DOCTOR'S SECRET

Young Doctor. Struggling to make others smile

Category : doctopreneur (dokter+pengusaha!)

Berdasarkan jurnal internasional, gerakan salat berpengaruh dalam mengatasi disfungsi ereksi. Disfungsi ereksi merupakan kondisi medis yang didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk memulai atau mempertahankan ereksi untuk kegiatan sanggama dan secara umum diklasifikasikan sebagai disfungsi ereksi psikogenik, organik, ataupun campuran psikogenik dan organik. Psikogenik adalah penyebab yang berkaitan dengan pikiran atau psikis, organik adalah penyebab yang berkaitan dengan anatomis atau fisiologis tubuh.

Banyak cara untuk menterapi disfungsi ereksi yaitu meliputi konseling psikoseksual, terapi dengan inhibitor PDE-5, medikasi oral, alat vacuum, terapi injeksi intrakavernosus (menyuntik penis), operasi vaskuler, dan penggunaan implan prostetik penis (memasang penis palsu). Pengobatan yang paling sering adalah meminum obat yang mengandung inhibitor PDE5, yang merupakan terapi awal untuk kebanyakan pasien dengan disfungsi ereksi. Terapi lain yang ipilih adalah senam otot dasar panggul, yang memang secara statistik memberikan efek yang menguntungkan untuk kasus disfungsi ereksi.

Pada penelitian ini, terdapat 10 sampel yang terdiri dari  7 orang Muslim dan 3 orang non-Muslim. Untuk 7 orang Muslim, mereka melakukan gerakan salat lebih banyak daripada salat wajib sehari-hari, dan dilakukan dengan gerakan yang perlahan (sesuai dengan anjuran Rasul, gerakan salat dilakukan dengan perlahan, tidak terburu-buru) sebanyak 12 putaran (12 rakaat) sehingga satu kali terapi membutuhkan waktu 30 – 36 menit, sedangkan 3 orang non Muslim memperagakan gerakan salat ini bukan untuk kepentingan ibadah, tetapi untuk kepentingan pengetahuan, yaitu “meniru” gerakan salat sebanyak 12 putaran selama 30 – 36 menit juga. Sepintas tampak sama antara grup 7 orang Muslim dengan 3 orang non-Muslim, namun, grup Muslim melakukan gerakan tersebut dengan pelafalan bacaan bahasa Arab, sedangkan grup non-Muslim tidak.

Selama 4 bulan penelitian, maka dilakukan pengukuran volume penis dengan menggunakan skor NEVA dan klasifikasi IEC. Terdapat peningkatan volume sebesar 2 kali lipat ukuran sebelumnya (222%), dengan nilai kemaknaan secara statistik p<0,05 (hasil bermakna), serta memperlama durasi kontraksi otot pada penis, dan ketika dibandingkan dengan senam otot dasar panggul (senam Kegel), gerakan salat memberikan hasil yang setara baiknya.

Hal ini terkait dengan kelancaran aliran darah yang meningkat dengan dilakukannya salat. Salat yang dianjurkan Rasul yaitu gerakan salat yang dilakukan dengan tidak terburu-buru, dan dengan memaksimalkan rakaat salat yaitu sebanyak 12 rakaat, terbukti melalui penelitian ini.

Masih mau meninggalkan salat? Efek kesehatan salat lainnya akan dibahas pada artikel selanjutnya. Yang jelas, Allah mewajibkan kita melakukan sesuatu padahal itu adalah untuk kebaikan kita juga. Syukron.

 

Sumber:

Ibrahim F, Sian Tee, Shanggar Kuppusamy, et al. Muslim Prayer Movements as an Alternative Therapy in the Treatment of Erectile Dysfunction: A Preliminary Study. Dari Journal Physical Therapy Scinence Sep 2013; 25 (9): 1087-1091.  Diakses [7 Des 2015] dari http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3818777/

 

gerakan salat

images

 

Semua orang mengidamkan keluarga yang sehat dan bahagia, juga pendidikan bermutu bagi anak- anak. Selain itu, setiap orang berharap mampu menyediakan sandang dan pangan berkecukupan serta memiliki rumah idaman, hidup dalam sebuah negeri bernama Indonesia yang demokratis, di mana kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan mengatur kehidupan, dijamin oleh undang-undang. Wanita adalah bagian dari target dunia dalam menyelesaikan berbagai masalah yang terangkum dalam Millenium Development Goals (MDGs) 2015. World Health Organization mendapatkan bagian dalam menyongsong keberhasilan MDGs tersebut, salah satunya adalah target kelima yang berbunyi: “Meningkatkan Kesehatan Ibu”. Goal kelima ini tak hanya terdiri dari tiga kata, tetapi memiliki sub tujuan yaitu Target 5A: Menurunkan Angka Kematian Ibu sebesar tiga-per-empatnya antara 1990 dan 2015 dan Target 5B: Mencapai dan menyediakan akses kesehatan reproduksi untuk semua pada 2015, dalam hal ini adalah cakupan penggunaan alat kontrasepsi KB pada wanita usia subur yaitu 15 – 49 tahun. Masih banyak wanita yang merasa bahwa dirinya baik-baik saja. Dengan menganggap enteng kondisi yang ada dalam diri sebagai wanita, maka masalah akan sulit diatasi karena belum ada kesadaran pribadi dari masing-masing. Wanita adalah mahluk ciptaan Tuhan yang memiliki kodrat sebagai anak, remaja perempuan, wanita dewasa, ibu, dan nenek. Sudah selayaknya pada setiap fase tahap kehidupan tersebut, wanita memiliki kesadaran terhadap setiap bahaya yang mengancam. Ketika fase remaja, banyak remaja perempuan yang mengalami anemia, atau terlibat pergaulan bebas, tanpa pembekalan seksual yang cukup. Ketika akhirnya remaja beralih ke dalam fase ibu, dengan mengantongi anemia, tentu hal ini akan meningkatkan risiko satu orang ibu untuk mengalami perdarahan, persalinan tak maju, dan kurangnya asupan gizi untuk janinya. Itulah mengapa wanita menjadi target yang dikhususkan oleh dunia, karena wanita adalah ujung tombak berkembangnya suatu bangsa. Ibu yang hebat akan menghasilkan anak-anak yang hebat. Anak-anak adalah pemegang kendali generasi bangsa selanjutnya. Angka kematian ibu (AKI) masih sangat tinggi di Indonesia. Setiap tahun, sekitar 20000 ibu Indonesia meninggal akibat komplikasi kehamilan atau persalinan. Setiap 259 ibu meninggal dunia setiap 100.000 kelahiran hidup. Angka ini tentunya “menang” sepuluh kali lipat dari AKI di Malaysia (19/100000) dan Sri Lanka (24/100000). Pada tahun 2015 ini, pemerintah mentargetkan untuk menurunkan AKI menjadi 102 per 100000 kelahiran hidup. Melahirkan seharusnya menjadi peristiwa bahagia tetapi seringkali berubah menjadi tragedi. Berdasarkan data tahun 2015, penyebab utama kematian ibu adalah preeklampsia-eklampsia dan perdarahan. Sebenarnya, hampir semua kematian tersebut dapat dicegah. Karena itu tujuan kelima MDGs difokuskan pada kesehatan ibu, untuk mengurangi “kematian ibu”. Meski semua sepakat bahwa angka kematian ibu terlalu tinggi, seringkali muncul keraguan tentang angka yang tepat. Kita seharusnya dapat memastikan ketika seorang ibu meninggal dunia Namun bisa ada keraguan tentang penyebabnya. Kita tidak mungkin hanya mengacu pada informasi dalam laporan kematian yang bisa saja disebabkan oleh berbagai alasan, terkait ataupun tidak terkait dengan persalinan. Metode yang biasa digunakan adalah dengan bertanya pada para perempuan apakah ada saudara perempuan mereka yang meninggal sewaktu persalinan. “Tingkat kematian ibu” telah turun dari 390 menjadi sekitar 307 per 100.000 kelahiran. Artinya, seorang perempuan yang memutuskan untuk mempunyai empat anak memiliki kemungkinan meninggal akibat kehamilannya sebesar 1,2%. Angka tersebut bisa jauh lebih tinggi, terutama di daerah-daerah yang lebih miskin dan terpencil. Satu survei di Ciamis, Jawa Barat, misalnya, menunjukkan bahwa rasio tersebut adalah 56117. Dunia terus berputar, waktu silih berganti. Kini seiring bertambahnya kemajuan dalam bidang kesehatan, perdarahan yang dulunya adalah penyebab utama kematian pada ibu, kini bergeser oleh kehadiran preeklampsia-eklampsia. Seperti halnya Raden Ajeng Kartini yang mengalami perdarahan pada saat melahirkan bayinya, namun kini kehilangan banyak darah dapat melalui proses transfusi yang aman, dengan uji golongan darah dan Rhesus sebelumnya, peralatan yang steril, dan medikamentosa yang memadai, perdarahan kini bukan menjadi masalah utama. Pernah dengar kejang pada saat kehamilan? Itulah eklampsia. Preeklampsia merupakan suatu kondisi yang mendahului eklampsia. Eklampsia merupakan masalah yang serius pada masa kehamilan akhir yang ditandai dengan kejang dan penurunan kesadaran.

Penyebab eklampsia masih belum diketahui. Preeklampsia-eklampsia diduga ditimbulkan oleh keracunan janin sehingga disebut pula dengan “keracunan kehamilan” atau “toksikemia gravidarum”. Penting bagi para wanita untuk “menghapalkan” dan mengenali durasi menstruasi dan tanggal menstruasinya. Untuk apa? Untuk mengetahui Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT) sehingga dapat dihitung dengan pasti usia kehamilannya. Keracunan kehamilan ini dapat terjadi ketika usia kehamilan memasuki 20 minggu. Dengan mengingat HPHT, maka para ibu hamil dapat lebih mawas diri ketika memasuki usia kehamilan 20 minggu. Preeklamsia dapat dikenali dengan kenaikan tekanan darah di atas 140 mmHg untuk sistole atau 90 mmHg untuk diastole, dan pengecekan air seni mengandung proein sebesear minimal 300 mg per 24 jam atau uji dipstik +1. Namun, ibu hamil harus waspada jika ada berbagai keluhan seperti sakit kepala yang berkepanjangan, ulu hati terasa nyeri, kaki bengkak, mual muntah pada usia kehamilan memasuki 20 minggu, serta pandangan kabur. Mual dan muntah pada awal kehamilan (trimester pertama) bukanlah gejala preeklamsia, melainkan diakibatkan oleh peningkatan kadar hormon estrogen pada ibu hamil. Beberapa jurnal menyatakan penyebab dari keracunan kehamilan ini adalah karena struktur dan jenis plasenta yang menempel pada dinding rahim. Pada ibu hamil, pembuluh darah rahim dan plasenta akan saling berhubungan untuk memenuhi kebutuhan janin. Namun, ada suatu kelainan sehingga pembuluh darah rahim ibu tidak berubah secara sempurna untuk menyesuaikan dengan plasenta sehingga hal ini akan menyebabkan komplikasi tak hanya untuk ibu tetapi juga untuk bayinya. Akar dari permasalahan ini masih belum banyak diketahui, diduga disebabkan oleh kelainan genetik, atau kelainan sistem kekebalan ibu. Maka, dikatakan kehamilan pertama akan lebih berisiko untuk terjadinya preeklamsia-eklamsia mengingat genetik dan kekebalan ibu terhadap janinnya masih pertama kali terbentu. Karena faktor genetik tersebut, maka ada pula yang , bahwa sperma tertentu akan menyebabkkan preeklampsia-eklampsia dan kehamilan pertama akan berpotensi lebih besar karena kekebalan tubuh ibu belum terbentuk terhadap sperma tersebut.

“The dangerous man” adalah julukan untuk pria yang “menyumbangkan” spermanya sehingga menyebabkan terjadinya “keracunan kehamilan” tersebut. Hal ini perlu menjadi sorotan, terutama karena persepsi bahwa preeklamsia-eklamsia ini hanya menyerang kehamilan pertama. Perlu ditegaskan bahwa bukan berarti kehamilan kedua dan ketiga tidak berpotensi untuk menimbulkan hal ini, tetapi karena mengingat faktor genetik tadi, maka semisal ada contoh seorang wanita dengan kehamilan ketiga tetapi dengan suami kedua (berbeda laki-laki) juga berpotensi preeklamsia-eklamsia sama besarnya seperti kehamilan pertama, karena faktor genetik sperma “baru” tersebut belum memiliki “kekebalan” tersendiri pada tubuh wanita itu. Gejala preeklamsia tadi mungkin sepintas adalah gejala yang sepele. Namun memang benar apabila seorang wanita hamil itu perlu diperhatikan dengan “lebih”, mengingat setiap keluhan bisa menjadi suatu tanda dari tersembunyinya suatu penyakit. Misalnya seorang ibu mengeluhkan “Kok pandanganku kabur”, bisa jadi ini adalah suatu awal mula dari eklamsia. Jika gejala preeklamsia ini diremehkan, maka ibu hamil akan memiliki risiko yang besar untuk mengalami eklamsia, di mana akan terjadi perdarahan di otak, gagal ginjal yang akut, pembengkakan pada paru, dan sebagainya yang akan meracuni aliran darah sang ibu, dan merusak organ-organ penting dalam tubuh, selain juga membahayakan janinnya. Ketika seorang ibu hamil sudah mengalami kejang lalu diikuti penurunan kesadaran, hal itu sudah jatuh ke dalam kondisi eklamsia sehingga kehamilan harus diakhiri, tanpa memandang usia kehamilan sudah aterm atau belum. Jika kondisi ibu masih baik, meskipun diagnosis preeklamsia sudah tegak, namun ibu dapat menjalani terapi rawat jalan dengan tetap harus kontrol rutin, setidaknya untuk mengetahui tekanan darahnya setiap minggu, dan kehamlan juga masih bisa dipertahankan. Itulah pentingnya menjalani suatu Pelayanan Antenatal, setidaknya selama 9 bulan kehamilan, ibu hamil memeriksakan dirinya 4 kali untuk mengetahui risiko tinggi yang ada pada dirinya sehingga penanganan dapat lebih dini dilakukan. Nah, hal-hal seperti inilah yang perlu ditanamkan kepada para ibu, wanita, gadis, remaja.

