DOCTOR'S SECRET

Young Doctor. Struggling to make others smile

images

 

Semua orang mengidamkan keluarga yang sehat dan bahagia, juga pendidikan bermutu bagi anak- anak. Selain itu, setiap orang berharap mampu menyediakan sandang dan pangan berkecukupan serta memiliki rumah idaman, hidup dalam sebuah negeri bernama Indonesia yang demokratis, di mana kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan mengatur kehidupan, dijamin oleh undang-undang. Wanita adalah bagian dari target dunia dalam menyelesaikan berbagai masalah yang terangkum dalam Millenium Development Goals (MDGs) 2015. World Health Organization mendapatkan bagian dalam menyongsong keberhasilan MDGs tersebut, salah satunya adalah target kelima yang berbunyi: “Meningkatkan Kesehatan Ibu”. Goal kelima ini tak hanya terdiri dari tiga kata, tetapi memiliki sub tujuan yaitu Target 5A: Menurunkan Angka Kematian Ibu sebesar tiga-per-empatnya antara 1990 dan 2015 dan Target 5B: Mencapai dan menyediakan akses kesehatan reproduksi untuk semua pada 2015, dalam hal ini adalah cakupan penggunaan alat kontrasepsi KB pada wanita usia subur yaitu 15 – 49 tahun. Masih banyak wanita yang merasa bahwa dirinya baik-baik saja. Dengan menganggap enteng kondisi yang ada dalam diri sebagai wanita, maka masalah akan sulit diatasi karena belum ada kesadaran pribadi dari masing-masing. Wanita adalah mahluk ciptaan Tuhan yang memiliki kodrat sebagai anak, remaja perempuan, wanita dewasa, ibu, dan nenek. Sudah selayaknya pada setiap fase tahap kehidupan tersebut, wanita memiliki kesadaran terhadap setiap bahaya yang mengancam. Ketika fase remaja, banyak remaja perempuan yang mengalami anemia, atau terlibat pergaulan bebas, tanpa pembekalan seksual yang cukup. Ketika akhirnya remaja beralih ke dalam fase ibu, dengan mengantongi anemia, tentu hal ini akan meningkatkan risiko satu orang ibu untuk mengalami perdarahan, persalinan tak maju, dan kurangnya asupan gizi untuk janinya. Itulah mengapa wanita menjadi target yang dikhususkan oleh dunia, karena wanita adalah ujung tombak berkembangnya suatu bangsa. Ibu yang hebat akan menghasilkan anak-anak yang hebat. Anak-anak adalah pemegang kendali generasi bangsa selanjutnya. Angka kematian ibu (AKI) masih sangat tinggi di Indonesia. Setiap tahun, sekitar 20000 ibu Indonesia meninggal akibat komplikasi kehamilan atau persalinan. Setiap 259 ibu meninggal dunia setiap 100.000 kelahiran hidup. Angka ini tentunya “menang” sepuluh kali lipat dari AKI di Malaysia (19/100000) dan Sri Lanka (24/100000). Pada tahun 2015 ini, pemerintah mentargetkan untuk menurunkan AKI menjadi 102 per 100000 kelahiran hidup. Melahirkan seharusnya menjadi peristiwa bahagia tetapi seringkali berubah menjadi tragedi. Berdasarkan data tahun 2015, penyebab utama kematian ibu adalah preeklampsia-eklampsia dan perdarahan. Sebenarnya, hampir semua kematian tersebut dapat dicegah. Karena itu tujuan kelima MDGs difokuskan pada kesehatan ibu, untuk mengurangi “kematian ibu”. Meski semua sepakat bahwa angka kematian ibu terlalu tinggi, seringkali muncul keraguan tentang angka yang tepat. Kita seharusnya dapat memastikan ketika seorang ibu meninggal dunia Namun bisa ada keraguan tentang penyebabnya. Kita tidak mungkin hanya mengacu pada informasi dalam laporan kematian yang bisa saja disebabkan oleh berbagai alasan, terkait ataupun tidak terkait dengan persalinan. Metode yang biasa digunakan adalah dengan bertanya pada para perempuan apakah ada saudara perempuan mereka yang meninggal sewaktu persalinan. “Tingkat kematian ibu” telah turun dari 390 menjadi sekitar 307 per 100.000 kelahiran. Artinya, seorang perempuan yang memutuskan untuk mempunyai empat anak memiliki kemungkinan meninggal akibat kehamilannya sebesar 1,2%. Angka tersebut bisa jauh lebih tinggi, terutama di daerah-daerah yang lebih miskin dan terpencil. Satu survei di Ciamis, Jawa Barat, misalnya, menunjukkan bahwa rasio tersebut adalah 56117. Dunia terus berputar, waktu silih berganti. Kini seiring bertambahnya kemajuan dalam bidang kesehatan, perdarahan yang dulunya adalah penyebab utama kematian pada ibu, kini bergeser oleh kehadiran preeklampsia-eklampsia. Seperti halnya Raden Ajeng Kartini yang mengalami perdarahan pada saat melahirkan bayinya, namun kini kehilangan banyak darah dapat melalui proses transfusi yang aman, dengan uji golongan darah dan Rhesus sebelumnya, peralatan yang steril, dan medikamentosa yang memadai, perdarahan kini bukan menjadi masalah utama. Pernah dengar kejang pada saat kehamilan? Itulah eklampsia. Preeklampsia merupakan suatu kondisi yang mendahului eklampsia. Eklampsia merupakan masalah yang serius pada masa kehamilan akhir yang ditandai dengan kejang dan penurunan kesadaran.

