DOCTOR'S SECRET

Young Doctor. Struggling to make others smile

#SECRET 12: ORANGTUA

 

 

Sebagai dokter muda, beberapa hari terakhir fisik begitu lemah, sakit sering menyerang. Jam terbang di Rumah Sakit semakin tinggi, mengindikasikan akan mendapatkan lebih banyak ilmu pengetahuan sekaligus pengalaman kehidupan. kali ini bukan kisah yang luar biasa. Hanya seorang ibu, seumuran ibuku, tergeletak lemah di tempat tidur rumah sakit. Pagi itu pukul 4. Bau kotoran BAB manusia menyerbak di ruangan kelas 3 bangsal penyakit dalam. Ternyata, ibu itu BAB tidak tertahankan dan mengotori tempat tidurnya. Sang suami dengan sabar membersihkannya. Ibu ini berukuran terlalu besar sehingga suami tak kuat mengangkatnya untuk jalan ke toilet. Maklum, sang ibu terkena suatu jepitan di syaraf tulang belakang sehingga kedua kakinya lemah, sangat susah untuk berjalan. Kulihat jari-jari kakinya sudah tidak ada, amputasi karena kencing manis 14 tahun yang lalu. Akhirnya, saya di sisi kiri ibu, suaminya di sisi kanan ibu, kami membawanya ke toilet, mmm, sambil menahan bau pup. Kira-kira proses jalan bolak-balik toilet-tempat tidur membutuhkan waktu setengah jam, padahal hanya berjarak 2 meter. Susahnya ibu ini menggerakkan kakinya.

Ketika pada akhirnya ritual ini selesai, sang ibu menangis haru, “Kamu baik sekali Nak, anak saya aja belum tentu mau melakukan hal ini…”

“Ah ya nggak juga ah Bu…”

“Anak saya itu mbak, sama2 di Semarang, tahu saya mondok opnam saja, jenguk pun nggak…”

Air mata berlinang lebih deras dari pelupuk mata sang ibu.

Hilang sudah bau eek itu, hilang sudah rasa jijikku, tergantikan air mata sang ibu ini. Seringkali, bahkan setiap saat, aku mengingat kedua orangtuaku di rumah, yang bahkan belum tentu kusentuh dan kusapa setiap hari. Ya Tuhan, jagailah orangtuaku selalu. Berikan mereka kesehatan. Maafkan diriku yang tidak bisa setiap hari ada bersama mereka..***

 

Family can be found anywhere and with anyone at the end of the day

 

Pengawasan pasien persetengah jam. Amanah yang diemban dokter muda ketika jaga bangsal. Entah ada berapa puluh pasien.  stase penyakit dalam penuh dengan beragam penyakit dan bermacam pengawasan. Pengawasan pasien berarti kita mengawasi tekanan darah, suhu, denyut nadi per menit, laju pernapasan per menit. Tetapi nun jauh di sana, ternyata keluarga sendiri bahkan tidak terjamah. Ibumu demam. Ayahmu terjatuh di rumah. Adikmu sakit batuk. Bahkan kita, dokter muda, sampai tidak sempat mengikuti kondisi keluarga sendiri, tertutup oleh kewajiban formalitas dunia pendidikan yang mengharuskan jaga rumah sakit. Rasa rindu itu menyeruak, yang beruntungnya didekatkan dengan kemajuan media teknologi. Tetapi lain cerita ketika suatu pagi buta sekitar pukul 3, salah seorang sahabat seperjuangan saya menangis pilu, membuat siapa saja yang melihat keceriaannya selama ini luluh lantak dan heran, kok bisa sih kamu nangis kayak gitu? Yakinlah, ketika itu sahabat saya sedang melakukan pengawasan pasien. Tangannya masih menggenggam tensimeter dengan stetoskop terkalung di lehernya. Di sampingnya terbaring pasien hipertensi emergensi karena gagal ginjal kronik. Hapenya baru saja berbunyi. Mengabarkan kabar duka dari rumahnya nun jauh di sana: ayahnya meninggal.

Bagaimana bisa? Pasien yang dengan telaten diawasi dan dijaga, tapi justru keluarga sendiri, ayahnya sendiri, pergi untuk selama-lamanya? Hidup penuh misteri. Tetapi, dari sini kami belajar apa arti keikhlasan, apa arti pengorbanan,

Pukul 3 dini hari. Masih dengan baju jaga shift malam, masih dengan membawa stetoskop dan alat2 lain, sahabat saya harus berangkat pulang kampung. Kuantarkan sampai terminal, tak kuasa saya ikut menangis melihatnya menangis sepanjang jalan. karena saya harus melanjutkan jaga hari itu, maka dia pulang sendiri, mengikhlaskan kepergian ayahnya untuk selamanya.***

 

Orangtuaku bukanlah seorang dokter, tetapi mereka adalah orangtua yang hebat yang mampu mendidik anak-anaknya menjadi anak yang pintar dan hebat. Ibuku seorang dosen pertanian, sedang menempuh pendidikan menjadi Dokter di Universitas Gadjah Mada. Ayahku seorang pensiunan dari Lembaga Swadaya Masyarakat. Dahulu ayahku menuntut Ilmu Tanah, sehingga beberapa kali setelah pensiun dari LSM, ayahku bekerja di perusahaan pertambangan, tetapi jauh dari rumah, dan itu menyedihkan.

