DOCTOR'S SECRET

Young Doctor. Struggling to make others smile

#SECRET 8: WHAT A TEAM MATE??

 

Ketika saya sedang berada di stase obstetri dan ginekologi (obsgin) alias stase kandungan, Rumah Sakit tempat saya menempuh ilmu sedang rempong menyetarakan sebagai rumah sakit internasional, di bawah supervisi Joint Comission International.

Entah beruntung atau tidak, pihak obsgin menunjuk diriku sbg perwakilan koas dari stase Obsgin dalam acara wawancara untuk JCI. Katanya begini, “Ini memang dipilih 1 dek yg bahasa Inggrisnya bagus.”

Pfft. Padahal bahasa Inggrisku pas-pasan. Tapi tidak apa-apa, saya anggap orang2 yang berkata bahasa inggrisku bagus itu doa.

Sebagai koas, tidak ada pilihan untuk menolak, apalagi senior yang nyuruh, mata tak berkutik. JCI adalah lembaga yang memiliki wewenang untuk menilai keseluruhan pelayanan rumah sakit dimulai dari tenaga kerjanya seperti dokter spesialisnya, residen, perawat, koas, bahkan cleaning service nya, kemudian bangunannya sendiri apakah memenuhi syarat keselamatan pasien, kemudian sebagai RS pendidikan, apakah kurikulum yang diberikan untuk dokter muda dan dokter residen sesuai dengan kompetensi, dan lain-lain.  Ketika bertatap muka dengan pihak JCI, masing-masing koas dan residen ditanya dengan detail.

Seru sekali dengan standarisasi internasional ini, ada garis tegas apa2 yg perlu dilakukan koas, dan apa yg perlu dilakukan perawat, tetapi lucu juga ketika mengingat ternyata selama ini, selama ini, SELAMA INI,,,  banyak sekali penyelewengan tugas dan tanggung jawab.  Maksudnya begini: bukan tugas dokter muda, tetapi entah darimana riwayatnya, akhirnya kami yang melakukan. Yaaa, intinya tidak dibabukan, tapi dikaryakan. Haha. Bukannya tidak ikhlas, wowo, saya selalu ikhlas melakukannya, tetapi rasa penasaran untuk mengetahui “Bagaimana yang seharusnya” itu benar-benar membuat saya ingin mencari tahu.

Bayangkan, dengan menggunakan baju jaga rumah sakit, macam serial TV luar negeri “Grey’s Anatomy”, saya dipanggil oleh salah satu perawat senior, ternyata disuruh mengantarkan “nampan” alias “tatakan makan” bekas mereka makan ke DAPUR. Pfffft! Woy saya ga digaji plis untuk hal-hal ini. Sebenarnya kalau nampan makan ditujukan untuk pasien, dengan senang hati saya antarkan. Lah ini hanya nampan kosong bekas makanannya perawat.  Tetapi apa boleh buat, tetap saya lakukan, tanpa senyuman. Oke, saya tahu, tidak ada pahala untuk orang yang melakukan dengan tidak ikhlas. Tetapi memang membingungkan, sejak kapan tugas dokter muda, yang notabene-nya bayar SPP tiap semester, mengantar nampan?

Itu contoh penyelewengan tugas yang tidak terlalu berbau klinis, apalagi mendapat sentuhan ilmu kedokteran. Ada lagi sebenarnya penyelewengan tugas yang mungkin sudah dianggap sebagai “hal lumrah” oleh “ikatan dokter muda sejagad raya”, antara lain begging.

Begging. penyelewengan tugas yang mungkin sudah dianggap sebagai “hal lumrah” oleh “ikatan dokter muda sejagad raya”, antara lain begging. Begging merupakan suatu ventilator manual. Ventilator adalah alat bantu tambahan untuk membantu pernapasan manusia, biasanya hanya ruang intensif ICU yang menyediakan, tetapi karena keterbatasan jumlah ventilator di ICU, akhirnya dikembangkanlah metode manual untuk pengganti ventilator, yaitu begging. Ibarat kata, kerja mesin ventilator yang memompakan nafas agar paru-paru pasien bisa mengembang ini digantikan oleh tangan manusia. Tujuan bernapas yaitu agar oksigen dapat bertukar di dalam sel alveoli sehingga oksigen dapat diedarkan ke seluruh tubuh.

Pada orang sehat, secara alami, proses bernapas terjadi tanpa kita sadari, tetapi pada manusia yang mengalami kerusakan paru-paru, atau kerusakan otak di tingkat pusat pernapasan, tak heran jika begging diperlukan. Gerakan dalam begging itu seperti kita memompa air galon supaya air dalam galonnya naik dan keluar, ini juga sama, tapi gerakannya lebih ritmik dan teratur.
Hmmm, dalam protap rumah sakit, sebenarnya itu adalah tugas perawat. Mereka digaji untuk melakukan hal itu, sehingga jika mereka melakukan hal itu, itu adalah legal, lumrah, sah. Tetapi pada kenyataannya, dokter muda lah yang melakukannya. Parah lagi ketika dini hari mencekam, dokter muda dalam titik energi terendah, mata terpejam dengan otomatis, gerakan memompa nafas oleh tangan kita terhenti otomatis pula. Bahaya, apalagi begging adalah 1 nyawa. Ketika begging kita sedang melakukan tugas mulia: membantu seseorang untuk bernafas, eh, tetapi kita malah tertidur, siapa yang bersalah? hmhm, tetapi itulah kelemahan begging dibandingkan dengan ventilator. Maka, saya memberikan istilah mission impossible pada begging. Memaksakan bernapas pada orang yang tidak bisa bernapas lagi. Yaaaahhh.

Secara teknis, sebenarnya bisa saja, jika perawat mau, mereka membantu bergantian begging, setidaknya. Toh, mereka digaji untuk melakukan hal ini (saya tidak meminta agar kita tidak membegging, tapi setidaknya kita bisa bergantian kan dgn perawat). Tetapi kenyataannya, mereka hanya mencemooh dari kejauhan “Mbak,jngn ketiduran lah, itu kadar oksigen tubuh pasien turun terus loh.” *padahal perawatnya mengingatkan dengan muka baru bangun tidur, dan lewat di depan saya untuk pergi ke toilet. Tebakan saya, setelah pipis, dia akan tidur lagi, dan itu memang terjadi sebagaimana saya ceritakan.***

 

Kalau di Amerika, pendidikan dokter ditempuh setelah seseorang melalui pendidikan sarjana apapun. Setelah mendapat gelar sarjana kedokteran alias MD. Mereka tidak ada sistem koas. Maka rumah sakit pendidikan tidak perlu kebanjiran anak ayam yang tak berinduk seperti koas, atau dokter muda. Di sana, lulus MD, mahasiswa berhak langsung cus pemilihan spesialis.

Saya akui, perawat telah mutlak menjadi bagian dari RS, bahkan mereka digaji karena kinerjanya di RS. Tetapi dalam beberapa kasus, mungkin hanya oknum saja ya, dan mungkin hanya ada di rumah sakit tempat saya menjadi dokter muda,  dusta apabila mereka mengaku ramah kepada pasien. RS pendidikan menumpulkan sisi kemanusiaan perawat. Bukan berarti merujuk ke semua perawat ya, ini hanya untuk oknum tertentu. Sebelumnya saya ucapkan maaf. Tetapi mengungkapkan hal ini tidak bermaksud menyalahkan, hanya ingin mempertajam naluri kemanusiaan, mengingatkan kembali apa tujuan awal kita terjun di ranah kesehatan.

Kisah nyata pada pasien setelah melahirkan. Saya sedang follow up, sekedar menyapa dan menanyakan apakah ada keluhan baru yang dirasakan pasien. Pasien berkata bahwa pembalut penampung darah nifasnya terasa  sudah penuh. Perban jahitan jalan lahirnya takut terkontaminasi. ☹

Bahkan mengganti pembalut yang seharusnya menjadi tanggungjawab mereka pun ditunda, menunggu jadwal mandi keesokan harinya. Padahal pasien sudah merasa risih. Kalau bukan karena infus yang menggantung di sisinya, ibu ini mungkin sudah mengganti sendiri pembalutnya.

saya sebagai entah apa, dokter muda mungkin, yg merangkap segala tugas, akhirnya menggantinya. Mudah, seperti mengganti pembalut sendiri saja bayangkannya.  saya lalu ingin selidik catatan medis ibu ini. Mendekati nurse station, saya mencari catatan medik yang sesuai dengan nomor bed ibu tersebut. Tetapi, apa yang terjadi?

Teriakan menggelegar yang tidak ada sopan santunnya sama sekali keluar dari mulut seorang perawat, “mbak koas! Ngapain dsini? Klo ada butuh tu bilang! Ga nyari2 sndr kaya gitu! Bikin berantakan!”

“Saya nyari CM Ny. X Bu, maaf ganggu.”

“Ya ngomg kan enak, ngobrak abrik seenaknya.”

“Saya jg dsuruh kali Bu”

*dalam hatiku: kalo niatnya marah2 ya udah sih, orng dia jg ga bantuin nyariin, saya juga tdk bermaksud merepotkan dia dgn segala kerempongan ganti pembalut pasien td..

Ibu: “Ngerti ga mbak?”

Dalam hati, iya saya mengerti, tp ibu yang nggak ngerti!

Tapi, “ya saya takut mengganggu ibu.”

Ibu: “Lha malah kalo mbak kayak gitu sya trganggu!”

Saya: “Ya maaf Bu, tapi saya kan cuma mau cari catatan medis! Ya saya belajarnya juga dengan cara kayak gini Bu. Ya saya minta maaf bu, tapi saya nggak suka dibentak!”

Ibu: diem.***

 

Never ending story adalah kisah koas perempuan vs perawat.

 

Suatu pagi ketika saya sedang bertugas sebagai dokter muda di RS Tugu, aku beritahu suatu hal ya, bertugas di RS Tugu memerlukan kesabaran tingkat tinggi, terlebih, jika kamu dilahirkan dgn memiliki vagina dan memiliki payudara. Ya, benar, karena terdapat hubungan darah tiri antara koas perempuan dengan perawat.

Ketika itu, stase obsgyn benar-benar memerlukan suatu ketabahan hati dan fisik yg kokoh. Berbekal otak yg brilian, koas sebenarnya tidak bisa diremehkan begitu saja. Tetapi, pintar saja tidak cukup. Kami diciptakan bukan untuk mnjadi profesor, tetapi menjadi dokter. Attitude adalah nomor 1. Termasuk ketika difitnah, maupun disuruh melakukan tugas yg bukan job desk kita, kita harus menjawab “iya” dan melakukan tugasmu dengan sungguh-sungguh.