Penyebab eklampsia masih belum diketahui. Preeklampsia-eklampsia diduga ditimbulkan oleh keracunan janin sehingga disebut pula dengan “keracunan kehamilan” atau “toksikemia gravidarum”. Penting bagi para wanita untuk “menghapalkan” dan mengenali durasi menstruasi dan tanggal menstruasinya. Untuk apa? Untuk mengetahui Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT) sehingga dapat dihitung dengan pasti usia kehamilannya. Keracunan kehamilan ini dapat terjadi ketika usia kehamilan memasuki 20 minggu. Dengan mengingat HPHT, maka para ibu hamil dapat lebih mawas diri ketika memasuki usia kehamilan 20 minggu. Preeklamsia dapat dikenali dengan kenaikan tekanan darah di atas 140 mmHg untuk sistole atau 90 mmHg untuk diastole, dan pengecekan air seni mengandung proein sebesear minimal 300 mg per 24 jam atau uji dipstik +1. Namun, ibu hamil harus waspada jika ada berbagai keluhan seperti sakit kepala yang berkepanjangan, ulu hati terasa nyeri, kaki bengkak, mual muntah pada usia kehamilan memasuki 20 minggu, serta pandangan kabur. Mual dan muntah pada awal kehamilan (trimester pertama) bukanlah gejala preeklamsia, melainkan diakibatkan oleh peningkatan kadar hormon estrogen pada ibu hamil. Beberapa jurnal menyatakan penyebab dari keracunan kehamilan ini adalah karena struktur dan jenis plasenta yang menempel pada dinding rahim. Pada ibu hamil, pembuluh darah rahim dan plasenta akan saling berhubungan untuk memenuhi kebutuhan janin. Namun, ada suatu kelainan sehingga pembuluh darah rahim ibu tidak berubah secara sempurna untuk menyesuaikan dengan plasenta sehingga hal ini akan menyebabkan komplikasi tak hanya untuk ibu tetapi juga untuk bayinya. Akar dari permasalahan ini masih belum banyak diketahui, diduga disebabkan oleh kelainan genetik, atau kelainan sistem kekebalan ibu. Maka, dikatakan kehamilan pertama akan lebih berisiko untuk terjadinya preeklamsia-eklamsia mengingat genetik dan kekebalan ibu terhadap janinnya masih pertama kali terbentu. Karena faktor genetik tersebut, maka ada pula yang , bahwa sperma tertentu akan menyebabkkan preeklampsia-eklampsia dan kehamilan pertama akan berpotensi lebih besar karena kekebalan tubuh ibu belum terbentuk terhadap sperma tersebut.

“The dangerous man” adalah julukan untuk pria yang “menyumbangkan” spermanya sehingga menyebabkan terjadinya “keracunan kehamilan” tersebut. Hal ini perlu menjadi sorotan, terutama karena persepsi bahwa preeklamsia-eklamsia ini hanya menyerang kehamilan pertama. Perlu ditegaskan bahwa bukan berarti kehamilan kedua dan ketiga tidak berpotensi untuk menimbulkan hal ini, tetapi karena mengingat faktor genetik tadi, maka semisal ada contoh seorang wanita dengan kehamilan ketiga tetapi dengan suami kedua (berbeda laki-laki) juga berpotensi preeklamsia-eklamsia sama besarnya seperti kehamilan pertama, karena faktor genetik sperma “baru” tersebut belum memiliki “kekebalan” tersendiri pada tubuh wanita itu. Gejala preeklamsia tadi mungkin sepintas adalah gejala yang sepele. Namun memang benar apabila seorang wanita hamil itu perlu diperhatikan dengan “lebih”, mengingat setiap keluhan bisa menjadi suatu tanda dari tersembunyinya suatu penyakit. Misalnya seorang ibu mengeluhkan “Kok pandanganku kabur”, bisa jadi ini adalah suatu awal mula dari eklamsia. Jika gejala preeklamsia ini diremehkan, maka ibu hamil akan memiliki risiko yang besar untuk mengalami eklamsia, di mana akan terjadi perdarahan di otak, gagal ginjal yang akut, pembengkakan pada paru, dan sebagainya yang akan meracuni aliran darah sang ibu, dan merusak organ-organ penting dalam tubuh, selain juga membahayakan janinnya. Ketika seorang ibu hamil sudah mengalami kejang lalu diikuti penurunan kesadaran, hal itu sudah jatuh ke dalam kondisi eklamsia sehingga kehamilan harus diakhiri, tanpa memandang usia kehamilan sudah aterm atau belum. Jika kondisi ibu masih baik, meskipun diagnosis preeklamsia sudah tegak, namun ibu dapat menjalani terapi rawat jalan dengan tetap harus kontrol rutin, setidaknya untuk mengetahui tekanan darahnya setiap minggu, dan kehamlan juga masih bisa dipertahankan. Itulah pentingnya menjalani suatu Pelayanan Antenatal, setidaknya selama 9 bulan kehamilan, ibu hamil memeriksakan dirinya 4 kali untuk mengetahui risiko tinggi yang ada pada dirinya sehingga penanganan dapat lebih dini dilakukan. Nah, hal-hal seperti inilah yang perlu ditanamkan kepada para ibu, wanita, gadis, remaja.

