindang, terlindung dari kekuatan metafisik. Sementara Ayem bermakna kesejahteraan, keamanan, dan keselarasan. Terang filosofi tersebut merupakan harapan yang ingin diperoleh oleh masyarakat Kudus dari tempat bernaung dari terik dan hujan tersebut.

Secara umum rumah adat Kudus terdiri dari beberapa bagian diantaranya :

1. Jogosatru’ berfungsi sebagai serambi, atau ‘Pringitan’. Sekarang lebih banyak difungsikan sebagai ruang tamu. Terdapat soko geder/ tiang tunggal sebagai simbol bahwa Tuhan itu Esa dan penghuni rumah harus senantiasa beriman dan bertakwa kepada-Nya.

2. Ruang ‘Dalem’ disebut juga ‘omah jero’ berfungsi sebagai tempat tidur, tempat menyimpan barang berharga, dimana terdapat kamar yang di sebut juga ‘sentong’ dengan yang terdiri dari :

a. sentong kiwo’ (kiri)

b. sentong tengen’ (kanan)

c. sentong tengah’ atau ‘gedongan’.

Di dalam ruang dalem ini terdapat 4 buah soko guru./ tiang sebagai penyangga utama bangunan rumah melambangkan agar penghuni rumah menyangga kehidupannya sehari-hari dengan mengendalikan 4 sifat manusia : amarah, lawamah, shofiyah, dan mutmainnah.

3. Ruang ‘Pawon’ atau ‘gandok’ (rumah Kota Gede), berfungsi sebagai ruang makan, ruang kerja, ruang saji dapur kering untuk menyimpan makanan, dan atau dapur basah. Juga berfungsi sebagai tempat gudang serta berfungsi ruang keluarga.

4. Ruang dapur sering ditaruh di samping ruang ‘gandok/pawon’ yang merupakan tambahan ruang ke samping, namun ada juga penempatan dapur di luar rumah induk yaitu di depan rumah, letaknya depan ‘gandok’, di samping kamar mandi, atau dibelakang rumah induk, dibelakang ‘pawon

5. Pakiwan/ kamar mandi selalu terletak didepan rumah, di sebelah sudut kanan atau kiri.

6. Ruang tambahan di depan rumah sering di tambah ruang kerja posisi letaknya merapat pinggir kapling depan rumah, di depan MCK jadi berhadap-hadapan dengan rumah induk. Ruang tambahan ini biasanya di sebut ‘kantoran’. Juga berfungsi sebagai tempat tidur tambahan.

I\m Sorry Good Bye!

Jogosatru, dengan satu tiang penyangga yang menyimbolkan ke-Esaan Tuhan

I\m Sorry Good Bye!

Sentong Tengah’ atau ‘Gedongan

I\m Sorry Good Bye!

‘Pawon’ atau ‘gandok’ (rumah Kota Gede), berfungsi sebagai ruang makan, ruang kerja.

Kekhasan rumah adat Kudus juga terletak dari tatacara perawatannya yang dilakukan dengan cara tradisional dan turun-temurun. Bahan yang digunakan untuk perawatan merupakan ramuan yang diperoleh berdasarkan pengalaman empiris pemiliknya, yaitu ramuan APT (Air pelepah pohon Pisang dan Tembakau) dan ARC (Air Rendaman Cengkeh). Selain terbukti efisien dan efektif mampu mengawetkan kayu jati dari serangan rayap (termite) dan membersihkan, ramuan ini juga ramah lingkungan.

Keindahan dan keanggunan bangunan rumah adat Kudus bukkan semata menonjolkan kesejahteraan penghuninya. Lebih dari itu setiap bagiannya, baik itu berupa motif ukiran, bentuk dan penempatan bagian rumah adat Kudus mengandung pesan-pesan luhur berupa nilai yang disampaikan sebagai pengingat oleh nenek moyang kita untuk diteruskan dan dilestarikan dari generasi ke generasi. It’s really awesome!

I\m Sorry Good Bye!

Lampu Katrol dan berbagai ornamen rumah adat Kudus

I\m Sorry Good Bye!

