Tristyan's Story

Through Story Sharing My Thought

Dateng ke Pesta Blogger 2011 di Jakarta, kesananya naik pesawat dibayarin segala akomodasi (hotel, makan, transportasi dsb) wah siapa yang gak mau? Thanks to Djarum Beasiswa Plus yang membuat itu nyata. Alhamdulillah saya dan kesembilan (karena si Acil absen) top 10 Beswan Djarum Blogger plus si Johan juara favorit Kompetisi Blog 2010 bisa hadir di ONlOFF 2011 (nama Pesta Blogger sekarang).  Yes!!! untuk kedua kalinya naik pesawat gratis dibayarin sama Djarum Beasiswa Plus, karena naik pesawatnya PP jadi udah naik peswat 4 kali for free (mental ndeso mode on).

Dapet jadwal pesawat hari H (Sabtu, 3/12) jam 06.20 pagi, so saya dan Ichan (salah satu top 10 dari Kudus juga) paling nggak harus udah di Semarang Jumat malamnya. Jadilah kami berdua berangkat ke Semarang naik motor jumat malam (padahal waktu itu lagi ada Welcome Party Beswan Djarum Kudus, so kita pamit duluan).

Dengan jas yang bolong dikit di punggung kami menerjang badai (hujan deres) di sepanjang jalan kota Demak. Mati lampu pula. Jadi lengkap sudah romantisme malam itu (hueks …cuih!). Sampai di A. Yani airport niatnya pengen tidur aja di mushola, untung dapet info dari abang tukang parkir kalo ada penginapan murah deket bandara. Nama penginapannya “Karno Kusumo”. Dari namanya aja udah mistis mirip-mrip Ki Kusumo blablabla gitu, kebayangkan bakalan kayak gimana itu penginapan.

Bener aja, tuch penginapan emang spooky, kayaknya bekas asrama militer. Tapi lumayan nyaman lah, ada fasilitas AC (meski jadul), 3 kasur, dan kamar mandi di dalam ruangan. Lumayan daripada manyun di mushola.


Sabtu pagi jam tujuhan sampailah kita di Bandara Soetta. Lalu dibawalah rombongan alay ini menuju gedung Rasuna Said, venue acara ONlOFF. Foto dulu donk kita-kita di wallfame. Ketemu juga dengan Anis Baswedan, tokoh pendidikan inspiratif.  Orang yang satu ini benar-benar luar biasa, sambutannya di awal acara benar-benar inspiratif. Poin penting yang disampaikan Anis dan masih saya ingat adalah bahwa sebgai blogger kita punya tanggung jawab untuk menyebarkan gelombang-gelombang optimis lewat tulisan kita. Sebab selama ini media lebih banyak menulis, dam mempublikasikan hal-hal negatif dan pesimistis. Itu tugas yang akan saya lakukan. No keluh kesah! No Galau!. Hal itu juga menginsprasi saya untuk  updates status dan posting hal-hal postif di sosial media. Semoga komitmen.

Bayangkan suatu saat nanti anak atau cucu anda mengakses internet dan membaca tulisan anda di blog tentang kegalauan anda. Lalu anak anda akan mengatakan “Dulu Mama aja galau, masak aku gak boleh galau?” Maka buatlah anak cucu anda bangga dengan tulisan-tulisan yang mengisnpirasi dan berkontribusi terhadap negeri ini. – Anis Baswedan

I\m Sorry Good Bye!

Top 10 Beswan Djarum Blogger with Anis Baswedan & Ndoro Kakung

Mendengar sambutan Anis Baswedan serasa ikut kuliah umum, dan saya suka karean sangat menginspirasi. Sampai teman-teman Beswan Djarum blogger bisa-bisa menulis semua kata-kata yang keluar dari mulut Anis, karean sungguh semua kata itu inspiratif.

Di sesi selanjutnya ada hiburan stand up comedy yang sedang in, dan sumpah memang lucu abis. Disusul dengan dentuman hip-hop-nya Saykoji. Kemudian di sessi breakout ada banyak sekali workshop singkat yang berjalan pararel, kita tinggal pilih sesuai minat kita. Kebetulan saya pilih join di workshop fotografi dan sharing pengajar muda (Indonesia Mengajar).

I\m Sorry Good Bye!

Top 10 Beswan Djarum Blogger + Blog Favorite Winner 2010

Taklupa juga hunting goodie bag di stand-stand yang mewarnai acara tersebut. Beberapa diantaranya ada stand komunitas blogger, stand acer (sponsor utama), stand US Embassy, sama stand pakaian. Mampirlah saya di salah satu stand yang paling ramai yatu VOA yang menantang peserta ONlOFF untuk jadi presenter ala Helmi Johannes hehe…… awalnya sempat males mau ikutan coz antriannya lumayan banyak. Begitu agak sepi masuk dech saya ke stand itu coba-coba jadi presenter trus dapet souvenir lagi (goodie bag berisi kalender, topi, fashdisk, pulpen, & mouse pad). Udah paling baik hati banget dech tuch stand VOA.Tapi yang paling baik hati itu tentu saja Djarum Beasiswa Plus yang sudah memberikan banyak pengalaman berharga, meski saya sudah tidak menerima beasiswa lagi (alumni). Once again thank a million Djarum Beasiswa Plus!

watch?v=1sMEecwHAnk

I\m Sorry Good Bye!

Ilustration from : http://laptopshopsurabaya.com/

Wew, this is my first post after the Blog Competition. Aku penuhi juga kan janjiku di postingan sebelumnya This is Not The End”. Memang nggak mudah untuk tetap konsisten ngisi blog supaya tetep hidup. Berbagai alasan bisa jadi alasan pembenaran, salah satunya kesibukan.

Tapi buat para pembaca setia, ane belain dech buat meluangkan waktu buat nulis di blog (#sok populer), padahal aslinya sich emang kebutuhan pribadi, buat curhat dan ngeluarin apa yang pengen dikeluarin hehe….. And jangan kaget ya kalau mulai sekarang tulisan saya lebih kasual, mungkin sebelum-sebelumnya agak lebih formal dikit ya.. mungkin karena kebiasaan nulis di majalah kampus dulu.

Selama masa penjurian hingga saat ini blog Beswan Djarum sempat krik… krik…… (suara jangrik) alias sepi. Mungkin lagi pada ambil napas ya setelah ngos-ngosan bikin artikel bertema budaya sama ngemis “LIKE” ke siapapun yang online di FB which is I do it too. Yang nongol cuma beberapa postingan termasuk gratitude dari Irwan Sitinjak, the champion dan suhu Arnis the first runner up. Saya sendiri juga belum sempat posting lagi hingga muncul tulisan ini, voila!

Well, saya lagi seneng, seneng karena  punya keluarga baru, Beswan Djarum angkatan 27. Tambah seneng lagi waktu buka www.blog.djarumbeasiswaplus.org ternyata beberapa Beswan Djarum angkatan 27 sudah ada yang posting di blog Beswan Djarum. Sebut saja Cintia, Liestya, dan Paulina. Kebetulan baru sempet mampir ke tiga blog itu, dari beberapa Beswan Djarum 27 yang mungkin juga udah posting tulisan mereka. Dan kebetulan juga ketiganya cewek semua.  Sungguh kebetulan yang indah, jadi bisa sekalian kenalan ihir…… Meskipun sekedar say Hai lewat postingan perdana mereka, buat saya itu sudah jadi awal yang bagus buat gedein Beswan Djarum Blogger Community (BBC).

