DOCTOR'S SECRET

Young Doctor. Struggling to make others smile

Hobi kami adalah berolahraga sambil memandang kamera. Wkwk.

Hobi kami adalah berolahraga sambil memandang kamera. Wkwk.

Angga dwian prakoso…

 

“Seseorang yang awalnya asing dapat menjadi seorang teman yang hanya bisa saling mengejek tanpa memahami di kemudian hari apa yang Allah persiapkan atas pertemuan itu..”

 

 

Ketika itu masa orientasi siswa (MOS) SMP dan aku yang pertama kali melihat dirinya. Laki-laki yg pertama kali aku ajak kenalan, ketika bahkan kita masih menggunakan pakaian merah putih, dengan bet SD masing-masing. Aku SD Kristen 2 Laboratorium Salatiga, dan dia SD Tegalrejo 2. Hanya satu yang terbesit di pikiranku, wajahnya manis, anaknya bersahaja. Perkenalan hari pertama ini membawaku mengetahui bahwa lelaki baru yg aku ajak kenalan ini bernama Angga.

Keesokan harinya, kami bertemu dalam suatu hal yang tak terduga: kami sekelas. Kuberanikan diri memberikannya sepucuk surat, menandakan dirinya lebih spesial untukku daripada anak lainnya. Tetapi entah, surat itu tidak pernah dibalasnya. Aku merasa malu pernah memberikannya surat karena ternyata sahabatnya sering mengejek-ejekku dengan sebutan mbok jamu. Entah kenapa, tapi memang dari SMP aku tidak pernah percaya diri karena meskipun aku belum segemuk sekarang tetapi pantatku besar. Menyedihkan sekali mengingat potongan rok SMP tidak seperti rok SD. Hafff. Aku merasa aku buruk rupa. Tetapi ternyata karena surat itu, Angga menjadi menaruh perhatian lebih kepadaku tanpa sepengetahuanku. Sepanjang SMP dia memperhatikanku, mengetahui setiap detail prestasi, pujian, dan hukuman apa yang ak dapatkan ketika SMP.

 

Dia memiliki perhatian yang lebih kepadaku dalam diam. Kemana arah aku tuju ketika bel istirahat berbunyi, bagaimana cara jalanku, kenapa aku dihukum di tengah lapangan ketika kelas 2 SMP, dan masih banyak lagi.Kelas 3 SMP, dia mengajakku berpacaran. Entah kebodohan apa yang terjadi, aku menolaknya, dengan cara yg kasar. Mungkin kondisinya tidak sedewasa sekarang. Itu adalah cinta monyet, dan ketika itu dia suka mengejekku mbok jamu, jadi pikirku mana mungkin dia menyukaiku. Aku merasa aku sedang dipermainkan, dan ternyata penolakan itu berbekas pada dirinya sampai sekarang. Entah apakah memang ada, dan entah bagaimana mekanismenya, dia melabeli diriku “cinta pertama”nya.

 

Waktu berlalu. Aku harus berasrama ketika SMA. Kami pun berpisah kota, berpisah sekolah. Aku pun tak pernah tahu pernah menjadi cinta pertama seorang anak manusia yang ternyata sekarang  aku sebut namanya di setiap doaku. Anak manusia yang menjadi tujuanku siapakah nanti suamiku. Semasa aku di SMA, aku berasrama, tetapi ketika aku liburan, aku bermain bersama dirinya. angga bermain ke rumahku, lalu kita pergi bersama sebagai teman. Ketika aku masuk perkuliahan, angga telah menemukan kekasih hatinya saat itu tetapi dia mengetahui banyak hal tentang diriku, melalui facebook. Dia tahu kapan aku mengawali karir sebagai pemilik butik, memiliki kedai dimsum, memiliki kesempatan ke Amerika Serikat, dan baginya, kesempatan untuk mendekatiku juga masih ada.

