Yusran Adhitya Kurniawan’s Blog

Archive for March 25th, 2010

Are You A Lazy Thinker?

by on Mar.25, 2010, under Story Life

Anda pasti tidak malas bekerja. Tapi, apakah Anda tidak malas berpikir juga?
brainenergy humanOrang yang malas berpikir atau Lazy Thinker ada 2 tipe, yaitu:
LAZY THINKER TIPE A.
Lazy thinker tipe A adalah orang yang malas berpikir, sehingga menerima begitu saja segala sesuatu. Atau malas berpikir, sehingga begitu saja memutuskan dan mengambil tindakan. Lazy thinker yang hanya bertindak tanpa berpikir.
LAZY THINKER TIPE B
Lazy thinker tipe B adalah orang yang terlalu banyak mikir, sehingga terlalu sulit untuk menerima sesuatu. Atau kebanyakan mikir, sehingga tak kunjung memutuskan dan mengambil tindakan. Lazy thinker yang hanya terus berpikir, kecuali berpikir tentang perlunya bertindak.
Waspadalah, sebab sebaiknya kita tetap berada di tengah-tengah antara A dan B.
Sebagai catatan, ini BUKAN soal BENAR atau SALAH, dan ini BUKAN soal BAIK atau BURUK. Ini hanyalah soal cara berpikir kita. Paling jauh, ini cuma soal bagaimana bersikap lebih bijaksana. Ingat pula, kita semua memang cenderung terjebak di dalam A atau B. Itu saja.
Jadi, kita memang tak perlu merasa dihakimi.

LAZY THINKER TIPE A
Apa yang diungkapkan berikut ini, disebut Dr. Robert Cialdini sebagai ‘the cue of life’. Profesor Tom Hobbs dari Chapman University menyebutnya ‘The CLARCCS CUE. Yaitu, kecenderungan diri kita untuk malas berpikir dan langsung bertindak. Bertindak tanpa dipikir-pikir.

1. COMPARISON RULE
Jika orang-orang melakukannya, kita juga harus melakukannya.
Hanya sedikit dari kita yang mampu bertahan dari hukum ini. Kita berjalan di sebuah trotoar, dan sesaat kemudian di depan sana, kita melihat tiga orang sedang menengadah menatap ke langit. Saat kita makin mendekati mereka, apa yang kita lakukan? Kita ikut melihat ke langit dan bertanya: “Ada apa ya?”
Burung?
Pesawat?
UFO?
Bukan! Itulah yang namanya comparison rule atau hukum pembandingan. Saat orang-orang di sekitar kita melakukannya, kita juga merasa harus melakukannya. Orang berbondong-bondong membeli HP baru, kita juga. Banyak pengusaha mem-PHK karyawan, kita juga ikut melakukannya. Jika kita tidak berpikir dengan berhati-hati, kita akan menjadikan perilaku orang lain sebagai standar perilaku kita sendiri. Kita menjadikannya sebagai pedoman dan guidance.
Kita pikir saja sendiri. Jika seseorang di dekat kita berteriak “Gempa, gempa!”, maka sudah sewajarnya kita bereaksi cepat dan melihat ke arah mana orang lain bergerak. Tapi jika orang lain berkata pada kita, “barang ini bagus, belilah untuk kita sendiri”, apakah kita memang langsung membelinya?
Lihatlah iklan di televisi, dengan mudah kita akan menemukan, bagaimana berbagai iklan memanfaatkan hukum pembandingan ini. Bahkan, acara talkshow di televisi pun menggunakan lampu ’applause’ untuk merealisasikan hukum ini. Jika sebagian orang mulai bertepuk tangan, cepat atau lambat, kita juga akan bertepuk tangan.
Kita mungkin pernah mendengar, kisah tukang obat di pinggir jalan. Di antara para penontonnya, adalah teman-temannya sendiri, yang berperan sebagai pembeli. Hukum ini juga berlaku di situ.
Kita pasti pernah disodori formulir sumbangan. Perhatikanlah, jika benar-benar menyumbang, maka nama kita sangat mungkin bukan di nomor yang pertama. Di atas kita, sudah ada sekian orang penyumbang, dengan nilai sumbangan yang langsung atau tidak merupakan ’proyeksi dan harapan’, agar kita menyumbang dengan jumlah yang sama. Syukur kalo bisa lebih. Tul gak?
Maaf, kita tidak boleh menggeneralisir. Sebab mungkin saja, ada orang lain yang sudah menyumbang duluan dengan nilai sesuai yang tertera di sana. Dan kalo kita mau nyumbang, ya nyumbang aja. Lalu lupakan. Kalo nggak ya nggak usah sekalian. Ini hanya cerita soal kecenderungan cara berpikir kita
sebagai manusia.
(continue reading…)

6 Comments :, , more...

Perjuangan Seekor Kupu-Kupu Untuk Manusia

by on Mar.25, 2010, under Story Life

butterflyseseorang menemukan kepompong seekor kupu. Suatu hari lubang kecil muncul. Dia duduk mengamati ketika calon kupu-kupu itu berjuang dengan memaksa dirinya melewati lubang kecil tersebut. Kemudian kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi. Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya. Dia mengambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu.

Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Namun, dia mempunyai tubuh gembung dan kecil serta sayap-sayap mengkerut. Orang tersebut terus mengamatinya karena dia berharap bahwa pada suatu saat, sayap-sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya, yang mungkin akan berkembang seiring dengan berjalannya waktu.

Semuanya tak pernah terjadi. Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya dengan merangkak disekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengkerut. Dia tidak pernah bisa terbang.

Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan orang tersebut adalah bahwa kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil adalah jalan Tuhan untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya sedemikian sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.

(continue reading…)

4 Comments :, , more...

Mandikanlah Aku IBU

by on Mar.25, 2010, under Story Life

Kasih Sayang Ibusering kali orang tidak mensyukuri apa yang dimilikinya sampai akhirnya…

Rani, sebut saja begitu namanya, terpuruk dalam sebuah penyesalan yang dalam.

Rani adalah perempuan berotak cemerlang dan  memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya  sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang  akan digelutinya. “Why not the best”, katanya selalu, mengutip seorang  mantan presiden Amerika. Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di  Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya sendiri lebih memilih merampungkan kuliah di fakultas kedokteran. Berikutnya, Rani mendapat  pendamping yang ''selevel''; sama-sama berprestasi, meski berbeda  profesi.  Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf  diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih PhD. Lengkaplah  kebahagiaan mereka.  Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah  ''alif'' dan huruf terakhir ''ya'', jadilah nama yang enak didengar:  Alifya. Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya  sebagai anak yang pertama dan terakhir.

Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani  semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota  ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Setulusnya saya  pernah bertanya, ''Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk  ditinggal-tinggal?''

Dengan sigap Rani menjawab, ''Oh, saya sudah  mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is OK!'' Ucapannya itu  betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani  secara profesional oleh baby sitter mahal. Rani tinggal mengontrol  jadwal Alif lewat telepon. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah,  cerdas dan gampang mengerti. Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan  kepada cucu semata wayang itu, tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang  gelar dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang  banyak. ''Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.'' Begitu  selalu nenek Alif, ibunya Rani, berpesan di akhir dongeng menjelang  tidurnya.

Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik.  Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali  menagih pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk  menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini  ''memahami'' orang tuanya. Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek  minta adik. Alif, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan  perengek. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali  ngambek. Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan  penuh ceria. Maka, Rani menyapanya ''malaikat kecilku''.

Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super  sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam, saya iri pada keluarga  ini.  Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif  menolak dimandikan baby sitter. ''Alif ingin Bunda mandikan,'' ujarnya  penuh harap. Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar. Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit  berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut  membujuk Alif agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya.  Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski  wajahnya cemberut. Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. ''Bunda, mandikan aku !''  kian lama suara Alif penuh tekanan. Toh, Rani dan suaminya berpikir,  mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak  lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa  ditinggal juga.

Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter.  ''Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency.''  Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late. Allah swt  sudah punya rencana lain. Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil  pulang oleh-Nya.  Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya. Ia  shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya. Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang  menyimpan komitmen untuk suatu saat memandikan anaknya sendiri.  Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah; tubuh si kecil  terbaring kaku. ''Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,'' ucapnya lirih,  di tengah jamaah yang sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari  sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis.

Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri  mematung di sisi pusara. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu,  berkata, ''Ini sudah takdir, ya kan. Sama saja, aku di sebelahnya  ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga  kan?'' Saya diam saja. Rasanya Rani memang tak perlu hiburan dari orang  lain. Suaminya mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya  kosong. ''Ini konsekuensi sebuah pilihan,'' lanjut Rani, tetap mencoba  tegar dan kuat. Hening sejenak.

Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja. Tiba-tiba Rani berlutut.  ''Aku ibunyaaa!'' serunya histeris, lantas tergugu hebat. Rasanya baru  kali ini saya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih tangisan yang  meledak. ''Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja, Aliiif..'' Rani merintih mengiba-iba.  Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup di atasnya. Air  matanya membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif. Senja pun makin  tua. Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak lagi menolong.  Hal yang nampaknya sepele sering kali menimbulkan sesal dan kehilangan  yang amat sangat. Sering kali orang sibuk 'di luaran', asik dengan  dunianya dan ambisinya sendiri tidak mengabaikan orang – orang di dekatnya  yang disayanginya. Akan masih ada waktu 'nanti' buat mereka jadi  abaikan saja dulu.  Sering kali orang takabur dan merasa yakin bahwa pengertian dan kasih sayang yang diterimanya tidak akan hilang. Merasa mereka akan mengerti  karena mereka menyayanginya dan tetap akan ada.

Cerita ini ana dapat dari seorang akhwan zidna.syukron katsiran..

2 Comments :, more...

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!