Harapan saya mereka nantinya juga akan meramaikan member area, our home sweet home (seperti yang digembar-gemborkan para dedengkot member area). For Beswan Djarum 27 yang lagi baca tulisan ini, yang belum mampir ke member area buruan mampir ya. Di sana kamu bakalan ngedapatin banyak hal, kamu nggak hanya bisa kenalan and keep in touch dengan Beswan Djarum dan alumni seantero negeri, tapi juga dapat berbagai informasi lewat rubrik artikel, berita, kegiatan, atau bertanya ke tokoh, ikutan polling dan yang lebih seru bisa ngegossip (baca: diskusi) segala macem hal dari yang serius sampai hal-hal gak jelas.

Then kayaknya ini momen yang paling pas buat gelar karpet merah and ngucapin “Selamat Datang  Keluarga Baru, Beswan Djarum angkatan 27”, pengalaman tak terlupakan ada di depan mata, semoga kalian bisa benar-benar memanfaatkan momen-momen itu dan belajar banyak hal dari berbagai kegiatan yang akan kalian jalani. Oh ya event yang terdekat yang sebentar lagi kalian akan ikuti adalah Wawasan Kebangsaan, bakalan banyak hal yang akan kalian alami. Ketemu Beswan Djarum se-Indonesia, workshop seni, sarasehan wah pokoknya banyak. Aku tunggu ya cerita serunya di blog kalian.  Wajib di-share ya!

I\m Sorry Good Bye!

http://n-lovegrove0912-dc.blogspot.com/2010/04/type-image-5.html

Mengupas seluk beluk budaya Indonesia lewat tulisan jelas tidak ada habisnya. Semakin kita mencari tahu semakin banyak pengetahuan budaya yang kita peroleh dan tidak akan habis untuk kita tampilkan dalam untaian kata yang beranak pinak. Thanks to Djarum Beasiswa Plus yang  telah memberikan saya banyak ilmu lewat penyelenggaraan Kompetisi Blog tahun ini yang mengangkat tema “Budaya Indonesia”.  Terimakasih juga karena masih memberikan wadah bagi kami (alumni) untuk berkreasi dan tetap menjalin silaturahim melalui our beloved home, yakni member area. Wadah lain yang tidak kalah luar biasa dan sangat bermakna bagi kami sebagai wadah pembelajaran yang membuat kami terus belajar dan terus mengasah diri adalah blog.

Untuk ketiga kalinya tahun ini Djarum Beasiswa Plus menyelenggarakan Kompetisi Blog Beswan Djarum 2011. Tema kompetisi tahun ini sungguh memberikan banyak pengetahuan budaya bagi saya pribadi, sekaligus membuat kami semakin menghargai nilai-nilai budaya itu sendiri. dan membuat kami sadar betapa besar negeri ini dan betapa masa depan kita semakin terlihat terang jika kita tetap mempertahankan nilai-nilai itu. Berbagai tulisan telah diramu dan dishare di dinding blog teman-teman Beswan Djarum menunjukkan betapa kayanya negeri ini akan budaya. Tulisan-tulisan itu membuat saya mampu menemukan arti yang sebenarnya dari budaya. Bukan lewat definisi-definisi, melainkan lewat cerita-cerita yang terangkum indah di blog.

Lewat blog berjudul “I’m Bowo & This is My Story” saya juga ingin berpartsipasi dalam kompetisi tahun ini sekaligus memperkenalkan kebudayaan saya. Kebudayaan Kudus, kota di mana saya tinggal. Tiga artikel yang saya tulis jelas belum bisa menggambarkan keanekaragaman dan menunjukkan betapa besar dan kayanya Indonesia akan kebudayaan. Namuan harapan saya lewat tulisan yang mencoba mengangkat budaya lokal dari daerah saya tersebut, mampu memberikan wawasan budaya dan memberikan inspirasi bagi para pembaca blog saya.

Berbagai pengalaman luar biasa saya dapatkan selama proses pengumpulan informasi sebelum membuat tulisan. Begitu juga pengetahun-pengetahuan budaya dari daerah lain yang saya baca dari blog milik teman-teman lainnya. Membuat saya mendifinisikan budaya itu sebagai sebuah pesan. Benar sekali budaya ialah pesan yang disampaiakn oleh para pendahulu, kepada kita keturunannya dan diharapkan akan dilanjutkan kepada generasi selanjutnya. Pesan itu baik dan pesan itu membuat kita mengenal jati diri kita. Pesan-pesan diwujudkan dalam berbagai hal seperti tardisi atau ritual adat, ukir-ukiran yeng terdapat pada rumah adat, tari-tarian, lagu-lagu daerah, wayang, alat musik dan masih banyak lagi. Permasalahannya sekarang ialah apakah kita mau menggali pesan-pesan dan mencoba memahaminya? ataukah kita menganggapnya hanya sebagai simbol-simbol tanpa makna dan memilih untuk mengacuhkannya dengan alasan sudah ketinggalan zaman?. Sobat, keputusan itu ada di tangan kita apakah kebudayaan itu akan tetap lestari dan tersampaikan segala pesan kebaikan tersebut, ataukah pesan-pesan itu akan terputus begitu saja dan menghilangkan akar jati diri kita?

Berikut ini tiga buah artikel yang saya sertakan dalam Kompetisi Blog Beswan Djarum 2011:

1. Budaya tak Kasat Mata

Melalui artikel ini saya ingin menyampaikan pesan bahwa dibalik berbagai peninggalan budaya baik berupa benda maupun non benda ada esensi yang lebih penting yakni nilai-nilai yang terkandung di dalamnya yang tak kasat mata namun memberikan pencerahan bagi kita untuk terus hidup dengan tetap menghargai lingkungan, sesama manusia dan menjunjung nilai kebaikan. Dalam konteks artikel tersebut dicontohkan dengan budaya gotong-royong yang mulai memudar.

2. Menoreh Canting, Merekonstruksi Budaya

Artikel kedua ini merupakan hasil dari wawancara langsung dengan salah satu tokoh (Fatkurahman) yang berusaha membangkitkan kembali kebudayaan yang sempat terancam punah yakni batik khas Kudus. Lewat artikel ini saya ingin menggambarkan betapa perjuangan untuk kembali memaknai pesan-pesan itu tidak semudah membalik telapak tangan, hal ini tergambar dari perjuangan Fatkurahman dalam memulai usaha batik yang sempat vakum puluhan tahun. Pesannya adalah bahwa budaya itu berharga dan merupakan jati diri kita yang wajib untuk kita lestarikan dan pertahankan eksistensinya.

3. Ayu, Ayom, Ayem; The Message Behind The Grace

Lewat artikel terakhir dengan judul berbahasa Jawa sekaligus Inggris tersebut saya ingin memaparkan bahwa setiap simbol atau setiap manifestasi atau bentuk dari kebudayaan itu mengandung makna dan dibuat dengan dasar pemikiran dan keluhuran nilai-nilai yang dirintsi oleh pendahulu kita.

Saya harap lewat tulisan-tulisan pendek tersebut bukan hanya mampu meramaikan kompetisi melainkan mampu mengingatkan kita dan saya pribadi untuk terus mempelajari dan melestarikan kebudayaan kita yang agung. Last but not least, hopefully bukan hanya karena alasan kompetsisi saja blog saya ini tetap hidup melainkan akan tetap hidup bersama pembaca-pembaca setianya, begitu juga dengan blog teman-teman yang lain. So guys, let me say that this is my closing article but this is not the end.

