Tristyan's Story

Through Story Sharing My Thought

I\m Sorry Good Bye!

Image from: http://filmcrithulk.files.wordpress.com

Elizabeth Gilbert semestinya tidak perlu pergi ke Itali dan India untuk menemukan dua unsur yang dia cari. Makanan dan spiritualisme. Terakhir dia ke Bali dan menemukan cintanya setelah bercerai dengan suaminya Steven. Andai saja Gilbert tidak termakan stigma bahwa surga makanan itu ada di Italy dan spiritualisme hanya bisa ia jumpai di India. Andai Gilbert sedikit ‘cerdas’ dan sedikit peka, maka ia hanya butuh ke satu tempat. Indonesia. Mungkin sobat setuju dengan saya, karena kita sama-sama berpaham chauvinisme. Tapi benar gak? (gak perlu kasih waktu kan buat berfiikir? Haha…..)

I\m Sorry Good Bye!

Kalau kita bicara kuliner di Indonesia, bagian  mana sich di negeri ini yang tidak punya makanan khas? Kalau bicara soal selera tinggal pilih saja. Kalau kamu lebih suka makanan yang pedas silakan nikmati makanan dari daerah Padang atau yang dekat saja, Jawa Timur.

Kalau lidah lebih prefer makan makanan manis, Jawa Tengah tempatnya. Makanan asin cari saja daerah pesisir. Daerah Jawa Barat lebih rame rasanya. Belum Kalimantan, Sulawesi, Bali, Maluku, sayang aku belum pernah ke sana haha…..

Bicara soal travelling identik pula dengan wisata kuliner. Sebab manusia gak bisa jauh dari yang namanya makan. Sumber tenaga, sekaligus cara untuk menikmati indra perasa (lidah).

Saya akan membagi pengalaman wisata kuliner saya saat melakukan perjalanan. Dimulai dari kota saya sendiri, Kudus. Di sana terkenal dengan makanan khas Soto Kudus, dan anehnya hampir sebagian besar tempat di Indonesia punya soto khas masing-masing, sebut saja soto Betawi, soto Semarang, soto Lamongan, Soto Solo, Coto (namanya beda sendiri, tapi sama kok kayak soto juga) Makassar dan masih banyak lagi. Soto begitu populer. Itu hanya secuil bukti kalau kuliner kita itu begitu kaya. (bayangin Julia Robert makan soto Kudus :p ) Dari satu jenis kuliner saja banyak variannya.

Dari pengalaman saya, contoh perbedaan soto-soto tersebut misalnya Soto Kudus biasanya disajikan dalam mangkuk ukuran kecil dan bersama sendok bebek. Soto ini terdiri dari dua pilihan yaitu soto ayam dan soto daging. Soto Betawi, masih mirip soto Kudus, namun beda diisinya yang lebih banyak dan mangkoknya besar. Ada juga yang pakai kuah santan. Isian biasanya lebih sering menggunakan daging sapi, jeroan, dan kaki sapi. Sebagai pelengkap rasa ditambahkan acar, sambal dan emping.

Belum lagi kalau kita bicara jajan tradisonal. Kalau dihitung jumlahnya bisa melebihi jumlah seluruh pulau (besar dan kecil) di nusantara ini.

Kembali ke sharing pengalaman wisata kuliner. Di Kudus juga terkenal dengan Lentog, kalau di Jakarta  hampir mirip dengan lontong sayur. Kalau bicara oleh-oleh ada jenang Kudus, kalau di jawa barat dodol namanya.

Ingat kan negara kita negara maritim? Iya sudah pasti kaya dengan masakan ikan. Dan makan ikan yang seru menurut saya adalah saat makan ikan bakar di tepi pantai dekat rumah teman (Beswan juga, Rojib namanya) bareng-bareng di daerah Jepara. Pernah juga makan ikan bakar bareng-bareng di Waduk Gedungombo, Grobogan.

I\m Sorry Good Bye!

Ikan bakar tepi waduk Kedungombo

And you know what? Kini kuliner Indonesia mulai mendunia, Bulan Juli tahun lalu situs CNNgo meriilis 50 makanan terenak di dunia dan rendang menempati urutan ke 11 mengalahkan Lasagnya dari Italy (urutan 23) dan Kebab dari Iran (urutan 18). Bahkan kemudian di bulan Agustus mereka memuat artikel yang khusus merilis 40 makanan terenak di Indonesia. Dan posisi pertama di tempati sambal. Menyusul di urutan di bawahnya yaitu sate , bakso, soto dan nasi goreng. The point is food is everywhere here, just choose the suiteble one for your tounge and your stomach haha….