Kesadaran untuk mawas diri karena setiap kehamilan itu berisiko, tergantung risikonya: tinggi atau rendah, sehingga penanganannya lebih tepat dan cepat. Poin penting lainnya, ketika ibu telah melahirkan, dengan riwayat preeklamsia, maka kondisi pasca melahirkan itu bukan serta merta akan melepaskan diagnosis preeklamsia-eklamsianya tersebut. Ibu pasca melahirkan dengan preeklamsia-eklamsia tetap harus dipantau dengan ketat, karena kenaikan tekanan darah dan proteinuria tersebut dapat tetap memicu kejang selama maksimal 40 hari setelah melahirkan (masa nifas selesai). Selain preeklamsia-eklamsia, penyebab kematian ibu lainnya adalah perdarahan saat kehamilan dan persalinan. Perdarahan tidak melulu terjadi ketika melahirkan, tetapi dapat terjadi pada masa kehamilan, terutama apabila ibu masih memaksakan diri untuk bekerja dan beraktivitas, atau jika asupan gizi tidak diperhatikan. Maka, sekali lagi penting untuk mengetahui HPHT sehingga ketika terjadi perdarahan, dapat dirunut dengan detail penyebabnya. Perdarahan pada kehamilan kurang dari 20 minggu dapat didiagnosis dengan abortus, mola hidatidosa, atau kehamilan ektopik terganggu. Perdarahan pada kehamilan 20 – 28 minggu dapat disebabkan oleh kelainan letak penempelan plasenta yang disebut plasenta previa maupun solusio plasenta. Perdarahan pasca persalinan yaitu diakibatkan oleh adanya sobekan jalan lahir, atau adanya kontraksi rahim yang kurang adekuat, atau adanya suatu sisa plasenta yang tertinggal, atau karena ada kelainan pembekuan darah pada ibu hamil. Rumit bukan? Sederhananya, dari berbagai kemungkinan perdarahan di atas, hal sederhana yang mampu dilakukan oleh ibu hamil adalah memeriksakan kehamilannya: minimal satu kali pada trimester pertama, minimal satu kali pada trimester kedua, dan minimal dua kali pada trimester ketiga, sehingga berbagai kerumitan perdarahan itu dapat dipangkas dari awal dan dikenali oleh tim kesehatan sehingga persalinan yang layak dapat direncanakan sesuai kondisi ibu dan janin. Hal mendasar lainnya adalah menanamkan kesadaran pada ibu bahwa ketika hamil ibu sedang memberi makan pada dua orang: dirinya dan bayi dalam kandungannya. Dan berbagai mitos di Indonesia yang masih kental mengenai menyusui juga perlu diluruskan. Mitos di setiap daerah berbeda-beda. Semisal, di daerah Jepara, masih banyak mitos yang mempercayai bahwa ibu setelah melahirkan tidak boleh makan selain “mutih”, yang artinya, ketika menyusui, ibu hanya diperbolehkan minum air putih dan makan nasi putih. Lantas gizi ibu dari mana? Gizi anak dari mana? Tak jarang ibu dilanda anemia, namun karena tidak terlalu mengganggu keseharian, maka anemia ini jarang dikeluhkan. Padahal, anemia ini berpotensi untuk melemahkan kontraksi rahim. Apa akibatnya jika kontraksi rahim lemah? Ketika persalinan, persalinan dapat berjalan lebih lama karena kontraksi yang kurang kuat, atau setelah persalinan, terjadi perdarahan post partum karena kontraksi yang kurang kuat tidak bisa menahan pembuluh darah di rahim untuk berhenti. Bagaikan lingkaran setan, anemia akan menyebabkan kontraksi rahim melemah sehingga berujung pada perdarahan, dan perdarahan tentunya akan membuang banyak darah dan menyebabkan anemia. Pada pelayanan antenatal, ibu akan rutin dibagikan obat tablet yang mengandung zat besi. Hal ini bertujuan untuk mencegah adanya anemia. Anemia memang sederhana, tetapi dampaknya luar biasa, termasuk perdarahan pasca persalinan yang dapat berujung kematian. Selain itu, anemia juga dapat dicegah dengan makan makanan yang bergizi.

Perlu diingat, mengkonsumi tablet besi tidak boleh bersamaan dengan meminum air teh. Zat polifenol pada teh akan berikatan dengan besi sehingga besi akan terbuang sebelum sempat diserap oleh tubuh. Selain itu, pada pemeriksaan antenatal, ibu hamil mampu dengan leluasa mengutarakan keluhannya kepada dokter atau bidan terkait sehingga keluhan penyakit sekecil apapun dapat diatas dengan dini. Kalaupun membutuhkan obat untuk mengatasi penyakit tertentu, semisal batuk dan pilek ketika hamil, atau mual muntah ketika hamil, maka setidaknya diperlukan suatu upaya oleh dokter dalam memilih dan memilah obat-obatan tertentu yang aman untuk ibu hamil. “Karena wanita ingin dimengerti.” Rupanya kalimat tersebut memang benar adanya dan mengandung makna yang dalam. Dalam membicarakan hal-hal seperti ini tidak bisa lepas dari peran berbagai lingkup. Lingkup yang paling kecil: keluarga inti. Suami harus sadar, meskipun yang membesar adalah perut istrinya, tetapi hal itu tidak lepas dari “urun sperma” sang suami, dan tidak sekedar urun sperma, tetapi suami juga sebisa mungkin tetap mendampingi istri, tetap memberikan dukungan moral dan perhatian. Miris ketika di fasilitas pelayanan kesehatan, masalah ibu melahirkan masih banyak yang terbentur biaya. Boleh jadi strata pendidikan tidak tinggi, kondisi sosial ekonomi tidaklah baik, tetapi setidaknya untuk urusan menyisihkan uang untuk persalinan bisa dipersiapkan. Katakanlah menyisihkan 10ribu setiap hari selama 9 bulan, bisa dihitung berapa nominalnya? Atau mengurus berkas administrasi untuk mengikuti Jaminan Kesehatan Nasional sehingga hanya dengan iuran sebesar 30ribu-60ribu setiap bulan, ibu hamil mampu bersalin dibantu tenaga ahli dengan gratis. Banyak cara, dan sebagai masyarakat, dan sebagai manusia berakal, mencari tahu adalah siasat untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Sejumlah komplikasi sewaktu melahirkan bisa dicegah, misalnya komplikasi akibat aborsi yang tidak aman. Komplikasi seperti ini menyumbang 6% dari angka kematian. Sebagian besar sebenarnya bisa dicegah kalau saja perempuan memiliki akses terhadap kontrasepsi yang efektif. Saat ini hanya sekitar separuh perempuan usia 15 hingga 24 yang menggunakan metode kontrasepsi modern. Metode yang paling umum dipakai adalah suntik, diikuti oleh pil. Proporsi perempuan (usia 15-49) yang menggunakan alat kontrasepsi mengalami peningkatan dan prosentasenya pada tahun 2006 adalah 61% (SDKI, 2007). Berbagai potensi masalah lainnya bisa dicegah apabila para ibu memperoleh perawatan yang tepat sewaktu persalinan. Apakah kita kekurangan bidan desa? Sebenarnya, pemerintah pusat telah melatih banyak bidan, dan mengirim mereka ke seluruh penjuru Indonesia. Namun, sepertinya, pemerintah daerah tidak menganggap hal tersebut sebagai prioritas, dan tidak memperkerjakan para bidan setelah berakhirnya kontrak mereka dengan Departemen Kesehatan. Selain itu, ada masalah terkait kualitas.

Para bidan desa mungkin tidak mendapatkan pelatihan yang cukup atau mungkin kekurangan peralatan. Jika mereka bekerja di komunitas-komunitas kecil, mereka mungkin tidak menghadapi banyak persalinan, sehingga tidak mendapat pengalaman yang cukup. Namun salah satu dari masalah utamanya adalah jika disuruh memilih, banyak keluarga yang memilih tenaga persalinan tradisional. Mengapa banyak keluarga lebih memilih tenaga tradisional? Karena berbagai alasan. Salah satunya, biasanya lebih murah dan dapat dibayar dengan beras atau barang-barang lain. Keluarga juga lebih nyaman dengan seseorang yang mereka kenal dan percaya. Mereka yakin bahwa tenaga persalinan tradisional akan lebih mudah ditemukan dan beranggapan bahwa mereka bisa lebih memberikan perawatan pribadi. Dalam kasus-kasus persalinan normal, ini mungkin benar. Namun jika ada komplikasi, tenaga persalinan tradisional mungkin tidak akan dapat mengatasi dan mungkin akan segan untuk meminta bantuan bidan desa. Hal ini dapat mengakibatkan penundaan yang membahayakan jiwa karena tidak secepatnya memperoleh perawatan kebidanan darurat di pusat kesehatan atau rumah sakit. Keterlambatan dapat juga terjadi karena kesulitan dan biaya transportasi, khususnya di daerah-daerah yang lebih terpencil. Kenyataannya, perempuan mana pun dapat mengalami komplikasi kehamilan, kaya maupun miskin, di perkotaan atau di perdesaan, tidak peduli apakah sehat atau cukup gizi. Ini artinya kita harus memperlakukan setiap persalinan sebagai satu potensi keadaan darurat yang mungkin memerlukan perhatian di sebuah pusat kesehatan atau rumah sakit, untuk penanganan cepat. Pengalaman internasional menunjukkan bahwa sekitar separuh dari kematian ibu dapat dicegah oleh bidan terampil, sementara separuhnya lainnya tidak dapat diselamatkan akibat tidak adanya perawatan yang tepat dengan fasilitas medis memadai. Perlu diingat, terdapat empat pilar Safe Motherhood yang terdiri atas kontrasepsi, pelayanan antenatal, persalinan yang bersih dan aman, serta pelayanan obstetri esensial. Sekitar 60% persalinan di Indonesia berlangsung di rumah. Dalam kasus seperti ini, para ibu memerlukan bantuan seorang ”tenaga persalinan terlatih”. Untungnya banyak perempuan yang mendapatkan bantuan tersebut. Pada tahun 2007 proporsi persalinan yang dibantu oleh tenaga persalinan terlatih, baik staf rumah sakit, pusat kesehatan ataupun bidan desa, telah mencapai 73%. Sekali lagi angka ini sangat bervariasi di seluruh Indonesia, mulai dari 39% di Gorontalo hingga 98% di Jakarta.

Penting untuk menumbuhkan kesadaran pribadi di hati masing-masing manusia. Peran serta masyarakat secara aktif agresif sangat baik. Menghidupkan kader-kader kesehatan di lingkup masyarakat untuk menyebarluaskan pengetahuan memang penting. Yang dihadapi adalah bukan masalah satu atau dua lingkup desa, tetapi lingkup internasional, di mana laporan tiap daerah akan dikumpulkan menjadi satu dalam satu negara, laporan tiap negara akan disetorkan dalam wahana internasional untuk dikaji apakah dunia berhasil menurunkan Angka Kematian Ibu. Mulailah hal yang kecil untuk mendapatkan hal yang besar. Ini bukan untuk kepentingan pribadi tetapi untuk kepentingan bersama. Jika masih sulit untuk menerapkan bahwa diri sendiri memang wajib turut serta mensukseskan hal ini, cukup berpikiran sederhana bahwa semua orang mengidamkan keluarga yang sehat dan bahagia. Bagaimana dengan Anda? Artikel obsgyn: Perdarahan dan Kejang pada Kehamilan – Penyebab Utama Kematian Ibu Semua orang mengidamkan keluarga yang sehat dan bahagia, juga pendidikan bermutu bagi anak- anak. Selain itu, setiap orang berharap mampu menyediakan sandang dan pangan berkecukupan serta memiliki rumah idaman, hidup dalam sebuah negeri bernama Indonesia yang demokratis, di mana kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan mengatur kehidupan, dijamin oleh undang-undang. Wanita adalah bagian dari target dunia dalam menyelesaikan berbagai masalah yang terangkum dalam Millenium Development Goals (MDGs) 2015. World Health Organization mendapatkan bagian dalam menyongsong keberhasilan MDGs tersebut, salah satunya adalah target kelima yang berbunyi: “Meningkatkan Kesehatan Ibu”. Goal kelima ini tak hanya terdiri dari tiga kata, tetapi memiliki sub tujuan yaitu Target 5A: Menurunkan Angka Kematian Ibu sebesar tiga-per-empatnya antara 1990 dan 2015 dan Target 5B: Mencapai dan menyediakan akses kesehatan reproduksi untuk semua pada 2015, dalam hal ini adalah cakupan penggunaan alat kontrasepsi KB pada wanita usia subur yaitu 15 – 49 tahun. Masih banyak wanita yang merasa bahwa dirinya baik-baik saja. Dengan menganggap enteng kondisi yang ada dalam diri sebagai wanita, maka masalah akan sulit diatasi karena belum ada kesadaran pribadi dari masing-masing. Wanita adalah mahluk ciptaan Tuhan yang memiliki kodrat sebagai anak, remaja perempuan, wanita dewasa, ibu, dan nenek. Sudah selayaknya pada setiap fase tahap kehidupan tersebut, wanita memiliki kesadaran terhadap setiap bahaya yang mengancam. Ketika fase remaja, banyak remaja perempuan yang mengalami anemia, atau terlibat pergaulan bebas, tanpa pembekalan seksual yang cukup.