Hai sobat semua. Buat kamu cewek yang lagi jomblo, pas banget kalau kamu baca tulisan ini. Buat yang cowok yang lagi mau cari simpati ente nggak salah kamar. Tumbenan ya saya pake bahasa agak gaul. Gak biasa-biasanya nich hehe…. Just want to share in another way, a popular way actually, if I can say like that. Atau lebih tepatnya lagi pengen  ngedan lewat tulisan (ngegokil, meski gak gokil-gokil amat) Anyhow, sedikit gaul boleh dong?

I just want to share something for you my blog’s fanatics readers hehe….. (sok populer). Well, apa sich kriteria cowok atau cewek ideal yang pengen kamu jadiin pasangan hidup? Mau penampilan fisik yang bagaimana sich? Sudah jadi rahasia umum kalau kita cari cewek atau cowok pasti tetep merhatiin penampilan. Gak mungkin juga kan kita mau menggandeng pasangan yang penampilannya awut-awutan (udah kayak bulu kapuk ketiup angin ajah tuch). Gengsi dong, apalagi kalau nenteng pacar niatnya mau dipamerin, bisa jadi bahan ejekkan teman malahan.

Well (again), saya gak mau lagi ngebahas fisik for specific, tapi kali ini saya mau share pedoman unik yang dipegang masyarakat Kudus dalam mencari pasangan hidup. Boleh dibilang warisan budaya lah…. Kalau kamu tinggal di Kudus dan kamu belum tahu, you have to write down some list that I’m going to share, so please make sure that you are ready with a pen and paper before read the next sentences. Gak usah segitunya kali, diprint aja lebih cepet, but kalau hasil kamu ngeprint diperbanyak trus disebar-sebarin ke temen-temen kamu, saya gak recomended dech ntar rahasia ini bakalan kesebar. Please jangan ya…….

Trus kalau kamu bukan bagian dari warga Kudus, that’s not a big deal. It is also important for you to know about it, so just do the same way (berbelit amat yak? Hihi……). Gini, masyarakat Kudus itu punya acuan unik dalam mencari pasangan, juga calon menantu. Saya yakin kriteria ini nantinya juga akan menjadi kriteria global lho, percaya dech….. Kalau kamu lagi jomblo dan kamu mau dianggap jomblo yang high quality dan supaya segera dapat jodoh kamu harus masuk di 3 kriteria Gusjigang. Mari kita kupas (ambil pisau buruan!):

Pertama, you have to have aGus”. “Gus” sendiri berasal dari kata bagus yang berarti rupawan buat yang cowok dan rupawati bagi si cewek. Dalam hal ini kamu harus memperhatikan penampilan. Misal penampilan kamu gak rupawan-rupawan amat minimal kamu harus bisa ngusahain penampilan loe yang minimalis itu menjadi maksimalis dengan berbagai upaya, perawatan misalnya, pakai pakaian yang rapi dech jangan sampe tampakin kekucelan loe.

Kedua, “Ji” dari kata ngaji. Kamu harus pinter ngaji sob. Kenapa? Pernah nonton film “Kiamat Sudah dekat”? bener banget tuch film. Sebaik-baiknya calon pasangan adalah yang nampak religius, bukan hanya nampak dong ya. Harus beneran religiusnya dan bukan hanya dalam hal ngaji aja. Buat kamu-kamu yang ngajinya masih belum lancar, ayo berlatih banyak cara yang bisa kamu tempuh, ikut kursus misalnya atau belajar dari teman. Tapi niat mendalami dan melancarkan bacaan jangan karena supaya dapet jodoh ya, jadikan itu sebagai titik awal untuk memperbaiki kualitas ibada kita sob.

Last but not least, “Gang” dari kata dagang. Pintar berdagang atau kalau mau diartikan secara umum pintar cari duit lah, terutama bagi yang cowok nich. Masyarakat Kudus sebagian besar memang banyak yang sukses dari usaha berdagang, that’s why memiliki calon suami atau menantu seorang pedagang itu jadi kebanggaan tersendiri. At least kalo kamu pinter berdagang masa depan kamu pasti gak diragukan lagi dan gak bakal ngrepotin mertua, sebab loe sudah bisa mandiri dengan usaha sendiri sob. Silakan dicoba!

I\m Sorry Good Bye!

I\m Sorry Good Bye!

Pernah lihat Tongkonan? Rumah Gadang ? atau mungkin Honai? Mungkin ketiganya sudah familier. Kalau pun belum pernah melihat secara langsung paling tidak sobat pasti sudah pernah lihat gambarnya di atlas waktu pelajaran IPS di bangku sekolah kan? Itu hanya sebagian kecil dari rumah adat yang ada di beberapa daerah di Indonesia semua orang tahu itu hehe….

Tak mau kalah dengan daerah lain, di kota tempat saya bersemayam (macam penunggu pohon asem aja hihi…) juga ada rumah adat yang terkenal karena keindahan ukirannya. Apreasiasi masyarakat akan rumah adat Kudus pun terlihat semakin tinggi. Bahkan sejumlah artis ternama menghiasi rumahnya dengan ornamen rumah adat khas Kudus yang biasa disebut gebyok itu, sebut saja Alex Komang dan Ebiet G.A.D.

Beberapa minggu yang lalu saya mengunjungi museum kretek dimana salah satu rumah adat Kudus asli peninggalan masa lalu berada. Menatap bangunan kayu nan anggun itu saya merenung, sudah hampir 24 tahun saya menginjakkan kaki di bumi Kudus, kota kelahiran saya. Namun baru kurang lebih setahun silam saya tahu makna yang terkandung dari setiap jengkal ukiran yang menghiasi rumah yang terbuat 95 persen dari kayu itu. Sebagai mahasiswa ketika itu saya merasa bersalah karena kurang menghargai budaya lokal yang diwariskan nenek moyang saya.

Apalagi sebagai Beswan Djarum yang sudah mendapatkan berbagai pelatihan yang diberikan oleh Djarum Beasiswa Plus dan memiliki jaringan para Beswan Djarum seantero Nusantara saya merasa berkewajiban untuk memperkenalkan budaya yang ada di kampung halaman saya. Kok gak nyambung ya hehe….. Anyhow thanks for Djarum BeasiswaPlus yang membuat saya lebih peka terhadap berbagai persoalan termasuk dalam hal kesadaran menghargai budaya. Juga untuk mata kuliah Speech yang merupakan awal bagi saya mencari informasi lebih jauh mengenai salah satu warisan budaya asli Kudus tersebut, saat dosen pengampu meminta kami menjadi guide untuk bangunan Menara Kudus dan rumah adat saat itu.

I\m Sorry Good Bye!

Rumah Adat Kudus yang terletak di sebelah utara area Museum Kretek

Usia rumah adat asli peninggalan para pendahulu tersebut bisa mencapai puluhan hingga ratusan tahun. Daya tahan bangunan kayu tersebut ditopang oleh kuatnya serat-serat kayu jati yang sudah tidak perlu dipertanyakan kemenangannya melawan waktu (keawetannya, red).

Keunikan rumah ada Kudus juga terdapat pada teknik pembangunannya yang tanpa memakai paku (knock down). Menurut informasi dari beberapa artikel yang saya peroleh dari Yayasan Menara Kudus, bangunan rumah adat Kudus dipengaruhi oleh pengaruh berbagai budaya yang lama singgah dan sempat mempengaruhi arsitektur berbagai bangunan termasuk rumah adat. Pengaruh yang tergambar dari ukiran-kiran yang tampak pada berbagai sisi bangunan itu merupakan pengaruh dari seni ukiran Hindu, Cina, Eropa, dan Persia / Islam.

