Yusran Adhitya Kurniawan’s Blog

Pentingnya Mengucapkan Salam dan Berjabat Tangan

by on Mar.10, 2010, under Information Lifestyles

Mengucapkan salam dan berjabat tangan kepada sesame. Muslim adalah perkara yang terpuji dan disukai dalam Islam. Dengan perbuatan ini hati kaum Muslimin dapat saling bersatu dan berkasih sayang di antara mereka.
berjabat-tangan
Namun apa yang terjadi jika perbuatan terpuji ini dilakukan tidak pada tempat yang semestinya? Tidak ada kebaikan yang didapat bahkan pelanggaran syariatlah yang terjadi.

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam beliau bersabda, “Apabila salah seorang dari
kalian bertemu dengan saudaranya maka ucapkanlah salam padanya. (Kemudian) jika pohon, tembok, atau batu
menghalangi keduanya dan kemudian bertemu lagi maka salamlah juga padanya.” (HR. Abu Dawud)

Pada hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memerintahkan seorang Muslim mengucapkan salam kepada saudaranya yang Muslim jika menjumpainya. Karena salam dapat menggalang persatuan, menghilangkan
rasa benci, dan mendatangkan cinta.

Tidak dibedakan dalam mengucapkan salam tersebut antara orang yang berada di dalam ataupun di luar masjid. Bahkan sunnah menunjukkan disyariatkannya mengucapkan salam kepada orang yang berada di dalam masjid, baik ketika shalat maupun tidak.

Dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam keluar menuju Quba dan
shalat di sana. Lalu datang orang-orang Anshar kemudian mereka mengucapkan salam kepadanya sedangkan beliau sedang shalat. Dia (Ibnu Umar) berkata, Lalu saya bertanya kepada Bilal, “Bagaimana kamu lihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab salam mereka ketika mereka mengucapkan salam kepadanya
padahal dia sedang shalat?” Ibnu Umar berkata, Bilal berkata, “Begini, sambil membentangkan telapak tangannya.” Begitu pula Ja’far bin ‘Aun membentangkan tangannya dan menjadikan telapak tangannya di bawah
sedangkan punggungnya di atas.” (HR. Abu Dawud).
Dalil disyariatkannya mengucapkan salam setelah shalat di masjid adalah hadits tentang orang yang buruk
shalatnya, hadits yang terkenal (masyhur) dari Abu Hurairah :

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam masuk ke masjid. Lalu seseorang masuk dan shalat. Kemudian dia
datang lalu mengucapkan salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Maka Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab salamnya seraya berkata : “Kembalilah shalat karena sesungguhnya kamu belum shalat!” Maka orang itu kembali lalu shalat sebagaimana dia telah shalat sebelumnya. Kemudian dia datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Hal itu dia lakukan tiga kali. (HR. Bukhari, Muslim dan yang lainnya).
“Hadits ini menjadi dalil disyariatkannya mengucapkan salam kepada orang di dalam masjid sebagaimana juga hadits tentang ucapan salam orang-orang Anshar kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam di Masjid Quba sebagaimana yang telah diterangkan sebelumnya.

Jadi salam dan berjabat tangan dilakukan ketika datang atau hendak berpisah walaupun hanya sebentar. Sama saja apakah di dalam Masjid atau di luar masjid.Al‘Izzu bin Abdussalam berkata, “Jabat tangan setelah shalat Shubuh dan Ashar termasuk bid’ah kecuali bagiyang baru datang dan bertemu dengan orang yang menjabat tangannya sebelum shalat. Maka sesungguhnya jabat tangan disyaratkan tatkala datang. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berdzikir setelah shalat dengan dzikir-dzikir yang disyariatkan dan
beristighfar tiga kali kemudian berpaling.