I\m Sorry Good Bye!

Rendang (photo from : http://i.cdn.cnngo.com)

“There is no love sincerer than the love of food,” George Bernard Shaw said

I\m Sorry Good Bye!

Elizabeth Gilbert mencari ketenangan dengan memperkuat sisi spiritulisme ala dia dengan belajar yoga di India. Tapi kalau kita bicara spiritualisme di negeri ini gak kalah kental kok sisi spritualismenya. Di Bali, sudah pasti terkenal dengan spiritualismenya yang kuat. Di Jawa pun demikian, bahkan masyarakat Jawa  terkenal dengan Walisongo dan pondok-pondok pesantren berkualitas tempat belajar agama dan memupuk spiritualisme. Lagi-lagi Gilbert termakan stigma kan bahwa spiritualisme itu hanya bisa didapat lewat yoga, mungkin karena yoga sudah menjadi cara yang universal dalam mendekatkan diri kepada-Nya dan meraih ketenangan batin. Coba ya Gilbert ikutan istigosah, dzikir bersama atau Ruqiyah hehe… just kidding guys

I\m Sorry Good Bye!

Ziarah ke Walisongo (Sunan Kudus)

I\m Sorry Good Bye!

Sudah barang tentu Indonesia itu tempat yang cocok buat jatuh cinta. Tapi saya tidak akan membicarakan cinta sesama manusia. Jika seseorang mengenal Indonesia, pasti dia akan jatuh cinta. Jatuh cinta dengan keindahan alamnya, keanekaragaman flora fauna, adat kebudayaan, dan masyarakatnya yang dikenal ramah (semoga tetap demikian).

I\m Sorry Good Bye!

Kedungombo, Grobogan

I\m Sorry Good Bye!

Waduk Kedungombo, Grobogan

I\m Sorry Good Bye!

Image from: http://bangarulsite.blogspot.com

I\m Sorry Good Bye!

Photo from: http://indrakurniadi.com

Suatu ketika saya  mengendarai motor hendak beli pulsa ke konter, selesai beli pulsa rasanya enggan untuk langsung pulang ke rumah. Hingga motor membawa saya melewati sawah, dan ketemu sungai yang airnya jernih. Sejurus saya menepi, meluangkan waktu sejenak menyejukkan mata.

Motor kembali kupacu hingga membawa saya ke dataran yang lebih tinggi di kota saya tinggal, motor kulaju pelan sambil menikmati setiap tarikan udara yang aku hirup.

Sampai di suatu tikungan dimana rumah-rumah di daerah kota bisa dilihat terpampang bagai semut beraneka warna yang membentang sepanjang hamparan mata memandang.

Aku menepi lagi, kali ini aku menikmati hembusan angin lembah yang melesat naik. Suasana ini menyegarkan kembali jiwaku dari kepenatan, kumanfaatkan momen ini untuk menggali ide, what I’ve done and what next! Itulah perjalanan. Se-simple itu…

Postingan ini merupakan lanjutan dari postingan sebelumnya. Jika sebelumnya membahas pentingnya melakukan sebuah perjalanan, maka kali ini saya ingin sharing sebuah perjalanan.

Pernahkah sobat berfikir untuk melakukan perjalanan ke suatu tempat yang baru seorang diri. Silakan berfikir kalau melakukan perjalanan sendirian itu freak, kayak orang hilang, kesepian, identik dengan anti sosial or whatever. However, you need to try it sometime! Jika ada perasaan takut, coba lakukan perjalanan mulai dari yang paling dekat, yang belum pernah kamu datangi.

Melakukan travel seorang diri atau dikenal dengan istilah solo travelling justru jadi pilhan bagi beberapa traveller dunia. Terkadang kita butuh waktu untuk melakukan perjalanan seorang diri dan menanyakan kepada diri kita sendiri “Bagaimana kabarmu?” atau mananyakan pertanyaan yang lebih dalam lagi kepada diri kita sendiri.

It seemed an advantage to be traveling alone. Our responses to the world are crucially molded by the company we keep, for we temper our curiosity to fit in with the expectations of others. They may have particular visions of who we are and hence may subtly prevent certain sides of us from emerging… Being closely observed by a companion can also inhibit our observation of others; then, too, we may become caught up in adjusting ourselves to the companions questions and remarks, or feel the need to make ourselves seem more normal than is good for our curiosity. – Alain de Botton

Saya punya pengalaman untuk topik yang satu ini. Suatu ketika saya punya waktu luang di rumah, ingin rasanya keluar rumah dan mencari udara segar, ingin rasanya pergi ke suatu tempat yang baru. Muncul ingatan mengenai sebuah gambar papan yang bertuliskan “Ke Air Mancur Songgolangit”, tulisan itu saya jumpai ketika saya datang kondangan di pernikahan teman di daerah Bangsri, Jepara. “Suatu saat saya ingin ke sana”, begitu pikir saya dalam hati ketika itu.

