DOCTOR'S SECRET

Young Doctor. Struggling to make others smile

Archive for December 13th, 2015

#SECRET 12: ORANGTUA

 

 

Sebagai dokter muda, beberapa hari terakhir fisik begitu lemah, sakit sering menyerang. Jam terbang di Rumah Sakit semakin tinggi, mengindikasikan akan mendapatkan lebih banyak ilmu pengetahuan sekaligus pengalaman kehidupan. kali ini bukan kisah yang luar biasa. Hanya seorang ibu, seumuran ibuku, tergeletak lemah di tempat tidur rumah sakit. Pagi itu pukul 4. Bau kotoran BAB manusia menyerbak di ruangan kelas 3 bangsal penyakit dalam. Ternyata, ibu itu BAB tidak tertahankan dan mengotori tempat tidurnya. Sang suami dengan sabar membersihkannya. Ibu ini berukuran terlalu besar sehingga suami tak kuat mengangkatnya untuk jalan ke toilet. Maklum, sang ibu terkena suatu jepitan di syaraf tulang belakang sehingga kedua kakinya lemah, sangat susah untuk berjalan. Kulihat jari-jari kakinya sudah tidak ada, amputasi karena kencing manis 14 tahun yang lalu. Akhirnya, saya di sisi kiri ibu, suaminya di sisi kanan ibu, kami membawanya ke toilet, mmm, sambil menahan bau pup. Kira-kira proses jalan bolak-balik toilet-tempat tidur membutuhkan waktu setengah jam, padahal hanya berjarak 2 meter. Susahnya ibu ini menggerakkan kakinya.

Ketika pada akhirnya ritual ini selesai, sang ibu menangis haru, “Kamu baik sekali Nak, anak saya aja belum tentu mau melakukan hal ini…”

“Ah ya nggak juga ah Bu…”

“Anak saya itu mbak, sama2 di Semarang, tahu saya mondok opnam saja, jenguk pun nggak…”

Air mata berlinang lebih deras dari pelupuk mata sang ibu.

Hilang sudah bau eek itu, hilang sudah rasa jijikku, tergantikan air mata sang ibu ini. Seringkali, bahkan setiap saat, aku mengingat kedua orangtuaku di rumah, yang bahkan belum tentu kusentuh dan kusapa setiap hari. Ya Tuhan, jagailah orangtuaku selalu. Berikan mereka kesehatan. Maafkan diriku yang tidak bisa setiap hari ada bersama mereka..***

 

Family can be found anywhere and with anyone at the end of the day

 

Pengawasan pasien persetengah jam. Amanah yang diemban dokter muda ketika jaga bangsal. Entah ada berapa puluh pasien.  stase penyakit dalam penuh dengan beragam penyakit dan bermacam pengawasan. Pengawasan pasien berarti kita mengawasi tekanan darah, suhu, denyut nadi per menit, laju pernapasan per menit. Tetapi nun jauh di sana, ternyata keluarga sendiri bahkan tidak terjamah. Ibumu demam. Ayahmu terjatuh di rumah. Adikmu sakit batuk. Bahkan kita, dokter muda, sampai tidak sempat mengikuti kondisi keluarga sendiri, tertutup oleh kewajiban formalitas dunia pendidikan yang mengharuskan jaga rumah sakit. Rasa rindu itu menyeruak, yang beruntungnya didekatkan dengan kemajuan media teknologi. Tetapi lain cerita ketika suatu pagi buta sekitar pukul 3, salah seorang sahabat seperjuangan saya menangis pilu, membuat siapa saja yang melihat keceriaannya selama ini luluh lantak dan heran, kok bisa sih kamu nangis kayak gitu? Yakinlah, ketika itu sahabat saya sedang melakukan pengawasan pasien. Tangannya masih menggenggam tensimeter dengan stetoskop terkalung di lehernya. Di sampingnya terbaring pasien hipertensi emergensi karena gagal ginjal kronik. Hapenya baru saja berbunyi. Mengabarkan kabar duka dari rumahnya nun jauh di sana: ayahnya meninggal.