Pagi itu saya sedang menaiki motor menuju ke rumah salah satu sanak saudara melewati berbagai bengunan, sekolah, toko, pom bensin yang dulunya hanya hamparan sawah-sawah padi dan tegalan yang dianami tebu. Seharusnya hari itu saya ke rumah nenek untuk sungkem lebaran seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi ada yang berbeda tahun ini, saya tidak lagi berkunjung ke rumah nenek yang kini kosong tanpa penghuni karena telah ditinggal oleh peghuninya untuk waktu yang lama. Selama-lamanya. Semoga beliau mendapat tempat yang terbaik disisiNya. Amin. Selama perjalanan, muncul sketsa-sketsa di kepala saya atas peristiwa-peristiwa yang saya lihat dan rasakan sebelumnya. Saat sanak-saudara, dan tetangga berdatangan ke rumah saya. Saat saya terlibat perbincangan dengan para perantau yang sukses berkarir di ibu kota, lalu muncullah renungan-renungan itu.

Apa arti lebaran? Selesai puasa sebulan apa yang kamu dapatkan? Kita berkoar seolah kita telah memenangkan peperangan sadis melawan ribuan tentara spartan. Tapi apakah kita sudah benar-benar menang. Menang melawan apa? Siapa yang berhasil kita kalahkan? Apa kita sudah merasa puas dengan kemenangan kita?

Ketika orang-orang yang berpuasa sebulan penuh, orang-orang yang berpuasa hanya di separuh bulan Ramadhan, orang-orang yang berpuasa satu dua hari saja selama Ramadhan dan orang-orang yang mengaku Islam tapi tidak menjalankan kewajiban puasa tumpah ruah menjadi satu di euforia kemenangan. Lalu siapakah yang paling berhak mengklaim kemenangan hakiki itu?

Tidak ada yang tahu. Sudah cukupkah amalan ibadah kita di bulan puasa tahn ini? Sudah benarkah kita menjalankan puasa? Apa di setiap detik dalam tiap hari selama Ramadhan kita terhindar dari perilaku menggunjing? Apa kita yakin tidak berdusta sedikitpun selama puasa. Yakin amal ibadah kita diterima? Hanya Allah SWT yang tahu. Kemenangan mana yang engkau sombongkan? Kemenangngan atas pencapaian karir dan strata ekonomi yang engkau pergunjingkan ketika bersua dengan sanak saudara, tetangga dan kerabat jauh? Itukah arti kemenangan bagimu? Kemenangan yang mana?

Semoga kita termasuk orang-orang yang diterima amal ibadahnya, kembali fitri di hari raya Idul Fitri 1432 H, dan semoga masih diberi kesempatan untuk menyapa Ramadhan berikutnya. Amin…

I\m Sorry Good Bye!

Selamat datang di postingan terbaru saya. Yach…. di malam takbiran seperti ini saya masih sempat menulis di blog. Awalnya sich karena gak ada kerjaan memang, akhirnya memilih online saja. Hingga kemudian saudara Sepri Subarkah menyapa saya lewat chat facebook memberi ucapan lebaran dan tiba-tiba menantang saya untung cepet-cepetan update di blog. “Oke Sepri, saya terima tantangannya…haha….”. Bikin tambah semangat posting nich I\m Sorry Good Bye!

Suatu ketika kami mengadakan rapat bulanan di kantor perwakilan Djarum Beasiswa Plus di Pati. Saat itu kami membahas rencana pelaksanaan rapat tengah bulanan. Rapat tengah bulanan adalah rapat yang kami selenggarakan di rumah Beswan Djarum secara bergantian, macam arisan gitu. Jadi sambil rapat kita bisa silaturahim keliling ke masing-masing keluarga Beswan Djarum. Bonusnya adalah wisata kuliner, bisa wisata ke tempat-tempat keren juga kalau kebetulan rumah Beswan Djarum yang kita datangi dekat dengan lokasi wisata seperti pantai dan tempat menarik lain.

Dari hasil rapat, Nyna terpilih sebagai tuan rumah rapat tengah bulanan berikutnya. Kebetulan saat itu pembinan kami Pak Junaedi Tan, meluangkan waktunya untuk join dalam rapat di kantor beliau tersebut. Pak Jun biasanya sering meluangkan waktunya untuk sekedar mendengarkan dan memberikan masukkan saat kami melakukan rapat bulanan di kantor tersebut. Beliau juga sering bagi-bagi ilmu, terutama kaitannya dengan analisis, beliau sangat kritis dan cerdas. Sungguh panutan yang bagus buat kami. Salut buat dedikasi beliau, meskipun beliau sibuk tetep memperhatiakan “anaknya” hehe…..

