Tristyan's Story

Through Story Sharing My Thought

I\m Sorry Good Bye!Judul di atas mirip lagunya KD (Kris Dayanti) ya kan? tapi kisah yang mau aku ceritakan tidak ada kaitannya dengan lagu tersebut. Tahun ajaran baru ini saya membuat sebuah keputusan yang mengharuskan saya untuk tidak lagi mengajar di sekolah dasar dimana enam bulan terakhir ini saya tekuni. Dengan keputusan tersebut maka saya tidak lagi masuk ke ruang kelas dimana terdapat bocah-bocah kecil yang sibuk menjahili temannya ketika saya memberi tugas menulis. tidak juga menjumpai siswa saya yang selalu maju ke depan kelas dan menanyakan setiap huruf yang saya tuliskan di papan tulis. Tidak pula menjumpai Naeli yang suka menarik-narik baju saya atau Dimas yang suka klotekan (red, memukul-mukul meja) dan berbagai tongkah polah lucu anak didik saya.

It's hard for me to say good bye…. hiks,,,huaaaaaa!!!!!!!! (menangis menghadap dinding sambil pukul-pukul dinding) but I'm sure everything is gonna be okay. Keputusan meninggalkan sekolah dasar saya buat semata karena pilihan karir, dengan pertimbangan rasional tentunya. Sebenarnya bagi saya pribadi tidak ada kata bosan apalagi tidak krasan dengan lingkungan kerja sebagai guru SD. Meskipun sebagai Guru Tidak Tetap (GTT) terkadang saya diposisikan sebagai juru ketik (membantu mengurusi administrasi sekolah), namun nyatanya justru saya banyak belajar dari situ. Ditambah lagi rekan-rekan guru yang hampr semuanya sebaya dengan orang tua saya perhatiannya kepada saya seperti kepada anak mereka sendiri, membuat saya nyaman dan benar-benar merasa diterima sebagai keluarga.

Namun bagaimanapun juga dengan background saya yang lulusan pendidikan bahasa Inggris dan kebijakan pemerintah yang belum memihak lulusan bahasa Inggris sebagai guru tetap (PNS) bikin saya jadi mikir. Faktanya pelajaran bahasa Inggris di SD hingga kini masih menjadi muatan lokal dan belum menjadii mata pelajarann inti. Padahal bahasa Inggris sudah menjadi kebutuhan. Hingga akhirnya sebuah tawaran untuk mengajar bahasa Inggris di SMP swasta menghampiri saya dan saya putuskan untu menerima tawaran itu.
Kebetulan kepala sekolah SMP tersebut adalah alumni Beswan Djarum juga yang sudah saya kenal akrab semenjak menjadi Beswan Djarum lantaran di Kudus komunikasi Beswan Djarum antar angkatan berjalan sangat baik dan kontinyu, apalagi dengan kepercayaan dari PT Djarum kepada kami melalui berbagai kegiatan yang melibatkan Beswan Djarum Kudus lintas angkatan. Jadi menerima Beasiswa Djarum tidak hanya memberikan saya banyak bekal softskill tetapi juga jarngan yang membantu saya di bidang karir.

Hari ini, Jumat (29/7) bapak dan Ibu guru di SD tempat saya mengajar dulu mengadakan sebuah ceremony perpisahan yang bertujuan untuk melepas kepergian saya dari SD tersebut. Bagi saya hal tersebut merupakan sebuah apresiasi yang besar, mengingat sedikitnya kontribusi saya bagi SD tersebut. Sebulan sebelumnya saya sudah berpamitan kepada semua bapak ibu guru. Saat itu saya hanya bisa meninggalkan tanda mata berupa microphone, kenapa microphone karena saya teringat beberapa minggu sebelumnya ketika SD menggelar pelepasan siswa kelas enam salah satu microphone yang digunakan untuk acara tersebut rusak sehingga acara agak terganggu. Dan benda yang nominalnya tidak seberapa itulah yang saat itu mampu saya beli dan saya berikan sebagai tanda terima kasih kepada sekolah yang memberikan saya kesempatan untuk mengaktualisasikan ilmu saya unuk pertama kalinya. Saya sisipkan pula secarik kertas berisi ucapan terima kasih sekaligus permintaan maaf di sela-sela microphone yang saya bungkus rapi.
Dan hari ini Kepala SD mewakili pihak sekolah dan bapak ibu guru memberikan sesuatu yang bermakna dan akan saya ingat terus. Sebuah ceremony perpisahan bagi saya sudah meruakan penghargaan besar, namun tidak hanya itu sekolah memberikan saya sebuah kenang-kenangan. Bukan isi dari bingkisan itu yang membuat saya terkesan melainkan sebuah pesan yang disisipkan bersamaan bingkisan tersebut.

Milikilah hati yang tidak pernah membenci,

Milikilah kata yang tidak pernah menyakiti,

Milikilah senyum yang ikhlas dan menyejukkan,

Belajarlah dari masa lalu,

Kerjakan hari ini,

Berharalah hari esok,

Walaupun pesan tersebut sangat sederhana, tapi memiliki arti yang dalam bagi saya I will always remember those words.