DOCTOR'S SECRET

Young Doctor. Struggling to make others smile

Category : Perjalanan Harvard National Model United Nation

JAWA - Dalam bahasa Jawa, terdapat penyimpangan pola penamaan bilangan yang konon memiliki falsafah yang amat mendalam jika dikaitkan dengan penyebutan usia seseorang. Jika dicermati dengan seksama, penyimpangan ini memang berbeda dari lazimnya penyebutan angka-angka di kepulauan melayu atau nusantara.

Penyimpangan tersebut terjadi mulai dari beberapa angka belasan hingga sampai angka 60. Ya, sampai angka 60 saja! Hal ini semakin menguatkan dugaan bahwa penyebutan tersebut memang erat kaitannya dengan usia manusia, mengingat usia 60 merupakan rata-rata panjang usia seseorang.

Keunikan penamaan angka jawa

Dalam bahasa Jawa, angka 11 tidak disebut sebagai ‘sepuluh siji’, 12 bukan ‘sepuluh loro’, 13bukan ‘sepuluh telu’ dan seterusnya hingga angka 19 yang tidak disebut sebagai ‘sepuluh songo’. Namun, angka 11 disebut sebagai ‘sewelas’, 12 disebut sebagai ‘rolas’ dan seterusnya hingga 19yang disebut sebagai ‘songolas’.
Apa makna dibalik semua ini? Mengapa sepuluhan diganti dengan welasan?

Filosofinya, bahwa pada usia 11 tahun hingga 19 tahun adalah saat-saat berseminya rasa welas asih (belas kasih) pada jiwa seseorang, terutama terhadap lawan jenis. Itulah usia di mana seseorang memasuki masa akil baligh, masa remaja.

Asal usul angka Jawa Selawe seket dan sewidak

Sementara dalam banyak bahasa, bilangan 11 hingga 19 memang diberi nama dengan pola yang berbeda. Dalam bahasa Indonesia disebut dengan belasan. Sedangkan dalam bahasa Inggrisdisebut dengan teen, sehingga para remaja pada usia tersebut disebut teenagers.

Seterusnya, bilangan 21 hingga 29 dalam bahasa Jawa juga dinamakan berbeda dengan pola umum yang ada.
Dalam bahasa lain biasanya sesuai pola. Misal dalam bahasa Indonesia diucapkan dua puluh satu, dua puluh dua, dan begitu seterusnya hingga dua puluh sembilan.

Sedangkan dalam bahasa jawa tidak demikian, angka 21 tidak disebut sebagai ‘rongpuluh siji’, 22tidak disebut rongpuluh loro, dst, melainkan 21 disebut selikur, 22 disebut rolikur, dan seterusnya hingga 29 yang disebut songo likur, kecuali angka 25 yang disebut sebagai selawe.

Di sini terdapat satuan Likur yang tidak lain merupakan kependekan dari LIngguh KURsi, artinya duduk di kursi.

Kenapa 25 itu Selawe , 50 itu Seket dan 60 Sewidak?

Mengapa disebut demikian? Falsafahnya, bahwa pada usia 21 hingga 29 itulah pada umumnya manusia mendapatkan “tempat duduknya”, baik itu berupa pekerjaannya, profesi yang akan ditekuni dalam kehidupannya; apakah sebagai pegawai, pedagang, seniman, penulis, dan lain sebagainya.
Bahkan yang lebih menarik, angka 25 memiliki sebutan khusus, yang mana bilangan 25 tidak disebut sebagai limang likur, melainkan selawe.

Apa maknanya, Selawe konon merupakan singkatan dari SEneng-senenge LAnang lan WEdok, itulah puncak asmaranya seorang laki-laki dan perempuan, yang ditandai oleh pernikahan. Maka pada usia tersebutlah (25) pada umumnya seorang laki-laki berumah tangga (dadi manten),
Memang tidak semua orang menikah pada usia tersebut, tapi jika dirata-rata memang di antara usia21-29. Pada saat kedudukan sudah diperoleh, pada saat itulah seseorang siap untuk menikah.

Dari angka 30 hingga 49, penamaan angka dibaca normal seusai pola urutan, misalnya telung puluh, telung puluh siji, telung puluh loro, dst.
Tapi ada penyimpangan lagi nanti pada bilangan 50. Mestinya, angka ini disebut sebagai limang puluh, namun sebutan populernya tidaklah demikian, angka 50 lebih sering disebut dengan seket.
Apa makna dibalik semua ini? Konon SEKET merupakan kependekan dari kalimat SEneng KEthonan, artinya suka memakai kethu / alias tutup kepala/topi/kopiah dan sebagainya.