Ketika akhirnya remaja beralih ke dalam fase ibu, dengan mengantongi anemia, tentu hal ini akan meningkatkan risiko satu orang ibu untuk mengalami perdarahan, persalinan tak maju, dan kurangnya asupan gizi untuk janinya. Itulah mengapa wanita menjadi target yang dikhususkan oleh dunia, karena wanita adalah ujung tombak berkembangnya suatu bangsa. Ibu yang hebat akan menghasilkan anak-anak yang hebat. Anak-anak adalah pemegang kendali generasi bangsa selanjutnya. Angka kematian ibu (AKI) masih sangat tinggi di Indonesia. Setiap tahun, sekitar 20000 ibu Indonesia meninggal akibat komplikasi kehamilan atau persalinan. Setiap 259 ibu meninggal dunia setiap 100.000 kelahiran hidup. Angka ini tentunya “menang” sepuluh kali lipat dari AKI di Malaysia (19/100000) dan Sri Lanka (24/100000). Pada tahun 2015 ini, pemerintah mentargetkan untuk menurunkan AKI menjadi 102 per 100000 kelahiran hidup. Melahirkan seharusnya menjadi peristiwa bahagia tetapi seringkali berubah menjadi tragedi. Berdasarkan data tahun 2015, penyebab utama kematian ibu adalah preeklampsia-eklampsia dan perdarahan. Sebenarnya, hampir semua kematian tersebut dapat dicegah. Karena itu tujuan kelima MDGs difokuskan pada kesehatan ibu, untuk mengurangi “kematian ibu”. Meski semua sepakat bahwa angka kematian ibu terlalu tinggi, seringkali muncul keraguan tentang angka yang tepat. Kita seharusnya dapat memastikan ketika seorang ibu meninggal dunia Namun bisa ada keraguan tentang penyebabnya. Kita tidak mungkin hanya mengacu pada informasi dalam laporan kematian yang bisa saja disebabkan oleh berbagai alasan, terkait ataupun tidak terkait dengan persalinan. Metode yang biasa digunakan adalah dengan bertanya pada para perempuan apakah ada saudara perempuan mereka yang meninggal sewaktu persalinan. “Tingkat kematian ibu” telah turun dari 390 menjadi sekitar 307 per 100.000 kelahiran. Artinya, seorang perempuan yang memutuskan untuk mempunyai empat anak memiliki kemungkinan meninggal akibat kehamilannya sebesar 1,2%. Angka tersebut bisa jauh lebih tinggi, terutama di daerah-daerah yang lebih miskin dan terpencil. Satu survei di Ciamis, Jawa Barat, misalnya, menunjukkan bahwa rasio tersebut adalah 56117.

Dunia terus berputar, waktu silih berganti. Kini seiring bertambahnya kemajuan dalam bidang kesehatan, perdarahan yang dulunya adalah penyebab utama kematian pada ibu, kini bergeser oleh kehadiran preeklampsia-eklampsia. Seperti halnya Raden Ajeng Kartini yang mengalami perdarahan pada saat melahirkan bayinya, namun kini kehilangan banyak darah dapat melalui proses transfusi yang aman, dengan uji golongan darah dan Rhesus sebelumnya, peralatan yang steril, dan medikamentosa yang memadai, perdarahan kini bukan menjadi masalah utama. Pernah dengar kejang pada saat kehamilan? Itulah eklampsia. Preeklampsia merupakan suatu kondisi yang mendahului eklampsia. Eklampsia merupakan masalah yang serius pada masa kehamilan akhir yang ditandai dengan kejang dan penurunan kesadaran. Penyebab eklampsia masih belum diketahui. Preeklampsia-eklampsia diduga ditimbulkan oleh keracunan janin sehingga disebut pula dengan “keracunan kehamilan” atau “toksikemia gravidarum”. Penting bagi para wanita untuk “menghapalkan” dan mengenali durasi menstruasi dan tanggal menstruasinya. Untuk apa? Untuk mengetahui Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT) sehingga dapat dihitung dengan pasti usia kehamilannya. Keracunan kehamilan ini dapat terjadi ketika usia kehamilan memasuki 20 minggu. Dengan mengingat HPHT, maka para ibu hamil dapat lebih mawas diri ketika memasuki usia kehamilan 20 minggu. Preeklamsia dapat dikenali dengan kenaikan tekanan darah di atas 140 mmHg untuk sistole atau 90 mmHg untuk diastole, dan pengecekan air seni mengandung proein sebesear minimal 300 mg per 24 jam atau uji dipstik +1. Namun, ibu hamil harus waspada jika ada berbagai keluhan seperti sakit kepala yang berkepanjangan, ulu hati terasa nyeri, kaki bengkak, mual muntah pada usia kehamilan memasuki 20 minggu, serta pandangan kabur. Mual dan muntah pada awal kehamilan (trimester pertama) bukanlah gejala preeklamsia, melainkan diakibatkan oleh peningkatan kadar hormon estrogen pada ibu hamil. Beberapa jurnal menyatakan penyebab dari keracunan kehamilan ini adalah karena struktur dan jenis plasenta yang menempel pada dinding rahim.

Pada ibu hamil, pembuluh darah rahim dan plasenta akan saling berhubungan untuk memenuhi kebutuhan janin. Namun, ada suatu kelainan sehingga pembuluh darah rahim ibu tidak berubah secara sempurna untuk menyesuaikan dengan plasenta sehingga hal ini akan menyebabkan komplikasi tak hanya untuk ibu tetapi juga untuk bayinya. Akar dari permasalahan ini masih belum banyak diketahui, diduga disebabkan oleh kelainan genetik, atau kelainan sistem kekebalan ibu. Maka, dikatakan kehamilan pertama akan lebih berisiko untuk terjadinya preeklamsia-eklamsia mengingat genetik dan kekebalan ibu terhadap janinnya masih pertama kali terbentu. Karena faktor genetik tersebut, maka ada pula yang , bahwa sperma tertentu akan menyebabkkan preeklampsia-eklampsia dan kehamilan pertama akan berpotensi lebih besar karena kekebalan tubuh ibu belum terbentuk terhadap sperma tersebut. “The dangerous man” adalah julukan untuk pria yang “menyumbangkan” spermanya sehingga menyebabkan terjadinya “keracunan kehamilan” tersebut. Hal ini perlu menjadi sorotan, terutama karena persepsi bahwa preeklamsia-eklamsia ini hanya menyerang kehamilan pertama. Perlu ditegaskan bahwa bukan berarti kehamilan kedua dan ketiga tidak berpotensi untuk menimbulkan hal ini, tetapi karena mengingat faktor genetik tadi, maka semisal ada contoh seorang wanita dengan kehamilan ketiga tetapi dengan suami kedua (berbeda laki-laki) juga berpotensi preeklamsia-eklamsia sama besarnya seperti kehamilan pertama, karena faktor genetik sperma “baru” tersebut belum memiliki “kekebalan” tersendiri pada tubuh wanita itu. Gejala preeklamsia tadi mungkin sepintas adalah gejala yang sepele. Namun memang benar apabila seorang wanita hamil itu perlu diperhatikan dengan “lebih”, mengingat setiap keluhan bisa menjadi suatu tanda dari tersembunyinya suatu penyakit. Misalnya seorang ibu mengeluhkan “Kok pandanganku kabur”, bisa jadi ini adalah suatu awal mula dari eklamsia. Jika gejala preeklamsia ini diremehkan, maka ibu hamil akan memiliki risiko yang besar untuk mengalami eklamsia, di mana akan terjadi perdarahan di otak, gagal ginjal yang akut, pembengkakan pada paru, dan sebagainya yang akan meracuni aliran darah sang ibu, dan merusak organ-organ penting dalam tubuh, selain juga membahayakan janinnya.

Ketika seorang ibu hamil sudah mengalami kejang lalu diikuti penurunan kesadaran, hal itu sudah jatuh ke dalam kondisi eklamsia sehingga kehamilan harus diakhiri, tanpa memandang usia kehamilan sudah aterm atau belum. Jika kondisi ibu masih baik, meskipun diagnosis preeklamsia sudah tegak, namun ibu dapat menjalani terapi rawat jalan dengan tetap harus kontrol rutin, setidaknya untuk mengetahui tekanan darahnya setiap minggu, dan kehamlan juga masih bisa dipertahankan. Itulah pentingnya menjalani suatu Pelayanan Antenatal, setidaknya selama 9 bulan kehamilan, ibu hamil memeriksakan dirinya 4 kali untuk mengetahui risiko tinggi yang ada pada dirinya sehingga penanganan dapat lebih dini dilakukan. Nah, hal-hal seperti inilah yang perlu ditanamkan kepada para ibu, wanita, gadis, remaja. Kesadaran untuk mawas diri karena setiap kehamilan itu berisiko, tergantung risikonya: tinggi atau rendah, sehingga penanganannya lebih tepat dan cepat. Poin penting lainnya, ketika ibu telah melahirkan, dengan riwayat preeklamsia, maka kondisi pasca melahirkan itu bukan serta merta akan melepaskan diagnosis preeklamsia-eklamsianya tersebut. Ibu pasca melahirkan dengan preeklamsia-eklamsia tetap harus dipantau dengan ketat, karena kenaikan tekanan darah dan proteinuria tersebut dapat tetap memicu kejang selama maksimal 40 hari setelah melahirkan (masa nifas selesai). Selain preeklamsia-eklamsia, penyebab kematian ibu lainnya adalah perdarahan saat kehamilan dan persalinan. Perdarahan tidak melulu terjadi ketika melahirkan, tetapi dapat terjadi pada masa kehamilan, terutama apabila ibu masih memaksakan diri untuk bekerja dan beraktivitas, atau jika asupan gizi tidak diperhatikan. Maka, sekali lagi penting untuk mengetahui HPHT sehingga ketika terjadi perdarahan, dapat dirunut dengan detail penyebabnya. Perdarahan pada kehamilan kurang dari 20 minggu dapat didiagnosis dengan abortus, mola hidatidosa, atau kehamilan ektopik terganggu. Perdarahan pada kehamilan 20 – 28 minggu dapat disebabkan oleh kelainan letak penempelan plasenta yang disebut plasenta previa maupun solusio plasenta. Perdarahan pasca persalinan yaitu diakibatkan oleh adanya sobekan jalan lahir, atau adanya kontraksi rahim yang kurang adekuat, atau adanya suatu sisa plasenta yang tertinggal, atau karena ada kelainan pembekuan darah pada ibu hamil. Rumit bukan? Sederhananya, dari berbagai kemungkinan perdarahan di atas, hal sederhana yang mampu dilakukan oleh ibu hamil adalah memeriksakan kehamilannya: minimal satu kali pada trimester pertama, minimal satu kali pada trimester kedua, dan minimal dua kali pada trimester ketiga, sehingga berbagai kerumitan perdarahan itu dapat dipangkas dari awal dan dikenali oleh tim kesehatan sehingga persalinan yang layak dapat direncanakan sesuai kondisi ibu dan janin. Hal mendasar lainnya adalah menanamkan kesadaran pada ibu bahwa ketika hamil ibu sedang memberi makan pada dua orang: dirinya dan bayi dalam kandungannya. Dan berbagai mitos di Indonesia yang masih kental mengenai menyusui juga perlu diluruskan. Mitos di setiap daerah berbeda-beda.

Semisal, di daerah Jepara, masih banyak mitos yang mempercayai bahwa ibu setelah melahirkan tidak boleh makan selain “mutih”, yang artinya, ketika menyusui, ibu hanya diperbolehkan minum air putih dan makan nasi putih. Lantas gizi ibu dari mana? Gizi anak dari mana? Tak jarang ibu dilanda anemia, namun karena tidak terlalu mengganggu keseharian, maka anemia ini jarang dikeluhkan. Padahal, anemia ini berpotensi untuk melemahkan kontraksi rahim. Apa akibatnya jika kontraksi rahim lemah? Ketika persalinan, persalinan dapat berjalan lebih lama karena kontraksi yang kurang kuat, atau setelah persalinan, terjadi perdarahan post partum karena kontraksi yang kurang kuat tidak bisa menahan pembuluh darah di rahim untuk berhenti. Bagaikan lingkaran setan, anemia akan menyebabkan kontraksi rahim melemah sehingga berujung pada perdarahan, dan perdarahan tentunya akan membuang banyak darah dan menyebabkan anemia. Pada pelayanan antenatal, ibu akan rutin dibagikan obat tablet yang mengandung zat besi. Hal ini bertujuan untuk mencegah adanya anemia. Anemia memang sederhana, tetapi dampaknya luar biasa, termasuk perdarahan pasca persalinan yang dapat berujung kematian. Selain itu, anemia juga dapat dicegah dengan makan makanan yang bergizi. Perlu diingat, mengkonsumi tablet besi tidak boleh bersamaan dengan meminum air teh. Zat polifenol pada teh akan berikatan dengan besi sehingga besi akan terbuang sebelum sempat diserap oleh tubuh. Selain itu, pada pemeriksaan antenatal, ibu hamil mampu dengan leluasa mengutarakan keluhannya kepada dokter atau bidan terkait sehingga keluhan penyakit sekecil apapun dapat diatas dengan dini. Kalaupun membutuhkan obat untuk mengatasi penyakit tertentu, semisal batuk dan pilek ketika hamil, atau mual muntah ketika hamil, maka setidaknya diperlukan suatu upaya oleh dokter dalam memilih dan memilah obat-obatan tertentu yang aman untuk ibu hamil. “Karena wanita ingin dimengerti.” Rupanya kalimat tersebut memang benar adanya dan mengandung makna yang dalam. Dalam membicarakan hal-hal seperti ini tidak bisa lepas dari peran berbagai lingkup. Lingkup yang paling kecil: keluarga inti. Suami harus sadar, meskipun yang membesar adalah perut istrinya, tetapi hal itu tidak lepas dari “urun sperma” sang suami, dan tidak sekedar urun sperma, tetapi suami juga sebisa mungkin tetap mendampingi istri, tetap memberikan dukungan moral dan perhatian. Miris ketika di fasilitas pelayanan kesehatan, masalah ibu melahirkan masih banyak yang terbentur biaya. Boleh jadi strata pendidikan tidak tinggi, kondisi sosial ekonomi tidaklah baik, tetapi setidaknya untuk urusan menyisihkan uang untuk persalinan bisa dipersiapkan. Katakanlah menyisihkan 10ribu setiap hari selama 9 bulan, bisa dihitung berapa nominalnya? Atau mengurus berkas administrasi untuk mengikuti Jaminan Kesehatan Nasional sehingga hanya dengan iuran sebesar 30ribu-60ribu setiap bulan, ibu hamil mampu bersalin dibantu tenaga ahli dengan gratis. Banyak cara, dan sebagai masyarakat, dan sebagai manusia berakal, mencari tahu adalah siasat untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Sejumlah komplikasi sewaktu melahirkan bisa dicegah, misalnya komplikasi akibat aborsi yang tidak aman.

