DOCTOR'S SECRET

Young Doctor. Struggling to make others smile

Terkadang

Terkadang rasanya ingin menghilang
Menempati tempat baru
Di mana orang tidak mengenal
Di mana semua orang bisa kita beri senyum
Dan membalas senyuman kita dg tulus
Tanpa terpikirkan siapa kita dan apa maksud kita

Terkadang ingin rasanya menjadi orang lain
Yang berbeda dengan segenap peninggalan beban hidup
Berjalan satu tuju ke tempat baru
Dengan impian yang ternyata pupus
Ketika dihadapkan pada tembok kenyataan

Terkadang ingin rasanya ku tak miliki jantung
Karena rasa berdebar yang sangat kencang ini
Tak bisa aku kontrol dengan segenap genggam tangan
Hingga keringat dingin mengucur
Dan sesak ini muncul

Terkadang aku lupa
Bahwa banyak orang yang ingin menjadi sepertiku
Satu muara permasalahan hidup
Sebenarnya bukan pada melarikan diri
Namun dihadapi dengan senyuman

Sahabat

Seorang sahabat menceritakan kepadaku.. Kamu tahu apa arti cinta dan sayang?

Mungkin jawabanku ketika itu adalah “tidak tahu”

Namun semakin hari aku semakin tahu perbedaannya..

Rasa sayang itu tidak akan pernah pudar sampai kapanpun..

Melintasi ruang dan waktu, tetap saja terikat dan tetap ingin melihat orang yang kita sayang bahagia..

 

Seorang sahabat juga datang dalam hidupku

Membuatku terkesan dengan bagaimana caranya menyikapi hidup

Bukan seorang atheis

Namun juga tidak solat

Tapi jangan ditanya, wawasan agamanya bagus

Dan sebenarnya dia tahu, hanya saja “belum” mau menjalankan

 

Seorang sahabat yang datang di hidupku ini

Dengan sesal aku mengumpat kepada Allah

Tidak masalah ada manusia seperti ini

Tetapi kenapa aku harus mengenalnya?

Aku ungkapkan hal ini, namun dirinya hanya berkata “kamu adalah ujian untukku, dan aku adalah ujian untukmu”

 

Seorang sahabat yang datang di hidupku ini

Mungkin aku tidak mengenalnya terlalu dalam

Namun dirinya mampu menempatkan diri sebagai seorang kakak, seorang kekasih,

seorang yang ketika tidak ditanyapun, memberikan jawaban lengkap atas kegundahan hati

dan mengajak untuk  menjadi baik bersama-sama

 

Seorang sahabat yang kini hadir

Semoga akan menjadi ayah dari anakku kelak

Sehingga otak briliannya, wajahnya yang matang, suaranya yang merdu itu, dapat diwariskan kepada mahluk yang segenetik dengannya

Dan senyum manisnya akan menjadi berganda di dunia ketika seorang anak laki-laki lahir

Terpenting lagi, akan ada seseorang yang merawatnya kelak di hari tua

 

Sahabat, ketahuilah,

Mungkin berulang aku berkata aku membencimu

Namun itu hanya penyangkalan hati ketika cinta itu mulai bersemi untuk memaksakan sedikit angan

Karena komitmenmu adalah komitmenmu

Duniamu adalah duniamu

 

:)

 

Asal Usul Angka Jawa: KENAPA 25 ITU SELAWE , 50 ITU SEKET DAN 60 SEWIDAK?

JAWA - Dalam bahasa Jawa, terdapat penyimpangan pola penamaan bilangan yang konon memiliki falsafah yang amat mendalam jika dikaitkan dengan penyebutan usia seseorang. Jika dicermati dengan seksama, penyimpangan ini memang berbeda dari lazimnya penyebutan angka-angka di kepulauan melayu atau nusantara.

Penyimpangan tersebut terjadi mulai dari beberapa angka belasan hingga sampai angka 60. Ya, sampai angka 60 saja! Hal ini semakin menguatkan dugaan bahwa penyebutan tersebut memang erat kaitannya dengan usia manusia, mengingat usia 60 merupakan rata-rata panjang usia seseorang.

Keunikan penamaan angka jawa

Dalam bahasa Jawa, angka 11 tidak disebut sebagai ‘sepuluh siji’, 12 bukan ‘sepuluh loro’, 13bukan ‘sepuluh telu’ dan seterusnya hingga angka 19 yang tidak disebut sebagai ‘sepuluh songo’. Namun, angka 11 disebut sebagai ‘sewelas’, 12 disebut sebagai ‘rolas’ dan seterusnya hingga 19yang disebut sebagai ‘songolas’.
Apa makna dibalik semua ini? Mengapa sepuluhan diganti dengan welasan?

Filosofinya, bahwa pada usia 11 tahun hingga 19 tahun adalah saat-saat berseminya rasa welas asih (belas kasih) pada jiwa seseorang, terutama terhadap lawan jenis. Itulah usia di mana seseorang memasuki masa akil baligh, masa remaja.