Kesadaran untuk mawas diri karena setiap kehamilan itu berisiko, tergantung risikonya: tinggi atau rendah, sehingga penanganannya lebih tepat dan cepat. Poin penting lainnya, ketika ibu telah melahirkan, dengan riwayat preeklamsia, maka kondisi pasca melahirkan itu bukan serta merta akan melepaskan diagnosis preeklamsia-eklamsianya tersebut. Ibu pasca melahirkan dengan preeklamsia-eklamsia tetap harus dipantau dengan ketat, karena kenaikan tekanan darah dan proteinuria tersebut dapat tetap memicu kejang selama maksimal 40 hari setelah melahirkan (masa nifas selesai). Selain preeklamsia-eklamsia, penyebab kematian ibu lainnya adalah perdarahan saat kehamilan dan persalinan. Perdarahan tidak melulu terjadi ketika melahirkan, tetapi dapat terjadi pada masa kehamilan, terutama apabila ibu masih memaksakan diri untuk bekerja dan beraktivitas, atau jika asupan gizi tidak diperhatikan. Maka, sekali lagi penting untuk mengetahui HPHT sehingga ketika terjadi perdarahan, dapat dirunut dengan detail penyebabnya. Perdarahan pada kehamilan kurang dari 20 minggu dapat didiagnosis dengan abortus, mola hidatidosa, atau kehamilan ektopik terganggu. Perdarahan pada kehamilan 20 – 28 minggu dapat disebabkan oleh kelainan letak penempelan plasenta yang disebut plasenta previa maupun solusio plasenta. Perdarahan pasca persalinan yaitu diakibatkan oleh adanya sobekan jalan lahir, atau adanya kontraksi rahim yang kurang adekuat, atau adanya suatu sisa plasenta yang tertinggal, atau karena ada kelainan pembekuan darah pada ibu hamil. Rumit bukan? Sederhananya, dari berbagai kemungkinan perdarahan di atas, hal sederhana yang mampu dilakukan oleh ibu hamil adalah memeriksakan kehamilannya: minimal satu kali pada trimester pertama, minimal satu kali pada trimester kedua, dan minimal dua kali pada trimester ketiga, sehingga berbagai kerumitan perdarahan itu dapat dipangkas dari awal dan dikenali oleh tim kesehatan sehingga persalinan yang layak dapat direncanakan sesuai kondisi ibu dan janin. Hal mendasar lainnya adalah menanamkan kesadaran pada ibu bahwa ketika hamil ibu sedang memberi makan pada dua orang: dirinya dan bayi dalam kandungannya. Dan berbagai mitos di Indonesia yang masih kental mengenai menyusui juga perlu diluruskan. Mitos di setiap daerah berbeda-beda. Semisal, di daerah Jepara, masih banyak mitos yang mempercayai bahwa ibu setelah melahirkan tidak boleh makan selain “mutih”, yang artinya, ketika menyusui, ibu hanya diperbolehkan minum air putih dan makan nasi putih. Lantas gizi ibu dari mana? Gizi anak dari mana? Tak jarang ibu dilanda anemia, namun karena tidak terlalu mengganggu keseharian, maka anemia ini jarang dikeluhkan. Padahal, anemia ini berpotensi untuk melemahkan kontraksi rahim. Apa akibatnya jika kontraksi rahim lemah? Ketika persalinan, persalinan dapat berjalan lebih lama karena kontraksi yang kurang kuat, atau setelah persalinan, terjadi perdarahan post partum karena kontraksi yang kurang kuat tidak bisa menahan pembuluh darah di rahim untuk berhenti. Bagaikan lingkaran setan, anemia akan menyebabkan kontraksi rahim melemah sehingga berujung pada perdarahan, dan perdarahan tentunya akan membuang banyak darah dan menyebabkan anemia. Pada pelayanan antenatal, ibu akan rutin dibagikan obat tablet yang mengandung zat besi. Hal ini bertujuan untuk mencegah adanya anemia. Anemia memang sederhana, tetapi dampaknya luar biasa, termasuk perdarahan pasca persalinan yang dapat berujung kematian. Selain itu, anemia juga dapat dicegah dengan makan makanan yang bergizi.

Perlu diingat, mengkonsumi tablet besi tidak boleh bersamaan dengan meminum air teh. Zat polifenol pada teh akan berikatan dengan besi sehingga besi akan terbuang sebelum sempat diserap oleh tubuh. Selain itu, pada pemeriksaan antenatal, ibu hamil mampu dengan leluasa mengutarakan keluhannya kepada dokter atau bidan terkait sehingga keluhan penyakit sekecil apapun dapat diatas dengan dini. Kalaupun membutuhkan obat untuk mengatasi penyakit tertentu, semisal batuk dan pilek ketika hamil, atau mual muntah ketika hamil, maka setidaknya diperlukan suatu upaya oleh dokter dalam memilih dan memilah obat-obatan tertentu yang aman untuk ibu hamil. “Karena wanita ingin dimengerti.” Rupanya kalimat tersebut memang benar adanya dan mengandung makna yang dalam. Dalam membicarakan hal-hal seperti ini tidak bisa lepas dari peran berbagai lingkup. Lingkup yang paling kecil: keluarga inti. Suami harus sadar, meskipun yang membesar adalah perut istrinya, tetapi hal itu tidak lepas dari “urun sperma” sang suami, dan tidak sekedar urun sperma, tetapi suami juga sebisa mungkin tetap mendampingi istri, tetap memberikan dukungan moral dan perhatian. Miris ketika di fasilitas pelayanan kesehatan, masalah ibu melahirkan masih banyak yang terbentur biaya. Boleh jadi strata pendidikan tidak tinggi, kondisi sosial ekonomi tidaklah baik, tetapi setidaknya untuk urusan menyisihkan uang untuk persalinan bisa dipersiapkan. Katakanlah menyisihkan 10ribu setiap hari selama 9 bulan, bisa dihitung berapa nominalnya? Atau mengurus berkas administrasi untuk mengikuti Jaminan Kesehatan Nasional sehingga hanya dengan iuran sebesar 30ribu-60ribu setiap bulan, ibu hamil mampu bersalin dibantu tenaga ahli dengan gratis. Banyak cara, dan sebagai masyarakat, dan sebagai manusia berakal, mencari tahu adalah siasat untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Sejumlah komplikasi sewaktu melahirkan bisa dicegah, misalnya komplikasi akibat aborsi yang tidak aman. Komplikasi seperti ini menyumbang 6% dari angka kematian. Sebagian besar sebenarnya bisa dicegah kalau saja perempuan memiliki akses terhadap kontrasepsi yang efektif. Saat ini hanya sekitar separuh perempuan usia 15 hingga 24 yang menggunakan metode kontrasepsi modern. Metode yang paling umum dipakai adalah suntik, diikuti oleh pil. Proporsi perempuan (usia 15-49) yang menggunakan alat kontrasepsi mengalami peningkatan dan prosentasenya pada tahun 2006 adalah 61% (SDKI, 2007). Berbagai potensi masalah lainnya bisa dicegah apabila para ibu memperoleh perawatan yang tepat sewaktu persalinan. Apakah kita kekurangan bidan desa? Sebenarnya, pemerintah pusat telah melatih banyak bidan, dan mengirim mereka ke seluruh penjuru Indonesia. Namun, sepertinya, pemerintah daerah tidak menganggap hal tersebut sebagai prioritas, dan tidak memperkerjakan para bidan setelah berakhirnya kontrak mereka dengan Departemen Kesehatan. Selain itu, ada masalah terkait kualitas.