Hal ini menandakan usia seseorang semakin lanjut, dan tutup kepala merupakan lambang dari semua itu. Selain itu tutup kepala merupakan alat untuk menutup rambut yang mulai botak atau memutih.
Di sisi lain, tutup kepala bisa juga berupa kopiah yang melambangkan orang yang sedang beribadah.

Memang demikian, pada usia 50 sudah seharusnya seseorang lebih memperhatikan ibadahnya. Setelah sejak umur likuran bekerja keras mencari kekayaan untuk kehidupan dunia, sekitar 25 tahun kemudian, yaitu pada usia 50 perbanyaklah ibadah, untuk bekal memasuki kehidupan akhirat.

Lain 50, lain pula 60. Angka ini tidak populer dengan sebutan enem puluh, tapi lebih sering disebut dengan sewidak atau suwidak.
Usut punya usut, konon sewidak merupakan kependekan dari ‘SEjatine WIs wayahe tinDAK’.

Maknanya, sesungguhnya pada usia tersebut sudah saat seseorang bersiap-siap untuk pergi meninggalkan dunia fana ini. Maka kalau usia kita sudah mencapai 60, lebih berhati-hatilah dan tentu saja semakin banyaklah bersyukur, karena usia selebihnya adalah bonus dari Yang Maha Kuasa.

Asal usul angka Jawa

 

UNIK BUKAN ? ITULAH SALAH SATU DARI BANYAKNYA KEUNIKAN DI DALAM SUKU JAWA .
Sumber: http://www.blogilyas.com/2015/09/kenapa-25-itu-selawe-50-itu-seket-dan.html?m=1

Syubidam. Syalala. Tibalah perjalanan ke-9 delegasi Djarum Foundation untuk menebarkan  pesona dan jejak kaki di Negeri Paman Sam. Kita sedang menjalankan satu misi: mencari Tante Sam (duh garing, krik krik krik). Oke, ada 3 tempat yang tercampur aduk di dalam memoriku, mari aku perkenalkan dengan memoriku:

 

Top of The Rock dan Empire State adalah gedung pencakar langit yang ada di New York. Fungsinya sama yaitu sebagai tempat wisata dan sebenarnya merupakan gedung perkantoran. Keren ya, bisa menjadi gedung multifungsi: perkantoran dan wisata. Jadi kalau pegawainya jenuh ngetik ngadep laptop sampe mukanya kotak-kotak kaya SpongBob, mereka bisa memilih untuk wisata ke puncak gedung itu.

313453_4565122601225_1646851414_n

Liberty Statue adalah patung yang merupakan lambang kebebasan warga dunia, karena New York itu tidak sekedar milik warga New York sendiri, tetapi menurut siapapun, termasuk saya, New York adalah ibu kota dari segala manusia di dunia. Di sana kamu bebas berekspresi, menyanyi di jalan, buka baju ga jelas di jalan, ciuman di muka umum, pipis di sembarang tempat (terbukti dari pesingnya subway station di New York).

 

Pada suatu hari, datanglah 9 orang anak manusia yang tidak pernah bermimpi akan menginjakkan kaki di negeri Paman Sam dalam usia 21 tahun (ya ada yang 22 tahun juga lah ya, tapi kira-kira segituan lah).  Mereka adalah, sebut saja Edward, Bonita, Hafiz, Rudi, Karisa, Harumi, Jessica, dan Penny. Mereka bersembilan hendak menghabiskan City Pass (semacam tiket yang memang sudah including tempat-tempat wisata seru di New York).  New York adalah kota pertama sekaligus penutup perjalanan singkat delegasi Djarum Foundation di Amerika Serikat.  Karena kerennya New York, sopir taksi sering meminta tip yang tinggi, terutama terhadap turis-turis yang mungkin bertampang agak bodoh seperti saya.  Pernah nih ya, kita naik taksi. Setelah sampai di tempat tujuan, argometer menunjukkan angka 16 dolar kalo ga salah, tapi si sopir mintanya 25 dolar yang dibayarkan ke dia.  Yah, kalo duit tinggal metik kaya daun sih ga masalah, tapi karena itu bukan musim semi, jadi daun-daun masih belum tumbuh *loh* .. Ketika itu, aku setaksi dengan Harumi dan Rudi, dan terjadilah percakapan ini.