Madzhab Hanafi, Syafi’i dan Maliki menyatakan dengan tegas tentang makruhnya (tidak disukai) jabat tangan setelah shalat dalam segala hal karena para sahabat tidak saling berjabat tangan setelah shalat dan
bahwasanya perbuatan itu termasuk kebiasaan-kebiasaan
Rafidlah.”Ibnu Hajar berkata, “Apa yang dikerjakan manusia berupa jabat tangan setelah shalat lima waktu adalah perkara yang dibenci, tidak ada landasannya dalam
syariat.”
Perlu diperingatkan bahwa tidak boleh bagi seorang Muslim memutuskan tasbih (dzikir) saudaranya yang
Muslim kecuali dengan sebab syar’i. Namun demikian bukanlah termasuk hikmah jika kita menolak bersalamandengan tangan yang sudah terulur kepada kita, karena ini merupakan sikap yang kasar yang tidak dikenal dalam Islam. Akan tetapi ambillah tangannya dengan lemah lembut dan jelaskan kepadanya kebid’ahan jabat tangan ini yang diada-adakan manusia.
Betapa banyak orang yang terpikat dengan nasihat dan dia orang yang pantas dinasihati. Hanya saja
ketidaktahuan telah menjerumuskannya kepada perbuatan menyelisihi sunnah. Maka wajib atas ulama dan
penuntut ilmu menjelaskannya dengan baik.

Hadits tentang mengangkat tangan dalam berdoa termasuk hadits mutawatir maknawi yaitu hadits yang
sampai kepada kita dengan jalan periwayatan yang banyak sekali walaupun redaksinya berbeda-beda. Jumlah haditsnya adalah sekitar seratus hadits dan Imam As-suyuthi telah menghimpun hadits-hadits tersebut dalam satu juz yang diberi judul “Fadhul Wi’ai fi Ahadits Raf’il Yadaini fi Du’ai” (Membongkar Wadah tentang Hadits-hadits Mengangkat Tangan dalam Berdoa).

Di antara hadits-hadits tersebut adalah sebagai berikut Rasulullah s.a.w. bersabda, “Sesungguhnya Allah itu baik yang tidak mau menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang mukmin dengan apa yang dipertintahkan kepada para Rasul. Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang
beriman makanlah yang baik dari yang Kami anugerahkan kepadamu sekalian dan bersyukurlah kepada Allah.” Allah juga berfimran, “Wahai para Rasul makanlah yang baik-baik dan lakukanlah amal shaleh.” Kemudian Nabi menyebutkan seorang laki-laki yang lama bepergian, kusut dan kotor, mengangkat keduan tangannya ke langit dan menyeru: Ya Rabbi ya Rabbi, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dengan barang haram, maka bagaimana dikabulkan do’anya.” (HR. Muslim).

Nabi Bersabda, “Sesungguhnya Tuhanmu adalah Dzat yang Maha hidup dan Mulia, Dia merasa malu dari hamba-Nya jika dia mengangkat kedua tangan-Nya kepada-Nya untuk mengembalikannya dalam keadaan hampa.
Dalam hadits di atas disebutkan bahwa mengangkat tangan adalah sebab dikabulkannya doa dan memakan
haram atau maksiat adalah sebagai penghalang dikabulkannya doa. Dengan demikian mengangkat tangan
dalam doa adalah sesuatu yang disyariatkan dan dianjurkan.

Jadi mengangkat tangan dalam berdoa landasannya kuat dan keshahihannya tidak diragukan lagi. Dengan
demikian mengangkat tangan dalam berdoa sehabis shalat sama sekali bukan perbuatan bid’ah dengan catatan tidak dijadikan suatu ketentuan atau kebiasaan yang harus selalu dilakukan, karena Nabi s.a.w. tidak selalu mengangkat tangan saat berdoa sehabis shalat.

Adapun dalil mengusap wajah setelah berdoa adalah sebagai berikut:
Dari Umar bin Khattab ra. Dia berkata, Rasulullah saw apabila mengangkat tangannya dalam doa, beliau tidak
menurunkannya hingga mengusapkan keduanya kepada wajahnya. (H.R. Tirmidzi)

Bid’ah dhalalah adalah bid’ah dalam urusan ibadah, sedangkan bid’ah hasanah adalah bid’ah dalam urusan
keduniaan atau yang lebih dikenal di kalangan para ulama dengan istilah “maslahah al-mursalah” misalnya pembukuan al-Qur’an, pendirian sekolah-sekolah, penaggalan dan sebagainya.

Wallahu A’lam bishawwab.


12 Comments for this entry

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What color is a typical spring leaf?

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!