Satu hal ketika pagi itu, adalah moment dimana saya merasa tidak dihargai sama sekali. Semalam, ruang bersalin sangat penuh. Sepuluh bed penuh, 6 persalinan sekaligus. Jam setengah 9 malam, kami para koas ada tentiran (semacam tutorial) dengan residen. Jam setengah 9 pula, ada salah 1 ibu yang baru melahirkan akan pindah ruangan ke ruang nifas. Memindahkan ibu, itu artinya memindahkan pula segepok catatan medik dari ibu yang bersangkutan. Anggaplah ibu yang baru melahirkan ini adalah ibu avita. Memindahkan pasien, memindahkan catatan medik adalah tugas staf rumah sakit yang bersangkutan. Koass, notabenenya adalah tamu, tapi tak jarang, kami yang mengantarkan catatan medik tersebut sambil mengantar pasien.

Bayi dari ibu ini secara otomatis juga menjadi pasien neonatus dari rumah sakit ini. Karena belum memiliki nama, dalam catatan mediknya, bayi ini diberi nama “By. Ny. Avita”

Baiklah.

Singkat cerita, Ny. Avita adalah pasien VIP yang dalam pelayanannya memang dispesialiskan. Ketika visite bersama residen keesokan harinya, catatan persalinannya menghilang. Menghilang! Pasien VIP boooo! Lalu dengan sigap perawatnya berkata, “Mbak Koas, hayo dimana CMnya?”

(CM singkatan dari catatan medik)

Lalu aku dan seorang temanku, sebut saja Mbak Pao, saling lihat-lihatan. Sebelum kita bisa menjawab, residennya sudah mengeluarkan taring, “Pasien VIP lho dek! masa iya hilang?”

Lalu perawat senior, seseorang yg sepantasnya seusia ibu saya,  manas-manasin dengan berkata ke residen, “Saya lihat sendiri lho Bu, Mbak Koasnya nganter CM terus masukin ke lemarinya.”

Aku dan MbakPao pucat. Bu residen, “Huhh coba cari CMnya di Ruang Bersalin.”

Kemana nih CM VIP nya? Tetiba, Mbak Pao melontarkan kalimat yang menohok, “Maaf Bu, tapi saya dan teman-teman semalam yakin ga ada yang nganter CMnya, karena kita sedang tentiran dengan Pak Residen.”

Bu residen, “O iya ya!”

Lalu bu residen berbalik marahin perawatnya, “Hayo mbak! Yang bener nyarinya, mereka semalam itu tentiran! Nggak ada yang nganter catatan medik kesini. Ngawur aja ibu”

Lalu perawat-perawatny mencari dengan seksama, sampai akhrinya, ternyata catatan medik ibu VIP ini ternyata dimasukkan OLEH PERAWAT ke catatan medik bayinya.

Jelas salah siapa?huf! Lagipula, koas tidak memiliki wewenang memegang CM bayi. Hanya sebatas CM ibunya saja.

Teriak amarah residen menegur perawat diiringi backsound acara gosip di televisi yang dipajang di nurse station. Televisi itulah yang memberikan informasi kepada kita. Tetapi televisi juga yang membuat kita terlena shg melupakan ibadah, kewajiban memeriksa pasien, memberi obat,dll.

 

They do as what they will get. Di RS umum mereka digaji secukupnya dan mereka melayani juga dengan “secukupnya”..wajar jika “kalau bisa dikerjakan koass kenapa harus aku kerjakan,toh bayaranku sama”..hhaa..berbeda dengan yang di rs swasta..they act what they should do and get what they deserve..

Tetapi apakah ketika mereka sekolah, menuntut ilmu, apakah diajarkan cara-cara bertingkah laku yang seperti ini? Padahal katanya, kita satu tim dalam rumah sakit, dengan tujuan yang satu: kesembuhan dan kepuasan pasien. Tapi mana?***

 

#SECRET 7: KEMAMPUAN TIDUR SEORANG DOKTER

IMG20150604103543

 

Seiring berjalannya waktu, kemampuan tidur seorang dokter muda akan menyesuaikan waktu yang didapatkannya untuk berkesempatan tidur. Tidur dapat dilakukan dengan berbagai gaya dalam berbagai situasi dan kondisi.

Hal ini sebenarnya mengingatkanku terhadap memori ketika SMA. Dulu, ketika masih berada di SMA TarNus Magelang, tidur sambil berdiri pun mampu. Berbaris menurut tinggi badan dari depan ke belakang, hampir tak mungkin aku berdiri di depan. Pada akhirnya, ketika aku tidur sambil upacara, masih ada temanku di depan yang menjadi “benteng” ketika aku sudah mentiung-tiung kayak pohon kelapa tertiup angin kencang lalu tumbang.

Ada kisah lain yang lebih “waw”. Temanku yang berbadan tinggi, sedang upacara, dan tertidur. Dia berada di baris terdepan kompi. Bisa dibayangkan, ketika dia mentiung-tiung dan akhirnya ambruk seperti orang pingsan, wajahnya dahulu yang menyambut tanah. Ketika kami berusaha membantu, karena dikira pingsan, teman saya meringis kesakitan. Dua gigi serinya tanggal. Yaaaak. Gigi incicivus 1 kiri dan kanan atasnya lepas, hanya menyisakan akar gigi, mulutnya berlumuran darah. Dia berkata, “Tadi aku ketiduran”.

Pada dasarnya, kisah di atas hanya mengingatkan saya bahwa ketika menjadi dokter muda ini, kemampuan tidur semacam itu timbul lagi. Menjadi berbahaya apabila ketika kita sedang menghadapi pasien yang membutuhkan bantuan hidup, kita malah tertidur. Contohnya ketika begging, seperti yang saya ceritakan sebelumnya. Atau ketika mendapatkan tutorial oleh residen, atau oleh dosen supervisor. Bayangkan, ilmu berharga yang seharusnya diserap dengan mata terbuka, dengan gelombang otak siaga, justru harus terbuang karena tertidur maklezzz maklerrr.. Konsekuensinya, kita harus bertanya pada teman sesama dokter muda yang bangun dan mendengarkan karena ini menyangkut kompetensi kita ketika menghadapi pasien. Pertanyaannya: apakah ada yang bangun dan mendengarkan tutorial? Atau memang semua tertidur seperti saya? Haha. Ya pasti ada dong, niat jadi dokter kan? Kasihan nanti pasiennya, dilayani oleh dokter yang ketika tutorial malah tertidur, otak dokternya kosong. Malpraktik? Dih amit-amit, jangan sampai deh. Maka, ketika sedang berada di stase yang membutuhkan stamina ekstra, sedia vitamin C untuk dikonsumsi setiap hari, makan yang teratur (kalau tidak sempat pun harus disempatkan), dan kalau bagi cewe, tips agar tidak terlihat lusuh, kumel, dan tetap cantik, konsumsi vitamin E semacam untuk mencegah keriput, karena itu berguna untuk mencerahkan kulit lalalala hehe.***

 

 

#secret 6 : Arti Guru

SECRET 6: ARTI GURU

 

“Knowldege” can be found anywhere, anyone, and anything at the end of the day

 

Belajar tidak harus dari bebukuan (saking banyaknya dan tebalnya), tidak harus dari jejurnalan. Belajar bisa dari kuliah, bahkan dari mayat. Ya, mayat adalah guru yang tak ternilai untuk kami, mahasiswa kedokteran. Mungkin sebagian besar bertanya-tanya, memang iya gojlokan anak FK itu harus megang mayat? Atau tidur bersama mayat?

Dan kalau sebagian dari kami menjawab iya, mungkin karena kami merasa itu beban. Tetapi sebagian dari kami menjawab tidak, karena itu bukanlah gojlokan, tetapi suatu pembelajaran. Pembelajaran kehidupan. Manusia yang merelakan tubuhnya menjadi suatu cadaver belajar, patut diberikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya. Suatu dedikasi tinggi atas ilmu pengetahuan.

Cadaver. Begitulah nama latin dari mayat. Kami, mahasiswa kedokteran, mempelajari anatomi tubuh manusia dari manusia yang telah mati terlebih dahulu. Kami diperkenankan di bawah naungan payung edukasi formal untuk menyayat kulitnya, lemaknya, lalu kami pelajari ototnya satu per satu. Cadaver perlu direndam formalin agar senantiasa awet. Bau formalin yang menyengat merasuk langsung ke otak, membuat air mata dan ingus menetes deras. Tapi kami tidak boleh menggunakan penutup hidung hanya karena alasan bau formalin. Kata dosen kami, “Itu tidak sopan, cadaver adalah pasien pertamamu.”

Tak jarang ada yang pingsan. Termasuk salah seorang teman saya ketika itu. Pingsan. Entah karena baunya, entah karena kaget, jijik, bercampur takut melihat sesosok manusia yang telah tiada.

Salah seorang teman saya ini, sebut saja Bunga, sama sekali tidak mau menatap cadaver pada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Bunga terlalu takut. Beberapa kali Bunga lolos dari pengawasan dosen untuk tidak mengikuti praktikum anatomi, sampai suatu ketika Bunga benar-benar hadir lagi bersama kami, menyampaikan suatu pesan berharga. Pada suatu malam, Bunga bermimpi didatangi oleh seseorang. Dalam mimpinya, seseorang itu berkata, “Aku sudah memberikan tubuhku untuk dijadikan bahan belajar, kenapa engkau malah takut? Apakah aku menakutkan? Lalu bagaimana kau belajar kalau tidak melalui tubuhku?”

Bunga tersadar. Ternyata, cadaver itu bersedih bila kita takut pada dirinya. Dirinya bukan untuk ditakuti, tetapi untuk dihormati, diletakkan pada posisi tinggi untuk diambil ilmunya, dipelajari. Dengan begitu, sosok tersebut akan menjadi orang yang bermanfaat, dan menjadikan diri kita menjadi sosok yang bermanfaat. Akhirnya Bunga memanfaatkan dengan baik cadaver yang telah disediakan untuk dipelajari, terlebih, kami di universitas negeri. Cadaver kami dapatkan dengan cuma-cuma. Terimakasih Bapak, Ibu, yang mendedikasikan dirinya sebagai cadaver untuk kami pelajari. Jasa Bapak Ibu sekalian, takkan kami lupakan. Tak lupa kami sisipkan doa kepada Bapak Ibu sekalian, dan tentunya, kami menyayat kulit bapak dan ibu dengan cara dan prosedur yang memang sudah ada. Belajar dari yg mati supaya menyelamatkan yang hidup.

