DOCTOR'S SECRET

Young Doctor. Struggling to make others smile

menantikan akhirat

Pasien itu berwarna-warni. Hal pertama yang terlontar dari mulut seorang dokter adalah bertanya “ada keluhan apa, Bu?” Sambil tersenyum, saya menanyakan kepada seorang ibu 40 tahun yang cantik, berambut ikal sebahu, kulit putih semu merah.

“Dada saya terasa sesak, Dok, terkadang berdebar ga karuan seperti ketakutan.”

Lalu saya bertanya, “Ibu lagi kepikiran apa?”

Mungkin ini tidak akan terlontar dari mulut seorang dokter yang hanya terfokus pada penyakit sang ibu: gagal jantung akut. Nyeri dada dan sesaknya bisa sebagai dari akibat iskemi jaringan otot jantungnya, tapi jauh dari lubuk hatiku, tergurat duka mendalam di sinar wajahnya. “Saya ga kepikiran apa-apa,Dok.”

“Hmm, lalu kenapa ibu bilang sering berdebar seperti ketakutan? Takut apa hayo Bu?” Kataku sambil menebar canda *sok iye*.

Sore itu, satu kisah pasien yang menyayat hati kembali mewarnai perjalananku. Pasien itu berkata, “Dokternya cantik, saya suka.”

“Terimakasih Bu.”

Lalu ibu itu melanjutkan, “Saya juga punya anak, bisa saja saya jodohkan sm Dokter, Dokter pasti belum nikah kan?”

Saya tersipu.

“Anak saya ganteng, tinggi, sudah mapan, kerja di Kalimantan.”

Tapi raut wajahnya masih sama, menunjukkan kesedihan, “tetapi, dia meninggal 1 tahun yang lalu.”

Deg! Mencelos hatiku. Harus bicara apa? Senyumkah? Atau bagaimana? Ibu itu melanjutkan, “Dan itu yang masih ada di pikiran saya sampai sekarang, kenapa saya tak sempat melayat.. Kalimantan terlalu jauh, anak saya harus segera dimakamkan ketika itu.”

Ya Tuhan… Saya hanya bisa mendoakan agar ibu ini tetap kuat dan semangat hidup.  Tidak ada yang hilang dari kenangan.

Perlahan, saya menguatkan sang ibu, “Tidak apa Bu, buat tabungan Ibu di surga yah? Kalau ibu sedih, pasti jalannya anak ibu di sana juga sulit. Apalagi kalau tahu ibunya sakit.. “Ibu itu tersenyum, “setidaknya saya bertemu Dokter cantik siang ini.”

Panasnya matahari semarang membeku, bersama kisah pasien kali ini yang tak akan kulupakan.***

 

Banyak sekali yang ingin kuceritakan dalam perjalananku menjadi dokter. Suatu sore di ICU, langit biru berawan, matahari telah condong ke barat, jendela ICU memang cukup besar agar pasien yang hanya tergolek lunglai mendapatkan pencahayaan yang cukup. Kini saya, dokter muda, menatap lurus ke depan, kepada seorang ibu yang sedang terbaring tak sadarkan diri di ruang 8.

Sejenak ketika saya masuk ke ruangannya, saya disapa oleh gerakan tangan ibu ini. Suatu usaha untuk menunjukkan tanda kehidupan, mengingat ibu ini terkulai dalam keadaan tak sadar. Sesekali monitor yang terpasang pada tubuhnya pun membunyikan alarm pertanda terdapat suatu ketidakseimbangan pada tubuhnya. Tetapi sejak awal, tubuhnya sudah beranjak tumbang setelah ibu 54 tahun ini divonis kanker serviks stadium 3. Perjalanan keganasan sel tubuhnya kini telah mencapai paru-paru. Paru-parunya bengkak, berisi cairan, yang memberatkan bahkan melumpuhkan fungsi paru itu sendiri. Kecanggihan teknologi diikuti dengan kesiapan biaya mengantarkan ibu ini ke dalam ruangan ICU. Terpasang ventilator, ibu ini dibantu nafas dengan peralatan. Tak terhitung selang yang terpasang pada tubuhnya. Hmm.. Baiklah, akan kuhitung. Di sisi kanan tubuh ibu terdapat 5 selang, 1 ke hidungnya, 1 ke mulutnya, 1 untuk infusnya yang dipasang intravena ke pergelangan tangannya berupa cairan Ringer Laktat yang berisi elektrolit, 1 selang untuk menampung urinnya, 1 selang untuk mengeluarkan darah yang takkunjung berhenti dari rahimnya. Benar-benar menggetarkan hatiku untuk mensyukuri karunia-Nya berupa kesehatan dan kehidupan dengan organ tubuh yang masih berjalan dengan seimbang.

Di sisi kanan tubuhnya terdapat 2 selang untuk memberikan transfusi darah untuk mengimbangi perdarahan masif dari rahimnya, sedangkan terdapat 1 equator dengan selang yang besar dimasukkan ke bawah selimutnya sebagai penghangat tubuhnya, disetting pada suhu 40 derajat celcius.