Komplikasi seperti ini menyumbang 6% dari angka kematian. Sebagian besar sebenarnya bisa dicegah kalau saja perempuan memiliki akses terhadap kontrasepsi yang efektif. Saat ini hanya sekitar separuh perempuan usia 15 hingga 24 yang menggunakan metode kontrasepsi modern. Metode yang paling umum dipakai adalah suntik, diikuti oleh pil. Proporsi perempuan (usia 15-49) yang menggunakan alat kontrasepsi mengalami peningkatan dan prosentasenya pada tahun 2006 adalah 61% (SDKI, 2007). Berbagai potensi masalah lainnya bisa dicegah apabila para ibu memperoleh perawatan yang tepat sewaktu persalinan. Apakah kita kekurangan bidan desa? Sebenarnya, pemerintah pusat telah melatih banyak bidan, dan mengirim mereka ke seluruh penjuru Indonesia. Namun, sepertinya, pemerintah daerah tidak menganggap hal tersebut sebagai prioritas, dan tidak memperkerjakan para bidan setelah berakhirnya kontrak mereka dengan Departemen Kesehatan. Selain itu, ada masalah terkait kualitas. Para bidan desa mungkin tidak mendapatkan pelatihan yang cukup atau mungkin kekurangan peralatan. Jika mereka bekerja di komunitas-komunitas kecil, mereka mungkin tidak menghadapi banyak persalinan, sehingga tidak mendapat pengalaman yang cukup. Namun salah satu dari masalah utamanya adalah jika disuruh memilih, banyak keluarga yang memilih tenaga persalinan tradisional. Mengapa banyak keluarga lebih memilih tenaga tradisional? Karena berbagai alasan. Salah satunya, biasanya lebih murah dan dapat dibayar dengan beras atau barang-barang lain. Keluarga juga lebih nyaman dengan seseorang yang mereka kenal dan percaya. Mereka yakin bahwa tenaga persalinan tradisional akan lebih mudah ditemukan dan beranggapan bahwa mereka bisa lebih memberikan perawatan pribadi. Dalam kasus-kasus persalinan normal, ini mungkin benar. Namun jika ada komplikasi, tenaga persalinan tradisional mungkin tidak akan dapat mengatasi dan mungkin akan segan untuk meminta bantuan bidan desa. Hal ini dapat mengakibatkan penundaan yang membahayakan jiwa karena tidak secepatnya memperoleh perawatan kebidanan darurat di pusat kesehatan atau rumah sakit. Keterlambatan dapat juga terjadi karena kesulitan dan biaya transportasi, khususnya di daerah-daerah yang lebih terpencil. Kenyataannya, perempuan mana pun dapat mengalami komplikasi kehamilan, kaya maupun miskin, di perkotaan atau di perdesaan, tidak peduli apakah sehat atau cukup gizi. Ini artinya kita harus memperlakukan setiap persalinan sebagai satu potensi keadaan darurat yang mungkin memerlukan perhatian di sebuah pusat kesehatan atau rumah sakit, untuk penanganan cepat.

download

Pengalaman internasional menunjukkan bahwa sekitar separuh dari kematian ibu dapat dicegah oleh bidan terampil, sementara separuhnya lainnya tidak dapat diselamatkan akibat tidak adanya perawatan yang tepat dengan fasilitas medis memadai. Perlu diingat, terdapat empat pilar Safe Motherhood yang terdiri atas kontrasepsi, pelayanan antenatal, persalinan yang bersih dan aman, serta pelayanan obstetri esensial. Sekitar 60% persalinan di Indonesia berlangsung di rumah. Dalam kasus seperti ini, para ibu memerlukan bantuan seorang ”tenaga persalinan terlatih”. Untungnya banyak perempuan yang mendapatkan bantuan tersebut. Pada tahun 2007 proporsi persalinan yang dibantu oleh tenaga persalinan terlatih, baik staf rumah sakit, pusat kesehatan ataupun bidan desa, telah mencapai 73%. Sekali lagi angka ini sangat bervariasi di seluruh Indonesia, mulai dari 39% di Gorontalo hingga 98% di Jakarta. Penting untuk menumbuhkan kesadaran pribadi di hati masing-masing manusia. Peran serta masyarakat secara aktif agresif sangat baik. Menghidupkan kader-kader kesehatan di lingkup masyarakat untuk menyebarluaskan pengetahuan memang penting. Yang dihadapi adalah bukan masalah satu atau dua lingkup desa, tetapi lingkup internasional, di mana laporan tiap daerah akan dikumpulkan menjadi satu dalam satu negara, laporan tiap negara akan disetorkan dalam wahana internasional untuk dikaji apakah dunia berhasil menurunkan Angka Kematian Ibu. Mulailah hal yang kecil untuk mendapatkan hal yang besar. Ini bukan untuk kepentingan pribadi tetapi untuk kepentingan bersama. Jika masih sulit untuk menerapkan bahwa diri sendiri memang wajib turut serta mensukseskan hal ini, cukup berpikiran sederhana bahwa semua orang mengidamkan keluarga yang sehat dan bahagia. Bagaimana dengan Anda?

 

hiccup

Cegukan bukanlah suatu fenomena alam yang dahsyat seperti kepicirit atau ngompol di celana, tapi yang jelas, setiap orang pernah mengalaminya bukaaaan?

Bukan! *dih garing banget*

Okay, sekarang, saya mau membahas sedikit tntang cegukan. Cegukan terkadang memang tidak sebegitnya mengganggu, tapi ketika kita harus berbicara dengan rentang waktu yang agak panjang, lalu tau-tau cegukan, risih juga kali ya.

Spontan yang dilakukan oleh kita ataupun orang-orang di sekitar kita adalah: “minummmm…ambil aiiir…” yah tindakan semacam itu sejenis dengan orang yang kepedesan.
Lantas, apakah cegukan otu sama dengan kepedesan? Tidak. Hahahaja *kok malah nggak nyambung

Jadi, cegukan itu terjadi ketika diafragma (apa itu diafragma? Diafragma bisa dikatakan sebagai otot yang memisahkan rongga da dan rongga perut) mengalami kontraksi. Kontraksi itu semacam kejang, atau memendek, nah, kontraksi diafragma ini menyebabkan pita suara (bahasa kerennya adalah plica vocalis) menutupnayau kontraksi juga, dan terdengarlah suara yang keras dan tinggi yaitu cegukan.

Kontraksi atau relaksasi dari diafragma dan pita suara tak lain tak bukan dikarenakan sistem saraf autonom yangbada di dlaam tubuh kita. Sistem saraf autonim adalah sistem saraf yang bukan kita sadari. Ya iyalah, sekarang kalau kita bisa mengontrol cegukan, kita memilih utk tidak cegukan bukan?  Belum tentu juga ding. Kalau aku, semisal di kelas ditanyai dosen pertanyaan gampang bgt tapi aku ga bs jawab saking bodohnya diriku, aku memilih untuk cegukan.. Hahahaha! Tapi cegukan kan berlangsung tanpa kita sadari. Maka, kita harus tahu makanan apa saja yang memicu cegukan, kondisi apa saja yang memicu cegukan, dan bagaimana cara menghentikannya..

Makanan pedas, berbumbu, serta asap tebal adalah pemicu cegukan.  Percaya atau tidak? Coba sendiri.

Pneumonia, radang selaput dada, atau kerusakan dindaerah tertentu di otak yang mengatur persarafan autonom akan beranggungjawab terhadap terjadinya cegukan.

Apa artinya? Ya intinya persarafan tbuh manusia itu seperti kabel listrik. Ketika ada yang korslet, atau impuls listrik yang dijalarkan itu sedang bingung, maka terjadilah ketidakseimbangan kontraksi dan relaksasi dari diafragma dan pita suara, yang berujung pada cegukannnns.

Cara mudah lainnya menyembuhkan cegukan adalah dengan menahan nafas, minum segelas air dingin, atau makan sesendok gula. Bisa juga dengan cara unik lainnya yait dengan meletakkan kantong kertas di depan mulut dan mencoba bernapas dari kantong kertas itubselama beberapa menit.

Jaraaaang loooh terjadi cegukan selama beberapa menit. Jika cegukan berlangsung selama beberapa hari, langkah yang bijak adalah berkonsultasi ke dokter. Kenapa? Karena kita harus waspada. Waspada gimana ni? Ya seperti yg tadi sudah dijelaskan, cegukan itu hasil dari ketidakseimbangan perjalanan impuls saraf, kalau cegukannya kelamaan, ditakutkan ada sesuatu di saraf kita yang mungkin memang tidak apa-apa, tp menjurus ke suatu sakit yang lebih dari sekedar cegukan…

Kunci liburan anak kedokteran adalah: curi waktu! Sampai kapan kamu akan menekan otakmu dengan berbagai teori yang nantinya juga menguap dari ingatanmu? Maka, freshkan semuanya agar otak mudah menyerap dan logika bisa berjalan. Kedokteran tak melulu belajar. Kita butuh hiburan!!!! Liburan!!! Holiday!!!

I am so glad, ketika kompre ini, aku mendapatkan tempat di Jepara. Kalau bagi seluruh anak kedokteran Universitas Diponegoro, sudah pasti pada putaran stase Ilmu Kesehatan Masyarakat, kita merasakan tinggal di Jepara selama tiga minggu. Pada kesempatan ini, aku diperkenankan menjadi bagian dari warga Jepara selama delapan minggu! Halo Japaradise! Begitulah kami sering menyebut Jepara. Baganimana tidak. Keindahan pemandangan yang disuguhkan : pantainya, ukiran kayunya, telor ceploknya, ups, ga konsen, ada telor ceplok tersuguh di depanku, menurutku memberikan sensasi campur aduk. Hahaha.

Aku masih ingat, sebelum bulan Agustus 2015 ini, aku pernah tinggal di Jepara pada Januari 2015. Di Jepara, aku nggak dapet sinyal di daerah Mlonggo. Yaaaa maklum. Haha ga pake Tel***sel. Wahaha. Laluuu ketika itu sedang wabah demam berdarah, sehingga  kami harus mencari dari tiap desa mana sumber penularan nyamuk dengan cara mencari jentik.

Tik tik tik tik where are youu? Masalahnya, jalan menuju desa-desa tersebut subhanallah meliak liuk perjalanannya dan belu m tentu kita bisa mengulangi jalan yang sama. Setiap pagi, ketika aku meninggalkan mess, pertanyaan yg terlontar ke teman sepenanggunganku (karena mendapat beberapa desa yg sama) adalah “Setelah ini mau ke kiri apa ke kanan ya?” Saking sinyal ga ada, GPS juga tidak bisa diandalkan. Kami hanya mengandalkan senyum dan turun naik mobil hanya untuk bertanya rumah carik dusun X dimana, rumah carik dusun Y dimana. Tak hanya berhenti di rumah carik, kami juga mencari TK, SD, SMP, dan SMA di sekitar dusun yang terduga memiliki jentik nyamuk di bak mandi toiletnya. Plis.

IMG20150106180207

Tapi di sela-sela petualangan mencari jentik, memberikan penyuluhan kepada warga dusun dan desa setempat, kami juga harus mencuri waktu untuk LIBURAN. Mencari sungai setempat, aliran dan suara airnya menyejukkan!! Sebelum kembali ke rutinitas, memang kami harus pandai mencuri waktu untuk hal-hal seperti ini.

Suatu hari, ketika kami mencari sumber penularan demam berdarah, kami mendapat laporan dari warga, bahwa ada suatu usaha rumahan pembuatan tahu yang memang tidak pernah menjaga kebersihan dari industrinya tersebut. Dengan izin pak RT, pak RW, pak dusun, kami diperkenankan meneliti rumah tersebut. Dengan tampang meyakinkan, masih dengan jas almamater Universitas Diponegoro, aku dan seorang temanku mendatangi rumah dengan industri tahu tersebut. Seharusnya tak sekedar tampang meyakinkan saja, tetapi juga harus memiliki jiwa yang kuat rupanya.  Karena, sesampainya kami di depan pintu rumah, jangankan diberi senyum, kami langsung diusir! Hufff….

“Mau apa kalian? Pergi!”

Ya sudah, balik kanan graaaakkk! Harusnya kan seperti itu, tapi dasar aku, aku keras kepala, tetap maju dan mengucapkan beberapa patah kalimat, “Nganu Bu, jangan marah-marah Bu, kami juga hanya sebagai pelaksana, untuk mencari sumber penularan nyamuk demam berdarah. Karena dusun ini dilaporkan ada 10 anak yang opnam karena DB dalam sebulan terakhir…”

Si ibu berucap, “Ya terus? Orang anak saya juga sakit DB kok!”

