Tristyan's Story

Through Story Sharing My Thought

I\m Sorry Good Bye!

Hari ini hari Minggu. Hari buat berbenah. Sebenernya sich planningnya mau seharian baca tiga buah buku yang baru saya beli via toko buku online. Selesai membaca buku saya yang pertama tiba-tiba saya teringat nasib buku-buku saya yang tersimpan rapi (padahal sebaliknya) di kamar kosong yang lebih tepat disebut gudang. Beberapa dari buku yang saya beli saat ada pameran atau saat hunting buku di Semarang sudah selesai saya baca. Sementara beberapa yang lain masih terbungkus plastik (belum kebaca).

Saat duduk di bangku SMA saya bukan tipe kutu buku seperti kebanyakan orang mengira. Mungkin karena saya bersekolah di SMA favorit, mereka berfikir saya ini kutu buku. Padahal menurut saya yang namanya kutu buku yaitu orang yang gemar sekali membaca buku-buku bermutu. Kalau saya ini tergolong orang yang suka baca buku pelajaran (itupun karena tuntutan). Jadi sungguh saya bukan bagian dari meraka.

Sekarang pun saya bukan tipe orang yang meluangkan waktu khusus untuk membaca buku-buku bestseller dan punya target berapa buah buku yang harus saya baca dalam waktu tertentu.

Saya lebih suka membaca kalau ada dorongan dalam diri saya untuk membaca atau setelah mendapat rekomendasi dari teman.

Pertama kali mengenal buku yang bermutu (bukan buku pelajaran) adalah ketika saya kali pertama bergabung di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Jurnalistik. Di sana ada semacam perpustakaan mini. Lewat UKM tersebut saya sedikit mengenal buku-buku bagus walaupun koleksinya belum cukup banyak.

Sebagai tim redaksi dari UKM yang menyusun majalah kampus saya dikenalkan dengan berbagai ilmu jurnalistik termasuk resensi buku. Terkadang juga kami sering melakukan bedah buku. Dari situ saya tahu bagaimana cara meresensi buku. Ya harus dibaca dulu tentunya.

Tugas untuk meresensi buku di majalah kampus membawa saya melakukan hunting buku yang baru dan bermutu. “Kalau mau resensi buku, cari buku yang bermutu dan harus terbitan terbaru, maksimal terbitan tiga bulan yang lalu,” begitu ucap salah satu senior saya. “Trus kita harus beli dong Mas?” tanya saya. “Gak harus beli dan gak ada anggaran buat beli kalian bisa pinjam,” tegasnya.

Harus dapat buku bermutu dan harus baru. Gila aja tuch senior. Kalau mau pinjem buku yang bermutu sich banyak bisa pijam ke teman, dosen atau hunting di perpustakaan. Tapi kalau bukunya harus baru, siapa juga yang bakal pinjemin. Paling tidak kita bisa pinjam buku setelah yang empunya selesai membacanya.

Kondisi yang seperti itu membuat saya dan beberapa teman harus hunting buku sampai ke Semarang. Tapi dari situ juga saya tahu dimana tempat beli buku yang bagus dan baru.

Well kembali ke topik awal. Ya hari ini rasa simpati saya muncul begitu melihat buku-buku yang saya beli terlantar tak terawat. Sebagian diantaranya bertumpuk di dalam aquarium bekas yang tak terpakai karena saya malas untuk mengganti airnya secara rutin. Apalagi setelah melihat cover beberapa buku yang saya punya. Beberapa tampak termakan kutu buku (dalam artian sebenarnya) hingga covernya berlubang. Dan hampir semua koleksi buku saya tampak seperti kue moci bertabur debu (bukan tepung)

I\m Sorry Good Bye!

Ini salah satu buku saya yang dimakan kutu (ih malu......knp diupload?)

Nurani saya tersentuh dan sejurus kemudian berinisiatif untuk mengelap satu persatu buku saya dan menyimopannya di lemari agar terhindar dari lembab dan kutu buku (dalam arti sebenarnya lagi).

Sebelumnya beberapa buku tersebut memang sudah saya simpan di dalam sebuah almari keci dekat dengan rak TV, namun rupanya,naluri tikus yang cerdas dan bergigi tajam untuk mencari peraduan yang hangat dan nyaman harus mengorbankan buku-buku saya. Si tikus itu melubangi almari dan menjadikan buku sebagai kasur dan nyamilan yang gurih.

Hari ini saya tergugah untuk menyelamatkan aset (buku-buku) saya tersebut. Dengan sehelai kain lap, saya bersihkan buku-buku tersebut. Beberapa buku yang covernya terlihat kusam oleh debu yang lengket saya lap dengan kain agak basah. Kemudian saya susun rapi di dalam lemari plastik yang baru Ibu beli.

Senang dan puas rasanya melihat buku-buku saya terselamatkan. The point should be underlined is “Mari kita sayangi buku dan kita rawat sebaik mungkin, meskipun sudah kita baca sampai habis yang namanya buku akan terus berguna buat siapa saja yang membacanya. I love my books, you should!