Para bidan desa mungkin tidak mendapatkan pelatihan yang cukup atau mungkin kekurangan peralatan. Jika mereka bekerja di komunitas-komunitas kecil, mereka mungkin tidak menghadapi banyak persalinan, sehingga tidak mendapat pengalaman yang cukup. Namun salah satu dari masalah utamanya adalah jika disuruh memilih, banyak keluarga yang memilih tenaga persalinan tradisional. Mengapa banyak keluarga lebih memilih tenaga tradisional? Karena berbagai alasan. Salah satunya, biasanya lebih murah dan dapat dibayar dengan beras atau barang-barang lain. Keluarga juga lebih nyaman dengan seseorang yang mereka kenal dan percaya. Mereka yakin bahwa tenaga persalinan tradisional akan lebih mudah ditemukan dan beranggapan bahwa mereka bisa lebih memberikan perawatan pribadi. Dalam kasus-kasus persalinan normal, ini mungkin benar. Namun jika ada komplikasi, tenaga persalinan tradisional mungkin tidak akan dapat mengatasi dan mungkin akan segan untuk meminta bantuan bidan desa. Hal ini dapat mengakibatkan penundaan yang membahayakan jiwa karena tidak secepatnya memperoleh perawatan kebidanan darurat di pusat kesehatan atau rumah sakit. Keterlambatan dapat juga terjadi karena kesulitan dan biaya transportasi, khususnya di daerah-daerah yang lebih terpencil. Kenyataannya, perempuan mana pun dapat mengalami komplikasi kehamilan, kaya maupun miskin, di perkotaan atau di perdesaan, tidak peduli apakah sehat atau cukup gizi. Ini artinya kita harus memperlakukan setiap persalinan sebagai satu potensi keadaan darurat yang mungkin memerlukan perhatian di sebuah pusat kesehatan atau rumah sakit, untuk penanganan cepat. Pengalaman internasional menunjukkan bahwa sekitar separuh dari kematian ibu dapat dicegah oleh bidan terampil, sementara separuhnya lainnya tidak dapat diselamatkan akibat tidak adanya perawatan yang tepat dengan fasilitas medis memadai. Perlu diingat, terdapat empat pilar Safe Motherhood yang terdiri atas kontrasepsi, pelayanan antenatal, persalinan yang bersih dan aman, serta pelayanan obstetri esensial. Sekitar 60% persalinan di Indonesia berlangsung di rumah. Dalam kasus seperti ini, para ibu memerlukan bantuan seorang ”tenaga persalinan terlatih”. Untungnya banyak perempuan yang mendapatkan bantuan tersebut. Pada tahun 2007 proporsi persalinan yang dibantu oleh tenaga persalinan terlatih, baik staf rumah sakit, pusat kesehatan ataupun bidan desa, telah mencapai 73%. Sekali lagi angka ini sangat bervariasi di seluruh Indonesia, mulai dari 39% di Gorontalo hingga 98% di Jakarta.