I\m Sorry Good Bye!

Ukiran motif bung adan tumbuuhan pengaruh budaya Persia yang dibawa para pedagang.

Bentuk ukiran dan motif ragam yang menghiasi rumah unik ini, diantaranya adalah pola kala dan gajah penunggu, rangkaian bunga melati (sekar rinonce), motif ular naga, buah nanas (sarang lebah), motif burung phoenix, dan masih banyak lagi yang masing-masing memiliki arti tersendiri. Ukiran buah nanas yang terpasang terbalik misalnya, merupakan salah satu simbol unik yang meniru filosofi hidup lebah, yakni bisa hinggap di mana saja tanpa merusak bunga yang dihinggapi, bahkan saling menguntungkan, bunga terbantu penyerbukannya dan lebah memperoleh madu. Sementara rangkaian bunga melati dalam ukiran gebyok sebagai simbol akhlak yang baik dan kesucian hati.

I\m Sorry Good Bye!

Ukiran motif nanas/ sarang tawon.

Menurut Moedjijono WZ, 1985 : 3-25 (dalam Ir. Aunurrofieq AD. MT.), arsitektur Jawa adalah arsitektur yang lahir, tumbuh, berkembang, didukung dan digunakan oleh masyarakat Jawa. Arsitektur Jawa lahir dan hidup karena ada masyarakat Jawa. Arsitektur Jawa sendiri memegang nilai fungsi dan filosofi Ayu, Ayem, Ayom. Ayu mengandung makna estetis, simbolis, kaya, atau jati diri. Ayom berarti teduh, rindang, terlindung dari kekuatan metafisik. Sementara Ayem bermakna kesejahteraan, keamanan, dan keselarasan. Terang filosofi tersebut merupakan harapan yang ingin diperoleh oleh masyarakat Kudus dari tempat bernaung dari terik dan hujan tersebut.

Secara umum rumah adat Kudus terdiri dari beberapa bagian diantaranya :

1. Jogosatru’ berfungsi sebagai serambi, atau ‘Pringitan’. Sekarang lebih banyak difungsikan sebagai ruang tamu. Terdapat soko geder/ tiang tunggal sebagai simbol bahwa Tuhan itu Esa dan penghuni rumah harus senantiasa beriman dan bertakwa kepada-Nya.

2. Ruang ‘Dalem’ disebut juga ‘omah jero’ berfungsi sebagai tempat tidur, tempat menyimpan barang berharga, dimana terdapat kamar yang di sebut juga ‘sentong’ dengan yang terdiri dari :

a. sentong kiwo’ (kiri)

b. sentong tengen’ (kanan)

c. sentong tengah’ atau ‘gedongan’.

Di dalam ruang dalem ini terdapat 4 buah soko guru./ tiang sebagai penyangga utama bangunan rumah melambangkan agar penghuni rumah menyangga kehidupannya sehari-hari dengan mengendalikan 4 sifat manusia : amarah, lawamah, shofiyah, dan mutmainnah.

3. Ruang ‘Pawon’ atau ‘gandok’ (rumah Kota Gede), berfungsi sebagai ruang makan, ruang kerja, ruang saji dapur kering untuk menyimpan makanan, dan atau dapur basah. Juga berfungsi sebagai tempat gudang serta berfungsi ruang keluarga.

4. Ruang dapur sering ditaruh di samping ruang ‘gandok/pawon’ yang merupakan tambahan ruang ke samping, namun ada juga penempatan dapur di luar rumah induk yaitu di depan rumah, letaknya depan ‘gandok’, di samping kamar mandi, atau dibelakang rumah induk, dibelakang ‘pawon

5. Pakiwan/ kamar mandi selalu terletak didepan rumah, di sebelah sudut kanan atau kiri.

6. Ruang tambahan di depan rumah sering di tambah ruang kerja posisi letaknya merapat pinggir kapling depan rumah, di depan MCK jadi berhadap-hadapan dengan rumah induk. Ruang tambahan ini biasanya di sebut ‘kantoran’. Juga berfungsi sebagai tempat tidur tambahan.

I\m Sorry Good Bye!

Jogosatru, dengan satu tiang penyangga yang menyimbolkan ke-Esaan Tuhan

I\m Sorry Good Bye!

Sentong Tengah’ atau ‘Gedongan

I\m Sorry Good Bye!

‘Pawon’ atau ‘gandok’ (rumah Kota Gede), berfungsi sebagai ruang makan, ruang kerja.

Kekhasan rumah adat Kudus juga terletak dari tatacara perawatannya yang dilakukan dengan cara tradisional dan turun-temurun. Bahan yang digunakan untuk perawatan merupakan ramuan yang diperoleh berdasarkan pengalaman empiris pemiliknya, yaitu ramuan APT (Air pelepah pohon Pisang dan Tembakau) dan ARC (Air Rendaman Cengkeh). Selain terbukti efisien dan efektif mampu mengawetkan kayu jati dari serangan rayap (termite) dan membersihkan, ramuan ini juga ramah lingkungan.

Keindahan dan keanggunan bangunan rumah adat Kudus bukkan semata menonjolkan kesejahteraan penghuninya. Lebih dari itu setiap bagiannya, baik itu berupa motif ukiran, bentuk dan penempatan bagian rumah adat Kudus mengandung pesan-pesan luhur berupa nilai yang disampaikan sebagai pengingat oleh nenek moyang kita untuk diteruskan dan dilestarikan dari generasi ke generasi. It’s really awesome!

I\m Sorry Good Bye!

Lampu Katrol dan berbagai ornamen rumah adat Kudus

I\m Sorry Good Bye!

Ada kebanggaan tersendiri saat kita mengenakan pakaian batik. Padahal, dahulu batik dipandang kuno dan identik dengan pakaian orang sepuh (baca: tua, red), kini remaja hingga mahasiswa malahan menggandrunginya dan kerap memakainya di berbagai kesempatan. Apalagi batik kini telah merambah fashion dunia dengan berbagai model modifikasinya. Sebagian orang mungkin merasa bangga mengenakan batik karena harganya yang selangit. Alangkah lebih luar biasa lagi menurut  saya jika seseorang bangga mengenakan batik karena ia tahu bahwa batik itu bukan sekadar warisan budaya yang sudah diakui dunia. Lebih dari itu memakai batik berarti menghargai nilai-nilai yang ada dibalik motif-motif yang tertoreh lekat di sehelai kain itu.

Melestarikan batik bukan sekadar mengumbar kebanggaan saat mengenakannya ketika batik itu sudah menjuntai indah dan terijahit rapi sebagai pembungkus badan . Melestarikan batik mengandung konsekuensi memaknai kerja keras di balik keindahan kerajinan buatan tangan tersebut. Batik tidak akan hidup tanpa ada orang-orang luar biasa yang dengan tekad, kesabaran dan ketelatenan untuk terus memproduksinya.

Adalah Fatkurahman, salah satu perajin batik khas Kudus yang berusaha menyambung torehan canting yang sempat mengering. Sejak zaman penjajahan hingga akhir tahun 70-an batik Kudus sangat populer dan menjadi salah satu icon batik di pesisir utara pulau Jawa. Hingga tahun 80-an sampai 2007, batik Kudus sempat tenggelam dan vakum. Menurut Fatkurahman, vakumnya produksi batik Kudus karena berbagai kendala. Beberapa diantaranya adalah karena harga kain dan bahan baku lain yang menjulang. “Konsekuensi seorang perajin batik itu harus siap berkotor-kotor, karena memang proses produksinya melibatkan berbagai bahan seperti pewarna tekstil, lilin, dan berbagai bahan kimia, makanya pasca tahun 70-an banyak perajin batik Kudus yang meninggalkan usaha turun-temurunnya dan memilih untuk berdagang atau menjadi pegawai saja karena tidak mau lagi berurusan dengan kotor dan berbagai kesulitannya,” imbuh pria paruh baya tersebut. In short, budaya pragmatis mengambil alih dan mengancam eksistensi budaya kita sendiri, batik.


