DOCTOR'S SECRET

Young Doctor. Struggling to make others smile

Tiga Alasan IDI Tolak Layanan Dokter Primer

December 11, 2015 | Posted in Berita, berita-lengkap, news-nasional

 

DSC_4924 edit

Mahkamah Konstitusi (MK) akhirnya menolak seluruh permohonan uji materi Undang-undang no.20 tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran yang diajukan Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI). Ini berarti, Fakultas Kedokteran wajib menyelenggarakan program Dokter Layanan Primer (DLP).

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Lantas mengambil sikap untuk tetap tidak menerima pendidikan tersebut. Bahkan mereka akan mengambil langkah hukum lain dalam bentuk legislatif untuk tetap menjamin keberlangsungan kinerja dokter umum di layanan primer.

Setidaknya ada 3 Alasan utama IDI menolak program pemerintah tersebut, yaitu:

1. Kesepakatan Muktamar

Menurut Ketua Umum IDI, Prof Dr Ilham Oetama Marsis, SpOG pada wartawan, ditulis Jumat (11/12/2015) saat Muktamar ke 29 beberapa waktu lalu di Medan, perwakilan dokter di seluruh Indonesia secara mufakat telah menolak DLP.

“DLP akan memberatkan calon dokter dan dianggap merendahkan serta meragukan kompetensi dokter umum yang melayani di layanan primer,” katanya.

‎Menurut Marsis, kesepakatan di forum menganggap Perhimpunan Dokter Layanan Primer Indonesia tidak diakui sebagai Perhimpunan Dokter dibawah IDI. Hal ini akhirnya menjadi konsekuensi profesi yang diatur dalam Undang-undang nomor 20 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran dalam hal pengakuan dan rekomendasi izin Praktik serta merugikan masyarakat.

2. Sudah ada SDKI

Kata DLP telah ada dalam Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) 2012 sebelum lahirnya undang-undang Pendidikan Kedokteran. Dalam hal ini, SKDI telah disusun oleh PB IDI bersama Perhimpunan Dokter Pelayanan Primer (PDPP) yang terdiri atas Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI) dan Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) serta disahkan Konsil Kedokteran Indonesia.

Hal inilah yang menjadi landasan hukum atas pengakuan kompetensi lulusan dokter baru melalui Uji Kompetensi dan penjagaan kompetensinya lebih lanjut setelah 5 tahun melakukan praktik kedokteran melalui Pengembangan Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan.

Marsis mengatakan, dokter dengan SKDI dirasa cukup mengatasi masalah di layanan primer. Dengan adanya DLP itulah yang akan mengancam kompetensi mereka karena ada dokter umum dan dokter spesialis layanan primer.

“DLP apakah masuk spesialis atau umum, dalam. UU masih rancu. Sementara ada 80 ribu lebih dokter yang menjadi anggota IDI dan mereka menjadi gate keeper di Fasilitas Kesehatan Primer,” kata Marsis.

 3. Kurangnya Sarana dan Prasarana

‎IDI menganggap, DLP akan sulit berjalan karena kurangnya sarana dan prasarana, termasuk langkanya dosen Kedokteran di beberapa daerah terpencil. Belum lagi dengan kurangnya alat di Faskes Primer.

“Mengapa banyak orang lari ke rumah sakit dan malas ke puskesmas atau klinik? Karena disana tidak lengkap alatnya. Di sisi lain, bagaimana dokter umum mau pintar kalau d‎ia tidak pernah pegang alat EKG atau rontgen. Jadi kenapa bukan ini dulu dibenahi,” katanya.

‎Marsis menambahkan, saat ini yang jadi permasalahan bukan hanya kompetensi dokternya karena kompetensi mereka akan meningkat dengan sarana dan prasarana yang memadai.Tetapi ada 6 komponen yang saling berkaitan seperti sarana yang bagus, obat bagus, tersedianya alat kesehatan, ada tenaga media, pembinaan operasionalisasi serta tenaga medis yang kompeten.

Sumber : liputan6.com

SMA Taruna Nusantara, aku benar-benar dari sana

Keberadaanku sekarang berwarna hijau. haha bukan ini yg mau kutulis, tapi tentang diriku ketika SMA.  sebenarnya kelemahanku adalah suka seenak jidat dalaM bertingkahlaku. melihat sesuatu yang bagiku tdk masuk akal tetapi menjadi aturan, tdk akan aku patuhi. banyak hal yang kecil mritil dan aneh, tetapi karena rasa takut, banyak orang mematuhinya dan itu terjadi di SMA Taruna Nusantara, contoh: siswi kelas 1 tidak boleh cantik. hahaha sebenarnya tidak seperti itu aturannya, tetapi seperti ini: siswi kelas 1 tidak boleh memakai jepit yg berwarna selain hitam, tsk boleh memakai bando dgn warna apapun, tdk bole memakai anting yg mencolok. mungkin bagiku ini nggak masuk akal. anting? Anting kita sendiri, bando? Bamdo kita sendiri. begitu juga dengan jepit. ujungnya, ketika disadari, hal ini lebih kepada cara pembelajaran kedisplinan, yang akhirnya benar-benar tertanam sampainaku lulus: aku ga suka pake jepit selain warna hitam, aku ga suka pake bando slain untuk menyibak poni yg terlalu panjang, aku ga suka pake anting. salut deh sama SMAku. hahaha. tetapi, jangan salah, sebelum bisa diterapkan dalam kehidupam sehari-hari seperti sekarang, aku sempat mekanggarnya, hahahaha, sehingga dilabrak oleh kakak kelas, dan akhirnya aku mnurut.
okelah, yg tadi itu adalah aturan antar adik-kaka tingkat. masih banyak lagi aturan antar siswa di asrama, antar siwa di meja makan, antar siswa dan guru, dan yang lainnya. hahaha lalu berkat serangkaian aturan itu, aku pernah dibawa menjadi orang dengan penyandang nilai kepribadian terburuk di angkatanku, dengan nilai rapot menjadi salah satu yg terbaik di angkatan. miris sekali, mengingat di SMAku tdk sekedar nilai akdemik yang dipertimbangkan, tetapi juga nilai kepribadian (sikap dan tingkah laku) serta nilai kesehatan jasmani. Sebagai penyandang cacat, ups, maksudku, sebagai penerima beasiswa dari gubernur propinsi tempatku berasal, saat itu Pak Mardianto, lalu beliau menjabat Mendagri 2tahun setelah memberikanku beasiswa, halo Paaaak hahahaha, oke lanjut lagi, memiliki nilai kepribadian trendah di angkatan adalah sesuatu yg tdk baik. Seketika itu aku terkenal di kalangan Wakasek hahaha, lalu aku ditanyai macam-macam kenapa bisa nilai kepribadianku rendah seperti itu. lah kenapa nanya ke aku Pak? Ya tanya dong kepada pemberi aturan sehingga sikapku yg biasa saja malah dianggap salah. haha.
bukan, memang aku nakal sih. aku pernah membentak guru (disana disebut pamong) ketika hariku buruk, dia menegurku untuk masalah yang ga penting, tetapi menegur dengan agak membentak, lalu aku diam, dan dia semakin membemtak, akhirnyaa aku balas bentak “Saya lagi banyak masalah Bu! Jgn marah-marah dong.” lalu dia meledakledak membentakku dgn lebih panjang, aku diceramahi macam-macam, semacam jangN MEMBENTAK dan dia jg menjelaskan bahwa dia jg punya banyak masalah. yah begitulah. toleransi untuk perasaan di sana sangat sedikit, apalagi untuk seseorang yg bukan anak dari siapa-siapa sepertiku. untunglah hal ini hanya berdampak untk nilai kepribadianku, dan untunglah dalam mencari perguruan tingi, nilai rapot tdk dipertimbangkan.tetapibsejak itu aku semakin mengerti, bahwa ketika ada ibu ibu marah marah di hadapanmu, hadapilah dgn diam, karena masalah beliau pasti lebih banyak dari diri kita yg belum ibu ibu hahahaha.
masalahku yg lain adalah, aku menyukai sesuatu yg baru. karena seragam SMA ku yang berwarna biru muda itu aku rasa membosankan, akhirny aku berjalan-jalan ke mall yg cukup ramai dengan kakak kelas, ketika it memang diperbolehkan pesiar, dan aku berganti baju, mengenakan baju bebas. oke, aku memang masih kelas 1, teapi cukup banyak kakak kelas yg mengenaliku, aku kira bergantibaju ketika pesiar it bole dan sah saja, ternyata itu adalah hal yg ilegal, akhirnya sepulang dari pesiar, aku langsung disidang oleh kakak-kakak yg memang sayang dan care dengan diriku hehehe, lalu aku disuruh minta maaf di depan teman- teman seangkatan, saat itu malu, tapi ternyata mereka support aku banget, dan dari situ, aku menyadari, pelajaran berharga kali ini bukanlah: AKU DILARANG MEMAKAI BAJU BEBAS KETIKA PESIAR , karena bagiku Tuhan pun tdk mempermasalahkan baju apa yang aku pakai, tetapi lebih kepada: WOW TEMAN-TEMANKU BAIK HATI DAN SUPPORT AKU APAPUN KONDISIKU, dan di situlah kekeluargaan TN yg pertama kali kurasakan. humm.
banyak hal yg terjadi ketika SMA, kenangan pahit dan manis, dan aku sadar, aku adalah bagian dari sesuatu yg membanggakan, terlepas dari kebiasaanku yg suka berkonflik, karena sesungguhnya masih banyak konflik yg pernah aku perbuat di sana. handphone? Hahaha tiga kali aku berganti ponsel ketika SMA, dan dua kali aku terangkap basah membawa ponsel. hukumannya adalah ponselkundisita dan diambil ketika hari kelulusan. hahahaa selain itu, hukumannya adalah mengenakan jubah hukuman, yaitu jubah yg berwarna hijau seperti pakaian hansip. kisahnyapun selalu bodoh: aku ketiduran ketika memegang ponsel, lalu pegangan kendor, dan ponselku merangkak merosot ke lantai, dan ahirnya jengjeeeeng, ditemukan oleh pamong lalu disita. menyebalkan. saking sebelnya, aku pernah membawa kisah ini ke alam mimpi ketika sudah berkuliah dan sudah 3 tahun lepas dari SMA ini. hahahaha.
kisah konflik yang lain adalah, saking banyaknya, bingung mau menceritakan yang mana lagi, hahahaa, kisah konflik lain adalah terperangkap dalam asiknya pesiar. tidak setiap minggu diijinkan pesiar, sehingga setiap keluar pesiar, aku malas untuk pulang ke asrama, akhirnya aku dengan teman-teman, bagaikan burung yg dilepas dari sangkar (lebay, tapi memang begitulah keadaan yg kita hadapi) selalu memanfaatkan jam pesiar dengan maksimum, bahkan lebih dari maksimum, alias telat. kalau apes, ya ketawan pamong graha dan dihukum lari keliling graha atau dihukum sekom (swmacam skotjam tapi cuma jongkok-berdiri-jongkok-berdiri), yah begitulah. Selalu aa konsekuensi dari apapun yg kita perbuat bukan, bersenang-senang dahulu, bersakit-sakit kemudian. Setelah sekian lama keluar dari asrama, aku merssa jalan-jalan dan menghirup udara bebas adalah hal yg biasa, dan malah membosankan, sesuatu yg dulu langka aku dapatkan, justru kini adalah sesuatu yg membosankan. Fiyuuuuh.. Konflik lain akan aku ceritakan kapan-kapan, karena blog ini sudah mulai penuh, dan aku juga mulai jenuh menceritakan rangkaian konflik yg pernah aku alami di tarnus, yg jelas hidupku menjadi tdk membosankan krn aku memang suka berkonflik utk menambah pengalaman. Ucapan terimakasih tak putus-putusnya kuucapkan kepada para pamong yg tidak bosan menghukum dan meladeni diriku utk berkonflik. Hahahaa. Horeeeee.. Salam hangat dariku, seorang anak yg tdk pandai mengetik tetapi tetap berusaha menulis.

 

PS: Ini catatan harianku ketika aku berusia 20 tahun sepertinya, masih labil, tapi aku suka <3

#secret 25: Salat 12 Rakaat Setara Senam Kegel dalam Mengatasi Disfungsi Ereksi

Berdasarkan jurnal internasional, gerakan salat berpengaruh dalam mengatasi disfungsi ereksi. Disfungsi ereksi merupakan kondisi medis yang didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk memulai atau mempertahankan ereksi untuk kegiatan sanggama dan secara umum diklasifikasikan sebagai disfungsi ereksi psikogenik, organik, ataupun campuran psikogenik dan organik. Psikogenik adalah penyebab yang berkaitan dengan pikiran atau psikis, organik adalah penyebab yang berkaitan dengan anatomis atau fisiologis tubuh.