Saya menimpali, “Ya makanya Bu, mungkin karena limbah tahu Ibu…”

Si ibu mukanya makin ga enak, akhirnya saya tutup dengan, “Ya sudah bu, saya data saja, anak ibu juga termasuk korban DB ya, Bu?”

Lalu kami benar-benar balik kanan. Mau bagaimana? Tidak ada surat penugasan juga dari Puskesmas. Kami di sini bukan petugas Puskesmas. Kami disini adalah dokter muda, tamu, yang juga tidak tahu menahu tentang seluk beluk peliknya hubungan warga dusun tersebut. ***

 

Dan kira-kira 8 bulan selanjutnya, aku tak pernah menyangka akan menetap kembali dan berurusan kembali dengan warga Jepara yang unik-unik. Tetapi wisata pantainya, ga bisa diadu deh. Indah banget!!!! Salah satu cara menenangkan diri adalah dengan relaksasi di pantai. Kini statusku bukan mahasiswa lagi, kini aku sudah menjadi dokter magang di RSU Kartini. Setiap hari yang aku pegang adalah disiplin. Kenapa? Karena sambutan dari pihak struktural RS adalah seperti ini “Saya tu malu, setiap ada dokter magang di sini, kalau apel selalu saja terlambat, lari-lari dengan jas putihnya. Itu membanggakan? Tidak! Itu memalukan.”

Sejak itu, kami berduabelas yang ditempatkan di RS Kartini bertekad kuat untuk tidak lari-lari karena mengejar keterlambatan. Tetapi apa daya, jam 7 kurang 10 kami sudah berkumpul, apel tak kunjung mulai. Sampai kepada kami sudah setengah bulan disini, tetap saja,setiap pagi kami menanti apel. Bukan apel yang menanti kami. Tak tanggung-tanggung, dari jam 7 kurang 10 sudah stand by berdiri di lapangan apel, ternyata apel baru mulai jam 07.20. Duh! Itulahh Indonesia? Nooo! We can do better! Huhhh. Bete sendiri ceritain ini.

Okay, dan selanjutnya, aku masih harus menyisihkan uang (setelah aku jadi dokter umum) untuk pelatihan pertolongan pertama pada orang kecelakaan/trauma (ATLS), pertolongan pertama pada orang sakit jantung (ACLS) dengan budget sekitar 7 juta. Siaaaaap grakkkk…

Daripada pusing, ayok kita holiday dulu. Inilah kehidupan seorang dokter! Belajar dan belajar. Holidaynya sisipan doang. heehehhe…

 

image

menantikan akhirat

Pasien itu berwarna-warni. Hal pertama yang terlontar dari mulut seorang dokter adalah bertanya “ada keluhan apa, Bu?” Sambil tersenyum, saya menanyakan kepada seorang ibu 40 tahun yang cantik, berambut ikal sebahu, kulit putih semu merah.

“Dada saya terasa sesak, Dok, terkadang berdebar ga karuan seperti ketakutan.”

Lalu saya bertanya, “Ibu lagi kepikiran apa?”

Mungkin ini tidak akan terlontar dari mulut seorang dokter yang hanya terfokus pada penyakit sang ibu: gagal jantung akut. Nyeri dada dan sesaknya bisa sebagai dari akibat iskemi jaringan otot jantungnya, tapi jauh dari lubuk hatiku, tergurat duka mendalam di sinar wajahnya. “Saya ga kepikiran apa-apa,Dok.”

“Hmm, lalu kenapa ibu bilang sering berdebar seperti ketakutan? Takut apa hayo Bu?” Kataku sambil menebar canda *sok iye*.

Sore itu, satu kisah pasien yang menyayat hati kembali mewarnai perjalananku. Pasien itu berkata, “Dokternya cantik, saya suka.”

“Terimakasih Bu.”

Lalu ibu itu melanjutkan, “Saya juga punya anak, bisa saja saya jodohkan sm Dokter, Dokter pasti belum nikah kan?”

Saya tersipu.

“Anak saya ganteng, tinggi, sudah mapan, kerja di Kalimantan.”

Tapi raut wajahnya masih sama, menunjukkan kesedihan, “tetapi, dia meninggal 1 tahun yang lalu.”

Deg! Mencelos hatiku. Harus bicara apa? Senyumkah? Atau bagaimana? Ibu itu melanjutkan, “Dan itu yang masih ada di pikiran saya sampai sekarang, kenapa saya tak sempat melayat.. Kalimantan terlalu jauh, anak saya harus segera dimakamkan ketika itu.”

Ya Tuhan… Saya hanya bisa mendoakan agar ibu ini tetap kuat dan semangat hidup.  Tidak ada yang hilang dari kenangan.

Perlahan, saya menguatkan sang ibu, “Tidak apa Bu, buat tabungan Ibu di surga yah? Kalau ibu sedih, pasti jalannya anak ibu di sana juga sulit. Apalagi kalau tahu ibunya sakit.. “Ibu itu tersenyum, “setidaknya saya bertemu Dokter cantik siang ini.”

Panasnya matahari semarang membeku, bersama kisah pasien kali ini yang tak akan kulupakan.***

 

Banyak sekali yang ingin kuceritakan dalam perjalananku menjadi dokter. Suatu sore di ICU, langit biru berawan, matahari telah condong ke barat, jendela ICU memang cukup besar agar pasien yang hanya tergolek lunglai mendapatkan pencahayaan yang cukup. Kini saya, dokter muda, menatap lurus ke depan, kepada seorang ibu yang sedang terbaring tak sadarkan diri di ruang 8.

Sejenak ketika saya masuk ke ruangannya, saya disapa oleh gerakan tangan ibu ini. Suatu usaha untuk menunjukkan tanda kehidupan, mengingat ibu ini terkulai dalam keadaan tak sadar. Sesekali monitor yang terpasang pada tubuhnya pun membunyikan alarm pertanda terdapat suatu ketidakseimbangan pada tubuhnya. Tetapi sejak awal, tubuhnya sudah beranjak tumbang setelah ibu 54 tahun ini divonis kanker serviks stadium 3. Perjalanan keganasan sel tubuhnya kini telah mencapai paru-paru. Paru-parunya bengkak, berisi cairan, yang memberatkan bahkan melumpuhkan fungsi paru itu sendiri. Kecanggihan teknologi diikuti dengan kesiapan biaya mengantarkan ibu ini ke dalam ruangan ICU. Terpasang ventilator, ibu ini dibantu nafas dengan peralatan. Tak terhitung selang yang terpasang pada tubuhnya. Hmm.. Baiklah, akan kuhitung. Di sisi kanan tubuh ibu terdapat 5 selang, 1 ke hidungnya, 1 ke mulutnya, 1 untuk infusnya yang dipasang intravena ke pergelangan tangannya berupa cairan Ringer Laktat yang berisi elektrolit, 1 selang untuk menampung urinnya, 1 selang untuk mengeluarkan darah yang takkunjung berhenti dari rahimnya. Benar-benar menggetarkan hatiku untuk mensyukuri karunia-Nya berupa kesehatan dan kehidupan dengan organ tubuh yang masih berjalan dengan seimbang.

Di sisi kanan tubuhnya terdapat 2 selang untuk memberikan transfusi darah untuk mengimbangi perdarahan masif dari rahimnya, sedangkan terdapat 1 equator dengan selang yang besar dimasukkan ke bawah selimutnya sebagai penghangat tubuhnya, disetting pada suhu 40 derajat celcius.

Total terdapat 7 selang. Padahal sebenarnya kanker serviks bisa dicegah. Dengan apa? Dengan Pap’s Smear, yaitu pengambilan sampel epitel leher serviks yang marak diumumkan di khayalak publik. Masih tingginya angka kanker serviks menunjukkan bahwa tersohornya Paps Smear ternyata belum diikuti antusiasme manusia Indonesia. Mungkin banyak dari kita terbentur biaya. Tetapi ketahuilah, Pap’s Smear hanya Rp120.000 (kurang lebih), daripada harus dirawat di ICU seperti ibu ini. Atau mungkin takut bahwa prosedur Pap’s Smear itu menyakitkan? Tidak sama sekali. Tau rasanya dikorek telinganya? Yah hampir sama-sama kaya gitu deh. Lalu tunggu apalagi? Pap’s Smearlah sebelum terlambat. Terutama untuk para wanita yang aktif seks selama 3 tahun lebih,  memasang IUD, wajib hukumnya memeriksakan diri dengan Pap’S smear minimal 1 tahun 1 kali.

Tak lupa, kita mendoakan para wanita yang sudah mendahului kita untuk terjerat kanker serviks. Itu adalah peringatan kehidupan agar kita lebih aware dan sayang diri sendiri.***

 

“Aku mau pulang”

“Aku mau pulang”

Rintihan pasien itu terngiang-ngiang di benakku sekarang.

Ternyata, rintihan “aku mau pulang” dari pasien belum berarti pulang ke rumah.. Bisa juga pulang ke hadapan-Nya untuk selama-lamanya..

Baru saja jam 5 sore ini kubertegur sapa. Seorang perempuan muda, seusiaku, menopang penyakit yang tak mengenal bahwa dia memiliki suami yang membutuhkannya, memiliki anak seusia TK yang merindukannya di rumah. Ya, kanker darah, leukimia.

Sesak nafas yang dialami pasien bukan karena kelainan di jalur napasnya. Kuperiksa paru-parunya, tidak ada suara yang menunjukkan suatu cairan atau peradangan di paru. Bersih parunya. Namun nafasnya begitu cepat, tubuhnya begitu panas. Di sampingnya, sang suami berharap agar istrinya dapat kembali seperti semula. Sesak nafasnya akibat infiltrasi atau perjalanan sel darah yang ganas, menyebabkan pembesaran massa mediastinum, suatu massa di dada, dan bisa saja mendesak nervus reccurent laryngeus yang ada di dada, memberikan manifestasi sesak nafas.

“Aku mau pulang” di sela-sela nafasnya yang sukar, pasien masih menyebutkan “aku ingin pulang”

Sang mertua, yang baru saja tiba di ruangan, menangis, memeluk menantunya. Suaminya berbisik kepadaku, “Dokter,tolong ya, ibu saya jangan sampai tahu tentang penyakit istri saya.”

Aku mengangguk pelan. Terlihat genangan air di pelupuk mata sang suami, menatap istrinya penuh harap, sambil membisikkan

“Asyhadu alla illaha illallah wa asyhadu anna muhammadarrasulullah..” Serta

“Astafirughlah” ke telinga istrinya..

Tak lama dari kejadian ini, tiba-tiba sang istri berhenti nafas. Tim medis yang berjaga di situ sebisa mungkin memberikan pertolongan: resusitasi. Tak ada hasil. Nadinya tetap terhenti. Untuk selamanya… Hasil rekam jantung memberikan hasil “garis lurus” yang menunjukkan tak ada lagi tanda-tanda kehidupan. Hal yang terberat namun harus adalah: memberitahukan kepada keluarga bahwa pasien telah tiada. Dengan berat hati, hal itu wajib dilakukan. Belum selesai kalimat itu, “kami sudah berusaha yang terbaik, namun..”

Namun, jeritan sang ibu mertua lebih dahulu memenuhi ruangan. Sang suami tampak lebih tegar, namun pasti hatinya teriris. Kalimat itu akhirnya aku selesaikan dengan lirih, “..namun Tuhan lebih sayang dengan ibu…”

Kuseka air mata yang menggenangi mataku, kembali kumenatap pasien, membereskan hal-hal lain yang perlu diselesaikan. Ternyata, rintihan “aku mau pulang” dari pasien belum berarti pulang ke rumah.. Bisa juga pulang ke hadapan-Nya untuk selama-lamanya..***

 

Kulihat sekali lagi jam tanganku. Waktu terus berlalu. Sel-sel dalam tubuh semakin menua, di antaranya terus menerus memperbaiki diri, mencoba mengganti kondisinya agar sama seperti baru. Sebagaimana contoh, sel darah merah memiliki waktu hidup 120 hari. Apakah setiap sel sama? Berbeda. Dalam 1 tubuh saja, terdapat berbagai sel dengan waktu hidup yang berbeda, dengan fungsi yang berbeda, dengan ukuran yang berbeda pula. Tuhan telah mengatur tubuh kita sedemikian rupa hingga bagian yang terkecil. maka, masihkah kita berdiam diri meratapi nasib sebagai manusia, padahal tubuh kita dipenuhi dengan keajaiban dan keindahan karya Ilahi? Syukurilah. :’) Allah Maha Besar.

“Ya Allah, jadikanlah umurku yang terbaik di akhirnya dan amalku yang terbaik di penghujungnya, dan jadikan hari terbaikku saat bertemu Engkau…”

 

 

1432812843973

Kehidupan dan kematian memang bertolak belakang, tetapi mereka adalah suatu paket kehidupan yang tentunya akan dialami oleh semua manusia yang berkesempatan hadir di dunia. Siapa menyangka, Tuhan ingin memberikanku peringatan, agar selalu rendah hati, melalui kisah haru di pagi ini. Suatu moment jaga UGD, yang mungkin belum tentu dilihat semua orang. Kehidupan dan kematian yang ditemukan bersamaan, sebuah pelajaran hidup yang sangat bernilai untukku.