I\m Sorry Good Bye!

Motorider traveller

Datanglah saya ke sana seorang diri, ke air terjun Songgolangit di kecamatan Kembang, Jepara. Papan yang saya baca beberapa tahun lalu itu masih melekat di sana, ketika saya lihat lebih detail di situ tertulis “Ke Air Terjun Songgolangit 11 Km lagi”, setelah menempuh perjalanan dengan sepeda motor selama satu setengah jam lebih, 11 kilometer masih di depan mata menuju spot tersebut.

Beberapa kali saya melewati hamparan hutan jati dan persawahan yang luas. Kuperhatikan indikator bahan bakar di samping speedometer, jarum merah itu hendak menyentuh angka 0. Panik sempat menghinggap, gak kebayang kalau saya harus menuntun motor berkilo-kilometer melalui hamparan hutan jati hanya karena kehabisan bensin.

I\m Sorry Good Bye!

Suasana sepanjang jalan menuju Songgolangit

Maka ketika di depan sudah terlihat perkampungan, rasanya lega luar biasa, langsung saya beli bensin di warung kecil yang saya lewati. “Songgolangit masih jauh bu?” tanyaku kepada penjual bensin. “Masih 4 kiloan lagi mas, kok sendirian, pacarnya gak diajak?” jawabnya disusul pertanyaannya yang ‘menyudutkanku’ dan semakin mengukuhkan kalau diriku ini seperti orang hilang. “Pacarnya lagi gak mau diajak bu,” jawabku sambil tersenyum (“This is solo travel Bu!’” teriakku dalam hati :p).

Melakukan perjalanan ke tempat baru seorang diri sungguh mmemiliki kesan yang berbeda, seolah aku sedang menantang diriku sendiri “Sejauh mana aku mampu pergi?”

I\m Sorry Good Bye!

Meski kadang tempat yang kau datangi is unworthed, maka kamu bisa tertawa dan menganggapnya sebagai sebuah kelucuan “Saya pergi sendirian berkilo-kilometer hanya untuk ini?”, hal itu tidak menjadi masalah bagiku pribadi, yang terpenting adalah pengalaman. Dari perjalanan tersebut kita bisa belajar banyak hal, seperti usaha untuk mencapai tujuan atau hal lain. Tentang kemandirian misalnya, atau belajar untuk bersyukur.

Road to going back  or road to another destination

Sampai di air terjun Songgolangit, ada rasa kepuasan tersendiri. Meski takseindah yang diharapkan karena air terjun tersebut ternyata sedang kering, tapi tetap saja saya merasa puas. Rasa penasaran terbayar. Berhasil mendatangi spot yang menjadi tujuan utama tak lantas membuatku ingin segera pulang, meski hari semakin sore. Justru memancing hasratku untuk menikmati sunset di pantai yang aku lewati ketika pulang.

Sambil terburu mengejar matahari yang bergerak cepat semakin condong ke barat kulajukan motorku menuju pantai Bondo di Kecamatan Mlonggo, Jepara. Sempat tersesat, kuarahkan pandangan ke barat dan takkujumpai lagi matahari membuatku sedikit kecewa. Hingga kutemukan jalan ke pantai dan kudapati, semakin aku mendekati pantai yang hanya berjarak satu kilometer, semakin pula matahari tenggalam. Bukan tenggalam di cakrawala air laut melainkan oleh awan mendung yang mematahkan kesempatanku menikmati sunset sambil melepas pegal di punggunggu.

Masih tampak beberapa gerombol manusia yang memiliki harapan yang sama denganku, meyaksikan sunset. Akhirnya kunikmati saja hembusan angin pantai petang itu sambil diterangi sisa cahaya matahari yang dipantulkan oleh awan. dan pulanglah saya dengan pengalaman baru, sebagai manusia baru.

I\m Sorry Good Bye!

Akhirnya sampai di air terjun Songgolangit

I\m Sorry Good Bye!

Songgolangit dari dekat

I\m Sorry Good Bye!

Mampir ke pantai Bondo, sunset tertutup mendung

I\m Sorry Good Bye!