Asal usul angka Jawa Selawe seket dan sewidak

Sementara dalam banyak bahasa, bilangan 11 hingga 19 memang diberi nama dengan pola yang berbeda. Dalam bahasa Indonesia disebut dengan belasan. Sedangkan dalam bahasa Inggrisdisebut dengan teen, sehingga para remaja pada usia tersebut disebut teenagers.

Seterusnya, bilangan 21 hingga 29 dalam bahasa Jawa juga dinamakan berbeda dengan pola umum yang ada.
Dalam bahasa lain biasanya sesuai pola. Misal dalam bahasa Indonesia diucapkan dua puluh satu, dua puluh dua, dan begitu seterusnya hingga dua puluh sembilan.

Sedangkan dalam bahasa jawa tidak demikian, angka 21 tidak disebut sebagai ‘rongpuluh siji’, 22tidak disebut rongpuluh loro, dst, melainkan 21 disebut selikur, 22 disebut rolikur, dan seterusnya hingga 29 yang disebut songo likur, kecuali angka 25 yang disebut sebagai selawe.

Di sini terdapat satuan Likur yang tidak lain merupakan kependekan dari LIngguh KURsi, artinya duduk di kursi.

Kenapa 25 itu Selawe , 50 itu Seket dan 60 Sewidak?

Mengapa disebut demikian? Falsafahnya, bahwa pada usia 21 hingga 29 itulah pada umumnya manusia mendapatkan “tempat duduknya”, baik itu berupa pekerjaannya, profesi yang akan ditekuni dalam kehidupannya; apakah sebagai pegawai, pedagang, seniman, penulis, dan lain sebagainya.
Bahkan yang lebih menarik, angka 25 memiliki sebutan khusus, yang mana bilangan 25 tidak disebut sebagai limang likur, melainkan selawe.

Apa maknanya, Selawe konon merupakan singkatan dari SEneng-senenge LAnang lan WEdok, itulah puncak asmaranya seorang laki-laki dan perempuan, yang ditandai oleh pernikahan. Maka pada usia tersebutlah (25) pada umumnya seorang laki-laki berumah tangga (dadi manten),
Memang tidak semua orang menikah pada usia tersebut, tapi jika dirata-rata memang di antara usia21-29. Pada saat kedudukan sudah diperoleh, pada saat itulah seseorang siap untuk menikah.

Dari angka 30 hingga 49, penamaan angka dibaca normal seusai pola urutan, misalnya telung puluh, telung puluh siji, telung puluh loro, dst.
Tapi ada penyimpangan lagi nanti pada bilangan 50. Mestinya, angka ini disebut sebagai limang puluh, namun sebutan populernya tidaklah demikian, angka 50 lebih sering disebut dengan seket.
Apa makna dibalik semua ini? Konon SEKET merupakan kependekan dari kalimat SEneng KEthonan, artinya suka memakai kethu / alias tutup kepala/topi/kopiah dan sebagainya.

Hal ini menandakan usia seseorang semakin lanjut, dan tutup kepala merupakan lambang dari semua itu. Selain itu tutup kepala merupakan alat untuk menutup rambut yang mulai botak atau memutih.
Di sisi lain, tutup kepala bisa juga berupa kopiah yang melambangkan orang yang sedang beribadah.

Memang demikian, pada usia 50 sudah seharusnya seseorang lebih memperhatikan ibadahnya. Setelah sejak umur likuran bekerja keras mencari kekayaan untuk kehidupan dunia, sekitar 25 tahun kemudian, yaitu pada usia 50 perbanyaklah ibadah, untuk bekal memasuki kehidupan akhirat.

Lain 50, lain pula 60. Angka ini tidak populer dengan sebutan enem puluh, tapi lebih sering disebut dengan sewidak atau suwidak.
Usut punya usut, konon sewidak merupakan kependekan dari ‘SEjatine WIs wayahe tinDAK’.

Maknanya, sesungguhnya pada usia tersebut sudah saat seseorang bersiap-siap untuk pergi meninggalkan dunia fana ini. Maka kalau usia kita sudah mencapai 60, lebih berhati-hatilah dan tentu saja semakin banyaklah bersyukur, karena usia selebihnya adalah bonus dari Yang Maha Kuasa.