Sebaik-baiknya manusia adalah yang berguna bagi manusia lain. Salah satu amalan yang tak terputus adalah ilmu pengetahuan. Jika tubuhmu sendiri didedikasikan untuk digunakan sebagai media pembelajaran, alangkah mulia. Kehidupan di akhirat tetap menuai pahala dari amalan yang tak terputus.

Lantas darimana asal muasal cadaver?

Mahasiswa kedokteran tidak pernah mengetahui dengan pasti, tetapi biasanya 6 anak mendapatkan 1 cadaver untuk dipelajari. Banyak kasus kematian dari orang-orang akhirnya sampai di Rumah Sakit tempatku praktik. Ketika pada tenggat waktu yang ditentukan tidak ada keluarga yang mengambil jenazah tersebut, pada akhirnya jenazah akan diawetkan lebih lama untuk dijadikan media pembelajaran. Maka, jangan heran ketika cadaver itu memiliki tato (yang mungkin dulunya preman) atau pembengkakan di organ tubuh tertentu (kemungkinan pengemis yang kanker dan tak tersembuhkan). Tetapi, tetap saja, penghargaan setinggi-tingginya diapresiasikan kepada para cadaver yang telah memberikan kami segudang ilmu sehingga kami siap mempratikannya kepada manusia hidup.

 

UJIAN:

Sedangkan pelajaran lainnya di mana titik nadir kita benar-benar merasa bodoh adalah: pasca ujian.

Ujian di masa dokter muda bukan lagi mengisi ujian tertulis. Di sini kita dihadapkan pada satu dokter senior, lalu kita menjawab pertanyaan-pertanyaan, bahkan menjawab secara lisan.

Semakin grogi, semakin kosong isi otak. Tapi ada satu hal yang perlu diingat: kepintaran bukanlah segalanya. Yang lebih dipentingkan adalah attitude alias unggah ungguh. Ketika saya mengingat stase kandungan ini, saya merasa lelah sekaligus senang. Banyak sekali ilmu yang saya dapatkan, berupa pengalaman. Namun lulus atau tidaknya saya bukan ditakar dari mengharukannya kisah pasien kanker ovarium yang pernah hadir di poliklinik saya jaga, bukan dari pasien ketuban pecah dini yang akhirnya saya rujuk ke RS ketika saya di puskesmas, bukan dari pasien perdarahan pasca persalinan yang berhasil saya tangani d puskesmas, pengalaman sebanyak itu belumlah apa-apa, belum teruji.

Ketika itu hari Senin, hari pertama ujian, dan lucky me, saya yang mendapatkan kesempatan emas itu. Ujian semacam interview. Yang jelas kita harus percaya diri. Jangan takut. Tapi memang gaya saya adalah, ketika berbicara di depan umum, atau di radio, atau di mana pun yang berbau berbicara di depan banyak orang, suara saya datar dan membosankan. Haha. Mungkin karena efek grogi juga. Ibaratnya kalo itu lagu, suara saya di do=C teroooos. Ga ada modulasi.

Oke. Anggap penguji saya bernama dr. BE, lalu, saya U.

Dr.BE: “Ya dek, pasienmu tentang apa?”

U: “Tentang pasien post partum spontan, 15 tahun.”

Dr.BE: “Termasuk risiko tinggi (risti) kehamilan nggak pasien kamu?”

U: “Ya, Dok.”

Dr.BE: “Memang apa definisi kehamilan risti?”

U: “Suatu kondisi kehamilan yang disebabkan oleh ibu sehingga membahayakan kondisi ibu dan janin.”

Dr.BE: “Jadi, hanya disebabkan oleh ibu?”

U: (kalau ditanya seperti ini, berarti dr. BE meragukan jawabanku, berarti jawabanku salah dong) “Ada lagi dok, dsebabkn oleh janinnya.

Dr. BE: “Jadi bagaimana definisinya?

U: “Kehamilan risiko tinggi adalah kehamilan yang disebabkan oleh ibu dan janin sehingga membahayakan kehamilan.”

Dr. BE: “Jadi, hanya membahayakan masa kehamilan saja?”

U: (lah ditanya lagi, berarti ada yang salah) “Mmm.. tidak Dok. Masa kehamilan, persalinan, dan nifas.”

Dr.BE: “Jadi definisinya bagaimana?”

Singkat kata, akhirnya definisi kehamilan risiko tinggi ini benar. Hahaaha.. Masih banyak pertanyaan ujian lainnya yang akhirnya berbelit-belit dan parahnya, dr. BE dengan kekuatan bulan hanya tersenyum. Senyuuuum. Mau kita jawab salah, mau kita jawab benar, senyum selalu. Yang penting memang pada ujian lisan semacam ini, kita mengetahui apa kemauan penguji. Seperti cenayang. Seperti dari hati ke hati.

Dari mana kita mengetahui? Bertanya kepada koas putaran sebelumnya yang ujian dengan beliau juga dong. Kebetulan, dosen ini menyukai seseorang yang menjawab pertanyaan dengan halus dan sopan ala Jawa, kalau memang tidak bisa bahasa Jawa, setidaknya ketika menjawab “Ya”, diganti dengan “Inggih”. Selain itu, penampilan harus rapi dan wangi, maka setidaknya dr. BE langsung cespleng melihat diri kita ketika kesan pertama.

Ada lagi kisah ujian lisan lainnya. Meskipun bukan pengalaman saya sendiri, tetapi saya agak terbelalak ketika itu, salah seorang teman saya keluar kamar bersiap terburu-buru untuk pergi ke rumah sakit jiwa untuk ujian lisan dengan salah satu dokter jiwa perempuan. Teman saya berjilbab polkadot kuning merah hijau, dipadu dengan kemeja biru bergaris-garis, dan rok kotak-kotak biru. Sangat mencolok sampai-sampai mata perih melihatnya! Gatal mulut ini, akhirnya kusapa, “Woy Mbak, mau kemana? Yakin kamu dengan outfit itu?”

Temanku menjawab, “Huhuhu mau gimana lagi, Pen, aku mau ujian jiwa.”

Aku masih heran, “Memangnya ujian jiwa harus sebegitunya bajunya? Atau bajumu belum kering sehingga sekarang memakai sisa-sisa baju?”

Temanku menjawab lagi, “Bukan Pen, ibunya yang mau nguji aku itu, beliau punya masa lalu buruk, suaminya selingkuh dengan koas, sehingga ibunya gak mau melihat koas berpenampilan lebih cantik dari beliau, bahkan kalau bisa, baju yang tabrak warna justru akan mendapatkan prognosis baik pada ujiannya.”

“Mosok sihhhh?” Saya tidak percaya.

“Iya serius, Pen. Pernah si A dipulangin lagi loh, karena warna jilbabnya sama dengan warna jilbab ibunya. Terus si A juga bedakan. Kalau bisa kita tidak menyamai warna jilbab ibunya, dan jangan sekali-kali kamu berani pakai bedak. Justru, nggak mandi akan lebih aman untuk ujian dengan beliau.”

Lalu temanku berangkat dengan kostumnya yang pasti mencengangkan seisi rumah sakit jiwa.***IMG20150604103528

#SECRET 5: PROSES KEHIDUPAN

Camera 360

Kita adalah satu dari berjuta-juta sprema yang akhirnya berhasil membuahi sel telur dalam rahim ibu.  Tahukah bahwa selama kita di dalam perut ibu, kita berenang-renang di dalam pipis kita sendiri *red: ketuban*

Ketika masih di dalam perut ibu, mungkin kita belum tahu kita ingin menjadi apa, tetapi sebenarnya jalan yang lurus telah terbentang, disiapkan oleh Sang Pencipta agar kita menjadi manusia yang berguna. Tetapi pada perjalanannya, banyak manusia yang menikung, tidak mengikuti jalan setapak itu. Apakah Tuhan masih menyayangi kita yang menikung? Ya! Tentu. Dengan diberinya hidup, nafas, udara, air, pepohonan, awan, langit biru, gunung, pantai, laut, semua yang dianugerahkan di dunia ini kepada kita yang menikung, justru kita harus malu bila melupakan-Nya, apalagi kalau sampai hati kita mengeluh atas kehidupan ini, apalagi mengumpat.  Passionku adalah membantu sesama. Menjadi dokter adalah sarana menuju passionku :’), menjadi penulis adalah media untuk menyalurkan pengalamanku dan mengasah nuraniku, dan aku yakin, inilah jalan lurus yang telah disiapkan-Nya atas diriku. Lalu, apakah kamu sudah menemukan passionmu, jalan lurusmu, keyakinanmu? J

Memaknai perjuangan seorang ibu. Untuk mamaku: Yuliawati. Beberapa waktu terakhir, saya membantu persalinan dengan vacuum. Beruntung sekali mengetahui awal proses kedatangan insan ke dunia. Dulu, saya juga divacuum. Kontraksi rahim ibu kala itu sudah melemah untuk mendorong seorang bayi keluar ke dunia. Ibu saya ketika itu anemia. Proses persalinan membuat ibu kehilangan cukup banyak darah. Dari situ saya memaknai, begitu berarti perjuangan seorang ibu. Vacuum merupakan suatu cara untuk membantu persalinan pada ibu yang tidak terlalu kuat untuk mengejan tetapi masih ada kekuatan kontraksi rahim. Vacuum merupakan instrumen persalinan, semacam alat penyedot yang memompakan dengan tekanan negatif ke kepala bayi sehingga selain didorong keluar oleh ibu, bayi juga ditarik oleh penolong.

Semakin sering melihat dan menolong persalinan, diri ini semakin memaknai apa arti wanita ada di dunia ini. Tak hanya sekedar menjadi penghias, tetapi lebih dari itu, kehadiran wanita adalah melestarikan ciptaan-Nya.  Proses persalinan bukanlah hal yang mudah untuk dilewati. Tak terbayangkan sakitnya perut ketika berkontraksi. Sembari menahan sakit karena kontraksi, menunggu bukaan lengkap dari jalan lahir juga bukan proses yang instan, butuh waktu berjam-jam. Ketika kepala bayi telah tampak menyundul keluar, tak jarang dilakukan pemotongan (episiotomi) untuk melebarkan jalan lahir. Bukan kepalang perihnya perineum ketika dirobek untuk jalan lahir. Tetapi tangisan bayinya seolah seperti anestesi alami, mampu menghapuskan rasa sakit itu. Ketika itu, 23 tahun yang lalu, diri ini dilahirkan dengan cara yang sama. Vacuum. Minggu pahing, 23 Juni 1991, bertepatan dengan Idul Adha. Bersahutan dengan adzan, mengucapkan terimakasih pun tidak, bayi tersebut hanya menangis, dan ibu, yang sudah kesakitan, kehilangan banyak darah, bahkan mempertaruhkan nyawanya, masih bisa tersenyum, hanya dengan suara tangis anaknya.

