DOCTOR'S SECRET

Young Doctor. Struggling to make others smile

Category : doctor secret book

Terkadang

Terkadang rasanya ingin menghilang
Menempati tempat baru
Di mana orang tidak mengenal
Di mana semua orang bisa kita beri senyum
Dan membalas senyuman kita dg tulus
Tanpa terpikirkan siapa kita dan apa maksud kita

Terkadang ingin rasanya menjadi orang lain
Yang berbeda dengan segenap peninggalan beban hidup
Berjalan satu tuju ke tempat baru
Dengan impian yang ternyata pupus
Ketika dihadapkan pada tembok kenyataan

Terkadang ingin rasanya ku tak miliki jantung
Karena rasa berdebar yang sangat kencang ini
Tak bisa aku kontrol dengan segenap genggam tangan
Hingga keringat dingin mengucur
Dan sesak ini muncul

Terkadang aku lupa
Bahwa banyak orang yang ingin menjadi sepertiku
Satu muara permasalahan hidup
Sebenarnya bukan pada melarikan diri
Namun dihadapi dengan senyuman

Lebaran KEDUAKU

lebarannn

Memori dan emosi dalam foto masih terasa, aku merasakan rasanya sungkeman, bersilahturahmi, memberi dan saling berbagi, didoakan dan mendoakan, memohon maaf dan memaafkan.. Semua terasa baru bagiku.
Bahkan aku harus menghapalkan dulu teks omongan yang kira-kira berbunyi begini “Pak/Bu/yang/pakdhe/budhe, kulo ngaturaken sugeng riyadi, sedoyo kalepatan kulo, kulo nyuwun pangapuro. Kulo nggih nyuwun donga pangestunipun nggih…”

Eaaaaa.. seketika diberikan wejangan balik dalam bahasa jawa alus juga. Ya tinggal disauri “nggih nggih” .. “matursuwun”

Maklum peranakan sunda-cina sm jawa jd di rumah pake bahasa inggris buahaha. Ora ora. Pake bahasa indonesia
Lebaran pertama, karena seisi rumah sakit tempat aku Koas masih menganggap aku Non-Muslim, alhasil, aku malah berjaga di hari raya. Iya, betul, mana ada rumah sakit yang libur di hari raya bukan?

Lebaran pertama emang agak kelam dan suram. Namun, di lebaran kedua ini, selain aku mendapatkan berkah bisa merayakan di kota asalku (karena calon suamiku berasal dari kota yang sama dengan diriku), aku juga pada akhirnya merasakan bahwa dekat dengan keluarga sendiri itu nikmat.

Meskipun mama dan papaku tidak merayakan Idul Fitri sepertiku. Meskipun mereka tidak mengucapkan sepatahkatapun yang berbau selamat hari raya untukku, bagiku diamnya mereka sudah cukup mengiyakan keputusanku ini.

Susah?

Ya susah. Mualaf kok.

Hehehe bahkan aku sudah biasa jika salat ied harus bersalaman dengan orang yang tidak aku kenal, salat ied berangkat sendiri, salat tarawih juga berangkat sendirian.

Yang penting kan dalamnya hati.

Dalamnya hatiku hanya Allah yang tahu.

lebaran

Lebaran keduaku kali ini alhamdulilah seru.. semoga kita bertemu lg di idul fitri selanjutnya dalam keadaan yg lebih baik, hati yg lebih baik..

Terimakasih Allah…

#SECRET 12: ORANGTUA

 

 

Sebagai dokter muda, beberapa hari terakhir fisik begitu lemah, sakit sering menyerang. Jam terbang di Rumah Sakit semakin tinggi, mengindikasikan akan mendapatkan lebih banyak ilmu pengetahuan sekaligus pengalaman kehidupan. kali ini bukan kisah yang luar biasa. Hanya seorang ibu, seumuran ibuku, tergeletak lemah di tempat tidur rumah sakit. Pagi itu pukul 4. Bau kotoran BAB manusia menyerbak di ruangan kelas 3 bangsal penyakit dalam. Ternyata, ibu itu BAB tidak tertahankan dan mengotori tempat tidurnya. Sang suami dengan sabar membersihkannya. Ibu ini berukuran terlalu besar sehingga suami tak kuat mengangkatnya untuk jalan ke toilet. Maklum, sang ibu terkena suatu jepitan di syaraf tulang belakang sehingga kedua kakinya lemah, sangat susah untuk berjalan. Kulihat jari-jari kakinya sudah tidak ada, amputasi karena kencing manis 14 tahun yang lalu. Akhirnya, saya di sisi kiri ibu, suaminya di sisi kanan ibu, kami membawanya ke toilet, mmm, sambil menahan bau pup. Kira-kira proses jalan bolak-balik toilet-tempat tidur membutuhkan waktu setengah jam, padahal hanya berjarak 2 meter. Susahnya ibu ini menggerakkan kakinya.

Ketika pada akhirnya ritual ini selesai, sang ibu menangis haru, “Kamu baik sekali Nak, anak saya aja belum tentu mau melakukan hal ini…”

“Ah ya nggak juga ah Bu…”

“Anak saya itu mbak, sama2 di Semarang, tahu saya mondok opnam saja, jenguk pun nggak…”

Air mata berlinang lebih deras dari pelupuk mata sang ibu.

Hilang sudah bau eek itu, hilang sudah rasa jijikku, tergantikan air mata sang ibu ini. Seringkali, bahkan setiap saat, aku mengingat kedua orangtuaku di rumah, yang bahkan belum tentu kusentuh dan kusapa setiap hari. Ya Tuhan, jagailah orangtuaku selalu. Berikan mereka kesehatan. Maafkan diriku yang tidak bisa setiap hari ada bersama mereka..***

 

Family can be found anywhere and with anyone at the end of the day

 

Pengawasan pasien persetengah jam. Amanah yang diemban dokter muda ketika jaga bangsal. Entah ada berapa puluh pasien.  stase penyakit dalam penuh dengan beragam penyakit dan bermacam pengawasan. Pengawasan pasien berarti kita mengawasi tekanan darah, suhu, denyut nadi per menit, laju pernapasan per menit. Tetapi nun jauh di sana, ternyata keluarga sendiri bahkan tidak terjamah. Ibumu demam. Ayahmu terjatuh di rumah. Adikmu sakit batuk. Bahkan kita, dokter muda, sampai tidak sempat mengikuti kondisi keluarga sendiri, tertutup oleh kewajiban formalitas dunia pendidikan yang mengharuskan jaga rumah sakit. Rasa rindu itu menyeruak, yang beruntungnya didekatkan dengan kemajuan media teknologi. Tetapi lain cerita ketika suatu pagi buta sekitar pukul 3, salah seorang sahabat seperjuangan saya menangis pilu, membuat siapa saja yang melihat keceriaannya selama ini luluh lantak dan heran, kok bisa sih kamu nangis kayak gitu? Yakinlah, ketika itu sahabat saya sedang melakukan pengawasan pasien. Tangannya masih menggenggam tensimeter dengan stetoskop terkalung di lehernya. Di sampingnya terbaring pasien hipertensi emergensi karena gagal ginjal kronik. Hapenya baru saja berbunyi. Mengabarkan kabar duka dari rumahnya nun jauh di sana: ayahnya meninggal.

Bagaimana bisa? Pasien yang dengan telaten diawasi dan dijaga, tapi justru keluarga sendiri, ayahnya sendiri, pergi untuk selama-lamanya? Hidup penuh misteri. Tetapi, dari sini kami belajar apa arti keikhlasan, apa arti pengorbanan,

Pukul 3 dini hari. Masih dengan baju jaga shift malam, masih dengan membawa stetoskop dan alat2 lain, sahabat saya harus berangkat pulang kampung. Kuantarkan sampai terminal, tak kuasa saya ikut menangis melihatnya menangis sepanjang jalan. karena saya harus melanjutkan jaga hari itu, maka dia pulang sendiri, mengikhlaskan kepergian ayahnya untuk selamanya.***

 

Orangtuaku bukanlah seorang dokter, tetapi mereka adalah orangtua yang hebat yang mampu mendidik anak-anaknya menjadi anak yang pintar dan hebat. Ibuku seorang dosen pertanian, sedang menempuh pendidikan menjadi Dokter di Universitas Gadjah Mada. Ayahku seorang pensiunan dari Lembaga Swadaya Masyarakat. Dahulu ayahku menuntut Ilmu Tanah, sehingga beberapa kali setelah pensiun dari LSM, ayahku bekerja di perusahaan pertambangan, tetapi jauh dari rumah, dan itu menyedihkan.

10937337_1402895220005684_45223814_n

Ayahku, adalah orang yang sangat menyayangiku. Setelah beliau benar-benar pensiun dari pertambangannya, beliau banyak menghabiskan waktu di Salatiga, kota asalku, tetapi, jauh dari itu, ayahku sering bermain ke Semarang, hanya sekedar untuk makan bersamaku, atau berbincang ringan, tak lama, hanya 3 jam maksimal.

Jarang bertemu ayah, membuatku menyadari perubahan-perubahan yang ada pada dirinya.

Yang aku lihat..

Guratan wajah tua dr orang yang kusayang..

Guratan kesedihan dr orang yang mengasuhku ketika kecil..

Wajah itu..

Ayahku..

Terimakasih atas didikanmu

Doakan ya ayah..

Agar anakmu ini

Menjadi orang yang berguna

Cerdas dan bermartabat..

Kebahagiaanku

Adalah membuatmu bahagia

Hai ayah..

Terimakasih atas waktumu

Meluangkan waktu untukku

Berkemudi seorang diri

Melintasi jalan di malam hari

Sepulang lelah berkeringat seharian..

Ayah..

Semoga engkau selalu sehat

Selalu bahagia

Dan bangga memilikiku

Anakmu

Dulu, sekarang, dan sampai kapanpun :’)

10369884_1391347431160463_1331160893900351742_n

Orangtuaku adalah orangtua yang hebat. Ibuku, dengan kesabarannya, ketika kehamilan pertamanya yang mana isinya adalah ternyata aku, ibuku sedang menempuh pendidikan master alias S2 di IPB Bogor. Tetapi, kecintaannya kepada anak-anaknya lebih besar daripada keutamaan karirnya. Ibuku meninggalkan S2-nya, lalu mengurus anak-anak, dan kembali memilih menjadi dosen. Pendidikan masternya dilanjutkan kembali ketika aku sudah mandiri, yaitu ketika aku SD.  Menunda apa yang menjadi keinginannya selama 12 tahun, merupakan penantian sabar seorang ibu.  Ibuku dahulu bercita-cita menjadi dokter. Bukan hal yang mudah untuk melepas keinginnya terbentur dengan biaya keluarga.  Alhasil dengan kecerdasannya, ibuku masuk dengan mudah dan tanpa biaya ke Institut Pertanian Bogor (IPB), dan cita-cita dokternya itu, tersimpan lama, dilanjutkan oleh anaknya, yaitu diriku, dengan segenap perbaikan generasi. Orangtuaku dengan darah peluhnya sendiri, mampu membuktikan keberhasilannya dalam mendidik anak-anaknya. Adikku, yang juga hebat, hanya berjarak 1 tahun denganku, dan kini, menempuh pendidikan sarjana Teknik Mesin di Yogyakarta. Sungguh, dari sini tampaklah berkah Allah kepada keluarga kami.