 

Sopir   : “USD 25. I drive to the place you ask for, so now, give me USD 25.”

Rudi    : “We don’t have too much money. I just give you this.”

Sopir   : “This is not USD 25.”

Rudi    : “We just have this.” (20 dolar)

Sopir   : “I don’t leave till you give me USD 25.”

Rudi    : “But the Argo meter said that this is USD 16. And you beg USD 25. ARE YOU CHEATING ON ME?”

Sopir   : (speechless) (pergi deh)

 

Hmm, Rudi keren. Kata-kata “are you cheating on me” nya itu sungguh fenomenal. Ya mungkin dalam beberapa film drama, “are you cheating on me” dipakai oleh antar pasangan yang sedang berpacaran ketika marahan atau merasa dikhianati. Misal seperti ini:

Ada cowo selingkuh kepada cewe lain (bukan ke cowo lain ya). Terus si cowo ini ketawan. Nah, cewenya akan bilang: “are you cheating on me?” Nah, mungkin, sopir taksinya merasa bahwa Rudi menganggap mereka sedang berpacaran, lalu si sopir taksi ini lagi berkhianat, dan ketawan deh sm Rudi. Makanya ketika Rudi bilang “are you cheating on me” si sopir yg tadinya ngejawab terus kalo diajak ngomong, langsung speechless dan pergi.

11962_4780678749994_1171024168_n

Puncak Empire States menurutku adalah yang benar-benar paling menginspirasi. Di sana ada 8 titik mata angin, dan di tiap titik itu ada nomornya missal 1 – 8. Nah, tiap pengunjung itu diberi semacam HT yang ternyata fungsinya adalah kayak radio gitu. Jadi misal kita sedang menghadap ke arah utara, dan ternyata utara itu adalah diberi tanda nomor 1 di puncak empire state, lalu kita memencet tombol angka 1 pada HT, maka HT itu akan mengeluarkan suara yang isinya kira-kira begini: “Sekarang kamu menghadap ke arah utara. Di sini kamu bisa melihat pemandangan New York di utara, mulai dari Sungai lallalaa, dll.” Lalu diterangkanlah New York dilihat dari sisi utara ini, dideskripsikan di HTnya itu, dalam bahasa Inggris sih memang. Tapi seru kan? Coba, gedung pencakar langit di Indonesia bisa ga ya dibikin kaya gt. Kan seru tuh kalo dari atas gedung pencakar langit kita melihat keindahan kota secara lengkap dari berbagai arah mata angin. Kota Jakarta misalnya, ada salah satu gedung yang dibuat seperti ini. Lalu pengunjungnya diberi HT satu persatu. “Yak sekarang anda berada di titik no.1. Dari sini anda bs melihat pemandangan utara kota Jakarta. Di sebelah Utara ini ada titik kemacetan di Jalan blabla.. blablabla.. lalu ada Tanjong Priok, tempat insiden luka bacok blablabla.”

“Yak sekarang anda berada di titik no.2. Anda sedang melihat ke arah timur laut Jakarta. Dari sini nda bisa melihat Jalan blablala yang merupakan pusat kemacetan terparah di dunia.” Zzzzz. Tapi saya optimis, Indonesia bisa seperti ini di kemudian hari. Amin.

 

Ngomong-ngomong soal gedung pencakar langit, suatu hal yang membanggakan bahwa saya bisa melihat pembangunan dari gedung World Trade Center. Mereka seperti gedung kembar, dan pembangunannya masih (katanya) mencapai taraf ¾ dari seluruh rangkaian pembangunan.  Kerennya lagi, sejak insiden teroris di sana, WTC malah dijadikan ajang wisata ziarah. Kalau mau mendoakan orang di sana, masuk ke dalam WTC ada tiket masuknya sendiri dan tidak termasuk ke dalam City Pass. Karena bokek, saya tidak ke sana. Saya hanya mengagumi dan mendoakan pembangunan WTC. Amin.