Asal usul angka Jawa

 

UNIK BUKAN ? ITULAH SALAH SATU DARI BANYAKNYA KEUNIKAN DI DALAM SUKU JAWA .
Sumber: http://www.blogilyas.com/2015/09/kenapa-25-itu-selawe-50-itu-seket-dan.html?m=1

Lebaran KEDUAKU

lebarannn

Memori dan emosi dalam foto masih terasa, aku merasakan rasanya sungkeman, bersilahturahmi, memberi dan saling berbagi, didoakan dan mendoakan, memohon maaf dan memaafkan.. Semua terasa baru bagiku.
Bahkan aku harus menghapalkan dulu teks omongan yang kira-kira berbunyi begini “Pak/Bu/yang/pakdhe/budhe, kulo ngaturaken sugeng riyadi, sedoyo kalepatan kulo, kulo nyuwun pangapuro. Kulo nggih nyuwun donga pangestunipun nggih…”

Eaaaaa.. seketika diberikan wejangan balik dalam bahasa jawa alus juga. Ya tinggal disauri “nggih nggih” .. “matursuwun”

Maklum peranakan sunda-cina sm jawa jd di rumah pake bahasa inggris buahaha. Ora ora. Pake bahasa indonesia
Lebaran pertama, karena seisi rumah sakit tempat aku Koas masih menganggap aku Non-Muslim, alhasil, aku malah berjaga di hari raya. Iya, betul, mana ada rumah sakit yang libur di hari raya bukan?

Lebaran pertama emang agak kelam dan suram. Namun, di lebaran kedua ini, selain aku mendapatkan berkah bisa merayakan di kota asalku (karena calon suamiku berasal dari kota yang sama dengan diriku), aku juga pada akhirnya merasakan bahwa dekat dengan keluarga sendiri itu nikmat.

Meskipun mama dan papaku tidak merayakan Idul Fitri sepertiku. Meskipun mereka tidak mengucapkan sepatahkatapun yang berbau selamat hari raya untukku, bagiku diamnya mereka sudah cukup mengiyakan keputusanku ini.

Susah?

Ya susah. Mualaf kok.

Hehehe bahkan aku sudah biasa jika salat ied harus bersalaman dengan orang yang tidak aku kenal, salat ied berangkat sendiri, salat tarawih juga berangkat sendirian.

Yang penting kan dalamnya hati.

Dalamnya hatiku hanya Allah yang tahu.

lebaran

Lebaran keduaku kali ini alhamdulilah seru.. semoga kita bertemu lg di idul fitri selanjutnya dalam keadaan yg lebih baik, hati yg lebih baik..

Terimakasih Allah…

SIAPAKAH SEBENARNYA ISTERI?

Kisah ini aku angkat dari salah seorang temanku yang memposting cerita ini dari salah seorang teman lainnya yang jg memposting ini…

Tapi kisah ini bukanlah suatu pembenaran apakah aku merasa diistimewakan sebagai wanita yang nantinya akan dipilih menjadi ISTERI. Justru, ketika seorang pria sudah memilih dan merasa bertanggungjawab atas diri kita (hei ladies!) disitulah tanggungjawab kita sangat besar ditopang didalamnya.

Isteri adalah hanyalah salah satu peran seorang wanita ketika dilahirkan di dunia. Namun sebagai isteri, tanggungjawab kita sangat besar, terutama untuk membagi waktu dan tenaga, dan tak luput: kasih sayang. Isteri –> berarti wanita sedang berkaca dari sisi suami.

Namun, karena tadi aku bilang bahwa ISTERI hanyalah salah satu peran wanita, maka tanggung jawab kita tak hanya sebagai isteri. Sebagai ibu, sebagai nenek, sebagai anak juga (dari kacamata orangtua).

Oke, begini kisahnya…

gaya pelaminan 1

SEBENARNYA SIAPAKAH ISTERI?

Orang selalu berkata, “ada bekas istri/suami, tapi tidak ada bekas anak atau bekas orangtua”.
Seorang Profesor melakukan riset kecil kepada mahasiswa2nya yang sudah berkeluarga. Dia lalu meminta 1 orang mahasiswa untuk maju ke depan papan tulis.


Professor : “Tuliskan 10 nama orang yang paling dekat denganmu.”

Lalu mahasiswa itu menulis 10 nama, ada nama tetangga, orgtua, teman kerja, istri, anaknya, saudara, dst.
Profesor : “Sekarang silahkan pilih 7 orang diantara 10 nama tsb yang kamu benar2 ingin hidup terus bersamanya.”

Mahasiswa itu lalu mencoret 3 nama.
Profesor : “Silahkan coret 2 nama lagi.”

Tinggalah 5 nama tersisa.
Profesor : “Coret lagi 2 nama.”

Tersisalah 3 nama yaitu nama ibu, istri & anak.
Suasana kelas jadi hening. Mereka mengira semuanya sudah selesai & tak ada lagi yang harus dipilih.
Tiba2 Profesor itu berkata : “Silahkan coret 1 nama lagi!”

Mahasiswa itu tertegun untuk sementara waktu. Lalu ia dengan perlahan mengambil pilihan yang amat sulit itu dan mencoret nama ibunya.
Profesor : “Silahkan coret 1 nama lagi!”