 

Suatu moment yang besar terjadi dalam hidupku. Singkat cerita aku berganti kepercayaan dan kini aku memiliki agama yg sama dengan dirinya. Ketika itu sudah 4 tahun lamanya dia seperti menghilang dari diriku, tanpa aku tahu sekarang kondisinya seperti apa. Tetapi dia selalu mengerti kondisiku, facebook bisa menceritakan apakah aku sedang apa dan bagaimana, meskipun aku tidak terlalu update utk facebook ku sendiri,tetapi aku selalu mengupdate facebook dr bisnis yang sedang aku jalani. Ketika tahu kita sudah memiliki agama yang sama, dia benar-benar mencariku dan mengajakku bertemu. Aku kepo facebooknya untuk mengenal dia lebih jauh mengingat sudah 9 tahun kita tidak bertemu. Ternyata aku menyimpulkan dia sudah memiliki kekasih sehingga aku bisa tahu batasan bertemu teman antar teman, dengan tetap menjaga perasaan kekasihnya. Baiklah. Lalu kami bertemu dan bercerita banyak hal, dan ternyata dia mengetahui dan memahami agama dengan baik, agamaku yang baru. Aku butuh bimbingan dan aku sering bertanya kepadanya. Aku menjadi mengetahui mana yang dianjurkan dan diwajibkan, dan dia selalu menjadi tentor yang baik krn selalu mencontohkan, bukan menggurui. Yang paling amazing, dia berpuasa daud sudah 5 tahun, puasa selang sehari puasa sehari tidak sehari puasa sehari tidak. Ketika aku bertemu dengannya lagi, aku seperti kembali mengingat masa ketika 9 tahun yang lalu. Muda kembali. Cinta monyet.

 

Kadang ketika sedang merenung sendiri, aku merasa ingin memiliki kisah cinta yang indah seperti dongeng putri putri disney. Tapi setelah dipikir, itu terlalu romantis sehingga kuturunkan standardku menjadi kisah novel. Hmmm. Aku pikir sekarang aku sedang berada dalam kisah yang tak akan terlupakan untuk diceritakan kepada anak cucuku, bahwa aku mendapatkan hati seorang pemuda tampan, berpendidikan tinggi, berbadan tegap, jago olahraga, ibadahnya bagus, ngajinya oke, dan terlebih, menempatkanku sebagai cinta pertamanya, dan insya Allah sebagai cinta terakhirnya. Sebelum kita dipertemukan kembali oleh Allah, kita memiliki kisah romansa masing-masing dan kenakalan masing-masing. Dari sini aku merasa bahwa 9 tahun perpisahan kita sudah menggores banyak cerita di lembar buku kita masing-masing. Seiring berjalannya waktu, halaman-halaman buku kita bertemu, untuk kemudian ditulis bersama. Tak ada lagi dua wanita dalam satu waktu, tiga wanita dalam satu waktu sekaligus, gembrik, dan sebagainya. Ketika mengetahui bahwa diriku menjadi mualaf, dia berjanji pada Allah agar membuatku menjadi satu-satunya dan yang terakhir, dan kenakalan masa muda sudah berakhir.

 

Aku? Aku juga bukan seseorang yang tanpa dosa. Aku pernah membuatnya sakit hati karena kehadiran lelaki lain yang sebenarnya hanya teman, bahkan adik kelas, tetapi amarah terlalu menguasainya sehingga dia mengamuk sejadi-jadinya. Ingin aku redam, tetapi aku takut terkena pukulan atau fisiknya ketika emosinya masih memuncak. Entah dia berbicara menceritakan kekecewaannya karena cemburunya, lalu, dia pergi menuju sumber air yang ada di situ, dan dia mengambil air wudhu, lalu redamlah emosinya, dan dia menangis sejadi-jadinya. Di situ aku belajar lagi satu hal, melalui tindakannya lagi: amarah bisa menguasai, tapi setan bisa pergi dengan bismillah dan berwudhu.

