DOCTOR'S SECRET

Young Doctor. Struggling to make others smile

Archive for December 14th, 2015

Lebaran KEDUAKU

lebarannn

Memori dan emosi dalam foto masih terasa, aku merasakan rasanya sungkeman, bersilahturahmi, memberi dan saling berbagi, didoakan dan mendoakan, memohon maaf dan memaafkan.. Semua terasa baru bagiku.
Bahkan aku harus menghapalkan dulu teks omongan yang kira-kira berbunyi begini “Pak/Bu/yang/pakdhe/budhe, kulo ngaturaken sugeng riyadi, sedoyo kalepatan kulo, kulo nyuwun pangapuro. Kulo nggih nyuwun donga pangestunipun nggih…”

Eaaaaa.. seketika diberikan wejangan balik dalam bahasa jawa alus juga. Ya tinggal disauri “nggih nggih” .. “matursuwun”

Maklum peranakan sunda-cina sm jawa jd di rumah pake bahasa inggris buahaha. Ora ora. Pake bahasa indonesia
Lebaran pertama, karena seisi rumah sakit tempat aku Koas masih menganggap aku Non-Muslim, alhasil, aku malah berjaga di hari raya. Iya, betul, mana ada rumah sakit yang libur di hari raya bukan?

Lebaran pertama emang agak kelam dan suram. Namun, di lebaran kedua ini, selain aku mendapatkan berkah bisa merayakan di kota asalku (karena calon suamiku berasal dari kota yang sama dengan diriku), aku juga pada akhirnya merasakan bahwa dekat dengan keluarga sendiri itu nikmat.

Meskipun mama dan papaku tidak merayakan Idul Fitri sepertiku. Meskipun mereka tidak mengucapkan sepatahkatapun yang berbau selamat hari raya untukku, bagiku diamnya mereka sudah cukup mengiyakan keputusanku ini.

Susah?

Ya susah. Mualaf kok.

Hehehe bahkan aku sudah biasa jika salat ied harus bersalaman dengan orang yang tidak aku kenal, salat ied berangkat sendiri, salat tarawih juga berangkat sendirian.

Yang penting kan dalamnya hati.

Dalamnya hatiku hanya Allah yang tahu.

lebaran

Lebaran keduaku kaliĀ ini alhamdulilah seru.. semoga kita bertemu lg di idul fitri selanjutnya dalam keadaan yg lebih baik, hati yg lebih baik..

Terimakasih Allah…

Kisah ini aku angkat dari salah seorang temanku yang memposting cerita ini dari salah seorang teman lainnya yang jg memposting ini…

Tapi kisah ini bukanlah suatu pembenaran apakah aku merasa diistimewakan sebagai wanita yang nantinya akan dipilih menjadi ISTERI. Justru, ketika seorang pria sudah memilih dan merasa bertanggungjawab atas diri kita (hei ladies!) disitulah tanggungjawab kita sangat besar ditopang didalamnya.

Isteri adalah hanyalah salah satu peran seorang wanita ketika dilahirkan di dunia. Namun sebagai isteri, tanggungjawab kita sangat besar, terutama untuk membagi waktu dan tenaga, dan tak luput: kasih sayang. Isteri –> berarti wanita sedang berkaca dari sisi suami.

Namun, karena tadi aku bilang bahwa ISTERI hanyalah salah satu peran wanita, maka tanggung jawab kita tak hanya sebagai isteri. Sebagai ibu, sebagai nenek, sebagai anak juga (dari kacamata orangtua).

Oke, begini kisahnya…

gaya pelaminan 1

SEBENARNYA SIAPAKAH ISTERI?

Orang selalu berkata, “ada bekas istri/suami, tapi tidak ada bekas anak atau bekas orangtua”.
Seorang Profesor melakukan riset kecil kepada mahasiswa2nya yang sudah berkeluarga. Dia lalu meminta 1 orang mahasiswa untuk maju ke depan papan tulis.


Professor : “Tuliskan 10 nama orang yang paling dekat denganmu.”

Lalu mahasiswa itu menulis 10 nama, ada nama tetangga, orgtua, teman kerja, istri, anaknya, saudara, dst.
Profesor : “Sekarang silahkan pilih 7 orang diantara 10 nama tsb yang kamu benar2 ingin hidup terus bersamanya.”

Mahasiswa itu lalu mencoret 3 nama.
Profesor : “Silahkan coret 2 nama lagi.”

Tinggalah 5 nama tersisa.
Profesor : “Coret lagi 2 nama.”

Tersisalah 3 nama yaitu nama ibu, istri & anak.
Suasana kelas jadi hening. Mereka mengira semuanya sudah selesai & tak ada lagi yang harus dipilih.
Tiba2 Profesor itu berkata : “Silahkan coret 1 nama lagi!”

Mahasiswa itu tertegun untuk sementara waktu. Lalu ia dengan perlahan mengambil pilihan yang amat sulit itu dan mencoret nama ibunya.
Profesor : “Silahkan coret 1 nama lagi!”

Hati sang mahasiswa makin bingung. Suasana kelas makin tegang. Mereka semua juga berpikir keras mencari pilihan yg terbaik. Mahasiswa itu kemudian mengangkat spidolnya & dengan sangat lambat ia mencoret nama anaknya. Pada saat itulah sang mahasiswa tidak kuat lagi membendung air matanya, ia menangis. Awan kesedihan meliputi seluruh sudut ruang kuliah. Setelah suasana lebih tenang, Sang Professor akhirnya bertanya kepada mahasiswa itu, “Kamu tidak memilih orang tua yang membesarkanmu, tidak juga memilih anak yang adalah darah dagingmu; kenapa kamu memilih istrimu? Toh istri bisa dicari lagi kan?”

Semua orang di dalam ruang kuliah terpana menunggu jawaban dari mulut mahasiswa itu. Lalu mahasiswa itu berkata lirih, “Seiring waktu berlalu, orang tua saya harus pergi & meninggalkan saya. Demikian juga anak saya. Jika dia sudah dewasa lalu menikah. Artinya dia pasti meninggalkan saya juga. Akhirnya orang yang benar2 bisa menemani saya dalam hidup ini, bahkan yang dengan sabar dan setia mendampingi dan mensupport saya saat tertatih dan terseok2 berjalan menghadapi himpitan kehidupan untuk meraih karir hanyalah ISTRI saya”.

Setelah nenarik nafas panjang dia melanjutkan, “Orangtua & anak bukanlah saya yang memilih, tapi Tuhan yang menganugerahkan. Sedangkan isteri? Saya sendirilah yang memilihnya dari sekian milyar wanita yang ada di dunia”.

 

Ursula Penny Putrikrislia

IG: @ursulapenny