Yusran Adhitya Kurniawan’s Blog

Kisah Anak Sepasang Binatang

by on Apr.02, 2010, under Story Life

ibuBunda, jadah itu artinya apa?”, tanyaku pada suatu malam, selepas sholat Isya’ berjamaah dengan Bunda-ku yang kelihatan letih, namun matanya tetap memancarkan keteduhan.
Bunda tersentak waktu itu. Tak menyangka pertanyaan itu akan keluar dari sela bibir mungilku, gadis kecilnya yang baru berumur lima tahun.

“Kenapa Sayang?” Bunda bertanya sambil mendekapku di dadanya.

“Orang-orang menyebutku seperti itu. Mereka bilang, hey anak jadah ! gitu…” jawabku dengan sangat polos. Aku memeluk Bunda semakin erat dan merasakan perlindungannya.
Di waktu lainnya, aku ajukan pertanyaan padanya, “Bunda, apa saya punya Ayah? Orang-orang itu bilang saya tak punya Ayah,” tanyaku.

Bunda baru saja selesai mendongeng padaku waktu itu. Bunda tertegun begitu lama. “Ada !” tegas Bunda meyakinkanku.

“Di mana? Kenapa aku tak bisa menemuinya?” Bunda membimbingku bangkit dari tempat tidur kayu berkepinding. Berjalan ke halaman tanpa penerangan.
“Kau lihat langit di atas sana ?” Bunda bertanya tanpa melepas genggamannya.

Aku mengangguk mengiyakan.

“Ayahmu ada di sana !” jawab Bunda meyakinkan. Aku tidak melihat apa-apa. Selain langit hitam dan taburan berjuta bintang. Tidak ada gambar wajah manusia terlihat di sana. Tapi aku tidak ingin bertanya lagi. Barangkali ayahku adalah satu di antara kerlip bintang-bintang itu. Besok jika anak-anak itu menggodaku lagi dan mengatakan aku tidak punya ayah aku sudah punya jawabannya.
Yah… memang, sejak kecil aku cuma punya Bunda. Perempuan yang miskin tanpa harta tapi penuh cinta. Yang selalu menyediakan dadanya untuk menyerap luka-luka. Dengan upah seadanya sebagai tukang cuci pakaian pada beberapa keluarga,
,”Bunda selalu menabung. Katanya aku harus sekolah setinggi mungkin dan jadiorang pandai. Agar tidak bodoh dan melarat seperti dirinya. Bunda lewati seluruh kehidupan berat sendiri. Mengasuh anak yang terustumbuh tanpa pendamping di sisi. Tidak mudah memang, tapi tidak sekalipunaku melihatnya berduka. Kecuali sekali pada suatu malam aku terbangun danmelihatnya mengisak di atas sehelai sajadah.Setiap kali aku menanyakan hal itu pada Bunda, cuma air matalah yangkemudian menjadi jawabannya. Seperti menguak luka yang tak pernah kering<br>sama sekali. Lalu aku jadi tak pernah tega memaksa Bunda untuk menjawabnya.Sebab Bunda terlalu mulia untuk terluka. Aku tidak ingin mengecewakan Bunda.Perjuangannya tidak boleh sia-sia. Keinginannya melihatku sekolah setinggimungkin memacu semangatku untuk belajar dengan giat. Aku selalu berhasil mencapai gelar juara sejak duduk dibangku SD hingga SMU. Lalu kemudian akuterpaksa berpisah dengan Bunda. Aku diterima masuk tanpa test di salah satu perguruan tinggi terkemuka di kota Pontianak. Sekarang aku bahkan telahditerima bekerja di salah satu Bank Syariah terkemuka yang baru berdiri. Akuingin menjemput Bunda untuk mengajaknya pindah ke kota ini. Tapi Bundamenolak. Kukira dengan meninggalkan tempat kelahiran aku akan bisa hidup dengan tenang. Semua mimpi buruk masa kecil tentang siapa ayahku tidak akanmemburuku sampai ke kota ini. Tapi tidak. Sepertinya ia menjelma jadi kutukan yang mengikuti kemana pergi. Aku telah dewasa kini. Telah siap untuk menikah dan berkeluarga. Sudah tiga orang lelaki shaleh yang datang mengajukan lamaran padaku. Tapi sudahtiga kali pula aku terpaksa menolaknya. Aku takut menceritakan keluargaku.Aku tak mungkin mengatakan bahwa aku anak sebuah bintang.Rabbi …, aku hanya ingin tahu siapa lelaki yang menjadi ayahku. Hanya