Sekarang di sini, bayi itu sudah menjadi seorang dokter muda, berusaha memahami kehidupan dari sudut pandang matanya yang kecil. Menulis, selain mengabadikan kenangan, juga mengasah hati. Ternyata kehidupan ini membawa damai ketika kita berusaha memaknainya. Tak lupa, di samping melakukan apa yang seharusnya dilakukan penolong persalinan, kusisipkan doa untuk bayi yang baru lahir ke dunia. Semoga bayi ini kelak menjadi anak yang berguna bagi keluarganya, nusa, dan bangsa. Mampu memberikan senyum kebahagiaan kepada ibundanya, sama ketika tangisan pertama kelahirannya di dunia ini.  Terimakasih, Mama.***

 

Apalah arti semua waktu yang saya buang dalam hidup, kalau pada akhirnya proses yang saya tempuh adalah hal semu dan bukan esensi hidup yang sesungguhnya. Menjadi dokter, bisa saja suatu nikmat yang tiada tara, menolong orang sakit, menerapkan ilmu yang dipelajari seumur hidup untuk menanam pahala di usai kehidupan dunia ini.  Meski sekarang dokter semakin dicemooh banyak orang karena kisah malpraktik yang digembung-gembungkan media massa, tetapi dalam kisah hidup saya sendiri, saya menikmatinya. Semakin menantang.

Lain dengan Tuhan.  Tuhan bukan untuk ditantang. Pemandangan kehidupan dan kematian, penderitaan dalam hidup, putus asa, dan hilang arah, merupakan konsumsi sehari-hari. Itulah yang membuat diri semakin ingin dekat padaNya.

Apakah kedamaian itu?

Apakah kedamaian itu ada dalam kehidupan saya yang sekarang?

Apa yang Tuhan inginkan atas kehadiranku di dunia?

Mengapa ada orang-orang yang dilahirkan dengan cacat fisik?

Manusia diciptakan serupa dengan Tuhan. Lantas, Tuhan bercacatkah? Atau ada makna di balik kecacatan itu?

Bagaimana kehidupan kita setelah kematian?

 

Jawabannya ada di dalam kehidupan ini jika memang kita jeli untuk menyimak. Tak perlu susah payah mencari. Singkatnya waktu kehidupan di dunia sudah didesain Tuhan untuk cukup mempersiapkan akhirat. Bahagialah ketika kita bisa memanfaatkan waktu seoptimal mungkin. Setiap detik adalah belajar. Menyedihkan, nista manusia yang tidak menginginkan kehadiran anaknya akhirnya memilih jalan pintas.  Entah apa sekarang manusia merasa menjadi tuhan? Merasa berhak memusnahkan kehidupan dalam rahimnya, menukar nyawa 1 janin dengan kelangsungan kehidupan duniawi, entah atas alasan ekonomi ataupun karena memang malu.

Bahagialah ketika kita bisa memanfaatkan waktu seoptimal mungkin. Setiap detik adalah belajar. Menyedihkan, nista manusia yang tidak menginginkan kehadiran anaknya akhirnya memilih jalan pintas. Entah apa sekarang manusia merasa menjadi tuhan? Merasa berhak memusnahkan kehidupan dalam rahimnya, menukar nyawa 1 janin dengan kelangsungan kehidupan duniawi, entah atas alasan ekonomi ataupun karena memang malu. Kian maraknya obat-obatan aborsi yang dijual bebas dengan harga yang mahal tetap saja mampu dibeli. Sekedar informasi, obat-obatan itu adalah obat biasa yang di apotek harga 1 tabletnya hanyalah 6000 perak, tetapi dijual di dunia maya mencapai angka ratusan ribu, bahkan jutaan.. Sadarilah, selain memiskinkan kantong, hal itu juga memiskinkan hati dan mengikis sisi kemanusiaan kita. Tuhan yang Maha Pemilik Kehidupan. Niat membunuh pun, jika Tuhan masih menghendaki ada nafas kehidupan pada janin itu, bukan hal sulit bahwa janin tetap hidup. Tetapi, apakah kehidupan janin itu akan sama? Tidak. Kecacatan pada kehidupan sang janin akan dirasakan seumur hidupnya. Cacat yang dibuat sendiri oleh kesengajaan dan keserakahan ibunya. Kesempurnaan yang dirusak oleh tangan manusia sendiri. Mungkin sekalipun aborsi berhasil menipu dunia dengan “menyembunyikan” 1 nyawa, jauh di lubuk hati yang paling dalam, rasa bersalah tetaplah ada, dosa itu tetap ditanggung seumur hidup, yang nanti dipertanggungjawabkan di akhirat, rahasia besar yang dibawa oleh ibu yang mengandung anak, yang seharusnya dapat menjadi berkah malah berbuah resah.

Siklus kehidupan tetap menyeret dokter di dalam kisah ini. Dokter sebagai orang yang membantu membersihkan rahim apabila terjadi perdarahan pada ibu, bahkan koma, dan meninggal. Bukan hal janggal. Aborsi dapat menyebabkan peluruhan janin dalam rahim menjadi tidak sempurna. Sisa janin yang masih tertinggal dapat menyebabkan perdarahan kehamilan yang tidak diinginkan menyisakan duka sekaligus pedih. Luka batin entah sampai kapan dipulihkan. Sisa janin hanya bisa dibersihkan dengan bantuan medis. Tetapi luka batin? Lalu apa yang akan kita lakukan sebagai seorang dokter ketika mendapati pasien seperti ini? Apakah memarahi ibu tersebut? Apakah mendiamkan dan hanya mendengarkan anamnesis dari ibu tersebut? Atau, mungkin menurut saya ini yang paling benar: menegurnya dan melihat tindakannya tersebut dari berbagai sisi. Kalau dianggap kriminal, ya memang iya, tetapi bukan wewenang dokter untuk melaporkan kepada yang berwajib. Semua kisah apapun yang dipercayakan pasien kepada kita. terlepas dari itu, kembali ke esensi kehidupan: apakah kedamaian itu? Apakah maksud Tuhan untuk menghadirkan kita ke dunia? Jawabannya ada di hati kita masing-masing.

 

 

SECRET 4: SUMPAH DOKTER #doctorsecretbook

Moment yang paling membahagiakan bagi mahasiswa: menjadi sarjana-wisuda-berfoto dengan toga, dengan background foto rak-rak buku, sembari tangan membawa ijazah yang digulung. Klasik!

Kelulusan sekolah dokter bisa berulang-ulang. Yang pertama lulus sarjana dengan gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked), selanjutnya kelulusan dari dokter muda dimana para dokter ini mengucapkan Sumpah Dokter:

Demi Allah, saya bersumpah bahwa:

  1. Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan;
  2. Saya akan memberikan kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya;
  3. Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang berhormat dan ber­moral tinggi, sesuai dengan martabat pekerjaan saya;
  4. Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan;
  5. Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerja an saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter;
  6. Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran
  7. Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagai mana saya sendiri ingin diperlakukan;
  8. Dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita, saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik kepartaian, atau kedudukan sosial;
  9. Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan;
  10. Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan ke­dokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan

Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan memper taruhkan kehormatan diri saya.

Wew berat banget ya isi sumpahnya! Tetapi, itulah, para dokter bersumpah untuk benar-benar BENAR dalam menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Yang diemban tak hanya tanggungjawab intelektual, tetapi juga tanggungjawab moral.

Wew berat banget ya isi sumpahnya! Tetapi, itulah, para dokter bersumpah untuk benar-benar BENAR dalam menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Yang diemban tak hanya tanggungjawab intelektual, tetapi juga tanggungjawab moral.

 

Haha, tahap kelulusan yg sudah saya lewati adalah S.Ked. Ketika itu, prahara dalam keluarga sedang terjadi dan semangat hidup saya sedang turun-turunnya. Bahkan ketika semua orang dandan di salon jam4 pagi, menjahitkan kebaya untuk hari spesialnya, menata rambutnya di salon, saya, dengan pakaian seadanya (kebaya lama dan rok batik)dibalut toga, berjalan ke mimbar untuk menerima ijazah dari rektor. Prestasi cumlaude ketika itu tidak menghapuskan lara hati yang ada. Rambut tidak ditata, hanya dikucir sekenanya. Saya menerima ijazah rektor, bersalaman, lalu turun mimbar. sepatu dengan hak tinggi ini sudah berusia 3 tahun, dan tidak pernah dirawat dengan baik, tak disangka. Sore itu, di depan para wisudawan, terlepas dari perlekatannya, membawaku harus nyeker alias tanpa sepatu. (Kasi gambar!!)

Jadi, turun mimbar di hadapan 1000 pasang mata itu yaaa memang tanpa sepatu, alias NYOKOR!

 

Pengakuan yang sangat juju

Pengakuan yang sangat jujur

Perjalanan panjang seorang dokter ditampakkan pada hari wisuda. Ketika wisuda, mahasiswa fakultas selain Kedokteran Umum tampak gembira sekaligus haru karena hari itu mereka akan berpisah menuju jenjang kehidupan baru: bekerja. Mahasiswa kedokteran umum, selepas mendapat gelar sarjana, masih harus melalui suatu tahapan: dokter muda, alias koas. So, welcome to the jungle.

Selamat wisuda! Toga! Dan segalanya yang membahagiakan, goal semua mahasiswa S1: sarjana.. Tapi ketahuilah.. Meskipun agak tdk penting haha. Di saat fakultas lain menempuh kelulusan menjadi sarjana, mengikuti job fair di sana sini, berpisah dan bertangis-tangis haru atas kebersamaan selama 4 tahun S1, kami, para mahasiswa kedokteran, masih dan tetap berstatus mahasiswa, dengan nama keren koass, sampai 1,5 tahun ke depan. Berkutat dengan teman-teman yg sama, masih dengan buku kitab-kitab, stetoskop, dan pasien, serta tak lupa: kami masih dipantau oleh apa yang disebut Indeks Kumulatif Prestasi (IPK) ouch! Perpisahan itu, mgkn masih lama. Terlebih, dengan kebijakan pemerintah yang baru tentang adanya pendidikan internship 2 tahun, dan penyetaraan dokter 2 tahun, jadi dapat dipastikan, selama 5,5 tahun ke depan kami, para mahasiswa kedokteran, masih dan tetap bersama-sama. Fiyuh. Lelah? Mungkin. Hidup belajar! Seumur hidup belajar!