Penting untuk menumbuhkan kesadaran pribadi di hati masing-masing manusia. Peran serta masyarakat secara aktif agresif sangat baik. Menghidupkan kader-kader kesehatan di lingkup masyarakat untuk menyebarluaskan pengetahuan memang penting. Yang dihadapi adalah bukan masalah satu atau dua lingkup desa, tetapi lingkup internasional, di mana laporan tiap daerah akan dikumpulkan menjadi satu dalam satu negara, laporan tiap negara akan disetorkan dalam wahana internasional untuk dikaji apakah dunia berhasil menurunkan Angka Kematian Ibu. Mulailah hal yang kecil untuk mendapatkan hal yang besar. Ini bukan untuk kepentingan pribadi tetapi untuk kepentingan bersama. Jika masih sulit untuk menerapkan bahwa diri sendiri memang wajib turut serta mensukseskan hal ini, cukup berpikiran sederhana bahwa semua orang mengidamkan keluarga yang sehat dan bahagia. Bagaimana dengan Anda? Artikel obsgyn: Perdarahan dan Kejang pada Kehamilan – Penyebab Utama Kematian Ibu Semua orang mengidamkan keluarga yang sehat dan bahagia, juga pendidikan bermutu bagi anak- anak. Selain itu, setiap orang berharap mampu menyediakan sandang dan pangan berkecukupan serta memiliki rumah idaman, hidup dalam sebuah negeri bernama Indonesia yang demokratis, di mana kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan mengatur kehidupan, dijamin oleh undang-undang. Wanita adalah bagian dari target dunia dalam menyelesaikan berbagai masalah yang terangkum dalam Millenium Development Goals (MDGs) 2015. World Health Organization mendapatkan bagian dalam menyongsong keberhasilan MDGs tersebut, salah satunya adalah target kelima yang berbunyi: “Meningkatkan Kesehatan Ibu”. Goal kelima ini tak hanya terdiri dari tiga kata, tetapi memiliki sub tujuan yaitu Target 5A: Menurunkan Angka Kematian Ibu sebesar tiga-per-empatnya antara 1990 dan 2015 dan Target 5B: Mencapai dan menyediakan akses kesehatan reproduksi untuk semua pada 2015, dalam hal ini adalah cakupan penggunaan alat kontrasepsi KB pada wanita usia subur yaitu 15 – 49 tahun. Masih banyak wanita yang merasa bahwa dirinya baik-baik saja. Dengan menganggap enteng kondisi yang ada dalam diri sebagai wanita, maka masalah akan sulit diatasi karena belum ada kesadaran pribadi dari masing-masing. Wanita adalah mahluk ciptaan Tuhan yang memiliki kodrat sebagai anak, remaja perempuan, wanita dewasa, ibu, dan nenek. Sudah selayaknya pada setiap fase tahap kehidupan tersebut, wanita memiliki kesadaran terhadap setiap bahaya yang mengancam. Ketika fase remaja, banyak remaja perempuan yang mengalami anemia, atau terlibat pergaulan bebas, tanpa pembekalan seksual yang cukup.

Ketika akhirnya remaja beralih ke dalam fase ibu, dengan mengantongi anemia, tentu hal ini akan meningkatkan risiko satu orang ibu untuk mengalami perdarahan, persalinan tak maju, dan kurangnya asupan gizi untuk janinya. Itulah mengapa wanita menjadi target yang dikhususkan oleh dunia, karena wanita adalah ujung tombak berkembangnya suatu bangsa. Ibu yang hebat akan menghasilkan anak-anak yang hebat. Anak-anak adalah pemegang kendali generasi bangsa selanjutnya. Angka kematian ibu (AKI) masih sangat tinggi di Indonesia. Setiap tahun, sekitar 20000 ibu Indonesia meninggal akibat komplikasi kehamilan atau persalinan. Setiap 259 ibu meninggal dunia setiap 100.000 kelahiran hidup. Angka ini tentunya “menang” sepuluh kali lipat dari AKI di Malaysia (19/100000) dan Sri Lanka (24/100000). Pada tahun 2015 ini, pemerintah mentargetkan untuk menurunkan AKI menjadi 102 per 100000 kelahiran hidup. Melahirkan seharusnya menjadi peristiwa bahagia tetapi seringkali berubah menjadi tragedi. Berdasarkan data tahun 2015, penyebab utama kematian ibu adalah preeklampsia-eklampsia dan perdarahan. Sebenarnya, hampir semua kematian tersebut dapat dicegah. Karena itu tujuan kelima MDGs difokuskan pada kesehatan ibu, untuk mengurangi “kematian ibu”. Meski semua sepakat bahwa angka kematian ibu terlalu tinggi, seringkali muncul keraguan tentang angka yang tepat. Kita seharusnya dapat memastikan ketika seorang ibu meninggal dunia Namun bisa ada keraguan tentang penyebabnya. Kita tidak mungkin hanya mengacu pada informasi dalam laporan kematian yang bisa saja disebabkan oleh berbagai alasan, terkait ataupun tidak terkait dengan persalinan. Metode yang biasa digunakan adalah dengan bertanya pada para perempuan apakah ada saudara perempuan mereka yang meninggal sewaktu persalinan. “Tingkat kematian ibu” telah turun dari 390 menjadi sekitar 307 per 100.000 kelahiran. Artinya, seorang perempuan yang memutuskan untuk mempunyai empat anak memiliki kemungkinan meninggal akibat kehamilannya sebesar 1,2%. Angka tersebut bisa jauh lebih tinggi, terutama di daerah-daerah yang lebih miskin dan terpencil. Satu survei di Ciamis, Jawa Barat, misalnya, menunjukkan bahwa rasio tersebut adalah 56117.

