DOCTOR'S SECRET

Young Doctor. Struggling to make others smile

-Ursula Penny Putrikrislia- follow twitter: @ursulapenny

follow instagram: @ursulapenny

 

bee-honey-8171343

Lama sekali saya tidak menulis. Mungkin gaya bahasa saya agak kaku, tapi lupakanlah, di sini saya mau berbagi suatu info saja..

Sejak dahulu Ibnu Sina, alias Avicenna, Bapak Kedokteran Dunia, telah mengulas khasiat madu dari segi kesehatan dan kedokteran.  Infeksi bakteri tak lepas dari kehidupan umat manusia. Bakteri, jamur, dan virus ada di mana-mana, dalam bentuk yang tak tampak oleh mata. Namun, keberadaannya dalam jumlah tertentu akan mempengaruhi keseimbangan tubuh manusia sehingga pada titik tertentu akan menyebabkan penyakit.

Semua mikroorganisme tersebut merupakan suatu tantangan bagi umat manusia untuk dilawan dan dicari cara membasminya, salah satu contoh misalnya untuk mikroorganisme bakteri, manusia dengan segenap akal yang diberikan Allah, mencari dan meneliti antibiotik untuk membasmi bakteri. Namun, penggunaan antibiotik seringkali disalahgunakan oleh manusia lainnya, mengingat mudahnya mendapatkan antibiotik di apotek, tanpa memandang betapa sulitnya menemukan satu antibiotik sehingga menyebabkan antibiotik tertentu kini sudah tidak adekuat lagi membasmi bakteri. Kini resistensi bakteri terhadap antibiotik kian bertambah pesat, tidak sebanding dengan kecepatan ditemukannya antibiotik jenis baru.

Pada pertemuan ilmiah ke-27 dari American Chemical Society (ACS), suatu pendekatan baru untuk mengatasi resistensi antibiotik dibahas di sana. Kini para ahli mulai melirik penggunaan madu dalam mengatasi resistensi antibiotik. Profesional medis menyatakan bahwa madu seringkali berhasil mengatasi infeksi pada penggunaan topikal (oles) pada luka, dan madu dapat berperan besar dalam melawan infeksi. Namun hal ini masih diteliti lebih lanjut.

Sejauh ini, substansi yang terkandung pada madu mampu membuktikan bahwa infeksi bakteri dilawan melalui berbagai tahap, tidak seperti antibiotik kimiawi pada umumya, di mana bakteri dilawan hanya melalui satu atau dua tahap. Misalnya, antibiotik amoksisilin, melawan bakteri dengan cara menghambat biosintesis dinding bakteri, atau clindamycin yang menekan sintesis protein untuk perkembangbiakan bakteri dengan berikatan dengan salah satu DNA bakteri, sedangkan madu, dapat bekerja melalui semua proses tersebut. Hal ini disampaikan oleh pemimpin penelitian ini yaitu Susan M Meschwitz, PhD.

Apa yang terkandung di madu seperti suatu “persenjataan” yang lengkap dalam melawan kuman, seperti efek yang sama dengan hidrogen peroksida, efek pH asamya, efek osmotiknya, yang kesemuanya itu mampu membunuh sel bakteri. Eek osmotik dihasilkan dari konsentrasi glukosa yang tinggi dalam madu, yang mengisi sel bakteri lalu menyebabkan bakteri terdehidrasi dan kemudian mematikan bakteri tersebut. Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa madu menghambat pembentukan biofilm, dengan menghancurkan proses yang disebut quorum sensing. Quorum sensing merupakan cara bakteri berkomunikasi dengan bakteri lainnya, di mana bakteri berkomunikasi untuk membentuk biofilm. Pada bakteri tertentu, komunikasi ini juga mengontrol bakteri untuk melepaskan racun, sehingga mempengaruhi patogenitas/keganasan dari bakteri tersebut.

Meschwitz, yang juga meneliti madu di Universitas Sale Regina di Newport menyatakan manfaat lain dari madu tidak seperti antibiotik konvensional lainnya di mana antibiotik lain dapat menimbulkan resistensi terhadap bakteri, sedangkan madu tidak. Kenapa? Karena antibiotik konvensional mentargetkan satu target tertentu saja, misalnya hanya pada dinding bakteri saja, atau hanya pada penghambat sintesis proteinnya saja.

Selain itu, karena seperti yang disebutkan di awal tadi bahwa “persenjataan” madu itu lengkap dalam melawan bakteri, sama dengan efek hidrogen peroksida, madu mampu memliki efek antidioksidan, dan ini telah diuji oleh para peneliti. Dalam madu, terdapat efek antioksidan karena komponen polifenolnya.

Madu, seperti yang telah diteliti oleh banyak penelitian dari para ahli telah terbukti merupakan antimikroba spektrum luas (tidak hanya antibiotik, tetapi juga antijamur, dan antivirus). Substansi lain yang mendukung fungsi madu adalah asam fenol, asam caffeic, asam p-coumaric, asam ellagic, dan flavonoid, quercetin, apigenin, galangin, pinocembrin, kaempferol, lueolin, dan chrysin.

Sebenarnya kerumitan hal-hal yang dibahas di atas jelas telah terbukti karena Allah SWT berfirman dalam Alquran An-Nahl ayat 68 dan 69:

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di di tempat yang dibuat manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap macam buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kebesaran Tuhan bagi orang yang memikirkan.”

Jadi, kita sebagai mukmin perlu bersyukur kepada Allah dan berbangga dengan Al-Quran, yang secara lengkap telah mengulas beragam hal sedetail apapun, bahkan di bidang kesehatan. Madu yang dari awal telah tertulis dalam Alquran, kini diteliti oleh banyak umat manusia, dan hasilnya tak pernah mengecewakan. Madu selalu memiliki efek yang menguntungkan, dan tidak membahayakan. Tidak seperti obat buatan manusia, pasti memiliki efek samping, riwayat adanya pengguna yang alergi, toksik dalam dosis tertentu di hati atau ginjal, dan sebagainya. Madu tidak. Madu memberikan manfaat tanpa meminta ganti rugi pada kita sebagai penggunanya.

Apa yang ditulis di Alquran tidak pernah salah dan tidak akan pernah salah. Penelitian-penelitian yang kini banyak berkembang justru akan semakin menguatkan kebenaran Alquran. Masha Allah, berbahagialah kita semuanya.

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What color is fresh snow?