Hasil rapat sudah disepakati kalau rapat tengah bulanan akan diadakan di rumah Nyna. “Pak Jun kalau ada waktu juga bisa gabung sama kami Pak,” ucap saya sambil melirik ke arah Pak Jun. Ajakan atau lebih tepatnya undangan tersebut saya sampaikan ke Pak Jun sebagai penghargaan terhadap beliau yang perhatian sekali kepada kami. Kami akan sangat senang jika beliau benar-benar hadir tapi tidak pernah berharap banyak karena kesibukan beliau. “Di rumah Nyna ya? Rumahnya mana sich?” tanya Pak Jun.

Singkat cerita hari kami semua sudah berada di rumah Nyna untuk melaksanakan rapat tengah bulanan. Seperti biasa camilan memenuhi karpet sebagai alas kami duduk. Sebagai tuan rumah biasanya anak-anak Beswan Djarum ingin menjamu teman-temannya sebaik mungkin. Juga karena tahu kalau anak Beswan Djarum Kudus doyan ngemil makanya setiap ada rapat bulanan berbagai camilan dari gorengan sampai wajan dan kompor tersaji di depan kami (hiperbola dikit boleh dong hihi…).

Cuaca hari itu memang kurang bersahabat. Hujan turun lumayan deras mengiringi sepanjang rapat yang lebih banyak candanya daripada seriusnya tersebut. Tiba-tiba ditengah rapat saya mendapat panggilan telepon. Rupanya Pak Jun yang menelepon saya. “Halo, Bowo ini saya di depan Mie Teb**, rumah Nyna sebelah mana ya?” tanya Pak Jun via handphone. Saya langsung menjawab telepon tersebut dengan setengah tak pecaya. Tak percaya kalau Pak Jun yang kantornya berada di Pati mau mampir ke rumah Nyna di Kudus, apalagi di tengah cuaca hujan deras seperti ini.

Dengan berbekal payung segera saya menjemput Pak Jun yang sudah berada di ujung gang dekat rumah Nyna. Air hujan yang menggenang cukup untuk menenggelamkan sepatu Pak Jun tersebut tak menyurutkan niat beliau untuk hadir di tengah-tengah kami. Salut buat Pak Jun. Kedatangan Pak Jun hari itu bagi kami bak seorang bapak yang menjenguk anaknya di perantauan (lagi-lagi lebai dikit boleh dong haha….). Banyak hal yang kami diskusikan saat itu. Kebetulan ketika itu kami sedang dihadapkan dengan persoalan internal. Pak Jun sempat sharing mengenai pengalamn hidupnya. Hal itu membuat kami semakin termotivasi. Bahkan kami sempat larut dalam keharuan ketika beberapa dari kami ikut-ikutan curhat. Suasana kekeluargaan tersebut berlangsung cukup lama dan tak terlupakan bagi kami. That was another unforgettable story of Beswan Djarum I\m Sorry Good Bye! (bersambung)

I\m Sorry Good Bye!

Ketemu lagi di seri Beswan Djarum Unforgattable stories, yang belum baca postingan sebelumnya stop dulu… ayo baca the previous post (maksa.org). Setelah selesai mengikuti Achievement Motivatioan Training (Outbound) di Lembang, Bandung. Kami rombongan beswan Djarum Kudus berkesempatan mampir ke Gunung Tangkuban Perahu. Meskipun kejadiannya sudah dua tahun lalu, tapi masih lekat dalam ingatanku. Kala itu keberangkatan kami ke gunung yang berbentuk seperti perahu terbalik tertunda, gara-gara Mila salah satu teman kami mengalami accident saat muter-muter naik ATV. Entah kenapa saat Mila dibonceng Pak Roni naik kendaraan tersebut mengelilingi area outbond, tiba-tiba ia nyungsep ke tanah dengan posisi kepala menukik ke tanah macam pesawat gagal landing (bukan bermaksud suka ngeliat teman susah Mil, peace ^_^V).

Gara-gara peristiwa tersebut Mila sempat kesakitan dan susah berjalan karean kepalanya puyeng. Akhirnya dengan rasa solidaritas kami menungguinya seraya beberapa personil Pak Roni berusaha meringankan rasa sakit dengan P3K yang tersedia.