Hati sang mahasiswa makin bingung. Suasana kelas makin tegang. Mereka semua juga berpikir keras mencari pilihan yg terbaik. Mahasiswa itu kemudian mengangkat spidolnya & dengan sangat lambat ia mencoret nama anaknya. Pada saat itulah sang mahasiswa tidak kuat lagi membendung air matanya, ia menangis. Awan kesedihan meliputi seluruh sudut ruang kuliah. Setelah suasana lebih tenang, Sang Professor akhirnya bertanya kepada mahasiswa itu, “Kamu tidak memilih orang tua yang membesarkanmu, tidak juga memilih anak yang adalah darah dagingmu; kenapa kamu memilih istrimu? Toh istri bisa dicari lagi kan?”

Semua orang di dalam ruang kuliah terpana menunggu jawaban dari mulut mahasiswa itu. Lalu mahasiswa itu berkata lirih, “Seiring waktu berlalu, orang tua saya harus pergi & meninggalkan saya. Demikian juga anak saya. Jika dia sudah dewasa lalu menikah. Artinya dia pasti meninggalkan saya juga. Akhirnya orang yang benar2 bisa menemani saya dalam hidup ini, bahkan yang dengan sabar dan setia mendampingi dan mensupport saya saat tertatih dan terseok2 berjalan menghadapi himpitan kehidupan untuk meraih karir hanyalah ISTRI saya”.

Setelah nenarik nafas panjang dia melanjutkan, “Orangtua & anak bukanlah saya yang memilih, tapi Tuhan yang menganugerahkan. Sedangkan isteri? Saya sendirilah yang memilihnya dari sekian milyar wanita yang ada di dunia”.

 

Ursula Penny Putrikrislia

IG: @ursulapenny

#SECRET 12: ORANGTUA

 

 

Sebagai dokter muda, beberapa hari terakhir fisik begitu lemah, sakit sering menyerang. Jam terbang di Rumah Sakit semakin tinggi, mengindikasikan akan mendapatkan lebih banyak ilmu pengetahuan sekaligus pengalaman kehidupan. kali ini bukan kisah yang luar biasa. Hanya seorang ibu, seumuran ibuku, tergeletak lemah di tempat tidur rumah sakit. Pagi itu pukul 4. Bau kotoran BAB manusia menyerbak di ruangan kelas 3 bangsal penyakit dalam. Ternyata, ibu itu BAB tidak tertahankan dan mengotori tempat tidurnya. Sang suami dengan sabar membersihkannya. Ibu ini berukuran terlalu besar sehingga suami tak kuat mengangkatnya untuk jalan ke toilet. Maklum, sang ibu terkena suatu jepitan di syaraf tulang belakang sehingga kedua kakinya lemah, sangat susah untuk berjalan. Kulihat jari-jari kakinya sudah tidak ada, amputasi karena kencing manis 14 tahun yang lalu. Akhirnya, saya di sisi kiri ibu, suaminya di sisi kanan ibu, kami membawanya ke toilet, mmm, sambil menahan bau pup. Kira-kira proses jalan bolak-balik toilet-tempat tidur membutuhkan waktu setengah jam, padahal hanya berjarak 2 meter. Susahnya ibu ini menggerakkan kakinya.

Ketika pada akhirnya ritual ini selesai, sang ibu menangis haru, “Kamu baik sekali Nak, anak saya aja belum tentu mau melakukan hal ini…”

“Ah ya nggak juga ah Bu…”

“Anak saya itu mbak, sama2 di Semarang, tahu saya mondok opnam saja, jenguk pun nggak…”

Air mata berlinang lebih deras dari pelupuk mata sang ibu.

Hilang sudah bau eek itu, hilang sudah rasa jijikku, tergantikan air mata sang ibu ini. Seringkali, bahkan setiap saat, aku mengingat kedua orangtuaku di rumah, yang bahkan belum tentu kusentuh dan kusapa setiap hari. Ya Tuhan, jagailah orangtuaku selalu. Berikan mereka kesehatan. Maafkan diriku yang tidak bisa setiap hari ada bersama mereka..***

 

Family can be found anywhere and with anyone at the end of the day

 

Pengawasan pasien persetengah jam. Amanah yang diemban dokter muda ketika jaga bangsal. Entah ada berapa puluh pasien.  stase penyakit dalam penuh dengan beragam penyakit dan bermacam pengawasan. Pengawasan pasien berarti kita mengawasi tekanan darah, suhu, denyut nadi per menit, laju pernapasan per menit. Tetapi nun jauh di sana, ternyata keluarga sendiri bahkan tidak terjamah. Ibumu demam. Ayahmu terjatuh di rumah. Adikmu sakit batuk. Bahkan kita, dokter muda, sampai tidak sempat mengikuti kondisi keluarga sendiri, tertutup oleh kewajiban formalitas dunia pendidikan yang mengharuskan jaga rumah sakit. Rasa rindu itu menyeruak, yang beruntungnya didekatkan dengan kemajuan media teknologi. Tetapi lain cerita ketika suatu pagi buta sekitar pukul 3, salah seorang sahabat seperjuangan saya menangis pilu, membuat siapa saja yang melihat keceriaannya selama ini luluh lantak dan heran, kok bisa sih kamu nangis kayak gitu? Yakinlah, ketika itu sahabat saya sedang melakukan pengawasan pasien. Tangannya masih menggenggam tensimeter dengan stetoskop terkalung di lehernya. Di sampingnya terbaring pasien hipertensi emergensi karena gagal ginjal kronik. Hapenya baru saja berbunyi. Mengabarkan kabar duka dari rumahnya nun jauh di sana: ayahnya meninggal.