Dunia terus berputar, waktu silih berganti. Kini seiring bertambahnya kemajuan dalam bidang kesehatan, perdarahan yang dulunya adalah penyebab utama kematian pada ibu, kini bergeser oleh kehadiran preeklampsia-eklampsia. Seperti halnya Raden Ajeng Kartini yang mengalami perdarahan pada saat melahirkan bayinya, namun kini kehilangan banyak darah dapat melalui proses transfusi yang aman, dengan uji golongan darah dan Rhesus sebelumnya, peralatan yang steril, dan medikamentosa yang memadai, perdarahan kini bukan menjadi masalah utama. Pernah dengar kejang pada saat kehamilan? Itulah eklampsia. Preeklampsia merupakan suatu kondisi yang mendahului eklampsia. Eklampsia merupakan masalah yang serius pada masa kehamilan akhir yang ditandai dengan kejang dan penurunan kesadaran. Penyebab eklampsia masih belum diketahui. Preeklampsia-eklampsia diduga ditimbulkan oleh keracunan janin sehingga disebut pula dengan “keracunan kehamilan” atau “toksikemia gravidarum”. Penting bagi para wanita untuk “menghapalkan” dan mengenali durasi menstruasi dan tanggal menstruasinya. Untuk apa? Untuk mengetahui Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT) sehingga dapat dihitung dengan pasti usia kehamilannya. Keracunan kehamilan ini dapat terjadi ketika usia kehamilan memasuki 20 minggu. Dengan mengingat HPHT, maka para ibu hamil dapat lebih mawas diri ketika memasuki usia kehamilan 20 minggu. Preeklamsia dapat dikenali dengan kenaikan tekanan darah di atas 140 mmHg untuk sistole atau 90 mmHg untuk diastole, dan pengecekan air seni mengandung proein sebesear minimal 300 mg per 24 jam atau uji dipstik +1. Namun, ibu hamil harus waspada jika ada berbagai keluhan seperti sakit kepala yang berkepanjangan, ulu hati terasa nyeri, kaki bengkak, mual muntah pada usia kehamilan memasuki 20 minggu, serta pandangan kabur. Mual dan muntah pada awal kehamilan (trimester pertama) bukanlah gejala preeklamsia, melainkan diakibatkan oleh peningkatan kadar hormon estrogen pada ibu hamil. Beberapa jurnal menyatakan penyebab dari keracunan kehamilan ini adalah karena struktur dan jenis plasenta yang menempel pada dinding rahim.

Pada ibu hamil, pembuluh darah rahim dan plasenta akan saling berhubungan untuk memenuhi kebutuhan janin. Namun, ada suatu kelainan sehingga pembuluh darah rahim ibu tidak berubah secara sempurna untuk menyesuaikan dengan plasenta sehingga hal ini akan menyebabkan komplikasi tak hanya untuk ibu tetapi juga untuk bayinya. Akar dari permasalahan ini masih belum banyak diketahui, diduga disebabkan oleh kelainan genetik, atau kelainan sistem kekebalan ibu. Maka, dikatakan kehamilan pertama akan lebih berisiko untuk terjadinya preeklamsia-eklamsia mengingat genetik dan kekebalan ibu terhadap janinnya masih pertama kali terbentu. Karena faktor genetik tersebut, maka ada pula yang , bahwa sperma tertentu akan menyebabkkan preeklampsia-eklampsia dan kehamilan pertama akan berpotensi lebih besar karena kekebalan tubuh ibu belum terbentuk terhadap sperma tersebut. “The dangerous man” adalah julukan untuk pria yang “menyumbangkan” spermanya sehingga menyebabkan terjadinya “keracunan kehamilan” tersebut. Hal ini perlu menjadi sorotan, terutama karena persepsi bahwa preeklamsia-eklamsia ini hanya menyerang kehamilan pertama. Perlu ditegaskan bahwa bukan berarti kehamilan kedua dan ketiga tidak berpotensi untuk menimbulkan hal ini, tetapi karena mengingat faktor genetik tadi, maka semisal ada contoh seorang wanita dengan kehamilan ketiga tetapi dengan suami kedua (berbeda laki-laki) juga berpotensi preeklamsia-eklamsia sama besarnya seperti kehamilan pertama, karena faktor genetik sperma “baru” tersebut belum memiliki “kekebalan” tersendiri pada tubuh wanita itu. Gejala preeklamsia tadi mungkin sepintas adalah gejala yang sepele. Namun memang benar apabila seorang wanita hamil itu perlu diperhatikan dengan “lebih”, mengingat setiap keluhan bisa menjadi suatu tanda dari tersembunyinya suatu penyakit. Misalnya seorang ibu mengeluhkan “Kok pandanganku kabur”, bisa jadi ini adalah suatu awal mula dari eklamsia. Jika gejala preeklamsia ini diremehkan, maka ibu hamil akan memiliki risiko yang besar untuk mengalami eklamsia, di mana akan terjadi perdarahan di otak, gagal ginjal yang akut, pembengkakan pada paru, dan sebagainya yang akan meracuni aliran darah sang ibu, dan merusak organ-organ penting dalam tubuh, selain juga membahayakan janinnya.