Singkat cerita, Mila akhirnya pulih dari sakitnya dan kami sampai di Tangkuban perahu. Seperti biasa kami berfoto narsis sambil mengekplorasi berbagai sudut untuk dijadikan latar berfoto. Termasuk salah satu diantara kami adalah si Agus. Tampangnya gak kalah lucu dibandingkan Abdel atau Temon, nyaris tanpa ekspresi. Hal itu yang sering menjadaikan si Agus “bulan-bulanan” saat bercanda bersama teman-teman Beswan Djarum yang lain (disetiap tempat selalu ada orang yang seperti ini haha… tapi saya suka d(^_^)b gk bikin boring). Entah angin apa saat itu yang membawa Agus menanyakan pertanyaan konyol “Kita sudah sampai tangkuban perahu ya? Mana Perahunya?” tanyanya polos. Gubrakzzz!!! Kami yang mendengar celetukan Agus sejurus langsung saling memandang dan kemudian tawa pun pecah. Entah pertanyaan tersebut sungguh-sunguh terlontar karena ketidaktahuannya atau karean ingin memancing tawa, yang jelas celetukan si Agus menjadikan cerita itu one of Beswan Djarum unforgattable stories versi kami. Haha…… good job Gus! (bersambung)

Beberapa minggu yang lalu saya mengendarai motor dari Kudus ke Pati dengan tujuan untuk menghadiri pernikahan salah satu Beswan Djarum angkatan saya. Selama roda membawa saya semakin jauh meninggalkan Kudus memori lama merasuki ingatan. Ingatan itu muncul tatkala mata ini memandang ke kanan kiri jalan yang masih tampak sama kodisinya ketika kami (Beswan Djarum Kudus angkatan 2008) harus berkejar-kejaran dengan truk-truk container penuh muatan, dengan truk-truk gandeng yang menyesaki badan jalan, dan saling berbonceng dengan mata berbinar penuh semangat, serta dengan agenda-agenda di kepala yang siap saya floorkan dengan teman-teman ketika rapat.

Tepatnya masa dua tahun lalu ketika setiap bulan saya dan teman-teman Beswan Djarum Kudus satu angkatan harus hilir mudik Kudus-Pati untuk mengadakan rapat bulanan sekaligus ambil gaji (dana beasiswa) di kantor perwakilan Djarum Beasiswa Plus di Pati. Rutinitas tersebut bukan menjadi kendala, perjalanan Kudus-Pati tiap bulan selama satu tahun tersebut justru mengeratkan kami. Sebab banyak pengalaman yang kami rasakan bersama. Banyak sekali tantangannya, dari mulai menyepakati hari kapan kami harus ke Pati (menentukan hari biasanya yg paling ribet karena harus berkompromi dengan aktivitas masing-masing), berkumpul di depan Kopma STAIN Kudus dan menunggu teman yang terlambat datang sebelum berangkat ke Pati bersama-sama, sampai makan siang bersama setelah rapat selesai.

Kami Beswan Djarum Kudus, kenapa rapatnya di Pati? Begitulah kenyataanya, meskipun kantor pusat Djarum terletak di Kudus, kami Beswan Kudus harus menempuh perjalanan melewati jalur pantura kurang lebih satu jam menuju kantor perwakilan Djarum Beasiswa Plus di Pati untuk melaksanakan rapat bulanan. Secara teknis Beswan Kudus berurusan dengan pembina yang bekerja di kantor perwakilan area Pati. Jalan yang berlubang dan bergelombang akibat sering diperkosa oleh truk-truk overload tak mampu menyurutkan semangat kami untuk terima gaji bulanan (hahahah… :D), disamping semangat untuk bertukar fikiran agar program kerja yang kami susun bisa berjalan lancar tentunya.

I\m Sorry Good Bye!

Suatu ketika saya dan Rojib berboncengan menaiki motor tua saya (Honda Astrea 800 keluaran ’85) ke Pati bersama rombongan. Hari itu saya sadar bahwa kendaraan butut yang sehari-hari menjadi tunggangan setia saya ke kampus tersebut memang kurang prima. Rem depan sudah tidak berfungsi karena kampas rem yang aus. Terlebih saya kurang perhatian dengan kendaraan yang usianya lebih tua dari saya ini. Kurang paham ilmu otomotif dan jarang memanjakan motor ke salon (bengkel) tepatnya. Saat kami pulang dari rapat bulanan di kantor perwakilan Djarum Beasiswa Plus di Pati, seperti biasa naluri muda memacu kami menggeber gas sekuatnya sehingga motor melesat kencang. Si hitam putih yang saya tunggangi dengan Rojib tentu saja tak mampu mengejar yuniornya yang lebih muda.