Kembalinya Batik Kudus

Tahun 2007 Hj. Rina Tamzil, isteri Bupati Kudus saat itu mengupayakan diproduksinya lagi batik khas Kudus melalui berbagai pelatihan dengan mendatangkan seorang perajin batik yang tersisa. Fatkurahman sendiri mulai mencoba memproduksi batik Kudus pada pertengahan tahun 2008. Rupanya bukan persoalan mudah untuk menghidupkan kembali batik Kudus. “Saya harus ngangsu kaweruh (menimbal ilmu) ke berbagai kota seperti Semarang, Jogja, Cirebon, dan Pekalongan untuk bisa mewujudkan mimpi kami menghidupkan batik Kudus,” tutur Fatkurahman yang mengembangkan batik Kudus bersama sang isteri tersebut.

I\m Sorry Good Bye!

Fatkurhaman memperlihatkan batik hasil produksinya

Memproduksi kembali batik Kudus yang sempat hilang tak hanya membutuhkan pengorbanan waktu, biaya dan menuntut kesabaran. Ia dan beberapa perajin lain juga harus melakukan berbagai riset dan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya untuk merekonstruksi berbagai motif klasik batik Kudus. Terkadang Fatkurahan dan isteri mendapatkan referensi motif batik khas Kudus lewat buku. Lewat gambar batik seukuran buku ia berusaha merekonstruksi motif-motif batik warisan nenek moyang. Bukan perkara mudah memang untuk mendapatkan koleksi batik tempo dulu yang asli.

Sentuhan Kekinian Batik Kudus

Saya sungguh mengapresiasi perjuangan Fatkhurahman bersama pengrajin yang lain untuk menorehkan kembali canting-canting berisi lilin panas yng selama ini mengering. Diluar kacamata sebagai sebuah bisnis, usaha yang digeluti Fatkhurahman bisa dipandang sebagai sebuah kecintaan dan apresiasi terhadap budaya, meskipun usaha tersebut tergolong miskin peminat. Dalam artian, jarang pengusaha yang menekuninya karena kerumitan proses, tingkat kesulitan dan berbagai kendala lain.

I\m Sorry Good Bye!

Bernagai contoh motif batik Kudus kontemporer

Akan tetapi Fatkurahman bersama isteri berhasil survive, mereka bahkan tidak hanya berhasil melestarikan beberapa motif-motif batik klasik seperti kapal kandas, tri busono, romo kembang, beras kecer, dsb. Malahan ia mampu mengembangkan batik Kudus dengan berbagai kreasi motif kontemporer yang terinspirasi dari kekhasan kota Kudus seperti yang tertuang dalam motif kretek, parang cengkeh, liris gendhing (genting khas Kudus), tari kretek (tarian buruh pembuat rokok), parijoto (buah khas Colo), merak katela, lentog tanjung (makanan khas kudus), buketan beras kecer dan masih banyak lagi. Beberapa motif tersebut telah didaftarkan hak patennya ke HAKI.

Orang-Orang Pilihan Penoreh Canting

Untuk menghasilkan sehelai kain batik memerlukan proses panjang, dari menggambar motif (molani), mencanting, pewarnaan yang dilakukan berulang sesuai jumlah warna yang diinginkan sampai nglorot (melepas lilin dari kain) memerlukan waktu paling cepat dua bulan untuk sehelai kain batik tulis nan cantik. Tidak sembarangan orang bisa melakukan pekerjaan ini. “Dari 20an orang yang kami latih membatik, paling banyak hanya 3 orang yang bisa menekuninya sebab membatik itu benar-benar memerlukan kecintaan dan jiwa seni yang tinggi, disamping kesabaran ekstra,” tutur Ummi, isteri Fatkurahman. Jika sobat adalah satu dari penoreh canting, dapat dipastikan sobat adalah orang yang terpilih. Sebab saya mengamati secara langsung bagaimana jari-jemari yang memegang cantng menari-nari di atas selembar kain untuk melukis motif dengan berbagai kesulitannya.

 I\m Sorry Good Bye!

Membuat pola motif batik

I\m Sorry Good Bye!

Mencanting

I\m Sorry Good Bye!

Batik cap

I\m Sorry Good Bye!

Pewarnaan

Mili demi mili lekukan motif yang indah ditorehkan ke atas katun polos hingga lelehan lilin memenuh permukaan kain dan mengering. Pekerjaan tersebut dilakukan dengan telaten dan teliti. Ada ilmu yang kita ambil dari proses pembuatan batik yaitu pentingnya sebuah proses, ketelitian, ketelatenan, kesabaran, pantang menyerah dan manajemen emosi. Benar sekali manajemen emosi. Itu yang terpenting, saat membatik seorang pembatik benar-benar perlu menata hati dan pikiran agar batik yang dibuatnya sempurna. Jika salah sedikit saja, maka mengulang dari awal adalah konsekuensinya. Salut untk perajin batik!

Alhamdulillah kini masyarakat mulai sadar dan mengapresiasi batik sebagai salah satu kebudayaan yang patut dilestarikan. Semoga bukan hanya dimaknai sebagai simbol. Saya bangga akan batik atas bukan sekadar karena keindahan hasil akhirnya melainkan atas kerja keras yang tertuang di ataskain yang menutupi permukaan kulit saya.

Saya bukan perajin batik. Bagaimana saya melestarikan batik? Saya masih ingat ketika masih aktif sebagai Beswan Djarum Kudus bersama teman-teman yang lain sepakat mengenakan batik di berbagai kesempatan pelatihan yang diselenggarakan Djarum Beasiswa Plus, salah satunya ketika event Dear to be a Leader di Malang, Jawa Timur. Pun hingga sekarang dan di beragai kesempatan. Hal itu hanya sebagian kecil cara menghargai dan menerusan pesan berupa nilai-nilai moril batik yang coba ingin disampaikan para pendahulu kita. Saya cinta batik! Saya menghargai perajin batik! Saya melestarikan budaya!

I\m Sorry Good Bye!

Minggu pagi (9/10), saya bersama seorang Beswan Djarum, Dian berencana menyisir tempat-tempat bernilai budaya di kota Kudus. Kami berdua memang sudah memiliki niat untuk hunting peninggaan budaya di Kudus. Setelah mampir ke rumah Om-nya di Dian yang juga perajin gebyok (ukiran khas Kudus), kami berencana mengunjungi perajin caping kalo (topi khas Kudus pelengkap pakaian adat wanita). Namun sayang kekecewaan menghampiri kami, lantaran caping tersebut sudah tidak di produksi lagi. Lebih menyedihkan lagi ketika kami tahu fakta bahwa perajin yang tinggal satu-satunya di kota Kudus tersebut sudah uzur dan tidak ada yang meneruskan jejaknya.