 

_DSC0084

Liberty Statue ini benar-benar icon dari Amerika. Entah kenapa selain bendera bintang dan garis merah-putihnya, Amrik menjatuhkan iconnya pada Liberty. Tetapi karena baru saja terjadi Sandy Hurricane, maka akses ke pulau yang ada Liberty Statue-nya ditutup. Kita bisa sekedar mendekati patung itu dengan menggunakan kapal, dan itulah yang kita lakukan. Makanya, foto-fotonya si liberty statue itu kecil, karena kita fotonya dari atas kapal. Udah gitu kapalnya kan kapal Amerika, jadi banyak anginnya (pefefefet ga nyambung sih). Yang jelas, angin di atas kapalnya emang sangat kenceng sehingga rambut ga kece buat difoto, berantakan banget… Untung Libertynya kece banget, jadi kita punya banyak foto kece meskipun rambut ga kece.

 

ya sekian dulu ya dari saya, hufhafhuf !!! @ursulapenny

Nonton broadway

Amerika katanya negeri Paman Sam. Satu hal yang aku lihat di sana: manusia Cuma nyanyi sama bikin lagu aja tapi penghasilannya bujubuneng, gede banget (artis-artis sana maksudnya). Yah sayangnya sepanjang di Amerika, aku Cuma ketemu artis itu waktu nonton Broadway. Broadway adalah opera panggung yang waktu kecil dulu itu jadi iklan suatu sabun, nyanyi seriosa di depan khalayak public, sambil menampilkan suatu drama yang mungkin ceritanya ya gitu-gitu doing.

Hmmm, Broadway kemarin berjudul “A Cat in A Tin Roof” (bahasa Indonesianya: ada kucing di genteng, sebenernya kalo dibahasa indonesiakan entah kenapa ga menjual, dan terdengar seperti judul suatu opera lawakan). Untuk menonton kisah kucing di genteng ini, kita harus merogoh kocek USD 100 per manusia, (dan untungnya dibayarin Djarum), dengan artis Scarlet Johanson, yang main film Avenger. Cantik sih, tapi karena kita rombongan,mampunya tiket yang memberikan kursi di lantai atas dan belakang, itu artinya panggungnya tampak kecil seperti TV 32 inch. Ngokngok.

Awal film:
Semua melek. Mata terbuka 100%. Kalau dalam bahasa kedokteran: Glassgow Coma Scale (GCS) 15.

Pertengahan film:
Beberapa tumbang.

Jeda film:
Karisa (bukan nama sebenarnya) dan Penny (bukan nama sebenarnya) mulai berdiskusi tentang keberadaan perjalanan film.
Karisa : “Pen, jadi ini tu gimana sih? Tentang suami istri, suaminya lesbi ya?”
Penny : “Masaaa?” (berarti ga mengerti ceritanya sama sekali) “aku Cuma tau kalo tadi si cowonya itu lepas celana terus pantatnya keliatan” (tapi entah kenapa, aktornya lepas celana, meskipun membokongi penonton, tapi kan tetep aja keliatan pantatnya. Mulus pfft)
Karisa : “Iya, jadi si suaminya cewe ini bilang kalo dia suka sama temen baseballnya.”
Penny : “Oh, yang temen baseballnya waktu kuliah itu ya. Aku kira temen baseballnya itu cewe.”
Karisa : “Bukan, temen baseballnya itu cowo.”
Penny : “OOOOO….”
Karisa : “Terus si suami istri ini bertengkar karena anak-anaknya ribut gitu ya?”
Penny : “Itu bukan anak-anaknya mereka, itu anak-anak dari kakaknya si cowo itu.. jadi itu keponakan mereka. ”
Karisa : “O iya ding, kan si cowonya homo, jd ga bisa punya anak kali ya. ”
Penny : “Terus meaning dari cerita broadway ini apa ya kar?”
Tiba-tiba datanglah Rudi (bukan nama sebenarnya), lebih tepatnya Rudi bukan datang sih, tapi daritadi dia di situ, dan mungkin agak annoying dengan percakapan Karisa dan Penny. Rudi menyodorkan HP Blackb*rry Torc* putihnya kepada Penny, lalu berkata “Udah daripada bingung, baca gih sinopsisnya!”