Bagaimana bisa? Pasien yang dengan telaten diawasi dan dijaga, tapi justru keluarga sendiri, ayahnya sendiri, pergi untuk selama-lamanya? Hidup penuh misteri. Tetapi, dari sini kami belajar apa arti keikhlasan, apa arti pengorbanan,

Pukul 3 dini hari. Masih dengan baju jaga shift malam, masih dengan membawa stetoskop dan alat2 lain, sahabat saya harus berangkat pulang kampung. Kuantarkan sampai terminal, tak kuasa saya ikut menangis melihatnya menangis sepanjang jalan. karena saya harus melanjutkan jaga hari itu, maka dia pulang sendiri, mengikhlaskan kepergian ayahnya untuk selamanya.***

 

Orangtuaku bukanlah seorang dokter, tetapi mereka adalah orangtua yang hebat yang mampu mendidik anak-anaknya menjadi anak yang pintar dan hebat. Ibuku seorang dosen pertanian, sedang menempuh pendidikan menjadi Dokter di Universitas Gadjah Mada. Ayahku seorang pensiunan dari Lembaga Swadaya Masyarakat. Dahulu ayahku menuntut Ilmu Tanah, sehingga beberapa kali setelah pensiun dari LSM, ayahku bekerja di perusahaan pertambangan, tetapi jauh dari rumah, dan itu menyedihkan.

10937337_1402895220005684_45223814_n

Ayahku, adalah orang yang sangat menyayangiku. Setelah beliau benar-benar pensiun dari pertambangannya, beliau banyak menghabiskan waktu di Salatiga, kota asalku, tetapi, jauh dari itu, ayahku sering bermain ke Semarang, hanya sekedar untuk makan bersamaku, atau berbincang ringan, tak lama, hanya 3 jam maksimal.

Jarang bertemu ayah, membuatku menyadari perubahan-perubahan yang ada pada dirinya.

Yang aku lihat..

Guratan wajah tua dr orang yang kusayang..

Guratan kesedihan dr orang yang mengasuhku ketika kecil..

Wajah itu..

Ayahku..

Terimakasih atas didikanmu

Doakan ya ayah..

Agar anakmu ini

Menjadi orang yang berguna

Cerdas dan bermartabat..

Kebahagiaanku

Adalah membuatmu bahagia

Hai ayah..

Terimakasih atas waktumu

Meluangkan waktu untukku

Berkemudi seorang diri

Melintasi jalan di malam hari

Sepulang lelah berkeringat seharian..

Ayah..

Semoga engkau selalu sehat

Selalu bahagia

Dan bangga memilikiku

Anakmu

Dulu, sekarang, dan sampai kapanpun :’)

10369884_1391347431160463_1331160893900351742_n

Orangtuaku adalah orangtua yang hebat. Ibuku, dengan kesabarannya, ketika kehamilan pertamanya yang mana isinya adalah ternyata aku, ibuku sedang menempuh pendidikan master alias S2 di IPB Bogor. Tetapi, kecintaannya kepada anak-anaknya lebih besar daripada keutamaan karirnya. Ibuku meninggalkan S2-nya, lalu mengurus anak-anak, dan kembali memilih menjadi dosen. Pendidikan masternya dilanjutkan kembali ketika aku sudah mandiri, yaitu ketika aku SD.  Menunda apa yang menjadi keinginannya selama 12 tahun, merupakan penantian sabar seorang ibu.  Ibuku dahulu bercita-cita menjadi dokter. Bukan hal yang mudah untuk melepas keinginnya terbentur dengan biaya keluarga.  Alhasil dengan kecerdasannya, ibuku masuk dengan mudah dan tanpa biaya ke Institut Pertanian Bogor (IPB), dan cita-cita dokternya itu, tersimpan lama, dilanjutkan oleh anaknya, yaitu diriku, dengan segenap perbaikan generasi. Orangtuaku dengan darah peluhnya sendiri, mampu membuktikan keberhasilannya dalam mendidik anak-anaknya. Adikku, yang juga hebat, hanya berjarak 1 tahun denganku, dan kini, menempuh pendidikan sarjana Teknik Mesin di Yogyakarta. Sungguh, dari sini tampaklah berkah Allah kepada keluarga kami.

