Yusran Adhitya Kurniawan’s Blog

Strategi Penggunaan UU ITE Dalam Dunia Cyber Sebagai Kontrol Kebebasan Berekspresi Pada Media Baru

by on Oct.11, 2010, under Indonesian Issues 2010

1 Internet sebagai Media Ekspresi

Internet sebagai media yang tidak dapat lepas dari masyarakat Indonesia membuktikan bahwa internet memiliki peran yang sangat penting bagi kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, hal ini yang menyebabkan semua elemen masyarakat, dari anak kecil hingga dewasa banyak yang menggunakan fitur internet tersebut, sebagian besar kegiatan yang dilakukan pengguna media baru tersebut antara lain e-mail, instant messenger dan berkunjung ke situs jejaring sosial, seperti Facebook, Twitter, Friendster, dan Koprol.[1] Hal tersebut sejalan dengan hasil pencatatan Alexa per 8 November 2009, bahwa Facebook saat ini menduduki peringkat teratas sebagai sebuah situs yang paling sering dikunjungi pengguna media baru di Indonesia. Secara berurutan, 10 besar situs yang paling banyak dikunjungi dari Indonesia adalah sebagai berikut:

  1. Facebook.com (situs jejaring sosial)
  2. Google.co.id (search engine)
  3. Yahoo.com (mail dan search engine)
  4. Google.com (mail dan search engine)
  5. Blogger.com (blog service)
  6. YouTube.com (video sharing)
  7. WordPress.com (blog service)
  8. Kaskus.us (local online forum)
  9. Detik.com (local news portal)
  10. Wikipedia.com (online encyclopedia)

Berdasarkan hasil dari data di atas, setidaknya ada tiga situs utama yang dapat memfasilitasi pengguna media baru di Indonesia untuk berekspresi kepada publik dan saling bertukar informasi, yaitu situs jejaring sosial seperti Facebook dan situs layanan blog Blogger.com dan WordPress.com.

Media baru semacam Blog, Twitter dan Facebook juga digunakan untuk menyampaikan kebebasan berpendapat dan berekspresi.[2] Berdasarkan hasil survai online yang dilakukan oleh ICT Watch pada Oktober 2008 yang diikuti oleh 11600 responden, ternyata 53% responden memilih Blog sebagai media informasi yang paling dapat mendukung kebebasan berekspresi di Indonesia. Dari data tersebut dapat dibuktikan bahwa pemanfaatan media bagi kebebasan berekspresi dan memperoleh informasi didapat dari media baru.

Pentingnya media baru, membuat masyarakat menjadi lebih konsumtif untuk mengakses internet itu sendiri, sehingga banyak kalangan yang membuat suatu komunitas sebagai wadah aspirasi bersama, sebagai contoh ketika komunitas Facebooker membuat komunitas yang bernama “Dukungan Bagi Ibu Prita Mulyasari”. Sepeti yang kita telah ketahui bahwa Prita Mulyasari adalah seorang ibu yang mempunyai dua anak balita, yang melakukan kritik melalui e-mail dan kemudian menyebar ke berbagai mailing-list terhadap layanan dokter dari Rumah Sakit Omni International Alam Sutera Tangerang yang diterimanya. Prita kemudian sempat harus ditahan di dalam di penjara wanita Tangerang selama tiga minggu karena didakwa, salah satunya dengan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), Pasal 27 Ayat 3 tentang Pencemaran Nama Baik (melalui Internet) dengan ancaman pidana penjara maksimal enam tahun.

Berdasarkan Undang-undang No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, dengan adanya ancaman penjara di atas lima tahun, maka jaksa atau kepolisian berhak melakukan penahanan. Hanya beberapa hari setelah cause Facebook tersebut di bentuk, pada 3 Juni 2009 telah terkumpul 23.000 dukungan. Para Facebooker, yang sebagian juga Blogger tersebut, terus menyuarakan aspirasi dan ekspresinya, yang intinya meminta Prita untuk dibebaskan dari tahanan. Hal inilah yang menjadi ciri bahwa masyarakat Indonesia mulai menyadari UU ITE perlu ditempatkan pada proposinya.