Di tengah perjalanan tiba-tiba saya mendengar seperti ada yang benda yang lepas dan jatuh terseret. “Plak..srrrrtt……” (kurang lebih seperti itu suaranya, saya lupa persisnya). Rojib yang saat itu saya minta menggantikan saya memegang setang, spontan langsung menepikan motor malang itu. Seketika saya turun dan mengeceknya “Astaghfirullah… kabel rem belakang lepas,” ucapku seraya meratapi nasib motorku. Parahnya baut untuk mengaitkan kabel rem hilang terjatuh di jalan. Rem depan tidak berfungsi, sekarang rem belakang dol. Wah lengkap sudah penderitaan tunggangan yang aku suka karena hemat bahan bakar tersebut. “Sambil jalan kita cari bengkel saja Pak Wo,” usul Rojib.

Entah angin apa yang memberanian kami menantang maut untuk mengendarai motor tanpa rem tersebut di tengah-tengah jalan yang menghubungkan Anyer-Panarukan tersebut. Dengan Rojib sebagai sopir, kami tetap nekat melajukan motor meskipun tanpa rem. Kabel yang menjuntai saya ikat dengan tali rafia yang nemu di jalan. Sesekali kendaraan besar seperti truk berhenti mendadak di depan kami. Kami pun panik, takut kalau-kalau motor kami menghantam bagian belakang truk atau mobil yang saat itu ramai menemani sepanjang perjalanan kami. Untung saja bak pendekar silat, rojib yang duduk di depan langsung banting setir ke kiri. Untung saja kami tidak nyungsep ke sawah.

Kendaraan terus kami paksa berjalan meski tanpa rem sebagai kendali sambil mencari bengkel terdekat, dan ketika kami dihadapkan pada lampu lalu lintas yang berwarn merah, rasa was-was kembali muncul. Kali ini jurus yang dikeluarkan Rojib adalah dengan memutar kunci motor ke kiri (switch off) dan pasang kuda-kuda (alias rem kaki). Ckckck….. gila betul kalau mengingatnya. Kendaraan terus berjalan sementara belum satu bengkelpun kami jumpai hingga akhirnya kami sampai di Kudus. Akhirnya di sebuah bengkel yang letaknya tidak jauh dari kos-kosan Rojib motorku bisa dibetulkan. Hari itu saya bersyukur karena bisa pulang dengan bagian tubuh yang masih utuh. Untung saja waktu itu aku tidak mengendarai motorku sendirian, ada teman berbagi yang menjadi nahkoda saat kapal berlubang hahahaha….. makasih Jib, itu salah satu kenangan yang tak terlupa…… (bersambung)

I\m Sorry Good Bye!

Sobat tidak suka nonton sinetron? Sama, aku juga. Juga berfikir penulis cerita sinetron itu lebay? Sama. Mati kutu alias gak kreatif itu kata yang tepat. Kebanyakan memang seperti itu (walaupun nggak semua) gak perlu lagi dibahas secara rinci kenapa. Semua orang sudah tahu. Pantas saja ya serial Korea atau Jepang jadi alternatif.

Berawal dari rasa eneg dengan sinetron saya memencet tombol remote tv berharap ada tayangan yg lebih berkualitas. Muncul lah beberapa program seperti On *** Spot, yang menayangkan keunikan serba tujuh. Wah ini menarik pikir saya. Setelah saya amati kok liputannya courtesy YouTube semua ya? Waduh kok gitu ya. Gak hanya cuplikan lho tapi semua liputannya dari YouTube.

Rupanya beberapa hari kemudian saya juga menjumpai beberapa konsep acara yang sama di beberapa tv nasional lainnya. Apakah alasan program tersebut mengandalkan video dari YouTube? Apa kareana alasan lebih hemat biaya jika dibandingkan harus mengeluarkan biaya liputan yang tentunya memiliki cost lumayan besar. Pertanyaanya sekarang adalah bolehkah sebuah program televisi menjadikan video-video dari YouTube sebagai bahan utama program dan menampilkannya di televisi?