 

Ada suatu kisah…

Kisah Tenzing Norgay, Pemandu Sir Edmund Hillary Penakluk Puncak EVEREST pertama kali:

Begitu turun dari puncak Everest, banyak wartawan mewawancarai Sir Edmund, dan hanya satu wartawan yang bertanya pada pemandunya Tenzing Norgay. Maka, ketika ia ditanya, Tenzing pun menjelaskannya secara gamblang dan menunjukkan sikapnya sebagai seorang pemandu yang rendah hati.

“Sebagai pemandu (Sherpa), mestinya Anda yang lebih dulu menginjakkan kaki di puncak Everest,” tanya wartawan.

Tenzing menjawab; “Betul, sebagai pemandu saya ada di depannya. Tapi, tinggal selangkah lagi mencapai puncak, saya mempersilahkan Edmund untuk mendahului saya.”

Wartawan ini bertanya lagi; “Mengapa hal itu anda lakukan?”

Tenzing menjawab; “Itu impian Sir Edmund, bukan impian saya,” ujarnya merendah.

“Impian saya adalah membantu orang lain untuk mencapai cita-citanya”.

Ya itulah orangtua, bahkan tidak ada keinginan lain selain melihat anaknya mencapai gerbang cita-citanya.

Orangtua hanya mengantarkan.

Maka, ketika kita mencapai puncak Everest itu, janganlah lupa dengan jasa orangtua. Kita tidak tahu betapa sulitnya, betapa terjalnya tebing yang telah mereka hadapi. Lantas kita terbang ke langit ketika telah mencapai puncak? Tidak.

Selalu lihat ke bawah, selalu lihat apakah ada yang membutuhkan. Selalu peduli pada orangtua.

 

Baju Hijau Si Pembaca Pikiran

Urusan chemistry, aku dan Angga Dwian memang ditakdirkan untuk menyatu dan bersatu. Aku, diam. Tapi Angga tahu apa isi hatiku. Hihihi…

Si ganteng satu ini juga sepaket lengkap dengan keluarganya yang sayang denganku. Kedua orangtuanya baru saja mengunjungiku karena aku jatuh dari kecelakaan itu. Padahal sebenarnya aku tidak apa-apa. Hanya retak. Retak jempol. Jempol kanan. Sudah. Cukup kecil tapi aku pikir sangat merugikan karena bahkan mengangkat gayung untuk cebok abis pipis itu susah banget. Buat main piano juga susah. Buat ngetik juga susah. Ternyata jempolku ini banyak manfaatnya.

Aku itu cukup aneh. Diajarkan mandiri dari kecil. Diajarkan untuk tidak mengeluh dari kecil. Tapi terkadang sangat ingin dimanja dan diketahui kabarnya. Tapi karena terbiasa untuk tidak mengeluh, Angga harus pandai menebak apa yang aku inginkan. Susah kan?

Wkwkwkwkwk!!!!! Tapi Angga Dwian SELALU BERHASIL

Selamat.

Bahkan, oleh-oleh yang dibawakan orangtua Angga ke rumahku hari ini sangat tepat: anggur dan jeruk. Buah-buahan idamanku.

Setidaknya anggur tidak membutuhkan jempol untuk dimakan. Cukup seemplok. Nyam. Nyam. Enak.

Kadang kalau aku malas, aku gigit juga bijinya. Cukup renyah!

Terimakasih Angga Dwian. Ketahuilah. Aku sedang memandangi jempolku. Bukan karena tulangnya retak, tetapi karena gatal-gatal dan setelah kulihat ada kutu air di situ.

Aku tahu,, sekarang Angga Dwian sedang menyeterika baju kerjanya besok. Angga meskipun  mukanya galak atau orang lebih sering menyebutnya bermuka “mesum”, Angga adalah anak yang baik di mata orangtuanya dan pasangan yang terbaik yang aku miliki. Angga rajin menyapu rumah dan kamarnya sendiri, melipat baju-bajunya dengan rapi. Pria idaman. Kamarnya wangi.  Dan baju kebangsaannya hijau.

Ini:

IMG_1931

Ini baju hijau, baju kebanggaan Angga Dwian. Digunakan untuk futsal. Matching dengan bolanya.

Baju ini juga digunakan di kesempatan lain dalam hidupnya:

12375581_1096164140393916_1715581378_o

Ini baju hijau, baju kebanggaan Angga Dwian untuk digunakan di kamar.

 

10425025_1418320388463167_6420394799888845351_n

Dan berkencan denganku.

Hahahahahhaa.

Kali ini: Angga Si Baju Hijau akan naik daun.

Bukan kolor ijo lagi. BUKAN. Awas aja ngomongin kolor ijo, berarti Angga Dwian nunjukin kolornya kemana-mana *loh

9-year-anniversary

October 7, 2015 .