Bagaimana bisa? Pasien yang dengan telaten diawasi dan dijaga, tapi justru keluarga sendiri, ayahnya sendiri, pergi untuk selama-lamanya? Hidup penuh misteri. Tetapi, dari sini kami belajar apa arti keikhlasan, apa arti pengorbanan,

Pukul 3 dini hari. Masih dengan baju jaga shift malam, masih dengan membawa stetoskop dan alat2 lain, sahabat saya harus berangkat pulang kampung. Kuantarkan sampai terminal, tak kuasa saya ikut menangis melihatnya menangis sepanjang jalan. karena saya harus melanjutkan jaga hari itu, maka dia pulang sendiri, mengikhlaskan kepergian ayahnya untuk selamanya.***

 

Orangtuaku bukanlah seorang dokter, tetapi mereka adalah orangtua yang hebat yang mampu mendidik anak-anaknya menjadi anak yang pintar dan hebat. Ibuku seorang dosen pertanian, sedang menempuh pendidikan menjadi Dokter di Universitas Gadjah Mada. Ayahku seorang pensiunan dari Lembaga Swadaya Masyarakat. Dahulu ayahku menuntut Ilmu Tanah, sehingga beberapa kali setelah pensiun dari LSM, ayahku bekerja di perusahaan pertambangan, tetapi jauh dari rumah, dan itu menyedihkan.

10937337_1402895220005684_45223814_n

Ayahku, adalah orang yang sangat menyayangiku. Setelah beliau benar-benar pensiun dari pertambangannya, beliau banyak menghabiskan waktu di Salatiga, kota asalku, tetapi, jauh dari itu, ayahku sering bermain ke Semarang, hanya sekedar untuk makan bersamaku, atau berbincang ringan, tak lama, hanya 3 jam maksimal.

Jarang bertemu ayah, membuatku menyadari perubahan-perubahan yang ada pada dirinya.

Yang aku lihat..

Guratan wajah tua dr orang yang kusayang..

Guratan kesedihan dr orang yang mengasuhku ketika kecil..

Wajah itu..

Ayahku..

Terimakasih atas didikanmu

Doakan ya ayah..

Agar anakmu ini

Menjadi orang yang berguna

Cerdas dan bermartabat..

Kebahagiaanku

Adalah membuatmu bahagia

Hai ayah..

Terimakasih atas waktumu

Meluangkan waktu untukku

Berkemudi seorang diri

Melintasi jalan di malam hari

Sepulang lelah berkeringat seharian..

Ayah..

Semoga engkau selalu sehat

Selalu bahagia

Dan bangga memilikiku

Anakmu

Dulu, sekarang, dan sampai kapanpun :’)

10369884_1391347431160463_1331160893900351742_n

Orangtuaku adalah orangtua yang hebat. Ibuku, dengan kesabarannya, ketika kehamilan pertamanya yang mana isinya adalah ternyata aku, ibuku sedang menempuh pendidikan master alias S2 di IPB Bogor. Tetapi, kecintaannya kepada anak-anaknya lebih besar daripada keutamaan karirnya. Ibuku meninggalkan S2-nya, lalu mengurus anak-anak, dan kembali memilih menjadi dosen. Pendidikan masternya dilanjutkan kembali ketika aku sudah mandiri, yaitu ketika aku SD.  Menunda apa yang menjadi keinginannya selama 12 tahun, merupakan penantian sabar seorang ibu.  Ibuku dahulu bercita-cita menjadi dokter. Bukan hal yang mudah untuk melepas keinginnya terbentur dengan biaya keluarga.  Alhasil dengan kecerdasannya, ibuku masuk dengan mudah dan tanpa biaya ke Institut Pertanian Bogor (IPB), dan cita-cita dokternya itu, tersimpan lama, dilanjutkan oleh anaknya, yaitu diriku, dengan segenap perbaikan generasi. Orangtuaku dengan darah peluhnya sendiri, mampu membuktikan keberhasilannya dalam mendidik anak-anaknya. Adikku, yang juga hebat, hanya berjarak 1 tahun denganku, dan kini, menempuh pendidikan sarjana Teknik Mesin di Yogyakarta. Sungguh, dari sini tampaklah berkah Allah kepada keluarga kami.

 

Ada suatu kisah…

Kisah Tenzing Norgay, Pemandu Sir Edmund Hillary Penakluk Puncak EVEREST pertama kali:

Begitu turun dari puncak Everest, banyak wartawan mewawancarai Sir Edmund, dan hanya satu wartawan yang bertanya pada pemandunya Tenzing Norgay. Maka, ketika ia ditanya, Tenzing pun menjelaskannya secara gamblang dan menunjukkan sikapnya sebagai seorang pemandu yang rendah hati.

“Sebagai pemandu (Sherpa), mestinya Anda yang lebih dulu menginjakkan kaki di puncak Everest,” tanya wartawan.

Tenzing menjawab; “Betul, sebagai pemandu saya ada di depannya. Tapi, tinggal selangkah lagi mencapai puncak, saya mempersilahkan Edmund untuk mendahului saya.”