Jeda Broadway telah selesai
Penny dan Karisa sudah membaca sinopsisnya. Kini mereka mulai mengerti broadwaynya udah sampai di mana ceritanya. Bahkan sepertinya mereka lebih memahami cerita itu daripada sutradaranya karena setelah membaca synopsis sampai tamat, sebenarnya tidak ada gunanya lagi menonton lebih jauh karena endingnya sudah tertebak. Jadi, kisahnya tak beda dengan FTV di Indonesia. Mungkin jika kisah ini disadur menjadi suatu FTV, jatohnya agak alay, karena kisahnya hanyalah tentang cowo yang homo, menikah dengan cewe super duper cantik (Scarlet Johanson). Si cowo ini sekarang pincang, padahal dulu pemain baseball. Sekaraang dia sudah tidak bisa bermain baseball lagi karena kakinya pincang. Kenapa kakinya pincang? Karena dia main baseball. Kok ga bisa main baseball lagi? Karena kakinya pincang.
Keluarga cowo ini kaya raya, jadi meskipun cowo ini pincang dan tidak bs bekerja lagi, keluarganya hepi-hepi aja, karena slogan keluarganya adalah: yang penting hepi. Nah ayah si cowo ini sayang banget cowo ini. Supaya ga ribet, karena aku lupa nama aslinya cowo ini, aku sebut saja Ucim. Ucim ini dimintai ayahnya segera punya anak, karena meskipun cucu di keluarga ini sudah ada 4, tetapi cucu dari Ucim seorang yang akan benar-benar disayang. Nah, si ayah ini punya sakit kanker, ternyata. Si ucim itu cuek aja ayahnya kanker. Akhirnya, demi mendapatkan warisan dari si ayahnya, si Scarlet bilang sama ucim: “aku pura-pura hamil aja.” Gitu deh ceritanya. Selesaaai…

Nah, di tengah babak ke dua…
Penny : “Tu kan kar, ayahnya tu sayang sm menantunya, tu buktinya…”
Karisa : “….”
Penny : “Kar.. kar kar.. (nengok ke Karisa)
Karisa 0 watt, kalau dalam bahasa kedokteran itu GCS = <10 ahahaha.
Penny akhirnya tidak dapat berdiskusi tentang jalannya film. Untung Penny sudah membaca synopsis yang ada di HP rudi. HP itu sangat berjasa khususnya dalam mensukseskan kenarsisan Rudi selama di Amerika.

Akhirnya delegasi HNMUN Djarum Foundation berusaha menarik kesimpulan dari film ini:
Judul film ini: Kucing di Atas Genteng. Scarlet Johanson itu cantik, tetapi kenapa yang ngelepas celana itu malah actor cowonya? Hubungan kucing di atas genteng dengan kisah ini adalah: mmmm… mmmm.. apa ya? Mungkin ketika ini semua terjadi, ada kucing di atas genteng.

Selesai.

Talent can be meet by twitter:
@ScarletJohanson @karskharis @ursulapenny @Rud_Chn

Tanggal 12 Februari -28 Februari 2013 akan menjadi hari yang sangat bersejarah dalam hidupku, mungkin akan menyetarai hari pernikahan, hari kelahiran anak pertamaku, dan lebih hebat dari hari wisuda sarjanaku, tetapi setara indahnya dengan hari di mana aku akan disumpah menjadi dokter. Kenapa? Kok bisa? Iya, karena tanpa mimpi atau tanpa berharap terlalu tinggi dan terlalu riil, saya berhasil menapakkan kaki pertama kali di luar negeri, yaitu AMERIKA SERIKAT (sebenarnya, secara teknis, negara pertama yang ditapaki adalah  Qatar sebagai tempat transit dari pesawat yang saya tumpangi ke Amerika).

Bercerita dari awal saja gimana? Kalau ada yang bosan, bisa langsung exit, ato scroll down ke bawah sehingga langsung di bagian endingnya aja. Hahaha…Pada blog sebelumnya, sudah diceritakan tentang persiapan keberangkatan ke Amerika, yaitu untuk mengikuti HNMUN 2013, dan di blog sebelumnya, sudah dinyatakan bahwa saya masih tidak percaya mendapatkan semua ini, sampai akhirnya, saya benar-benar berada di Amerika, bukan sulap bukan sihir, gratis pula. Nah, emang sih, seperti menang lotere, tapi kalau kita melihat kilas balik perjuangan kita ke belakang, kita akan mengangguk-angguk bahwa ini emang hasil doa dan usaha kita.  Terimakasih Djarum Foundation.