 

Ada suatu kisah…

Kisah Tenzing Norgay, Pemandu Sir Edmund Hillary Penakluk Puncak EVEREST pertama kali:

Begitu turun dari puncak Everest, banyak wartawan mewawancarai Sir Edmund, dan hanya satu wartawan yang bertanya pada pemandunya Tenzing Norgay. Maka, ketika ia ditanya, Tenzing pun menjelaskannya secara gamblang dan menunjukkan sikapnya sebagai seorang pemandu yang rendah hati.

“Sebagai pemandu (Sherpa), mestinya Anda yang lebih dulu menginjakkan kaki di puncak Everest,” tanya wartawan.

Tenzing menjawab; “Betul, sebagai pemandu saya ada di depannya. Tapi, tinggal selangkah lagi mencapai puncak, saya mempersilahkan Edmund untuk mendahului saya.”

Wartawan ini bertanya lagi; “Mengapa hal itu anda lakukan?”

Tenzing menjawab; “Itu impian Sir Edmund, bukan impian saya,” ujarnya merendah.

“Impian saya adalah membantu orang lain untuk mencapai cita-citanya”.

Ya itulah orangtua, bahkan tidak ada keinginan lain selain melihat anaknya mencapai gerbang cita-citanya.

Orangtua hanya mengantarkan.

Maka, ketika kita mencapai puncak Everest itu, janganlah lupa dengan jasa orangtua. Kita tidak tahu betapa sulitnya, betapa terjalnya tebing yang telah mereka hadapi. Lantas kita terbang ke langit ketika telah mencapai puncak? Tidak.

Selalu lihat ke bawah, selalu lihat apakah ada yang membutuhkan. Selalu peduli pada orangtua.

 

Ini ditujukan kepada calon anakku nanti.

anakkuuuu

Kira-kira  anakku nanti seperti ini ^^ persis calon bapaknya lahhh..

 

Bukan untuk siapapun.

Kecuali yang tidak sengaja membaca dan mungkin tidak akan mengubah apapun dalam hidupm, pembaca.

Sebab ini hanyalah dilema antara hatiku dan pikiranku bahwa apa yang aku jalani selama ini teryata  hanyalah karena keinginan sesaat. Aku ingin menjadi dokter hanyalah keinginan sesaat. Tetapi namanya penyesalan ternyata tidak bisa semudah itu dipikirkan. Karena setelah memikirkan penyesalan selalu ada penyesalan selanjutnya. Penyesalan “kenapa aku harus menyesal, kan udah dijalani”

Lihatlah, di saat teman-temanku mengenyam gelar S2, aku bahkan baru merentas “AKAN” menjadi dokter. Terlalu lama sekolah, sebenarnya aku pun sudah ingin memanjakan orangtuaku dengan uang-uang yang bisa aku kembalikan kepada mereka. Meksipun ketika mereka sakit, aku tahu obat yang tepat untuk mereka, ketahuilah Anakku, bahwa ketika itu, justru dirimu tidak mampu mengawasi dan merawat diri mereka sendiri karena dirimu bukanlah hanya milikmu. Dirimu adalah untuk pasien-pasienmu, untuk masyarakat luas.

Apa yang orang katakan di luar sana Nak? Ketika dokter mengeluhkan SEDIKIT saja apa yang dirasakan, pasti ada selentingan “Dokter itu mengabdi!”

Ya tapi dokter kan punya keluarga juga, dokter juga bisa sakit, dokter juga bisa merasa sedih. Apa iya harus terus tersenyum terus kepada pasiennya? Jawabannya IYA! Lelah loh tersenyum terus, apalagi ketika diri ini merasa ingin menangis karena lelah atau kesakitan.

Dokter tidak selamanya harus kuat selalu, Nak. Tetapi untukmu Nak ibu akan terus kuat, kuat, dan kuat. Berjuang dan berjuang.  Dan pada akhirnya kamulah sumber kekuatan ibu sehingga ibu tidak akan lelah tersenyum.

Tetapi, alih-alih menjadi dokter, kamu bisa mendapatkan masa depan yang lebih cerah Nak. Menjadi pengusaha, menurut ibu adalah solusi yang bagus. Usaha, asal kamu mau menggeluti, akan berkembang dengan pesat.  Atau politikus. Ubahlah negeri ini Nak. Ngeri ibu melihat pemberitaan dimana-mana, dan itu juga BELUM TENTU BENAR. Pahitnya dunia ini Nak.

Ibu pun, daripada mengambil keuntungan dari menjadi dokter, mengambil bayaran dari orang yg sakit, apalg di tengah maraknya BPJS dan tarif dokter yang konon hanya Rp2000 perpasien, ibu lebih memilih berbisnis BATU MULIA. Hahaha, semoga nanti bisa ibu wariskan bisnis ini padamu.

ibu ceritakan sedikit padamu. Sejak kecil ibu sudah suka berjualan. Pasti jualan ibu laku keras. Mulai dari kertas binder, sticker-sticker kesukaannya anak-anak SD, lalu ibu berjualan “selember kertas” yang kita sebut apa ya, “catatan sekolah” mungkin? Yang isinya PR-PR begitu. Ibu suka menciptakan uang sendiri, daripada harus meminta pada orangtua. SD ibu mendapat beasiswa karena selalu ranking 1, dan SMP ibu di sekolah negeri yang bisa dibilang murah sekali. Kakek dan nenekmu adalah pekerja keras yang bisa dibilang sebenarnya keluarga mampu juga, sehingga ibu sebenarnya bisa berkecukupan.

SMA, ibu di asrama, dan ibu mendapat beasiswa full. Padahal perbulannya jika kita membayar, 1,5 juta nak, dengan uang masuk 15 juta, yang pada jaman ibu SMA, itu sudah terbilang mahal nak. Hahaha. Lucu sekali aku memanggil NAK pada orang yang belum lahir.

Oya, tadi ibu berkata lebih baik menjadi pengusaha eh? Ya memang Nak, pengusaha, bahkan Nabi saja mengajarkan untuk berdagang. Tapi tidak dibenarkan menjadi dokter yang mendagangkan dokternya, sehingga dokter dan pedagang harus memiliki batasan tegas, atau nanti kita malah  “memeras” pasien kita.

Nak, ketika ibu menulis ini, sebenarnya ibu hanya ingin kamu tahu, bahwa menjadi dokter itu tidak mudah. Namun, menjadi dokter adalah profesi yang mulia, jika kita menjalankan dengan hati yang mulia. Ada seorang teman ibu, sahabat ibu malah, yang mungkin belum menyadari rasanya MULIAnya profesi ini, sehingga dia menjalankan dengan setengah hati. Tidak berpkir bahwa nanti selagi bekerja, kita bisa menabung amalan untuk nanti di akhirat. Maka, di dunia ini tak semuanya ditabung dengan UANG. Yang terpenting adalah kehidupan setelah mati ini Nak.

Entahlah. Ibu baru saja mengalami kecelakaan, sesungguhnya ibu hanya retak pada jari kanan ibu, dan luka-luka lecet di wajah. Namun, ibu tidak percaya diri untuk pergi keluar. Alhamdulilah, ternyata salat itu tidak harus wudhu, bsa hanya bertayamum, dan ibu melakukannya: TAYAMUM. Karena luka-luka ini, sejatinya sebagiknya hindari dulu terkena air. Ibu sudah merindukanmu untuk datang ke dunia, Nak. Ibu hanya berpikir, apakah hari-hari akan terasa hampa seperti ini, seperti ibu merindukan kesembuhan. Karena jujur, ibu tidak bisa melakukan apapun pasca terjatuh dari motor 4 hari yang lalu.

Hahahah konyol, ibu berbicara pada sosok “anak” yang belum lahir. Tapi ibu janji akan membacakan ini untukmu kelak. Ibu akan berkata ketika ibu menuliskan ini, ibu berusia 24 tahun, dengan retak jari tangan kanan, muka penuh lecet.

I will miss your born in this world, my child.

 

Image44

hahhahaha aku rasa aku kenapa mesti mencantumkan ini? Karena gadget ibu remuk rusak pecah ketika ibu terjatuh dalam kecelakaan 4 hari lalu. Ibu masih tidak membayangkan, ibu terbanting beberapa meter dari motor dan hape ini juga, tapi alangkah beruntungnya Ibu karena tidak ada kendaraan yang menghantam ibu dari belakang, jika tidak? ibu jadi “manusia penyet”. Nah foto ini hanya pengingat saja, ibu pernah seperti ini HAHAHAHA.

Image50

Ini tanganku Nak. Alih-alih di gips, dasar dokter soktau, akhirnya aku elastic bandage saja. Hehehe…

Oya, ibumu ini sedikit gila, dan sedikit galak. Tapi ibu akan melakukan yang terbaik untukmu Nak. Ibu dulu pernah jauh sekali dari orangtua ibu, namunibu tidak akan jauh darimu Nak. Ibu akan menjagamu. Oya, ibu juga malu, ibu belum bisa mengaji. Ibu ingin belajar mengaji. Ah, sepertinya liburan ini saat yang tepat untuk ibu belajar mengaji supaya tidak malu nanti di hadapanmu.

Oke, doakan ibu ya dari langit sana, supaya ibu segera dianugerahimu, Nak, jiwa yang suci dan murni.

 

December 11, 2015 | Posted in Berita, berita-lengkap, news-nasional

 

DSC_4924 edit

Mahkamah Konstitusi (MK) akhirnya menolak seluruh permohonan uji materi Undang-undang no.20 tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran yang diajukan Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI). Ini berarti, Fakultas Kedokteran wajib menyelenggarakan program Dokter Layanan Primer (DLP).

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Lantas mengambil sikap untuk tetap tidak menerima pendidikan tersebut. Bahkan mereka akan mengambil langkah hukum lain dalam bentuk legislatif untuk tetap menjamin keberlangsungan kinerja dokter umum di layanan primer.

Setidaknya ada 3 Alasan utama IDI menolak program pemerintah tersebut, yaitu:

1. Kesepakatan Muktamar

Menurut Ketua Umum IDI, Prof Dr Ilham Oetama Marsis, SpOG pada wartawan, ditulis Jumat (11/12/2015) saat Muktamar ke 29 beberapa waktu lalu di Medan, perwakilan dokter di seluruh Indonesia secara mufakat telah menolak DLP.

“DLP akan memberatkan calon dokter dan dianggap merendahkan serta meragukan kompetensi dokter umum yang melayani di layanan primer,” katanya.

‎Menurut Marsis, kesepakatan di forum menganggap Perhimpunan Dokter Layanan Primer Indonesia tidak diakui sebagai Perhimpunan Dokter dibawah IDI. Hal ini akhirnya menjadi konsekuensi profesi yang diatur dalam Undang-undang nomor 20 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran dalam hal pengakuan dan rekomendasi izin Praktik serta merugikan masyarakat.

2. Sudah ada SDKI

Kata DLP telah ada dalam Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) 2012 sebelum lahirnya undang-undang Pendidikan Kedokteran. Dalam hal ini, SKDI telah disusun oleh PB IDI bersama Perhimpunan Dokter Pelayanan Primer (PDPP) yang terdiri atas Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI) dan Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) serta disahkan Konsil Kedokteran Indonesia.