Bunda selalu menabung. Katanya aku harus sekolah setinggi mungkin dan jadi orang pandai. Agar tidak bodoh dan melarat seperti dirinya. Bunda lewati seluruh kehidupan berat sendiri. Mengasuh anak yang terus tumbuh tanpa pendamping di sisi. Tidak mudah memang, tapi tidak sekalipun aku melihatnya berduka. Kecuali sekali pada suatu malam aku terbangun dan melihatnya mengisak di atas sehelai sajadah.
Setiap kali aku menanyakan hal itu pada Bunda, cuma air matalah yang kemudian menjadi jawabannya. Seperti menguak luka yang tak pernah kering sama sekali. Lalu aku jadi tak pernah tega memaksa Bunda untuk menjawabnya.
Sebab Bunda terlalu mulia untuk terluka. Aku tidak ingin mengecewakan Bunda.



Yang penting adalah, perjuangannya tidak boleh sia-sia. Keinginannya melihatku sekolah setinggi mungkin, memacu semangatku untuk belajar dengan giat. Aku selalu berhasil mencapai gelar juara sejak duduk dibangku SD hingga SMU. Lalu kemudian aku terpaksa berpisah dengan Bunda. Aku diterima masuk tanpa test di salah satu perguruan tinggi terkemuka di kota. Sekarang aku bahkan telah diterima bekerja di salah satu Bank Syariah terkemuka yang baru berdiri. Aku ingin menjemput Bunda untuk mengajaknya pindah ke kota ini. Tapi Bunda menolak.
Kukira dengan meninggalkan tempat kelahiran, aku akan bisa hidup dengan tenang. Semua mimpi buruk masa kecil tentang siapa ayahku tidak akan memburuku sampai ke kota ini. Tapi tidak. Sepertinya ia menjelma jadi kutukan yang mengikuti kemana pergi.
Aku telah dewasa kini. Telah siap untuk menikah dan berkeluarga. Sudah tiga orang lelaki shaleh yang datang mengajukan lamaran padaku. Tapi sudah tiga kali pula aku terpaksa menolaknya. Aku takut menceritakan keluargaku. Aku tak mungkin mengatakan bahwa aku anak sebuah bintang.
“Rabbi, aku hanya ingin tahu siapa lelaki yang menjadi ayahku. Hanya itu. Apa aku durhaka pada Bunda?”