Happy 9 yearsversary sayang… . . .

I have never thought that you are in to my life for being my special one. .

Eleven years ago, when we are in junior high school, I remember the handsome boy stood few lines for my position. Not so tall, but I know he was so kind and had a warm heart. .

my stupidity. I sent you a letter, contents my willing to be your friend, and to send greetings for you. .

I thought you scare to me for my letter, but you did not. You liked me, I do not know what it was called. Monkey’s love? But you are not a monkey. .

You said I was beautiful, in my 12 year old, but you had never said it directly to me. You sent it via your friend, but I doubted to respond you, because you also often bullied me as “Mbok Jamu” for my big butt. Hahahaha.. .

Allah send you to me to help me find a true way to be a good moeslmah. . Our life is too short, but thanks Allah, I have known you for 12 years, around a half of my life, now and till the end of my life.. .

Thanks being a patient person for listening me always, understanding me always, and giving love to me everytime… . .

I love you, -Penny-

 

anniv

Serasa Mimpi Perjalanan Kita

angga ultah

 

Selamat ulangtahun ….
Salatiga masih tetap sama, menanti kita selama 12 tahun untuk saling mengenal, dan menyadarkan kita selama 9 tahun untuk saling memahami, bahwa ternyata rasa sayang ini sangatlah besar.
.
Ketika aku harus marah karena hal-hal sepele, ternyata kemarahan itu juga membuatku sakit hati.
Dan sekali lagi, air matalah yang membuat semua emosi itu luruh.
Terimakasih atas kesabaran dalam menghadapiku..
.
Selamat hari jadi yang ke-24 tahun ya sayang,
Doa-doa ku pasti seputar “kapan kita nikah” haha.
.
.
Lokasi: belakang rumah Ursula, makprit langsung sampai.
.
Salatiga memang loveable!!!
#birthday #beloved #fiancee #happy#bestfriend #nature #green #gopro

Anakku, Cukup Ibu yang Menjadi Dokter

Ini ditujukan kepada calon anakku nanti.

anakkuuuu

Kira-kira  anakku nanti seperti ini ^^ persis calon bapaknya lahhh..

 

Bukan untuk siapapun.

Kecuali yang tidak sengaja membaca dan mungkin tidak akan mengubah apapun dalam hidupm, pembaca.

Sebab ini hanyalah dilema antara hatiku dan pikiranku bahwa apa yang aku jalani selama ini teryata  hanyalah karena keinginan sesaat. Aku ingin menjadi dokter hanyalah keinginan sesaat. Tetapi namanya penyesalan ternyata tidak bisa semudah itu dipikirkan. Karena setelah memikirkan penyesalan selalu ada penyesalan selanjutnya. Penyesalan “kenapa aku harus menyesal, kan udah dijalani”

Lihatlah, di saat teman-temanku mengenyam gelar S2, aku bahkan baru merentas “AKAN” menjadi dokter. Terlalu lama sekolah, sebenarnya aku pun sudah ingin memanjakan orangtuaku dengan uang-uang yang bisa aku kembalikan kepada mereka. Meksipun ketika mereka sakit, aku tahu obat yang tepat untuk mereka, ketahuilah Anakku, bahwa ketika itu, justru dirimu tidak mampu mengawasi dan merawat diri mereka sendiri karena dirimu bukanlah hanya milikmu. Dirimu adalah untuk pasien-pasienmu, untuk masyarakat luas.

Apa yang orang katakan di luar sana Nak? Ketika dokter mengeluhkan SEDIKIT saja apa yang dirasakan, pasti ada selentingan “Dokter itu mengabdi!”

Ya tapi dokter kan punya keluarga juga, dokter juga bisa sakit, dokter juga bisa merasa sedih. Apa iya harus terus tersenyum terus kepada pasiennya? Jawabannya IYA! Lelah loh tersenyum terus, apalagi ketika diri ini merasa ingin menangis karena lelah atau kesakitan.

Dokter tidak selamanya harus kuat selalu, Nak. Tetapi untukmu Nak ibu akan terus kuat, kuat, dan kuat. Berjuang dan berjuang.  Dan pada akhirnya kamulah sumber kekuatan ibu sehingga ibu tidak akan lelah tersenyum.

Tetapi, alih-alih menjadi dokter, kamu bisa mendapatkan masa depan yang lebih cerah Nak. Menjadi pengusaha, menurut ibu adalah solusi yang bagus. Usaha, asal kamu mau menggeluti, akan berkembang dengan pesat.  Atau politikus. Ubahlah negeri ini Nak. Ngeri ibu melihat pemberitaan dimana-mana, dan itu juga BELUM TENTU BENAR. Pahitnya dunia ini Nak.