Pada perjalanan menuju dokter, banyak rintangan yang dilalui. Yah begitulah kira-kira “kebanggaan” menjadi anak FK. Seumur hidup belajar. Seumur hidup menjadi tumpuan hidup banyak orang. Tidak mubazir ilmu yang diserap, disalurkan untuk kepentingan orang banyak.

Sistem belajar anak FK. Jujur saja, buku-buku tebal itu bukanlah isapan jempol. Dokter memilikinya. Tapi, mengingat ilmu itu terus berkembang, kuberitahu satu hal. Bertanyalah. Bertanyalah pada dosenmu, gurumu, orangtuamu, bahkan kepada orang awam sekalipun, agar ilmu di otak kita berkembangbiak, mendapati hal-hal yang justru tidak ada di buku. Kalaupun ada di buku, tetapi kita cenderung lebih cepat menyerap dari pengalaman sehari-hari langsung.

Maka, jangan heran ketika suatu kali kita memeriksakan diri ke dokter, dokter akan menanyai banyak hal tentang keluhan apa yang membawa kita berobat. Hal itu semata menandakan bahwa dokter hanyalah manusia biasa, yang bukan mengobati berdasarkan ramuan-ramuan dan mantra mandraguna. Kita mengobati berdasarkan apa yang sudah kita pelajar, disesuaikan dengan keluhan pasien. Maka jangan heran kalau kita kepo. Membuat pola dan kerangka pikir sesuai keluhan akan membawa dokter mampu mengarahkan pemeriksaan fisik yang sesuai, sehingga dapat mendiagnosis penyakit dengan tepat. Apa tujuannya? Agar tidak sembarang obat masuk ke dalam tubuh.

Tubuh manusia merupakan suatu sistem kesatuan yang harus dijaga keseimbangannya. Memasukkan obat akan mengganggu keseimbangan sistem tertentu, sehingga menyebabkan salah satu organ bekerja lebih keras. Semisal: ginjal dan hati akan bekerja keras mengolah obat. Maka, obat yang diberikan haruslah mengarah kepada penyakit. Prihatin ketika banyak obat yang dibuat sengaja untuk kepentingan kantong pihak-pihak tertentu. Secara tidak langsung, mereka mendapatkan uang dari nyawa manusia. Membuat obat yg sarat zat kimia, yang harganya tidak seberat mudaratnya.

 

Society vs Reality

Society vs Reality

SECRET 3: KONDISI PASCA JAGA #doctorsecretbook

Dari keseluruhan wajah yang saya miliki, I just wanna say: Thanks God. Tapi, untuk lingkaran hitam di bawah mata, adakah ide utk menghilangkannya? *desperado*

Jaga rumah sakit adalah suatu keadaan yang memerlukan stamina yang fit! Setelah jaga, tubuh serasa berat. Bahkan membawa motor pulang ke kos saja rasanyaaaa beraaaat. Bahkan mau pipis di kamar mandi kos saja rasanyaaa,, uhhh aku lebih memilih tempat tidur. Tidak peduli kipas angin atau AC, semua berasa nikmat ketika kita menyentuh apa yang disebut: bantal. Tetapi ada kalanya selepas jaga semalaman, jam 7 pagi kita masih harus menjalankan kewajiban layaknya manusia normal: beraktivitas jam 7 – jam 2 siang, yang kita lebih sering sebut sebagai jam kerja: menuntut ilmu di jam kerja, memeriksa pasien di jam kerja juga. Padahal semalam ketika jaga, kita mengalami “jam jaga” dengan aktivitas yang lebih produktif daripada jam kerja, lebih banyak program ke pasien, lebih banyak pengawasan, lebih banyak tenaga yang dikerahkan.

Dokter melakukan semuanya

Dokter melakukan semuanya

Hore hore hore. Ketika saya sedang menulis ini saya sedang usai jaga. Semalaman jaga ternyata tidak bisa ditutup dengan “happy ending” yaitu ketemu bantal dan kasur. Selepas jaga, saya harus membuat laporan pasien baru dan mempresentasikannya di depan teman-teman yang tidak jaga, dan siap-siap dikomen dokter senior, “Kok bisa dek kamu temukan pembesaran limpa?” “Apa pemeriksaan fisik yang kurang dari pasienmu ini?” “Kenapa diberikan obat ini bukan itu?” lalalayeyeye, yahhh bayangkan saja, bahkan kondisi ketika pasca jaga, ditanya “huruf Y dan G kalo digabung itu singkatan dari kata apa?” ajah saya belum tentu bisa jawab. Padahal jawabannya sederhana, “Y dan G kalo digabung singkatan dari kata ‘yang’”

Apalagi ditanya pertanyaan-pertanyaan berbobot seperti itu. Alhasil Cuma pasang tampang memelas dengan mata berkantung. Keseringan sih, dokter senior mengerti perasaan kita. Hehehe..

Selepas laporan jaga saya harus mengantri di depan kantor dokter senior (para dokter spesialis dan konsulen), berlomba bersama detailer obat yang juga berebut mendapatkan tandatangan beliau-beliau yang sudah berada di atas awan *di atas awan? Memang naik gunung?* Aaaaaaaaa dokter-dokter itu sedang kuliah umum membahas HIV, ditemukan obat baru, entahlah apa, saya tidak sanggup menyimak karena: pertama, saya berada di luar ruangan itu (jadi saya tahu bahwa di dalam adalah diskusi tentang HIV dengan cara curi dengar dan curi pandang), kedua, saya sangat somnolen (somnolen adalah tingkatan kesadaran mengantuk). Baiklah, saya menunggu di depan ruangan diskusi. Ealaaaaahhhh. Beberapa menit kemudian, saya tersadar saya dibangunkan oleh dokter spesialis.

“Mencari siapa dek?” Tanya dr. Be sambil seperti membangunkanku.

Melek, kedip-kedip agak lama, baru sadar kalau itu dr. Be, “Aa..aa.. Maaf, Dok, saya mencari dr. Fa,” kata saya sambil setengah tidak percaya.

Pak Be tergelak, “Lah saya kira mencari saya. Hahaha, habis jaga, dik?”

“Iya, Dok… Ini mau bimbingan untuk membuat kasus besar, Dok,” jawab saya.

Malluuuuuu… Memang obat ngantuk hanyalah tidur, bukan duduk di depan ruang diskusi sambil menanti dokter senior. Fatal jika yang menemukan saya tidur adalah dokter yang killer, atau fatal lagi jika posisi saya ketika tidur adalah: kaki ngangkang, iler sudah menetes-netes, mulut menganga. Oh NO!

SECRET 2: PASANGAN DOKTER #doctorsecretbook

Woy woy woy!

Woy woy woy!

 

 

Mahasiswa kedokteran yang sedang menempuh koas adalah fase dimana membutuhkan sosok pendamping yang sabarnya melebihi panjang tali plasenta *haha hayo berapa panjang tali plasenta?*

Oke, sekedar info, tali plasenta memiliki panjang 30 – 90 cm, berbeda-beda pada setiap ibu hamil. Tali plasenta berguna untuk sarana transportasi darah, nutrisi, oksigen dari ibu ke bayi, dari bayi ke ibu. Keren kan Kuasa Tuhan…

Pasangan hidup seorang dokter. Mencari atau dicari? Sebenarnya tidak ada rumusan tersendiri untuk membahas hal ini. Hmmm,, ayo mengerucutkan definisi. Pasangan hidup di sini lebih tepatnya adalah jodoh. Di dunia ini, misteri kehidupan hanyalah 3: kelahiran, jodoh, dan kematian. Maka, jika ditanya, “Siapa jodohmu?” Waaa, bolehlah kita katakan tidak tahu. Lain halnya jika ditanya, “Berapa tekanan darah pasien ketika tadi di UGD?” Nah kalau saya jawab tidak tahu padahal itu pasien saya, itu tandanya saya tidak peduli terhadap kehidupan orang lain, itu tandanya saya tidak menggunakan hati dalam berkarya.

Idealisme seorang dokter dari sudut pandang kebanyakan manusia adalah memiliki pasangan yang juga seorang dokter. Entah itu orangtua dari dokter tersebut, entah itu dari diri kita sendiri. Entahlah, tetapi saya tidak. Kenapa? Karena semua manusia itu sama di mata Tuhan, dan kita menikah dengan seseorang bukan karena dia “apa” tetapi karena dia “siapa”, betul bukan? Setubuh???

Pada intinya semua manusia itu sama di mata Tuhan. Dalam perjalanan hidup, yang mampu membawa kebaikan di dunia tak hanya dokter. Bayangkan kalau semua orang di dunia ini adalah dokter, tidak ada yang men`gatur lalu lintas, tidak ada yang menyupir, tidak ada yang membenarkan laptop ketika terserang virus, tidak ada yang berjualan sayur, tidak ada yang menanam padi, aaarggh, tidak ada keseimbangan hidup.

Pasangan hidup sesama dokter, butuh toleransi yang sangat besar. Selain nanti ada semacam persaingan karir, butuh pengorbanan di dalamnya. Jika pembaca masih menyangkal akan hal ini, ya banyak kasus yang mungkin tidak perlu diungkap ya. Tetapi memang separuh kehidupan dokter adalah milik pasiennya. Jaga rumah sakit dari pagi sampai pagi lagi sudah merupakan panggilan jiwa. Toleransi yang besar dan kepercayaan yang besar harus diberikan kepada pasangannya. Maka, tak jarang dokter memiliki pasangan dokter juga, karena sama-sama mengerti. Atau bisa jadi, karena cinlok (cinta lokasi). Yaaa ada plus minus, plusnya saling mengerti, minusnya, sama-sama sibuk, sehingga namanya menjaga anak di rumah juga menjadi tugas shift tersendiri. Di sinilah dibutuhkan komitmen yang kuat.