Berangkat dari Jakarta kalau tidak salah tanggal 11 Februari 2013 pukul 00.20 waktu Jakarta, H+7 dari Greenwich. Pencatatan waktu ini sangat penting untuk mencantumkan letak kita sedang di mana, karena di Doha kan udah beda lagi waktunya, di Amerika Serikat juga udah beda lagi waktunya. Pusiang. Yang lebih pusiang lagi sebenarnya adalah mengatur pola makan. hahaa. Jadi di pesawat Qatar, kita diberi makan 4x,benar-benar tidak bisa ditandai itu adalah breakfast, lunch, ataukah dinner. Pokoknya makan. Pokoknya laper. Pokoknya tidur. Pokoknya kebelet  pipis. Pokoknya nonton film di pesawat sampai ketiduran. Pkoknya tidur. Pokoknya makan. Gilak. Gendut di pesawat dong ya. Hahaha.

Setelah transit di Doha, Qatar, kami melanjutkan perjalanan menuju Amerika Serikat. Sebenarnya tujuan dari perjalanan ini adalah mengikuti HNMUN 2013 di Boston, tetapi karena bandara internasionalnya yaitu John F Kennedy International Airport berada di New York, maka kami diturunkan di New York, baru setelah itu, melakukan penerbangan domestik ke Boston. Fihuh, sungguh perjalanan panjang, apalagi troli di bandara kalau bukan di Soekarno Hatta Airport disuruh bayar, sekali pake troli US$ 20, alamak, setara dgn Rp 200ribu dong yah, huhu, padahal cuma pakai troli doang loh. Tapi sih untungnya koper kami ketika berangkat nggak berat (ralat: nggak seberat waktu pulang, entah kenapa, waktu perjalanan pulang, koperku mendadak hamil dan beranak pinak menjadi bertambah koper-koper lain, haha)

Entah kenapa aku sangat suka sekali dengan salju. Empuk-empuk unyu gimana gitu. Putih. Bersih. Tanpa rekayasa, mereka turun dari langit, terus nempel di baju, kalo disentuh, langsung jadi air, tapi ga banyak juga sih bentuk air dari pencairan salju itu.  Dan memang school bus berwarna kuning seperti yang banyak di film kartun serta komik. Lucu banget, school bus memiliki kekhasan tersendiri dalam hal bentuk maupun warna.

jalan di salju

Pada gambar di atas, aku ingin menunjukkan school bus yang unyu itu, dan juga jalanan bersalju seperti yang ada di pinggir jalan itu.  Perbedaan yang mendasar dengan Indonesia adalah pekerjaan dari petugas kebersihan kota. Di Indonesia, petugas kebersihan menyapu jalanan dari dedaunan dan ranting, serta sampah masyarakat (sampah masyarakat? orang dong. gue dong. Haha). Sedangkan di Amerika, petugas kebersihan di musim salju bertugas membersihkan jalanan dari tumpukan salju.

Dari total 17 hari di Amerika, kita menghabiskan waktu seminggu di Boston. Hari pertama di Amerika, masih penuh semangat dan exciting untuk mengetahui dunia ini (kenapa saya bilang begitu, karena seiring bertambahnya hari, semangat kita di Boston semakin berkurang karena keinginan untuk menikmati sambel lombok tidak dapat diwujudka), kita berjalan-jalan menuju kampus ternama di dunia yaitu MIT dan Boston. (saran dan tips: bawa sambel lombok, atau bubuk cabe dari Indonesia, agar semangat kita tetap terjaga, haha). MIT dan Boston keren banget boook, sumpah deh, hal yang berbeda dan nggak ada di universitas lain di Indonesia, tetapi mereka punya, adalah: halaman kampus mereka penuh salju. Ya, salju. Hahhaa. Sampai dingin banget deh mau bela-belain foto sambil megang kakinya patung John Harvard. Kenapa keinginanku sedemikian besar untuk memegang kaki patung John Harvard? karena kalau megang kepalanya nggak nyampe, makanya pegang kakinya. Bukan, bukan sekedar itu alasannya. Alasan sebenarnya karena ada mitos bahwa apabila kita berhasil memegang kaki patung John Harvard, maka kita akan dibawa kembali lagi ke Harvard University suatu hari nanti (amin).

PhotoGrid_1362304160543

Kalau melihat foto di atas, apa yang terlintas di benak kalian? Yeiy, sama dong! yaitu: Semoga mitos itu benar. Hahahaha.

