Tristyan's Story

Through Story Sharing My Thought

I\m Sorry Good Bye!

Ketemu lagi di seri Beswan Djarum Unforgattable stories, yang belum baca postingan sebelumnya stop dulu… ayo baca the previous post (maksa.org). Setelah selesai mengikuti Achievement Motivatioan Training (Outbound) di Lembang, Bandung. Kami rombongan beswan Djarum Kudus berkesempatan mampir ke Gunung Tangkuban Perahu. Meskipun kejadiannya sudah dua tahun lalu, tapi masih lekat dalam ingatanku. Kala itu keberangkatan kami ke gunung yang berbentuk seperti perahu terbalik tertunda, gara-gara Mila salah satu teman kami mengalami accident saat muter-muter naik ATV. Entah kenapa saat Mila dibonceng Pak Roni naik kendaraan tersebut mengelilingi area outbond, tiba-tiba ia nyungsep ke tanah dengan posisi kepala menukik ke tanah macam pesawat gagal landing (bukan bermaksud suka ngeliat teman susah Mil, peace ^_^V).

Gara-gara peristiwa tersebut Mila sempat kesakitan dan susah berjalan karean kepalanya puyeng. Akhirnya dengan rasa solidaritas kami menungguinya seraya beberapa personil Pak Roni berusaha meringankan rasa sakit dengan P3K yang tersedia.

Singkat cerita, Mila akhirnya pulih dari sakitnya dan kami sampai di Tangkuban perahu. Seperti biasa kami berfoto narsis sambil mengekplorasi berbagai sudut untuk dijadikan latar berfoto. Termasuk salah satu diantara kami adalah si Agus. Tampangnya gak kalah lucu dibandingkan Abdel atau Temon, nyaris tanpa ekspresi. Hal itu yang sering menjadaikan si Agus “bulan-bulanan” saat bercanda bersama teman-teman Beswan Djarum yang lain (disetiap tempat selalu ada orang yang seperti ini haha… tapi saya suka d(^_^)b gk bikin boring). Entah angin apa saat itu yang membawa Agus menanyakan pertanyaan konyol “Kita sudah sampai tangkuban perahu ya? Mana Perahunya?” tanyanya polos. Gubrakzzz!!! Kami yang mendengar celetukan Agus sejurus langsung saling memandang dan kemudian tawa pun pecah. Entah pertanyaan tersebut sungguh-sunguh terlontar karena ketidaktahuannya atau karean ingin memancing tawa, yang jelas celetukan si Agus menjadikan cerita itu one of Beswan Djarum unforgattable stories versi kami. Haha…… good job Gus! (bersambung)

Lima belas menit sebelum mengetik postingan ini saya baru saja pulang dari salah satu cabang bank ternama yang terletak di Kudus. Dengan perasaan agak kesal saya mengetik curhatan saya ini. Flashback yuk. Selesai sholat Jumat saya berencana untuk membuka rekening baru di bank tersebut untuk keperluan penting. Sebelumnya saya buka alamat website bank tersebut untuk mencari tahu jenis tabungan apa saja yang tersedia dan persyaratan pembukaan rekening. Setelah selesai browsing beberapa menit kemudian kulajukan motorku menuju bank yang jaraknya kurang lebih satu kilo dari rumah.

Sebelum sampai di bank saya berhenti di tempat foto kopyan untuk mengkopi kartu identitas (KTP), untuk persiapan jika dibutuhkan. Setelah sampai di bank tampak area parkir tampak penuh sesak dengan kendaraan yang didominasi mobil. Segera setelah turun dari motor saya masuk ke dalam bank kemudian bertanya pada salah satu security tempat pembukaan rekening. Kemudian diantarkanlah saya kepada seorang karyawan bank yang bertugas melayani calon nasabah. “Selamat siang ada yang bisa saya bantu?” tanya wanita bersetelan serba hitam tersebut. “Saya ingin membuka rekening mbak,” sahutku. “Maaf dengan bapak siapa (Bapak? Tuwir amat *dalam hati saya). “Saya Bowo,” jawab saya. “Maaf boleh saya lihat kartu identitasnya?” pinta wanita tersebut. Sejurus kemudian saya keluarkan KTP dari dompet saya.

I\m Sorry Good Bye!

Ini bukan foto saya tapi foto di KTP saya bruwetnya seperti ini

Karyawan bank tersebut mengerutkan dahinya ketika melihat KTP saya. Maklum foto saya dalam KTP tersebut memang sudah tampak blur, kalau orang Jawa mengatakan ‘mbruwet’. Hal ini terjadi lantaran KTP bersamaan dengan dompet saya pernah menyelam di bak cucian. Tidak hanya KTP beberapa benda saya yang lain juga pernah merasakan sejuknya air bak cucian salah satunya adalah charger netbook saya. Kartu beswan saya pun fotonya juga sudah pudar tapi yang satu ini karena kejahilan teman-teman beswan melempar saya ke kolam belut setahun lalu (setelah event HUT Djarum ke-59 usai ). Melihat reaksi wanita tersebut lantas saya keluarkan jurus andalan saya yaitu mengeluarkan SIM. Kejadian orang heran melihat KTP dengan gambar diri saya yang bruwet bukan yang pertama, dan jika orang yang meragukan keaslian KTP saya, langsung saya keluarkan SIM. Tapi kali ini sama saja, sebab foto di SIM saya juga mulai luntur (gak tahu pakai kualitas apa tuch SIM gambarnya cepat pudar).

Melihat KTP dan SIM yang saya berikan wanita tersebut berkata “Sebentar Pak saya tanyakan dulu ya, mohon tunggu,” ujarnya. Lantas karyawan bank tersebut berjalan ke arah karyawan yang lain. Sesaat kemudian ia kembali dan berkata “Maaf Pak, kartu identitasnya kurang jelas fotonya jadi kita belum bisa menerima, silakan buat KTP yang baru terlebih dahulu.” jelasnya. Perasaan kesal sempat mengahampiri mendengar perkataan wanita tersebut. “Waduh mbak saya butuh membuka rekening secepatnya, saya tidak punya waktu untuk mengurus KTP di kelurahan,” keluh saya. Saat mendengar sarannya untuk membuat KTP baru yang terlintas dalam pikiran saya adalah karut marut birokrasi. Saya dengar pembuatan KTP memang bisa langsung jadi hari itu juga (one day service). Tapi saya kan harus minta surat pengantar RT terus harus menunggu lama di kelurahan.

Waktu menunjukkan hampir pukul 14.00, saya melaju pulang dengan kendaraan yang saya naiki. Saya putuskan untuk mampir ke kelurahan. Dalam hati saya menduga pasti kelurahan sudah tutup tahu sendiri kan biasanya orang-orang kelurahan pada males. Sesampai di depan kantor kelurahan tampak pintu terkunci semua. Tuch kan…… Grrrrrrrrr!!!!!! (jengkel.com) padahal jam buka kelurahan kan harusnya sampai sore. So I’m home and mengetik curhatan ini hehehe……