Jangan salah. Pasangan hidup. Pasangan ketika kuliah. Ini menjadi bahan kuliah juga. Tak jarang para dosen yang sudah spesialis senang mengumbar masa lalunya, mengenang lagi masa-masa indah, kenapa memilih pasangan hidupnya yang sekarang, lalu diberikan tips-tips serta kisah nyata tentang kehidupan berumahtangga dengan seorang dokter. Aw aw aw.

            Berikut saya ungkapkan pasangan-pasangan dokter yang sekiranya bisa jadi referensi.

Pertama. Teman sejawat, alias sesama dokter. Yakin? Think twice. Belum lagi ketika masing-masing pihak ingin menjadi dokter spesialis, perlu dipikirkan lagi, spesialis apa yang pas untuk menjadi pasangan. Hemat saya, harus ada suatu perumusan spesiali: spesialis yang banyak tindakan/operasi dan menghabiskan sebagian besar waktunya di kamar operasi/menghabiskan sebagian besar waktunya bersama pasien: spesialis bedah, spesialis obstetric dan ginekologi, dan spesiali anestesi. Menurut saya, spesialis-spesialis ini butuh ditangani oleh pasangan hidup yang super sabar dan tidak sibuk sama sekali. Pasnya sih, ibu rumah tangga. It means, rata-rata spesialis-spesialis tersebut adalah laki-laki bukan? Oke, mengesampingkan apa yang dinamakan emansipasi yaaa. Kita sedang ngobrol dalam jalur yang mainstream. Itu artinya, kalo pasangan dokter tersebut adalah dokter juga, yaaa, tahan ego ya, jangan memaksakan karir, mungkin sang wanita perlu sekedar dokter umum lalu memikirkan masa depan anak-anak bersama. Suatu pengorbanan, tetapi hidupi pilihan.

Spesialis yang banyak berpikir, sedikit tindakan bedah/operasi: spesialis anak, spesialis kulit, spesialis penyakit dalam, spesialis syaraf (bukan bedah syaraf ya), spesialis anak, spesialis jantung sehingga kalau spesialis tersebut didalami oleh dokter perempuan, pas banget. Selain jam kerja lumayan jelas, ada waktu untuk merawat diri. Spesialis yang banyak berpikir dan ada tindakan: spesialis mata dan THT.

Kok tahu? Ya itulah guna dokter muda, untuk mencari peminatan, mau jadi dokter seperti apa nanti? Dokter structural/dokter fungsional? Lah apa bedanya? Ya beda. Dokter fungsional, ya memang menjadi dokter sesuai fungsinya, yaitu mengobati dan melayani orang sakit. Dokter fungsional yang mau mendalami lagi fungsinya ya bisa memiih spesialis tertentu. Dokter structural itu lebih bersifat mengambil jabatan tertentu di rumah sakit atau struktur pelayanan kesehatan tertentu, misalnya: menjadi direktur, yaa yang berbau manajemen. Tetapi, bisa merangkap juga sebagai dokter fungsional.

Intinya sih, menjadi dokter muda itu tidak sekedar “Mau menjadi spesialis apa?” tetapi juga “Mau punya pasangan seperti apa?”

Nah, kalau punya pasangan sesama dokter umum, perlu dipikirkan, mau siapa dahulu yang sekolah spesialis karena sekolah spesialis itu sungguh special. Pengorbanan tiada tara. Tidak boleh buka praktik, berarti kucuran dana terhenti. Kucuran dana terhenti, tetapi perlu membayar SPP layaknya mahasiswa. Yaa syukur-syukur dapat pasangan yang udah jadi dokter spesialis. Haahaha.

Kedua. Pasangan yang cocok: Ustadz, Pendeta, atau Pemuka agama yang diperbolehkan menikah. Tokcer banget kalau menjadi pasangan dokter. Yang satu mengobati secara fisik sedangkan yang satu mengobati secara iman dan batin. Sukses dunia akhirat. Luar biasa. Pasangan seperti ini sangat berguna bagi dokter apabiladokter sedang mendapatkan pasien dengan kasus yang rumit, lalu membutuhkan sokongan spiritual, selain itu kehidupan dokter yang sesungguhnya memang dihabiskan di rumah sakit atau pusat pelayanan kesehatan sehingga dimungkinkan kekurangan waktu untuk membaca kitab suci sesuai agamanya masing-masing. Nah, peran pasangannya di sini sangat mendukung untuk memberikan dukungan moral.

Ketiga. Pasangan yang cocok: Pengusaha. Wah, ini pas banget menjadi pasangan dokter. Yang satu membuka suatu klinik pengobatan, yang satu memiliki usaha untuk membiayai hidup pasangannya yang seorang dokter, apalagi jika dokter umum ini memutuskan untuk sekolah lagi, mengambil spesialis. Selain itu, seorang dokter yang baik harus memiliki jiwa entrepreneur. Jiwa entrepreneur itu gimana sih? Itu loh, sifat yang selalu ditekankan oleh pengusaha, yaitu suatu pola pikir untuk terus mengembangkan diri, mencari peluang, dan tahan banting. Nah, dokter juga perlu jiwa entrepreneur. Tetapi menjadi dokter untuk berbisnis? Itu salah besar. Yang ditekankan bukan jiwa bisnisnya, tetapi jiwa enterpreneurnya. Kenapa? Karena konotasi berbisnis adalah menghasilkan untung. Untung dari orang sakit? Ya ampun, dosaaa boookkkk!

Keempat. Pegawai. Pegawai itu sangat luas ranahnya. Definisnya dulu yuk dipersempit. Pegawai adalah seseorang yang secara rutin mendapatkan gaji karena bekerja di suatu perusahaan/Negara. Pegawai dibedakan menjadi pegawai swasta atau pegawai negeri. Yaaah, banyak kasus dokter umum dan pegawai, rata-rata sih pegawai negeri (yuk ngacung yang memang iyaa, seperti: pegawai bank Negara, pegawai negeri sipil), dan pegawai swasta (yuk ngacung yang memang iyaaa, seperti pegawai bank swasta). Cocokkk kaaan. Dokternya ganteng, pegawainya cantik-cantik. Atau bisa saja, dokternya cantik, pegawainya ganteng. Yah intinya sih balik lagi ke komitmen awal.

Kelima. Artis/Pekerja Seni. Seru ya, ketika dokter berkutat dengan pasien, dan penyakit pasien-pasiennya perlu dipecahkan dengan otak yang cemerlang, maka ketika otaknya keruh sedikit, kehadiran pasangan yang artis/pekerja seni ini menghibur pasangannya yang doker. Apalagi artis kan kterkenal kreatif, pandai berimprovisasi, sering menggunakan otak kanannya, lengkap sudah untuk mengajak sang dokter keluar dari zona penatnya.

Keenam. Guru/dosen. Pada hakikatnya, banyak dokter yang merangkap menjadi dosen. Lengkap sudah fungsinya sebagai manusia: sebagai dokter dan guru akan menjadikannya memiliki amalan yang tak terputus, dan ilmu yang bermanfaat. Survei yang saya lakukan pada teman sejawat, sebagian besar dilahirkan dari rahim para ibu guru, yang bersuamikan bapak guru, atau ibu dosen dan bapak dosen. Dengan suksesnya prestasi anak-anaknya, didikan para bapak dan ibu guru/dosen ini memberikan keutamaan moral dan tanggungjawab ini sungguh terbukti.

Ketujuh. Militer/Polisi. Banyak sekali pasangan dokter yang seorang militer/polisi. Fenomena anak FK: menikah di atas usia 23 tahun. Kenapa? Karena menunggu dapet gelar. Alasan klasik: supaya di undangan pernikahan, ada gelar “dr.”nya gitu.. PENTING GAK SIH? Bagi saya sih tidak. Kalau udah kebelet ya nikah aja. Apalagi udah mapan, ganteng, tinggi, putih *melantur*. Ya, anak-anak FK yang punya pasangan militer, kebanyakan menikah sebelum mencapai gelar “dr.” itu. Kenapa? Karena ya itu tadi. Para polisi/TNI sudah berpenghasilan cukup, dan mungkin akan segera ditugaskan di tempat terpencil, sehingga dibutuhkan ikatan yang kuat, komitmen yang sah secara agama dan hukum. Tetapi, mari ditelaah lebih dalam lagi. Karir sang istri sebagi dokter bagaimana? Dengan tempat dinas yang berpindah-pindah, sebaiknya sang istri mengikuti suaminya dimanapun, dan ini dapat merupakan suatu keunggulan maupun kelemaan. Keunggulannya, istri dapat hidup dimanapun, membuka praktik dimanapun. Kelemahannya, kemungkinan mengambil spesialis atau sekolah lagi merupakan “pekerjaan ekstra”. Karena, sebagai seorang istri militer, ada ikatan tersendiri yang mengharuskan istri akitf di dalamya, belum lagi urusan hirarkis/hormat antar pangkat. Rumitttt.

Kedelapan. Politikus. Hmmm, entahlah ini pas atau tidak, tidak bisa berkata banyak. Tetapi yang jelas, seorang doker akan bertemu dengan politikus di Rumah Sakit Jiwa ketika para politikus gagal menjadi anggota legislative pada Pemilu. Terguncang jiwanya. Di sini, paslah peran dokter sebagai pasangan hidup. Sang dokter akan menghapus lara hati sang politikus ini, dan mengobat symptom penyakit jiwanya.

Kesembilan. Pengacara. Pas banget ni, belum lagi sekarang banyak pengaduan kasus malpraktik. Suami dapat mendukung istrinya, atau sebaliknya, dalam hal moral, maupun dari sisi hukum. Kalau semua seperti ini kan hemat, tidak perlu menyewa pengacara mahal-mahal dan ribet-ribet.

Intinya mengambil pasangan hidup seorang dokter membutuhkan pertimbangan yang sangat matang. Memang sih, sering terdengar celetukan “Menantu idaman adalah seorang dokter.” Hahahaha. Dan itu bukan isapan jempol belaka. Dalam banyak kasus, banyak pasien yang menawarkan diri memiliki anak laki-laki ganteng, udah mapan, dan lain-lain kepada saya yang bahkan belum sah menjadi dokter (tetapi sudah disebut dokter meskipun ada embel-embel “muda”). Tetapi tidak sedangkal itu. Sudah siap ditinggal-tinggal hanya untuk merawat pasien lain? Sudah siap berdebat dengan dokter yang di dalam pikirannya hanya ada “iya dan tidak”? Hufhufhuf.