Banyak cara untuk menterapi disfungsi ereksi yaitu meliputi konseling psikoseksual, terapi dengan inhibitor PDE-5, medikasi oral, alat vacuum, terapi injeksi intrakavernosus (menyuntik penis), operasi vaskuler, dan penggunaan implan prostetik penis (memasang penis palsu). Pengobatan yang paling sering adalah meminum obat yang mengandung inhibitor PDE5, yang merupakan terapi awal untuk kebanyakan pasien dengan disfungsi ereksi. Terapi lain yang ipilih adalah senam otot dasar panggul, yang memang secara statistik memberikan efek yang menguntungkan untuk kasus disfungsi ereksi.

Pada penelitian ini, terdapat 10 sampel yang terdiri dari  7 orang Muslim dan 3 orang non-Muslim. Untuk 7 orang Muslim, mereka melakukan gerakan salat lebih banyak daripada salat wajib sehari-hari, dan dilakukan dengan gerakan yang perlahan (sesuai dengan anjuran Rasul, gerakan salat dilakukan dengan perlahan, tidak terburu-buru) sebanyak 12 putaran (12 rakaat) sehingga satu kali terapi membutuhkan waktu 30 – 36 menit, sedangkan 3 orang non Muslim memperagakan gerakan salat ini bukan untuk kepentingan ibadah, tetapi untuk kepentingan pengetahuan, yaitu “meniru” gerakan salat sebanyak 12 putaran selama 30 – 36 menit juga. Sepintas tampak sama antara grup 7 orang Muslim dengan 3 orang non-Muslim, namun, grup Muslim melakukan gerakan tersebut dengan pelafalan bacaan bahasa Arab, sedangkan grup non-Muslim tidak.

Selama 4 bulan penelitian, maka dilakukan pengukuran volume penis dengan menggunakan skor NEVA dan klasifikasi IEC. Terdapat peningkatan volume sebesar 2 kali lipat ukuran sebelumnya (222%), dengan nilai kemaknaan secara statistik p<0,05 (hasil bermakna), serta memperlama durasi kontraksi otot pada penis, dan ketika dibandingkan dengan senam otot dasar panggul (senam Kegel), gerakan salat memberikan hasil yang setara baiknya.

Hal ini terkait dengan kelancaran aliran darah yang meningkat dengan dilakukannya salat. Salat yang dianjurkan Rasul yaitu gerakan salat yang dilakukan dengan tidak terburu-buru, dan dengan memaksimalkan rakaat salat yaitu sebanyak 12 rakaat, terbukti melalui penelitian ini.

Masih mau meninggalkan salat? Efek kesehatan salat lainnya akan dibahas pada artikel selanjutnya. Yang jelas, Allah mewajibkan kita melakukan sesuatu padahal itu adalah untuk kebaikan kita juga. Syukron.

 

Sumber:

Ibrahim F, Sian Tee, Shanggar Kuppusamy, et al. Muslim Prayer Movements as an Alternative Therapy in the Treatment of Erectile Dysfunction: A Preliminary Study. Dari Journal Physical Therapy Scinence Sep 2013; 25 (9): 1087-1091.  Diakses [7 Des 2015] dari http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3818777/

 

gerakan salat

Angga Dwian Prakoso: Ulangtahun

Malam ini aku tulis khusus semua tentang Angga Dwian Prakoso.

Nggak apa-apa dong nyampah.

Hehehe memberi kepuasan diri di tengah kesibukan persiapan UKMPPD yang akan tiba 12 hari lagi (counting down the time).

Oke, Angga Dwian Prakoso.

Angga sendiri memiliki arti tubuh, atau anggota badan. Hal ini benar-benar mencerminkan dirinya yang berbadan tegap, kekar, tinggi, besar, dan aku selalu merasa bahwa Angga bisa melindungiku nanti dari apapun.. Angga juga orangnya sangat sabar, dan menyayangiku sepenuhnya.

Dwian artinya anak kedua. Memang, Angga adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Angga merupakan anak tengah-tengah, dan orangtuanya tentu sangat menyayanginya, dan sangat bangga kepada dirinya, termasuk pula diriku. Aku sangat bangga, dan aku sangat menyayanginya.

Prakoso artinya kuat. Yang ini terbukti banget, kuat bertahan menjalani hubungan denganku, sabar dan tetap sangat amat baik kepada diriku, tidak pernah berkurang rasa sayangnya. Rasa sayangnya begitu kuat. begitu kokoh.

Baru-baru ini, Angga Dwian Prakoso berulangtahun. Angga lahir 24 tahun silam, tepatnya pada tanggal 8 November 1991. Jujur saja, tua aku. Hahahaha. Aku lahir pada tanggal 23 Juni 1991, tetapi aku bangga pada Angga, karena Angga tidak menampakkan bahwa dirinya lebih muda dariku, bahkan memang secara fisik tampak lebih tua Angga wahahha. Bukan bukan, Angga belum beruban. Hanya saja, badannya sangat besar, bongsor, tetapi keren, atlet renang dan sepak bola. Kadang-kadang bisa juga jadi atlet pulau kapuk. Kalau tidur ilernya kemana-mana. Basah semua. Nooohh bajuku pernah jadi sasaran ilernya gegara tidurnya di pundakku.

Angga sangat suka berolahraga. Lama sudah tidak bermain sepak bola, kini angga merambah ke dunia tani. Kini Angga menanam padi di sawah, bersama Gopro barunya. Tapi aku bohong. Yang benar adalah: Angga sekarang suka futsal, sampai-sampai kalau futsal, aku ngambek. Karena Angga bagaikan hilang ditelan bumi kalau futsal! Iya, benar, ga ada kabar gitu. Ilang peeet udah ilang iya ilang.

Sepatu futsalnya ada banyak. Kata Angga, “Ini sepatu futsal untuk lalala, fungsinya memutar bola agar lebih lilili” (sejujurnya aku kurang paham sih di bagian lalalala dan lilili nya. Lalu untuk sepatu futsal lainnya, “Kalau yang ini untuk pemain tengah, sepatu ini fungsinya akan membantuk lari karena lalala lebih ringan.”

Entahlah, futsal itu benar-benar dunianya.

Aku dan Angga sama-sama pecinta musik. Aku suka bernyanyi, Angga pun juga. Sehingga kalau karokean, kita sok-sok duet gitu. Tapi lebih asik lagi kalau ngejam bareng, secara aku suka banget main piano, dan Angga bisa banget main gitar, dan dia juga bisa main piano. Asik kan? Enggak. Kenapa? Karena kita orangnya sukanya rebutan. “Eh lagu ini aja!” “Jangan dong yang, lagunya yang ini aja” Atau misal udah sepakat lagunya apa, nanti tau-tau, “Ihhh aku aja yang main piano, aku bisa kok!” “Enggak, aku tau kuncinya, sini aku aja, sayang yang nyanyi!!”

Plis deh hahahahaa. Terus misalnya udah nyanyi sampe tengah, reff sekali, terus salah satu dari kita ada yang bilang gini “Ih lagunya ngebosenin, ganti yuk” “Iya yuk ganti aja.” Akhirnya ganti lagu, dan debat lagi deh untuk menentukan lagu selanjutnya.

Apa yang paling aku sukai? Hmmmm.. Angga itu patuh banget sama mama papanya. Aku suka itu. Mama papanya adalah everything untuk Angga, dan aku sangat mengagumi. Bahkan, dia selalu memikirkan kebahagiaan mama papanya, entah dari gajinya ini selalu dipikirkan mau beliin mama papa apa yaaa.. ^^

Yang aku sukai lainnya adalah, puasa Daudnya jalan terus. Salatnya selalu tegak. Dan selalu mengajariku berbuat hal-hal yang baik dan benar, seperti, tidur tepat waktu, jangan tidur molor kayak gini ini. Ya gapapa, namanya juga kelelawar malam, udah lama ga blogging, pengen banget nulis tentang orang yang disayang. Saking Angga rajin banget puasa Daud, aku bertekad akan menamai anakku dengan nama Daud. Tapi ya betenya sih, kalau misal ketemuan, terus weekend gitu ya, terus Angga cuma makan misal hari Sabtunya, atau hari Minggunya doang. Sisanya aku krik krik krik kemana-mana makan sendiri, minum sendiri, Angga hanya menemani.

Yang aku sukai lainnya? Angga bisa tahu isi hatiku tanpa harus bertanya lebih dalam. Ya bisa dibilang peka lah. Padahal ya aku udah berusaha menutupi, misal aku bete sama dia, eh dia malah nanya, “Kenapa sih yang, kok beda?” “Marah ya yang?”

Padahal aku udah berusaha nahan, tapi karena didesak-desak, jadi meledak deh. Pernah nih ya, saking aku marah banget sama dia, dia bilang “Pukul aja aku, kalau kesel pukul aja aku!!!”

Ya karena kesel, aku pukul beneran deh, terus bajunya aku tarik kerahnya, ehhhhhhhh, kancing bajunya lepas semua, terus bajunya robek. Yassalam, tenagaku yang kuat atau bajunya yang lemah? Haduhhh.. Terus aku nyesel banget, dan sekarang aku ga mau menggunakan lagi ototku untuk kekuatan yang alay kayak gitu.

Angga itu, dulu aku kenal pertama kali setelah dia baru aja supitan. Kayanya perban supitnya masih nempel deh di tititnya ahhahhaahhaa.. Tapi aku ga liat sih, soalnya waktu itu masih pake baju merah putih. Ospek. SMP. Seru banget. Aku kan dari SD Kristen, yang mayoritas orang-orangnya chinese, dan ketika aku melihat mahluk manis yang ga pernah aku lihat sebelumnya, yaaaa aku suka deh. Monkey love. Eh, ternyata dia juga suka sama aku.

Yang aku suka lagi dari Angga Dwian adalah, Angga bisa mengingat setiap detail yang aku pakai, aku lakukan, aku capai, ketika SMP. Misal, dia ingat ketika aku dihukum di lapangan upacara tengah hari, ga boleh ikut pelajaran, karena aku pakai tato temporer dari Bali. Hahahaha. Terus dia juga inget, dulu waktu SMP aku ditaksir sama orang yang namanya sama dengan dia, dan aku malah jadian juga sama cowo itu.

Hahahaha.

Ha.

Ha.

Yang aku ingat dari dia adalah, Angga manis ganteng, tapiii… sukanya mengejekku dengan sebutan “Mbok Jamu” karena pantatku yang besaaar. Padahal aku belum segemuk sekarnag waktu SMP, itu aja pantatku udah besar. Jadi ya wajar ya kalau sekarang juga lebih besar hahahahaha…..

Seringkali pertanyaan mendasar adalah, “Kok mau sih Angga sama aku?”

Hahaha terus dia simpel aja, “Sayang kan first love ku.”

Ceileeeeeee. Susah ya. Padahal Angga ganteng, bisa cari yang cantiknya flawlesss. Cetar. Aku mah biasa aja. Eh terus Angga bilang, “Aku suka kamu tanpa make up atau riasan muka, lebih alami, dan memang cantik seperti ini, apa adanya.”

Nahhhh ini nih, cowo yang bener ya yang suka cewe tanpa riasan muka. (hahaha biar akunya juga ga repot beli kosmetik sana sini lah ya)

Semoga Angga tetap menjadi Angga yang seperti ini, yang menyenangkan, soleh, dan sayang sama aku apa adanya.

Terimakasih telah menjadi bagian dari hidupku…

Selamat ulangtahun Angga Dwian Prakoso! Kesukesan akan selalu mengiringi!!!

 

10991202_942975819046083_5466935426163463656_n

SECRET 24: Madu-Incaran Peneliti utk Atasi Resistensi Antibiotik

-Ursula Penny Putrikrislia- follow twitter: @ursulapenny

follow instagram: @ursulapenny

 

bee-honey-8171343

Lama sekali saya tidak menulis. Mungkin gaya bahasa saya agak kaku, tapi lupakanlah, di sini saya mau berbagi suatu info saja..