Meskipun di setiap video yang ditayangkan terdapat tulisan “coutesy by YouTube”, tapi kenyataannya YouTube tidak memiliki hak cipta atas video-video yang ada di dalamnya. YouTube hanya memiliki hak siar. So, ada potensi pelanggaran hak cipta di sini. Terlebih menayangkan video dari YuoTube termasuk bentuk distribusi konten. Harus mulai berfikir tuch tim “kreatifnya”, sudah benar-benar kreatif belum nich?

For you to know, even YouTube pernah dituntut senilai Rp 9,5 triliun oleh Viacom, konglomeral media global pada Maret 2008. Mereka munuduh 150.000 klip video mereka telah di-upload ke YouTube tanpa izin dan telah disaksikan lebih dari 1,5 miliar kali. Wow!

YouTube pun sebenarnya tidak berdiam melihat pelanggaran hak cipta tersebut yaitu dengan menghapus video-video yang di-upload pengguna internet yang notabene melanggar hak cipta karena tanpa seizin pencipta atau pemilik hak intelektualnya. Sobat pasti pernah kan ingin membuka salah satu video di YouTube lalu tidak bisa ditayangkan karena kontennya sudah tidak ada, nah seperti itu efek dari pencegahan pelanggaran hak cipta di YouTube.

Well, saya fikir banyak kok kekayaan budaya, kekayaan alam dan keanekaragaman negeri ini yang bisa jadi bahan luar biasa untuk ditampilkan di program-program televisi. Bahkan mahasiswa asal Jepang misalnya membuat tugas film dokumenternya di Indonesia, ya karena kalau diekplorasi tidak ada habisnya. Apalagi beberapa tayangan kelas dunia seperti Discovery Channel yang sering melakuakan proses syuting di negeri yang tahun ini genap berusia 66 tahun ini. Pertanyaannya maukah kita meningkatkan potensi negeri kita atau lebih enak ambil jalan pintas (instan/pragmatis)?

“You agree not to distribute in any medium any part of the Service or the Content without YouTube’s prior written authorization, unless YouTube makes available the means for such distribution through functionality offered by the Service (such as the Embeddable Player)”- Youtube

<!–[if gte mso 9]> <![endif]–><!–[if gte mso 9]> Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE <![endif]–><!–[if gte mso 9]> <![endif]–>

I\m Sorry Good Bye!

Source:

http://lintasan.dagdigdug.com/2011/05/23/youtube-televisi-dan-hak-cipta/

http://arijuliano.blogspot.com/2008/12/youtube-hak-cipta-dan-safe-harbor.html

I\m Sorry Good Bye!

Sobat pernah menonton program di salah satu stasiun tv berjudul “Jika Aku Menjadi”? Acara berdurasi tidak lebih dari satu jam tersebut menampilkan pengalaman seseorang yang hidup bersama kaum marginal. Bagi beberapa orang yang hidup berkecukupan tentunya tidak pernah membayangkan bertahan hidup hanya dengan menjual gorengan, mencari telur semut merah (kroto) untuk dijual, menjadi buruh pembuat genteng, mengerjakan sawah milik orang lain, membersihkan kandang sapi atau melakukan pekerjaan jika hanya ada orang yang menyuruh (serabutan), terlebih dengan kondisi yang sudah uzur dengan beban beberapa cucu yang yang perlu biaya untuk sekolah.

Jadilah peserta dari program ini! (tanpa bermaksud mempromosikan) maka sobat akan merasakan ‘nyamannya’ tinggal di rumah beratap rumbia, ‘empuknya’ kasur tikar pandan di lantai tanah, nikmatnya nasi jagung tanpa lauk dan riangnya berjibaku dengan lumpur, kotoran sapi atau rasakan ringannya setumpuk penuh batu kali di atas kepala. Kalau tidak sempat merasakannya secara langsung coba sekali saja menyaksikan tayangannya, pasti sobat akan bisa membayangkan. Bagaimana komentar sobat melihat acara tersebut sebagai sebuah hiburan televisi? Menghiburkah?

I\m Sorry Good Bye!

Behind the scene "Jika Aku Menjadi"

Lebih jauh lagi menurut saya tayangan ini sebagai sindiran untuk pihak yang berwenang menangani pengentasan kemelaratan di negeri gemah ripah loh jinawe ini. Hingga pertengahan 2010 jumlah penduduk miskin di negeri ini mencapai 31.023.400 penduduk (data BPS: http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=23&notab=4). Dan data tersebut masih dipertanyakan karena beberapa ada yang menganggap jumlahnya lebih dari itu.