 

Keluar taringnya loh

Keluar taringnya loh

SECRET 1: KANKER #doctorsecretbook

Perkembangan sel normal menjadi sel kanker

Perkembangan sel normal menjadi sel kanker

 

Dari sekian kasus penyakit, semua organ tubuh yang dianugerahkan Tuhan kepada kita tak lepas dari suatu momok penyakit: kanker.   Di balik kisah seorang dokter muda menempuh perjalanannya menjadi seorang dokter, ada hal sederhana yang sering luput dari pemikiran kami: perasaan pasien. Bagaimana ya perasaan pasien yang ketika itu sedang sakit kanker? Bagaimana ya perasaan pasien yang ketika itu dilanda rasa nyeri tak terperi? Apakah hal-hal sederhana yang kecil yang justru mampu memberikan kebahagiaan bagi mereka sudah cukup kita berikan? Oh, kuberi tahu sesuatu, meskipun aku belum pernah kanker, tetapi, melihat pasien-pasien kanker, aku menjadi sangat yakin bahwa jaringan tubuh yang terkena kanker itu sangatlah sakiiiit.

Kini saya adalah seorang dokter muda. Perlu jangka waktu 6 tahun untuk mencapai gelar dokter. Setelah 4 tahun menempuh S1 sebagai mahasiswa kedokteran, kini saya magang di rumah sakit dengan judul “dokter muda” alias koass. Dokter muda adalah suatu peralihan dari sarjana kedokteran menuju dokter. Bagaimana bisa kami menceramahi pasien dengan segudang ilmu yang telah kami dapatkan selama kuliah di kedokteran apabila pasien dalam posisi hati yang putus asa setelah didiagnosis kanker?   Oke, tadi saya menyebutkan tentang segudang ilmu, mungkin memang kanker adalah salah satu penyakit yang belum ditemukan obatnya, mengingat perjalanannya yang kadang tidak diketahui sampai benar-benar gawat dan menimbulkan gejala. Kanker sebenarnya adalah pertumbuhan sel tubuh kita sendiri yang terlampau lebay, dengan metabolism yang tinggi, dan mengacaukan sistem pengerusakan sel, sehingga pertumbuhannya tidak dapat dikendalikan, serta mengambil jatah nutrisi dari sel-sel sehat lain. Parahnya lagi, sel-sel sehat yang tadinya normal dipengaruhi dengan mudah sehingga berubah menjadi sel kanker juga.

Respon pasien terhadap vonis penyakit kanker itu berbeda-beda. Sejauh pengamatan saya, ada 2: yang pertama, pasien menggebu minta obat-obatan, vitamin, dan lain-lain asalkan dia bisa sembuh, yang kedua, pasien benar-benar menolak semua pengobatan, menolak dibawa ke rumah sakit sampai akhirnya keluarganya membawa ketika kondisinya sudah tak sadarkan diri akibat penjalaran penyakit kankernya.

Ada pula yang paling menyedihkan ketika diri ini menjadi saksi dari pedihnya hidup seorang ibu. Kisah penolakan dari pasangan hidup yang dia pilih. Seorang ibu muda, 30 tahun, datang dengan kondisi kurus kering, diagnosisnya tak jauh-jauh dari penyakit yang juga menyakitkan: kanker ovarium. Tak tega ketika harus melakukan pemeriksaan fisik kepadanya. Bagaimana tidak, balutan kulit yang menyelimuti tulang dengan wajah menahan sakit membuat hati ini semakin teriris.

Terkesima juga melihat perjuangan hidupnya. Antre berobat sejak pagi di poli ginekologi Kariadi tempatku menempuh ilmu. Berobat demi mendapatkan kenikmatan hidup yang setidaknya lebih baik meskipun sedikit. Mirisnya lagi, untuk berobat pun, ibu muda ini perlu memohon iuran dari warga-warga kampungnya. Sedih. Berjalan pun sudah tak mampu. Ibu muda ini diantar oleh ayah dan ibunya sendiri. Ayahnya menggendongnya dari rumah, menempuh perjalanan dengan kendaraan umum, lalu sampai di RS Kariadi, masih dengan digendong di punggung ayahnya, ibu muda ini mencapai poliklinik. Ketika ditanya, sudah menikah? Jawabannya sudah. Ketika lanjut ditanya, suaminya mana? Suaminya menceraikannya karena tidak tahan dengan istri yang sakit-sakitannya. Pernikahannya baru terjadi 2 tahun yang lalu. Ketika itu, ibu muda ini masih seat dan cantik. Ya, raut wajah berparas ayu itu masih tergurat padanya.

Setengah tahun terakhir, ibu muda ini terkapar sakit. Kondisinya semakin memburuk, suaminya menceraikannya. Kini ibu muda ini ada di hadapan saya sekarang. Di dalam kisah hidupnya, seorang dokter tak hanya melihat tubuh pasien yang sakit, tetapi menilik juga perjalanan hidupnya yang pahit. Entah sesakit apa, saya memberikan obat antinyeri suppositoria yang dimasukkan langsung ke duburnya agar nyerinya setidaknya mereda.

Sakit fisik dapat diredakan, tetapi sakit hati dan perih kehidupan hanya Tuhan Yang Maha Membolak-balikkan Hati yang tahu kapan kepedihan itu dapat berakhir. Tuhan pula pemilik kehidupan. Ketika pada akhirnya diri ini tak berdaya lagi, jangan kaget terjadi penolakan oleh teman, bahkan orang yang kita percaya untuk menemani kita seumur hidup. Di balik itu, Tuhan hendak mengingatkan kita: ternyata masih ada orangtua, keluarga, yang senantiasa menerima kita dengan tangan terbuka, tetapi sering kita lupakan.

Kanker ovarium merupakan kanker pembunuh ketiga terbanyak untuk wanita. Di puncak pertama terdapat kanker payudara, disusul dengan kanker mulut rahim atau kanker serviks, lalu diikuti kanker ovarium. Kanker ovarium sering disebut sebagai silent lady killer mengingat perjalanannya yang cepat dan diam, tiba-tiba menumbangkan tubuh tanpa ampun. Tetapi kita harus tetap percaya Allah: “Penyakit yang diturunkan telah sepaket dengan obatnya.”***

 

Hmm, terkadang aku tidak bisa melepaskan pengalaman pribadi dengan keseharian yang kudapatkan dari pasien. Sudah 2 serial korea aku tonton. Kisah di serial korea itu, bukan tidak mungkin terjadi di kehidupan nyata. Aku pun pernah. Ya. Mengalaminya. Kisah seorang gadis biasa yang dicintai oleh pria tampan kaya pewaris tahta. Dan ya, kembali lagi seperti kisah korea yang dramatis, tidak berakhir bahagia. Pria itu pergi jauh. Leukimia merenggutnya :’) Leukimia adalah kasus lain dari kanker. Leukimia adalah bentuk kanker atau keganasan dari sel darah putih. Kini, aku hanya bisa mengenangnya.

Malam ini. Terimakasih kenangan ini, salah satu motivasiku menjadi dokter. Tapi sudahlah, anggaplah itu angin lalu. Tidak ada yang hilang di sini. Tidak ada yang hilang dari sebuah kenangan. Leukimia, penyakit keganasan sel darah putih. Sel darah putih memperbanyak diri melebihi normal, tanpa ada fungsinya. Normalnya darah putih dalam tubuh manusia dewasa berjumlah 4.000 – 11.000 sel/mm3, tetapi pada leukimia, jumlah sel darah putih dapat mencapai jutaan/mm3. Fungsi normal sel darah putih adalah untuk perlawanan tubuh terhadap infeksi. Ketika leukimia, tak satu sel pun berfungsi sebagaimana seharusnya. Akibatnya, tubuh menjadi lebih mudah terserang infeksi, lebih lemah, dan sel darah putih yang ganas pun memakan sel-sel darah yang lain, hmm, dapat berakhir dengan kematian. Ya, masih teringat ketika mimisan itu tak kunjung berhenti, gusi yang tiba-tiba berdarah, tubuh yang tiba-tiba pingsan dengan warna muka pucat. Manusia macam apa yang dapat bertahan hidup ketika itu. Leukimia merenggut kebahagiaannya. Ketika dilahirkan di keluarga yang mampu membayar semahal apapun operasi dan pengobatan penyakit apapun, namun kali ini, leukimia belum dapat disembuhkan. Pengobatan terbaik adalah cangkok/transplantasi sumsum tulang. Tak ada sumsum yang cocok, maka pilihan satu2nya: cuci darah. Cuci darah? Itu pun hanya memperpanjang usia, bukan mengobati. Ketika tubuh tak lagi berkompromi, maka waktu kita di dunia telah habis. Lantas perbuatan apa yang telah kita lakukan di dunia? Melakukan yang terbaik di sisa waktu hidup yang diberikan. Itulah dia. Meskipun awalnya tidak ada semangat hidup sama sekali, bahkan hobinya pun harus ditinggalkan: basket. Kegiatan yang membawanya populer, membawanya melampiaskan kepenatan, harus ditinggalkan. Fisiknya tak lagi sama. Mengapa harus terjadi padanya, Tuhan? Kejadian itu, masih membekas di hatiku. Memberikan suatu bentuk motivasi dalam kehidupan ini: menjadi dokter.***

 

Sepanjang penghayatan sebagai seorang dokter muda, hal yang juga menyayat hati adalah air mata keluarga pasien. Namun, dari kisah ini saya belajar apa arti kehidupan.
Ketika itu jam 6 pagi. Saya baru selesai jaga bangsal anak di RS. Seperti biasa, tugas dokter muda adalah memeriksa kondisi pasien di bangsal. Menyenangkan, karena dgn begitu, kita dapat menyapa pasien setiap hari. Seorang adik cantik, putih, berambut ikal sudah 1 minggu dirawat di ruang isolasi. Seminggu bukanlah waktu yang singkat bila kita sakit, tak khayal pula kami menjadi akrab.