Total terdapat 7 selang. Padahal sebenarnya kanker serviks bisa dicegah. Dengan apa? Dengan Pap’s Smear, yaitu pengambilan sampel epitel leher serviks yang marak diumumkan di khayalak publik. Masih tingginya angka kanker serviks menunjukkan bahwa tersohornya Paps Smear ternyata belum diikuti antusiasme manusia Indonesia. Mungkin banyak dari kita terbentur biaya. Tetapi ketahuilah, Pap’s Smear hanya Rp120.000 (kurang lebih), daripada harus dirawat di ICU seperti ibu ini. Atau mungkin takut bahwa prosedur Pap’s Smear itu menyakitkan? Tidak sama sekali. Tau rasanya dikorek telinganya? Yah hampir sama-sama kaya gitu deh. Lalu tunggu apalagi? Pap’s Smearlah sebelum terlambat. Terutama untuk para wanita yang aktif seks selama 3 tahun lebih,  memasang IUD, wajib hukumnya memeriksakan diri dengan Pap’S smear minimal 1 tahun 1 kali.

Tak lupa, kita mendoakan para wanita yang sudah mendahului kita untuk terjerat kanker serviks. Itu adalah peringatan kehidupan agar kita lebih aware dan sayang diri sendiri.***

 

“Aku mau pulang”

“Aku mau pulang”

Rintihan pasien itu terngiang-ngiang di benakku sekarang.

Ternyata, rintihan “aku mau pulang” dari pasien belum berarti pulang ke rumah.. Bisa juga pulang ke hadapan-Nya untuk selama-lamanya..

Baru saja jam 5 sore ini kubertegur sapa. Seorang perempuan muda, seusiaku, menopang penyakit yang tak mengenal bahwa dia memiliki suami yang membutuhkannya, memiliki anak seusia TK yang merindukannya di rumah. Ya, kanker darah, leukimia.

Sesak nafas yang dialami pasien bukan karena kelainan di jalur napasnya. Kuperiksa paru-parunya, tidak ada suara yang menunjukkan suatu cairan atau peradangan di paru. Bersih parunya. Namun nafasnya begitu cepat, tubuhnya begitu panas. Di sampingnya, sang suami berharap agar istrinya dapat kembali seperti semula. Sesak nafasnya akibat infiltrasi atau perjalanan sel darah yang ganas, menyebabkan pembesaran massa mediastinum, suatu massa di dada, dan bisa saja mendesak nervus reccurent laryngeus yang ada di dada, memberikan manifestasi sesak nafas.

“Aku mau pulang” di sela-sela nafasnya yang sukar, pasien masih menyebutkan “aku ingin pulang”

Sang mertua, yang baru saja tiba di ruangan, menangis, memeluk menantunya. Suaminya berbisik kepadaku, “Dokter,tolong ya, ibu saya jangan sampai tahu tentang penyakit istri saya.”

Aku mengangguk pelan. Terlihat genangan air di pelupuk mata sang suami, menatap istrinya penuh harap, sambil membisikkan

“Asyhadu alla illaha illallah wa asyhadu anna muhammadarrasulullah..” Serta

“Astafirughlah” ke telinga istrinya..

Tak lama dari kejadian ini, tiba-tiba sang istri berhenti nafas. Tim medis yang berjaga di situ sebisa mungkin memberikan pertolongan: resusitasi. Tak ada hasil. Nadinya tetap terhenti. Untuk selamanya… Hasil rekam jantung memberikan hasil “garis lurus” yang menunjukkan tak ada lagi tanda-tanda kehidupan. Hal yang terberat namun harus adalah: memberitahukan kepada keluarga bahwa pasien telah tiada. Dengan berat hati, hal itu wajib dilakukan. Belum selesai kalimat itu, “kami sudah berusaha yang terbaik, namun..”

Namun, jeritan sang ibu mertua lebih dahulu memenuhi ruangan. Sang suami tampak lebih tegar, namun pasti hatinya teriris. Kalimat itu akhirnya aku selesaikan dengan lirih, “..namun Tuhan lebih sayang dengan ibu…”

Kuseka air mata yang menggenangi mataku, kembali kumenatap pasien, membereskan hal-hal lain yang perlu diselesaikan. Ternyata, rintihan “aku mau pulang” dari pasien belum berarti pulang ke rumah.. Bisa juga pulang ke hadapan-Nya untuk selama-lamanya..***

 

Kulihat sekali lagi jam tanganku. Waktu terus berlalu. Sel-sel dalam tubuh semakin menua, di antaranya terus menerus memperbaiki diri, mencoba mengganti kondisinya agar sama seperti baru. Sebagaimana contoh, sel darah merah memiliki waktu hidup 120 hari. Apakah setiap sel sama? Berbeda. Dalam 1 tubuh saja, terdapat berbagai sel dengan waktu hidup yang berbeda, dengan fungsi yang berbeda, dengan ukuran yang berbeda pula. Tuhan telah mengatur tubuh kita sedemikian rupa hingga bagian yang terkecil. maka, masihkah kita berdiam diri meratapi nasib sebagai manusia, padahal tubuh kita dipenuhi dengan keajaiban dan keindahan karya Ilahi? Syukurilah. :’) Allah Maha Besar.

“Ya Allah, jadikanlah umurku yang terbaik di akhirnya dan amalku yang terbaik di penghujungnya, dan jadikan hari terbaikku saat bertemu Engkau…”

 

 

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What is 8 * 8?