Pagi ini, seorang ibu muda yang paling berbahagia sedunia, pastinya bahagia ya, karena ibu muda ini melahirkan seorang bayi lucu, sehat, gendut. Datang ke UGD dgn posisi sudah bukaan 2, untuk melahirkan anak ketiga rasanya tak perlu waktu panjang untuk mencapai bukaan lengkap. Memang, ibu tdk kuat mengejan, tapi bukan berarti bayi tidak dapat lahir. Dengan dibantu ekstraksi vakum, akhirnya seorang bayi laki-laki lahir. Bayi menangis kencang segera setelah keluar dari rahim ibu, tempat yang menampungnya selama 39 minggu. Bobot 3200 gram bukan bobot yang ringan bukan untuk dibawa-bawa dalam tubuh selama 39 minggu? :’)

Tak lama setelah menolong persalinan, terdapat suara isak tangis bercampu teriakan di luar ruangan, masih dalam lingkup UGD juga, sayup-sayup suara teriakan ibu ini menyayat hati.

Rasa penasaran mengantarkanku kepada sumber suara. kakiku melangkah. Pemandangan yang menyedihkan. Seorang ibu menangisi suaminya “Maaas, aku ga punya siapa-siapa lagi. Aku karo sopo saiki?” Begitu terus berulang-ulang. Tangisannya meraung, bercampur antara marah, sedih, kecewa, dan bingung harus berbuat apa. “Kowe ki mung pingsan, aku rak percoyo kowe pergi maaaas.” Sembari petugas membersihkan tubuh bapak muda ini, dan memposisikan tangannya di atas perut, meluruskan kakinya dgn diikat kassa putih, serta menutup rahangnya dgn ikatan kassa di kepalanya. Suatu persiapan dari rumah sakit sebelum memandikan dan mengafankan jenazah. Cardiac arrest atau serangan jantung dapat mencabut nyawa siapa saja tanpa permisi, termasuk bapak muda yang gagah ini, atau mungkin di antara kita sekalian. Tuhan Maha Pemilik Hidup. Tak satu jengkal pun kita boleh sombong atas apa yg kita miliki sekarang, karena ketika maut tiba, apalah artinya kenikmatan duniawi itu. Semu. Fana. Istrinya sungguh tak kuasa menahan kepergian sang suami. Akhirnya suasana kembali senyap setelah akhirnya sang istri jatuh pingsan, dipapah para petugas Rumah Sakit.  Melangkahkan kaki, saya kembali ke ruang persalinan, isak tangis bayi kembali terdengar, kontras dengan suasana isak tangis ibu yang baru saja ditinggalkan suaminya, untuk selama-lamanya.***

Ada suatu kisah tentang kaos kaki sobek.  Seorang kaya raya saat menjelang ajal berpesan kepada anak-anaknya, “Nak, jika ayah meninggal, tolong pakaikanlah kaos kaki kesayangan ayah itu, ya. Walaupun sobek, tetapi kaos kaki itulah saksi kesuksesan ayah.”

Maka, ketika wafat, anak-anaknya meminta kepada pengurus jenazah untuk memakaikan kaos kaki sobek itu. Pengurus jenazah menolak, “Maaf, secara syariat, hanya diperkenankan 3 lembar kain putih saja yang dikenakan jenazah.”

Anak-anaknya tetap bersikeras, “Ini keinginan ayah kami!”

Karena tidak ada titik temu, dipanggilah penasehat keluarga sekaligus notaris. Kata notaris tersebut, “Almarhum menitipkan surat wasiat untuk anak-anaknya.”

Dibukalah surat itu dan dibaca,

Anak-anakku, kalian pasti bingung, kenapa dilarang memakaikan kaos kaki sobek ini pada jenazah ayah. Lihatlah, Nak. Harta ayah banyak, tetapi tidak ada artinya saat ayah sudah mati. Bahkan, kaos kaki sobek pun tidak boleh dibawa mati. Begitu tidak berartinya dunia, kecuali amal ibadah, dan sedekah yang ikhlas. Anak-anakku, inilah yang ingin ayah sampaikan…”

 

Ketika saya sedang berada di stase obstetri dan ginekologi (obsgin) alias stase kandungan, Rumah Sakit tempat saya menempuh ilmu sedang rempong menyetarakan sebagai rumah sakit internasional, di bawah supervisi Joint Comission International.

Entah beruntung atau tidak, pihak obsgin menunjuk diriku sbg perwakilan koas dari stase Obsgin dalam acara wawancara untuk JCI. Katanya begini, “Ini memang dipilih 1 dek yg bahasa Inggrisnya bagus.”

Pfft. Padahal bahasa Inggrisku pas-pasan. Tapi tidak apa-apa, saya anggap orang2 yang berkata bahasa inggrisku bagus itu doa.

Sebagai koas, tidak ada pilihan untuk menolak, apalagi senior yang nyuruh, mata tak berkutik. JCI adalah lembaga yang memiliki wewenang untuk menilai keseluruhan pelayanan rumah sakit dimulai dari tenaga kerjanya seperti dokter spesialisnya, residen, perawat, koas, bahkan cleaning service nya, kemudian bangunannya sendiri apakah memenuhi syarat keselamatan pasien, kemudian sebagai RS pendidikan, apakah kurikulum yang diberikan untuk dokter muda dan dokter residen sesuai dengan kompetensi, dan lain-lain.  Ketika bertatap muka dengan pihak JCI, masing-masing koas dan residen ditanya dengan detail.

Seru sekali dengan standarisasi internasional ini, ada garis tegas apa2 yg perlu dilakukan koas, dan apa yg perlu dilakukan perawat, tetapi lucu juga ketika mengingat ternyata selama ini, selama ini, SELAMA INI,,,  banyak sekali penyelewengan tugas dan tanggung jawab.  Maksudnya begini: bukan tugas dokter muda, tetapi entah darimana riwayatnya, akhirnya kami yang melakukan. Yaaa, intinya tidak dibabukan, tapi dikaryakan. Haha. Bukannya tidak ikhlas, wowo, saya selalu ikhlas melakukannya, tetapi rasa penasaran untuk mengetahui “Bagaimana yang seharusnya” itu benar-benar membuat saya ingin mencari tahu.

Bayangkan, dengan menggunakan baju jaga rumah sakit, macam serial TV luar negeri “Grey’s Anatomy”, saya dipanggil oleh salah satu perawat senior, ternyata disuruh mengantarkan “nampan” alias “tatakan makan” bekas mereka makan ke DAPUR. Pfffft! Woy saya ga digaji plis untuk hal-hal ini. Sebenarnya kalau nampan makan ditujukan untuk pasien, dengan senang hati saya antarkan. Lah ini hanya nampan kosong bekas makanannya perawat.  Tetapi apa boleh buat, tetap saya lakukan, tanpa senyuman. Oke, saya tahu, tidak ada pahala untuk orang yang melakukan dengan tidak ikhlas. Tetapi memang membingungkan, sejak kapan tugas dokter muda, yang notabene-nya bayar SPP tiap semester, mengantar nampan?

Itu contoh penyelewengan tugas yang tidak terlalu berbau klinis, apalagi mendapat sentuhan ilmu kedokteran. Ada lagi sebenarnya penyelewengan tugas yang mungkin sudah dianggap sebagai “hal lumrah” oleh “ikatan dokter muda sejagad raya”, antara lain begging.

Begging. penyelewengan tugas yang mungkin sudah dianggap sebagai “hal lumrah” oleh “ikatan dokter muda sejagad raya”, antara lain begging. Begging merupakan suatu ventilator manual. Ventilator adalah alat bantu tambahan untuk membantu pernapasan manusia, biasanya hanya ruang intensif ICU yang menyediakan, tetapi karena keterbatasan jumlah ventilator di ICU, akhirnya dikembangkanlah metode manual untuk pengganti ventilator, yaitu begging. Ibarat kata, kerja mesin ventilator yang memompakan nafas agar paru-paru pasien bisa mengembang ini digantikan oleh tangan manusia. Tujuan bernapas yaitu agar oksigen dapat bertukar di dalam sel alveoli sehingga oksigen dapat diedarkan ke seluruh tubuh.

Pada orang sehat, secara alami, proses bernapas terjadi tanpa kita sadari, tetapi pada manusia yang mengalami kerusakan paru-paru, atau kerusakan otak di tingkat pusat pernapasan, tak heran jika begging diperlukan. Gerakan dalam begging itu seperti kita memompa air galon supaya air dalam galonnya naik dan keluar, ini juga sama, tapi gerakannya lebih ritmik dan teratur.
Hmmm, dalam protap rumah sakit, sebenarnya itu adalah tugas perawat. Mereka digaji untuk melakukan hal itu, sehingga jika mereka melakukan hal itu, itu adalah legal, lumrah, sah. Tetapi pada kenyataannya, dokter muda lah yang melakukannya. Parah lagi ketika dini hari mencekam, dokter muda dalam titik energi terendah, mata terpejam dengan otomatis, gerakan memompa nafas oleh tangan kita terhenti otomatis pula. Bahaya, apalagi begging adalah 1 nyawa. Ketika begging kita sedang melakukan tugas mulia: membantu seseorang untuk bernafas, eh, tetapi kita malah tertidur, siapa yang bersalah? hmhm, tetapi itulah kelemahan begging dibandingkan dengan ventilator. Maka, saya memberikan istilah mission impossible pada begging. Memaksakan bernapas pada orang yang tidak bisa bernapas lagi. Yaaaahhh.

Secara teknis, sebenarnya bisa saja, jika perawat mau, mereka membantu bergantian begging, setidaknya. Toh, mereka digaji untuk melakukan hal ini (saya tidak meminta agar kita tidak membegging, tapi setidaknya kita bisa bergantian kan dgn perawat). Tetapi kenyataannya, mereka hanya mencemooh dari kejauhan “Mbak,jngn ketiduran lah, itu kadar oksigen tubuh pasien turun terus loh.” *padahal perawatnya mengingatkan dengan muka baru bangun tidur, dan lewat di depan saya untuk pergi ke toilet. Tebakan saya, setelah pipis, dia akan tidur lagi, dan itu memang terjadi sebagaimana saya ceritakan.***

 

Kalau di Amerika, pendidikan dokter ditempuh setelah seseorang melalui pendidikan sarjana apapun. Setelah mendapat gelar sarjana kedokteran alias MD. Mereka tidak ada sistem koas. Maka rumah sakit pendidikan tidak perlu kebanjiran anak ayam yang tak berinduk seperti koas, atau dokter muda. Di sana, lulus MD, mahasiswa berhak langsung cus pemilihan spesialis.

Saya akui, perawat telah mutlak menjadi bagian dari RS, bahkan mereka digaji karena kinerjanya di RS. Tetapi dalam beberapa kasus, mungkin hanya oknum saja ya, dan mungkin hanya ada di rumah sakit tempat saya menjadi dokter muda,  dusta apabila mereka mengaku ramah kepada pasien. RS pendidikan menumpulkan sisi kemanusiaan perawat. Bukan berarti merujuk ke semua perawat ya, ini hanya untuk oknum tertentu. Sebelumnya saya ucapkan maaf. Tetapi mengungkapkan hal ini tidak bermaksud menyalahkan, hanya ingin mempertajam naluri kemanusiaan, mengingatkan kembali apa tujuan awal kita terjun di ranah kesehatan.

Kisah nyata pada pasien setelah melahirkan. Saya sedang follow up, sekedar menyapa dan menanyakan apakah ada keluhan baru yang dirasakan pasien. Pasien berkata bahwa pembalut penampung darah nifasnya terasa  sudah penuh. Perban jahitan jalan lahirnya takut terkontaminasi. ☹

Bahkan mengganti pembalut yang seharusnya menjadi tanggungjawab mereka pun ditunda, menunggu jadwal mandi keesokan harinya. Padahal pasien sudah merasa risih. Kalau bukan karena infus yang menggantung di sisinya, ibu ini mungkin sudah mengganti sendiri pembalutnya.

saya sebagai entah apa, dokter muda mungkin, yg merangkap segala tugas, akhirnya menggantinya. Mudah, seperti mengganti pembalut sendiri saja bayangkannya.  saya lalu ingin selidik catatan medis ibu ini. Mendekati nurse station, saya mencari catatan medik yang sesuai dengan nomor bed ibu tersebut. Tetapi, apa yang terjadi?

Teriakan menggelegar yang tidak ada sopan santunnya sama sekali keluar dari mulut seorang perawat, “mbak koas! Ngapain dsini? Klo ada butuh tu bilang! Ga nyari2 sndr kaya gitu! Bikin berantakan!”

“Saya nyari CM Ny. X Bu, maaf ganggu.”

“Ya ngomg kan enak, ngobrak abrik seenaknya.”

“Saya jg dsuruh kali Bu”

*dalam hatiku: kalo niatnya marah2 ya udah sih, orng dia jg ga bantuin nyariin, saya juga tdk bermaksud merepotkan dia dgn segala kerempongan ganti pembalut pasien td..

Ibu: “Ngerti ga mbak?”

Dalam hati, iya saya mengerti, tp ibu yang nggak ngerti!

Tapi, “ya saya takut mengganggu ibu.”

Ibu: “Lha malah kalo mbak kayak gitu sya trganggu!”

Saya: “Ya maaf Bu, tapi saya kan cuma mau cari catatan medis! Ya saya belajarnya juga dengan cara kayak gini Bu. Ya saya minta maaf bu, tapi saya nggak suka dibentak!”

Ibu: diem.***

 

Never ending story adalah kisah koas perempuan vs perawat.

 

Suatu pagi ketika saya sedang bertugas sebagai dokter muda di RS Tugu, aku beritahu suatu hal ya, bertugas di RS Tugu memerlukan kesabaran tingkat tinggi, terlebih, jika kamu dilahirkan dgn memiliki vagina dan memiliki payudara. Ya, benar, karena terdapat hubungan darah tiri antara koas perempuan dengan perawat.