Sejak dahulu Ibnu Sina, alias Avicenna, Bapak Kedokteran Dunia, telah mengulas khasiat madu dari segi kesehatan dan kedokteran.  Infeksi bakteri tak lepas dari kehidupan umat manusia. Bakteri, jamur, dan virus ada di mana-mana, dalam bentuk yang tak tampak oleh mata. Namun, keberadaannya dalam jumlah tertentu akan mempengaruhi keseimbangan tubuh manusia sehingga pada titik tertentu akan menyebabkan penyakit.

Semua mikroorganisme tersebut merupakan suatu tantangan bagi umat manusia untuk dilawan dan dicari cara membasminya, salah satu contoh misalnya untuk mikroorganisme bakteri, manusia dengan segenap akal yang diberikan Allah, mencari dan meneliti antibiotik untuk membasmi bakteri. Namun, penggunaan antibiotik seringkali disalahgunakan oleh manusia lainnya, mengingat mudahnya mendapatkan antibiotik di apotek, tanpa memandang betapa sulitnya menemukan satu antibiotik sehingga menyebabkan antibiotik tertentu kini sudah tidak adekuat lagi membasmi bakteri. Kini resistensi bakteri terhadap antibiotik kian bertambah pesat, tidak sebanding dengan kecepatan ditemukannya antibiotik jenis baru.

Pada pertemuan ilmiah ke-27 dari American Chemical Society (ACS), suatu pendekatan baru untuk mengatasi resistensi antibiotik dibahas di sana. Kini para ahli mulai melirik penggunaan madu dalam mengatasi resistensi antibiotik. Profesional medis menyatakan bahwa madu seringkali berhasil mengatasi infeksi pada penggunaan topikal (oles) pada luka, dan madu dapat berperan besar dalam melawan infeksi. Namun hal ini masih diteliti lebih lanjut.

Sejauh ini, substansi yang terkandung pada madu mampu membuktikan bahwa infeksi bakteri dilawan melalui berbagai tahap, tidak seperti antibiotik kimiawi pada umumya, di mana bakteri dilawan hanya melalui satu atau dua tahap. Misalnya, antibiotik amoksisilin, melawan bakteri dengan cara menghambat biosintesis dinding bakteri, atau clindamycin yang menekan sintesis protein untuk perkembangbiakan bakteri dengan berikatan dengan salah satu DNA bakteri, sedangkan madu, dapat bekerja melalui semua proses tersebut. Hal ini disampaikan oleh pemimpin penelitian ini yaitu Susan M Meschwitz, PhD.

Apa yang terkandung di madu seperti suatu “persenjataan” yang lengkap dalam melawan kuman, seperti efek yang sama dengan hidrogen peroksida, efek pH asamya, efek osmotiknya, yang kesemuanya itu mampu membunuh sel bakteri. Eek osmotik dihasilkan dari konsentrasi glukosa yang tinggi dalam madu, yang mengisi sel bakteri lalu menyebabkan bakteri terdehidrasi dan kemudian mematikan bakteri tersebut. Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa madu menghambat pembentukan biofilm, dengan menghancurkan proses yang disebut quorum sensing. Quorum sensing merupakan cara bakteri berkomunikasi dengan bakteri lainnya, di mana bakteri berkomunikasi untuk membentuk biofilm. Pada bakteri tertentu, komunikasi ini juga mengontrol bakteri untuk melepaskan racun, sehingga mempengaruhi patogenitas/keganasan dari bakteri tersebut.

Meschwitz, yang juga meneliti madu di Universitas Sale Regina di Newport menyatakan manfaat lain dari madu tidak seperti antibiotik konvensional lainnya di mana antibiotik lain dapat menimbulkan resistensi terhadap bakteri, sedangkan madu tidak. Kenapa? Karena antibiotik konvensional mentargetkan satu target tertentu saja, misalnya hanya pada dinding bakteri saja, atau hanya pada penghambat sintesis proteinnya saja.

Selain itu, karena seperti yang disebutkan di awal tadi bahwa “persenjataan” madu itu lengkap dalam melawan bakteri, sama dengan efek hidrogen peroksida, madu mampu memliki efek antidioksidan, dan ini telah diuji oleh para peneliti. Dalam madu, terdapat efek antioksidan karena komponen polifenolnya.

Madu, seperti yang telah diteliti oleh banyak penelitian dari para ahli telah terbukti merupakan antimikroba spektrum luas (tidak hanya antibiotik, tetapi juga antijamur, dan antivirus). Substansi lain yang mendukung fungsi madu adalah asam fenol, asam caffeic, asam p-coumaric, asam ellagic, dan flavonoid, quercetin, apigenin, galangin, pinocembrin, kaempferol, lueolin, dan chrysin.

Sebenarnya kerumitan hal-hal yang dibahas di atas jelas telah terbukti karena Allah SWT berfirman dalam Alquran An-Nahl ayat 68 dan 69:

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di di tempat yang dibuat manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap macam buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kebesaran Tuhan bagi orang yang memikirkan.”

Jadi, kita sebagai mukmin perlu bersyukur kepada Allah dan berbangga dengan Al-Quran, yang secara lengkap telah mengulas beragam hal sedetail apapun, bahkan di bidang kesehatan. Madu yang dari awal telah tertulis dalam Alquran, kini diteliti oleh banyak umat manusia, dan hasilnya tak pernah mengecewakan. Madu selalu memiliki efek yang menguntungkan, dan tidak membahayakan. Tidak seperti obat buatan manusia, pasti memiliki efek samping, riwayat adanya pengguna yang alergi, toksik dalam dosis tertentu di hati atau ginjal, dan sebagainya. Madu tidak. Madu memberikan manfaat tanpa meminta ganti rugi pada kita sebagai penggunanya.

Apa yang ditulis di Alquran tidak pernah salah dan tidak akan pernah salah. Penelitian-penelitian yang kini banyak berkembang justru akan semakin menguatkan kebenaran Alquran. Masha Allah, berbahagialah kita semuanya.

#secret 23: Perdarahan dan Kejang pada Kehamilan – Penyebab Utama Kematian Ibu

images

 

Semua orang mengidamkan keluarga yang sehat dan bahagia, juga pendidikan bermutu bagi anak- anak. Selain itu, setiap orang berharap mampu menyediakan sandang dan pangan berkecukupan serta memiliki rumah idaman, hidup dalam sebuah negeri bernama Indonesia yang demokratis, di mana kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan mengatur kehidupan, dijamin oleh undang-undang. Wanita adalah bagian dari target dunia dalam menyelesaikan berbagai masalah yang terangkum dalam Millenium Development Goals (MDGs) 2015. World Health Organization mendapatkan bagian dalam menyongsong keberhasilan MDGs tersebut, salah satunya adalah target kelima yang berbunyi: “Meningkatkan Kesehatan Ibu”. Goal kelima ini tak hanya terdiri dari tiga kata, tetapi memiliki sub tujuan yaitu Target 5A: Menurunkan Angka Kematian Ibu sebesar tiga-per-empatnya antara 1990 dan 2015 dan Target 5B: Mencapai dan menyediakan akses kesehatan reproduksi untuk semua pada 2015, dalam hal ini adalah cakupan penggunaan alat kontrasepsi KB pada wanita usia subur yaitu 15 – 49 tahun. Masih banyak wanita yang merasa bahwa dirinya baik-baik saja. Dengan menganggap enteng kondisi yang ada dalam diri sebagai wanita, maka masalah akan sulit diatasi karena belum ada kesadaran pribadi dari masing-masing. Wanita adalah mahluk ciptaan Tuhan yang memiliki kodrat sebagai anak, remaja perempuan, wanita dewasa, ibu, dan nenek. Sudah selayaknya pada setiap fase tahap kehidupan tersebut, wanita memiliki kesadaran terhadap setiap bahaya yang mengancam. Ketika fase remaja, banyak remaja perempuan yang mengalami anemia, atau terlibat pergaulan bebas, tanpa pembekalan seksual yang cukup. Ketika akhirnya remaja beralih ke dalam fase ibu, dengan mengantongi anemia, tentu hal ini akan meningkatkan risiko satu orang ibu untuk mengalami perdarahan, persalinan tak maju, dan kurangnya asupan gizi untuk janinya. Itulah mengapa wanita menjadi target yang dikhususkan oleh dunia, karena wanita adalah ujung tombak berkembangnya suatu bangsa. Ibu yang hebat akan menghasilkan anak-anak yang hebat. Anak-anak adalah pemegang kendali generasi bangsa selanjutnya. Angka kematian ibu (AKI) masih sangat tinggi di Indonesia. Setiap tahun, sekitar 20000 ibu Indonesia meninggal akibat komplikasi kehamilan atau persalinan. Setiap 259 ibu meninggal dunia setiap 100.000 kelahiran hidup. Angka ini tentunya “menang” sepuluh kali lipat dari AKI di Malaysia (19/100000) dan Sri Lanka (24/100000). Pada tahun 2015 ini, pemerintah mentargetkan untuk menurunkan AKI menjadi 102 per 100000 kelahiran hidup. Melahirkan seharusnya menjadi peristiwa bahagia tetapi seringkali berubah menjadi tragedi. Berdasarkan data tahun 2015, penyebab utama kematian ibu adalah preeklampsia-eklampsia dan perdarahan. Sebenarnya, hampir semua kematian tersebut dapat dicegah. Karena itu tujuan kelima MDGs difokuskan pada kesehatan ibu, untuk mengurangi “kematian ibu”. Meski semua sepakat bahwa angka kematian ibu terlalu tinggi, seringkali muncul keraguan tentang angka yang tepat. Kita seharusnya dapat memastikan ketika seorang ibu meninggal dunia Namun bisa ada keraguan tentang penyebabnya. Kita tidak mungkin hanya mengacu pada informasi dalam laporan kematian yang bisa saja disebabkan oleh berbagai alasan, terkait ataupun tidak terkait dengan persalinan. Metode yang biasa digunakan adalah dengan bertanya pada para perempuan apakah ada saudara perempuan mereka yang meninggal sewaktu persalinan. “Tingkat kematian ibu” telah turun dari 390 menjadi sekitar 307 per 100.000 kelahiran. Artinya, seorang perempuan yang memutuskan untuk mempunyai empat anak memiliki kemungkinan meninggal akibat kehamilannya sebesar 1,2%. Angka tersebut bisa jauh lebih tinggi, terutama di daerah-daerah yang lebih miskin dan terpencil. Satu survei di Ciamis, Jawa Barat, misalnya, menunjukkan bahwa rasio tersebut adalah 56117. Dunia terus berputar, waktu silih berganti. Kini seiring bertambahnya kemajuan dalam bidang kesehatan, perdarahan yang dulunya adalah penyebab utama kematian pada ibu, kini bergeser oleh kehadiran preeklampsia-eklampsia. Seperti halnya Raden Ajeng Kartini yang mengalami perdarahan pada saat melahirkan bayinya, namun kini kehilangan banyak darah dapat melalui proses transfusi yang aman, dengan uji golongan darah dan Rhesus sebelumnya, peralatan yang steril, dan medikamentosa yang memadai, perdarahan kini bukan menjadi masalah utama. Pernah dengar kejang pada saat kehamilan? Itulah eklampsia. Preeklampsia merupakan suatu kondisi yang mendahului eklampsia. Eklampsia merupakan masalah yang serius pada masa kehamilan akhir yang ditandai dengan kejang dan penurunan kesadaran.