Roda kendaraan akhirnya membawa kami ke tujuan  berikutnya yakni Masjid Wali yang terletak di desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Masjid yang memiliki nama lain At Taqwa ini didirikan pada tahun 1596-1597, abad ke 15 pada masa Hindu Budha menuju ke Islam, oleh Tjie Wie Gwan,  seorang pengembara dari kerajaan Campa, Cina. Yang membuat masjid ini menarik dan unik adalah bangunan gapura di depan masjid memiliki  arsitektur menyerupai pura di Bali dengan menggunakan bata merah yang memiliki nilai budaya tinggi dan tergolong Benda Cagar Budaya. Arsitektur yang menyerupai pura itu dimaksudkan sebagai taktik (akulturasi budaya) oleh Tjie Wie Gwan agar masyarakat sekitar tertarik untuk mendatangi Masjid tersebut karena pada masa itu masyarakat masih beragama Hindu-Budha, belum mengenal agama Islam.

I\m Sorry Good Bye!

Gapura Masjid Wali menyerupai Pura

Tjie Wie Gwan sendiri adalah suami dari R. Prodobinabar, anak dari Sunan Kudus. Tjie Wie Gwan diperintah oleh Sunan Kudus untuk menyebarkan agama Islam di kawasan Kudus selatan.

Manten Mubeng

Ada adat unik yang biasa dilakukan masyarakat Loram Kulon yang melaksanakan pernikahan. Pengantin yang berasal dari desa Loram Kulon memiliki kebiasaan mengelilingi gapura masjid Wali sebanyak tujuh kali setelah prosesi ijab qobul, lepas itu mereka memasukkan uang sedekah ke dalam kotak kas yang terletak di depan masjid.

Konon ceritanya dahulu belum terdapat KUA, sehingga proses ijab qobul pengantin dilaksanakan di Masjid Wali dengan Tjie Wie Gwan sebagai penghulu. Karena banyaknya yang menikah, untuk mempersingkat waktu maka beliau berpetuah agar para pengantin yang telah sah mengelilingi gapura dan akan di doakan dari depan Masjid sambil disaksikan oleh warga setempat. Kegiatan tersebut bertujuan baik, tanpa bermaksud untuk mengarah ke perbuatan syirik.

I\m Sorry Good Bye!

Khusus pengantin

Sedekah Nasi Kepel

Tradisi lain yang dilakukan masyarakat di lingkungan tersebut adalah sedekah nasi kepel. Nasi kepal dan bothok (makanan yang terbuat dari campuran petai cina, parutan kelapa dan bumbu yg dibungkus daun pisang lalu dikukus) yang masing-masing berjumlah tujuh tersebut didoakan dan diselamati dengan niatan sedekah. Menurut cerita masyarakat sekitar, dahulu ada seseorang yang ingin melakukan sedekah namun ia tergolong orang yang tidak mampu. Kemudian Tjie Wie Gwan menyuruhnya untuk mebuat nasi kepal dan bothok yang terbilang relatif terjangkau bagi orang yang kurang mampu. Sementara nominal tujuh (Jawa: pitu) mengandung arti pitulungan (pertolongan), pitutur (nasehat) dan pituduh (petunjuk). Kebiasaan lain yang hingga sekarang dilaksanakan adalah Ampyang Maulid, yaitu kirap memperingati Maulid Nabi Muhammad.

See? betapa banyak filosofi dari para pendahulu kita yang tertuang dalam berbagai tradisi dan adat kebiasaan yang jika tidak kita pelajari dan lestarikan tentu kita tidak akan tahu niai-nilai kearifan itu dan lebih parah lagi bisa membuat kita lupa akan jati diri kita sendiri jika kita tidak mengindahkannya.

Budaya kasat Mata

Satu hal yang mebuat saya terkesan saat berkunjung ke Masjid tersebut bukanlah bangunan gapuranya. Mungkin karena bukan yang pertama kali saya melihat bangunan tersebut. Selain juga karena ada bangunan berarsitektur serupa seperti Menara Kudus yang menjadi landmark kota Kudus yang amat familier. Ada nilai penting yang saya dapatkan saat berkunjung ke masjid wali pagi itu. Hal itu saya dapati tepat di belakang gapura, dimana puluhan pria dari usia remaja hingga paruh baya sibuk menurunkan genting dari atap masjid, sementara yang lain ada yang membongkar kayu-kayu reng. Beberapa yang lain sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ya, kebetulan pagi itu Masjid Wali mulai direnovasi. Para remaja pria datang dari perwakilan mushola dan masjid setempat, juga perwakilan RT. Yang jelas semua pria di desa Loram Kulon nampak terlibat dalam proyek renovasi Masjid yang terakhir direnovasii pada tahun 90-an tersebut. Masjid pagi itu benar-benar dipenuhi puluhan masyarakat yang masih mempertahan tradisi luhur yang mulai langka,  gotong royong.

I\m Sorry Good Bye!

Warga bergotong royong merenovasi masjid Wali.

Saya sangat mengapresiasi nilai-nilai yang tetap dipertahankan masyarakat Loram Kulon. Mereka benar-benar memelihara kearifan lokal yang ada sejak zaman dulu.

Nilai-nilai yang saya dapatkan hari itu hanya cerminan kecil dari nilai luhur kebudayaan yang ada di Indonesia. Jika berbicara soal gotong royong, tentu bukan menjadi budaya miliki masyarakat Kudus semata, berbagai daerah di Indonesia sangat kental dengan nuansa gotong royongnya, sebut saja tradisi “Angkat Rumah” (dalam arti sebenarnya lho!) di daerah Bantimurung, Sulawesi Selatan. Warga di sana bergotong-royong membantu kepindahan rumah salah seorang warga  dengan mengangkat rumah panggung secara bersama-sama menuju lokasi tempat tinggal baru. Unik ya? mengingat biasanya kalau pindahan rumah yang pindah hanya orang dan isi rumah tapi ini rumahnya juga ikutan pindah.  Gak kebayang seberapa beratnya mengangkat sebuah rumah, meskipun itu rumah kayu tetap saja yang namanya rumah tidak mungkin seringan kasur. Saya juga tidak bisa membayangkan berapa banyak peninggalan budaya lainnya dari seluruh pelosok daerah di Indonesia jika dihitung. Bayangkan jika  masing-masing Beswan Djarum diminta menceritakan kebudayaan masing-masing dan dirangkum menjadi satu pasti akan menjadi sebuah ensiklopedi yang luar biasa dan kaya akan nilai-nilai yang patut untuk dipelajari.

I\m Sorry Good Bye!

Tradisi "Angkat Rumah" kelihatan betul kan gotong-royongnya? from: http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2011/01/21/melihat-tradisi-angkat-rumah-di-bantimurung/

I\m Sorry Good Bye!

Itu beneran rumah lho yang mau diangkat dan dipindahkan (from: http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2011/01/21/melihat-tradisi-angkat-rumah-di-bantimurung/)

Mengenang saat masih menyandang status mahasiswa dulu dan mendapatkan kesempatan dari Djarum Beasiswa Plus menjadi salah satu penerima beasiswa. Ketika itu saya dipertemukan dengan teman-teman Beswan Djarum dari berbagai daerah di Indonesia, dimana saya bisa saling bertukar pengetahuan, dan mengenal kebudayaan masing-masing. Momen-momen itu benar-benar menyadarkan saya mengenai kebinekaan bangsa ini yang luar biasa indah. Salah satu kegiatan yang masih saya kenang dan mengajarkan kepada kami Beswan Djarum mengenai pentingnya mempelajari budaya adalah ketika kegiatan Wawasan Kebangsaan (dahulu Silturahmi Nasional). Pada kegiatan tersebut kami diberikan kesempatan untuk menampilkan berbagai tarian tradisional dari berbagai daerah. So amazing, and unforgettable!