Ruang isolasi? Jangan berpikir bahwa penyakit adik ini menular, tidak. Justru adik cantik ini diisolasi agar tidak tertular penyakit pasien-pasien lainnya. Kondisi tubuhnya memang lemah, bahkan acap kali merasa kesakitan. Penyakit kanker ganas menggerogoti darahnya sehingga kondisinya semakin memburuk. Kulitnya yang putih timbul bintik-bintik merah sebagai bentuk perdarahan pada kapiler di bawah kulit. Jangan berpikir dalam kesakitannya adik ini mengeluh. Tidak. Hanya raut mukanya yg menggambarkan kesakitan itu. Dia, sosok yang kuat, seorang anak, tuna rungu dan tuna wicara. Namun ibunya tetap bertahan di sampingnya, sesekali mengelap darah mimisan yang keluar dari hidungnya, atau gusi berdarah yang terjadi begitu saja. Sampai pagi itu, suasana ini memenuhi ruang isolasi. Ibunya hanya duduk di pojok ruangan, menangis, sementara tekanan darah anak ini semakin turun, suhu tubuhnya tak kunjung turun dari angka 40oC, nafas semakin melemah. Obat-obatan dimasukkan melalui selang infusnya, berbagai cara dilakukan. Nafas semakin lemah, tekanan darah semakin turun. Ketika paramedik memberikan resusitasi jantung paru, sang ibu bercerita, entah kisah penyesalan, atau hanya untuk mengenang. Dulu pernah, 1x, adik cantik ini menjalani kemoterapi untuk kanker darahnya. Tetapi rambutnya rontok, kulitnya kering, anak menjadi semakin lemah. Sang ibu tak kuasa melihat derita itu. Bagai pedang bermata dua, kemo yang bertujuan memusnahkan sel kanker, sebenarnya juga memusnahkan sel sehat di dalam tubuh. Akhirnya pengobatan kemo dihentikan, dan ini bukan keputusan medis melainkan keputusan sang ibu. Efeknya, pertumbuhan kanker kian ganas. Sampai akhirnya, pagi itu, adik cantik ini menghembuskan nafas terakhirnya. Pagi itu terasa berbeda. Sang ibu menangis tersedu-sedu di samping bednya, memanggil-manggil nama anaknya, yang pergi untuk selama-lamanya. Namun, setidaknya sang ibu sudah memiliki tabungan amal: anak yg berbakti, ketika di Surga nanti.

 

Pita-pita warna untuk menghormati kanker

Pita Kanker

Pita Kanker

Maraknya Iklan Pengobatan Alternatif, Kejahatan Seksual Semakin Meningkat

Stop pelecehan seksual

Stop pelecehan seksual

Dari banyak iklan yang menyesatkan di media massa, kejahatan seksual semakin meningkat

 Wanita yang dari dulu diperjuangkan emansipasinya, dirayakan melalui Hari Kartini, ternyata masih banyak mengalami pelecehan seksual yang tidak disadari memang dipicu oleh sikap kita sendiri. Check this out.

Dari seharusnya periksa ke klinik obstetri dan ginekologi, akhirnya malah justru harus visum karena terjadi pelecehan seksual.

 

Ini kisah nyata ketika ada terdapat iklan penawaran penyembuhan suatu endometriosis menawarkan suatu solusi penyembuhan dengan pijat refleksi. Sejenak dari kacamata kedokteran, hampir mustahil, mengingat endometriosis adalah endometrium (lapisan dalam rongga rahim) tidak berada di rahim, tetapi bisa di organ lain, misalnya menempel di kandung indung telur, kandung kemih, atau bahkan bisa juga menempel di selaput jantung.

Dari perjalanan endometrium bisa menuju keluar rahim, tidak ada hubungan dengan dapat disembuhkan melalui pijatan. Secara sederhana, pembaca awam dapat memahaminya sebagai suatu “letak yang salah” dari selaput dalam rahim, malah berada di luar rahim. Hal ini disebabkan karena hormon kewanitaan yang sering disebut dengan estrogen yang berlebihan. Pengobatan dapat dimulai dengan pemberian obat yang menurunkan kadar estrogen, sampai dengan pembedahan bila endometriosis sudah cukup parah.

Namun, sebagai seorang dokter, kami memiliki etika kedokteran yang juga didasarkan dengan Sumpah Dokter. Profesionalitas kami menuntut untuk tidak memasang iklan di media massa, maka kami sebatas mampu memasang plang di depan tempat praktek dengan latar putih dan font tulisan hitam, huruf balok dengan ukuran yg wajar, dengan jam buka praktek. Ya, memang, kalah dengan iklan-iklan pengobatan alternatif yang menawarkan kesembuhan dengan suara-suara di radio yang berapi-api, promosi, bahkan membawa nama Sang Pencipta sebagai jaminan.

Seorang ibu melapor suatu pelecehan seksual kepada tim kepolisian, lalu tim penyidik datang meminta visum et repertum karena pelaporan dari si ibu merasa dilecehkan oleh penyedia jasa suatu pengobatan alternatif. visum et repertum merupakan Laporan tertulis yang dibuat dokter sebagai pelaporan hasil pemeriksaan fisik, esensinya adalah mendeskripsikan temuan yang dilihat berdasarkan sumpah dokter, atas permintaan penyidik (kepolisian). Sungguh kisahnya sederhana, seorang ibu ingin sembuh dari endometriosisnya, dan pengobatan alternatif ini mengiklankan bisa menyembuhkan hanya dengan pijat. Tetapi dari hasil visum, terdapat beberapa memar di daerah kemaluan si ibu, dan pengakuan ibu mengaku jari pemijat memasuki liang kemaluannya.

Iklan-iklan menyesatkan semacam ini akan dipandang sebagai solusi yang menyegarkan di tengah masyarakat yang mungkin masih takut mendapat pelayanan medis, mengetahui penyakit yang sebenarnya, tetapi sesungguhnya, lebih baik jaman sekarang kita mulai berpikir jernih dengan logika. Pemberitaan di media yang banyak menyudutkan pelayanan medis tidak semerta-merta menyamaratakan semua skill yang sudah kami peroleh  melalui pendidikan dokter selama 6 tahun. Dan pengiklanan yang meninggikan kemampuan hanya dengan minuman, jasa pijat, tanaman tertentu dapat serta merta menyembuhkan semua penyakit itu lantas dengan mudah dapat kita percaya. Apakah ada penelitian otentik terkait dengan pengobatan tersebut? Apakah ada jurnal internasional yang mengakuinya? Semua sekarang harus ilmiah, tetapi tetap menyandarkan semuanya kepada Allah.

 

Dengan menggunakan hati, pikiran, akal, perasaan, manusia dapat mendayagunakan semua itu untuk kebaikan. Penyakit, mari kita pandang sebagai cara Allah memberikan pengampunan dosa kepada kita hambaNya. Dan cara penyelesaiannya, mari kita selesaikan dengan niat yang baik dan benar, agar tidak terjerumus ke dalam hal yang tidak kita inginkan.

 

:) be wise.

Bayi (atau mayat bayi) yang digendong oleh pengemis…?

Tahukah Anda, Mengapa Bayi Pengemis Selalu Tertidur?

 

#TrueStory

 

Seorang wanita duduk di lantai kotor di pinggir jalan. Di sampingnya terletak sebuah tas. tas itu adalah wadah untuk orang melemparkan uang. Di tangan wanita, tidur seorang bayi berusia dua tahun. bayi itu berpakaian kotor.

 

Banyak orang yang lewat akan memberikan uang. Selama mengemis, Bayi selalu tertidur. Ya bayinya tidur. Tidak pernah menangis atau menjerit , selalu tertidur di dalam gendongan pengemis. Anteng beneeeer. Kalau dilihat, itu juga bukan boneka pura-pura..

 

“Kenapa dia tidur sepanjang waktu?” Aku bertanya (kepada pengemis), menatap bayi.

 

Pengemis pura-pura tidak mendengar. Dia menunduk dan menyembunyikan wajahnya di kerah jaket lusuh nya. Aku mengulangi pertanyaan itu. Wanita itu mendongak , melhatku, seakan kesal dengan pertanyaanku. “B*ngs*t” , bibirnya bergumam.

 

Di belakangku seseorang menaruh tangannya di bahuku. Aku menoleh ke belakang . Seorang pria tua itu menatapku tidak setuju: “Apa yang Anda inginkan darinya? kamu tidak melihat seberapa keras kehidupannya?.” Dia mengambil beberapa koin dari sakunya dan melemparkannya ke kantong pengemis tsb.

 

Pengemis itu menunjukkan raut wajah wajah berterima kasih dan kesedihan pada umumnya. Orang itu melepaskan tangannya dari bahuku dan berjalan keluar dari stasiun.

 

Hari berikutnya aku menelepon teman. Dari temanku itu, aku baru mengetahui bahwa pengemis itu adalah bisnis, meskipun terlihat spontanitas, jelas terorganisir dan diawasi oleh lingkaran organisasi kejahatan.

 

Anak-anak yang digunakan adalah anak hasil “menyewa” dari keluarga pecandu alkohol, atau hasil penculikan.

 

Lantas mengapa bayi itu selalu tidur? Dan dengan tenang temanku menjawab, “Mereka diberikan heroin, atau vodka”

 

Dia menjawab, ” Anak itu, sehingga ia tidak berteriak. Wanita itu akan duduk sepanjang hari dengan dia, bayangkan bagaimana caranya anak yg sewajarnya rewel tidak merengek seperti itu kalau bukan dengan obat bius atau semacamnya?”

 

Untuk membuat bayi tidur sepanjang hari, ia dicekoki dengan obat sedatif yang menidurkan. Tentu saja, tubuh anak-anak tidak mampu mengatasi bahan2 keras tersebut. Terlebih arena tubuh anak berbeda dg orang dewasa sehingga dosis obat sebenarnya perlu diperhatikan. Obaylt tersebut sebenarnya hanya boleh diberikan dg resep dokter, maka dikategorikan sebagai obat narkotik, bilamana diberikan, akan mengubah komposisi neurotransmiter di otak, apabila pemberian berlebihan dan terus menerus, otak dapat menjadi kacau. maka, pada kondisi titik jenuh tertentu, anak-anak seringkali tewas. Hal yang paling mengerikan – kadang-kadang anak-anak meninggal selama “hari kerja” . Dan seorang “ibu” harus memegang mayat anak kecil di tangannya sampai malam. Ini adalah aturan.

 

 

 

Bila Anda melihat seorang wanita dengan seorang anak, mengemis, berpikirlah sebelum Anda menyumbang. Pikirkan tentang hal itu, jika bukan karena ratusan ribu pemberi sedekah, bisnis seperti ini tidak akan lagi ada. Bisnis akan mati dan bukan anak-anak. Jangan melihat anak yang sedang tidur dengan kasih sayang. Lihatlah dengan logika dan pengetahuan yang luas. Karena Anda membaca artikel ini , Anda tahu sekarang mengapa anak tersebut selalu tertidur di tangan pengemis.

 

 

 

TOLONG SEBARKAN..!