Penyebab eklampsia masih belum diketahui. Preeklampsia-eklampsia diduga ditimbulkan oleh keracunan janin sehingga disebut pula dengan “keracunan kehamilan” atau “toksikemia gravidarum”. Penting bagi para wanita untuk “menghapalkan” dan mengenali durasi menstruasi dan tanggal menstruasinya. Untuk apa? Untuk mengetahui Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT) sehingga dapat dihitung dengan pasti usia kehamilannya. Keracunan kehamilan ini dapat terjadi ketika usia kehamilan memasuki 20 minggu. Dengan mengingat HPHT, maka para ibu hamil dapat lebih mawas diri ketika memasuki usia kehamilan 20 minggu. Preeklamsia dapat dikenali dengan kenaikan tekanan darah di atas 140 mmHg untuk sistole atau 90 mmHg untuk diastole, dan pengecekan air seni mengandung proein sebesear minimal 300 mg per 24 jam atau uji dipstik +1. Namun, ibu hamil harus waspada jika ada berbagai keluhan seperti sakit kepala yang berkepanjangan, ulu hati terasa nyeri, kaki bengkak, mual muntah pada usia kehamilan memasuki 20 minggu, serta pandangan kabur. Mual dan muntah pada awal kehamilan (trimester pertama) bukanlah gejala preeklamsia, melainkan diakibatkan oleh peningkatan kadar hormon estrogen pada ibu hamil. Beberapa jurnal menyatakan penyebab dari keracunan kehamilan ini adalah karena struktur dan jenis plasenta yang menempel pada dinding rahim. Pada ibu hamil, pembuluh darah rahim dan plasenta akan saling berhubungan untuk memenuhi kebutuhan janin. Namun, ada suatu kelainan sehingga pembuluh darah rahim ibu tidak berubah secara sempurna untuk menyesuaikan dengan plasenta sehingga hal ini akan menyebabkan komplikasi tak hanya untuk ibu tetapi juga untuk bayinya. Akar dari permasalahan ini masih belum banyak diketahui, diduga disebabkan oleh kelainan genetik, atau kelainan sistem kekebalan ibu. Maka, dikatakan kehamilan pertama akan lebih berisiko untuk terjadinya preeklamsia-eklamsia mengingat genetik dan kekebalan ibu terhadap janinnya masih pertama kali terbentu. Karena faktor genetik tersebut, maka ada pula yang , bahwa sperma tertentu akan menyebabkkan preeklampsia-eklampsia dan kehamilan pertama akan berpotensi lebih besar karena kekebalan tubuh ibu belum terbentuk terhadap sperma tersebut.

“The dangerous man” adalah julukan untuk pria yang “menyumbangkan” spermanya sehingga menyebabkan terjadinya “keracunan kehamilan” tersebut. Hal ini perlu menjadi sorotan, terutama karena persepsi bahwa preeklamsia-eklamsia ini hanya menyerang kehamilan pertama. Perlu ditegaskan bahwa bukan berarti kehamilan kedua dan ketiga tidak berpotensi untuk menimbulkan hal ini, tetapi karena mengingat faktor genetik tadi, maka semisal ada contoh seorang wanita dengan kehamilan ketiga tetapi dengan suami kedua (berbeda laki-laki) juga berpotensi preeklamsia-eklamsia sama besarnya seperti kehamilan pertama, karena faktor genetik sperma “baru” tersebut belum memiliki “kekebalan” tersendiri pada tubuh wanita itu. Gejala preeklamsia tadi mungkin sepintas adalah gejala yang sepele. Namun memang benar apabila seorang wanita hamil itu perlu diperhatikan dengan “lebih”, mengingat setiap keluhan bisa menjadi suatu tanda dari tersembunyinya suatu penyakit. Misalnya seorang ibu mengeluhkan “Kok pandanganku kabur”, bisa jadi ini adalah suatu awal mula dari eklamsia. Jika gejala preeklamsia ini diremehkan, maka ibu hamil akan memiliki risiko yang besar untuk mengalami eklamsia, di mana akan terjadi perdarahan di otak, gagal ginjal yang akut, pembengkakan pada paru, dan sebagainya yang akan meracuni aliran darah sang ibu, dan merusak organ-organ penting dalam tubuh, selain juga membahayakan janinnya. Ketika seorang ibu hamil sudah mengalami kejang lalu diikuti penurunan kesadaran, hal itu sudah jatuh ke dalam kondisi eklamsia sehingga kehamilan harus diakhiri, tanpa memandang usia kehamilan sudah aterm atau belum. Jika kondisi ibu masih baik, meskipun diagnosis preeklamsia sudah tegak, namun ibu dapat menjalani terapi rawat jalan dengan tetap harus kontrol rutin, setidaknya untuk mengetahui tekanan darahnya setiap minggu, dan kehamlan juga masih bisa dipertahankan. Itulah pentingnya menjalani suatu Pelayanan Antenatal, setidaknya selama 9 bulan kehamilan, ibu hamil memeriksakan dirinya 4 kali untuk mengetahui risiko tinggi yang ada pada dirinya sehingga penanganan dapat lebih dini dilakukan. Nah, hal-hal seperti inilah yang perlu ditanamkan kepada para ibu, wanita, gadis, remaja.

Kesadaran untuk mawas diri karena setiap kehamilan itu berisiko, tergantung risikonya: tinggi atau rendah, sehingga penanganannya lebih tepat dan cepat. Poin penting lainnya, ketika ibu telah melahirkan, dengan riwayat preeklamsia, maka kondisi pasca melahirkan itu bukan serta merta akan melepaskan diagnosis preeklamsia-eklamsianya tersebut. Ibu pasca melahirkan dengan preeklamsia-eklamsia tetap harus dipantau dengan ketat, karena kenaikan tekanan darah dan proteinuria tersebut dapat tetap memicu kejang selama maksimal 40 hari setelah melahirkan (masa nifas selesai). Selain preeklamsia-eklamsia, penyebab kematian ibu lainnya adalah perdarahan saat kehamilan dan persalinan. Perdarahan tidak melulu terjadi ketika melahirkan, tetapi dapat terjadi pada masa kehamilan, terutama apabila ibu masih memaksakan diri untuk bekerja dan beraktivitas, atau jika asupan gizi tidak diperhatikan. Maka, sekali lagi penting untuk mengetahui HPHT sehingga ketika terjadi perdarahan, dapat dirunut dengan detail penyebabnya. Perdarahan pada kehamilan kurang dari 20 minggu dapat didiagnosis dengan abortus, mola hidatidosa, atau kehamilan ektopik terganggu. Perdarahan pada kehamilan 20 – 28 minggu dapat disebabkan oleh kelainan letak penempelan plasenta yang disebut plasenta previa maupun solusio plasenta. Perdarahan pasca persalinan yaitu diakibatkan oleh adanya sobekan jalan lahir, atau adanya kontraksi rahim yang kurang adekuat, atau adanya suatu sisa plasenta yang tertinggal, atau karena ada kelainan pembekuan darah pada ibu hamil. Rumit bukan? Sederhananya, dari berbagai kemungkinan perdarahan di atas, hal sederhana yang mampu dilakukan oleh ibu hamil adalah memeriksakan kehamilannya: minimal satu kali pada trimester pertama, minimal satu kali pada trimester kedua, dan minimal dua kali pada trimester ketiga, sehingga berbagai kerumitan perdarahan itu dapat dipangkas dari awal dan dikenali oleh tim kesehatan sehingga persalinan yang layak dapat direncanakan sesuai kondisi ibu dan janin. Hal mendasar lainnya adalah menanamkan kesadaran pada ibu bahwa ketika hamil ibu sedang memberi makan pada dua orang: dirinya dan bayi dalam kandungannya. Dan berbagai mitos di Indonesia yang masih kental mengenai menyusui juga perlu diluruskan. Mitos di setiap daerah berbeda-beda. Semisal, di daerah Jepara, masih banyak mitos yang mempercayai bahwa ibu setelah melahirkan tidak boleh makan selain “mutih”, yang artinya, ketika menyusui, ibu hanya diperbolehkan minum air putih dan makan nasi putih. Lantas gizi ibu dari mana? Gizi anak dari mana? Tak jarang ibu dilanda anemia, namun karena tidak terlalu mengganggu keseharian, maka anemia ini jarang dikeluhkan. Padahal, anemia ini berpotensi untuk melemahkan kontraksi rahim. Apa akibatnya jika kontraksi rahim lemah? Ketika persalinan, persalinan dapat berjalan lebih lama karena kontraksi yang kurang kuat, atau setelah persalinan, terjadi perdarahan post partum karena kontraksi yang kurang kuat tidak bisa menahan pembuluh darah di rahim untuk berhenti. Bagaikan lingkaran setan, anemia akan menyebabkan kontraksi rahim melemah sehingga berujung pada perdarahan, dan perdarahan tentunya akan membuang banyak darah dan menyebabkan anemia. Pada pelayanan antenatal, ibu akan rutin dibagikan obat tablet yang mengandung zat besi. Hal ini bertujuan untuk mencegah adanya anemia. Anemia memang sederhana, tetapi dampaknya luar biasa, termasuk perdarahan pasca persalinan yang dapat berujung kematian. Selain itu, anemia juga dapat dicegah dengan makan makanan yang bergizi.

Perlu diingat, mengkonsumi tablet besi tidak boleh bersamaan dengan meminum air teh. Zat polifenol pada teh akan berikatan dengan besi sehingga besi akan terbuang sebelum sempat diserap oleh tubuh. Selain itu, pada pemeriksaan antenatal, ibu hamil mampu dengan leluasa mengutarakan keluhannya kepada dokter atau bidan terkait sehingga keluhan penyakit sekecil apapun dapat diatas dengan dini. Kalaupun membutuhkan obat untuk mengatasi penyakit tertentu, semisal batuk dan pilek ketika hamil, atau mual muntah ketika hamil, maka setidaknya diperlukan suatu upaya oleh dokter dalam memilih dan memilah obat-obatan tertentu yang aman untuk ibu hamil. “Karena wanita ingin dimengerti.” Rupanya kalimat tersebut memang benar adanya dan mengandung makna yang dalam. Dalam membicarakan hal-hal seperti ini tidak bisa lepas dari peran berbagai lingkup. Lingkup yang paling kecil: keluarga inti. Suami harus sadar, meskipun yang membesar adalah perut istrinya, tetapi hal itu tidak lepas dari “urun sperma” sang suami, dan tidak sekedar urun sperma, tetapi suami juga sebisa mungkin tetap mendampingi istri, tetap memberikan dukungan moral dan perhatian. Miris ketika di fasilitas pelayanan kesehatan, masalah ibu melahirkan masih banyak yang terbentur biaya. Boleh jadi strata pendidikan tidak tinggi, kondisi sosial ekonomi tidaklah baik, tetapi setidaknya untuk urusan menyisihkan uang untuk persalinan bisa dipersiapkan. Katakanlah menyisihkan 10ribu setiap hari selama 9 bulan, bisa dihitung berapa nominalnya? Atau mengurus berkas administrasi untuk mengikuti Jaminan Kesehatan Nasional sehingga hanya dengan iuran sebesar 30ribu-60ribu setiap bulan, ibu hamil mampu bersalin dibantu tenaga ahli dengan gratis. Banyak cara, dan sebagai masyarakat, dan sebagai manusia berakal, mencari tahu adalah siasat untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Sejumlah komplikasi sewaktu melahirkan bisa dicegah, misalnya komplikasi akibat aborsi yang tidak aman. Komplikasi seperti ini menyumbang 6% dari angka kematian. Sebagian besar sebenarnya bisa dicegah kalau saja perempuan memiliki akses terhadap kontrasepsi yang efektif. Saat ini hanya sekitar separuh perempuan usia 15 hingga 24 yang menggunakan metode kontrasepsi modern. Metode yang paling umum dipakai adalah suntik, diikuti oleh pil. Proporsi perempuan (usia 15-49) yang menggunakan alat kontrasepsi mengalami peningkatan dan prosentasenya pada tahun 2006 adalah 61% (SDKI, 2007). Berbagai potensi masalah lainnya bisa dicegah apabila para ibu memperoleh perawatan yang tepat sewaktu persalinan. Apakah kita kekurangan bidan desa? Sebenarnya, pemerintah pusat telah melatih banyak bidan, dan mengirim mereka ke seluruh penjuru Indonesia. Namun, sepertinya, pemerintah daerah tidak menganggap hal tersebut sebagai prioritas, dan tidak memperkerjakan para bidan setelah berakhirnya kontrak mereka dengan Departemen Kesehatan. Selain itu, ada masalah terkait kualitas.

