Yusran Adhitya Kurniawan’s Blog

Archive for March 27th, 2010

Based on D’True Story : HARTA VS CINTA

by on Mar.27, 2010, under Story Life

jam1

“Cit cuit…cit cuit! Kik kuk! Kik kuk!”

Suara itu memekakan telingaku hingga aku terpaksa terbang dari kerajaan mimpi tidur siangku. Ku buka kelopak mata yang berat ini perlahan. Lalu kupicingkan pandangan pada jam beker warna kuning berbentuk burung di atas meja belajar. Hanya suaranya yang keras dan khas yang mempan untuk telingaku. Sudah tiga tahun ia setia membangunkanku, mengingatkan jadwal kuliah, janji-janji yang (sepertinya) penting, dan praktikum siang ini. Ya, sekarang aku ingat jam tiga ada praktikum fisiologi. Jarum pendeknya menunjuk hampir ke angka tiga dan jarum panjangnya tepat ke angka enam.

”Hah, 14.30!”

Aku terperanjat. Cepat kumatikan bekerku. Ia seakan tertawa dan mengejek ku.

”Ha…ha…ha…Kamu terlambat lagi Rangga!”

Aku coba bangkit dari pembaringanku yang sudah dua jam ku arungi. Tapi tubuh ini serasa lengket dengan kasur. Berat sekali. Kalau bukan karena para asisten yang killer dan peraturan yang ketat, aku lebih memilih meneruskan tidur siangku atau taking relax membaca novel sambil ngemil. Daripada harus keluar kost-an disiang yang panas ini. Lebih panas dari biasanya.

”Wah, kalau makan sup buahnya bu Rini enak banget nih. Hmmm…segerrr!”

Tapi apa boleh buat, lebih baik aku segera mandi biar segar, terus berangkat. Oh iya, aku punya rencana khusus siang ini. Berangkat bareng Novi. Sudah berkali-kali aku mengajaknya berangkat bareng, tapi selalu gagal. Pertengkaran lecil sehabis kuliah tadi pagi membuatku geram. Ajakanku untuk pulang bareng ia tolak mentah-mentah. Gara-garanya si Blacky, motor bebek item kesayanganku yang bututnya minta ampun. Nono lebih memilih pulang bareng Aldo, sama-sama anak kedokteran tapi dia angkatan 2004 sedang aku dan Nono angkatan 2005. tam[angnya sih biasa saja, tapi motor racing-nya bisa bikin cewek sekampus ngiler ingin menclok. Apalagi yang matre seperti Nono. Setahuku Aldo sering dekat dengan beberapa cewek, tapi tak satu pun yang jadi pacarnya, tak tahu kenapa.

Nono memang matre abis. Nono adalah panggilan sayangku untuk Novi. Memang nama itu tak lazim bagi seorang perempuan. Itu merupakan ejekan yang kreatif. Dia akan merasa malu kalau ku panggil begitu. Aku tahu panggilan itu secara tidak sengaja saat aku berkunjung ke kost-annya Nono untuk mengerjakan tugas kelompok. Semua teman kost-nya memanggilnya begitu. Dan mungkin selamanya aku akan memanggilnya begitu.

Entah apa yang menarik dari gadis mungil asal kota Cirebon itu. Semua sifat yang aku benci ada padanya. Matrealistis, sombong, pemarah, korban mode, cerewet, manja, malas, dan sepertinya (aku yakin) dia tidak bisa masak. Tipe isteri paling buruk sejagat raya. Malang benar lelaki yang jadi suaminya. Tapi aku akui parasnya memang cantik, lucu, dan imut-imut, mesikpun kalau marah bisa jadi sangat menyeramkan.

Hubunganku dengan Nono cukup aneh dan unik. Secara samar-samar aku suka dia. Tapi sifatnya, terutama matre-nya itu, sering membuatku sebal dan jengkel. Dan sialnya lagi, kita satu kelas. Kadang aku berfikir, mengapa Tuhan menciptakan perempuan seperti dia? Dan kenapa kita harus bertemu di dunia yang luas ini? Aku memang benci dengan sifatnya, tapi entah kenapa aku bahagia jika dekat dengannya, dan senang jika bercanda dengannya. Kita juga sering bicara dari hati ke hati, saling curhat dan diakhiri dengan candaan mesra khas Rangga.

Awalnya hubungan kita biasa saja. Tapi karena aku sering menggodanya, teman-teman sekampus menyangka kalau aku punya perasaan khusus padanya. Dan tak jarang mereka bergosip yang tidak-tidak tentang hubunganku dengan Nono. Mungkin karena itulah Nono sebal padaku. Dan kita sering terlibat pertangkaran-pertengkaran kecil. Terutama masalah materialisime.

(continue reading…)

Leave a Comment :, , more...