Dari contoh di atas, maka media baru seperti Facebook, Blog, dan sebagainya adalah ranah publik yang memiliki peran signifikan dalam pembentukan kultur dan opini masyarakat. Kebebasan dan keterbukaan dalam berekspresi dan berinformasi dari-oleh-untuk masyarakat dapat tumbuh subur dengan pemanfaatan seoptimal mungkin layanan media baru tersebut. Dasar dari media baru yang alamiahnya bersifat cair, dapat seketika mengkristal dan menjadi sebuah parlemen online. Ketika saluran formal untuk menyampaikan aspirasi dan partisipasi publik terhambat, maka media barulah yang menjadi sarana yang ampuh, sehingga para anggota parlemen online ini merasa lebih bebas berekspresi, berpendapat, menyampaikan ketidakpuasan serta mengkritik segala sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendaknya. Parlemen online ini pun segera mendapatkan respon masyarakat yang semakin meluas dalam berbagai bentuk, termasuk dalam bentuk aksi turun ke jalan, walaupun seperti itu kemampuan untuk mengoptimalkan media baru tersebut ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan pemahaman masyarakat atau setidaknya penggunanya terhadap aspek kebijakan dan hukum yang terkait didalamnya.

Berbagai kasus di Indonesia menunjukkan bahwa ada kesenjangan antara kebebasan berpendapat yang dikemukakan secara online dengan tindakan hukum yang menyertainya. Dengan mudah, kini seseorang yang memberikan pendapat, ekspresi ataupun informasinya melalui media baru, dapat didakwa melakukan perbuatan melanggar undang-undang. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati untuk melakukannya agar tidak ingin terjerat pada hal-hal yang dirasa dapat merugikan diri kita sendiri.

Hal-hal inilah yang kemudian dapat menjadi penghambat ataupun halangan atas kebebasan berekspresi dan keterbukaan informasi di Indonesia melalui media baru. Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), khususnya pasal 27 ayat 3, secara jelas telah memakan “korban”. Pasal tentang pencemaran nama baik secara online tersebut, adalah pasal karet yang rentan disalahgunakan untuk melindungi “perasaan” seseorang yang lebih mampu secara finansial, kedudukan maupun politik ketimbang “nama baik”.

2. Penggunaan UU ITE pada Media Baru

Dunia maya atau lebih dikenal dengan cyber sudah semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari di masyarakat Indonesia. Salah satu situs jejaring sosial yang saat ini ratingnya sangat baik dalam mesin pencarian Google, Yahoo, Bing atau mesin pencari lain adalah Facebook. Hal ini akan menjadi permasalahan hukum apabila kita baik disengaja maupun tidak disegaja akan dijerat dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang disetujui oleh Pemerintah dan DPR pada tanggal 25 Maret 2008 dan diundangkan pada tanggal 21 April 2008.

Peran yang sangat besar dari UU No 11 Tahun 2008 tentang ITE ini untuk mengatur kehidupan manusia khususnya bagi para pengguna Facebook, ada tiga ancaman yang dibawa UU ITE yang berpotensi menimpa facebook di Indonesia yaitu ancaman pelanggaran kesusilaan [Pasal 27 ayat (1)], penghinaan dan/atau pencemaran nama baik [Pasal 27 ayat (3)], dan penyebaran kebencian berdasarkan suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) [Pasal 28 ayat (2)].

Peran yang sangat besar dari UU No 11 Tahun 2008 tentang ITE ini untuk mengatur kehidupan manusia khususnya bagi para pengguna Facebook, ada tiga ancaman yang dibawa UU ITE yang berpotensi menimpa facebook di Indonesia yaitu ancaman pelanggaran kesusilaan [Pasal 27 ayat (1)], penghinaan dan/atau pencemaran nama baik [Pasal 27 ayat (3)], dan penyebaran kebencian berdasarkan suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) [Pasal 28 ayat (2)].

Dari Pasal 27 ayat (1) UU ITE dapat kita pahami bahwa setiap user/member Facebook yang memberikan gambar-gambar senonoh atau memberikan jasa penjualan seks komersial sebagai tempat transaksi akan dapat dikenakan dalam pasal ini. Walaupun pengertian porno masih sangat kabur dan tidak dapat diinterpretasikan dengan jelas. Ataupun gambar tersebut dikategorikan sebagai unsur seni fotografi. Jadi diperlukan prosedur dan pemahaman dari para penyidik dan hakim.

Dari Pasal 27 ayat (3) UU ITE dapat kita pahami bahwa perbuatan memberikan taut (hyperlink) ke sebuah situs yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik juga dapat dijerat, hal itu juga memenuhi unsur ketiga pasal tersebut. Karena itu mungkin dapat dipahami mengapa sebagian orang melihat pasal tersebut sebagai ancaman serius bagi pengguna internet pada umumnya. Walaupun di sisi lain, dalam UU ITE juga dinyatakan bahwa suatu informasi/dokumen elektronik tidak dengan serta-merta atau otomatis akan menjadi suatu bukti yang sah. Pasalnya, untuk menentukan apakah informasi/dokumen eletronik dapat menjadi alat bukti yang sah masih memerlukan suatu prosedur tertentu yaitu harus melalui sistem elektronik yang diatur berdasarkan undang-undang tersebut.