Para bidan desa mungkin tidak mendapatkan pelatihan yang cukup atau mungkin kekurangan peralatan. Jika mereka bekerja di komunitas-komunitas kecil, mereka mungkin tidak menghadapi banyak persalinan, sehingga tidak mendapat pengalaman yang cukup. Namun salah satu dari masalah utamanya adalah jika disuruh memilih, banyak keluarga yang memilih tenaga persalinan tradisional. Mengapa banyak keluarga lebih memilih tenaga tradisional? Karena berbagai alasan. Salah satunya, biasanya lebih murah dan dapat dibayar dengan beras atau barang-barang lain. Keluarga juga lebih nyaman dengan seseorang yang mereka kenal dan percaya. Mereka yakin bahwa tenaga persalinan tradisional akan lebih mudah ditemukan dan beranggapan bahwa mereka bisa lebih memberikan perawatan pribadi. Dalam kasus-kasus persalinan normal, ini mungkin benar. Namun jika ada komplikasi, tenaga persalinan tradisional mungkin tidak akan dapat mengatasi dan mungkin akan segan untuk meminta bantuan bidan desa. Hal ini dapat mengakibatkan penundaan yang membahayakan jiwa karena tidak secepatnya memperoleh perawatan kebidanan darurat di pusat kesehatan atau rumah sakit. Keterlambatan dapat juga terjadi karena kesulitan dan biaya transportasi, khususnya di daerah-daerah yang lebih terpencil. Kenyataannya, perempuan mana pun dapat mengalami komplikasi kehamilan, kaya maupun miskin, di perkotaan atau di perdesaan, tidak peduli apakah sehat atau cukup gizi. Ini artinya kita harus memperlakukan setiap persalinan sebagai satu potensi keadaan darurat yang mungkin memerlukan perhatian di sebuah pusat kesehatan atau rumah sakit, untuk penanganan cepat. Pengalaman internasional menunjukkan bahwa sekitar separuh dari kematian ibu dapat dicegah oleh bidan terampil, sementara separuhnya lainnya tidak dapat diselamatkan akibat tidak adanya perawatan yang tepat dengan fasilitas medis memadai. Perlu diingat, terdapat empat pilar Safe Motherhood yang terdiri atas kontrasepsi, pelayanan antenatal, persalinan yang bersih dan aman, serta pelayanan obstetri esensial. Sekitar 60% persalinan di Indonesia berlangsung di rumah. Dalam kasus seperti ini, para ibu memerlukan bantuan seorang ”tenaga persalinan terlatih”. Untungnya banyak perempuan yang mendapatkan bantuan tersebut. Pada tahun 2007 proporsi persalinan yang dibantu oleh tenaga persalinan terlatih, baik staf rumah sakit, pusat kesehatan ataupun bidan desa, telah mencapai 73%. Sekali lagi angka ini sangat bervariasi di seluruh Indonesia, mulai dari 39% di Gorontalo hingga 98% di Jakarta.

Penting untuk menumbuhkan kesadaran pribadi di hati masing-masing manusia. Peran serta masyarakat secara aktif agresif sangat baik. Menghidupkan kader-kader kesehatan di lingkup masyarakat untuk menyebarluaskan pengetahuan memang penting. Yang dihadapi adalah bukan masalah satu atau dua lingkup desa, tetapi lingkup internasional, di mana laporan tiap daerah akan dikumpulkan menjadi satu dalam satu negara, laporan tiap negara akan disetorkan dalam wahana internasional untuk dikaji apakah dunia berhasil menurunkan Angka Kematian Ibu. Mulailah hal yang kecil untuk mendapatkan hal yang besar. Ini bukan untuk kepentingan pribadi tetapi untuk kepentingan bersama. Jika masih sulit untuk menerapkan bahwa diri sendiri memang wajib turut serta mensukseskan hal ini, cukup berpikiran sederhana bahwa semua orang mengidamkan keluarga yang sehat dan bahagia. Bagaimana dengan Anda? Artikel obsgyn: Perdarahan dan Kejang pada Kehamilan – Penyebab Utama Kematian Ibu Semua orang mengidamkan keluarga yang sehat dan bahagia, juga pendidikan bermutu bagi anak- anak. Selain itu, setiap orang berharap mampu menyediakan sandang dan pangan berkecukupan serta memiliki rumah idaman, hidup dalam sebuah negeri bernama Indonesia yang demokratis, di mana kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan mengatur kehidupan, dijamin oleh undang-undang. Wanita adalah bagian dari target dunia dalam menyelesaikan berbagai masalah yang terangkum dalam Millenium Development Goals (MDGs) 2015. World Health Organization mendapatkan bagian dalam menyongsong keberhasilan MDGs tersebut, salah satunya adalah target kelima yang berbunyi: “Meningkatkan Kesehatan Ibu”. Goal kelima ini tak hanya terdiri dari tiga kata, tetapi memiliki sub tujuan yaitu Target 5A: Menurunkan Angka Kematian Ibu sebesar tiga-per-empatnya antara 1990 dan 2015 dan Target 5B: Mencapai dan menyediakan akses kesehatan reproduksi untuk semua pada 2015, dalam hal ini adalah cakupan penggunaan alat kontrasepsi KB pada wanita usia subur yaitu 15 – 49 tahun. Masih banyak wanita yang merasa bahwa dirinya baik-baik saja. Dengan menganggap enteng kondisi yang ada dalam diri sebagai wanita, maka masalah akan sulit diatasi karena belum ada kesadaran pribadi dari masing-masing. Wanita adalah mahluk ciptaan Tuhan yang memiliki kodrat sebagai anak, remaja perempuan, wanita dewasa, ibu, dan nenek. Sudah selayaknya pada setiap fase tahap kehidupan tersebut, wanita memiliki kesadaran terhadap setiap bahaya yang mengancam. Ketika fase remaja, banyak remaja perempuan yang mengalami anemia, atau terlibat pergaulan bebas, tanpa pembekalan seksual yang cukup.

Ketika akhirnya remaja beralih ke dalam fase ibu, dengan mengantongi anemia, tentu hal ini akan meningkatkan risiko satu orang ibu untuk mengalami perdarahan, persalinan tak maju, dan kurangnya asupan gizi untuk janinya. Itulah mengapa wanita menjadi target yang dikhususkan oleh dunia, karena wanita adalah ujung tombak berkembangnya suatu bangsa. Ibu yang hebat akan menghasilkan anak-anak yang hebat. Anak-anak adalah pemegang kendali generasi bangsa selanjutnya. Angka kematian ibu (AKI) masih sangat tinggi di Indonesia. Setiap tahun, sekitar 20000 ibu Indonesia meninggal akibat komplikasi kehamilan atau persalinan. Setiap 259 ibu meninggal dunia setiap 100.000 kelahiran hidup. Angka ini tentunya “menang” sepuluh kali lipat dari AKI di Malaysia (19/100000) dan Sri Lanka (24/100000). Pada tahun 2015 ini, pemerintah mentargetkan untuk menurunkan AKI menjadi 102 per 100000 kelahiran hidup. Melahirkan seharusnya menjadi peristiwa bahagia tetapi seringkali berubah menjadi tragedi. Berdasarkan data tahun 2015, penyebab utama kematian ibu adalah preeklampsia-eklampsia dan perdarahan. Sebenarnya, hampir semua kematian tersebut dapat dicegah. Karena itu tujuan kelima MDGs difokuskan pada kesehatan ibu, untuk mengurangi “kematian ibu”. Meski semua sepakat bahwa angka kematian ibu terlalu tinggi, seringkali muncul keraguan tentang angka yang tepat. Kita seharusnya dapat memastikan ketika seorang ibu meninggal dunia Namun bisa ada keraguan tentang penyebabnya. Kita tidak mungkin hanya mengacu pada informasi dalam laporan kematian yang bisa saja disebabkan oleh berbagai alasan, terkait ataupun tidak terkait dengan persalinan. Metode yang biasa digunakan adalah dengan bertanya pada para perempuan apakah ada saudara perempuan mereka yang meninggal sewaktu persalinan. “Tingkat kematian ibu” telah turun dari 390 menjadi sekitar 307 per 100.000 kelahiran. Artinya, seorang perempuan yang memutuskan untuk mempunyai empat anak memiliki kemungkinan meninggal akibat kehamilannya sebesar 1,2%. Angka tersebut bisa jauh lebih tinggi, terutama di daerah-daerah yang lebih miskin dan terpencil. Satu survei di Ciamis, Jawa Barat, misalnya, menunjukkan bahwa rasio tersebut adalah 56117.

Dunia terus berputar, waktu silih berganti. Kini seiring bertambahnya kemajuan dalam bidang kesehatan, perdarahan yang dulunya adalah penyebab utama kematian pada ibu, kini bergeser oleh kehadiran preeklampsia-eklampsia. Seperti halnya Raden Ajeng Kartini yang mengalami perdarahan pada saat melahirkan bayinya, namun kini kehilangan banyak darah dapat melalui proses transfusi yang aman, dengan uji golongan darah dan Rhesus sebelumnya, peralatan yang steril, dan medikamentosa yang memadai, perdarahan kini bukan menjadi masalah utama. Pernah dengar kejang pada saat kehamilan? Itulah eklampsia. Preeklampsia merupakan suatu kondisi yang mendahului eklampsia. Eklampsia merupakan masalah yang serius pada masa kehamilan akhir yang ditandai dengan kejang dan penurunan kesadaran. Penyebab eklampsia masih belum diketahui. Preeklampsia-eklampsia diduga ditimbulkan oleh keracunan janin sehingga disebut pula dengan “keracunan kehamilan” atau “toksikemia gravidarum”. Penting bagi para wanita untuk “menghapalkan” dan mengenali durasi menstruasi dan tanggal menstruasinya. Untuk apa? Untuk mengetahui Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT) sehingga dapat dihitung dengan pasti usia kehamilannya. Keracunan kehamilan ini dapat terjadi ketika usia kehamilan memasuki 20 minggu. Dengan mengingat HPHT, maka para ibu hamil dapat lebih mawas diri ketika memasuki usia kehamilan 20 minggu. Preeklamsia dapat dikenali dengan kenaikan tekanan darah di atas 140 mmHg untuk sistole atau 90 mmHg untuk diastole, dan pengecekan air seni mengandung proein sebesear minimal 300 mg per 24 jam atau uji dipstik +1. Namun, ibu hamil harus waspada jika ada berbagai keluhan seperti sakit kepala yang berkepanjangan, ulu hati terasa nyeri, kaki bengkak, mual muntah pada usia kehamilan memasuki 20 minggu, serta pandangan kabur. Mual dan muntah pada awal kehamilan (trimester pertama) bukanlah gejala preeklamsia, melainkan diakibatkan oleh peningkatan kadar hormon estrogen pada ibu hamil. Beberapa jurnal menyatakan penyebab dari keracunan kehamilan ini adalah karena struktur dan jenis plasenta yang menempel pada dinding rahim.

Pada ibu hamil, pembuluh darah rahim dan plasenta akan saling berhubungan untuk memenuhi kebutuhan janin. Namun, ada suatu kelainan sehingga pembuluh darah rahim ibu tidak berubah secara sempurna untuk menyesuaikan dengan plasenta sehingga hal ini akan menyebabkan komplikasi tak hanya untuk ibu tetapi juga untuk bayinya. Akar dari permasalahan ini masih belum banyak diketahui, diduga disebabkan oleh kelainan genetik, atau kelainan sistem kekebalan ibu. Maka, dikatakan kehamilan pertama akan lebih berisiko untuk terjadinya preeklamsia-eklamsia mengingat genetik dan kekebalan ibu terhadap janinnya masih pertama kali terbentu. Karena faktor genetik tersebut, maka ada pula yang , bahwa sperma tertentu akan menyebabkkan preeklampsia-eklampsia dan kehamilan pertama akan berpotensi lebih besar karena kekebalan tubuh ibu belum terbentuk terhadap sperma tersebut. “The dangerous man” adalah julukan untuk pria yang “menyumbangkan” spermanya sehingga menyebabkan terjadinya “keracunan kehamilan” tersebut. Hal ini perlu menjadi sorotan, terutama karena persepsi bahwa preeklamsia-eklamsia ini hanya menyerang kehamilan pertama. Perlu ditegaskan bahwa bukan berarti kehamilan kedua dan ketiga tidak berpotensi untuk menimbulkan hal ini, tetapi karena mengingat faktor genetik tadi, maka semisal ada contoh seorang wanita dengan kehamilan ketiga tetapi dengan suami kedua (berbeda laki-laki) juga berpotensi preeklamsia-eklamsia sama besarnya seperti kehamilan pertama, karena faktor genetik sperma “baru” tersebut belum memiliki “kekebalan” tersendiri pada tubuh wanita itu. Gejala preeklamsia tadi mungkin sepintas adalah gejala yang sepele. Namun memang benar apabila seorang wanita hamil itu perlu diperhatikan dengan “lebih”, mengingat setiap keluhan bisa menjadi suatu tanda dari tersembunyinya suatu penyakit. Misalnya seorang ibu mengeluhkan “Kok pandanganku kabur”, bisa jadi ini adalah suatu awal mula dari eklamsia. Jika gejala preeklamsia ini diremehkan, maka ibu hamil akan memiliki risiko yang besar untuk mengalami eklamsia, di mana akan terjadi perdarahan di otak, gagal ginjal yang akut, pembengkakan pada paru, dan sebagainya yang akan meracuni aliran darah sang ibu, dan merusak organ-organ penting dalam tubuh, selain juga membahayakan janinnya.