Uang saku selama di Amerika memang dijamin oleh Djarum (untuk uang makan), tetapi untuk uang shopping ataupun oleh-oleh, tidak dijamin Djarum dong. haha.. Tetapi entah bagaimana ceritanya, kami menghabiskan hampir setengah total uang jajan di “The Coop” Harvard University. Apa itu The Coop? The Coop adalah koperasi mahasiswa yang memang dikelola oleh mahasiswa. Di sana dijual merchandise asli Harvard seperti hoodey, kaos, tas, bolpen, tumbler, dan lain-lain. Yang menjadikan itu mahal adalah logo Harvard yang memang menjual banget sih. Hehehe.

Hmm, suhu di Boston dingin, mungkin sekitar 0 – 1 derajat Celcius. Kalau di Amerika Serikat, berita cuaca itu bisa 24 jam nonstop, dan menggunakan skala perhitungan Fahrenheit, jadi kesannya hangat, yaitu misalnya sekitar angka 22-30 derajat fahrenheit. Padahal kalau dikonversikan ke celcius? Ampun deh, haha. Pakaian bisa berlapis-lapis. Hari pertama 1 lapis, hari kedua 2 lapis, hari ke 16, 16 lapis? hahaha. Nggak gitu sih.

Tata cara berpakaian di tengah cuaca 30 derajat fahrenheit:

lapis 1: BH dan celana dalam

lapis 2: long john

lapis 3: kaos dan celana dalam

lapis 4: kalo mau kaos atau kemeja lagi

lapis 5: coat, kaos kaki, dan boots

Hahhahaa sumpah deh, ribet bener mau pergi kemana-mana di sana, harus inget 5 lapis ini, tapi masih mending sih daripada harus 7 lapis. Iya nggak? Ini masih hari pertama perjalanan kami di Boston, nantikan kisah selanjutnya perjalanan di Amerika. Masih ada 15 hari tersisa untuk aku ceritakan secara gamblang di sini. Yang jelas tidak akan boring loh.

Sebagai penutup, aku ingin berbagi suatu pengetahuan upil kepada pembaca. Patung John Harvard yang aku pegang di foto itu, sebenarnya bukan John Harvard yang sesungguhnya. Sang artis pembuatnya yaitu Charles Franch menggunakan sosok mahasiswa Harvard bernama Sherman Hoar untuk dijadikan inspirasi muka patung John Harvard. Yeah! Hehehe..

Terimakasih sudah membaca, semoga bermanfaat dan berguna.

Salam hangat, sehangat salju yang dikeleki, Penny.

Mungkin ke Harvard adalah bukan impian utama saya. Yeah. Terbiasa dengan apa adanya, tidak terlalu berambisi, itulah saya. Mungkin saya cenderung introvert utk urusan pribadi, tetapi kali ini saya ingin berbagi kebahagiaan dengan kalian semua.

PhotoGrid_1362299887587

Harvard Nation Model United Nation (HNMUN) is one of international congress yang menyediakan sarana utk mahasiswa yg ingin tahu bagaimana merasakan sidang United Nation (Perserikatan Bangsa-Bangsa).

Honestly, since Djarum Foundation opened the recruitment for Djarum Beasiswa Plus’ students, I didn’t have any motivation to join those things which smelled going abroad, because my family in home never teach me to go abroad, aku rasa karena alasan biaya.  Awalnya aku kira this is not free, ya tetep aja lah ada dikit banyak keluar biaya (mungkin), but so far, I am free for all payments. And I am very thank to Djarum Beasiswa Plus.

This is my first time going abroad, so basicly I don’t have passport. Can you imagine that my first States in my passport list is…. tadaaaaa! United States of America. Oh My Mom, this is so wonderful, and this is the biggest thing I’ve got in my whole life.  Tapi jujur, saya tidak pernah sama sekali secara sadar bertekad utk ke sana.  Makanya, kadang aku berpikir bahwa ini bonus banget dalam kehidupanku.. Hmmm.. Tidak pernah juga ada keingunan sama sekali untk exchange programs students gituh, karena sekali lagi, saya memikirkan bagaimana kalau harus keluar biaya sendiri. Untk keinginan goes abroad ini, selalu saja saya membentengi diri saya dengan biaya.

But, how can you go ahead if you always put a ford in front of you? Saya sadar, dsya membentengi diri saya sendiri dan membatasi kemampuan saya sendiri.. Padahal orang lain melihat bahwa saya bisa.