10937337_1402895220005684_45223814_n

Ayahku, adalah orang yang sangat menyayangiku. Setelah beliau benar-benar pensiun dari pertambangannya, beliau banyak menghabiskan waktu di Salatiga, kota asalku, tetapi, jauh dari itu, ayahku sering bermain ke Semarang, hanya sekedar untuk makan bersamaku, atau berbincang ringan, tak lama, hanya 3 jam maksimal.

Jarang bertemu ayah, membuatku menyadari perubahan-perubahan yang ada pada dirinya.

Yang aku lihat..

Guratan wajah tua dr orang yang kusayang..

Guratan kesedihan dr orang yang mengasuhku ketika kecil..

Wajah itu..

Ayahku..

Terimakasih atas didikanmu

Doakan ya ayah..

Agar anakmu ini

Menjadi orang yang berguna

Cerdas dan bermartabat..

Kebahagiaanku

Adalah membuatmu bahagia

Hai ayah..

Terimakasih atas waktumu

Meluangkan waktu untukku

Berkemudi seorang diri

Melintasi jalan di malam hari

Sepulang lelah berkeringat seharian..

Ayah..

Semoga engkau selalu sehat

Selalu bahagia

Dan bangga memilikiku

Anakmu

Dulu, sekarang, dan sampai kapanpun :’)

10369884_1391347431160463_1331160893900351742_n

Orangtuaku adalah orangtua yang hebat. Ibuku, dengan kesabarannya, ketika kehamilan pertamanya yang mana isinya adalah ternyata aku, ibuku sedang menempuh pendidikan master alias S2 di IPB Bogor. Tetapi, kecintaannya kepada anak-anaknya lebih besar daripada keutamaan karirnya. Ibuku meninggalkan S2-nya, lalu mengurus anak-anak, dan kembali memilih menjadi dosen. Pendidikan masternya dilanjutkan kembali ketika aku sudah mandiri, yaitu ketika aku SD.  Menunda apa yang menjadi keinginannya selama 12 tahun, merupakan penantian sabar seorang ibu.  Ibuku dahulu bercita-cita menjadi dokter. Bukan hal yang mudah untuk melepas keinginnya terbentur dengan biaya keluarga.  Alhasil dengan kecerdasannya, ibuku masuk dengan mudah dan tanpa biaya ke Institut Pertanian Bogor (IPB), dan cita-cita dokternya itu, tersimpan lama, dilanjutkan oleh anaknya, yaitu diriku, dengan segenap perbaikan generasi. Orangtuaku dengan darah peluhnya sendiri, mampu membuktikan keberhasilannya dalam mendidik anak-anaknya. Adikku, yang juga hebat, hanya berjarak 1 tahun denganku, dan kini, menempuh pendidikan sarjana Teknik Mesin di Yogyakarta. Sungguh, dari sini tampaklah berkah Allah kepada keluarga kami.

 

Ada suatu kisah…

Kisah Tenzing Norgay, Pemandu Sir Edmund Hillary Penakluk Puncak EVEREST pertama kali:

Begitu turun dari puncak Everest, banyak wartawan mewawancarai Sir Edmund, dan hanya satu wartawan yang bertanya pada pemandunya Tenzing Norgay. Maka, ketika ia ditanya, Tenzing pun menjelaskannya secara gamblang dan menunjukkan sikapnya sebagai seorang pemandu yang rendah hati.

“Sebagai pemandu (Sherpa), mestinya Anda yang lebih dulu menginjakkan kaki di puncak Everest,” tanya wartawan.

Tenzing menjawab; “Betul, sebagai pemandu saya ada di depannya. Tapi, tinggal selangkah lagi mencapai puncak, saya mempersilahkan Edmund untuk mendahului saya.”

Wartawan ini bertanya lagi; “Mengapa hal itu anda lakukan?”

Tenzing menjawab; “Itu impian Sir Edmund, bukan impian saya,” ujarnya merendah.

“Impian saya adalah membantu orang lain untuk mencapai cita-citanya”.

Ya itulah orangtua, bahkan tidak ada keinginan lain selain melihat anaknya mencapai gerbang cita-citanya.

Orangtua hanya mengantarkan.

Maka, ketika kita mencapai puncak Everest itu, janganlah lupa dengan jasa orangtua. Kita tidak tahu betapa sulitnya, betapa terjalnya tebing yang telah mereka hadapi. Lantas kita terbang ke langit ketika telah mencapai puncak? Tidak.

Selalu lihat ke bawah, selalu lihat apakah ada yang membutuhkan. Selalu peduli pada orangtua.

 

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

what is 8 plus 6?