Hal inilah yang menjadi landasan hukum atas pengakuan kompetensi lulusan dokter baru melalui Uji Kompetensi dan penjagaan kompetensinya lebih lanjut setelah 5 tahun melakukan praktik kedokteran melalui Pengembangan Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan.

Marsis mengatakan, dokter dengan SKDI dirasa cukup mengatasi masalah di layanan primer. Dengan adanya DLP itulah yang akan mengancam kompetensi mereka karena ada dokter umum dan dokter spesialis layanan primer.

“DLP apakah masuk spesialis atau umum, dalam. UU masih rancu. Sementara ada 80 ribu lebih dokter yang menjadi anggota IDI dan mereka menjadi gate keeper di Fasilitas Kesehatan Primer,” kata Marsis.

 3. Kurangnya Sarana dan Prasarana

‎IDI menganggap, DLP akan sulit berjalan karena kurangnya sarana dan prasarana, termasuk langkanya dosen Kedokteran di beberapa daerah terpencil. Belum lagi dengan kurangnya alat di Faskes Primer.

“Mengapa banyak orang lari ke rumah sakit dan malas ke puskesmas atau klinik? Karena disana tidak lengkap alatnya. Di sisi lain, bagaimana dokter umum mau pintar kalau d‎ia tidak pernah pegang alat EKG atau rontgen. Jadi kenapa bukan ini dulu dibenahi,” katanya.

‎Marsis menambahkan, saat ini yang jadi permasalahan bukan hanya kompetensi dokternya karena kompetensi mereka akan meningkat dengan sarana dan prasarana yang memadai.Tetapi ada 6 komponen yang saling berkaitan seperti sarana yang bagus, obat bagus, tersedianya alat kesehatan, ada tenaga media, pembinaan operasionalisasi serta tenaga medis yang kompeten.

Sumber : liputan6.com

Berdasarkan jurnal internasional, gerakan salat berpengaruh dalam mengatasi disfungsi ereksi. Disfungsi ereksi merupakan kondisi medis yang didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk memulai atau mempertahankan ereksi untuk kegiatan sanggama dan secara umum diklasifikasikan sebagai disfungsi ereksi psikogenik, organik, ataupun campuran psikogenik dan organik. Psikogenik adalah penyebab yang berkaitan dengan pikiran atau psikis, organik adalah penyebab yang berkaitan dengan anatomis atau fisiologis tubuh.

Banyak cara untuk menterapi disfungsi ereksi yaitu meliputi konseling psikoseksual, terapi dengan inhibitor PDE-5, medikasi oral, alat vacuum, terapi injeksi intrakavernosus (menyuntik penis), operasi vaskuler, dan penggunaan implan prostetik penis (memasang penis palsu). Pengobatan yang paling sering adalah meminum obat yang mengandung inhibitor PDE5, yang merupakan terapi awal untuk kebanyakan pasien dengan disfungsi ereksi. Terapi lain yang ipilih adalah senam otot dasar panggul, yang memang secara statistik memberikan efek yang menguntungkan untuk kasus disfungsi ereksi.

Pada penelitian ini, terdapat 10 sampel yang terdiri dari  7 orang Muslim dan 3 orang non-Muslim. Untuk 7 orang Muslim, mereka melakukan gerakan salat lebih banyak daripada salat wajib sehari-hari, dan dilakukan dengan gerakan yang perlahan (sesuai dengan anjuran Rasul, gerakan salat dilakukan dengan perlahan, tidak terburu-buru) sebanyak 12 putaran (12 rakaat) sehingga satu kali terapi membutuhkan waktu 30 – 36 menit, sedangkan 3 orang non Muslim memperagakan gerakan salat ini bukan untuk kepentingan ibadah, tetapi untuk kepentingan pengetahuan, yaitu “meniru” gerakan salat sebanyak 12 putaran selama 30 – 36 menit juga. Sepintas tampak sama antara grup 7 orang Muslim dengan 3 orang non-Muslim, namun, grup Muslim melakukan gerakan tersebut dengan pelafalan bacaan bahasa Arab, sedangkan grup non-Muslim tidak.

Selama 4 bulan penelitian, maka dilakukan pengukuran volume penis dengan menggunakan skor NEVA dan klasifikasi IEC. Terdapat peningkatan volume sebesar 2 kali lipat ukuran sebelumnya (222%), dengan nilai kemaknaan secara statistik p<0,05 (hasil bermakna), serta memperlama durasi kontraksi otot pada penis, dan ketika dibandingkan dengan senam otot dasar panggul (senam Kegel), gerakan salat memberikan hasil yang setara baiknya.

Hal ini terkait dengan kelancaran aliran darah yang meningkat dengan dilakukannya salat. Salat yang dianjurkan Rasul yaitu gerakan salat yang dilakukan dengan tidak terburu-buru, dan dengan memaksimalkan rakaat salat yaitu sebanyak 12 rakaat, terbukti melalui penelitian ini.

Masih mau meninggalkan salat? Efek kesehatan salat lainnya akan dibahas pada artikel selanjutnya. Yang jelas, Allah mewajibkan kita melakukan sesuatu padahal itu adalah untuk kebaikan kita juga. Syukron.

 

Sumber:

Ibrahim F, Sian Tee, Shanggar Kuppusamy, et al. Muslim Prayer Movements as an Alternative Therapy in the Treatment of Erectile Dysfunction: A Preliminary Study. Dari Journal Physical Therapy Scinence Sep 2013; 25 (9): 1087-1091.  Diakses [7 Des 2015] dari http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3818777/

 

gerakan salat

Angga Dwian Prakoso: Ulangtahun

Malam ini aku tulis khusus semua tentang Angga Dwian Prakoso.

Nggak apa-apa dong nyampah.

Hehehe memberi kepuasan diri di tengah kesibukan persiapan UKMPPD yang akan tiba 12 hari lagi (counting down the time).

Oke, Angga Dwian Prakoso.

Angga sendiri memiliki arti tubuh, atau anggota badan. Hal ini benar-benar mencerminkan dirinya yang berbadan tegap, kekar, tinggi, besar, dan aku selalu merasa bahwa Angga bisa melindungiku nanti dari apapun.. Angga juga orangnya sangat sabar, dan menyayangiku sepenuhnya.

Dwian artinya anak kedua. Memang, Angga adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Angga merupakan anak tengah-tengah, dan orangtuanya tentu sangat menyayanginya, dan sangat bangga kepada dirinya, termasuk pula diriku. Aku sangat bangga, dan aku sangat menyayanginya.

Prakoso artinya kuat. Yang ini terbukti banget, kuat bertahan menjalani hubungan denganku, sabar dan tetap sangat amat baik kepada diriku, tidak pernah berkurang rasa sayangnya. Rasa sayangnya begitu kuat. begitu kokoh.

Baru-baru ini, Angga Dwian Prakoso berulangtahun. Angga lahir 24 tahun silam, tepatnya pada tanggal 8 November 1991. Jujur saja, tua aku. Hahahaha. Aku lahir pada tanggal 23 Juni 1991, tetapi aku bangga pada Angga, karena Angga tidak menampakkan bahwa dirinya lebih muda dariku, bahkan memang secara fisik tampak lebih tua Angga wahahha. Bukan bukan, Angga belum beruban. Hanya saja, badannya sangat besar, bongsor, tetapi keren, atlet renang dan sepak bola. Kadang-kadang bisa juga jadi atlet pulau kapuk. Kalau tidur ilernya kemana-mana. Basah semua. Nooohh bajuku pernah jadi sasaran ilernya gegara tidurnya di pundakku.

Angga sangat suka berolahraga. Lama sudah tidak bermain sepak bola, kini angga merambah ke dunia tani. Kini Angga menanam padi di sawah, bersama Gopro barunya. Tapi aku bohong. Yang benar adalah: Angga sekarang suka futsal, sampai-sampai kalau futsal, aku ngambek. Karena Angga bagaikan hilang ditelan bumi kalau futsal! Iya, benar, ga ada kabar gitu. Ilang peeet udah ilang iya ilang.

Sepatu futsalnya ada banyak. Kata Angga, “Ini sepatu futsal untuk lalala, fungsinya memutar bola agar lebih lilili” (sejujurnya aku kurang paham sih di bagian lalalala dan lilili nya. Lalu untuk sepatu futsal lainnya, “Kalau yang ini untuk pemain tengah, sepatu ini fungsinya akan membantuk lari karena lalala lebih ringan.”

Entahlah, futsal itu benar-benar dunianya.

Aku dan Angga sama-sama pecinta musik. Aku suka bernyanyi, Angga pun juga. Sehingga kalau karokean, kita sok-sok duet gitu. Tapi lebih asik lagi kalau ngejam bareng, secara aku suka banget main piano, dan Angga bisa banget main gitar, dan dia juga bisa main piano. Asik kan? Enggak. Kenapa? Karena kita orangnya sukanya rebutan. “Eh lagu ini aja!” “Jangan dong yang, lagunya yang ini aja” Atau misal udah sepakat lagunya apa, nanti tau-tau, “Ihhh aku aja yang main piano, aku bisa kok!” “Enggak, aku tau kuncinya, sini aku aja, sayang yang nyanyi!!”

Plis deh hahahahaa. Terus misalnya udah nyanyi sampe tengah, reff sekali, terus salah satu dari kita ada yang bilang gini “Ih lagunya ngebosenin, ganti yuk” “Iya yuk ganti aja.” Akhirnya ganti lagu, dan debat lagi deh untuk menentukan lagu selanjutnya.

Apa yang paling aku sukai? Hmmmm.. Angga itu patuh banget sama mama papanya. Aku suka itu. Mama papanya adalah everything untuk Angga, dan aku sangat mengagumi. Bahkan, dia selalu memikirkan kebahagiaan mama papanya, entah dari gajinya ini selalu dipikirkan mau beliin mama papa apa yaaa.. ^^

Yang aku sukai lainnya adalah, puasa Daudnya jalan terus. Salatnya selalu tegak. Dan selalu mengajariku berbuat hal-hal yang baik dan benar, seperti, tidur tepat waktu, jangan tidur molor kayak gini ini. Ya gapapa, namanya juga kelelawar malam, udah lama ga blogging, pengen banget nulis tentang orang yang disayang. Saking Angga rajin banget puasa Daud, aku bertekad akan menamai anakku dengan nama Daud. Tapi ya betenya sih, kalau misal ketemuan, terus weekend gitu ya, terus Angga cuma makan misal hari Sabtunya, atau hari Minggunya doang. Sisanya aku krik krik krik kemana-mana makan sendiri, minum sendiri, Angga hanya menemani.

Yang aku sukai lainnya? Angga bisa tahu isi hatiku tanpa harus bertanya lebih dalam. Ya bisa dibilang peka lah. Padahal ya aku udah berusaha menutupi, misal aku bete sama dia, eh dia malah nanya, “Kenapa sih yang, kok beda?” “Marah ya yang?”

Padahal aku udah berusaha nahan, tapi karena didesak-desak, jadi meledak deh. Pernah nih ya, saking aku marah banget sama dia, dia bilang “Pukul aja aku, kalau kesel pukul aja aku!!!”