UU No. 11 Tahun 2008 tentang UU ITE ini tidak peduli bagi siapapun yang memberikan suatu informasi yang memiliki unsur penghinaan. Salah satu kasus yang dapat kita soroti adalah Farah yang pada saat itu secara tidak sengaja menuliskan status post yang menyinggung perasaaan orang tersebut sehingga berbuntut ke pengadilan. Kasus yang lain dan sudah kita dengar yaitu banyak remaja putri hilang atau pergi beberapa hari tanpa diketahui keberadaannya setelah kencan dengan pria kenalannya via Facebook. Apa yang terjadi jika seorang remaja yang pergi tanpa pendamping bersama laki-laki yang baru dikenalnya, ujung-ujungnya yaitu terjadinya pelecehan seksual. Oleh karena itu sudah seharusnya kita menggunakan internet dengan sehat dan tetap menjaga peraturan yang ada, bukan Facebook yang patut kita salahkan dan UU ITE yang kita salahkan, akan tetapi diperlukan wawasan yang luas dan matang dalam melakukan hubungan di jejaringan sosial.

3. Keamanan Berekspresi di Dunia Cyber

Internet terkenal dengan kebebasan berekspresinya, meski demikian bukan berarti internet tidak punya aturan, jika salah melangkah netter pun dapat saja dijebloskan ke penjara, seperti yang dialami Prita. Untuk mencegahnya harus pandai menyiasatinya, yaitu dengan teknofilter yang memiliki berbagai cara, diantaranya adalah :

1. pembatasan

Masalah kebebasan berekspresi di media baru ini menjadi masalah yang tentunya harus segera diminimalisir, salah satunya dengan membatasi hak asasi manusia yaitu pada hal-hal yang hanya memberikan proteksi kepada segelintir pihak saja untuk dapat berekspresi, selain itu pembatasan juga dimungkinkan jika memang ada kaitannya dengan masalah keamanan dan kenyamanan anak-anak di internet. Penyebaran kebencian terhadap agama atau ras tertentu, dan juga masalah keamanan negara semisal terorisme dan itu harus dilakukan oleh pihak-pihak yang berkompeten dan netral dalam konteks untuk melindungi kebebasan berekspresi itu sendiri.

2. Pemblokiran

Pemblokiran yang dimaksudkan disini adalah suatu usaha untuk memblokir situs-situs yang memberikan dampak negatif bagi masyarakat, seperti situs porno ataupun situs yang melanggar ketentuan yang sesuai dengan isi dari UU ITE, seperti melakukan pencemaran nama baik yang ditangani oleh DEPKOMINFO dan dari pihak Internet Service Provider (ISP). Berbagai pihak yang terkena kasus ini contohnya adalah Prita Mulyasari. Contoh lainnya adalah Herman Saksono, seorang yang berprofesi sebagai Blogger/Programmer di Jogjakarta, kasusnya yaitu melakukan penghinaan terhadap Presiden Republik Indonesia, Bpk.Susilo Bambang Yudhoyono di Blog pribadinya. Sebagai akibatnya Herman diperiksa oleh Polisi Jogja karena dianggap melanggar pasal 134, 135 dan 137 KUHP. Setelah Herman menghapus foto yang dianggap menghina tersebut dari blognya, kasus kemudian tidak diteruskan saat kasus terjadi karena UU ITE belum ada pada saat itu

Berdasarkan sejumlah kasus diatas, bahwa UU ITE telah dijalankan sesuai dengan isinya, namun UU ITE seharusnya dapat lebih memilih yang benar dalam mengkategorikan seseorang itu melanggar UU ITE atau tidak, karena selama ini semua orang diatas hanyalah sebagai ‘korban’ yang menggunakan internet di media baru, dimana internet seharusnya memberikan kemudahan bagi penggunannya.

Hal ini yang perlu dicermati dan ditindak ulang mengenai UU ITE agar tidak terjadi salah persepsi, oleh karena itu perlu adanya strategi penggunaan UU ITE agar dapat diketahui oleh masyarakat secara luas, diantaranya adalah :

1. Sosialisasi UU ITE dengan memperkenalkan dan menginformasikan isi dari UU ITE kepada masyarakat luas, baik melalui media elektronik, cetak mauupun secara langsung dengan membuat suatu pelayanan kepada masyarakat.

2. Mengantisipasi adanya korban selanjutnya dari UU ITE ini melalui media internet, dengan melakukan beberapa cara seperti berikut ini :

2.1 Memikirkan dengan matang sebelum memasukan artikel, pendapat ataupun komentar. Dalam hal ini ketika seseorang pengguna internet ingin meluapkan surat protes diusahakan jangan dibuat saat sedang emosi, karena emosi yang tidak terkendali akan memberikan dampak negatif bagi kita. Jadi, maksudnya setelah menulis sebaiknya kita membaca kembali, resapi, dan edit kata-kata yang dirasa kurang baik.