Wartawan ini bertanya lagi; “Mengapa hal itu anda lakukan?”

Tenzing menjawab; “Itu impian Sir Edmund, bukan impian saya,” ujarnya merendah.

“Impian saya adalah membantu orang lain untuk mencapai cita-citanya”.

Ya itulah orangtua, bahkan tidak ada keinginan lain selain melihat anaknya mencapai gerbang cita-citanya.

Orangtua hanya mengantarkan.

Maka, ketika kita mencapai puncak Everest itu, janganlah lupa dengan jasa orangtua. Kita tidak tahu betapa sulitnya, betapa terjalnya tebing yang telah mereka hadapi. Lantas kita terbang ke langit ketika telah mencapai puncak? Tidak.

Selalu lihat ke bawah, selalu lihat apakah ada yang membutuhkan. Selalu peduli pada orangtua.

 

Baju Hijau Si Pembaca Pikiran

Urusan chemistry, aku dan Angga Dwian memang ditakdirkan untuk menyatu dan bersatu. Aku, diam. Tapi Angga tahu apa isi hatiku. Hihihi…

Si ganteng satu ini juga sepaket lengkap dengan keluarganya yang sayang denganku. Kedua orangtuanya baru saja mengunjungiku karena aku jatuh dari kecelakaan itu. Padahal sebenarnya aku tidak apa-apa. Hanya retak. Retak jempol. Jempol kanan. Sudah. Cukup kecil tapi aku pikir sangat merugikan karena bahkan mengangkat gayung untuk cebok abis pipis itu susah banget. Buat main piano juga susah. Buat ngetik juga susah. Ternyata jempolku ini banyak manfaatnya.

Aku itu cukup aneh. Diajarkan mandiri dari kecil. Diajarkan untuk tidak mengeluh dari kecil. Tapi terkadang sangat ingin dimanja dan diketahui kabarnya. Tapi karena terbiasa untuk tidak mengeluh, Angga harus pandai menebak apa yang aku inginkan. Susah kan?

Wkwkwkwkwk!!!!! Tapi Angga Dwian SELALU BERHASIL

Selamat.

Bahkan, oleh-oleh yang dibawakan orangtua Angga ke rumahku hari ini sangat tepat: anggur dan jeruk. Buah-buahan idamanku.

Setidaknya anggur tidak membutuhkan jempol untuk dimakan. Cukup seemplok. Nyam. Nyam. Enak.

Kadang kalau aku malas, aku gigit juga bijinya. Cukup renyah!

Terimakasih Angga Dwian. Ketahuilah. Aku sedang memandangi jempolku. Bukan karena tulangnya retak, tetapi karena gatal-gatal dan setelah kulihat ada kutu air di situ.

Aku tahu,, sekarang Angga Dwian sedang menyeterika baju kerjanya besok. Angga meskipun  mukanya galak atau orang lebih sering menyebutnya bermuka “mesum”, Angga adalah anak yang baik di mata orangtuanya dan pasangan yang terbaik yang aku miliki. Angga rajin menyapu rumah dan kamarnya sendiri, melipat baju-bajunya dengan rapi. Pria idaman. Kamarnya wangi.  Dan baju kebangsaannya hijau.

Ini:

IMG_1931

Ini baju hijau, baju kebanggaan Angga Dwian. Digunakan untuk futsal. Matching dengan bolanya.

Baju ini juga digunakan di kesempatan lain dalam hidupnya:

12375581_1096164140393916_1715581378_o

Ini baju hijau, baju kebanggaan Angga Dwian untuk digunakan di kamar.

 

10425025_1418320388463167_6420394799888845351_n

Dan berkencan denganku.

Hahahahahhaa.

Kali ini: Angga Si Baju Hijau akan naik daun.

Bukan kolor ijo lagi. BUKAN. Awas aja ngomongin kolor ijo, berarti Angga Dwian nunjukin kolornya kemana-mana *loh

9-year-anniversary

October 7, 2015 .

Happy 9 yearsversary sayang… . . .

I have never thought that you are in to my life for being my special one. .

Eleven years ago, when we are in junior high school, I remember the handsome boy stood few lines for my position. Not so tall, but I know he was so kind and had a warm heart. .

my stupidity. I sent you a letter, contents my willing to be your friend, and to send greetings for you. .

I thought you scare to me for my letter, but you did not. You liked me, I do not know what it was called. Monkey’s love? But you are not a monkey. .