Ya karena kesel, aku pukul beneran deh, terus bajunya aku tarik kerahnya, ehhhhhhhh, kancing bajunya lepas semua, terus bajunya robek. Yassalam, tenagaku yang kuat atau bajunya yang lemah? Haduhhh.. Terus aku nyesel banget, dan sekarang aku ga mau menggunakan lagi ototku untuk kekuatan yang alay kayak gitu.

Angga itu, dulu aku kenal pertama kali setelah dia baru aja supitan. Kayanya perban supitnya masih nempel deh di tititnya ahhahhaahhaa.. Tapi aku ga liat sih, soalnya waktu itu masih pake baju merah putih. Ospek. SMP. Seru banget. Aku kan dari SD Kristen, yang mayoritas orang-orangnya chinese, dan ketika aku melihat mahluk manis yang ga pernah aku lihat sebelumnya, yaaaa aku suka deh. Monkey love. Eh, ternyata dia juga suka sama aku.

Yang aku suka lagi dari Angga Dwian adalah, Angga bisa mengingat setiap detail yang aku pakai, aku lakukan, aku capai, ketika SMP. Misal, dia ingat ketika aku dihukum di lapangan upacara tengah hari, ga boleh ikut pelajaran, karena aku pakai tato temporer dari Bali. Hahahaha. Terus dia juga inget, dulu waktu SMP aku ditaksir sama orang yang namanya sama dengan dia, dan aku malah jadian juga sama cowo itu.

Hahahaha.

Ha.

Ha.

Yang aku ingat dari dia adalah, Angga manis ganteng, tapiii… sukanya mengejekku dengan sebutan “Mbok Jamu” karena pantatku yang besaaar. Padahal aku belum segemuk sekarnag waktu SMP, itu aja pantatku udah besar. Jadi ya wajar ya kalau sekarang juga lebih besar hahahahaha…..

Seringkali pertanyaan mendasar adalah, “Kok mau sih Angga sama aku?”

Hahaha terus dia simpel aja, “Sayang kan first love ku.”

Ceileeeeeee. Susah ya. Padahal Angga ganteng, bisa cari yang cantiknya flawlesss. Cetar. Aku mah biasa aja. Eh terus Angga bilang, “Aku suka kamu tanpa make up atau riasan muka, lebih alami, dan memang cantik seperti ini, apa adanya.”

Nahhhh ini nih, cowo yang bener ya yang suka cewe tanpa riasan muka. (hahaha biar akunya juga ga repot beli kosmetik sana sini lah ya)

Semoga Angga tetap menjadi Angga yang seperti ini, yang menyenangkan, soleh, dan sayang sama aku apa adanya.

Terimakasih telah menjadi bagian dari hidupku…

Selamat ulangtahun Angga Dwian Prakoso! Kesukesan akan selalu mengiringi!!!

 

10991202_942975819046083_5466935426163463656_n

-Ursula Penny Putrikrislia- follow twitter: @ursulapenny

follow instagram: @ursulapenny

 

bee-honey-8171343

Lama sekali saya tidak menulis. Mungkin gaya bahasa saya agak kaku, tapi lupakanlah, di sini saya mau berbagi suatu info saja..

Sejak dahulu Ibnu Sina, alias Avicenna, Bapak Kedokteran Dunia, telah mengulas khasiat madu dari segi kesehatan dan kedokteran.  Infeksi bakteri tak lepas dari kehidupan umat manusia. Bakteri, jamur, dan virus ada di mana-mana, dalam bentuk yang tak tampak oleh mata. Namun, keberadaannya dalam jumlah tertentu akan mempengaruhi keseimbangan tubuh manusia sehingga pada titik tertentu akan menyebabkan penyakit.

Semua mikroorganisme tersebut merupakan suatu tantangan bagi umat manusia untuk dilawan dan dicari cara membasminya, salah satu contoh misalnya untuk mikroorganisme bakteri, manusia dengan segenap akal yang diberikan Allah, mencari dan meneliti antibiotik untuk membasmi bakteri. Namun, penggunaan antibiotik seringkali disalahgunakan oleh manusia lainnya, mengingat mudahnya mendapatkan antibiotik di apotek, tanpa memandang betapa sulitnya menemukan satu antibiotik sehingga menyebabkan antibiotik tertentu kini sudah tidak adekuat lagi membasmi bakteri. Kini resistensi bakteri terhadap antibiotik kian bertambah pesat, tidak sebanding dengan kecepatan ditemukannya antibiotik jenis baru.

Pada pertemuan ilmiah ke-27 dari American Chemical Society (ACS), suatu pendekatan baru untuk mengatasi resistensi antibiotik dibahas di sana. Kini para ahli mulai melirik penggunaan madu dalam mengatasi resistensi antibiotik. Profesional medis menyatakan bahwa madu seringkali berhasil mengatasi infeksi pada penggunaan topikal (oles) pada luka, dan madu dapat berperan besar dalam melawan infeksi. Namun hal ini masih diteliti lebih lanjut.

Sejauh ini, substansi yang terkandung pada madu mampu membuktikan bahwa infeksi bakteri dilawan melalui berbagai tahap, tidak seperti antibiotik kimiawi pada umumya, di mana bakteri dilawan hanya melalui satu atau dua tahap. Misalnya, antibiotik amoksisilin, melawan bakteri dengan cara menghambat biosintesis dinding bakteri, atau clindamycin yang menekan sintesis protein untuk perkembangbiakan bakteri dengan berikatan dengan salah satu DNA bakteri, sedangkan madu, dapat bekerja melalui semua proses tersebut. Hal ini disampaikan oleh pemimpin penelitian ini yaitu Susan M Meschwitz, PhD.

Apa yang terkandung di madu seperti suatu “persenjataan” yang lengkap dalam melawan kuman, seperti efek yang sama dengan hidrogen peroksida, efek pH asamya, efek osmotiknya, yang kesemuanya itu mampu membunuh sel bakteri. Eek osmotik dihasilkan dari konsentrasi glukosa yang tinggi dalam madu, yang mengisi sel bakteri lalu menyebabkan bakteri terdehidrasi dan kemudian mematikan bakteri tersebut. Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa madu menghambat pembentukan biofilm, dengan menghancurkan proses yang disebut quorum sensing. Quorum sensing merupakan cara bakteri berkomunikasi dengan bakteri lainnya, di mana bakteri berkomunikasi untuk membentuk biofilm. Pada bakteri tertentu, komunikasi ini juga mengontrol bakteri untuk melepaskan racun, sehingga mempengaruhi patogenitas/keganasan dari bakteri tersebut.

Meschwitz, yang juga meneliti madu di Universitas Sale Regina di Newport menyatakan manfaat lain dari madu tidak seperti antibiotik konvensional lainnya di mana antibiotik lain dapat menimbulkan resistensi terhadap bakteri, sedangkan madu tidak. Kenapa? Karena antibiotik konvensional mentargetkan satu target tertentu saja, misalnya hanya pada dinding bakteri saja, atau hanya pada penghambat sintesis proteinnya saja.

Selain itu, karena seperti yang disebutkan di awal tadi bahwa “persenjataan” madu itu lengkap dalam melawan bakteri, sama dengan efek hidrogen peroksida, madu mampu memliki efek antidioksidan, dan ini telah diuji oleh para peneliti. Dalam madu, terdapat efek antioksidan karena komponen polifenolnya.

Madu, seperti yang telah diteliti oleh banyak penelitian dari para ahli telah terbukti merupakan antimikroba spektrum luas (tidak hanya antibiotik, tetapi juga antijamur, dan antivirus). Substansi lain yang mendukung fungsi madu adalah asam fenol, asam caffeic, asam p-coumaric, asam ellagic, dan flavonoid, quercetin, apigenin, galangin, pinocembrin, kaempferol, lueolin, dan chrysin.

Sebenarnya kerumitan hal-hal yang dibahas di atas jelas telah terbukti karena Allah SWT berfirman dalam Alquran An-Nahl ayat 68 dan 69:

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di di tempat yang dibuat manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap macam buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kebesaran Tuhan bagi orang yang memikirkan.”

Jadi, kita sebagai mukmin perlu bersyukur kepada Allah dan berbangga dengan Al-Quran, yang secara lengkap telah mengulas beragam hal sedetail apapun, bahkan di bidang kesehatan. Madu yang dari awal telah tertulis dalam Alquran, kini diteliti oleh banyak umat manusia, dan hasilnya tak pernah mengecewakan. Madu selalu memiliki efek yang menguntungkan, dan tidak membahayakan. Tidak seperti obat buatan manusia, pasti memiliki efek samping, riwayat adanya pengguna yang alergi, toksik dalam dosis tertentu di hati atau ginjal, dan sebagainya. Madu tidak. Madu memberikan manfaat tanpa meminta ganti rugi pada kita sebagai penggunanya.

Apa yang ditulis di Alquran tidak pernah salah dan tidak akan pernah salah. Penelitian-penelitian yang kini banyak berkembang justru akan semakin menguatkan kebenaran Alquran. Masha Allah, berbahagialah kita semuanya.

images

 