Ketika itu, stase obsgyn benar-benar memerlukan suatu ketabahan hati dan fisik yg kokoh. Berbekal otak yg brilian, koas sebenarnya tidak bisa diremehkan begitu saja. Tetapi, pintar saja tidak cukup. Kami diciptakan bukan untuk mnjadi profesor, tetapi menjadi dokter. Attitude adalah nomor 1. Termasuk ketika difitnah, maupun disuruh melakukan tugas yg bukan job desk kita, kita harus menjawab “iya” dan melakukan tugasmu dengan sungguh-sungguh.

Satu hal ketika pagi itu, adalah moment dimana saya merasa tidak dihargai sama sekali. Semalam, ruang bersalin sangat penuh. Sepuluh bed penuh, 6 persalinan sekaligus. Jam setengah 9 malam, kami para koas ada tentiran (semacam tutorial) dengan residen. Jam setengah 9 pula, ada salah 1 ibu yang baru melahirkan akan pindah ruangan ke ruang nifas. Memindahkan ibu, itu artinya memindahkan pula segepok catatan medik dari ibu yang bersangkutan. Anggaplah ibu yang baru melahirkan ini adalah ibu avita. Memindahkan pasien, memindahkan catatan medik adalah tugas staf rumah sakit yang bersangkutan. Koass, notabenenya adalah tamu, tapi tak jarang, kami yang mengantarkan catatan medik tersebut sambil mengantar pasien.

Bayi dari ibu ini secara otomatis juga menjadi pasien neonatus dari rumah sakit ini. Karena belum memiliki nama, dalam catatan mediknya, bayi ini diberi nama “By. Ny. Avita”

Baiklah.

Singkat cerita, Ny. Avita adalah pasien VIP yang dalam pelayanannya memang dispesialiskan. Ketika visite bersama residen keesokan harinya, catatan persalinannya menghilang. Menghilang! Pasien VIP boooo! Lalu dengan sigap perawatnya berkata, “Mbak Koas, hayo dimana CMnya?”

(CM singkatan dari catatan medik)

Lalu aku dan seorang temanku, sebut saja Mbak Pao, saling lihat-lihatan. Sebelum kita bisa menjawab, residennya sudah mengeluarkan taring, “Pasien VIP lho dek! masa iya hilang?”

Lalu perawat senior, seseorang yg sepantasnya seusia ibu saya,  manas-manasin dengan berkata ke residen, “Saya lihat sendiri lho Bu, Mbak Koasnya nganter CM terus masukin ke lemarinya.”

Aku dan MbakPao pucat. Bu residen, “Huhh coba cari CMnya di Ruang Bersalin.”

Kemana nih CM VIP nya? Tetiba, Mbak Pao melontarkan kalimat yang menohok, “Maaf Bu, tapi saya dan teman-teman semalam yakin ga ada yang nganter CMnya, karena kita sedang tentiran dengan Pak Residen.”

Bu residen, “O iya ya!”

Lalu bu residen berbalik marahin perawatnya, “Hayo mbak! Yang bener nyarinya, mereka semalam itu tentiran! Nggak ada yang nganter catatan medik kesini. Ngawur aja ibu”

Lalu perawat-perawatny mencari dengan seksama, sampai akhrinya, ternyata catatan medik ibu VIP ini ternyata dimasukkan OLEH PERAWAT ke catatan medik bayinya.

Jelas salah siapa?huf! Lagipula, koas tidak memiliki wewenang memegang CM bayi. Hanya sebatas CM ibunya saja.

Teriak amarah residen menegur perawat diiringi backsound acara gosip di televisi yang dipajang di nurse station. Televisi itulah yang memberikan informasi kepada kita. Tetapi televisi juga yang membuat kita terlena shg melupakan ibadah, kewajiban memeriksa pasien, memberi obat,dll.

 

They do as what they will get. Di RS umum mereka digaji secukupnya dan mereka melayani juga dengan “secukupnya”..wajar jika “kalau bisa dikerjakan koass kenapa harus aku kerjakan,toh bayaranku sama”..hhaa..berbeda dengan yang di rs swasta..they act what they should do and get what they deserve..

Tetapi apakah ketika mereka sekolah, menuntut ilmu, apakah diajarkan cara-cara bertingkah laku yang seperti ini? Padahal katanya, kita satu tim dalam rumah sakit, dengan tujuan yang satu: kesembuhan dan kepuasan pasien. Tapi mana?***

 

IMG20150604103543

 

Seiring berjalannya waktu, kemampuan tidur seorang dokter muda akan menyesuaikan waktu yang didapatkannya untuk berkesempatan tidur. Tidur dapat dilakukan dengan berbagai gaya dalam berbagai situasi dan kondisi.

Hal ini sebenarnya mengingatkanku terhadap memori ketika SMA. Dulu, ketika masih berada di SMA TarNus Magelang, tidur sambil berdiri pun mampu. Berbaris menurut tinggi badan dari depan ke belakang, hampir tak mungkin aku berdiri di depan. Pada akhirnya, ketika aku tidur sambil upacara, masih ada temanku di depan yang menjadi “benteng” ketika aku sudah mentiung-tiung kayak pohon kelapa tertiup angin kencang lalu tumbang.

Ada kisah lain yang lebih “waw”. Temanku yang berbadan tinggi, sedang upacara, dan tertidur. Dia berada di baris terdepan kompi. Bisa dibayangkan, ketika dia mentiung-tiung dan akhirnya ambruk seperti orang pingsan, wajahnya dahulu yang menyambut tanah. Ketika kami berusaha membantu, karena dikira pingsan, teman saya meringis kesakitan. Dua gigi serinya tanggal. Yaaaak. Gigi incicivus 1 kiri dan kanan atasnya lepas, hanya menyisakan akar gigi, mulutnya berlumuran darah. Dia berkata, “Tadi aku ketiduran”.

Pada dasarnya, kisah di atas hanya mengingatkan saya bahwa ketika menjadi dokter muda ini, kemampuan tidur semacam itu timbul lagi. Menjadi berbahaya apabila ketika kita sedang menghadapi pasien yang membutuhkan bantuan hidup, kita malah tertidur. Contohnya ketika begging, seperti yang saya ceritakan sebelumnya. Atau ketika mendapatkan tutorial oleh residen, atau oleh dosen supervisor. Bayangkan, ilmu berharga yang seharusnya diserap dengan mata terbuka, dengan gelombang otak siaga, justru harus terbuang karena tertidur maklezzz maklerrr.. Konsekuensinya, kita harus bertanya pada teman sesama dokter muda yang bangun dan mendengarkan karena ini menyangkut kompetensi kita ketika menghadapi pasien. Pertanyaannya: apakah ada yang bangun dan mendengarkan tutorial? Atau memang semua tertidur seperti saya? Haha. Ya pasti ada dong, niat jadi dokter kan? Kasihan nanti pasiennya, dilayani oleh dokter yang ketika tutorial malah tertidur, otak dokternya kosong. Malpraktik? Dih amit-amit, jangan sampai deh. Maka, ketika sedang berada di stase yang membutuhkan stamina ekstra, sedia vitamin C untuk dikonsumsi setiap hari, makan yang teratur (kalau tidak sempat pun harus disempatkan), dan kalau bagi cewe, tips agar tidak terlihat lusuh, kumel, dan tetap cantik, konsumsi vitamin E semacam untuk mencegah keriput, karena itu berguna untuk mencerahkan kulit lalalala hehe.***

 

 

SECRET 6: ARTI GURU

 

“Knowldege” can be found anywhere, anyone, and anything at the end of the day

 

Belajar tidak harus dari bebukuan (saking banyaknya dan tebalnya), tidak harus dari jejurnalan. Belajar bisa dari kuliah, bahkan dari mayat. Ya, mayat adalah guru yang tak ternilai untuk kami, mahasiswa kedokteran. Mungkin sebagian besar bertanya-tanya, memang iya gojlokan anak FK itu harus megang mayat? Atau tidur bersama mayat?

Dan kalau sebagian dari kami menjawab iya, mungkin karena kami merasa itu beban. Tetapi sebagian dari kami menjawab tidak, karena itu bukanlah gojlokan, tetapi suatu pembelajaran. Pembelajaran kehidupan. Manusia yang merelakan tubuhnya menjadi suatu cadaver belajar, patut diberikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya. Suatu dedikasi tinggi atas ilmu pengetahuan.

Cadaver. Begitulah nama latin dari mayat. Kami, mahasiswa kedokteran, mempelajari anatomi tubuh manusia dari manusia yang telah mati terlebih dahulu. Kami diperkenankan di bawah naungan payung edukasi formal untuk menyayat kulitnya, lemaknya, lalu kami pelajari ototnya satu per satu. Cadaver perlu direndam formalin agar senantiasa awet. Bau formalin yang menyengat merasuk langsung ke otak, membuat air mata dan ingus menetes deras. Tapi kami tidak boleh menggunakan penutup hidung hanya karena alasan bau formalin. Kata dosen kami, “Itu tidak sopan, cadaver adalah pasien pertamamu.”

Tak jarang ada yang pingsan. Termasuk salah seorang teman saya ketika itu. Pingsan. Entah karena baunya, entah karena kaget, jijik, bercampur takut melihat sesosok manusia yang telah tiada.

Salah seorang teman saya ini, sebut saja Bunga, sama sekali tidak mau menatap cadaver pada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Bunga terlalu takut. Beberapa kali Bunga lolos dari pengawasan dosen untuk tidak mengikuti praktikum anatomi, sampai suatu ketika Bunga benar-benar hadir lagi bersama kami, menyampaikan suatu pesan berharga. Pada suatu malam, Bunga bermimpi didatangi oleh seseorang. Dalam mimpinya, seseorang itu berkata, “Aku sudah memberikan tubuhku untuk dijadikan bahan belajar, kenapa engkau malah takut? Apakah aku menakutkan? Lalu bagaimana kau belajar kalau tidak melalui tubuhku?”

Bunga tersadar. Ternyata, cadaver itu bersedih bila kita takut pada dirinya. Dirinya bukan untuk ditakuti, tetapi untuk dihormati, diletakkan pada posisi tinggi untuk diambil ilmunya, dipelajari. Dengan begitu, sosok tersebut akan menjadi orang yang bermanfaat, dan menjadikan diri kita menjadi sosok yang bermanfaat. Akhirnya Bunga memanfaatkan dengan baik cadaver yang telah disediakan untuk dipelajari, terlebih, kami di universitas negeri. Cadaver kami dapatkan dengan cuma-cuma. Terimakasih Bapak, Ibu, yang mendedikasikan dirinya sebagai cadaver untuk kami pelajari. Jasa Bapak Ibu sekalian, takkan kami lupakan. Tak lupa kami sisipkan doa kepada Bapak Ibu sekalian, dan tentunya, kami menyayat kulit bapak dan ibu dengan cara dan prosedur yang memang sudah ada. Belajar dari yg mati supaya menyelamatkan yang hidup.

Sebaik-baiknya manusia adalah yang berguna bagi manusia lain. Salah satu amalan yang tak terputus adalah ilmu pengetahuan. Jika tubuhmu sendiri didedikasikan untuk digunakan sebagai media pembelajaran, alangkah mulia. Kehidupan di akhirat tetap menuai pahala dari amalan yang tak terputus.

Lantas darimana asal muasal cadaver?

Mahasiswa kedokteran tidak pernah mengetahui dengan pasti, tetapi biasanya 6 anak mendapatkan 1 cadaver untuk dipelajari. Banyak kasus kematian dari orang-orang akhirnya sampai di Rumah Sakit tempatku praktik. Ketika pada tenggat waktu yang ditentukan tidak ada keluarga yang mengambil jenazah tersebut, pada akhirnya jenazah akan diawetkan lebih lama untuk dijadikan media pembelajaran. Maka, jangan heran ketika cadaver itu memiliki tato (yang mungkin dulunya preman) atau pembengkakan di organ tubuh tertentu (kemungkinan pengemis yang kanker dan tak tersembuhkan). Tetapi, tetap saja, penghargaan setinggi-tingginya diapresiasikan kepada para cadaver yang telah memberikan kami segudang ilmu sehingga kami siap mempratikannya kepada manusia hidup.

 

UJIAN:

Sedangkan pelajaran lainnya di mana titik nadir kita benar-benar merasa bodoh adalah: pasca ujian.

Ujian di masa dokter muda bukan lagi mengisi ujian tertulis. Di sini kita dihadapkan pada satu dokter senior, lalu kita menjawab pertanyaan-pertanyaan, bahkan menjawab secara lisan.

Semakin grogi, semakin kosong isi otak. Tapi ada satu hal yang perlu diingat: kepintaran bukanlah segalanya. Yang lebih dipentingkan adalah attitude alias unggah ungguh. Ketika saya mengingat stase kandungan ini, saya merasa lelah sekaligus senang. Banyak sekali ilmu yang saya dapatkan, berupa pengalaman. Namun lulus atau tidaknya saya bukan ditakar dari mengharukannya kisah pasien kanker ovarium yang pernah hadir di poliklinik saya jaga, bukan dari pasien ketuban pecah dini yang akhirnya saya rujuk ke RS ketika saya di puskesmas, bukan dari pasien perdarahan pasca persalinan yang berhasil saya tangani d puskesmas, pengalaman sebanyak itu belumlah apa-apa, belum teruji.

Ketika itu hari Senin, hari pertama ujian, dan lucky me, saya yang mendapatkan kesempatan emas itu. Ujian semacam interview. Yang jelas kita harus percaya diri. Jangan takut. Tapi memang gaya saya adalah, ketika berbicara di depan umum, atau di radio, atau di mana pun yang berbau berbicara di depan banyak orang, suara saya datar dan membosankan. Haha. Mungkin karena efek grogi juga. Ibaratnya kalo itu lagu, suara saya di do=C teroooos. Ga ada modulasi.

Oke. Anggap penguji saya bernama dr. BE, lalu, saya U.