Pelajaran yang saya ambil kali ini adalah, mempelajari budaya bukan sekadar mengagumi benda kasat mata sebagai manifestasi dari peninggalan budaya, melainkan pula mampu mengambil nilai-nilai kearifan yang terkandung di dalamnya. Saya semakin yakin bahwa para pendahulu kita adalah orang-orang luar biasa yang  membekali kita anak cucunya dengan pesan-pesan penting dan berguna dalam setiap karya, entah itu dalam bentuk tari-tarian, adat kebiasaan maupun berbagai tradisi lainnya, termasuk hal-hal tak kasat mata. Bukan hantu atau jin penunggu keris tentunya. melainkan nilai-nilai sebagai esensi dari budaya itu sendiri yang terkadang tak kasat mata namun penuh makna.

Bagi sobat yang ingin berpartisipasi membantu proyek renovasi masjid Wali Loram Kulon bisa mengirimkan bantuan ke sini (amanat pengurus Masjid Wali)

I\m Sorry Good Bye!

Ayo bantu proyek renovasi Masjid Wali

I\m Sorry Good Bye!

Ketemu lagi di seri Beswan Djarum Unforgattable stories, yang belum baca postingan sebelumnya stop dulu… ayo baca the previous post (maksa.org). Setelah selesai mengikuti Achievement Motivatioan Training (Outbound) di Lembang, Bandung. Kami rombongan beswan Djarum Kudus berkesempatan mampir ke Gunung Tangkuban Perahu. Meskipun kejadiannya sudah dua tahun lalu, tapi masih lekat dalam ingatanku. Kala itu keberangkatan kami ke gunung yang berbentuk seperti perahu terbalik tertunda, gara-gara Mila salah satu teman kami mengalami accident saat muter-muter naik ATV. Entah kenapa saat Mila dibonceng Pak Roni naik kendaraan tersebut mengelilingi area outbond, tiba-tiba ia nyungsep ke tanah dengan posisi kepala menukik ke tanah macam pesawat gagal landing (bukan bermaksud suka ngeliat teman susah Mil, peace ^_^V).

Gara-gara peristiwa tersebut Mila sempat kesakitan dan susah berjalan karean kepalanya puyeng. Akhirnya dengan rasa solidaritas kami menungguinya seraya beberapa personil Pak Roni berusaha meringankan rasa sakit dengan P3K yang tersedia.

Singkat cerita, Mila akhirnya pulih dari sakitnya dan kami sampai di Tangkuban perahu. Seperti biasa kami berfoto narsis sambil mengekplorasi berbagai sudut untuk dijadikan latar berfoto. Termasuk salah satu diantara kami adalah si Agus. Tampangnya gak kalah lucu dibandingkan Abdel atau Temon, nyaris tanpa ekspresi. Hal itu yang sering menjadaikan si Agus “bulan-bulanan” saat bercanda bersama teman-teman Beswan Djarum yang lain (disetiap tempat selalu ada orang yang seperti ini haha… tapi saya suka d(^_^)b gk bikin boring). Entah angin apa saat itu yang membawa Agus menanyakan pertanyaan konyol “Kita sudah sampai tangkuban perahu ya? Mana Perahunya?” tanyanya polos. Gubrakzzz!!! Kami yang mendengar celetukan Agus sejurus langsung saling memandang dan kemudian tawa pun pecah. Entah pertanyaan tersebut sungguh-sunguh terlontar karena ketidaktahuannya atau karean ingin memancing tawa, yang jelas celetukan si Agus menjadikan cerita itu one of Beswan Djarum unforgattable stories versi kami. Haha…… good job Gus! (bersambung)

Beberapa minggu yang lalu saya mengendarai motor dari Kudus ke Pati dengan tujuan untuk menghadiri pernikahan salah satu Beswan Djarum angkatan saya. Selama roda membawa saya semakin jauh meninggalkan Kudus memori lama merasuki ingatan. Ingatan itu muncul tatkala mata ini memandang ke kanan kiri jalan yang masih tampak sama kodisinya ketika kami (Beswan Djarum Kudus angkatan 2008) harus berkejar-kejaran dengan truk-truk container penuh muatan, dengan truk-truk gandeng yang menyesaki badan jalan, dan saling berbonceng dengan mata berbinar penuh semangat, serta dengan agenda-agenda di kepala yang siap saya floorkan dengan teman-teman ketika rapat.

Tepatnya masa dua tahun lalu ketika setiap bulan saya dan teman-teman Beswan Djarum Kudus satu angkatan harus hilir mudik Kudus-Pati untuk mengadakan rapat bulanan sekaligus ambil gaji (dana beasiswa) di kantor perwakilan Djarum Beasiswa Plus di Pati. Rutinitas tersebut bukan menjadi kendala, perjalanan Kudus-Pati tiap bulan selama satu tahun tersebut justru mengeratkan kami. Sebab banyak pengalaman yang kami rasakan bersama. Banyak sekali tantangannya, dari mulai menyepakati hari kapan kami harus ke Pati (menentukan hari biasanya yg paling ribet karena harus berkompromi dengan aktivitas masing-masing), berkumpul di depan Kopma STAIN Kudus dan menunggu teman yang terlambat datang sebelum berangkat ke Pati bersama-sama, sampai makan siang bersama setelah rapat selesai.

Kami Beswan Djarum Kudus, kenapa rapatnya di Pati? Begitulah kenyataanya, meskipun kantor pusat Djarum terletak di Kudus, kami Beswan Kudus harus menempuh perjalanan melewati jalur pantura kurang lebih satu jam menuju kantor perwakilan Djarum Beasiswa Plus di Pati untuk melaksanakan rapat bulanan. Secara teknis Beswan Kudus berurusan dengan pembina yang bekerja di kantor perwakilan area Pati. Jalan yang berlubang dan bergelombang akibat sering diperkosa oleh truk-truk overload tak mampu menyurutkan semangat kami untuk terima gaji bulanan (hahahah… :D), disamping semangat untuk bertukar fikiran agar program kerja yang kami susun bisa berjalan lancar tentunya.

I\m Sorry Good Bye!

Suatu ketika saya dan Rojib berboncengan menaiki motor tua saya (Honda Astrea 800 keluaran ’85) ke Pati bersama rombongan. Hari itu saya sadar bahwa kendaraan butut yang sehari-hari menjadi tunggangan setia saya ke kampus tersebut memang kurang prima. Rem depan sudah tidak berfungsi karena kampas rem yang aus. Terlebih saya kurang perhatian dengan kendaraan yang usianya lebih tua dari saya ini. Kurang paham ilmu otomotif dan jarang memanjakan motor ke salon (bengkel) tepatnya. Saat kami pulang dari rapat bulanan di kantor perwakilan Djarum Beasiswa Plus di Pati, seperti biasa naluri muda memacu kami menggeber gas sekuatnya sehingga motor melesat kencang. Si hitam putih yang saya tunggangi dengan Rojib tentu saja tak mampu mengejar yuniornya yang lebih muda.

Di tengah perjalanan tiba-tiba saya mendengar seperti ada yang benda yang lepas dan jatuh terseret. “Plak..srrrrtt……” (kurang lebih seperti itu suaranya, saya lupa persisnya). Rojib yang saat itu saya minta menggantikan saya memegang setang, spontan langsung menepikan motor malang itu. Seketika saya turun dan mengeceknya “Astaghfirullah… kabel rem belakang lepas,” ucapku seraya meratapi nasib motorku. Parahnya baut untuk mengaitkan kabel rem hilang terjatuh di jalan. Rem depan tidak berfungsi, sekarang rem belakang dol. Wah lengkap sudah penderitaan tunggangan yang aku suka karena hemat bahan bakar tersebut. “Sambil jalan kita cari bengkel saja Pak Wo,” usul Rojib.