Semua orang mengidamkan keluarga yang sehat dan bahagia, juga pendidikan bermutu bagi anak- anak. Selain itu, setiap orang berharap mampu menyediakan sandang dan pangan berkecukupan serta memiliki rumah idaman, hidup dalam sebuah negeri bernama Indonesia yang demokratis, di mana kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan mengatur kehidupan, dijamin oleh undang-undang. Wanita adalah bagian dari target dunia dalam menyelesaikan berbagai masalah yang terangkum dalam Millenium Development Goals (MDGs) 2015. World Health Organization mendapatkan bagian dalam menyongsong keberhasilan MDGs tersebut, salah satunya adalah target kelima yang berbunyi: “Meningkatkan Kesehatan Ibu”. Goal kelima ini tak hanya terdiri dari tiga kata, tetapi memiliki sub tujuan yaitu Target 5A: Menurunkan Angka Kematian Ibu sebesar tiga-per-empatnya antara 1990 dan 2015 dan Target 5B: Mencapai dan menyediakan akses kesehatan reproduksi untuk semua pada 2015, dalam hal ini adalah cakupan penggunaan alat kontrasepsi KB pada wanita usia subur yaitu 15 – 49 tahun. Masih banyak wanita yang merasa bahwa dirinya baik-baik saja. Dengan menganggap enteng kondisi yang ada dalam diri sebagai wanita, maka masalah akan sulit diatasi karena belum ada kesadaran pribadi dari masing-masing. Wanita adalah mahluk ciptaan Tuhan yang memiliki kodrat sebagai anak, remaja perempuan, wanita dewasa, ibu, dan nenek. Sudah selayaknya pada setiap fase tahap kehidupan tersebut, wanita memiliki kesadaran terhadap setiap bahaya yang mengancam. Ketika fase remaja, banyak remaja perempuan yang mengalami anemia, atau terlibat pergaulan bebas, tanpa pembekalan seksual yang cukup. Ketika akhirnya remaja beralih ke dalam fase ibu, dengan mengantongi anemia, tentu hal ini akan meningkatkan risiko satu orang ibu untuk mengalami perdarahan, persalinan tak maju, dan kurangnya asupan gizi untuk janinya. Itulah mengapa wanita menjadi target yang dikhususkan oleh dunia, karena wanita adalah ujung tombak berkembangnya suatu bangsa. Ibu yang hebat akan menghasilkan anak-anak yang hebat. Anak-anak adalah pemegang kendali generasi bangsa selanjutnya. Angka kematian ibu (AKI) masih sangat tinggi di Indonesia. Setiap tahun, sekitar 20000 ibu Indonesia meninggal akibat komplikasi kehamilan atau persalinan. Setiap 259 ibu meninggal dunia setiap 100.000 kelahiran hidup. Angka ini tentunya “menang” sepuluh kali lipat dari AKI di Malaysia (19/100000) dan Sri Lanka (24/100000). Pada tahun 2015 ini, pemerintah mentargetkan untuk menurunkan AKI menjadi 102 per 100000 kelahiran hidup. Melahirkan seharusnya menjadi peristiwa bahagia tetapi seringkali berubah menjadi tragedi. Berdasarkan data tahun 2015, penyebab utama kematian ibu adalah preeklampsia-eklampsia dan perdarahan. Sebenarnya, hampir semua kematian tersebut dapat dicegah. Karena itu tujuan kelima MDGs difokuskan pada kesehatan ibu, untuk mengurangi “kematian ibu”. Meski semua sepakat bahwa angka kematian ibu terlalu tinggi, seringkali muncul keraguan tentang angka yang tepat. Kita seharusnya dapat memastikan ketika seorang ibu meninggal dunia Namun bisa ada keraguan tentang penyebabnya. Kita tidak mungkin hanya mengacu pada informasi dalam laporan kematian yang bisa saja disebabkan oleh berbagai alasan, terkait ataupun tidak terkait dengan persalinan. Metode yang biasa digunakan adalah dengan bertanya pada para perempuan apakah ada saudara perempuan mereka yang meninggal sewaktu persalinan. “Tingkat kematian ibu” telah turun dari 390 menjadi sekitar 307 per 100.000 kelahiran. Artinya, seorang perempuan yang memutuskan untuk mempunyai empat anak memiliki kemungkinan meninggal akibat kehamilannya sebesar 1,2%. Angka tersebut bisa jauh lebih tinggi, terutama di daerah-daerah yang lebih miskin dan terpencil. Satu survei di Ciamis, Jawa Barat, misalnya, menunjukkan bahwa rasio tersebut adalah 56117. Dunia terus berputar, waktu silih berganti. Kini seiring bertambahnya kemajuan dalam bidang kesehatan, perdarahan yang dulunya adalah penyebab utama kematian pada ibu, kini bergeser oleh kehadiran preeklampsia-eklampsia. Seperti halnya Raden Ajeng Kartini yang mengalami perdarahan pada saat melahirkan bayinya, namun kini kehilangan banyak darah dapat melalui proses transfusi yang aman, dengan uji golongan darah dan Rhesus sebelumnya, peralatan yang steril, dan medikamentosa yang memadai, perdarahan kini bukan menjadi masalah utama. Pernah dengar kejang pada saat kehamilan? Itulah eklampsia. Preeklampsia merupakan suatu kondisi yang mendahului eklampsia. Eklampsia merupakan masalah yang serius pada masa kehamilan akhir yang ditandai dengan kejang dan penurunan kesadaran.

Penyebab eklampsia masih belum diketahui. Preeklampsia-eklampsia diduga ditimbulkan oleh keracunan janin sehingga disebut pula dengan “keracunan kehamilan” atau “toksikemia gravidarum”. Penting bagi para wanita untuk “menghapalkan” dan mengenali durasi menstruasi dan tanggal menstruasinya. Untuk apa? Untuk mengetahui Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT) sehingga dapat dihitung dengan pasti usia kehamilannya. Keracunan kehamilan ini dapat terjadi ketika usia kehamilan memasuki 20 minggu. Dengan mengingat HPHT, maka para ibu hamil dapat lebih mawas diri ketika memasuki usia kehamilan 20 minggu. Preeklamsia dapat dikenali dengan kenaikan tekanan darah di atas 140 mmHg untuk sistole atau 90 mmHg untuk diastole, dan pengecekan air seni mengandung proein sebesear minimal 300 mg per 24 jam atau uji dipstik +1. Namun, ibu hamil harus waspada jika ada berbagai keluhan seperti sakit kepala yang berkepanjangan, ulu hati terasa nyeri, kaki bengkak, mual muntah pada usia kehamilan memasuki 20 minggu, serta pandangan kabur. Mual dan muntah pada awal kehamilan (trimester pertama) bukanlah gejala preeklamsia, melainkan diakibatkan oleh peningkatan kadar hormon estrogen pada ibu hamil. Beberapa jurnal menyatakan penyebab dari keracunan kehamilan ini adalah karena struktur dan jenis plasenta yang menempel pada dinding rahim. Pada ibu hamil, pembuluh darah rahim dan plasenta akan saling berhubungan untuk memenuhi kebutuhan janin. Namun, ada suatu kelainan sehingga pembuluh darah rahim ibu tidak berubah secara sempurna untuk menyesuaikan dengan plasenta sehingga hal ini akan menyebabkan komplikasi tak hanya untuk ibu tetapi juga untuk bayinya. Akar dari permasalahan ini masih belum banyak diketahui, diduga disebabkan oleh kelainan genetik, atau kelainan sistem kekebalan ibu. Maka, dikatakan kehamilan pertama akan lebih berisiko untuk terjadinya preeklamsia-eklamsia mengingat genetik dan kekebalan ibu terhadap janinnya masih pertama kali terbentu. Karena faktor genetik tersebut, maka ada pula yang , bahwa sperma tertentu akan menyebabkkan preeklampsia-eklampsia dan kehamilan pertama akan berpotensi lebih besar karena kekebalan tubuh ibu belum terbentuk terhadap sperma tersebut.

“The dangerous man” adalah julukan untuk pria yang “menyumbangkan” spermanya sehingga menyebabkan terjadinya “keracunan kehamilan” tersebut. Hal ini perlu menjadi sorotan, terutama karena persepsi bahwa preeklamsia-eklamsia ini hanya menyerang kehamilan pertama. Perlu ditegaskan bahwa bukan berarti kehamilan kedua dan ketiga tidak berpotensi untuk menimbulkan hal ini, tetapi karena mengingat faktor genetik tadi, maka semisal ada contoh seorang wanita dengan kehamilan ketiga tetapi dengan suami kedua (berbeda laki-laki) juga berpotensi preeklamsia-eklamsia sama besarnya seperti kehamilan pertama, karena faktor genetik sperma “baru” tersebut belum memiliki “kekebalan” tersendiri pada tubuh wanita itu. Gejala preeklamsia tadi mungkin sepintas adalah gejala yang sepele. Namun memang benar apabila seorang wanita hamil itu perlu diperhatikan dengan “lebih”, mengingat setiap keluhan bisa menjadi suatu tanda dari tersembunyinya suatu penyakit. Misalnya seorang ibu mengeluhkan “Kok pandanganku kabur”, bisa jadi ini adalah suatu awal mula dari eklamsia. Jika gejala preeklamsia ini diremehkan, maka ibu hamil akan memiliki risiko yang besar untuk mengalami eklamsia, di mana akan terjadi perdarahan di otak, gagal ginjal yang akut, pembengkakan pada paru, dan sebagainya yang akan meracuni aliran darah sang ibu, dan merusak organ-organ penting dalam tubuh, selain juga membahayakan janinnya. Ketika seorang ibu hamil sudah mengalami kejang lalu diikuti penurunan kesadaran, hal itu sudah jatuh ke dalam kondisi eklamsia sehingga kehamilan harus diakhiri, tanpa memandang usia kehamilan sudah aterm atau belum. Jika kondisi ibu masih baik, meskipun diagnosis preeklamsia sudah tegak, namun ibu dapat menjalani terapi rawat jalan dengan tetap harus kontrol rutin, setidaknya untuk mengetahui tekanan darahnya setiap minggu, dan kehamlan juga masih bisa dipertahankan. Itulah pentingnya menjalani suatu Pelayanan Antenatal, setidaknya selama 9 bulan kehamilan, ibu hamil memeriksakan dirinya 4 kali untuk mengetahui risiko tinggi yang ada pada dirinya sehingga penanganan dapat lebih dini dilakukan. Nah, hal-hal seperti inilah yang perlu ditanamkan kepada para ibu, wanita, gadis, remaja.

Kesadaran untuk mawas diri karena setiap kehamilan itu berisiko, tergantung risikonya: tinggi atau rendah, sehingga penanganannya lebih tepat dan cepat. Poin penting lainnya, ketika ibu telah melahirkan, dengan riwayat preeklamsia, maka kondisi pasca melahirkan itu bukan serta merta akan melepaskan diagnosis preeklamsia-eklamsianya tersebut. Ibu pasca melahirkan dengan preeklamsia-eklamsia tetap harus dipantau dengan ketat, karena kenaikan tekanan darah dan proteinuria tersebut dapat tetap memicu kejang selama maksimal 40 hari setelah melahirkan (masa nifas selesai). Selain preeklamsia-eklamsia, penyebab kematian ibu lainnya adalah perdarahan saat kehamilan dan persalinan. Perdarahan tidak melulu terjadi ketika melahirkan, tetapi dapat terjadi pada masa kehamilan, terutama apabila ibu masih memaksakan diri untuk bekerja dan beraktivitas, atau jika asupan gizi tidak diperhatikan. Maka, sekali lagi penting untuk mengetahui HPHT sehingga ketika terjadi perdarahan, dapat dirunut dengan detail penyebabnya. Perdarahan pada kehamilan kurang dari 20 minggu dapat didiagnosis dengan abortus, mola hidatidosa, atau kehamilan ektopik terganggu. Perdarahan pada kehamilan 20 – 28 minggu dapat disebabkan oleh kelainan letak penempelan plasenta yang disebut plasenta previa maupun solusio plasenta. Perdarahan pasca persalinan yaitu diakibatkan oleh adanya sobekan jalan lahir, atau adanya kontraksi rahim yang kurang adekuat, atau adanya suatu sisa plasenta yang tertinggal, atau karena ada kelainan pembekuan darah pada ibu hamil. Rumit bukan? Sederhananya, dari berbagai kemungkinan perdarahan di atas, hal sederhana yang mampu dilakukan oleh ibu hamil adalah memeriksakan kehamilannya: minimal satu kali pada trimester pertama, minimal satu kali pada trimester kedua, dan minimal dua kali pada trimester ketiga, sehingga berbagai kerumitan perdarahan itu dapat dipangkas dari awal dan dikenali oleh tim kesehatan sehingga persalinan yang layak dapat direncanakan sesuai kondisi ibu dan janin. Hal mendasar lainnya adalah menanamkan kesadaran pada ibu bahwa ketika hamil ibu sedang memberi makan pada dua orang: dirinya dan bayi dalam kandungannya. Dan berbagai mitos di Indonesia yang masih kental mengenai menyusui juga perlu diluruskan. Mitos di setiap daerah berbeda-beda. Semisal, di daerah Jepara, masih banyak mitos yang mempercayai bahwa ibu setelah melahirkan tidak boleh makan selain “mutih”, yang artinya, ketika menyusui, ibu hanya diperbolehkan minum air putih dan makan nasi putih. Lantas gizi ibu dari mana? Gizi anak dari mana? Tak jarang ibu dilanda anemia, namun karena tidak terlalu mengganggu keseharian, maka anemia ini jarang dikeluhkan. Padahal, anemia ini berpotensi untuk melemahkan kontraksi rahim. Apa akibatnya jika kontraksi rahim lemah? Ketika persalinan, persalinan dapat berjalan lebih lama karena kontraksi yang kurang kuat, atau setelah persalinan, terjadi perdarahan post partum karena kontraksi yang kurang kuat tidak bisa menahan pembuluh darah di rahim untuk berhenti. Bagaikan lingkaran setan, anemia akan menyebabkan kontraksi rahim melemah sehingga berujung pada perdarahan, dan perdarahan tentunya akan membuang banyak darah dan menyebabkan anemia. Pada pelayanan antenatal, ibu akan rutin dibagikan obat tablet yang mengandung zat besi. Hal ini bertujuan untuk mencegah adanya anemia. Anemia memang sederhana, tetapi dampaknya luar biasa, termasuk perdarahan pasca persalinan yang dapat berujung kematian. Selain itu, anemia juga dapat dicegah dengan makan makanan yang bergizi.