Sprint’s new 4G technology not the only high-speed game in town

by on Mar.27, 2010, under Information Technology

four1This week at the CTIA Wireless Show, Sprint rolled out its new 4G-capable phone – but speed demons don’t necessarily need to become Sprint customers.

The device – made by Taiwanese phone company HTC and called the EVO 4G – is certainly impressive. It runs Android 2.1, has two cameras and runs on a 1-gigahertz Snapdragon processor – and, on paper, it bests even Google’s well-received Nexus One, PC magazine noted Wednesday.

But the 4G, or WiMAX, service that is the EVO 4G’s trademark is also its Achilles’ heel. At the moment, 4G speed is only available to about 30 million people in a select cadre of cities. Sprint promised to quadruple that number by year-end – but, as PC pointed out, the wireless company overpromised with WiMAX years ago, and has been under-delivering ever since.

It’s good to know, then, that another new high-speed network will soon be available.

T-Mobile announced this week an upgrade to its HSPA 3G standard, dubbed simply HSPA+. The new version of 3G – which InformationWeek said would be “peppier” than T-Mobile’s current 3G service – will be introduced across the carrier’s network by the end of the year.

source:www.job-news.odesk.com

6 Comments :, , more...

Kisah Seribu Kelereng

by on Mar.27, 2010, under Story Life

master-marble-glass2-300x300Mari kita ikuti kisah menarik ini :

Makin tua, aku makin menikmati Sabtu pagi. Mungkin karena adanya keheningan sunyi senyap sebab aku yang pertama bangun pagi, atau mungkin juga karena tak terkira gembiraku sebab tak usah masuk kerja. Apapun alasannya, beberapa jam pertama Sabtu pagi amat menyenangkan.
Beberapa minggu yang lalu, aku agak memaksa diriku ke dapur dengan membawa secangkir kopi hangat di satu tangan dan koran pagi itu di tangan lainnya. Apa yang biasa saya lakukan di Sabtu pagi, berubah menjadi saat yang tak terlupakan dalam hidup ini. Begini kisahnya :
Aku keraskan suara radioku untuk mendengarkan suatu acara Bincang – bincang Sabtu Pagi. Aku dengar seseorang agak tua dengan suara emasnya. Ia sedang berbicara mengenai seribu kelereng kepada seseorang di telpon yang dipanggil “Tom”. Aku tergelitik dan duduk ingin mendengarkan apa obrolannya.
“Dengar Tom, kedengarannya kau memang sibuk dengan pekerjaanmu. Aku  yakin mereka menggajimu cukup banyak, tapi kan sangat sayang sekali kau harus meninggalkan rumah dan keluargamu terlalu sering. Sulit kupercaya kok ada anak muda yang harus bekerja 60 atau 70 jam seminggunya untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari. Untuk menonton pertunjukan tarian putrimu pun kau tak sempat”.
Ia melanjutkan : “Biar kuceritakan ini, Tom, sesuatu yang membantuku mengatur dan menjaga prioritas apa yang yang harus kulakukan dalam hidupku”.
Lalu mulailah ia menerangkan teori “seribu kelereng” nya.” Begini Tom, suatu hari aku duduk – duduk dan mulai menghiitung – hitung. Kan umumnya orang rata – rata hidup 75 tahun. Ya aku tahu, ada yang lebih dan ada yang kurang, tapi secara rata – rata umumnya kan sekitar 75 tahun. Lalu, aku kalikan 75 ini dengan 52 dan mendapatkan angka 3900 yang merupakan jumlah semua hari Sabtu yang rata – rata dimiliki seseorang selama hidupnya. Sekarang perhatikan benar – benar Tom, aku mau beranjak ke hal yang lebih penting”.
“Tahu tidak, setelah aku berumur 55 tahun baru terpikir olehku semua detail ini”, sambungnya, “dan pada saat itu aku kan sudah melewatkan 2800 hari Sabtu. Aku terbiasa memikirkan, andaikata aku bisa hidup sampai 75 tahun, maka buatku cuma tersisa sekitar 1000 hari Sabtu yang masih bisa kunikmati”.

(continue reading…)

22 Comments :, , more...

NILAI DARI SEKEPING UANG KUNO

by on Mar.27, 2010, under Story Life

uang-kunoFaris keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan. Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Sebenarnya Faris sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.
Ketika Faris tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya. “Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.

“Sebaiknya koin ini Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller Bank memberi saran. Faris mengikuti anjuran teller, membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 300 ribu.
Faris merasa sangat gembira dan dia mulai memikirkan apa yang akan di lakukannya dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples.
Sesudah membeli kayu seharga 300 ribu, Faris memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang. Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul Faris. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 1 juta pada Faris. Faris nampak ragu – ragu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan bahkan menawarkan mebel yang sudah jadi agar dipilih Faris. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Faris-pun segera membawanya pulang.

(continue reading…)

6 Comments :, , more...

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!