Ketika seorang ibu hamil sudah mengalami kejang lalu diikuti penurunan kesadaran, hal itu sudah jatuh ke dalam kondisi eklamsia sehingga kehamilan harus diakhiri, tanpa memandang usia kehamilan sudah aterm atau belum. Jika kondisi ibu masih baik, meskipun diagnosis preeklamsia sudah tegak, namun ibu dapat menjalani terapi rawat jalan dengan tetap harus kontrol rutin, setidaknya untuk mengetahui tekanan darahnya setiap minggu, dan kehamlan juga masih bisa dipertahankan. Itulah pentingnya menjalani suatu Pelayanan Antenatal, setidaknya selama 9 bulan kehamilan, ibu hamil memeriksakan dirinya 4 kali untuk mengetahui risiko tinggi yang ada pada dirinya sehingga penanganan dapat lebih dini dilakukan. Nah, hal-hal seperti inilah yang perlu ditanamkan kepada para ibu, wanita, gadis, remaja. Kesadaran untuk mawas diri karena setiap kehamilan itu berisiko, tergantung risikonya: tinggi atau rendah, sehingga penanganannya lebih tepat dan cepat. Poin penting lainnya, ketika ibu telah melahirkan, dengan riwayat preeklamsia, maka kondisi pasca melahirkan itu bukan serta merta akan melepaskan diagnosis preeklamsia-eklamsianya tersebut. Ibu pasca melahirkan dengan preeklamsia-eklamsia tetap harus dipantau dengan ketat, karena kenaikan tekanan darah dan proteinuria tersebut dapat tetap memicu kejang selama maksimal 40 hari setelah melahirkan (masa nifas selesai). Selain preeklamsia-eklamsia, penyebab kematian ibu lainnya adalah perdarahan saat kehamilan dan persalinan. Perdarahan tidak melulu terjadi ketika melahirkan, tetapi dapat terjadi pada masa kehamilan, terutama apabila ibu masih memaksakan diri untuk bekerja dan beraktivitas, atau jika asupan gizi tidak diperhatikan. Maka, sekali lagi penting untuk mengetahui HPHT sehingga ketika terjadi perdarahan, dapat dirunut dengan detail penyebabnya. Perdarahan pada kehamilan kurang dari 20 minggu dapat didiagnosis dengan abortus, mola hidatidosa, atau kehamilan ektopik terganggu. Perdarahan pada kehamilan 20 – 28 minggu dapat disebabkan oleh kelainan letak penempelan plasenta yang disebut plasenta previa maupun solusio plasenta. Perdarahan pasca persalinan yaitu diakibatkan oleh adanya sobekan jalan lahir, atau adanya kontraksi rahim yang kurang adekuat, atau adanya suatu sisa plasenta yang tertinggal, atau karena ada kelainan pembekuan darah pada ibu hamil. Rumit bukan? Sederhananya, dari berbagai kemungkinan perdarahan di atas, hal sederhana yang mampu dilakukan oleh ibu hamil adalah memeriksakan kehamilannya: minimal satu kali pada trimester pertama, minimal satu kali pada trimester kedua, dan minimal dua kali pada trimester ketiga, sehingga berbagai kerumitan perdarahan itu dapat dipangkas dari awal dan dikenali oleh tim kesehatan sehingga persalinan yang layak dapat direncanakan sesuai kondisi ibu dan janin. Hal mendasar lainnya adalah menanamkan kesadaran pada ibu bahwa ketika hamil ibu sedang memberi makan pada dua orang: dirinya dan bayi dalam kandungannya. Dan berbagai mitos di Indonesia yang masih kental mengenai menyusui juga perlu diluruskan. Mitos di setiap daerah berbeda-beda.

Semisal, di daerah Jepara, masih banyak mitos yang mempercayai bahwa ibu setelah melahirkan tidak boleh makan selain “mutih”, yang artinya, ketika menyusui, ibu hanya diperbolehkan minum air putih dan makan nasi putih. Lantas gizi ibu dari mana? Gizi anak dari mana? Tak jarang ibu dilanda anemia, namun karena tidak terlalu mengganggu keseharian, maka anemia ini jarang dikeluhkan. Padahal, anemia ini berpotensi untuk melemahkan kontraksi rahim. Apa akibatnya jika kontraksi rahim lemah? Ketika persalinan, persalinan dapat berjalan lebih lama karena kontraksi yang kurang kuat, atau setelah persalinan, terjadi perdarahan post partum karena kontraksi yang kurang kuat tidak bisa menahan pembuluh darah di rahim untuk berhenti. Bagaikan lingkaran setan, anemia akan menyebabkan kontraksi rahim melemah sehingga berujung pada perdarahan, dan perdarahan tentunya akan membuang banyak darah dan menyebabkan anemia. Pada pelayanan antenatal, ibu akan rutin dibagikan obat tablet yang mengandung zat besi. Hal ini bertujuan untuk mencegah adanya anemia. Anemia memang sederhana, tetapi dampaknya luar biasa, termasuk perdarahan pasca persalinan yang dapat berujung kematian. Selain itu, anemia juga dapat dicegah dengan makan makanan yang bergizi. Perlu diingat, mengkonsumi tablet besi tidak boleh bersamaan dengan meminum air teh. Zat polifenol pada teh akan berikatan dengan besi sehingga besi akan terbuang sebelum sempat diserap oleh tubuh. Selain itu, pada pemeriksaan antenatal, ibu hamil mampu dengan leluasa mengutarakan keluhannya kepada dokter atau bidan terkait sehingga keluhan penyakit sekecil apapun dapat diatas dengan dini. Kalaupun membutuhkan obat untuk mengatasi penyakit tertentu, semisal batuk dan pilek ketika hamil, atau mual muntah ketika hamil, maka setidaknya diperlukan suatu upaya oleh dokter dalam memilih dan memilah obat-obatan tertentu yang aman untuk ibu hamil. “Karena wanita ingin dimengerti.” Rupanya kalimat tersebut memang benar adanya dan mengandung makna yang dalam. Dalam membicarakan hal-hal seperti ini tidak bisa lepas dari peran berbagai lingkup. Lingkup yang paling kecil: keluarga inti. Suami harus sadar, meskipun yang membesar adalah perut istrinya, tetapi hal itu tidak lepas dari “urun sperma” sang suami, dan tidak sekedar urun sperma, tetapi suami juga sebisa mungkin tetap mendampingi istri, tetap memberikan dukungan moral dan perhatian. Miris ketika di fasilitas pelayanan kesehatan, masalah ibu melahirkan masih banyak yang terbentur biaya. Boleh jadi strata pendidikan tidak tinggi, kondisi sosial ekonomi tidaklah baik, tetapi setidaknya untuk urusan menyisihkan uang untuk persalinan bisa dipersiapkan. Katakanlah menyisihkan 10ribu setiap hari selama 9 bulan, bisa dihitung berapa nominalnya? Atau mengurus berkas administrasi untuk mengikuti Jaminan Kesehatan Nasional sehingga hanya dengan iuran sebesar 30ribu-60ribu setiap bulan, ibu hamil mampu bersalin dibantu tenaga ahli dengan gratis. Banyak cara, dan sebagai masyarakat, dan sebagai manusia berakal, mencari tahu adalah siasat untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Sejumlah komplikasi sewaktu melahirkan bisa dicegah, misalnya komplikasi akibat aborsi yang tidak aman.