Perlu diingat, mengkonsumi tablet besi tidak boleh bersamaan dengan meminum air teh. Zat polifenol pada teh akan berikatan dengan besi sehingga besi akan terbuang sebelum sempat diserap oleh tubuh. Selain itu, pada pemeriksaan antenatal, ibu hamil mampu dengan leluasa mengutarakan keluhannya kepada dokter atau bidan terkait sehingga keluhan penyakit sekecil apapun dapat diatas dengan dini. Kalaupun membutuhkan obat untuk mengatasi penyakit tertentu, semisal batuk dan pilek ketika hamil, atau mual muntah ketika hamil, maka setidaknya diperlukan suatu upaya oleh dokter dalam memilih dan memilah obat-obatan tertentu yang aman untuk ibu hamil. “Karena wanita ingin dimengerti.” Rupanya kalimat tersebut memang benar adanya dan mengandung makna yang dalam. Dalam membicarakan hal-hal seperti ini tidak bisa lepas dari peran berbagai lingkup. Lingkup yang paling kecil: keluarga inti. Suami harus sadar, meskipun yang membesar adalah perut istrinya, tetapi hal itu tidak lepas dari “urun sperma” sang suami, dan tidak sekedar urun sperma, tetapi suami juga sebisa mungkin tetap mendampingi istri, tetap memberikan dukungan moral dan perhatian. Miris ketika di fasilitas pelayanan kesehatan, masalah ibu melahirkan masih banyak yang terbentur biaya. Boleh jadi strata pendidikan tidak tinggi, kondisi sosial ekonomi tidaklah baik, tetapi setidaknya untuk urusan menyisihkan uang untuk persalinan bisa dipersiapkan. Katakanlah menyisihkan 10ribu setiap hari selama 9 bulan, bisa dihitung berapa nominalnya? Atau mengurus berkas administrasi untuk mengikuti Jaminan Kesehatan Nasional sehingga hanya dengan iuran sebesar 30ribu-60ribu setiap bulan, ibu hamil mampu bersalin dibantu tenaga ahli dengan gratis. Banyak cara, dan sebagai masyarakat, dan sebagai manusia berakal, mencari tahu adalah siasat untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Sejumlah komplikasi sewaktu melahirkan bisa dicegah, misalnya komplikasi akibat aborsi yang tidak aman. Komplikasi seperti ini menyumbang 6% dari angka kematian. Sebagian besar sebenarnya bisa dicegah kalau saja perempuan memiliki akses terhadap kontrasepsi yang efektif. Saat ini hanya sekitar separuh perempuan usia 15 hingga 24 yang menggunakan metode kontrasepsi modern. Metode yang paling umum dipakai adalah suntik, diikuti oleh pil. Proporsi perempuan (usia 15-49) yang menggunakan alat kontrasepsi mengalami peningkatan dan prosentasenya pada tahun 2006 adalah 61% (SDKI, 2007). Berbagai potensi masalah lainnya bisa dicegah apabila para ibu memperoleh perawatan yang tepat sewaktu persalinan. Apakah kita kekurangan bidan desa? Sebenarnya, pemerintah pusat telah melatih banyak bidan, dan mengirim mereka ke seluruh penjuru Indonesia. Namun, sepertinya, pemerintah daerah tidak menganggap hal tersebut sebagai prioritas, dan tidak memperkerjakan para bidan setelah berakhirnya kontrak mereka dengan Departemen Kesehatan. Selain itu, ada masalah terkait kualitas.

Para bidan desa mungkin tidak mendapatkan pelatihan yang cukup atau mungkin kekurangan peralatan. Jika mereka bekerja di komunitas-komunitas kecil, mereka mungkin tidak menghadapi banyak persalinan, sehingga tidak mendapat pengalaman yang cukup. Namun salah satu dari masalah utamanya adalah jika disuruh memilih, banyak keluarga yang memilih tenaga persalinan tradisional. Mengapa banyak keluarga lebih memilih tenaga tradisional? Karena berbagai alasan. Salah satunya, biasanya lebih murah dan dapat dibayar dengan beras atau barang-barang lain. Keluarga juga lebih nyaman dengan seseorang yang mereka kenal dan percaya. Mereka yakin bahwa tenaga persalinan tradisional akan lebih mudah ditemukan dan beranggapan bahwa mereka bisa lebih memberikan perawatan pribadi. Dalam kasus-kasus persalinan normal, ini mungkin benar. Namun jika ada komplikasi, tenaga persalinan tradisional mungkin tidak akan dapat mengatasi dan mungkin akan segan untuk meminta bantuan bidan desa. Hal ini dapat mengakibatkan penundaan yang membahayakan jiwa karena tidak secepatnya memperoleh perawatan kebidanan darurat di pusat kesehatan atau rumah sakit. Keterlambatan dapat juga terjadi karena kesulitan dan biaya transportasi, khususnya di daerah-daerah yang lebih terpencil. Kenyataannya, perempuan mana pun dapat mengalami komplikasi kehamilan, kaya maupun miskin, di perkotaan atau di perdesaan, tidak peduli apakah sehat atau cukup gizi. Ini artinya kita harus memperlakukan setiap persalinan sebagai satu potensi keadaan darurat yang mungkin memerlukan perhatian di sebuah pusat kesehatan atau rumah sakit, untuk penanganan cepat. Pengalaman internasional menunjukkan bahwa sekitar separuh dari kematian ibu dapat dicegah oleh bidan terampil, sementara separuhnya lainnya tidak dapat diselamatkan akibat tidak adanya perawatan yang tepat dengan fasilitas medis memadai. Perlu diingat, terdapat empat pilar Safe Motherhood yang terdiri atas kontrasepsi, pelayanan antenatal, persalinan yang bersih dan aman, serta pelayanan obstetri esensial. Sekitar 60% persalinan di Indonesia berlangsung di rumah. Dalam kasus seperti ini, para ibu memerlukan bantuan seorang ”tenaga persalinan terlatih”. Untungnya banyak perempuan yang mendapatkan bantuan tersebut. Pada tahun 2007 proporsi persalinan yang dibantu oleh tenaga persalinan terlatih, baik staf rumah sakit, pusat kesehatan ataupun bidan desa, telah mencapai 73%. Sekali lagi angka ini sangat bervariasi di seluruh Indonesia, mulai dari 39% di Gorontalo hingga 98% di Jakarta.

Penting untuk menumbuhkan kesadaran pribadi di hati masing-masing manusia. Peran serta masyarakat secara aktif agresif sangat baik. Menghidupkan kader-kader kesehatan di lingkup masyarakat untuk menyebarluaskan pengetahuan memang penting. Yang dihadapi adalah bukan masalah satu atau dua lingkup desa, tetapi lingkup internasional, di mana laporan tiap daerah akan dikumpulkan menjadi satu dalam satu negara, laporan tiap negara akan disetorkan dalam wahana internasional untuk dikaji apakah dunia berhasil menurunkan Angka Kematian Ibu. Mulailah hal yang kecil untuk mendapatkan hal yang besar. Ini bukan untuk kepentingan pribadi tetapi untuk kepentingan bersama. Jika masih sulit untuk menerapkan bahwa diri sendiri memang wajib turut serta mensukseskan hal ini, cukup berpikiran sederhana bahwa semua orang mengidamkan keluarga yang sehat dan bahagia. Bagaimana dengan Anda? Artikel obsgyn: Perdarahan dan Kejang pada Kehamilan – Penyebab Utama Kematian Ibu Semua orang mengidamkan keluarga yang sehat dan bahagia, juga pendidikan bermutu bagi anak- anak. Selain itu, setiap orang berharap mampu menyediakan sandang dan pangan berkecukupan serta memiliki rumah idaman, hidup dalam sebuah negeri bernama Indonesia yang demokratis, di mana kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan mengatur kehidupan, dijamin oleh undang-undang. Wanita adalah bagian dari target dunia dalam menyelesaikan berbagai masalah yang terangkum dalam Millenium Development Goals (MDGs) 2015. World Health Organization mendapatkan bagian dalam menyongsong keberhasilan MDGs tersebut, salah satunya adalah target kelima yang berbunyi: “Meningkatkan Kesehatan Ibu”. Goal kelima ini tak hanya terdiri dari tiga kata, tetapi memiliki sub tujuan yaitu Target 5A: Menurunkan Angka Kematian Ibu sebesar tiga-per-empatnya antara 1990 dan 2015 dan Target 5B: Mencapai dan menyediakan akses kesehatan reproduksi untuk semua pada 2015, dalam hal ini adalah cakupan penggunaan alat kontrasepsi KB pada wanita usia subur yaitu 15 – 49 tahun. Masih banyak wanita yang merasa bahwa dirinya baik-baik saja. Dengan menganggap enteng kondisi yang ada dalam diri sebagai wanita, maka masalah akan sulit diatasi karena belum ada kesadaran pribadi dari masing-masing. Wanita adalah mahluk ciptaan Tuhan yang memiliki kodrat sebagai anak, remaja perempuan, wanita dewasa, ibu, dan nenek. Sudah selayaknya pada setiap fase tahap kehidupan tersebut, wanita memiliki kesadaran terhadap setiap bahaya yang mengancam. Ketika fase remaja, banyak remaja perempuan yang mengalami anemia, atau terlibat pergaulan bebas, tanpa pembekalan seksual yang cukup.