My ride

Seberapa sering kamu liburan? Sekali setahun? Sekali dalam sebulan? Lebih sering dari itu? Kalau jawabannya tidak tentu, artinya sama dengan jawaban saya (tos dulu ah! Silakan skip buat yang punya jawaban beda :p).

Saya yakin sebagian orang tidak menempatkan agenda liburan dalam list what to do-nya. Hal ini berhubungan dengan budget. Kalaupun ditempatkan dalam list mungkin letaknya berada di runner up ke empat setelah kegiatan belanja bulanan, bayar tagihan-tagihan, bayar arisan, dan biaya untuk hewan peliharaan, or even might be worse than that.

I\m Sorry Good Bye!

Photo from : http://www.pacenet.org/tipaday/

Saya pribadi awalnya menganggap kegiatan liburan sebagai kegiatan yang tak perlu masuk ke list. Jika tiba-tiba saya berlibur itu pasti diluar rencana, anggap saja bonus misal karena dapat undangan study visit atau nemenin teman liburan. Menurutku liburan itu perlu budget, dan akan menguras kantong jika menginginkan liburan berkualitas.

Jika sobat punya pemikiran yang sama coba baca ini

“……taveling itu tidak bisa dipaksakan, sesuai kemampuan. Tidak usah gengsi jika memang tidak bisa, toh traveling tidak melulu soal destinasi, tidak melulu soal murah tapi proses menikmati traveling itu sendiri. Toh, ukuran murah pun bisa sangat bervariasi.,,,,”- Efenerr

Itu kutipan dari salah satu traveller blogger, Efenerr yang membuat saya mengangguk-anggukan kepala and that’s so true.

Kenapa kita mesti repot dengan budget dan masih menganggap liburan itu sesuatu yang ‘wah’? Kita butuh liburan guys, we need some refreshment!

I\m Sorry Good Bye!

Photo from (edited by me) : http://www.gapyear.com/

Orang-orang barat pasti memasukkan travelling dalam agenda rutinnya, mereka tidak mau melewatkan itu dan just to remind you (and me, my self) kalau tempat kita itu surganya travel spot. Saya punya air terjun yang indah di kota saya tinggal, berapa kali saya ke sana? Bisa dihitung dengan jari, what an irony!

Saya tahu tidak semua pembaca blog saya miskin travelling seperti saya, beberapa dari sobat mungkin traveller sejati and I need your advice, maka biarkan saya menyadarkan diri saya pribadi lewat tulisan ini bahwa travelling tidak melulu identik dengan expensive cost. Travelling itu kebutuhan, sama seperti handphone yang butuh di-recharge, atau sama seperti ikan-ikan di akuarium yang airnya butuh diganti dengan air baru yang lebih fresh.

Belakangan saya sadar kalau yang namanya liburan itu bukan hanya diving di Bunaken, mantengin pria Nias meloncat batu dengan mata kepala sendiri, berjemur di pantai Kuta, atau wisata ke Raja Ampat. Meski itu jadi impian semua traveller yang belum pernah ke sana.

Tapi makna liburan itu tetap bisa kita dapat meski hanya merendam kaki di sungai (yang bening  dan bebas polusi tentu) deket rumah nenek, menghirup udara gunung sambil menanam pohon, mandi di air terjun, atau rame-rame makan ikan bakar di tepi pantai deket rumah teman. Yang terpenting adalah esensinya, meski belum mampu pergi wisata ke spot-spot yang populer yang penting kita berhasil me-refresh diri kita. itu intinya liburan.

I\m Sorry Good Bye!

Di Sungai dekat Rumah Nenek, Dawe, Kudus

I\m Sorry Good Bye!

Di Air Mancur Montel, Colo, Kudus

I\m Sorry Good Bye!

Di tepi sawah dekat rumah teman

I\m Sorry Good Bye!

Menikmati suasana gunung, saat melakukan penghijauan

I\m Sorry Good Bye!

Mendayung canoe di Pantai Bandengan, Jepara

I\m Sorry Good Bye!

Di Pantai Teluk Awur, Jepara deket rumah Beswan Djarum Kudus

Jadi jika belum bisa liburan ke luar Jawa, apalagi ke luar negeri  mari mulai dengan melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang terdekat, di  kotamu sendiri atau di kota-kota terdekat.  Rumput tetangga akan selalu tampak lebih hijau, dan kita tidak akan pernah tahu bahwa ada rumput emas dihalaman kita sendiri karena kita tidak peduli,  melihat terlalu jauh.

So, what we waiting for, let’s start to travel from the nearest one!

I\m Sorry Good Bye!

http://www.superrobotmayhem.com/