DOCTOR'S SECRET

Young Doctor. Struggling to make others smile

Kunci liburan anak kedokteran adalah: curi waktu! Sampai kapan kamu akan menekan otakmu dengan berbagai teori yang nantinya juga menguap dari ingatanmu? Maka, freshkan semuanya agar otak mudah menyerap dan logika bisa berjalan. Kedokteran tak melulu belajar. Kita butuh hiburan!!!! Liburan!!! Holiday!!!

I am so glad, ketika kompre ini, aku mendapatkan tempat di Jepara. Kalau bagi seluruh anak kedokteran Universitas Diponegoro, sudah pasti pada putaran stase Ilmu Kesehatan Masyarakat, kita merasakan tinggal di Jepara selama tiga minggu. Pada kesempatan ini, aku diperkenankan menjadi bagian dari warga Jepara selama delapan minggu! Halo Japaradise! Begitulah kami sering menyebut Jepara. Baganimana tidak. Keindahan pemandangan yang disuguhkan : pantainya, ukiran kayunya, telor ceploknya, ups, ga konsen, ada telor ceplok tersuguh di depanku, menurutku memberikan sensasi campur aduk. Hahaha.

Aku masih ingat, sebelum bulan Agustus 2015 ini, aku pernah tinggal di Jepara pada Januari 2015. Di Jepara, aku nggak dapet sinyal di daerah Mlonggo. Yaaaa maklum. Haha ga pake Tel***sel. Wahaha. Laluuu ketika itu sedang wabah demam berdarah, sehingga  kami harus mencari dari tiap desa mana sumber penularan nyamuk dengan cara mencari jentik.

Tik tik tik tik where are youu? Masalahnya, jalan menuju desa-desa tersebut subhanallah meliak liuk perjalanannya dan belu m tentu kita bisa mengulangi jalan yang sama. Setiap pagi, ketika aku meninggalkan mess, pertanyaan yg terlontar ke teman sepenanggunganku (karena mendapat beberapa desa yg sama) adalah “Setelah ini mau ke kiri apa ke kanan ya?” Saking sinyal ga ada, GPS juga tidak bisa diandalkan. Kami hanya mengandalkan senyum dan turun naik mobil hanya untuk bertanya rumah carik dusun X dimana, rumah carik dusun Y dimana. Tak hanya berhenti di rumah carik, kami juga mencari TK, SD, SMP, dan SMA di sekitar dusun yang terduga memiliki jentik nyamuk di bak mandi toiletnya. Plis.

IMG20150106180207

Tapi di sela-sela petualangan mencari jentik, memberikan penyuluhan kepada warga dusun dan desa setempat, kami juga harus mencuri waktu untuk LIBURAN. Mencari sungai setempat, aliran dan suara airnya menyejukkan!! Sebelum kembali ke rutinitas, memang kami harus pandai mencuri waktu untuk hal-hal seperti ini.

Suatu hari, ketika kami mencari sumber penularan demam berdarah, kami mendapat laporan dari warga, bahwa ada suatu usaha rumahan pembuatan tahu yang memang tidak pernah menjaga kebersihan dari industrinya tersebut. Dengan izin pak RT, pak RW, pak dusun, kami diperkenankan meneliti rumah tersebut. Dengan tampang meyakinkan, masih dengan jas almamater Universitas Diponegoro, aku dan seorang temanku mendatangi rumah dengan industri tahu tersebut. Seharusnya tak sekedar tampang meyakinkan saja, tetapi juga harus memiliki jiwa yang kuat rupanya. ┬áKarena, sesampainya kami di depan pintu rumah, jangankan diberi senyum, kami langsung diusir! Hufff….

“Mau apa kalian? Pergi!”

Ya sudah, balik kanan graaaakkk! Harusnya kan seperti itu, tapi dasar aku, aku keras kepala, tetap maju dan mengucapkan beberapa patah kalimat, “Nganu Bu, jangan marah-marah Bu, kami juga hanya sebagai pelaksana, untuk mencari sumber penularan nyamuk demam berdarah. Karena dusun ini dilaporkan ada 10 anak yang opnam karena DB dalam sebulan terakhir…”

Si ibu berucap, “Ya terus? Orang anak saya juga sakit DB kok!”

Saya menimpali, “Ya makanya Bu, mungkin karena limbah tahu Ibu…”

Si ibu mukanya makin ga enak, akhirnya saya tutup dengan, “Ya sudah bu, saya data saja, anak ibu juga termasuk korban DB ya, Bu?”

Lalu kami benar-benar balik kanan. Mau bagaimana? Tidak ada surat penugasan juga dari Puskesmas. Kami di sini bukan petugas Puskesmas. Kami disini adalah dokter muda, tamu, yang juga tidak tahu menahu tentang seluk beluk peliknya hubungan warga dusun tersebut. ***

 

Dan kira-kira 8 bulan selanjutnya, aku tak pernah menyangka akan menetap kembali dan berurusan kembali dengan warga Jepara yang unik-unik. Tetapi wisata pantainya, ga bisa diadu deh. Indah banget!!!! Salah satu cara menenangkan diri adalah dengan relaksasi di pantai. Kini statusku bukan mahasiswa lagi, kini aku sudah menjadi dokter magang di RSU Kartini. Setiap hari yang aku pegang adalah disiplin. Kenapa? Karena sambutan dari pihak struktural RS adalah seperti ini “Saya tu malu, setiap ada dokter magang di sini, kalau apel selalu saja terlambat, lari-lari dengan jas putihnya. Itu membanggakan? Tidak! Itu memalukan.”

Sejak itu, kami berduabelas yang ditempatkan di RS Kartini bertekad kuat untuk tidak lari-lari karena mengejar keterlambatan. Tetapi apa daya, jam 7 kurang 10 kami sudah berkumpul, apel tak kunjung mulai. Sampai kepada kami sudah setengah bulan disini, tetap saja,setiap pagi kami menanti apel. Bukan apel yang menanti kami. Tak tanggung-tanggung, dari jam 7 kurang 10 sudah stand by berdiri di lapangan apel, ternyata apel baru mulai jam 07.20. Duh! Itulahh Indonesia? Nooo! We can do better! Huhhh. Bete sendiri ceritain ini.

Okay, dan selanjutnya, aku masih harus menyisihkan uang (setelah aku jadi dokter umum) untuk pelatihan pertolongan pertama pada orang kecelakaan/trauma (ATLS), pertolongan pertama pada orang sakit jantung (ACLS) dengan budget sekitar 7 juta. Siaaaaap grakkkk…

Daripada pusing, ayok kita holiday dulu. Inilah kehidupan seorang dokter! Belajar dan belajar. Holidaynya sisipan doang. heehehhe…

 

image

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What has leaves, a trunk, and branches, and grows in forests?