2.2 Menambahkan data-data penunjang, dimana ketika tulisan sudah kita buat jangan selalu menulis yang seadanya. Dalam hal ini yaitu masukkan pula data-data penunjang yang terkait dengan tulisan yang kita buat.
Data penunjang tersebut dapat dengan mudah didapatkan dari Google, selain untuk memperkaya tulisan cara ini juga bermanfaat untuk strategi membuat benteng pertahanan. Sebagai contoh, ketika ada yang bertanya darimana data-data yang tertera, kita dapat beralasan didapat dari sumber lain. Sumber tersebut harus memiliki asal usul yang jelas dan terpercaya.

2.3 Diusahakan untuk tidak menyebut merk (Brand), sebaiknya jika kita ingin menyerang seseorang atau pihak-pihak tertentu di internet tidak langsung menyebutkan merknya atau nama pihak yang kita incar.
Hal ini dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

3. Menggunakan perangkat lunak untuk memfilter content yang mempolitisasi unsur Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan (SARA). Penggunaan bahasa atau kata dari para pengguna internet juga perlu difilter agar tidak terjadi salah paham, yang nantinya akan menyebabkan dua orang atau lebih terjadi perselisihan dan saling tidak terima satu dengan yang lainnya. Beberapa perangkat lunak yang saat ini sudah hadir untuk mengatasi permasalahan tersebut, diantaranya adalah :

3.1 Anti-Defamation League Hate Filter.

[3] Anti-Defamation League Hate Filter merupakan perangkat lunak yang dirancang sebagai penjaga pintu gerbang ke internet, selanjutnya akan memblok secara perorangan atau grup, terutama untuk kata-kata kasar dan hujatan terhadap group tersebut yang sangat spesifik karakteristiknya.

3.2 Child Safety-Net

[4] Child Safety-Net menyediakan berbagai informasi gratisan, tempat meletakan berita (message), link ke berbagai resource maupun manual.

3.3 Children’s Internet Browser

[5] Children’s Internet Browser di rancang untuk orang tua yang ingin membatasi akses anak mereka ke internet.

4. Menumbuhkan sikap kekeluargaan, solidaritas, toleransi, dan sportif dalam diri masing-masing individu, sehingga jika terjadi suatu permasalahan dapat diselesaikan dengan baik tanpa harus terlebih dahulu membawa permasalahan tersebut di meja hijau. Pada dasarnya dimana ada masalah disitu ada solusinya. Hal tersebut dapat terlaksana dengan baik dengan cara membiasakan diri kita untuk berfikir positif, selektif, dan terbuka.

Berbagai informasi yang dapat kita peroleh di media baru, tidak menutup kemungkinan kita akan menerima pernyataan pendapat, komentar, dan ide dari orang lain yang kurang baik atau hal tersebut ditujukan untuk diri kita. Disinilah peran kita untuk bisa menerima dan menanyakan hal tersebut kepada yang bersangkutan, serta menyelesaikan permasalahan tersebut dengan cara yang terbaik yaitu tidak berat sebelah atau tidak ada yang merasa diuntungkan maupun dirugikan.

5. Membuat interkoneksi diantara komponen-komponen yang ada di negara Indonesia ini yaitu masyarakat, pemerintah, dan negara. Masing-masing dari komponen tersebut harus dapat saling mendukung dan menjaga komunikasi dengan baik, maksudnya yaitu tetap saling memberikan dan menerima ide, saran, serta kritik untuk mendapatkan hasil yang lebih baik lagi di masa depan.

Berdasarkan langkah maju tersebut sebagai teknofilter terhadap media baru yang semakin berkembang saat ini perlu diimplementasikan secepatnya untuk mencapai visi dan misi negara Indonesia untuk menjadi negara yang maju, tidak hanya dari segi ekonominya saja tetapi juga dari sistem keseluruhan yang saling berkesinambungan satu dengan yang lainnya, salah satunya yaitu dengan memperkuat sistem hukum di indonesia melalui UU ITE yang dibuat untuk mencerdaskan bangsa Indonesia ini agar dapat menggunakan internet secara efektif dan efisien.

:, ,

2 Comments for this entry

  • thoy2

    Wah,, lengkap sekali kaka,,
    saya kemaren juga baru posting artikel dengan tema yang searah. hanya saja saya lebih mengangkat manfaat media sosial..
    kalo berkenan silakan mampir,,

    Nice post kaka,, keep blogging… :)

  • yusranadhityakurniawan

    Syukron katsiran. keep Blogging too and keep sharing :)

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What has leaves, a trunk, and branches, and grows in forests?

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!