Akhirnya datang sang malaikat yg mengingatkan saya bahwa YOU MUST TRY! Why not? Dan malaikat ini memberikan banyak harapan dan, embukakan jalan pikiranku bahwa dunia ini todak sekedar Indonesia saja. Aku yg awalnya hanya seorang anak bangsa yg bermimpi akan sukses dengan segala sistem yg sebenarnya rumit di negara uni, akhirnya berani berharao untuk menginjakkan kaki keluar negeri, tanpa harus takut akan hal apapun, because if you attempt hard to everything, there will always be the way, dan si malaikat ini mengajarkan hal ini kepadaku..

You know guys? When I try to get it, everything is like flowing in me. I get my toefl score which can pass the requirements, and I also write my 1000 word paper fastly, and tadaaaa.. soon, I can apply my application form, paper, and toefl score…

And the result was announced when I get semester exam. Reading my name was include in one of the delegation of HNMUN, I was so glad, and I can’t study anymore in that time even the exam had would be held the next day. Aw aw aw.. my gift is not stopped.

Djarum Foundation gives us (9delegates) some training to improve yourself so that we can join the congress in a full mind of great ideas. Latihan yang diselenggarakan Djarum juga free hotels, free airplane tickets, free transports, pokoknya kaya ngerasain Nation Building lagiiii dehhhh.. Seru banget. Selain itu, aku jadi semakin dekat dengan 9 orang lain, dan mengenal pembina-pembina Djarum lainnya yang keren-keren seperti Mas Sapto dan Mbak Vivi. And of course, my meeting to the angel who I’ve mentioned in the early blog is more frequent. He is Program Director of Djarum Foundation, Mr. Primadi Serad .. and you know? When I wrote his name in this blog, and I have a wrong alphabetic written, my gadget directly recorrect his name automaticly. So wonderful his name is. Haha.

Okay, delegasi dari Djarum sejauh ini berlatih untuk meninkatkan skills, and I forgot to mention our chef d`mission, Edward Sutanto. Dia sangat berdedikasi tinggi, tidak sekedar menjadi chef d`mission, dia juga merangkap menjadi trainner kita. Maklum, sudah sering ikut acara MUN seperti ini, Edward adalah ujung tombak harapan kita sebagai “best delegates” hihi., because there is no reason for Edward for not being that, dan kita semua kedelapan delegasi lainnya selalu mendoakan hal itu, jika inget. Wkwkwk.

Hmm, sebenernya banyak banget yang mau ditlis, karena euforia kebahagiaan rasanya pertama kali ke luar negeri itu ga bisa digambarkan dengan kata-kata.. Apalagi sudah setengah tahun nggak ngeblog ot rasanya kaku banget mau nulis lagi..

Hmmm, sejauh ini, semua persiapan tlah berjalan dengan baik. Kita nantinya akan berlatih 4 kali, dan itu berlangsung 8-10 februari, tepat sebwlum 11 februari 2013 kita akan berangkat menuju Boston. So glad if i do like counting down days, but it means ujian proposal skripsi juga semakin dekat hahaa! Latihan pertama adalah latihan yg amat berkesan karena kita merasa amat sangat bodoh, dihadapkan dengan simulasi MUN yg dibuat oleh para jagoan MUN dari Universitas Diponegoro Semarang, (yeah it is also my almamater too), dan berakhir dengan pembuatam resolution yg hanya dibuat oleh Edward saja, karena kita berdelapan masih binun harus apa.

Hahahaa. Lucu kalo flash back ke latihan pertama, kita baru aja kenal satu sama lain, dan langsung ketawan semua begonya, haha, kecuali Edward.

Latihan kedua berlangsung di Jakarta. Dan latihan kedua ini adalah latihan skill menulis, seru, karena kita dilatih oleh coach dari Universitas Indonesia yg handal pastinya, dan mereka juga ternyata seumuran kita, daaaan mereka juga mau berangkat ke HNMUN 2013 loh. So, we will meet them all there soon. We were learning about how to write position paper, draft resolution, and resolution Di manaa ketika latihan pertama hanya Edward Yang bisa.

Latihan ketiga is the most wonderful training because we prepared our welcome video to HNMUN in cultural clothes, and we took a video in Monumen Nasional Jakarta. It just so fun, dan kita sempet diusir karena dikira foto prewedding. Hahaha. Mungkin karena bajunadat yg kita pakai trlampau heboh, atau kecantikan dan kegantengan kita terlampau shinny. Hahaha!

Thats’s all about my journey.. Doakam kita bersembilan yg akan berangkat ke USA, semoga kita bisa melakukan yang terbaik di sana. Aminnn…
God bless you all!