Ketika seorang ibu hamil sudah mengalami kejang lalu diikuti penurunan kesadaran, hal itu sudah jatuh ke dalam kondisi eklamsia sehingga kehamilan harus diakhiri, tanpa memandang usia kehamilan sudah aterm atau belum. Jika kondisi ibu masih baik, meskipun diagnosis preeklamsia sudah tegak, namun ibu dapat menjalani terapi rawat jalan dengan tetap harus kontrol rutin, setidaknya untuk mengetahui tekanan darahnya setiap minggu, dan kehamlan juga masih bisa dipertahankan. Itulah pentingnya menjalani suatu Pelayanan Antenatal, setidaknya selama 9 bulan kehamilan, ibu hamil memeriksakan dirinya 4 kali untuk mengetahui risiko tinggi yang ada pada dirinya sehingga penanganan dapat lebih dini dilakukan. Nah, hal-hal seperti inilah yang perlu ditanamkan kepada para ibu, wanita, gadis, remaja. Kesadaran untuk mawas diri karena setiap kehamilan itu berisiko, tergantung risikonya: tinggi atau rendah, sehingga penanganannya lebih tepat dan cepat. Poin penting lainnya, ketika ibu telah melahirkan, dengan riwayat preeklamsia, maka kondisi pasca melahirkan itu bukan serta merta akan melepaskan diagnosis preeklamsia-eklamsianya tersebut. Ibu pasca melahirkan dengan preeklamsia-eklamsia tetap harus dipantau dengan ketat, karena kenaikan tekanan darah dan proteinuria tersebut dapat tetap memicu kejang selama maksimal 40 hari setelah melahirkan (masa nifas selesai). Selain preeklamsia-eklamsia, penyebab kematian ibu lainnya adalah perdarahan saat kehamilan dan persalinan. Perdarahan tidak melulu terjadi ketika melahirkan, tetapi dapat terjadi pada masa kehamilan, terutama apabila ibu masih memaksakan diri untuk bekerja dan beraktivitas, atau jika asupan gizi tidak diperhatikan. Maka, sekali lagi penting untuk mengetahui HPHT sehingga ketika terjadi perdarahan, dapat dirunut dengan detail penyebabnya. Perdarahan pada kehamilan kurang dari 20 minggu dapat didiagnosis dengan abortus, mola hidatidosa, atau kehamilan ektopik terganggu. Perdarahan pada kehamilan 20 – 28 minggu dapat disebabkan oleh kelainan letak penempelan plasenta yang disebut plasenta previa maupun solusio plasenta. Perdarahan pasca persalinan yaitu diakibatkan oleh adanya sobekan jalan lahir, atau adanya kontraksi rahim yang kurang adekuat, atau adanya suatu sisa plasenta yang tertinggal, atau karena ada kelainan pembekuan darah pada ibu hamil. Rumit bukan? Sederhananya, dari berbagai kemungkinan perdarahan di atas, hal sederhana yang mampu dilakukan oleh ibu hamil adalah memeriksakan kehamilannya: minimal satu kali pada trimester pertama, minimal satu kali pada trimester kedua, dan minimal dua kali pada trimester ketiga, sehingga berbagai kerumitan perdarahan itu dapat dipangkas dari awal dan dikenali oleh tim kesehatan sehingga persalinan yang layak dapat direncanakan sesuai kondisi ibu dan janin. Hal mendasar lainnya adalah menanamkan kesadaran pada ibu bahwa ketika hamil ibu sedang memberi makan pada dua orang: dirinya dan bayi dalam kandungannya. Dan berbagai mitos di Indonesia yang masih kental mengenai menyusui juga perlu diluruskan. Mitos di setiap daerah berbeda-beda.

Semisal, di daerah Jepara, masih banyak mitos yang mempercayai bahwa ibu setelah melahirkan tidak boleh makan selain “mutih”, yang artinya, ketika menyusui, ibu hanya diperbolehkan minum air putih dan makan nasi putih. Lantas gizi ibu dari mana? Gizi anak dari mana? Tak jarang ibu dilanda anemia, namun karena tidak terlalu mengganggu keseharian, maka anemia ini jarang dikeluhkan. Padahal, anemia ini berpotensi untuk melemahkan kontraksi rahim. Apa akibatnya jika kontraksi rahim lemah? Ketika persalinan, persalinan dapat berjalan lebih lama karena kontraksi yang kurang kuat, atau setelah persalinan, terjadi perdarahan post partum karena kontraksi yang kurang kuat tidak bisa menahan pembuluh darah di rahim untuk berhenti. Bagaikan lingkaran setan, anemia akan menyebabkan kontraksi rahim melemah sehingga berujung pada perdarahan, dan perdarahan tentunya akan membuang banyak darah dan menyebabkan anemia. Pada pelayanan antenatal, ibu akan rutin dibagikan obat tablet yang mengandung zat besi. Hal ini bertujuan untuk mencegah adanya anemia. Anemia memang sederhana, tetapi dampaknya luar biasa, termasuk perdarahan pasca persalinan yang dapat berujung kematian. Selain itu, anemia juga dapat dicegah dengan makan makanan yang bergizi. Perlu diingat, mengkonsumi tablet besi tidak boleh bersamaan dengan meminum air teh. Zat polifenol pada teh akan berikatan dengan besi sehingga besi akan terbuang sebelum sempat diserap oleh tubuh. Selain itu, pada pemeriksaan antenatal, ibu hamil mampu dengan leluasa mengutarakan keluhannya kepada dokter atau bidan terkait sehingga keluhan penyakit sekecil apapun dapat diatas dengan dini. Kalaupun membutuhkan obat untuk mengatasi penyakit tertentu, semisal batuk dan pilek ketika hamil, atau mual muntah ketika hamil, maka setidaknya diperlukan suatu upaya oleh dokter dalam memilih dan memilah obat-obatan tertentu yang aman untuk ibu hamil. “Karena wanita ingin dimengerti.” Rupanya kalimat tersebut memang benar adanya dan mengandung makna yang dalam. Dalam membicarakan hal-hal seperti ini tidak bisa lepas dari peran berbagai lingkup. Lingkup yang paling kecil: keluarga inti. Suami harus sadar, meskipun yang membesar adalah perut istrinya, tetapi hal itu tidak lepas dari “urun sperma” sang suami, dan tidak sekedar urun sperma, tetapi suami juga sebisa mungkin tetap mendampingi istri, tetap memberikan dukungan moral dan perhatian. Miris ketika di fasilitas pelayanan kesehatan, masalah ibu melahirkan masih banyak yang terbentur biaya. Boleh jadi strata pendidikan tidak tinggi, kondisi sosial ekonomi tidaklah baik, tetapi setidaknya untuk urusan menyisihkan uang untuk persalinan bisa dipersiapkan. Katakanlah menyisihkan 10ribu setiap hari selama 9 bulan, bisa dihitung berapa nominalnya? Atau mengurus berkas administrasi untuk mengikuti Jaminan Kesehatan Nasional sehingga hanya dengan iuran sebesar 30ribu-60ribu setiap bulan, ibu hamil mampu bersalin dibantu tenaga ahli dengan gratis. Banyak cara, dan sebagai masyarakat, dan sebagai manusia berakal, mencari tahu adalah siasat untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Sejumlah komplikasi sewaktu melahirkan bisa dicegah, misalnya komplikasi akibat aborsi yang tidak aman.

Komplikasi seperti ini menyumbang 6% dari angka kematian. Sebagian besar sebenarnya bisa dicegah kalau saja perempuan memiliki akses terhadap kontrasepsi yang efektif. Saat ini hanya sekitar separuh perempuan usia 15 hingga 24 yang menggunakan metode kontrasepsi modern. Metode yang paling umum dipakai adalah suntik, diikuti oleh pil. Proporsi perempuan (usia 15-49) yang menggunakan alat kontrasepsi mengalami peningkatan dan prosentasenya pada tahun 2006 adalah 61% (SDKI, 2007). Berbagai potensi masalah lainnya bisa dicegah apabila para ibu memperoleh perawatan yang tepat sewaktu persalinan. Apakah kita kekurangan bidan desa? Sebenarnya, pemerintah pusat telah melatih banyak bidan, dan mengirim mereka ke seluruh penjuru Indonesia. Namun, sepertinya, pemerintah daerah tidak menganggap hal tersebut sebagai prioritas, dan tidak memperkerjakan para bidan setelah berakhirnya kontrak mereka dengan Departemen Kesehatan. Selain itu, ada masalah terkait kualitas. Para bidan desa mungkin tidak mendapatkan pelatihan yang cukup atau mungkin kekurangan peralatan. Jika mereka bekerja di komunitas-komunitas kecil, mereka mungkin tidak menghadapi banyak persalinan, sehingga tidak mendapat pengalaman yang cukup. Namun salah satu dari masalah utamanya adalah jika disuruh memilih, banyak keluarga yang memilih tenaga persalinan tradisional. Mengapa banyak keluarga lebih memilih tenaga tradisional? Karena berbagai alasan. Salah satunya, biasanya lebih murah dan dapat dibayar dengan beras atau barang-barang lain. Keluarga juga lebih nyaman dengan seseorang yang mereka kenal dan percaya. Mereka yakin bahwa tenaga persalinan tradisional akan lebih mudah ditemukan dan beranggapan bahwa mereka bisa lebih memberikan perawatan pribadi. Dalam kasus-kasus persalinan normal, ini mungkin benar. Namun jika ada komplikasi, tenaga persalinan tradisional mungkin tidak akan dapat mengatasi dan mungkin akan segan untuk meminta bantuan bidan desa. Hal ini dapat mengakibatkan penundaan yang membahayakan jiwa karena tidak secepatnya memperoleh perawatan kebidanan darurat di pusat kesehatan atau rumah sakit. Keterlambatan dapat juga terjadi karena kesulitan dan biaya transportasi, khususnya di daerah-daerah yang lebih terpencil. Kenyataannya, perempuan mana pun dapat mengalami komplikasi kehamilan, kaya maupun miskin, di perkotaan atau di perdesaan, tidak peduli apakah sehat atau cukup gizi. Ini artinya kita harus memperlakukan setiap persalinan sebagai satu potensi keadaan darurat yang mungkin memerlukan perhatian di sebuah pusat kesehatan atau rumah sakit, untuk penanganan cepat.

download

Pengalaman internasional menunjukkan bahwa sekitar separuh dari kematian ibu dapat dicegah oleh bidan terampil, sementara separuhnya lainnya tidak dapat diselamatkan akibat tidak adanya perawatan yang tepat dengan fasilitas medis memadai. Perlu diingat, terdapat empat pilar Safe Motherhood yang terdiri atas kontrasepsi, pelayanan antenatal, persalinan yang bersih dan aman, serta pelayanan obstetri esensial. Sekitar 60% persalinan di Indonesia berlangsung di rumah. Dalam kasus seperti ini, para ibu memerlukan bantuan seorang ”tenaga persalinan terlatih”. Untungnya banyak perempuan yang mendapatkan bantuan tersebut. Pada tahun 2007 proporsi persalinan yang dibantu oleh tenaga persalinan terlatih, baik staf rumah sakit, pusat kesehatan ataupun bidan desa, telah mencapai 73%. Sekali lagi angka ini sangat bervariasi di seluruh Indonesia, mulai dari 39% di Gorontalo hingga 98% di Jakarta. Penting untuk menumbuhkan kesadaran pribadi di hati masing-masing manusia. Peran serta masyarakat secara aktif agresif sangat baik. Menghidupkan kader-kader kesehatan di lingkup masyarakat untuk menyebarluaskan pengetahuan memang penting. Yang dihadapi adalah bukan masalah satu atau dua lingkup desa, tetapi lingkup internasional, di mana laporan tiap daerah akan dikumpulkan menjadi satu dalam satu negara, laporan tiap negara akan disetorkan dalam wahana internasional untuk dikaji apakah dunia berhasil menurunkan Angka Kematian Ibu. Mulailah hal yang kecil untuk mendapatkan hal yang besar. Ini bukan untuk kepentingan pribadi tetapi untuk kepentingan bersama. Jika masih sulit untuk menerapkan bahwa diri sendiri memang wajib turut serta mensukseskan hal ini, cukup berpikiran sederhana bahwa semua orang mengidamkan keluarga yang sehat dan bahagia. Bagaimana dengan Anda?