You said I was beautiful, in my 12 year old, but you had never said it directly to me. You sent it via your friend, but I doubted to respond you, because you also often bullied me as “Mbok Jamu” for my big butt. Hahahaha.. .

Allah send you to me to help me find a true way to be a good moeslmah. . Our life is too short, but thanks Allah, I have known you for 12 years, around a half of my life, now and till the end of my life.. .

Thanks being a patient person for listening me always, understanding me always, and giving love to me everytime… . .

I love you, -Penny-

 

anniv

Serasa Mimpi Perjalanan Kita

angga ultah

 

Selamat ulangtahun ….
Salatiga masih tetap sama, menanti kita selama 12 tahun untuk saling mengenal, dan menyadarkan kita selama 9 tahun untuk saling memahami, bahwa ternyata rasa sayang ini sangatlah besar.
.
Ketika aku harus marah karena hal-hal sepele, ternyata kemarahan itu juga membuatku sakit hati.
Dan sekali lagi, air matalah yang membuat semua emosi itu luruh.
Terimakasih atas kesabaran dalam menghadapiku..
.
Selamat hari jadi yang ke-24 tahun ya sayang,
Doa-doa ku pasti seputar “kapan kita nikah” haha.
.
.
Lokasi: belakang rumah Ursula, makprit langsung sampai.
.
Salatiga memang loveable!!!
#birthday #beloved #fiancee #happy#bestfriend #nature #green #gopro

Ini ditujukan kepada calon anakku nanti.

anakkuuuu

Kira-kira  anakku nanti seperti ini ^^ persis calon bapaknya lahhh..

 

Bukan untuk siapapun.

Kecuali yang tidak sengaja membaca dan mungkin tidak akan mengubah apapun dalam hidupm, pembaca.

Sebab ini hanyalah dilema antara hatiku dan pikiranku bahwa apa yang aku jalani selama ini teryata  hanyalah karena keinginan sesaat. Aku ingin menjadi dokter hanyalah keinginan sesaat. Tetapi namanya penyesalan ternyata tidak bisa semudah itu dipikirkan. Karena setelah memikirkan penyesalan selalu ada penyesalan selanjutnya. Penyesalan “kenapa aku harus menyesal, kan udah dijalani”

Lihatlah, di saat teman-temanku mengenyam gelar S2, aku bahkan baru merentas “AKAN” menjadi dokter. Terlalu lama sekolah, sebenarnya aku pun sudah ingin memanjakan orangtuaku dengan uang-uang yang bisa aku kembalikan kepada mereka. Meksipun ketika mereka sakit, aku tahu obat yang tepat untuk mereka, ketahuilah Anakku, bahwa ketika itu, justru dirimu tidak mampu mengawasi dan merawat diri mereka sendiri karena dirimu bukanlah hanya milikmu. Dirimu adalah untuk pasien-pasienmu, untuk masyarakat luas.

Apa yang orang katakan di luar sana Nak? Ketika dokter mengeluhkan SEDIKIT saja apa yang dirasakan, pasti ada selentingan “Dokter itu mengabdi!”

Ya tapi dokter kan punya keluarga juga, dokter juga bisa sakit, dokter juga bisa merasa sedih. Apa iya harus terus tersenyum terus kepada pasiennya? Jawabannya IYA! Lelah loh tersenyum terus, apalagi ketika diri ini merasa ingin menangis karena lelah atau kesakitan.

Dokter tidak selamanya harus kuat selalu, Nak. Tetapi untukmu Nak ibu akan terus kuat, kuat, dan kuat. Berjuang dan berjuang.  Dan pada akhirnya kamulah sumber kekuatan ibu sehingga ibu tidak akan lelah tersenyum.

Tetapi, alih-alih menjadi dokter, kamu bisa mendapatkan masa depan yang lebih cerah Nak. Menjadi pengusaha, menurut ibu adalah solusi yang bagus. Usaha, asal kamu mau menggeluti, akan berkembang dengan pesat.  Atau politikus. Ubahlah negeri ini Nak. Ngeri ibu melihat pemberitaan dimana-mana, dan itu juga BELUM TENTU BENAR. Pahitnya dunia ini Nak.