“Kau beruntung masih mempunyai Bunda. Aku dibesarkan di panti asuhan, tak tahu siapa keluargaku.&quot; Asti , teman satukamarku mencoba menghiburku. Aku insyaf kini. Aku masih sangat beruntungmempunyai Bunda. Dalam sujudku malam itu aku menangis. Mohon kesempatan pada Allah untuk membahagiakan Bunda. Perempuan yang dicipta dari seribu kuntum bunga.Berita itu sampai lewat seorang tamu. Salah seorang tetangga kami dikampung dulu. Sengaja datang untuk mengunjungiku. Padaku ia cerita Bunda sedang sakit. Sebenarnya ia sakit sejak lama. Tapi tak mau cerita. Bundabilang tak mau kalau pekerjaanmu terganggu. Tapi aku pikir kau memang perlu tahu!Di rumah aku lihat Bunda terbaring di tempat tidurnya. Tempat tiduryang sama seperti masa kecilku dulu. Tempat Bunda biasa mendekap, mendongengdan berdoa sebelum lelap menyergapku.Kenapa Bunda tidak memberitahuku tanyaku setelah mencium tangannya.Bunda tak mau pikiranmu terganggu, jawabnya sambil tetap mengukir senyum  di wajahnya. Tapi aku melihatnya semakin lemah saja. Bunda ingin mengatakan sesuatu tentang ayahmu, ia …,Tidak perlu, Bunda,&quot; potongku cepat.Jangan katakan apa-apa. Tidak ada yang perlu Bunda jelaskan tentang masa lalu. Bunda tetaplah Bunda. Perempuan yang dicipta dari seribu kuntum bunga!&quot; Aku memang sudah tidak lagi perduli. Bunda manusia biasa. Mungkin pernah khilaf di masa lalunya. Tapi bagiku kini Bunda adalah anugerah Allah terbesar dalam hidup ini. Dua hari kemudian Bunda berpulang ke Rahmatullah. Malam itu kembali aku menatap langit. Seperti waktu kecil dulu saat aku bertanya pada Bunda di mana ayahku. Bunda akan menunjuk ke arah langit. Tempat kegelapan malam dihiasi sinar berjuta bintang.Bunda kini telah pergi. Menyusul ayahku di tempat yang abadi. Dan aku tahu kini. Jika seorang lelaki shaleh datang untuk melamar dan bertanya tentang<br>keluargaku, aku akan mengatakan bahwa aku adalah anak sepasang bintang!
dibesarkan di panti asuhan, tak tahu siapa keluargaku.” Asti , teman satu kamarku mencoba menghiburku. Aku insyaf kini. Aku masih sangat beruntung mempunyai Bunda. Dalam sujudku malam itu aku menangis. Mohon kesempatan pada Alloh untuk membahagiakan Bunda. Perempuan yang dicipta dari seribu kuntum bunga.
Suatu hari, seorang tamu, salah seorang tetangga kami di kampung dulu, sengaja datang untuk mengunjungiku. Ia mengabarkan kalau Bunda sedang sakit. “Sebenarnya ia sakit sejak lama. Tapi tak mau cerita. Bunda bilang tak mau kalau pekerjaanmu terganggu. Tapi aku pikir kau memang perlu tahu!” Aku cepat – cepat pulang dan di rumah aku lihat Bunda terbaring di tempat tidurnya. Tempat tidur yang sama seperti masa kecilku dulu. Tempat Bunda biasa mendekap, mendongeng dan berdoa sebelum lelap menyergapku.
“Kenapa Bunda tidak memberitahuku?” tanyaku setelah mencium tangannya.
“Bunda tak mau pikiranmu terganggu,” jawabnya sambil tetap mengukir senyum di wajahnya.
Tapi aku melihatnya semakin lemah saja. “Bunda ingin mengatakan sesuatu tentang ayahmu, ia …,”

“Tidak perlu, Bunda,” potongku cepat. “Jangan katakan apa-apa. Tidak ada yang perlu Bunda jelaskan tentang masa lalu. Bunda tetaplah Bunda. Perempuan yang dicipta dari seribu kuntum bunga!” Aku memang sudah tidak lagi perduli. Bunda manusia biasa. Mungkin pernah khilaf di masa lalunya. Tapi bagiku kini Bunda adalah anugerah Alloh terbesar dalam hidup ini.
Dua hari kemudian Bunda berpulang ke Rahmatulloh. Malam itu kembali aku menatap langit. Seperti waktu kecil dulu saat aku bertanya pada Bunda di mana ayahku. Bunda akan menunjuk ke arah langit. Tempat kegelapan malam dihiasi sinar berjuta bintang.
Bunda kini telah pergi. Menyusul ayahku di tempat yang abadi. Dan aku tahu kini. Jika seorang lelaki shaleh datang untuk melamar dan bertanya tentang keluargaku, aku akan mengatakan bahwa aku adalah anak sepasang bintang !

i got it, from Zidna..syukron..

:, ,

22 Comments for this entry

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

what is 4 plus 2?

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!