Ibu pun, daripada mengambil keuntungan dari menjadi dokter, mengambil bayaran dari orang yg sakit, apalg di tengah maraknya BPJS dan tarif dokter yang konon hanya Rp2000 perpasien, ibu lebih memilih berbisnis BATU MULIA. Hahaha, semoga nanti bisa ibu wariskan bisnis ini padamu.

ibu ceritakan sedikit padamu. Sejak kecil ibu sudah suka berjualan. Pasti jualan ibu laku keras. Mulai dari kertas binder, sticker-sticker kesukaannya anak-anak SD, lalu ibu berjualan “selember kertas” yang kita sebut apa ya, “catatan sekolah” mungkin? Yang isinya PR-PR begitu. Ibu suka menciptakan uang sendiri, daripada harus meminta pada orangtua. SD ibu mendapat beasiswa karena selalu ranking 1, dan SMP ibu di sekolah negeri yang bisa dibilang murah sekali. Kakek dan nenekmu adalah pekerja keras yang bisa dibilang sebenarnya keluarga mampu juga, sehingga ibu sebenarnya bisa berkecukupan.

SMA, ibu di asrama, dan ibu mendapat beasiswa full. Padahal perbulannya jika kita membayar, 1,5 juta nak, dengan uang masuk 15 juta, yang pada jaman ibu SMA, itu sudah terbilang mahal nak. Hahaha. Lucu sekali aku memanggil NAK pada orang yang belum lahir.

Oya, tadi ibu berkata lebih baik menjadi pengusaha eh? Ya memang Nak, pengusaha, bahkan Nabi saja mengajarkan untuk berdagang. Tapi tidak dibenarkan menjadi dokter yang mendagangkan dokternya, sehingga dokter dan pedagang harus memiliki batasan tegas, atau nanti kita malah  “memeras” pasien kita.

Nak, ketika ibu menulis ini, sebenarnya ibu hanya ingin kamu tahu, bahwa menjadi dokter itu tidak mudah. Namun, menjadi dokter adalah profesi yang mulia, jika kita menjalankan dengan hati yang mulia. Ada seorang teman ibu, sahabat ibu malah, yang mungkin belum menyadari rasanya MULIAnya profesi ini, sehingga dia menjalankan dengan setengah hati. Tidak berpkir bahwa nanti selagi bekerja, kita bisa menabung amalan untuk nanti di akhirat. Maka, di dunia ini tak semuanya ditabung dengan UANG. Yang terpenting adalah kehidupan setelah mati ini Nak.

Entahlah. Ibu baru saja mengalami kecelakaan, sesungguhnya ibu hanya retak pada jari kanan ibu, dan luka-luka lecet di wajah. Namun, ibu tidak percaya diri untuk pergi keluar. Alhamdulilah, ternyata salat itu tidak harus wudhu, bsa hanya bertayamum, dan ibu melakukannya: TAYAMUM. Karena luka-luka ini, sejatinya sebagiknya hindari dulu terkena air. Ibu sudah merindukanmu untuk datang ke dunia, Nak. Ibu hanya berpikir, apakah hari-hari akan terasa hampa seperti ini, seperti ibu merindukan kesembuhan. Karena jujur, ibu tidak bisa melakukan apapun pasca terjatuh dari motor 4 hari yang lalu.

Hahahah konyol, ibu berbicara pada sosok “anak” yang belum lahir. Tapi ibu janji akan membacakan ini untukmu kelak. Ibu akan berkata ketika ibu menuliskan ini, ibu berusia 24 tahun, dengan retak jari tangan kanan, muka penuh lecet.

I will miss your born in this world, my child.

 

Image44

hahhahaha aku rasa aku kenapa mesti mencantumkan ini? Karena gadget ibu remuk rusak pecah ketika ibu terjatuh dalam kecelakaan 4 hari lalu. Ibu masih tidak membayangkan, ibu terbanting beberapa meter dari motor dan hape ini juga, tapi alangkah beruntungnya Ibu karena tidak ada kendaraan yang menghantam ibu dari belakang, jika tidak? ibu jadi “manusia penyet”. Nah foto ini hanya pengingat saja, ibu pernah seperti ini HAHAHAHA.

Image50

Ini tanganku Nak. Alih-alih di gips, dasar dokter soktau, akhirnya aku elastic bandage saja. Hehehe…

Oya, ibumu ini sedikit gila, dan sedikit galak. Tapi ibu akan melakukan yang terbaik untukmu Nak. Ibu dulu pernah jauh sekali dari orangtua ibu, namunibu tidak akan jauh darimu Nak. Ibu akan menjagamu. Oya, ibu juga malu, ibu belum bisa mengaji. Ibu ingin belajar mengaji. Ah, sepertinya liburan ini saat yang tepat untuk ibu belajar mengaji supaya tidak malu nanti di hadapanmu.

Oke, doakan ibu ya dari langit sana, supaya ibu segera dianugerahimu, Nak, jiwa yang suci dan murni.