Ibu pun, daripada mengambil keuntungan dari menjadi dokter, mengambil bayaran dari orang yg sakit, apalg di tengah maraknya BPJS dan tarif dokter yang konon hanya Rp2000 perpasien, ibu lebih memilih berbisnis BATU MULIA. Hahaha, semoga nanti bisa ibu wariskan bisnis ini padamu.

ibu ceritakan sedikit padamu. Sejak kecil ibu sudah suka berjualan. Pasti jualan ibu laku keras. Mulai dari kertas binder, sticker-sticker kesukaannya anak-anak SD, lalu ibu berjualan “selember kertas” yang kita sebut apa ya, “catatan sekolah” mungkin? Yang isinya PR-PR begitu. Ibu suka menciptakan uang sendiri, daripada harus meminta pada orangtua. SD ibu mendapat beasiswa karena selalu ranking 1, dan SMP ibu di sekolah negeri yang bisa dibilang murah sekali. Kakek dan nenekmu adalah pekerja keras yang bisa dibilang sebenarnya keluarga mampu juga, sehingga ibu sebenarnya bisa berkecukupan.

SMA, ibu di asrama, dan ibu mendapat beasiswa full. Padahal perbulannya jika kita membayar, 1,5 juta nak, dengan uang masuk 15 juta, yang pada jaman ibu SMA, itu sudah terbilang mahal nak. Hahaha. Lucu sekali aku memanggil NAK pada orang yang belum lahir.

Oya, tadi ibu berkata lebih baik menjadi pengusaha eh? Ya memang Nak, pengusaha, bahkan Nabi saja mengajarkan untuk berdagang. Tapi tidak dibenarkan menjadi dokter yang mendagangkan dokternya, sehingga dokter dan pedagang harus memiliki batasan tegas, atau nanti kita malah  “memeras” pasien kita.

Nak, ketika ibu menulis ini, sebenarnya ibu hanya ingin kamu tahu, bahwa menjadi dokter itu tidak mudah. Namun, menjadi dokter adalah profesi yang mulia, jika kita menjalankan dengan hati yang mulia. Ada seorang teman ibu, sahabat ibu malah, yang mungkin belum menyadari rasanya MULIAnya profesi ini, sehingga dia menjalankan dengan setengah hati. Tidak berpkir bahwa nanti selagi bekerja, kita bisa menabung amalan untuk nanti di akhirat. Maka, di dunia ini tak semuanya ditabung dengan UANG. Yang terpenting adalah kehidupan setelah mati ini Nak.

Entahlah. Ibu baru saja mengalami kecelakaan, sesungguhnya ibu hanya retak pada jari kanan ibu, dan luka-luka lecet di wajah. Namun, ibu tidak percaya diri untuk pergi keluar. Alhamdulilah, ternyata salat itu tidak harus wudhu, bsa hanya bertayamum, dan ibu melakukannya: TAYAMUM. Karena luka-luka ini, sejatinya sebagiknya hindari dulu terkena air. Ibu sudah merindukanmu untuk datang ke dunia, Nak. Ibu hanya berpikir, apakah hari-hari akan terasa hampa seperti ini, seperti ibu merindukan kesembuhan. Karena jujur, ibu tidak bisa melakukan apapun pasca terjatuh dari motor 4 hari yang lalu.

Hahahah konyol, ibu berbicara pada sosok “anak” yang belum lahir. Tapi ibu janji akan membacakan ini untukmu kelak. Ibu akan berkata ketika ibu menuliskan ini, ibu berusia 24 tahun, dengan retak jari tangan kanan, muka penuh lecet.

I will miss your born in this world, my child.

 

Image44

hahhahaha aku rasa aku kenapa mesti mencantumkan ini? Karena gadget ibu remuk rusak pecah ketika ibu terjatuh dalam kecelakaan 4 hari lalu. Ibu masih tidak membayangkan, ibu terbanting beberapa meter dari motor dan hape ini juga, tapi alangkah beruntungnya Ibu karena tidak ada kendaraan yang menghantam ibu dari belakang, jika tidak? ibu jadi “manusia penyet”. Nah foto ini hanya pengingat saja, ibu pernah seperti ini HAHAHAHA.

Image50

Ini tanganku Nak. Alih-alih di gips, dasar dokter soktau, akhirnya aku elastic bandage saja. Hehehe…

Oya, ibumu ini sedikit gila, dan sedikit galak. Tapi ibu akan melakukan yang terbaik untukmu Nak. Ibu dulu pernah jauh sekali dari orangtua ibu, namunibu tidak akan jauh darimu Nak. Ibu akan menjagamu. Oya, ibu juga malu, ibu belum bisa mengaji. Ibu ingin belajar mengaji. Ah, sepertinya liburan ini saat yang tepat untuk ibu belajar mengaji supaya tidak malu nanti di hadapanmu.

Oke, doakan ibu ya dari langit sana, supaya ibu segera dianugerahimu, Nak, jiwa yang suci dan murni.