 

Meskipun teman masa kecil, justru tidak semudah itu untuk memutuskan bahwa dia memang untukku. Aku memilih dirinya dari beberapa lelaki yang ketika itu menunjukkan niat keseriusannya untuk menjadi bagian dari masa depanku. Aku beristikharah. Ketika itu aku masih belajar salat, dan salat masih membaca teks untuk menghapalkan hapalannya. Istikharah aku niati setiap hari, dan ketika seminggu pertama, aku merasa belum diberikan petunjuk oleh Allah. Tapi aku tak patah arang, dari sekian lelaki tadi aku menginginkan yang terbaik menurut Allah, bukan dengan melibatkan subyrktivitasku, tetapi murni aku serahkan kepada Allah. Aku bertanya kepada teman, apa jawaban istikharah itu? Istikharah seringkali diberikan jawaban melalui mimpi, tetapi bisa juga berupa kemantapan hati sampai kamu yakin apa yang menjadi jawaban dari Allah itu memang ikhlas untuk kamu terima.

 

Seminggu sudah aku beristikharah. Taksadar ketika kuliah aku bercerita kepada temanku “Aku bermimpi berjalan-jalan dengan Angga. Lalu angga tersenyum kepadaku di mimpi itu.” Temanku mengingatkanku, “mimpi pen? Jawaban istikharah?”

Aku lupa bahwa mimpi ini bisa berkaitan dengan istikharah. Tapi lantas temanku mengingatkanku, “Hati-hati. Bisa jadi itu tipu daya jin. Tetaplah beristikharah. Lihat apakah mimpi itu bisa meyakinkanmu lagi di malam-malam selanjutny.”

 

Akhirnya aku beristikharah sampai satu bulan. Setiap hari selama aku beristikharah, aku tak bisa lepas diberi mimpi berupa Angga. Entah sedang bermain denganku, atau sekedar melintas di dalam mimpi. Akhirnya aku memilih dirinya dan dengan besar hati aku menolak beberapa lelaki lainnya. Sebenarnya agak eneg juga menceritakan bagian ini, karena seolah aku terlalu laku. Hahaha. Padahal enggak.

 

Aku hanya berharap ini cinta terakhirku, seseorang yang telah dipilihkan oleh Allah kepadaku. Dengan mendekat kepadaNya, aku hanya meminta satu hal, Allah menerjunkan berkah-berkahNya kepada diriku dan dirinya. Kini masing-masing dari kami sedang mengumpulkan restu, modal, dan menunggu kelulusanku sebagai dokter untuk menikah… semoga semua dipermudah.

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

10 Responses to “Menemukan The Right Man dengan Salat Istikharah”

  1. Ardiyanta says:

    hmmm, suatu hari sebelum kalian jadian ini, ada reuni kecil2an lah. Geng SMA dulu. Ada aku, Angga, dan Mahfud. Sebenarnya yang tahu kamu mualaf aku dan Mahfud duluan loh, entah apa memang kami yang lebih update soal FB atau apa. Kan kamu juga sering upload-upload, update status, dll tuh.
    Di satu boys talk, tiba alkhirnya kami ngobrolin ke-mualaf-an mu Pen, entah kenapa wajah Angga berubah…
    Dan aku tau ternyata memang ujungnya adalah ini…

  2. Zulfika Satria says:

    Peeen :’)

    Semoga langgeng dan barokallah ya..

  3. ursulapenny says:

    Hehehe terus reuniannya kapan lagi biar ak bisa ketemu kamuuuuu.. kangen tau yantaaaa..

  4. ursulapenny says:

    Makasi zull… :) kangen kamu. Skrg km dimana?

  5. Ardiyanta says:

    Mungkin pas kalian nikah Pen….

  6. ursulapenny says:

    Aminnn ya yanta doain aja …

  7. Elisa Tri Wiguna says:

    Kisah mualaf kaka sangat inspiratif buat saya. Saya ingin berbagi cerita dgn kaka krn saya calon mualaf maybe. Alamat email kaka apa? Thanks before
    Elisa Tri Wiguna

  8. ursulapenny says:

    iya email saya ya mas..

  9. konco says:

    Gedhem emang pinter ngapusi yo yant…wkwkwk…

  10. ursulapenny says:

    buahahahahahaa

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

what is 9 in addition to 9?