Yusran Adhitya Kurniawan’s Blog

Aku Hanya MANUSIA Biasa

by on Mar.23, 2010, under Uncategorized

Yusran Adhitya KurniawanAku tak tahu apakah ini anugerah atau kutukan? Aku pun tak pernah menginginkannya. Yang kumengerti dan ku yakini adalah hatiku yang peka, selalu menyeruku menyelamatkan dunia, namun tak perhan memberi kesempatan untuk memiliki kehidupanku sendiri.
Malamku penuh perjuangan, teriakkan, rasa sakit dan peluh. Malamku ku lewatkan bersama baju zirah dan sayapku, terbang secepat mungkin hingga tak pernah sedetik pun ku mengenal bulan dan terangnya bintang yang berkerlip genit. Hariku penuh bara, rentetan peluru, darah dan pukulan. Sebisa mungkin ku sembunyikan diriku di balik wajah gagah nan garang. Tugasku terlampau mudah. Sekedar melelehkan baja dengan api, kadang membekukan bara, sekedar untuk menyelamatkan dunia.
Semakin aku memukul, semakin deras darah tertumpah. Kejahatan tak pernah ada habisnya. Karena ia adalah bagian dari diri manusia. Namun pilihan yang menentukannya. Tak seperti aku yang tak bisa memilih, karena bagiku semau adalah keharusan, bukan hak ku. Padahal di balik topeng gagah ini ada setetes air mata yang setiap saat bisa membasahi tubuh baja yang di dalamnya ada hati yang lunak, selalu menjerit, “aku ingin menjadi manusia saja!”


Mengapa Tuhan tak memberiku pilihan? Bukankah semua makhluk di dunia ini punya pilihan masing-masing? Apakah karena aku sendiri adalah yang terpilih? Mengapa tak ku biarkan saja perempuan tua itu mengambil sendiri tasnya dari para penjambret. Mengapa tak ku biarkan saja gadis kecil itu turun memanjat dinding dengan tangan mungilnya sendiri untuk lepas dari kobaran api di apartemen itu.

Padahal aku juga punya kehidupan, aku punya nafasku sendiri, dan aku berhak menentukan kapan aku harus menghela dan kapan harus menghembuskannya panjang. Bahkan aku berhak menentukan kapan aku menghentikannya. Aku memiliki Lanna. Ia kehidupanku, yang meniupkan nyawaku. Namun dalam kehidupanku, tak pernah ku nikmati hidupku, bersama ia yang menahan tetesan darahku, bersama ia yang melinangkan air matanya untuk memaksaku menahankan perihku, dan ia yang membalut luka-luka di tubuhku dengan sabarnya. Mungkin hanya ia yang tahu seberapa dalam, seberapa besar, seberapa luas dan seberapa parah luka-lukaku, oleh-oleh yang selalu ku bawa setiap malam.
Sayangnya ia juga memiliki hati yang lebih peka daripada aku. Seakan kepakaan itu telah berpindah ke hatinya yang memang telah menyatu dengan hatiku.
”Aku lelah. Aku ingin menjadi manusia saja!”
Lanna menamparku lalu menangis dalam. Padahal ia tak pernah menangis meski tak sekalipun kuantar ia pergi berbelanja atau sekedar makan malam. Lanna selalu mamakaikan jubah dan sayapku, padahal aku tak pernah sempat memakaikannya gaun malam lalu mengajaknya terbang, memeluknya erat di malam musim semi yang cerah, sekedar mereguk secangkir sinar bulan atau bersenda guaru dengan bebintang yang genit gemerlap.
Aku semakin lelah, ku basahi wajahku di depan wastafel, lalu Lanna berkata diantara tangisnya.
”Manusia hidup bukan untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya manusia adalah ia yang hidup bagi orang lain. Maka hiduplah sebagai takdirmu. Dan jangan pernah hidup hanya untuk ku karena aku hanya mencintai manusia saja”.
***
Aku pun terus terbang dengan sayap dan kekuatannku untuk menyelamatkan hari demi hari meski kini Lanna telah tiada sebagai perempuan tua yang damai di pembaringannya. Aku tak pernah menyerah atau putus asa, karena Lanna telah memberikan ku alasannya dan meyakinkan ku pada anugerah ini hingga aku yakin suatu saat nanti aku pun akan terbaring tenang sebagai kakek tua yang damai karena aku hanya manusia saja.

:, ,

46 Comments for this entry

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

what is 8 in addition to 6?

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!