Dengan berbekal rasa penasaran saya mencari informasi lewat internet. Langsung saja saya ketik keyword ”Kementrian Sosial” ke search engine. Dari situ saya memperoleh situs resmi Kementrian Sosial Republik Indonesia (http://www.depsos.go.id/) yang saya pikir paling bertanggung jawab dalam usaha pengentasan kemiskinan (untung saja pemeriintah memakai istilah pengentasan bukan pemberantasan seperti pada istilah pemberantasan buta aksara, istilah yang menakutkan karena identik dengan genosida dan semacamnya)

Pada menu halaman utama terpampang daftar link dari 5 unit kerja dari departemen sosial. Salah satunya adalah DitJen Pemberdayaan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan . Nah ini yang saya cari. Berharap mendapatkan gambaran mengenai program kerja pengentasan kemiskinan, faktanya link tersebut hanya mengantarkan saya pada struktur organisasi. Persaaan yang semakin penuh tanda tanya menuntun saya untuk memasukkan keyword “Program Kerja Ditjen Pemberdayaan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan” ke dalam kolom search di halaman web tersebut. Lalu muncul tulisan yang memberitahukan kalau saya tidak bisa mengakses konten tersebut sebelum saya membuat akun (sign up) terlebih dahulu.

Akhirnya saya sempatkan diri untuk mendaftar. Setelah mendapatkan akun langsung saya coba untuk kali kedua memasukkan kata kunci yang sama berharap tahu bagaimana pemerintah menangani kemiskianan dan program kerja apa yang sudah dan akan dilaksanakan dari situs resmi tersebut. Hasilnya tidak ada konten yang berkaitan dengan kata kunci tersebut, yang ada hanya beberapa artikel kegiatan.

Mungkin sobat pernah dengar program baru yang gencar dilaksanakan pemerintah akhir-akhir ini untuk pengentasan kemiskinan? Mohon beri tahu saya, karena saya pribadi belum pernah mendengar sebuah program yang benar-benar digalakkan pemerintah secara serius untuk menangani kemiskinan.

Belajar dari Bangladesh, salah satu negeri termiskin di dunia

Adalah Muhammad Yunus, seorang muslim asal Bangladesh yang mendapatkan Nobel perdaimaian atas dedikasinya membantu pengentasan kemiskinan. Pria paruh baya lulusan Vanderbilt University, Amerika Serikat ini mendirikan Grameen Bank, institusi keuangan yang memberikan kredit murah bagi masyarakat miskin dan tidak mampu di Bangladesh. Apa yang dilakukan muslim ke 7 yang memperoleh Nobel dari 500 orang di dunia ini memberikan dampak besar bagi perkembangan ekonomi rakyat. Lewat kredit murah tersebut ekonomi rakyat menggeliat dan memberi oksigen bagi mereka yang susah bernafas akibat tekanan ekonomi.

Bagaimana dengan soko guru perekonomian kita?I\m Sorry Good Bye!

Jauh sebelum Muhammad Yusuf mendirikan Grameen Bank, di negeri kita telah dirintis konsep perekonomian dengan asas kekeluargaan yang membantu masyarakat ekonomi lemah melalui koperasi. Koperasi menjadi salah satu badan hukum yang digadang sebagai soko guru (tiang utama) perekonomian Indonesia yang sejak lama telah dirintis oleh R. A. Wiriaatmadja dan dikembangakan oleh Moh Hatta kini tidak terdengar lagi diaplikasikan untuk menangani permasalahan ekonomi kelas bawah. Konsep yang telah ada ini mulai luntur bersamaan dengan lunturnya semangat Pancasila. Founding father negeri ini telah menggagas konsep yang luar biasa mengenai pedoman dasar dan konsep perekonomian. Namun kini konsep yang brilliant itu mungkin sudah dianggap tidak penting. Rupanya lebh asyik bagi pejabat negeri ini untuk mengisi perut sendiri daripada memikirkan kemiskinan yang tidak pernah mereka alami dan rasakan. Perekonomian rupanya bukan menjadi hak mereka kaum papa di negeri ini, pertumbuhan ekonomi hanya istilah bagi mereka pemodal besar, para cukong penebang hutan, para perusak perut bumi dan para konglomerat pemakan uang rakyat.


Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
Yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
Yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
Memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten
Tentu harus ada awak kapalnya….
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
Rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu….
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

?”Kerendahan Hati”? -Taufik Ismail