Ketika akhirnya remaja beralih ke dalam fase ibu, dengan mengantongi anemia, tentu hal ini akan meningkatkan risiko satu orang ibu untuk mengalami perdarahan, persalinan tak maju, dan kurangnya asupan gizi untuk janinya. Itulah mengapa wanita menjadi target yang dikhususkan oleh dunia, karena wanita adalah ujung tombak berkembangnya suatu bangsa. Ibu yang hebat akan menghasilkan anak-anak yang hebat. Anak-anak adalah pemegang kendali generasi bangsa selanjutnya. Angka kematian ibu (AKI) masih sangat tinggi di Indonesia. Setiap tahun, sekitar 20000 ibu Indonesia meninggal akibat komplikasi kehamilan atau persalinan. Setiap 259 ibu meninggal dunia setiap 100.000 kelahiran hidup. Angka ini tentunya “menang” sepuluh kali lipat dari AKI di Malaysia (19/100000) dan Sri Lanka (24/100000). Pada tahun 2015 ini, pemerintah mentargetkan untuk menurunkan AKI menjadi 102 per 100000 kelahiran hidup. Melahirkan seharusnya menjadi peristiwa bahagia tetapi seringkali berubah menjadi tragedi. Berdasarkan data tahun 2015, penyebab utama kematian ibu adalah preeklampsia-eklampsia dan perdarahan. Sebenarnya, hampir semua kematian tersebut dapat dicegah. Karena itu tujuan kelima MDGs difokuskan pada kesehatan ibu, untuk mengurangi “kematian ibu”. Meski semua sepakat bahwa angka kematian ibu terlalu tinggi, seringkali muncul keraguan tentang angka yang tepat. Kita seharusnya dapat memastikan ketika seorang ibu meninggal dunia Namun bisa ada keraguan tentang penyebabnya. Kita tidak mungkin hanya mengacu pada informasi dalam laporan kematian yang bisa saja disebabkan oleh berbagai alasan, terkait ataupun tidak terkait dengan persalinan. Metode yang biasa digunakan adalah dengan bertanya pada para perempuan apakah ada saudara perempuan mereka yang meninggal sewaktu persalinan. “Tingkat kematian ibu” telah turun dari 390 menjadi sekitar 307 per 100.000 kelahiran. Artinya, seorang perempuan yang memutuskan untuk mempunyai empat anak memiliki kemungkinan meninggal akibat kehamilannya sebesar 1,2%. Angka tersebut bisa jauh lebih tinggi, terutama di daerah-daerah yang lebih miskin dan terpencil. Satu survei di Ciamis, Jawa Barat, misalnya, menunjukkan bahwa rasio tersebut adalah 56117.

Dunia terus berputar, waktu silih berganti. Kini seiring bertambahnya kemajuan dalam bidang kesehatan, perdarahan yang dulunya adalah penyebab utama kematian pada ibu, kini bergeser oleh kehadiran preeklampsia-eklampsia. Seperti halnya Raden Ajeng Kartini yang mengalami perdarahan pada saat melahirkan bayinya, namun kini kehilangan banyak darah dapat melalui proses transfusi yang aman, dengan uji golongan darah dan Rhesus sebelumnya, peralatan yang steril, dan medikamentosa yang memadai, perdarahan kini bukan menjadi masalah utama. Pernah dengar kejang pada saat kehamilan? Itulah eklampsia. Preeklampsia merupakan suatu kondisi yang mendahului eklampsia. Eklampsia merupakan masalah yang serius pada masa kehamilan akhir yang ditandai dengan kejang dan penurunan kesadaran. Penyebab eklampsia masih belum diketahui. Preeklampsia-eklampsia diduga ditimbulkan oleh keracunan janin sehingga disebut pula dengan “keracunan kehamilan” atau “toksikemia gravidarum”. Penting bagi para wanita untuk “menghapalkan” dan mengenali durasi menstruasi dan tanggal menstruasinya. Untuk apa? Untuk mengetahui Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT) sehingga dapat dihitung dengan pasti usia kehamilannya. Keracunan kehamilan ini dapat terjadi ketika usia kehamilan memasuki 20 minggu. Dengan mengingat HPHT, maka para ibu hamil dapat lebih mawas diri ketika memasuki usia kehamilan 20 minggu. Preeklamsia dapat dikenali dengan kenaikan tekanan darah di atas 140 mmHg untuk sistole atau 90 mmHg untuk diastole, dan pengecekan air seni mengandung proein sebesear minimal 300 mg per 24 jam atau uji dipstik +1. Namun, ibu hamil harus waspada jika ada berbagai keluhan seperti sakit kepala yang berkepanjangan, ulu hati terasa nyeri, kaki bengkak, mual muntah pada usia kehamilan memasuki 20 minggu, serta pandangan kabur. Mual dan muntah pada awal kehamilan (trimester pertama) bukanlah gejala preeklamsia, melainkan diakibatkan oleh peningkatan kadar hormon estrogen pada ibu hamil. Beberapa jurnal menyatakan penyebab dari keracunan kehamilan ini adalah karena struktur dan jenis plasenta yang menempel pada dinding rahim.

Pada ibu hamil, pembuluh darah rahim dan plasenta akan saling berhubungan untuk memenuhi kebutuhan janin. Namun, ada suatu kelainan sehingga pembuluh darah rahim ibu tidak berubah secara sempurna untuk menyesuaikan dengan plasenta sehingga hal ini akan menyebabkan komplikasi tak hanya untuk ibu tetapi juga untuk bayinya. Akar dari permasalahan ini masih belum banyak diketahui, diduga disebabkan oleh kelainan genetik, atau kelainan sistem kekebalan ibu. Maka, dikatakan kehamilan pertama akan lebih berisiko untuk terjadinya preeklamsia-eklamsia mengingat genetik dan kekebalan ibu terhadap janinnya masih pertama kali terbentu. Karena faktor genetik tersebut, maka ada pula yang , bahwa sperma tertentu akan menyebabkkan preeklampsia-eklampsia dan kehamilan pertama akan berpotensi lebih besar karena kekebalan tubuh ibu belum terbentuk terhadap sperma tersebut. “The dangerous man” adalah julukan untuk pria yang “menyumbangkan” spermanya sehingga menyebabkan terjadinya “keracunan kehamilan” tersebut. Hal ini perlu menjadi sorotan, terutama karena persepsi bahwa preeklamsia-eklamsia ini hanya menyerang kehamilan pertama. Perlu ditegaskan bahwa bukan berarti kehamilan kedua dan ketiga tidak berpotensi untuk menimbulkan hal ini, tetapi karena mengingat faktor genetik tadi, maka semisal ada contoh seorang wanita dengan kehamilan ketiga tetapi dengan suami kedua (berbeda laki-laki) juga berpotensi preeklamsia-eklamsia sama besarnya seperti kehamilan pertama, karena faktor genetik sperma “baru” tersebut belum memiliki “kekebalan” tersendiri pada tubuh wanita itu. Gejala preeklamsia tadi mungkin sepintas adalah gejala yang sepele. Namun memang benar apabila seorang wanita hamil itu perlu diperhatikan dengan “lebih”, mengingat setiap keluhan bisa menjadi suatu tanda dari tersembunyinya suatu penyakit. Misalnya seorang ibu mengeluhkan “Kok pandanganku kabur”, bisa jadi ini adalah suatu awal mula dari eklamsia. Jika gejala preeklamsia ini diremehkan, maka ibu hamil akan memiliki risiko yang besar untuk mengalami eklamsia, di mana akan terjadi perdarahan di otak, gagal ginjal yang akut, pembengkakan pada paru, dan sebagainya yang akan meracuni aliran darah sang ibu, dan merusak organ-organ penting dalam tubuh, selain juga membahayakan janinnya.

Ketika seorang ibu hamil sudah mengalami kejang lalu diikuti penurunan kesadaran, hal itu sudah jatuh ke dalam kondisi eklamsia sehingga kehamilan harus diakhiri, tanpa memandang usia kehamilan sudah aterm atau belum. Jika kondisi ibu masih baik, meskipun diagnosis preeklamsia sudah tegak, namun ibu dapat menjalani terapi rawat jalan dengan tetap harus kontrol rutin, setidaknya untuk mengetahui tekanan darahnya setiap minggu, dan kehamlan juga masih bisa dipertahankan. Itulah pentingnya menjalani suatu Pelayanan Antenatal, setidaknya selama 9 bulan kehamilan, ibu hamil memeriksakan dirinya 4 kali untuk mengetahui risiko tinggi yang ada pada dirinya sehingga penanganan dapat lebih dini dilakukan. Nah, hal-hal seperti inilah yang perlu ditanamkan kepada para ibu, wanita, gadis, remaja. Kesadaran untuk mawas diri karena setiap kehamilan itu berisiko, tergantung risikonya: tinggi atau rendah, sehingga penanganannya lebih tepat dan cepat. Poin penting lainnya, ketika ibu telah melahirkan, dengan riwayat preeklamsia, maka kondisi pasca melahirkan itu bukan serta merta akan melepaskan diagnosis preeklamsia-eklamsianya tersebut. Ibu pasca melahirkan dengan preeklamsia-eklamsia tetap harus dipantau dengan ketat, karena kenaikan tekanan darah dan proteinuria tersebut dapat tetap memicu kejang selama maksimal 40 hari setelah melahirkan (masa nifas selesai). Selain preeklamsia-eklamsia, penyebab kematian ibu lainnya adalah perdarahan saat kehamilan dan persalinan. Perdarahan tidak melulu terjadi ketika melahirkan, tetapi dapat terjadi pada masa kehamilan, terutama apabila ibu masih memaksakan diri untuk bekerja dan beraktivitas, atau jika asupan gizi tidak diperhatikan. Maka, sekali lagi penting untuk mengetahui HPHT sehingga ketika terjadi perdarahan, dapat dirunut dengan detail penyebabnya. Perdarahan pada kehamilan kurang dari 20 minggu dapat didiagnosis dengan abortus, mola hidatidosa, atau kehamilan ektopik terganggu. Perdarahan pada kehamilan 20 – 28 minggu dapat disebabkan oleh kelainan letak penempelan plasenta yang disebut plasenta previa maupun solusio plasenta. Perdarahan pasca persalinan yaitu diakibatkan oleh adanya sobekan jalan lahir, atau adanya kontraksi rahim yang kurang adekuat, atau adanya suatu sisa plasenta yang tertinggal, atau karena ada kelainan pembekuan darah pada ibu hamil. Rumit bukan? Sederhananya, dari berbagai kemungkinan perdarahan di atas, hal sederhana yang mampu dilakukan oleh ibu hamil adalah memeriksakan kehamilannya: minimal satu kali pada trimester pertama, minimal satu kali pada trimester kedua, dan minimal dua kali pada trimester ketiga, sehingga berbagai kerumitan perdarahan itu dapat dipangkas dari awal dan dikenali oleh tim kesehatan sehingga persalinan yang layak dapat direncanakan sesuai kondisi ibu dan janin. Hal mendasar lainnya adalah menanamkan kesadaran pada ibu bahwa ketika hamil ibu sedang memberi makan pada dua orang: dirinya dan bayi dalam kandungannya. Dan berbagai mitos di Indonesia yang masih kental mengenai menyusui juga perlu diluruskan. Mitos di setiap daerah berbeda-beda.