 

#SECRET 11: CEGUKAN

hiccup

Cegukan bukanlah suatu fenomena alam yang dahsyat seperti kepicirit atau ngompol di celana, tapi yang jelas, setiap orang pernah mengalaminya bukaaaan?

Bukan! *dih garing banget*

Okay, sekarang, saya mau membahas sedikit tntang cegukan. Cegukan terkadang memang tidak sebegitnya mengganggu, tapi ketika kita harus berbicara dengan rentang waktu yang agak panjang, lalu tau-tau cegukan, risih juga kali ya.

Spontan yang dilakukan oleh kita ataupun orang-orang di sekitar kita adalah: “minummmm…ambil aiiir…” yah tindakan semacam itu sejenis dengan orang yang kepedesan.
Lantas, apakah cegukan otu sama dengan kepedesan? Tidak. Hahahaja *kok malah nggak nyambung

Jadi, cegukan itu terjadi ketika diafragma (apa itu diafragma? Diafragma bisa dikatakan sebagai otot yang memisahkan rongga da dan rongga perut) mengalami kontraksi. Kontraksi itu semacam kejang, atau memendek, nah, kontraksi diafragma ini menyebabkan pita suara (bahasa kerennya adalah plica vocalis) menutupnayau kontraksi juga, dan terdengarlah suara yang keras dan tinggi yaitu cegukan.

Kontraksi atau relaksasi dari diafragma dan pita suara tak lain tak bukan dikarenakan sistem saraf autonom yangbada di dlaam tubuh kita. Sistem saraf autonim adalah sistem saraf yang bukan kita sadari. Ya iyalah, sekarang kalau kita bisa mengontrol cegukan, kita memilih utk tidak cegukan bukan?  Belum tentu juga ding. Kalau aku, semisal di kelas ditanyai dosen pertanyaan gampang bgt tapi aku ga bs jawab saking bodohnya diriku, aku memilih untuk cegukan.. Hahahaha! Tapi cegukan kan berlangsung tanpa kita sadari. Maka, kita harus tahu makanan apa saja yang memicu cegukan, kondisi apa saja yang memicu cegukan, dan bagaimana cara menghentikannya..

Makanan pedas, berbumbu, serta asap tebal adalah pemicu cegukan.  Percaya atau tidak? Coba sendiri.

Pneumonia, radang selaput dada, atau kerusakan dindaerah tertentu di otak yang mengatur persarafan autonom akan beranggungjawab terhadap terjadinya cegukan.

Apa artinya? Ya intinya persarafan tbuh manusia itu seperti kabel listrik. Ketika ada yang korslet, atau impuls listrik yang dijalarkan itu sedang bingung, maka terjadilah ketidakseimbangan kontraksi dan relaksasi dari diafragma dan pita suara, yang berujung pada cegukannnns.

Cara mudah lainnya menyembuhkan cegukan adalah dengan menahan nafas, minum segelas air dingin, atau makan sesendok gula. Bisa juga dengan cara unik lainnya yait dengan meletakkan kantong kertas di depan mulut dan mencoba bernapas dari kantong kertas itubselama beberapa menit.

Jaraaaang loooh terjadi cegukan selama beberapa menit. Jika cegukan berlangsung selama beberapa hari, langkah yang bijak adalah berkonsultasi ke dokter. Kenapa? Karena kita harus waspada. Waspada gimana ni? Ya seperti yg tadi sudah dijelaskan, cegukan itu hasil dari ketidakseimbangan perjalanan impuls saraf, kalau cegukannya kelamaan, ditakutkan ada sesuatu di saraf kita yang mungkin memang tidak apa-apa, tp menjurus ke suatu sakit yang lebih dari sekedar cegukan…

#secret 22: holiday

Kunci liburan anak kedokteran adalah: curi waktu! Sampai kapan kamu akan menekan otakmu dengan berbagai teori yang nantinya juga menguap dari ingatanmu? Maka, freshkan semuanya agar otak mudah menyerap dan logika bisa berjalan. Kedokteran tak melulu belajar. Kita butuh hiburan!!!! Liburan!!! Holiday!!!

I am so glad, ketika kompre ini, aku mendapatkan tempat di Jepara. Kalau bagi seluruh anak kedokteran Universitas Diponegoro, sudah pasti pada putaran stase Ilmu Kesehatan Masyarakat, kita merasakan tinggal di Jepara selama tiga minggu. Pada kesempatan ini, aku diperkenankan menjadi bagian dari warga Jepara selama delapan minggu! Halo Japaradise! Begitulah kami sering menyebut Jepara. Baganimana tidak. Keindahan pemandangan yang disuguhkan : pantainya, ukiran kayunya, telor ceploknya, ups, ga konsen, ada telor ceplok tersuguh di depanku, menurutku memberikan sensasi campur aduk. Hahaha.

Aku masih ingat, sebelum bulan Agustus 2015 ini, aku pernah tinggal di Jepara pada Januari 2015. Di Jepara, aku nggak dapet sinyal di daerah Mlonggo. Yaaaa maklum. Haha ga pake Tel***sel. Wahaha. Laluuu ketika itu sedang wabah demam berdarah, sehingga  kami harus mencari dari tiap desa mana sumber penularan nyamuk dengan cara mencari jentik.

Tik tik tik tik where are youu? Masalahnya, jalan menuju desa-desa tersebut subhanallah meliak liuk perjalanannya dan belu m tentu kita bisa mengulangi jalan yang sama. Setiap pagi, ketika aku meninggalkan mess, pertanyaan yg terlontar ke teman sepenanggunganku (karena mendapat beberapa desa yg sama) adalah “Setelah ini mau ke kiri apa ke kanan ya?” Saking sinyal ga ada, GPS juga tidak bisa diandalkan. Kami hanya mengandalkan senyum dan turun naik mobil hanya untuk bertanya rumah carik dusun X dimana, rumah carik dusun Y dimana. Tak hanya berhenti di rumah carik, kami juga mencari TK, SD, SMP, dan SMA di sekitar dusun yang terduga memiliki jentik nyamuk di bak mandi toiletnya. Plis.

IMG20150106180207

Tapi di sela-sela petualangan mencari jentik, memberikan penyuluhan kepada warga dusun dan desa setempat, kami juga harus mencuri waktu untuk LIBURAN. Mencari sungai setempat, aliran dan suara airnya menyejukkan!! Sebelum kembali ke rutinitas, memang kami harus pandai mencuri waktu untuk hal-hal seperti ini.

Suatu hari, ketika kami mencari sumber penularan demam berdarah, kami mendapat laporan dari warga, bahwa ada suatu usaha rumahan pembuatan tahu yang memang tidak pernah menjaga kebersihan dari industrinya tersebut. Dengan izin pak RT, pak RW, pak dusun, kami diperkenankan meneliti rumah tersebut. Dengan tampang meyakinkan, masih dengan jas almamater Universitas Diponegoro, aku dan seorang temanku mendatangi rumah dengan industri tahu tersebut. Seharusnya tak sekedar tampang meyakinkan saja, tetapi juga harus memiliki jiwa yang kuat rupanya.  Karena, sesampainya kami di depan pintu rumah, jangankan diberi senyum, kami langsung diusir! Hufff….

“Mau apa kalian? Pergi!”

Ya sudah, balik kanan graaaakkk! Harusnya kan seperti itu, tapi dasar aku, aku keras kepala, tetap maju dan mengucapkan beberapa patah kalimat, “Nganu Bu, jangan marah-marah Bu, kami juga hanya sebagai pelaksana, untuk mencari sumber penularan nyamuk demam berdarah. Karena dusun ini dilaporkan ada 10 anak yang opnam karena DB dalam sebulan terakhir…”

Si ibu berucap, “Ya terus? Orang anak saya juga sakit DB kok!”

Saya menimpali, “Ya makanya Bu, mungkin karena limbah tahu Ibu…”

Si ibu mukanya makin ga enak, akhirnya saya tutup dengan, “Ya sudah bu, saya data saja, anak ibu juga termasuk korban DB ya, Bu?”

Lalu kami benar-benar balik kanan. Mau bagaimana? Tidak ada surat penugasan juga dari Puskesmas. Kami di sini bukan petugas Puskesmas. Kami disini adalah dokter muda, tamu, yang juga tidak tahu menahu tentang seluk beluk peliknya hubungan warga dusun tersebut. ***

 

Dan kira-kira 8 bulan selanjutnya, aku tak pernah menyangka akan menetap kembali dan berurusan kembali dengan warga Jepara yang unik-unik. Tetapi wisata pantainya, ga bisa diadu deh. Indah banget!!!! Salah satu cara menenangkan diri adalah dengan relaksasi di pantai. Kini statusku bukan mahasiswa lagi, kini aku sudah menjadi dokter magang di RSU Kartini. Setiap hari yang aku pegang adalah disiplin. Kenapa? Karena sambutan dari pihak struktural RS adalah seperti ini “Saya tu malu, setiap ada dokter magang di sini, kalau apel selalu saja terlambat, lari-lari dengan jas putihnya. Itu membanggakan? Tidak! Itu memalukan.”

Sejak itu, kami berduabelas yang ditempatkan di RS Kartini bertekad kuat untuk tidak lari-lari karena mengejar keterlambatan. Tetapi apa daya, jam 7 kurang 10 kami sudah berkumpul, apel tak kunjung mulai. Sampai kepada kami sudah setengah bulan disini, tetap saja,setiap pagi kami menanti apel. Bukan apel yang menanti kami. Tak tanggung-tanggung, dari jam 7 kurang 10 sudah stand by berdiri di lapangan apel, ternyata apel baru mulai jam 07.20. Duh! Itulahh Indonesia? Nooo! We can do better! Huhhh. Bete sendiri ceritain ini.

Okay, dan selanjutnya, aku masih harus menyisihkan uang (setelah aku jadi dokter umum) untuk pelatihan pertolongan pertama pada orang kecelakaan/trauma (ATLS), pertolongan pertama pada orang sakit jantung (ACLS) dengan budget sekitar 7 juta. Siaaaaap grakkkk…

Daripada pusing, ayok kita holiday dulu. Inilah kehidupan seorang dokter! Belajar dan belajar. Holidaynya sisipan doang. heehehhe…

 

image

#SECRET 10: MENANTIKAN AKHIRAT

menantikan akhirat

Pasien itu berwarna-warni. Hal pertama yang terlontar dari mulut seorang dokter adalah bertanya “ada keluhan apa, Bu?” Sambil tersenyum, saya menanyakan kepada seorang ibu 40 tahun yang cantik, berambut ikal sebahu, kulit putih semu merah.

“Dada saya terasa sesak, Dok, terkadang berdebar ga karuan seperti ketakutan.”

Lalu saya bertanya, “Ibu lagi kepikiran apa?”

Mungkin ini tidak akan terlontar dari mulut seorang dokter yang hanya terfokus pada penyakit sang ibu: gagal jantung akut. Nyeri dada dan sesaknya bisa sebagai dari akibat iskemi jaringan otot jantungnya, tapi jauh dari lubuk hatiku, tergurat duka mendalam di sinar wajahnya. “Saya ga kepikiran apa-apa,Dok.”

“Hmm, lalu kenapa ibu bilang sering berdebar seperti ketakutan? Takut apa hayo Bu?” Kataku sambil menebar canda *sok iye*.

Sore itu, satu kisah pasien yang menyayat hati kembali mewarnai perjalananku. Pasien itu berkata, “Dokternya cantik, saya suka.”

“Terimakasih Bu.”

Lalu ibu itu melanjutkan, “Saya juga punya anak, bisa saja saya jodohkan sm Dokter, Dokter pasti belum nikah kan?”

Saya tersipu.

“Anak saya ganteng, tinggi, sudah mapan, kerja di Kalimantan.”

Tapi raut wajahnya masih sama, menunjukkan kesedihan, “tetapi, dia meninggal 1 tahun yang lalu.”

Deg! Mencelos hatiku. Harus bicara apa? Senyumkah? Atau bagaimana? Ibu itu melanjutkan, “Dan itu yang masih ada di pikiran saya sampai sekarang, kenapa saya tak sempat melayat.. Kalimantan terlalu jauh, anak saya harus segera dimakamkan ketika itu.”

Ya Tuhan… Saya hanya bisa mendoakan agar ibu ini tetap kuat dan semangat hidup.  Tidak ada yang hilang dari kenangan.

Perlahan, saya menguatkan sang ibu, “Tidak apa Bu, buat tabungan Ibu di surga yah? Kalau ibu sedih, pasti jalannya anak ibu di sana juga sulit. Apalagi kalau tahu ibunya sakit.. “Ibu itu tersenyum, “setidaknya saya bertemu Dokter cantik siang ini.”