Entah angin apa yang memberanian kami menantang maut untuk mengendarai motor tanpa rem tersebut di tengah-tengah jalan yang menghubungkan Anyer-Panarukan tersebut. Dengan Rojib sebagai sopir, kami tetap nekat melajukan motor meskipun tanpa rem. Kabel yang menjuntai saya ikat dengan tali rafia yang nemu di jalan. Sesekali kendaraan besar seperti truk berhenti mendadak di depan kami. Kami pun panik, takut kalau-kalau motor kami menghantam bagian belakang truk atau mobil yang saat itu ramai menemani sepanjang perjalanan kami. Untung saja bak pendekar silat, rojib yang duduk di depan langsung banting setir ke kiri. Untung saja kami tidak nyungsep ke sawah.

Kendaraan terus kami paksa berjalan meski tanpa rem sebagai kendali sambil mencari bengkel terdekat, dan ketika kami dihadapkan pada lampu lalu lintas yang berwarn merah, rasa was-was kembali muncul. Kali ini jurus yang dikeluarkan Rojib adalah dengan memutar kunci motor ke kiri (switch off) dan pasang kuda-kuda (alias rem kaki). Ckckck….. gila betul kalau mengingatnya. Kendaraan terus berjalan sementara belum satu bengkelpun kami jumpai hingga akhirnya kami sampai di Kudus. Akhirnya di sebuah bengkel yang letaknya tidak jauh dari kos-kosan Rojib motorku bisa dibetulkan. Hari itu saya bersyukur karena bisa pulang dengan bagian tubuh yang masih utuh. Untung saja waktu itu aku tidak mengendarai motorku sendirian, ada teman berbagi yang menjadi nahkoda saat kapal berlubang hahahaha….. makasih Jib, itu salah satu kenangan yang tak terlupa…… (bersambung)

I\m Sorry Good Bye!Kemaren sore (30/7), sebuah sms melayang ke handphoneku dan kusadari ternyata sms tersebut sudah masuk beberapa menit yang lalu. “Kak manaqiban kak Inung jam berapa?” tanya Kak Budi (Beswan Djarum 2007). Aku yang belum ngeh kalau sore itu ada acara manaqib seketika menjawab sms tersebut” Q koq lum tahu ya?” “Ayo Kak, generasi LA (Lintas Angkatan) lgsg join, ni kyk reuni,” balas kak Budi. Pesan tersebut membawaku menuju rumah Inung (Beswan Djarum 2009) yang saat itu mengadakan manaqib syukuran karena telah menjalani sidang skripsi dengan sukses. Acara manaqib ini bukan yang pertama, karena sebelumnya acara semacam ini sudah sering kami lakukan.

Berawal dari beberapa kegiatan syukuran yang digagas para alumni Beswan Djarum Kudus (Kak Budi, Mas Yusuf dan Pak Tarom) jamiyah manaqib kemudian berlanjut dengan mengusung nama Darul Progress (keran ya namanya mengusung semangat kemajuan nich hoho……). Hingga sampai sekarang apabila ada teman-teman Beswan Djarum Kudus yang punya hajat atau punya rezki lebih pasti akan mengundang semua Beswan Djarum Kudus lintas angkatan.

I\m Sorry Good Bye!Benar saja, ketika motor yang saya kendarai landing di halaman rumah Inung suasana sudah seperti reuni saja. Tampak Beswan Djarum angkatan 2007, 2008, 2009 dan 2010 sudah bertengger di rumah si Inung. Tidak seperti biasanya, Mas Yusuf (Beswan Djarum Kudus 2003 dan 2004) dan Pak Tarom (Beswan Djarum Kudus 2002) tampak tidak hadir mungkin karena kesibukannya. Rupanya acara sudah dumulai beberapa saat sebelum saya sampai lokasi. Maklum sebelumnya saya harus berjibaku dengan kendaraan yang memenuhi jalan di Sabtu sore itu.I\m Sorry Good Bye!

Seperti biasa selesai kegiatan manaqib, kami isi dengan ngobrol bareng dan canda tawa hingga tawa tak terbendung dan pecah diantara suasana kebersamaan kami. Kami selalu bersyukur karena suasana kebersamaan selalu terjaga diantara kami Beswan Djarum Kudus lintas angkatan. Meskipun banyak diantara Beswan Djarum Kudus yang berasal dari luar kota seperti Jepara, Pati, dan Demak tetapi semangat kekeluargaan selalu menyatukan kami dalam setiap kegiatan yang melibatkan Beswan Djarum Lintas Angkatan.

Doa sudah dilantunkan, perut pun sudah penuh dan canda tawa terlewatkan. Berikutnya sebagain kari kami memutuskan untuk meneruskan acara gathering dengan melipir ke Dhandangan.

Dhandangan Kearifan Lokal Kudus Menyambut Puasa

I\m Sorry Good Bye!Serelah berkumpul ria di rumah Inung. Saya bersama Ichan, Putri, Tera dan Sany (semuanya dari angkatan 2009 kecuali saya yang paling muda sendiri hoho….) memutuskan untuk lanjut mampir ke Dhandangan yang lokasinya dekat dengan rumah Inung. Dhandangan merupakan budaya peninggalan Sunan Kudus. Konon, dahulu masyarakat Kudus menantikan pengumuman hari pertama kedatangan Ramadhan dengan menghabiskan waktu di area sekitar Menara Kudus (menara yang dibangun Sunan Kudus, dan menjadi landmark kota Kudus). Sunan Kudus pada masa itu membunyikan bedug sebagai pertanda awal puasa pertama. Bedug yang dipukul bernunyi “dhang..dhang…dhang…..!” hingga muncul istilah dhandangan. Sambil menunggu pengumuman tersebut banyak pedagang menggelar dagangannya di sekitar area Menara Kudus. Hingga kebiasaan tersebut berlanjut hingga sekarang.

I\m Sorry Good Bye!Dhandangan biasanya digelar dua minggu sebelum puasa dan berakhir di hari pertama shalat Tarawih. Jalan Sunan Kudus dipenuhi pedagang yang membangun stand-nya di sepanjang garis tepat di tengah jalan menghadap ke dua sisi. Dari pedagang makanan, mainan, pakaian, sepatu, jam, kacamata, bahkan sampai hewan peliharaan dapat kita jumpai di sana. Berjalan dari rumah Inung sampai ke lokasi dhandangan kami merangsek masuk diantara para pengunjung lain.

Tanpa bisa mengontrol kenarsisan, kami menyempatkan berfoto di sepanjang perjalanan kami melihat-lihat barang-barang yang ditawarkan para pedagang. Tanpa peduli keramaian manusia yang menyemut tetap saja kami menyempatkan berfoto hingga tak jarang orang-orang di sekitar kami memandang heran. Walaupun sempat terpisah dari rombongan karena keasyikan potret sana sini, Alhamdulillah kami bisa pulang dengan selamat tanpa kehilangan satu benda pun. Maklum di keramaian biasanya banyak copet heheh…… Itu saja cerita saya. Mohon maaf ya kalau ada salah coz besok sudah puasa, selamat menjalankan ibadah puasa ya, semoga kita bisa menjalankan dengan baik dan ibadah kita diterima, amin.I\m Sorry Good Bye!I\m Sorry Good Bye!

I\m Sorry Good Bye!

I\m Sorry Good Bye!