Komplikasi seperti ini menyumbang 6% dari angka kematian. Sebagian besar sebenarnya bisa dicegah kalau saja perempuan memiliki akses terhadap kontrasepsi yang efektif. Saat ini hanya sekitar separuh perempuan usia 15 hingga 24 yang menggunakan metode kontrasepsi modern. Metode yang paling umum dipakai adalah suntik, diikuti oleh pil. Proporsi perempuan (usia 15-49) yang menggunakan alat kontrasepsi mengalami peningkatan dan prosentasenya pada tahun 2006 adalah 61% (SDKI, 2007). Berbagai potensi masalah lainnya bisa dicegah apabila para ibu memperoleh perawatan yang tepat sewaktu persalinan. Apakah kita kekurangan bidan desa? Sebenarnya, pemerintah pusat telah melatih banyak bidan, dan mengirim mereka ke seluruh penjuru Indonesia. Namun, sepertinya, pemerintah daerah tidak menganggap hal tersebut sebagai prioritas, dan tidak memperkerjakan para bidan setelah berakhirnya kontrak mereka dengan Departemen Kesehatan. Selain itu, ada masalah terkait kualitas. Para bidan desa mungkin tidak mendapatkan pelatihan yang cukup atau mungkin kekurangan peralatan. Jika mereka bekerja di komunitas-komunitas kecil, mereka mungkin tidak menghadapi banyak persalinan, sehingga tidak mendapat pengalaman yang cukup. Namun salah satu dari masalah utamanya adalah jika disuruh memilih, banyak keluarga yang memilih tenaga persalinan tradisional. Mengapa banyak keluarga lebih memilih tenaga tradisional? Karena berbagai alasan. Salah satunya, biasanya lebih murah dan dapat dibayar dengan beras atau barang-barang lain. Keluarga juga lebih nyaman dengan seseorang yang mereka kenal dan percaya. Mereka yakin bahwa tenaga persalinan tradisional akan lebih mudah ditemukan dan beranggapan bahwa mereka bisa lebih memberikan perawatan pribadi. Dalam kasus-kasus persalinan normal, ini mungkin benar. Namun jika ada komplikasi, tenaga persalinan tradisional mungkin tidak akan dapat mengatasi dan mungkin akan segan untuk meminta bantuan bidan desa. Hal ini dapat mengakibatkan penundaan yang membahayakan jiwa karena tidak secepatnya memperoleh perawatan kebidanan darurat di pusat kesehatan atau rumah sakit. Keterlambatan dapat juga terjadi karena kesulitan dan biaya transportasi, khususnya di daerah-daerah yang lebih terpencil. Kenyataannya, perempuan mana pun dapat mengalami komplikasi kehamilan, kaya maupun miskin, di perkotaan atau di perdesaan, tidak peduli apakah sehat atau cukup gizi. Ini artinya kita harus memperlakukan setiap persalinan sebagai satu potensi keadaan darurat yang mungkin memerlukan perhatian di sebuah pusat kesehatan atau rumah sakit, untuk penanganan cepat.

download

Pengalaman internasional menunjukkan bahwa sekitar separuh dari kematian ibu dapat dicegah oleh bidan terampil, sementara separuhnya lainnya tidak dapat diselamatkan akibat tidak adanya perawatan yang tepat dengan fasilitas medis memadai. Perlu diingat, terdapat empat pilar Safe Motherhood yang terdiri atas kontrasepsi, pelayanan antenatal, persalinan yang bersih dan aman, serta pelayanan obstetri esensial. Sekitar 60% persalinan di Indonesia berlangsung di rumah. Dalam kasus seperti ini, para ibu memerlukan bantuan seorang ”tenaga persalinan terlatih”. Untungnya banyak perempuan yang mendapatkan bantuan tersebut. Pada tahun 2007 proporsi persalinan yang dibantu oleh tenaga persalinan terlatih, baik staf rumah sakit, pusat kesehatan ataupun bidan desa, telah mencapai 73%. Sekali lagi angka ini sangat bervariasi di seluruh Indonesia, mulai dari 39% di Gorontalo hingga 98% di Jakarta. Penting untuk menumbuhkan kesadaran pribadi di hati masing-masing manusia. Peran serta masyarakat secara aktif agresif sangat baik. Menghidupkan kader-kader kesehatan di lingkup masyarakat untuk menyebarluaskan pengetahuan memang penting. Yang dihadapi adalah bukan masalah satu atau dua lingkup desa, tetapi lingkup internasional, di mana laporan tiap daerah akan dikumpulkan menjadi satu dalam satu negara, laporan tiap negara akan disetorkan dalam wahana internasional untuk dikaji apakah dunia berhasil menurunkan Angka Kematian Ibu. Mulailah hal yang kecil untuk mendapatkan hal yang besar. Ini bukan untuk kepentingan pribadi tetapi untuk kepentingan bersama. Jika masih sulit untuk menerapkan bahwa diri sendiri memang wajib turut serta mensukseskan hal ini, cukup berpikiran sederhana bahwa semua orang mengidamkan keluarga yang sehat dan bahagia. Bagaimana dengan Anda?

 

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What is frozen water?