Panasnya matahari semarang membeku, bersama kisah pasien kali ini yang tak akan kulupakan.***

 

Banyak sekali yang ingin kuceritakan dalam perjalananku menjadi dokter. Suatu sore di ICU, langit biru berawan, matahari telah condong ke barat, jendela ICU memang cukup besar agar pasien yang hanya tergolek lunglai mendapatkan pencahayaan yang cukup. Kini saya, dokter muda, menatap lurus ke depan, kepada seorang ibu yang sedang terbaring tak sadarkan diri di ruang 8.

Sejenak ketika saya masuk ke ruangannya, saya disapa oleh gerakan tangan ibu ini. Suatu usaha untuk menunjukkan tanda kehidupan, mengingat ibu ini terkulai dalam keadaan tak sadar. Sesekali monitor yang terpasang pada tubuhnya pun membunyikan alarm pertanda terdapat suatu ketidakseimbangan pada tubuhnya. Tetapi sejak awal, tubuhnya sudah beranjak tumbang setelah ibu 54 tahun ini divonis kanker serviks stadium 3. Perjalanan keganasan sel tubuhnya kini telah mencapai paru-paru. Paru-parunya bengkak, berisi cairan, yang memberatkan bahkan melumpuhkan fungsi paru itu sendiri. Kecanggihan teknologi diikuti dengan kesiapan biaya mengantarkan ibu ini ke dalam ruangan ICU. Terpasang ventilator, ibu ini dibantu nafas dengan peralatan. Tak terhitung selang yang terpasang pada tubuhnya. Hmm.. Baiklah, akan kuhitung. Di sisi kanan tubuh ibu terdapat 5 selang, 1 ke hidungnya, 1 ke mulutnya, 1 untuk infusnya yang dipasang intravena ke pergelangan tangannya berupa cairan Ringer Laktat yang berisi elektrolit, 1 selang untuk menampung urinnya, 1 selang untuk mengeluarkan darah yang takkunjung berhenti dari rahimnya. Benar-benar menggetarkan hatiku untuk mensyukuri karunia-Nya berupa kesehatan dan kehidupan dengan organ tubuh yang masih berjalan dengan seimbang.

Di sisi kanan tubuhnya terdapat 2 selang untuk memberikan transfusi darah untuk mengimbangi perdarahan masif dari rahimnya, sedangkan terdapat 1 equator dengan selang yang besar dimasukkan ke bawah selimutnya sebagai penghangat tubuhnya, disetting pada suhu 40 derajat celcius.

Total terdapat 7 selang. Padahal sebenarnya kanker serviks bisa dicegah. Dengan apa? Dengan Pap’s Smear, yaitu pengambilan sampel epitel leher serviks yang marak diumumkan di khayalak publik. Masih tingginya angka kanker serviks menunjukkan bahwa tersohornya Paps Smear ternyata belum diikuti antusiasme manusia Indonesia. Mungkin banyak dari kita terbentur biaya. Tetapi ketahuilah, Pap’s Smear hanya Rp120.000 (kurang lebih), daripada harus dirawat di ICU seperti ibu ini. Atau mungkin takut bahwa prosedur Pap’s Smear itu menyakitkan? Tidak sama sekali. Tau rasanya dikorek telinganya? Yah hampir sama-sama kaya gitu deh. Lalu tunggu apalagi? Pap’s Smearlah sebelum terlambat. Terutama untuk para wanita yang aktif seks selama 3 tahun lebih,  memasang IUD, wajib hukumnya memeriksakan diri dengan Pap’S smear minimal 1 tahun 1 kali.

Tak lupa, kita mendoakan para wanita yang sudah mendahului kita untuk terjerat kanker serviks. Itu adalah peringatan kehidupan agar kita lebih aware dan sayang diri sendiri.***

 

“Aku mau pulang”

“Aku mau pulang”

Rintihan pasien itu terngiang-ngiang di benakku sekarang.

Ternyata, rintihan “aku mau pulang” dari pasien belum berarti pulang ke rumah.. Bisa juga pulang ke hadapan-Nya untuk selama-lamanya..

Baru saja jam 5 sore ini kubertegur sapa. Seorang perempuan muda, seusiaku, menopang penyakit yang tak mengenal bahwa dia memiliki suami yang membutuhkannya, memiliki anak seusia TK yang merindukannya di rumah. Ya, kanker darah, leukimia.

Sesak nafas yang dialami pasien bukan karena kelainan di jalur napasnya. Kuperiksa paru-parunya, tidak ada suara yang menunjukkan suatu cairan atau peradangan di paru. Bersih parunya. Namun nafasnya begitu cepat, tubuhnya begitu panas. Di sampingnya, sang suami berharap agar istrinya dapat kembali seperti semula. Sesak nafasnya akibat infiltrasi atau perjalanan sel darah yang ganas, menyebabkan pembesaran massa mediastinum, suatu massa di dada, dan bisa saja mendesak nervus reccurent laryngeus yang ada di dada, memberikan manifestasi sesak nafas.

“Aku mau pulang” di sela-sela nafasnya yang sukar, pasien masih menyebutkan “aku ingin pulang”

Sang mertua, yang baru saja tiba di ruangan, menangis, memeluk menantunya. Suaminya berbisik kepadaku, “Dokter,tolong ya, ibu saya jangan sampai tahu tentang penyakit istri saya.”

Aku mengangguk pelan. Terlihat genangan air di pelupuk mata sang suami, menatap istrinya penuh harap, sambil membisikkan

“Asyhadu alla illaha illallah wa asyhadu anna muhammadarrasulullah..” Serta

“Astafirughlah” ke telinga istrinya..

Tak lama dari kejadian ini, tiba-tiba sang istri berhenti nafas. Tim medis yang berjaga di situ sebisa mungkin memberikan pertolongan: resusitasi. Tak ada hasil. Nadinya tetap terhenti. Untuk selamanya… Hasil rekam jantung memberikan hasil “garis lurus” yang menunjukkan tak ada lagi tanda-tanda kehidupan. Hal yang terberat namun harus adalah: memberitahukan kepada keluarga bahwa pasien telah tiada. Dengan berat hati, hal itu wajib dilakukan. Belum selesai kalimat itu, “kami sudah berusaha yang terbaik, namun..”

Namun, jeritan sang ibu mertua lebih dahulu memenuhi ruangan. Sang suami tampak lebih tegar, namun pasti hatinya teriris. Kalimat itu akhirnya aku selesaikan dengan lirih, “..namun Tuhan lebih sayang dengan ibu…”

Kuseka air mata yang menggenangi mataku, kembali kumenatap pasien, membereskan hal-hal lain yang perlu diselesaikan. Ternyata, rintihan “aku mau pulang” dari pasien belum berarti pulang ke rumah.. Bisa juga pulang ke hadapan-Nya untuk selama-lamanya..***

 

Kulihat sekali lagi jam tanganku. Waktu terus berlalu. Sel-sel dalam tubuh semakin menua, di antaranya terus menerus memperbaiki diri, mencoba mengganti kondisinya agar sama seperti baru. Sebagaimana contoh, sel darah merah memiliki waktu hidup 120 hari. Apakah setiap sel sama? Berbeda. Dalam 1 tubuh saja, terdapat berbagai sel dengan waktu hidup yang berbeda, dengan fungsi yang berbeda, dengan ukuran yang berbeda pula. Tuhan telah mengatur tubuh kita sedemikian rupa hingga bagian yang terkecil. maka, masihkah kita berdiam diri meratapi nasib sebagai manusia, padahal tubuh kita dipenuhi dengan keajaiban dan keindahan karya Ilahi? Syukurilah. :’) Allah Maha Besar.

“Ya Allah, jadikanlah umurku yang terbaik di akhirnya dan amalku yang terbaik di penghujungnya, dan jadikan hari terbaikku saat bertemu Engkau…”

 

 

#SECRET 9: HITAM PUTIH

1432812843973

Kehidupan dan kematian memang bertolak belakang, tetapi mereka adalah suatu paket kehidupan yang tentunya akan dialami oleh semua manusia yang berkesempatan hadir di dunia. Siapa menyangka, Tuhan ingin memberikanku peringatan, agar selalu rendah hati, melalui kisah haru di pagi ini. Suatu moment jaga UGD, yang mungkin belum tentu dilihat semua orang. Kehidupan dan kematian yang ditemukan bersamaan, sebuah pelajaran hidup yang sangat bernilai untukku.

Pagi ini, seorang ibu muda yang paling berbahagia sedunia, pastinya bahagia ya, karena ibu muda ini melahirkan seorang bayi lucu, sehat, gendut. Datang ke UGD dgn posisi sudah bukaan 2, untuk melahirkan anak ketiga rasanya tak perlu waktu panjang untuk mencapai bukaan lengkap. Memang, ibu tdk kuat mengejan, tapi bukan berarti bayi tidak dapat lahir. Dengan dibantu ekstraksi vakum, akhirnya seorang bayi laki-laki lahir. Bayi menangis kencang segera setelah keluar dari rahim ibu, tempat yang menampungnya selama 39 minggu. Bobot 3200 gram bukan bobot yang ringan bukan untuk dibawa-bawa dalam tubuh selama 39 minggu? :’)

Tak lama setelah menolong persalinan, terdapat suara isak tangis bercampu teriakan di luar ruangan, masih dalam lingkup UGD juga, sayup-sayup suara teriakan ibu ini menyayat hati.

Rasa penasaran mengantarkanku kepada sumber suara. kakiku melangkah. Pemandangan yang menyedihkan. Seorang ibu menangisi suaminya “Maaas, aku ga punya siapa-siapa lagi. Aku karo sopo saiki?” Begitu terus berulang-ulang. Tangisannya meraung, bercampur antara marah, sedih, kecewa, dan bingung harus berbuat apa. “Kowe ki mung pingsan, aku rak percoyo kowe pergi maaaas.” Sembari petugas membersihkan tubuh bapak muda ini, dan memposisikan tangannya di atas perut, meluruskan kakinya dgn diikat kassa putih, serta menutup rahangnya dgn ikatan kassa di kepalanya. Suatu persiapan dari rumah sakit sebelum memandikan dan mengafankan jenazah. Cardiac arrest atau serangan jantung dapat mencabut nyawa siapa saja tanpa permisi, termasuk bapak muda yang gagah ini, atau mungkin di antara kita sekalian. Tuhan Maha Pemilik Hidup. Tak satu jengkal pun kita boleh sombong atas apa yg kita miliki sekarang, karena ketika maut tiba, apalah artinya kenikmatan duniawi itu. Semu. Fana. Istrinya sungguh tak kuasa menahan kepergian sang suami. Akhirnya suasana kembali senyap setelah akhirnya sang istri jatuh pingsan, dipapah para petugas Rumah Sakit.  Melangkahkan kaki, saya kembali ke ruang persalinan, isak tangis bayi kembali terdengar, kontras dengan suasana isak tangis ibu yang baru saja ditinggalkan suaminya, untuk selama-lamanya.***

Ada suatu kisah tentang kaos kaki sobek.  Seorang kaya raya saat menjelang ajal berpesan kepada anak-anaknya, “Nak, jika ayah meninggal, tolong pakaikanlah kaos kaki kesayangan ayah itu, ya. Walaupun sobek, tetapi kaos kaki itulah saksi kesuksesan ayah.”

Maka, ketika wafat, anak-anaknya meminta kepada pengurus jenazah untuk memakaikan kaos kaki sobek itu. Pengurus jenazah menolak, “Maaf, secara syariat, hanya diperkenankan 3 lembar kain putih saja yang dikenakan jenazah.”

Anak-anaknya tetap bersikeras, “Ini keinginan ayah kami!”

Karena tidak ada titik temu, dipanggilah penasehat keluarga sekaligus notaris. Kata notaris tersebut, “Almarhum menitipkan surat wasiat untuk anak-anaknya.”

Dibukalah surat itu dan dibaca,

Anak-anakku, kalian pasti bingung, kenapa dilarang memakaikan kaos kaki sobek ini pada jenazah ayah. Lihatlah, Nak. Harta ayah banyak, tetapi tidak ada artinya saat ayah sudah mati. Bahkan, kaos kaki sobek pun tidak boleh dibawa mati. Begitu tidak berartinya dunia, kecuali amal ibadah, dan sedekah yang ikhlas. Anak-anakku, inilah yang ingin ayah sampaikan…”