Dr.BE: “Ya dek, pasienmu tentang apa?”

U: “Tentang pasien post partum spontan, 15 tahun.”

Dr.BE: “Termasuk risiko tinggi (risti) kehamilan nggak pasien kamu?”

U: “Ya, Dok.”

Dr.BE: “Memang apa definisi kehamilan risti?”

U: “Suatu kondisi kehamilan yang disebabkan oleh ibu sehingga membahayakan kondisi ibu dan janin.”

Dr.BE: “Jadi, hanya disebabkan oleh ibu?”

U: (kalau ditanya seperti ini, berarti dr. BE meragukan jawabanku, berarti jawabanku salah dong) “Ada lagi dok, dsebabkn oleh janinnya.

Dr. BE: “Jadi bagaimana definisinya?

U: “Kehamilan risiko tinggi adalah kehamilan yang disebabkan oleh ibu dan janin sehingga membahayakan kehamilan.”

Dr. BE: “Jadi, hanya membahayakan masa kehamilan saja?”

U: (lah ditanya lagi, berarti ada yang salah) “Mmm.. tidak Dok. Masa kehamilan, persalinan, dan nifas.”

Dr.BE: “Jadi definisinya bagaimana?”

Singkat kata, akhirnya definisi kehamilan risiko tinggi ini benar. Hahaaha.. Masih banyak pertanyaan ujian lainnya yang akhirnya berbelit-belit dan parahnya, dr. BE dengan kekuatan bulan hanya tersenyum. Senyuuuum. Mau kita jawab salah, mau kita jawab benar, senyum selalu. Yang penting memang pada ujian lisan semacam ini, kita mengetahui apa kemauan penguji. Seperti cenayang. Seperti dari hati ke hati.

Dari mana kita mengetahui? Bertanya kepada koas putaran sebelumnya yang ujian dengan beliau juga dong. Kebetulan, dosen ini menyukai seseorang yang menjawab pertanyaan dengan halus dan sopan ala Jawa, kalau memang tidak bisa bahasa Jawa, setidaknya ketika menjawab “Ya”, diganti dengan “Inggih”. Selain itu, penampilan harus rapi dan wangi, maka setidaknya dr. BE langsung cespleng melihat diri kita ketika kesan pertama.

Ada lagi kisah ujian lisan lainnya. Meskipun bukan pengalaman saya sendiri, tetapi saya agak terbelalak ketika itu, salah seorang teman saya keluar kamar bersiap terburu-buru untuk pergi ke rumah sakit jiwa untuk ujian lisan dengan salah satu dokter jiwa perempuan. Teman saya berjilbab polkadot kuning merah hijau, dipadu dengan kemeja biru bergaris-garis, dan rok kotak-kotak biru. Sangat mencolok sampai-sampai mata perih melihatnya! Gatal mulut ini, akhirnya kusapa, “Woy Mbak, mau kemana? Yakin kamu dengan outfit itu?”

Temanku menjawab, “Huhuhu mau gimana lagi, Pen, aku mau ujian jiwa.”

Aku masih heran, “Memangnya ujian jiwa harus sebegitunya bajunya? Atau bajumu belum kering sehingga sekarang memakai sisa-sisa baju?”

Temanku menjawab lagi, “Bukan Pen, ibunya yang mau nguji aku itu, beliau punya masa lalu buruk, suaminya selingkuh dengan koas, sehingga ibunya gak mau melihat koas berpenampilan lebih cantik dari beliau, bahkan kalau bisa, baju yang tabrak warna justru akan mendapatkan prognosis baik pada ujiannya.”

“Mosok sihhhh?” Saya tidak percaya.

“Iya serius, Pen. Pernah si A dipulangin lagi loh, karena warna jilbabnya sama dengan warna jilbab ibunya. Terus si A juga bedakan. Kalau bisa kita tidak menyamai warna jilbab ibunya, dan jangan sekali-kali kamu berani pakai bedak. Justru, nggak mandi akan lebih aman untuk ujian dengan beliau.”

Lalu temanku berangkat dengan kostumnya yang pasti mencengangkan seisi rumah sakit jiwa.***IMG20150604103528

Camera 360

Kita adalah satu dari berjuta-juta sprema yang akhirnya berhasil membuahi sel telur dalam rahim ibu.  Tahukah bahwa selama kita di dalam perut ibu, kita berenang-renang di dalam pipis kita sendiri *red: ketuban*

Ketika masih di dalam perut ibu, mungkin kita belum tahu kita ingin menjadi apa, tetapi sebenarnya jalan yang lurus telah terbentang, disiapkan oleh Sang Pencipta agar kita menjadi manusia yang berguna. Tetapi pada perjalanannya, banyak manusia yang menikung, tidak mengikuti jalan setapak itu. Apakah Tuhan masih menyayangi kita yang menikung? Ya! Tentu. Dengan diberinya hidup, nafas, udara, air, pepohonan, awan, langit biru, gunung, pantai, laut, semua yang dianugerahkan di dunia ini kepada kita yang menikung, justru kita harus malu bila melupakan-Nya, apalagi kalau sampai hati kita mengeluh atas kehidupan ini, apalagi mengumpat.  Passionku adalah membantu sesama. Menjadi dokter adalah sarana menuju passionku :’), menjadi penulis adalah media untuk menyalurkan pengalamanku dan mengasah nuraniku, dan aku yakin, inilah jalan lurus yang telah disiapkan-Nya atas diriku. Lalu, apakah kamu sudah menemukan passionmu, jalan lurusmu, keyakinanmu? J

Memaknai perjuangan seorang ibu. Untuk mamaku: Yuliawati. Beberapa waktu terakhir, saya membantu persalinan dengan vacuum. Beruntung sekali mengetahui awal proses kedatangan insan ke dunia. Dulu, saya juga divacuum. Kontraksi rahim ibu kala itu sudah melemah untuk mendorong seorang bayi keluar ke dunia. Ibu saya ketika itu anemia. Proses persalinan membuat ibu kehilangan cukup banyak darah. Dari situ saya memaknai, begitu berarti perjuangan seorang ibu. Vacuum merupakan suatu cara untuk membantu persalinan pada ibu yang tidak terlalu kuat untuk mengejan tetapi masih ada kekuatan kontraksi rahim. Vacuum merupakan instrumen persalinan, semacam alat penyedot yang memompakan dengan tekanan negatif ke kepala bayi sehingga selain didorong keluar oleh ibu, bayi juga ditarik oleh penolong.

Semakin sering melihat dan menolong persalinan, diri ini semakin memaknai apa arti wanita ada di dunia ini. Tak hanya sekedar menjadi penghias, tetapi lebih dari itu, kehadiran wanita adalah melestarikan ciptaan-Nya.  Proses persalinan bukanlah hal yang mudah untuk dilewati. Tak terbayangkan sakitnya perut ketika berkontraksi. Sembari menahan sakit karena kontraksi, menunggu bukaan lengkap dari jalan lahir juga bukan proses yang instan, butuh waktu berjam-jam. Ketika kepala bayi telah tampak menyundul keluar, tak jarang dilakukan pemotongan (episiotomi) untuk melebarkan jalan lahir. Bukan kepalang perihnya perineum ketika dirobek untuk jalan lahir. Tetapi tangisan bayinya seolah seperti anestesi alami, mampu menghapuskan rasa sakit itu. Ketika itu, 23 tahun yang lalu, diri ini dilahirkan dengan cara yang sama. Vacuum. Minggu pahing, 23 Juni 1991, bertepatan dengan Idul Adha. Bersahutan dengan adzan, mengucapkan terimakasih pun tidak, bayi tersebut hanya menangis, dan ibu, yang sudah kesakitan, kehilangan banyak darah, bahkan mempertaruhkan nyawanya, masih bisa tersenyum, hanya dengan suara tangis anaknya.

Sekarang di sini, bayi itu sudah menjadi seorang dokter muda, berusaha memahami kehidupan dari sudut pandang matanya yang kecil. Menulis, selain mengabadikan kenangan, juga mengasah hati. Ternyata kehidupan ini membawa damai ketika kita berusaha memaknainya. Tak lupa, di samping melakukan apa yang seharusnya dilakukan penolong persalinan, kusisipkan doa untuk bayi yang baru lahir ke dunia. Semoga bayi ini kelak menjadi anak yang berguna bagi keluarganya, nusa, dan bangsa. Mampu memberikan senyum kebahagiaan kepada ibundanya, sama ketika tangisan pertama kelahirannya di dunia ini.  Terimakasih, Mama.***

 

Apalah arti semua waktu yang saya buang dalam hidup, kalau pada akhirnya proses yang saya tempuh adalah hal semu dan bukan esensi hidup yang sesungguhnya. Menjadi dokter, bisa saja suatu nikmat yang tiada tara, menolong orang sakit, menerapkan ilmu yang dipelajari seumur hidup untuk menanam pahala di usai kehidupan dunia ini.  Meski sekarang dokter semakin dicemooh banyak orang karena kisah malpraktik yang digembung-gembungkan media massa, tetapi dalam kisah hidup saya sendiri, saya menikmatinya. Semakin menantang.

Lain dengan Tuhan.  Tuhan bukan untuk ditantang. Pemandangan kehidupan dan kematian, penderitaan dalam hidup, putus asa, dan hilang arah, merupakan konsumsi sehari-hari. Itulah yang membuat diri semakin ingin dekat padaNya.

Apakah kedamaian itu?

Apakah kedamaian itu ada dalam kehidupan saya yang sekarang?

Apa yang Tuhan inginkan atas kehadiranku di dunia?

Mengapa ada orang-orang yang dilahirkan dengan cacat fisik?

Manusia diciptakan serupa dengan Tuhan. Lantas, Tuhan bercacatkah? Atau ada makna di balik kecacatan itu?

Bagaimana kehidupan kita setelah kematian?

 

Jawabannya ada di dalam kehidupan ini jika memang kita jeli untuk menyimak. Tak perlu susah payah mencari. Singkatnya waktu kehidupan di dunia sudah didesain Tuhan untuk cukup mempersiapkan akhirat. Bahagialah ketika kita bisa memanfaatkan waktu seoptimal mungkin. Setiap detik adalah belajar. Menyedihkan, nista manusia yang tidak menginginkan kehadiran anaknya akhirnya memilih jalan pintas.  Entah apa sekarang manusia merasa menjadi tuhan? Merasa berhak memusnahkan kehidupan dalam rahimnya, menukar nyawa 1 janin dengan kelangsungan kehidupan duniawi, entah atas alasan ekonomi ataupun karena memang malu.

Bahagialah ketika kita bisa memanfaatkan waktu seoptimal mungkin. Setiap detik adalah belajar. Menyedihkan, nista manusia yang tidak menginginkan kehadiran anaknya akhirnya memilih jalan pintas. Entah apa sekarang manusia merasa menjadi tuhan? Merasa berhak memusnahkan kehidupan dalam rahimnya, menukar nyawa 1 janin dengan kelangsungan kehidupan duniawi, entah atas alasan ekonomi ataupun karena memang malu. Kian maraknya obat-obatan aborsi yang dijual bebas dengan harga yang mahal tetap saja mampu dibeli. Sekedar informasi, obat-obatan itu adalah obat biasa yang di apotek harga 1 tabletnya hanyalah 6000 perak, tetapi dijual di dunia maya mencapai angka ratusan ribu, bahkan jutaan.. Sadarilah, selain memiskinkan kantong, hal itu juga memiskinkan hati dan mengikis sisi kemanusiaan kita. Tuhan yang Maha Pemilik Kehidupan. Niat membunuh pun, jika Tuhan masih menghendaki ada nafas kehidupan pada janin itu, bukan hal sulit bahwa janin tetap hidup. Tetapi, apakah kehidupan janin itu akan sama? Tidak. Kecacatan pada kehidupan sang janin akan dirasakan seumur hidupnya. Cacat yang dibuat sendiri oleh kesengajaan dan keserakahan ibunya. Kesempurnaan yang dirusak oleh tangan manusia sendiri. Mungkin sekalipun aborsi berhasil menipu dunia dengan “menyembunyikan” 1 nyawa, jauh di lubuk hati yang paling dalam, rasa bersalah tetaplah ada, dosa itu tetap ditanggung seumur hidup, yang nanti dipertanggungjawabkan di akhirat, rahasia besar yang dibawa oleh ibu yang mengandung anak, yang seharusnya dapat menjadi berkah malah berbuah resah.

Siklus kehidupan tetap menyeret dokter di dalam kisah ini. Dokter sebagai orang yang membantu membersihkan rahim apabila terjadi perdarahan pada ibu, bahkan koma, dan meninggal. Bukan hal janggal. Aborsi dapat menyebabkan peluruhan janin dalam rahim menjadi tidak sempurna. Sisa janin yang masih tertinggal dapat menyebabkan perdarahan kehamilan yang tidak diinginkan menyisakan duka sekaligus pedih. Luka batin entah sampai kapan dipulihkan. Sisa janin hanya bisa dibersihkan dengan bantuan medis. Tetapi luka batin? Lalu apa yang akan kita lakukan sebagai seorang dokter ketika mendapati pasien seperti ini? Apakah memarahi ibu tersebut? Apakah mendiamkan dan hanya mendengarkan anamnesis dari ibu tersebut? Atau, mungkin menurut saya ini yang paling benar: menegurnya dan melihat tindakannya tersebut dari berbagai sisi. Kalau dianggap kriminal, ya memang iya, tetapi bukan wewenang dokter untuk melaporkan kepada yang berwajib. Semua kisah apapun yang dipercayakan pasien kepada kita. terlepas dari itu, kembali ke esensi kehidupan: apakah kedamaian itu? Apakah maksud Tuhan untuk menghadirkan kita ke dunia? Jawabannya ada di hati kita masing-masing.