Semisal, di daerah Jepara, masih banyak mitos yang mempercayai bahwa ibu setelah melahirkan tidak boleh makan selain “mutih”, yang artinya, ketika menyusui, ibu hanya diperbolehkan minum air putih dan makan nasi putih. Lantas gizi ibu dari mana? Gizi anak dari mana? Tak jarang ibu dilanda anemia, namun karena tidak terlalu mengganggu keseharian, maka anemia ini jarang dikeluhkan. Padahal, anemia ini berpotensi untuk melemahkan kontraksi rahim. Apa akibatnya jika kontraksi rahim lemah? Ketika persalinan, persalinan dapat berjalan lebih lama karena kontraksi yang kurang kuat, atau setelah persalinan, terjadi perdarahan post partum karena kontraksi yang kurang kuat tidak bisa menahan pembuluh darah di rahim untuk berhenti. Bagaikan lingkaran setan, anemia akan menyebabkan kontraksi rahim melemah sehingga berujung pada perdarahan, dan perdarahan tentunya akan membuang banyak darah dan menyebabkan anemia. Pada pelayanan antenatal, ibu akan rutin dibagikan obat tablet yang mengandung zat besi. Hal ini bertujuan untuk mencegah adanya anemia. Anemia memang sederhana, tetapi dampaknya luar biasa, termasuk perdarahan pasca persalinan yang dapat berujung kematian. Selain itu, anemia juga dapat dicegah dengan makan makanan yang bergizi. Perlu diingat, mengkonsumi tablet besi tidak boleh bersamaan dengan meminum air teh. Zat polifenol pada teh akan berikatan dengan besi sehingga besi akan terbuang sebelum sempat diserap oleh tubuh. Selain itu, pada pemeriksaan antenatal, ibu hamil mampu dengan leluasa mengutarakan keluhannya kepada dokter atau bidan terkait sehingga keluhan penyakit sekecil apapun dapat diatas dengan dini. Kalaupun membutuhkan obat untuk mengatasi penyakit tertentu, semisal batuk dan pilek ketika hamil, atau mual muntah ketika hamil, maka setidaknya diperlukan suatu upaya oleh dokter dalam memilih dan memilah obat-obatan tertentu yang aman untuk ibu hamil. “Karena wanita ingin dimengerti.” Rupanya kalimat tersebut memang benar adanya dan mengandung makna yang dalam. Dalam membicarakan hal-hal seperti ini tidak bisa lepas dari peran berbagai lingkup. Lingkup yang paling kecil: keluarga inti. Suami harus sadar, meskipun yang membesar adalah perut istrinya, tetapi hal itu tidak lepas dari “urun sperma” sang suami, dan tidak sekedar urun sperma, tetapi suami juga sebisa mungkin tetap mendampingi istri, tetap memberikan dukungan moral dan perhatian. Miris ketika di fasilitas pelayanan kesehatan, masalah ibu melahirkan masih banyak yang terbentur biaya. Boleh jadi strata pendidikan tidak tinggi, kondisi sosial ekonomi tidaklah baik, tetapi setidaknya untuk urusan menyisihkan uang untuk persalinan bisa dipersiapkan. Katakanlah menyisihkan 10ribu setiap hari selama 9 bulan, bisa dihitung berapa nominalnya? Atau mengurus berkas administrasi untuk mengikuti Jaminan Kesehatan Nasional sehingga hanya dengan iuran sebesar 30ribu-60ribu setiap bulan, ibu hamil mampu bersalin dibantu tenaga ahli dengan gratis. Banyak cara, dan sebagai masyarakat, dan sebagai manusia berakal, mencari tahu adalah siasat untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Sejumlah komplikasi sewaktu melahirkan bisa dicegah, misalnya komplikasi akibat aborsi yang tidak aman.

Komplikasi seperti ini menyumbang 6% dari angka kematian. Sebagian besar sebenarnya bisa dicegah kalau saja perempuan memiliki akses terhadap kontrasepsi yang efektif. Saat ini hanya sekitar separuh perempuan usia 15 hingga 24 yang menggunakan metode kontrasepsi modern. Metode yang paling umum dipakai adalah suntik, diikuti oleh pil. Proporsi perempuan (usia 15-49) yang menggunakan alat kontrasepsi mengalami peningkatan dan prosentasenya pada tahun 2006 adalah 61% (SDKI, 2007). Berbagai potensi masalah lainnya bisa dicegah apabila para ibu memperoleh perawatan yang tepat sewaktu persalinan. Apakah kita kekurangan bidan desa? Sebenarnya, pemerintah pusat telah melatih banyak bidan, dan mengirim mereka ke seluruh penjuru Indonesia. Namun, sepertinya, pemerintah daerah tidak menganggap hal tersebut sebagai prioritas, dan tidak memperkerjakan para bidan setelah berakhirnya kontrak mereka dengan Departemen Kesehatan. Selain itu, ada masalah terkait kualitas. Para bidan desa mungkin tidak mendapatkan pelatihan yang cukup atau mungkin kekurangan peralatan. Jika mereka bekerja di komunitas-komunitas kecil, mereka mungkin tidak menghadapi banyak persalinan, sehingga tidak mendapat pengalaman yang cukup. Namun salah satu dari masalah utamanya adalah jika disuruh memilih, banyak keluarga yang memilih tenaga persalinan tradisional. Mengapa banyak keluarga lebih memilih tenaga tradisional? Karena berbagai alasan. Salah satunya, biasanya lebih murah dan dapat dibayar dengan beras atau barang-barang lain. Keluarga juga lebih nyaman dengan seseorang yang mereka kenal dan percaya. Mereka yakin bahwa tenaga persalinan tradisional akan lebih mudah ditemukan dan beranggapan bahwa mereka bisa lebih memberikan perawatan pribadi. Dalam kasus-kasus persalinan normal, ini mungkin benar. Namun jika ada komplikasi, tenaga persalinan tradisional mungkin tidak akan dapat mengatasi dan mungkin akan segan untuk meminta bantuan bidan desa. Hal ini dapat mengakibatkan penundaan yang membahayakan jiwa karena tidak secepatnya memperoleh perawatan kebidanan darurat di pusat kesehatan atau rumah sakit. Keterlambatan dapat juga terjadi karena kesulitan dan biaya transportasi, khususnya di daerah-daerah yang lebih terpencil. Kenyataannya, perempuan mana pun dapat mengalami komplikasi kehamilan, kaya maupun miskin, di perkotaan atau di perdesaan, tidak peduli apakah sehat atau cukup gizi. Ini artinya kita harus memperlakukan setiap persalinan sebagai satu potensi keadaan darurat yang mungkin memerlukan perhatian di sebuah pusat kesehatan atau rumah sakit, untuk penanganan cepat.

download

Pengalaman internasional menunjukkan bahwa sekitar separuh dari kematian ibu dapat dicegah oleh bidan terampil, sementara separuhnya lainnya tidak dapat diselamatkan akibat tidak adanya perawatan yang tepat dengan fasilitas medis memadai. Perlu diingat, terdapat empat pilar Safe Motherhood yang terdiri atas kontrasepsi, pelayanan antenatal, persalinan yang bersih dan aman, serta pelayanan obstetri esensial. Sekitar 60% persalinan di Indonesia berlangsung di rumah. Dalam kasus seperti ini, para ibu memerlukan bantuan seorang ”tenaga persalinan terlatih”. Untungnya banyak perempuan yang mendapatkan bantuan tersebut. Pada tahun 2007 proporsi persalinan yang dibantu oleh tenaga persalinan terlatih, baik staf rumah sakit, pusat kesehatan ataupun bidan desa, telah mencapai 73%. Sekali lagi angka ini sangat bervariasi di seluruh Indonesia, mulai dari 39% di Gorontalo hingga 98% di Jakarta. Penting untuk menumbuhkan kesadaran pribadi di hati masing-masing manusia. Peran serta masyarakat secara aktif agresif sangat baik. Menghidupkan kader-kader kesehatan di lingkup masyarakat untuk menyebarluaskan pengetahuan memang penting. Yang dihadapi adalah bukan masalah satu atau dua lingkup desa, tetapi lingkup internasional, di mana laporan tiap daerah akan dikumpulkan menjadi satu dalam satu negara, laporan tiap negara akan disetorkan dalam wahana internasional untuk dikaji apakah dunia berhasil menurunkan Angka Kematian Ibu. Mulailah hal yang kecil untuk mendapatkan hal yang besar. Ini bukan untuk kepentingan pribadi tetapi untuk kepentingan bersama. Jika masih sulit untuk menerapkan bahwa diri sendiri memang wajib turut serta mensukseskan hal ini, cukup berpikiran sederhana bahwa semua orang mengidamkan keluarga yang sehat dan bahagia. Bagaimana dengan Anda?

 

hiccup

Cegukan bukanlah suatu fenomena alam yang dahsyat seperti kepicirit atau ngompol di celana, tapi yang jelas, setiap orang pernah mengalaminya bukaaaan?

Bukan! *dih garing banget*

Okay, sekarang, saya mau membahas sedikit tntang cegukan. Cegukan terkadang memang tidak sebegitnya mengganggu, tapi ketika kita harus berbicara dengan rentang waktu yang agak panjang, lalu tau-tau cegukan, risih juga kali ya.

Spontan yang dilakukan oleh kita ataupun orang-orang di sekitar kita adalah: “minummmm…ambil aiiir…” yah tindakan semacam itu sejenis dengan orang yang kepedesan.
Lantas, apakah cegukan otu sama dengan kepedesan? Tidak. Hahahaja *kok malah nggak nyambung

Jadi, cegukan itu terjadi ketika diafragma (apa itu diafragma? Diafragma bisa dikatakan sebagai otot yang memisahkan rongga da dan rongga perut) mengalami kontraksi. Kontraksi itu semacam kejang, atau memendek, nah, kontraksi diafragma ini menyebabkan pita suara (bahasa kerennya adalah plica vocalis) menutupnayau kontraksi juga, dan terdengarlah suara yang keras dan tinggi yaitu cegukan.

Kontraksi atau relaksasi dari diafragma dan pita suara tak lain tak bukan dikarenakan sistem saraf autonom yangbada di dlaam tubuh kita. Sistem saraf autonim adalah sistem saraf yang bukan kita sadari. Ya iyalah, sekarang kalau kita bisa mengontrol cegukan, kita memilih utk tidak cegukan bukan?  Belum tentu juga ding. Kalau aku, semisal di kelas ditanyai dosen pertanyaan gampang bgt tapi aku ga bs jawab saking bodohnya diriku, aku memilih untuk cegukan.. Hahahaha! Tapi cegukan kan berlangsung tanpa kita sadari. Maka, kita harus tahu makanan apa saja yang memicu cegukan, kondisi apa saja yang memicu cegukan, dan bagaimana cara menghentikannya..

Makanan pedas, berbumbu, serta asap tebal adalah pemicu cegukan.  Percaya atau tidak? Coba sendiri.

Pneumonia, radang selaput dada, atau kerusakan dindaerah tertentu di otak yang mengatur persarafan autonom akan beranggungjawab terhadap terjadinya cegukan.

Apa artinya? Ya intinya persarafan tbuh manusia itu seperti kabel listrik. Ketika ada yang korslet, atau impuls listrik yang dijalarkan itu sedang bingung, maka terjadilah ketidakseimbangan kontraksi dan relaksasi dari diafragma dan pita suara, yang berujung pada cegukannnns.

Cara mudah lainnya menyembuhkan cegukan adalah dengan menahan nafas, minum segelas air dingin, atau makan sesendok gula. Bisa juga dengan cara unik lainnya yait dengan meletakkan kantong kertas di depan mulut dan mencoba bernapas dari kantong kertas itubselama beberapa menit.

Jaraaaang loooh terjadi cegukan selama beberapa menit. Jika cegukan berlangsung selama beberapa hari, langkah yang bijak adalah berkonsultasi ke dokter. Kenapa? Karena kita harus waspada. Waspada gimana ni? Ya seperti yg tadi sudah dijelaskan, cegukan itu hasil dari ketidakseimbangan perjalanan impuls saraf, kalau cegukannya kelamaan, ditakutkan ada sesuatu di saraf kita yang mungkin memang tidak apa-apa, tp menjurus ke suatu sakit yang lebih dari sekedar cegukan…